Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya membutuhkan cukup waktu untuk bisa memahami alasan DPP PKS memilih tetap berkoalisi dengan SBY-Boediono. Itu, karena tadinya saya mengharapkan dan menyangka PKS akan memilih JK. Namun, setelah jelas sikap DPP sedikit-demi- sedikit saya menemukan jawabannya. Semoga apa yang saya fahami ini tidak semuanya salah.
Pertama, PKS bukan satu-satunya partai Islam yang memilih SBY. Disana ada koalisi seluruh partai Islam dan berbasis massa Islam yaitu PKB, PPP dan PAN. Jadi, ini kemaslahatan pertama yaitu mendahulukan koalisi partai Islam dibanding koalisi sekuler termasuk yang mendukung JK. Mana yang harus kita utamakan, kumpulan partai Islamis atau koalisi partai sekuler?
Kedua, kalau misalnya JK berasal dari partai Islam, atau ada indikasi meyakinkan dia mendukung Islam, misalnya memiliki keberpihakan dalam kasus Ahmadiyah, RUU APP, terorisme Islam dan lain-lain yang ada kepentingan Islam disana, saya setuju pilihan JK disebut sesuai dengan syariah Islam. Kalau indikasinya "hanya" jilbab istrinya dan shalat di masjid Sunda Kelapa karena mau jadi capres, itu tidak cukup. Kenapa? Dulu, waktu ribut majalah Playboy di Indonesia , saya ingat betul JK bilang, ’’Bagaimana caranya menghentikan Playboy? Kita tidak punya instrumennya. ..’’. JK terus terang menolak menghentikan Playboy. Lalu, apa artinya JK yang menjilbabi istrinya tapi tidak bisa mencegah anak-anak bangsa dinegeri Islam terbesar ditelanjangi oleh Playboy? Tentu saja, terbitnya ikon porno itu kini bukan sepenuhnya salah JK. Tapi, dimanakah aspek kesyariahan JK dengan komentar dia itu? FPI tanpa menggunakan perangkat hukum pun sanggup mengusir Playboy dari Jakarta dan
membuat umat Islam sadar tentang bahaya majalah bugil itu dibanding JK. Saya tidak menyalahkan bagi yang mau memilih JK dan semoga JK ingat masjid tidak hanya karena mau jadi capres. Tapi, untuk mengatakan bahwa JK lebih sesuai dengan syariah Islam, kita butuh indikasi yang lebih banyak dan komprehensif. Baik SBY, JK apalagi Mega, tidak ada yang syar’i. Saya kira, kita harus lebih berhati-hati melegitimasi sesuatu dengan predikat syar’i. Ini harus diklarifikasi agar tidak muncul anggapan
PKS melarang memilih sesuai dengan syariah Islam…
Ketiga, ini adalah alasan paling penting. Keputusan memilih SBY dibuat melalui proses Syura. Apa artinya Syura? Artinya, ada 99 kader terbaik PKS yang duduk bersama untuk mengkaji dari segi syariah, politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain dengan dukungan kepakaran, data, survey, analisa, pengalaman dan sistem untuk menetapkan dukungan terhadap SBY. Keputusan ini dikokohkan kembali dengan keputusan pakar-pakar Islam di Dewan Syariah. Dengan begitu, kesalahan makin mantap diminalisir.. Jika kita hendak menolak keputusan syura ini, sepatutnya kita juga mendasarinya dengan kapasitas lebih tinggi atau setingkat. Jika hanya pertimbangan individu, saya khawatir disana ada lebih banyak yang kita tidak tahu daripada yang kita tahu. Kita perlu bertanggungjawab dalam pilihan kita, sebab itu semua akan dimintakan pertanggungjawaban kita di mahkamah Allah pada yaumil akhir nanti.
Ijinkan saya bertanya, saat kita menolak SBY dan memilih JK : sudahkah kita melakukannya— misalkan dengan — proses pengumpulan sample data,
survey, penelitian mendalam, analisa komprehensif dengan fikiran dan hati tenang-jernih tanpa emosi, pengkajian kaedah-kaedah fiqih siyasi yang diiringi shalat tahajjud, shalat istikharah dan munajat kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Majlis Syura dan Dewan Syariah PKS? Jangan-jangan kita hanya merujuk berdasar berita dan rumor di mass media dan fikiran selintas saja? Obrolan di kantor? Apakah semua isi mass media dan imej JK yang dikarang tim suksesnya itu sesuai dengan kenyataan? Siapa yang menjamin? Dapatkah itu menyamai kualitas data, pengalaman politik dan kapasitas 99 anggota Majlis Syura? Kalaupun kita sudah melakukan itu semua, paling tinggi, itukan kita lakukan sendirian… Bisakah kapasitas dan analisa kita menyamai 99 anggota Majlis Syura plus Dewan Syariah? Pantas saja, Allah menyuruh kita menggunakan mekanisme Syura dalam pengambilan keputusan. Ternyata, jika keputusan dibuat sendiri kelemahannya jauh lebih banyak. Tentu saja keputusan Majlis Syura bisa saja salah. Mereka bukan kumpulan malaikat dan nabi. Namun, jika Majlis Syura saja bisa salah, tentu kita yang sendirian lebih pantas untuk salah. Saya rasa, kearifan seperti ini perlu kita gunakan saat mengkritik PKS dengan keputusan-keputusan politiknya.
