Majalah Hizby Salafy (Qiblati) Meresahkan Masyarakat


Keresahan itu muncul di Yogja, ketika di masyarakat beredar selebaran mengenai jadwal waktu Subuh yang dianggap menyesatkan. Selebaran yang merupakan fotokopi-an artikel yang dimuat Majalah Qiblati Agustus lalu itu dinilai memprovokasi dan memecah belah umat. Isi selebaran tersebut menjelaskan, waktu awal Subuh yang selama ini digunakan sebagian besar umat Islam di Indonesia dikatakan terlalu cepat 25 menit sehingga belum masuk waktu Subuh yang sebenarnya.

Kabarnya sudah ada beberapa masjid di Banjarmasin yang mengikuti selebaran itu, yang memundurkan waktu shalat Subuh hingga 25 menit. Sebut saja Masjid Al Jihad, Masjid Ar Rahim, Masjid At Tanwir, Masjid Baitul dan Hikmah. Sehubungan dengan itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Daerah Istimewa Yogjakarta segera menggelar sidang (21/8). Sidang merumuskan bahwa, jadwal shalat yang beredar di masyarakat Muslim, yang dikeluarkan Pemerintah (Cq Departemen Agama RI), maupun ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdaltul Ulama (NU), adalah hasil hitungan para ulama dan ahli syar’i sekaligus juga ahli hisab dan falak.

MUI berpendapat, waktu yang selama ini digunakan umat dalam menjalankan shalat Subuh, sudah sesuai dengan Al Qur’an dan as-Sunnah. Umat Islam, khususnya di DI Yogjakarta untuk tidak ragu dan resah menggunakan jadwal tersebut, di dalam melaksanakan ibadah shalat, termasuk awal shalat Subuh. MUI juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak saling menyesatkan dan menyalahkan tentang jadwal shalat Subuh. “Masyarakat harus waspada terhadap upaya-upaya yang dapat memecah belah umat Islam,” ungkap Ketua MUI DIY HM Thoha Abdurrahman.

Polemik seputar “salah kaprah” waktu Subuh mulanya mencuat di Majalah Qiblati secara berseri (Edisi 8-10 Volume 4) — majalah yang diterbitkan kelompok Salafy. Dalam mukaddimahnya, majalah itu menerangkan perjalanan yang dilakukan Pemimpin Redaksi (Pemred) Qiblati, Agus Hasan Bashori bersama Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi dari Malang ke Jember, Jawa Timur, Sabtu (21 Februari 2009), dan ditemani dua orang laki-laki bernama Terang dan Shalahuddin. Sebelum Subuh, mereka sudah start menuju Jember.

Baru sampai di Lawang, mereka mendengar suara adzan Subuh. Waktu itu jam di mobil menunjukkan pukul 04.20-an. Saat Pemred Qiblati ajak menepi untuk shalat, Syaikh Mamduh berkata: “Kita ini kan musafir, kalau kita boleh memilih, maka aku suka shalat di depan sana saja, lagi pula waktu subuh belum masuk.”

Setelah masuk Pasuruan (pukul 04.45) mereka baru singgah di sebuah masjid untuk shalat Subuh (sementara para jamaah sudah selesai wiridan dan mulai tadarus al-Qur`an). Usai shalat, perjalanan dilanjutkan. Dalam perjalanan, mereka mendiskusikan masalah seputar waktu Subuh. Hasil diskusi inilah, yang mendorong Qiblati memuat artikel yang ditulis oleh Syaikh Mamduh secara berseri.

Pemred Qiblati menjelaskan, diturunkannya artikel ini dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada kaum Muslimin tentang agama dan shalat mereka, mengingat penting dan seriusnya masalah ini. ”Harapannya adalah agar setiap Muslim memahami masalah ini, kemudian serius mengkaji dan menelaah serta mencoba memberikan dan mencarikan solusi, sehingga pada akhirnya kita bisa menjalankan kewajiban shalat Subuh dengan hati tenang, sesuai dengan syariat, menjalankan amalan yang sah dan diterima di sisi Allah,”ungkap Pemred.

