Sayangku, ketika engkau tertawa
Aku bahagia
Ketika engkau menangis
Aku terluka
Ketika engkau sakit
Aku pun merasakan deritamu
Sayangku, aku mencintaimu
Aku sangat menyayangimu
Walaupun kadang engkau menggodaku
Dengan cubitan-cubitan sayang yang menyakitkan, tetapi aku tetap menyayangimu
Sayangku, jangan engkau sakit
Karena saat sakit dan aku mengantarmu ke UGD
Ada rasa bersalah yang sangat besar
Ada gundah yang mendalam, bahkan rasa takut kan kehilangan
Sayangku, jangan engkau sakit
Karena saat engkau sakit, aku pun terluka
Aku merasakan nestapa yang engkau rasakan
Apalagi aku merasakan luka yang engkau rasakan pula
Berdiriku dalam menjagamu dari gigitan nyamuk nakal
Adalah rasah lukaku
Walaupun berjam-jamnya diriku hanya berdiri disisimu
Itupun kurasakan, bukan setimpal rasa sakit yang engkau derita
Apalagi engkau sedang bersama pejuang kecilku
Mungkin kita bisa bercerita nanti,
Bercerita bagaimana seorang mujahidah sejati
Yang memperjuangkan kehidupan untuk seorang jundi-jundi kecil
Yang berjuang dari rasa sayang yang terdalam. Hanya untuk mempersembahkan
Kepada Rabb, sang pejuang pilihan
Sayangku, bertahanlah dari rasa sakitmu
Semoga rasa sakit itu menggugurkan dosa-dosamu, Kuatkanlah dirimu
Sehingga engkau bisa menceritakan sendiri apa yang engkau derita lalu
Dan jundi kecil kita akan berbangga dengan berteriak
“UMMIKU SANG MUJAHIDAH SEJATI”
Aku akan menyayangimu, selalu!
(teruntuk mujahidahku, pendamping hidupku, isteri yang kusayangi. Sedang berada pada dua dimensi!) Syafakallah sayangku.
Kutulis ini disudut lantai RSUD Sidoarjo. Menanti sang pujaan hati, dalam perih dan luka.
DIarsipkan di bawah: Puisi | Tagged: derita, isteri, mencintaimu, mujahidah, perih, Puisi, sakit, sayang, sejati, terluka


jazakallah khoiron katsir ^_^ …