Keempat, mungkin ini pendapat agak asing, tapi bisa dipertanggungjawabk an. Dalam memilih pemimpin, aspek kesesuaian dengan syariah tidak hanya
didasari alasan kesalehan orang yang kita pilih. Belum tentu orang yang lebih saleh itu, pasti lebih benar dalam memimpin (ini dengan memisalkan JK lebih saleh dari SBY). Imam Ahmad berkata, ’’Seorang panglima yang saleh tapi tidak mengerti perang, kesalehannya hanya untuk dirinya dan ketidaktahuannya tentang perang berakibat fatal bagi umat Islam. Tapi, seorang panglima tidak saleh yang menguasai ilmu perang, ketidaksalehannya hanya siksa untuk dirinya sementara pengetahuan perangnya jadi maslahat bagi umat Islam’’. Pendapat ini didukung pula oleh Ibn Taimiyah. Menurut keduanya, bisajadi pemimpin yang kurang saleh lebih berhasil disamping pemimpin saleh tapi lemah dan tidak punya strategi (Ibn Taimiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah, Beirut : Dar al-Afaq, 1983, cet.1, hal. 16-17). Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah, akan memperkuat agama ini (meski) melalui tangan orang fajir (fajir: pelaku dosa, lawan dari saleh). (HR. Al-Bukhari, Kitab al-Maghazi,
Bab Ghazwah Khaibar, no. 3882 dan Imam Ahmad, Musnad Abi Hurairah, hadits no. 7744).
Jadi, Imam Ahmad, Ibn Taimiyah, Imam al-Bukhari dan lain-lain telah menyimpulkan bahwa kemenangan dakwah bisa juga diperoleh melalui perantara orang-orang bukan shaleh dan fasik.. Tentu, orang fajir dan fasik yang bagaimana dulu….tentu tidak boleh juga sembarangan, kan ? Dalam Sirah Nabawiyah, ada riwayat bahwa Rasulullah SAW meminta bantuan dan perlindungan pada pemimpin musyrik al-Muth’im bin ’Adiy atau raja Kristen Najasyi, beliau juga berkoalisi dengan kabilah Khuzaah yang banyak dari mereka masih musyrik dan Rasulullah SAW berkoalisi dalam treaty dengan Yahudi kafir dalam piagam Madinah yang populer itu, atau meminta tolong pada Abdullah bin Uraiqith, penunjuk jalan yang masih musyrik saat berhijrah ke Madinah.
Meski begitu, pemimpin yang paling tepat adalah yang memiliki kesalehan dan kekuatan strategi sekaligus. Tapi, yang seperti ini menurut Ibn
Taimiyah sangat jarang. Kadang dia saleh tapi dia terhalang oleh faktor luar untuk memberikan kepemimpinan yang benar.. Maka, menurut beliau, pemilihan seorang pemimpin, harus mempertimbangkan aspek sekomprehensif mungkin, bukan hanya sisi pribadi dia sendiri.
Kelima, ditakdirkan JK lebih saleh dari SBY, kita bertanya, bagaimana dengan Golkar? Saya berpendapat, salah satu keuntungan Pemilu 2009 yang
jelas adalah berhasil ’’dihancurkannya’’ suara partai terbesar penyokong kerusakan di Indonesia yaitu PDIP dan Golkar. Kita tidak boleh lupa. Tahun 2008 pasca fenomena PKS di DKI, Depok, Jabar dan Sumut, untuk pertamakalinya PDIP dan Golkar duduk bersama menyatakan Deklarasi Palembang untuk membendung apa yang mereka sebut bahaya sinkretisme terhadap keutuhan NKRI. Orang terkejut untuk pertamakali PDIP-Golkar bisa duduk bersama, dan ternyata kepentingannya sama-sama hendak melawan Islam. Jadi, habisnya dua partai ini di tahun 2009 adalah prestasi yang harus kita syukuri.
Dengan kemenangan SBY di Pilpres mendatang, maka ’’kehancuran’’ PDIP dan Golkar sebagai pilar korupsi dan mega-kejahatan Indonesia itu bisa makin ’’disempurnakan’’. Sebaliknya, kalau JK yang menang apa tidak mungkin Golkar mengkonsolidasikan kekuatan dan come back lagi? Saya bertanya-tanya, bagaimana kita bisa ’’terbius’’ dengan ’’kesederhanaan’’ dan ’’kebersahajaan’’ JK-Wiranto untuk bersama-sama melupakan kejahatan Golkar? Jangan-jangan, kita terjebak dalam strategi mafia dan jaringan kroni Golkar dan kaum anti Islam melalui siasat kampanye tim sukses mereka? Saya kira, masalah Pilpres, tidak bisa disederhanakan dalam figur JK-Wiranto saja. Ini kalau kita menyepakati Golkar lebih bahaya dari Demokrat. Demokrat relatif jauh lebih rapuh, tidak memiliki basis massa yang permanen serta hanya bergantung pada figur SBY yang sudah pasti berakhir di 2014. Demokrat tak punya basis memadai untuk menjadi kekuatan besar dan tahan lama. Demokrat hingga kini tidak punya faktor yang diandalkan selain SBY bukan?