Qiblati menyarankan agar dibentuk sebuah kelompok kerja yang terdiri dari ulama dan pakar astronomi (hisab) untuk meneliti ulang penentuan waktu shalat yang ada dalam sistem penanggalan. Syaikh Mamduh menasihatkan kepada para muadzin untuk mengakhirkan adzan Subuh, begitu pula mengakhirkan iqamah sebisa mungkin. “Kami nasihatkan kepada para imam dan muadzin untuk mengenal dan mengetahui fajar shadiq sebagaimana disebutkan dalam sunnah Nabi, dan jangan sampai mereka menanggung batalnya shalat kaum Muslimin.”

Syaikh Mamduh juga meminta kepada kaum wanita dan orang-orang sakit yang shalat di rumah, agar tidak menjadikan adzan di masjid-masjid (sekarang) sebagai ukuran masuknya waktu, tetapi hendaknya mengakhirkan hingga selesainya jamaah di masjid-masjid, kira-kira 25 menit sesudah adzan. ”Kami nasihatkan saudara-saudara yang tidak mau ikut shalat berjamaah di masjid-masjid (sekarang) untuk tetap menetapi jamaah dan nasihat dengan penuh adab dan ketenangan, karena dosa akan dipikul pihak-pihak yang bertanggungjawab, begitu pula pada pundak-pundak muadzin dan imam di setiap masjid,” tukas Syaikh Mamduh.

Sementara itu, pihak Qiblati mengaku telah mengirimkan surat ke Depag RI Pusat (Menteri Agama), MUI Pusat dan MUI Propinsi se-Indonesia, ormas-ormas Islam (NU, MUhammadiyah dan Persis) sejumlah 46 surat, pada tanggal 31 Juli 2009, yang isinya: permohonan pengkajian ulang waktu shalat Subuh. Dalam surat tersebut dilampirkan tiga makalah fajar dan satu eksemplar majalah Qiblati edisi 11 tahun 4 yang memuat 6 makalah terkait fajar.

Ketika dikonfirmasi Sabili, pihak MUI mengaku belum pernah menerima surat yang dikirim pihak Qiblati. “Biasanya, kalau ada surat masuk yang menyangkut persoalan umat, kami akan bahas di Komisi Pengkajian. Tapi hingga saat ini surat itu belum kami terima Yang jelas, MUI selalu terbuka jika ada pihak-pihak yang menginginkan dialog,” kata pengurus MUI Ustadz Asrorun Ni’am.

Menurut Ni’am, segala sesuatu harus diserahkan pada ahlinya. Dalam kaitan ini harus melibatkan ahli astronomi, dan badan hisab/rukyat, termasuk ormas Islam. Dalam memutuskan fatwa, ihwal waktu Subuh, seyogianya tidak disampaikan secara provokatif, tapi harus dengan keilmuan (akademik). Waktu Subuh yang dilakukan umat Islam, sudah tepat, karena telah melibatkan para ahlinya,” kata Ni’am.

Polemik Fajar Shadiq

Berikut penuturan Syaikh Mamduh yang dimuat dalam Qiblati, ”Hati ini menjadi sedih, ketika melihat negara-negara Islam semuanya tanpa kecuali, ternyata tidak melaksanakan shalat Subuh tepat pada waktunya. Mereka shalat sebelum masuk waktunya. Tentu saja sangat disayangkan. Dalam hal ini antara negara yang satu dengan yang lain berbeda dalam tingkat kesalahan seputar waktu Subuh.”

Berdasarkan pengamatan dan penelitian Syaikh Mamduh, ia menemukan bahwa azan Subuh dikumandangkan sebelum waktunya, berkisar antara sembilan hingga 28 menit. Dan sangat disayangkan lagi, Indonesia (secara umum) termasuk negara yang paling jauh dari waktu sebenarnya, yakni mengumandangkan adzan 24 menit sebelum munculnya fajar shadiq.