Keenam, bisa jadi JK lebih saleh, namun nyatanya ia memiliki satu kekurangan yang cukup fatal. Dia seorang yang lemah di tubuh Golkar sendiri. Dalam Pemilu kemarin, banyak suara yang menolak JK. Dalam Golkar sampai ada empat blok, selain JK, ada Sri Sultan, Akbar Tandjung dan Fadel Muhammad. Tiga orang ini sama-sama memiliki basis massa yang kuat dan mencoba langkah-langkah politik sendiri. Terlebih lagi, Akbar Tandjung berhasil mengumpulkan banyak wakil dari daerah dalam Mukernas Golkar dan mengajak boikot JK. Di koran Tempo diserukan agar JK berintrospeksi karena tidak mampu menjaga keutuhan Golkar. Golkar, diambang perpecahan serius dimasa kepemimpinan JK. Kondisi ini sangat berbahaya. Ternyata JK tidak mampu mengendalikan partainya. Kalau JK setuju Golkar melakukan konvensi capres seperti di tahun 2004, bisa jadi dia tidak terpilih sebagai capres karena sekarangpun dukungan atas pencapresan JK dilakukan sangat terakhir. Kelemahan JK ini akan mengakibatkan orang-orang partainya bertindak semau gue dalam menjalankan pemerintahan nanti. Maka koalisi dengan JK menjadi langkah yang sangat rawan karena kelemahan JK mengendalikan partainya. Dan kedepan, figur-figur selain JK akan menunggu untuk hadir di 2014.. Ini berbeda dalam kasus Demokrat dan SBY.
Ketujuh, berbicara tentang klenik, saya kira Golkar sendiri tidak bersih dari klenik. Kita tahu, tokoh kunci Golkar yaitu Sri Sultan, mengkondisikan masyarakatnya melalui agenda keraton yang berkutat dengan kultur klenik dan khurafat yang dipelihara sistematis dan mengakar, bahkan menjadi cagar budaya. Di Batam, caleg-caleg nomor-jadi Golkar diisi orang-orang Kristen. Di Sumedang, ada caleg provinsi dari Golkar nomer jadi beragama Kristen yang dimana-mana menggunakan tambahan H didepannya supaya dikesankan Haji. Maka, kalau bisa, untuk mendukung atau menolak seorang pemimpin, sebaiknya tidak didasari oleh secuil kasus A disini dan fakta B disana sehingga yang muncul adalah fragmen yang tidak utuh karena fakta negatif bisa ada dimanapun. Kita membutuhkan informasi yang lengkap dan komprehensif.
Kedelapan, persoalannya bukan terletak pada berubah-ubahnya fatwa dan zig-zagnya suatu langkah politik. Persoalannya adalah, manakah keputusan yang benar?
Langkah politik yang lempang tapi salah, tentu tidak kita inginkan. Para ulama menyepakati kaedah perubahan fatwa mengikuti
perubahan kondisi dan sebabnya.. Zig-zag dan berubah-ubah itu tidak mengapa, asalkan itu benar. Perubahan strategi politik antara 2004
dan 2009 itu tidak mengapa jika memang itu benar dan dibutuhkan. Strategi politik tahun 2004, bukanlah seperti wahyu yang tidak boleh
diubah. Saya yakin, di tahun 2014 nanti juga akan terjadi perubahan-perubahan strategi…
Masih banyak lagi alasan yang bisa diberikan mengenai mengapa tidak memilih JK. Diantaranya adalah SBY telah bersedia menerima kontrak politik
yang berisi agenda-agenda dakwah seperti masalah pembebasan Palestina dan lain-lain. Memang, kelemahan-kelemahan ini sebagian juga ada di
SBY. Namun di beberapa poin, SBY tidak seberat JK dengan Golkarnya.
Bagaimanapun SBY lebih aman dan menguntungkan untuk dipilih. Golkar memiliki tingkat bahaya yang lebih permanen dibanding Demokrat.
Meski begitu, harus diakui PKS juga punya kesalahan dan kelemahan. Selain itu, ada juga masalah teknis dan komunikasi. Makanya, saya tidak terkejut mendapati orang bingung melihat PKS masih di jalur dakwah atau bukan. Wajar, karena PKS bukan kumpulan malaikat dan nabi. Mereka adalah manusia-manusia. . Adalah tidak manusiawi, jika kita tidak mau memahami kesalahan PKS. Namun, selama partai ini masih memelihara ribuan halaqah yang merumuskan dan merealisasikan berbagai agenda dakwah dan tarbawi, lebih dari satu juta kader terbina, ada agenda tatsqif, mabit dan katibah, punya Majlis Syura dan Dewan Syariah, struktur dakwah dan jamaahnya masih solid, tidak pecah dan terus bekerja, masih gegap memekikkan kata jihad, takbir dan kematian syahid, masih menangis dalam shalat malam berjamaah dan merasakan penderitaan rakyat Palestina, saya meyakini PKS tetap satu-satunya partai dakwah yang paling relevan di Indonesia . Kecuali, kalau itu semua sudah bubar dan tinggal kegiatan politiknya saja.
William Lidle, seorang Yahudi ahli Indonesia mengatakan di Metro-TV PKS adalah kekuatan Islam paling berbahaya. Baru-baru ini, terbit sebuah buku "Ilusi Negara Islam" oleh LibForAll. Disana ada Gus Dur, Musthafa Bishri dan Syafii Maarif. Isinya sangat menyudutkan PKS sebagai kaum ekstrim yang membahayakan NKRI. Di Singapore, Taufik Kiemas menyebut PKS sebagai metamorfosa kaum teroris menjadi partai yang legal. Belum lagi isu Wahabi, GAM dan lain-lain yang ditujukan pada PKS. Kaum anti Islam sedang panik melihat perkembangan Islam melalui PKS. Mereka takut fenomena Turki, Mesir dan Palestina terjadi di Indonesia . Mereka jauh lebih takut PKS dibanding HTI, FPI, Salafy atau Majelis Mujahidin. Kenapa justru kita sebagai orang yang sadar dengan Islam malah hendak menyerang PKS?
Sudah cukup rasanya umat Islam merasakan perihnya perpecahan, kelemahan dan dikerjain orang lain. Biarlah kader-kader PKS lebih memilih suara
qiyadah dan syura mereka. Janganlah kita menambah lebih banyak lagi syubhat dan kebingungan sehingga menyebabkan perpecahan dan kelemahan.
Semoga Allah melimpahi kita dan para pemimpin Islam dengan hidayah dan rahmat. Semoga Allah memelihara langkah kita dalam istiqamah. Amin.
Wallah A’lam bis-Shawab. Wassalamualaikum
Citizen Journalism (Judul Aslinya "Alasan PKS Dukung SBY" Penulis Wawan Darmawan)
18/06/2009 – 14:36
inilah.com
TAMBAHAN
Kemanakah JK dalam kasus Lapindo? Apakah benar Lapindo bukan aset Golkar dan menjadi sumber mesin uang partai politik ini? Ingatkah ketika JK melarang buku-buku Hasan Al banna beredar di Indonesia? Ingatkah kasus Maluku yang JK lebih berpihak kepada kaum kafir? Dan menuduh teroris para mujahid di Maluku saat itu.
Tidak ada calon presiden dari ketiga itu yang akan menegakkan syari’at Islam. Daripada tidak memilih, lebih baik menjadi seorang muslim yang kaffah dan memilih pemimpin yang lebih baik dari yang ada. Ada prioritas dari setiap realitas, dewasakan diri untuk mampu memilih prioritas dari realitas. Ketika kita mengacuhkan prioritas atas realitas, maka sesungguhnya kita muslim yang jumud dan tidak mampu berfikir untuk kemaslahatan ummat, kecuali hanya rasa sakit yang terpendam di hati.
DIarsipkan di bawah: Artikel umum | Ditandai: Demokrat, FPI, Golkar, Indonesia, JK, Jusuf Kalla, PKS, playboy, sby, Susilo Bambang Yudhoyono



Kalau untuk pembelaan PKS, agama pun mau dijual.. Kasihan benar kader2 PKS. Perkataan Anis Mata dan gank-nya yang haus kekuasaan seperti firman yang tdk bisa dibantah.. wkwkwkwkwk…
untuk kali ini, saya sangat kecewa dengan kepuutsan PKS !!! Kenapa hanya JK yang dipertanyakan baik dalam kasus Lapindo maupun kasus majalah Playboy. Kenapa hal ini tidak dipertanyakan untuk pihak SBY yang notabene seorang presiden yang dengan ucapan dan tangannya mampu menyelesaikan masalah2 tsb ??? Sungguh aneh PKS !!! Untuk masalah Lapindo, bukankah Abu Rizal Bakrie seorang kader golkar saat ini lebih asyik berada di ketiak SBY ??? Kalau kami rakyat jelata “dipaksa” untuk mengerti jalan pikiran anda ??? Kenapa tidak sekali-kali anda melihat masalah dari kacamata kami ??? tampaknya PKS sudah cinta buta sama SBY ???
kontrak politik hanya anda tawarkan pada SBY tapi tidak pada JK…. apakah itu adil namanya ??? apakah caleg-caleg demokrat tidak ada yang katolik ??? tidak ada yang kristen ??? Bukalah mata anda !!! Saat ini siapa saja yang ada di sekeliling SBY ??? Max Sopachua, Ruhut Sitompul !!! Apakah mereka muslim ??? Tolong buka kacamata hitam anda… gunakan kacamata bening !!! TAmpaknya anda sekarang ini benar2, sungguh 2 tidak adil !!! menurut saya kader2 demokrat yang sekarang adalah kader golkar di masa lalu …….. termasuk SBY !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
saya ingat di komplek saya boleh cek nanti kesana, tahun 2007 ada sebuah kegiatan Maulid Nabi semua DKM sepakat untuk emngadakan perayaan dan hanya orang orang dari PKS yang ga hadir dan acara pun sederhana hanya ada 3 orang panitia yang hadir…ketika dalam PILEG kemaren semua orang PKS hadir dalam acara maulid Nabi……?????? sebuah pertanyaan besar buat saya
bingung saya sbagai muslim jika benar Maulid Nabi itu tidak boleh dirayakan mana dalilnya, jika benar harus diadakan oleh umat muslim mana dalilnya…
saya ingin Islam jangan menjadi politisir yang membingungkan umat, saya dulu simpati dengan PKS tapi jelas kecewa, ketika melihat kader-kader PKS begitu nyewot disalah satu TV swasta Metro TV pada saat SBY mengumumkan siapa wakilnya….saya lupa siapa kader tersebut
saya berharap Islam dijadikan pemersatu antar umat bukan menjadi kebenaran buat sebagian golongan karena bila Islam menjadi Eksklusif jelas sekali Islam akan dibenci oleh umatnya sendiri….
saya menceritakan ini karena kondisi dilapangan, silakan cek ke daerah serang banten mas….