Sesungguhnya jadwual waktu shalat yang dipakai sekarang ini di hampir semua negara Islam, kata Syaikh Mamduh, diambil dari penanggalan Mesir yang dibuat oleh seorang insinyur Inggris pada saat penjajahan Inggris atas Mesir. Insinyur ini ingin membuat penanggalan untuk penentuan waktu di Mesir. Ia bersama beberapa guru besar dari Al Azhar berkumpul di Padang Sahara Jizah, kemudian dari tempat itu, berdasarkan letak garis bujur dan garis lintang dan perhitungan waktu Greenwich, dibuatlah penentuan waktu harian, diantaranya adalah waktu shalat.

Orang-orang Mesir sendiri waktu itu mengakui bahwa penentuan waktu tersebut menyelisihi waktu-waktu shalat yang dipakai pada masa Muhammad Ali Basya dan Turki Utsmaniyah, yang mengandalkan bayangan (matahari) dan analoginya serta berdasarkan terbitnya fajar shadiq.

Menurut Syaikh Mamduh, penanggalan Mesir yang dibuat tersebut tidak dihitung berdasarkan penentuan waktu shalat yang benar, melainkan berdasarkan perhitungan garis lintang dan garis bujur yang sekarang ini diberlakukan secara luas (umum) pada setiap negara. Sebagian besar negeri Muslim, kata Mamduh, melaksanakan shalat Subuh di waktu fajar kadzib (red/dakta)

About these ads

27 Tanggapan

  1. SALAFI – WAHABI ..tolong jangan buat resah komunitas Nahdliyin ..sekarang Pesantren2 kami di Krapyak, Kulonprogo Yogyakarta hampir selalu dimasuki selebaran2 berbau salafi, HTI , Partai Politik Wahabi..yang meresahkan santri..semoga mereka diberikan Hidayah agar menjadi ASWAJA ..billahitaufik..talaalbadru alaina..

    • orang islam itu harus mengikuti salaf wajib hukumnya. barang siapa tidak berhukum dengan hukum salaf, maka akan sesat. maka dari itu mas belajarlah tentang agama islam yang benar. jangan tahlilan, muludan, yasinan yang digedein, itu bukan ajaran dari islam. mudah-mudahan mas di beri hidaya oleh Allah swt.

      • dalilnya mana kalo orang islam harus berhukum pada hukumny salafi……lawong nabi muhammad aja bukan orang salafi kok…..asal bicara neh salafi ….(edit by admin. Bos sampeyan ngomonge sang apik. Ojo ngilokno uwong)

  2. Majalah SALAFI memang meresahkan Nahdliyin/Nahdliyat….hati2 mari kita rapatkan barisan PMII/KMNU/IPNU/IPPNU/BAnser siap melawan!!

    • majalah salaf bukan majalah teroris mas, majalah salaf adalah majalah yang mengajak orang islam untuk memurnikan agama islam itu sendiri bukan ngajak beramtem. sebab islam itu sudah lengkap tidak perlu tambahan-tambah. dan salaf itu bukan golongan atau partai. mudah-mudahan mas bisa mendapatkan hidayah dari Allah swt

  3. salafi itu anti partai …….., emang ada partainya wahabi?

  4. mamduh memang bukanlah dari kalangan ahli ilmu (ulama)… dia hanya org yg berjasa besar thadap qiblaty hingga qiblaty berlebihan dalam mhormatinya layak seorang mufti.. tak pantas dy disebut sebagai syekh…!!!
    dan kalangan salafiyin pun telah mentahdzir keras majalah ini dan majalah ini kini sudah tidak diakui lagi dikalangan mereka kecuali dikalangan orang2 yg masih jahil ttg manhaj salaf.. -wallohu a’lam-

    • Secara Ilmu Astronomi, jelas bahwa ambang batas cahaya mulai di sudt -18 derajat. Indonesia justru memakai sudut -20 derajat.

      Posisi Ambang batas cahaya hanya menghasilkan cahaya yang minim bahkan bisa belum tampak sama sekali. Jadi secara astronomis, apa yang dinyatakan Qiblati adalah benar secara ilmiah.
      Tinggal tugas Andalah menyusul membuktikannya agar sholat Anda jadi tepat waktu.

      Syaikh Mamduh bahkan menerima Khitob Syukron dari Perkumpulan Ahli Astronomi/Falak Negara-Negara Arab atas sumbangsihnya melakukan penelitian /riset lapangan atas fajar shodiq.

      Hasilnya untuk tahun 2010, Taqwim Ummul Qurro pun diralat menjadi -18,5 derajat dari sebelumnya -19 derajat.

      Pernyataan Qibalati juga didukung oleh banyak pakar Astronomi di dalam negeri, seperti Bapak Thomas Jamaluddin (Depag RI), Bpk Sugeng Riyadi (anggota Rukyatul Hilal Indonesia, ICOP, Moonsighting dan komunitas Langitselatan.com), Bap Sofyan (BPPT) dan berbagai klub astronomi lainnya di Indonesia.

      Jadi Tinggal tugas Andalah menyusul membuktikannya agar sholat Anda jadi tepat waktu.

  5. DICEK DULU APAKAH QIBLATI INI SALAFY???????
    JADI MOHON TIDAK ASAL TUDUH SERAMPANGAN TERHADAP SALAFY

  6. numpang terkenal sadja…

  7. Saya mengikuti dari awal sampai akhir makalah qiblati: dan sempat bertanya langsung ke syekh Mamduh, masya Allah… AJAKAN UNTUK MENCERMATI KEMBALI WAKTU SHUBUH YANG KECEPATAN.

    Kajian yang sangat ilmiah, sarat dengan dalil-dalil syar’i, pendapat para ulama besar, sangat ilmiah…
    sangat mencerahkan dan menenangkan…

    Sayang… karena anggapan awal yang kurang sreg dengan sosok beliau atau karena tidak menangkap maksud dari ajakan beliau.. maka pihak2 yang kurang sepakat seolah kehilangan daya fikirnya, dengan menanggapinya secara kurang tepat dan proporsional.

    Pesan saya: Baca keseluruhan makalah dan bantahan syubhat2 tentang fajar shodiq, lalu timbang dengan pendapat mereka yang sekedar menjegal upaya yang mulia ini..

  8. jika engkau resah dengan datangnya kebenaran dari Alloh, bagaimana dengan kaum kafir Quraisy saat itu, mendapati bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasululloh?
    Mereka menganggap diri merekalah yg benar, sementara bagi mereka ajaran Muhammad adalah ajaran sesat, dan termasuk sihir yg terus menerus.
    Na’udzubillah mindzalik.

  9. Setelah kupikir-pikir langkah yang paling selamet ya ngereni (mengakhirkan) 25 menit, yakin dan pasti udah masuk waktunya. Iya to?? Bagi temen-temen NU, Muhdiyah, MUI dll. mari kita ngereni saja biar kita yakin shalat dalam waktunya. Pesan Nabi kita semua: Tinggalkan yang meragukan ambil yang tidak meragukan. Dengan ngereni, manapun pendapat yang benar kita selamat. Tidak ragu lagi kita shalat dalam waktunya.
    Langkah pertama, biarlah adzan jam 4.20, tapi qomatnya aja 25 menit kemudian. Enakkan? waktu adzan dan iqamah kan termasuk waktu maqbul untuk berdoa, bahwkan berpahala shalat bagi yang duduk menunggu? Tinggal bersabar bertoleransi sambil berdzikir dan berdoa menikmati pahala shalat dari Allah. Percayalah dalam setiap permasalahan ada jalan selamat, nggak perlu ngotot apalagi resah hilang pengaruh dan kewibawaan. Sambut saja jalan keselamatan dalam setiap aliran kebenaran. Salam sejahtera dari Selamet.

  10. bantah dengan dalil dong..!,jgn cuman mnghujat.., supaya ilmiah..! menghujat itu tanda kejahilan..!, ayo yg mau bantah Qiblaty silahkan.. dengan dalil pastinya….

  11. wong diajak diskusi ko malah rapatkan barisan,banser siap melawan.maksdnya apa??????????????mau bunuh sesama muslim?????????