Anda sendiri lupa bagaimana seorang SBY mengatakan Amerika itua dalah rumah saya yang kedua,sedangkan anda tahun Presiden Amerika George W. Bush…jelas sekali dialah pembantai umat muslim di irak…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang menjadi pertanyaan saya hingga saat ini, kenapa pada waktu itu PKS tidak berani mempelopori mengusung calon pemimpin alternatif? Andaikan ini terjadi, mungkin positioning PKS akan lebih bagus, dan Insya Allah saya pun tidak akan ada keraguan lagi untuk memberikan dukungan.
Terus terang hingga saat ini saya masih bimbang menentukan pilihan. Mudah-mudahan Anda dapat memberikan pencerahan kepada saya, bisa kirim via e-mail saya.
Kepada “Bukan Omong Kosong” coba buka forum blog di Kompasinia. Semoga mendapat pencerahan dan salam kenal
sangat Bagus untuk di Baca dan dipelajari agar bermanfaat bagi kita semua. Lanjutkan,…
Pencitraan SBY-Boediono Gagal :
Menggunakan Ikon Kesantunan Tapi Tak Sejalan dengan Prakteknya
INILAH.COM, Jakarta – Kesantunan kini menjadi ikon dari capres SBY yang acapkali menggembar-gemborkannya. Namun ternyata, apa yang digemborkan tak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Ada apa di balik kesantunan itu?
Berdasarkan riset Strategy Public Relations (PR) terhadap 1.689 berita dalam kurun 1 Juni hingga 22 Juni 2009 dari delapan koran terbitan Jakarta dan tiga media online menunjukkan, SBY-Boediono mendapat serangan kampanye negatif sebanyak 163 kali dan menyerang 128 kali, sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) 89 kali menyerang dan diserang, serta Megawati-Prabowo (Mega-Pro) menyerang sebanyak 78 kali dan diserang 67 kali.
Hasil analisa Strategy PR, berita-berita yang berisi kampanye negatif terhadap JK-Win bersumber dari kubu SBY-Boediono dengan prosentase 79,8 persen dan dari kubu Mega-Pro hanya menyumbang 4,5 persen. Sementara, berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap SBY-Boediono ternyata sumber terbesarnya dari JK-Win yaitu 52,1 persen dan dari kubu Mega-Pro sebesar 45,4 persen.
Sedangkan 85,1 persen berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap Mega-Prabowo disumbang oleh kubu SBY-Boediono. Dan dari kubu JK-Wiranto hanya menyumbang 3% bagi kampanye negatif Mega-Prabowo.
Di mata pakar filsafat politik UI Rocky Gerung, hasil survei itu menunjukkan selama ini kesantunan yang selalu diucapkan SBY tak lebih dari sekadar topeng belaka. Apa yang diucapkan SBY ternyata tidak sejalan dengan fakta di lapangan.
“Memang kesantunan itu hanya sebuah topeng saja jadinya, untuk menyembunyikan kebenaran yang ada. Demi kemenangan strategi kompetitor dihalangi dan demi yang substansial, yang kultural menjadi pagar,” kata Rocky.
Ia menilai, dengan adanya hasil risat Strategi PR itu juga menunjukkan kegagalan dari tim kampanye SBY-Boediono dalam menjalankan strategi kampanye. Sebagai incumbent, SBY itu seharusnya lebih banyak bertahan ketimbang menyerang.
Untuk itu, sambungnya, bila selama ini SBY ditampilkan sebagai objek penzaliman tapi ternyata paling banyak menyerang, telah menunjukkan ada kekeliruan pencitraan yang dilakukan SBY. “Tim suksesnya perlu dievaluasi itu dan memang kalau dilihat dari pemberitaan di media, JK yang paling menahan diri,” paparnya.
Berbeda dengan Rocky, pengamat politik LIPI Lili Romli berpendapat apa yang dilakukan SBY bersama timnya selama ini bukanlah merupakan sesuatu yang melanggar etika kesantunan. Sebab, yang terjadi saat ini adalah kampanye sebatas perang kata dan simbol.
“Ini hal yang wajar dilakukan oleh para kubu capres dan cawapres dalam kampanye negatif. Dimana persoalan menyerang dan diserang merupakan bagian dari pendidikan politik yang tidak melanggar etika kesantunan,” ungkapnya
Wakil Ketua Partai Demokrat Achmad Mubarok sendiri menampik bila kesantunan SBY hanyalah sebuah topeng. Sebab, yang paling banyak menyerang itu adalah tim kampanye SBY-Boediono bukan SBY secara pribadinya sendiri.
“Kalau dari SBY itu yang menyerang bukan dari Pak SBY-nya langsung tapi timnya dan itu bukan kehendak Pak SBY. Pak SBY sendiri selalu menegur timnya yang kurang proporsional. Kalau dari kubu JK-Wiranto, justru yang paling banyak menyerang itu JK-nya langsung. Sama halnya dengan kubu Mega-Prabowo yang menyerang langsung itu adalah Mega dan juga Prabowo-nya langsung,” katanya Guru Besar Psikologi Islam UIN Jakarta ini.
Untuk itu, menurutnya, kalau yang dipakai ukurannya adalah serangan kandidat terhadap kandidat, maka SBY akan jadi yang paling sedikit menyerang. Mubarok mengakui, penyebab banyaknya serangan dari kubu SBY-Boediono itu berasal dari Jubir SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng.
Selama ini, lanjut Mubarok, internal Partai Demokrat selalu merasa resah dengan manuver-manuver yang dilakukan Rizal. “Rizal itu telah dianggap merusak citra SBY, mungkin karena itu SBY-Boediono jadi yang paling banyak menyerang. Kita juga sudah minta agar Rizal mengubah gaya berkampanyenya,” cetusnya.
Batas kesantunan dalam berpolitik memang tidak jelas. Sesuatu yang dianggap santun belum tentu dianggap sama oleh pihak lainnya. Terlepas dari itu, seyogianya seorang pemimpin harus satu kata satu perbuatan, tanpa harus memakai topeng.[L4]
Berikut pendapat yang saya berikan kepada beberapa kader dan simpatisan PKS, yang menanyakan ketidak sesuaian keputusan syuro/pimpinan partai terhadap kata hati mereka.
Fungsi syuro akan terlaksana baik apabila terpenuhi 3 syarat yakni:
1. Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.
Berikut analisa pribadi saya dan evaluasi terhadap hasil keputusan syuro / dewan pembina partai, pada kenyataannya tidak sesuai dengan kata hati sebagian kader/anggota partai.
Kemungkinan kekeliruan itu tentu bukan terjadi karena point 2 dan point 3
sehingga penyebabnya adalah tidak terpenuhi syarat point 1, tidak terpenuhi sumber-sumber informasi yang cukup. Tidak terjadi pembanding yang fair antara pa SBY dan Pa JK (tentu pilihan bu Megawati secara wajar dieliminir oleh partai dakwah). Sesuai ungkapan tak kenal maka tak sayang. Juga tidak menghilangkan kemungkinan “penghilangan” sumber informasi untuk suatu “pesanan”/”kepentingan” atau juga ada langkah “pencitraan” yang keliru.
Sebagaimana yang saya ungkapkan dibeberapa kesempatan, saya contohkan bagaimana membandingkan sumber-sumber informasi sangat sederhana untuk pengambilan keputusan dalam mengikuti pilpres nanti.
Pembanding ini dilakukan dengan sangat fair, menurut istilah yang kita kenal “apel to apel”
Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
2. Susilo B Yudoyono / Boediono
3. M Jusuf Kalla / Wiranto
Sesuai di tulisan saya di,
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/
Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai dengan perintah Allah SWT.
Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,
Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburkan uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya.
Firman Allah,
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al Isra’ : 27)
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS. At-Takatsur:1-3)
Pada saat deklarasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu.
Firman Allah, “Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’d: 36-37).
Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh (meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam penampilan.
Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo’a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya
Dalam rangka “tak kenal maka tak sayang” dan sekaligus bertujuan agar tidak terjadi salah memilih pemimpin negeri. Alih-alih mengharapkan / memaksakan untuk 1 kali putaran untuk menghemat “uang rakyat” sebesar 4 trilyun, namun sebuah kekeliruan bisa berakibat kerugian “uang rakyat” ratusan trilyun rupiah dalam 5 tahun kedepan. Menurut saya kampanye ini , benar-benar “membodohkan” rakyat. Sayangnya pemimpin membiarkan itu terus berlangsung.
Untuk mengenalkan sosok sesungguhnya pa JK dan menangkal pencitraan yang salah yang dilakukan beberapa pihak, maka saya muat tulisan di blog saya mutiarazuhud.wordpress.com.
Selamat mengetahui kebenaran.
satu hal yang perlu diketahui oleh para aktifis PKS adalah masalah kemajemukan dan kebersamaan dalam Shalat, didaerah saya mengenal dengan 23 rakaat begitupun ketika saya masih kuliah dijakarta dimana yang 23 rakaat diprioritaskan dan yang melaksanakan 11 rakaat tetep bisa berjamaah walau witirnya dilaksanakan dirumah
tapi dikomplek saya terbalik yang utama adalah 11 rakaat jadinya yang 23 rakaat mau tidak mau ketika setelah lewat 8 rakaat sepertinya terjadi shalat masing-masing
Seharusnya kita utamain kebersamaan yang utama artinya akan terasa indah Shalat dilihat jika pada kasus pertama
tulisan saya ini hanya untuk mengetuk hati para atktifis dakwah yang dulu sempet saya berharap INILAH PARTAI YANG KITA TUNGGU DENGAN KEBERSIHAN HATI DAN SANTUN tapi maaf seiring perjalanan rasanya udah hilang, saya jujur lebih sreg ketika masih jamannya PK
semoga ini bisa menjadi pembelajaran kedepannya
Islam adalah segalanya mas….salam hangat selalu
kasian rakyat mas, pks itu kan partai dakwah, kalian lebih bijak bersikap netra saja, jng menjelek2 kan org apalagi sesama muslim, ingat perkataan kalian akan dipertanggung jawabkan dia akhir nanti. oh ya maaf ya kalian orang2 pks kan taat2, ibadahnya bagus, ilmunya luas. sehingga apapun sanggahan orang akan kalian bals dengan mengeluarkan ayat2 ataupun dalil2 quran. emang pintar2 kalian, mudah2 Allah selalu melindungi kalian (amien), hebat ya.
Janji JK bagi Rakyat Indonesia
Kompas hari ini 1 Juli 2009 hal 33,
“Muhammad Jusuf Kalla, Sudah Kaya, Cari Apa Lagi”
Jawaban beliau,
“Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apapun kekayaan dari negeri ini. Bersama pa’ Wiranto, saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi.”
Sungguh sebuah “kontrak politik” yang jauh bernilai dibanding “kontrak politik” capres lainnya, dan yang itupun baru sebatas kepada partai politik pendukung saja, kepentingan elite petinggi partai.
Alhamdulillah, sungguh rakyat Indonesia cukup dengan memegang perkataan/ janji beliau ini, sudah bisa yakin untuk memilih JK. Karena pa JK, Insyaalllah satu kata dengan perbuatan.
Kapan lagi kita bisa bebas dan merdeka, dari penjajahan ekonomi secara tidak langsung dari kaum kapitalis dan pihak asing ?
Jangan mau kita diadu domba oleh pihak asing ataupun pihak-pihak yang
menginginkan negeri ini bangkrut.
Marilah kita bangkit dan bersatu padu bersama pemimpin yang mau memuliakan rakyatnya.
Amin
salam
zon
sby memilih boediono adalah salah satu bukti kalo sby itu tidak peduli kepada partai-partai islam, apalagi sekarang demokrat memiliki suara yang besar. kalo bicara tentang golkar apakah pks lupa kalo di pilkada2 pks juga berkoalisi dengan golkar, pdip bahkan pds. bicara selalu tentang kemaslahatan, maksudnya kemaslahatan atau kekuasaan yaaa???? semakin hari semakin plin-plan, ngomong2 nanti dapat jatah kursi menteri berapa yaaa??? bagaimana tuh tentang dakwah??? apa bisa gituh mendakwahi sby dan boediono??? apakah nanti setelah berkuasa pks akan nyuruh boediono naik haji??? lucu…!!!! atas nama islam tapi yang dikejar kekuasaan
Alhamdulillah, saya benar memilih PKS. Sudah jelas-jelas JK orangnya berwatak keras, kok yah ada yang bela. Lihat saja iklannya, kalau ngomong bilang “saya marahi” emangnya negara ini bisa maju kalau dimarahi apa? Aneh.
Katanya “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”, benar artikel diatas. Coba sekarang mana suara JK tentang Lapindo? Nggak ada!
Jadi lebih baik saya sarankan untuk diganti saja menjadi:
“LEBIH CEPAT LEBIH BAIK MATI”
Semoga orang-orang yang bela JK sadar, akan kemunafikannya. Amien
GOBLOK YANG BELA JUSUF KALLA SAMA WIRANTO
DIBAYaR BERAPA MEREKA!
KATANYA ISLAM, EMANG ISLAM YANG MANA?
LIHAT SAJA IKLANNYA JK BANYAK DEDENGKOT CSIS, APA MEREKA-MEREKA SUDAH BUTA APA! INGAT CSIS SAAT ORDE BARU NGGAK? JANGAN-JANGAN ORANG SUDAH DIBUNGKAM DENGAN UANG.
DASAR GOBLOK
Data ini, sesuai laporan Rev John Barr, dari Persatuan Gereja Australia dan
sumber George Aditjondro di Maluku dan Australia.
Mantan dosen Universitas Satya Wacana ini mengungkapkan, pembakaran
Universitas Pattimura beberapa waktu lalu, merupakan bentuk baru dari invasi
10.000 Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang dikirim berperang ke
Maluku, yang diberangkatkan dari Surabaya, lewat dukungan Pangdam
V/Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi dan Kapolda Jatim (Inspektur Jenderal)
Polisi Da’i Bachtiar, yang disebut masih loyal kepada Wiranto.
Menurut dugaan, langkah ini ditempuh Wiranto dan pendukungnya, untuk
membebaskan saudara-saudara mereka yang beragama Islam di Maluku, dari
pembersihan etnis agama, oleh kelompok Kristen Maluku.
Walaupun Presiden Gus Dur mengumumkan darurat sipil diberlakukan pada 27
Juni lalu, tetapi pembunuhan-pembunuhan terus berlangsung. Sehingga, George
menyarankan, agar Australia sebagai tetangga yang baik, memberikan bantuan
kepada rakyat Maluku yang masih tersisa, agar terhindar dari pembasmian
berikutnya.
Sebenarnya, kata George, rencana yang disusun pengikut Soeharto untuk
membuat konflik di Maluku, pada awalnya bertujuan menciptakan instabilitas
keamanan, sekaligus menjegal Megawati sebagai kandidat terkuat menggantikan
Habibie, yang didukung Soeharto.
Kedua, tentunya menciptakan kerusuhan sosial di beberapa wilayah, yang
tujuannya menghidupkan kembali beberapa Kodam (Komando Daerah Militer), yang
dulu pernah dihapuskan mantan Panglima ABRI (sekarang TNI–Red) Jenderal
(Purn) Benny Moerdani
Apa benar Islam bisa lebih baik lewat PKS???? penerapan syariat Islam di Aceh dan Bulukumba apakah atas jasa PKS? Kabupaten-kabupaten di Jawa Barat menerapkan perda-perda bernuansa Islami juga bukan atas berkat kerja PKS kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Golkar. PKS berhasil dibeberapa provinsi jadi gubernur apakah kita liat ada penerapan syariat Islam disana? yang berhasil dalam pembangunan daerah seperti Alex Nurdin dan Fadel Muhammad juga bukan dari PKS mereka adalah orang Golkar, satu lagi sejak kapan Rasulullah sholallahu alaihi wassalam berpartai? Islam bukanlah partai Islam, tidak ada tuh yang namanya partai Islam, kepartaian dan demokrasi adalah produk sekular Barat, makanya kalo mau ikut pesta demokrasi mendingan jadi orang sekular aja, mengatasnamakan agama juga cuma jualan agama kok demi kursi, ga ada maslahat apa2 buat umat. Kalo ngomong orde baru ngapain tuh iklan PKS menjadikan Soeharto pahlawan? ga malu yaa membuang idealisme untuk meraih kepentingan politik pragmatis
Siap Untuk jadi Saksi.. Allahu Akbar!!!
Kalau zaman orde baru mana mungkin ada orang yang berani macam2, anda juga ga berani ‘kan mendirikan PKS?
Siapa yang berani menentang Soeharto pada saat itu?
Setelah era reformasi segera dibeberapa daerah terbit perda2 syariah tanpa campur tangan PKS samasekali. Jangan lupa setelah reformasi masih Golkar kok yang berkuasa, tapi buktinya perda2 Syariah itu muncul juga. Sesungguhnya yang anti terhadap Syariah Islam adalah Soeharto sedangkan orang-orang Golkar tidak seluruhnya anti. Coba saya nanya situ apakah Demokrat tidak anti Syariat Islam?
Bahkan dibeberapa kabupaten di Jawa Barat yang menyokong perda syariah adalah orang2 Golkar dan PDI (saya bicara Golkar dan PDI bukan berarti saya pendukung mereka, saya cuma menyampaikan fakta yang terjadi disejumlah daerah di Jawa Barat bahwa ternyata orang Golkar itu ga seanti yang anda kira). Sekarang PKS berkuasa dibeberapa provinsi tapi ga ada tuh penerapan syariat islam? Kalau gitu tujuan PKS apa yaa?
Proporsional anda yakin? Bukan kepentingan politik pragmatis? Katanya PKS anti Golkar dan orde baru, nyatanya sepakat mengusung Soeharto jadi pahlawan padahal Soeharto lah sosok dibalik penentangan terhadap penerapan Syariat Islam. Pemerintahan SBY-JK aja anda berkoalisi sama Golkar hehehe lucu yaaa . Anda itu logikanya muter2. Sampai hari ini SBY juga ga mau pindah partai ‘kan ke PKS, apa tuh sebabnya? Kalo memang yang dimaksud Hizbullah itu PKS, kami yang diluar PKS apa dong? SBY juga diluar PKS bung?
wah, blogger omong kosong ini memang lawan yg sepadan utk DOS di pkswatch…,,, mampir sekali2 bos ke pkswatch.. jangan jago kandang,,,
notes saya: banyak orang2 copo macam dirimu yg hanya berani berlindung di balik layar monitor, kalo gentle kita debat langsung face to face,,,
mana facebook-mu?
Ehh … bukannya kalo lewat facebook itu juga bukan face to face … tapi face to monitor yah … ??? …
@Abu Jaisy … saya dukung anda deh …
Assalamu’alaikum … sorry baru mampir lagi …
Tadinya saya juga gregetan waktu PKS tetap berkoalisi sama Demokrat … karena kelihatannya Demokrat kurang menghargai mitra koalisinya … Tapi … ketika Pak Tif bilang bahwa Pak SBY sendiri sudah menandatangani kontrak politik dengan PKS … dan melihat kenyataan bahwa ternyata Pak Boediono juga mampu menangkis tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya dengan relatif bagus … saya mantap dukung SBY deh … Trus wawancara Metro TV dengan Sri Mulyani baru-baru ini … menurut saya bagus tuh … Apalagi setelah membaca tulisan anda …
Mampir di blog saya dongpak … Saya baru nulis tentang kasus Ahmadiyah nih … pengen tau pendapat bapak …
http://ganryukg.wordpress.com/2009/07/03/ada-apa-sebenarnya-dibalik-kasus-ahmadiyah/