  12. kalau boleh suuzon… mengakhirkan shalat subuh 25 menit berarti mengajak umat untuk tidak shalat subuh berjamaah di masjid.

    padahal. shalat subuh berjamaah di masjid sangat dianjurkan. dan kaum yahudi sangat takut kepada umat islam tatkala umatnya berbondong-bondong untuk shalat subuh berjamaah di masjid. tidak hanya yg tua tapi juga yang muda.
    pada saat itulah, kemenangan Islam tinggal sejengkal lagi.

  13. dan salah satu syarat bagi pemuda yang direkrut oleh hamas untuk masuk ke barisan brigade al-qassam adalah mereka yang tidak pernah alpa shalat subuh.

    mereka inilah orang-orang yang sangat ditakuti oleh yahudi laknatullah.

    so, mengapa musti repot2 mengurusi masalah waktu? bukankah seharusnya mendorong umat untuk mendatangi masjid dan shalat berjamaah di sana?

    • dan salah satu syarat bagi pemuda yang direkrut oleh hamas untuk masuk ke barisan brigade al-qassam adalah mereka yang tidak pernah alpa shalat subuh berjamaah di masjid.

      mereka inilah orang-orang yang sangat ditakuti oleh yahudi laknatullah.

      so, mengapa musti repot2 mengurusi masalah waktu? bukankah seharusnya mendorong umat untuk mendatangi masjid dan shalat berjamaah di sana?

  14. sekali lagi yang diributkan bukanlah masalah substansi.

  15. mendatangi masjid memanglah ajakan mulia
    bahkan wajib sebagaimana Rasul hendak membakar rumah yg tdk dtg sholat ke masjid.

    persoalan waktu juga bukan persoalan sepele.

    kini, telah banyak masjid2 -khususnya di ponpes2- yg menerima kebenaran dr org2 salafy itu. Namanya kebenaran, drmn datangnya dk perlu diurusi yg penting materi kebenaran itu sendiri.

    di Solo, banyak yg kemudian melakukan penelitian fajar shodiq ternyata membetulkan majalah QIblati…
    singkatnya, mari dewasa dg perbedaan ini.

    kemenangan Islam bermula dg penataan byk hal yg salah dlm umat hingga kemudian bisa meraih kemenangan.
    wallahua’lam

  16. Sy rasa majalah qiblati hy mengkritisi tentang waktu fajar subuh yg dianngap sedikit menyimpang bukan untuk memecah belah umat Islam…
    Mari dewasakan diri, jgn suka menuduh saudara qta yg bukan2,
    Saranku buat yg tidak setuju: knapa kalian tidak membuat penelitian mengenai fajar shodiq ini, jgn suka pakai cara orang nashara dan yahudi dlm memerangi Islam yakni
    dengan Mengumbar FITNAH dimana-mana… apalagi itu ditujukan untuk saudara2 kita yg seiman… Wassalam

  17. Masalah waktu memang penting, solat subuh sblm masuk waktunya maka bagaikan solat magrib sblm matahari tenggelam, jelas tidak sah. Kcuali jika karena ilmu blm sampai. Jika ilmu sudah sampai namun gak mau mengikuti maka jelas berdosa.

  18. sebenarnya yang hizbi ki sopo to Nu Muh Opo mahzabnya nabi aku heran diajak kebenaran malah ngajak gelut menungso opo iki

    • menungso srigala mungkin ???????????

  19. saudara kita dari Nahdiyin memang aneh, ana dikampung ngajak kembali kepada ajaran Qur’an dan sunnah menurut pemahaman ulama salaf, malah di tuduh dai sesat, ulama’ suu’ bahkan dajjal. cuma kita ajak jangan hanya tahlilan bacanya quran pelajari isinya dan amalkan. Apa ini menyesatkan? kok sampai ana disidang, ndak boleh dakwah dimimbar lagi

  20. aneh dan geli baca komentar yang pertama dan beberapa selanjutnya….

  21. smoga qiblaty makin sucses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: