Tolong Buktikan Dalil Qath’i Tentang Haramnya Demokrasi!


Selama ini saya banyak sekali mendapatkan masukan saudara-saudara saya dari organisasi Islam yang menyatakan bahwa Demokrasi itu kufur dan haram hukumnya. Namun setiap kali saya meminta bukti dalil qath’i (pasti) tentang haramnya demokrasi, mereka hanya membawa dalil-dalil ijtihad dari beberapa ulama.

Ingatkah ketika seorang Kh. Ahmad Dahlan harus dicap murtad, kufur, munafiq, dll. Hanya karena sistem pendidikannya mengacu dengan tata-cara Belanda? Ingatkan ketika beliau (Kh. Ahmad Dahlan) akan dibakar surau-nya oleh beberapa umat Islam dan kyai-kyai, hanya karena ingin merubah Surau kearah Kiblat yang benar? Ingatkah ketika beliau (Kh. Ahmad Dahlan) mengenakan busana ala Belanda dan dicap sebagai orang kufur atas ketasyabuhannya?

Haram dan Halal semuanya itu sudah ditetapkan oleh Allah. Jangan menetapkan sebuah keharaman dari Islam tanpa ada dalil yang qath’i kecuali itu adalah sebuah ijtihad pribadi (madzab).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl 116)

Kebanyakan orang-orang yang mengkufurkan demokrasi adalah jamaah robotiyah, yang mudah untuk didekte dan dicekoki oleh pemikiran-pemikiran orang lain tanpa harus berfikir. Belum pernah ada ulama yang menyatakan ijtihadnya paling benar dari ijtihad ulama yang lain, kecuali jika ulama itu adalah ulama-ulama yang “buta”. Termasuk masalah Demokrasi!

Katakanlah: "Sesungguhnya aku (berada) di atas hujah yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al An’aam 57)

Membuat sebuah ijtihad haram atau halal itu boleh, namun keharaman tersebut tidak boleh sampai melampaui batas dengan atas nama Islam. Karena setiap orang/ulama itu berbeda-beda pemikirannya, karena ulama statusnya orang yang berilmu maka tentu pendapatnya akan memberikan dalil-dalil juga dengan sesuai ijtihadnya. Jika ulama satu dengan ulama yang lain berbeda pendapat, tentu sudah selayaknya kita tidak boleh menjustifikasi (menghukumi) ulama yang lain dengan menyatakan pendapatnya salah.

Dalam masalah shalat, hal yang sangat penting dalam Islam saja ada masalah ijtihad, furu’iyah dan ikhtilaf dari masing-masing ulama. Apalagi masalah Demokrasi yang bersifat umum! Apakah kita dengan congkak, akan menyalahkan Imam Ahmad yang berbeda ijtihadnya dengan imam Syafi’i hanya karena perbedaan ijtihad mereka? Atau kita harus menyalahkan Imam Syafi’i hanya karena berbeda ijtihadnya dengan Imam Abu Hanifah? Atau juga kita harus menghakimi Imam Abu Hanifah yang berbeda ijtihadnya dengan Imam Maliki, dll.

Islam telah mengajarkan bagaimana kita saling menghormati, apalagi dengan para ulama. Dan tak patutlah kita menghakimi seorang ulama yang berbeda ijtihadnya dengan ijtihad dari ulama yang kita pakai saat ini. Bisa jadi apa yang dikatakan ulama yang kita anuti benar dan ulama yang lain salah, bisa jadi sebaliknya ulama yang kita anuti salah dan ulama yang lain benar!

“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.”(QS Yusuf 76)

About these ads

49 Tanggapan

  1. ah demokrasi mulu yang elo bahas….capek gue….

    Jawab Abu Jaisy:
    Kalau capek nggak perlu dikomentari, masih banyak hal yang lain diblog ini selain “demokrasi”. Ok! :)
    Thank’s sudah berkunjung.

  2. Bismillah,
    Darimanakah asal demokrasi itu?
    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum,maka ia termasuk dari mereka” (HR Ahmad dan Abu dawud dari sahabat Abdullah bin `Umar r.a)

    Jawab Abu Jaisy:
    Tasyabuh!? Lalu apakah ketika ada orang Islam jika berkumis juga tasyabuh? Menyerupai orang/suatu kaum. Kalau gitu Ustad Ba’asyir, Ustad Ismail Yusanto, Raja2 Arab, dll. Bisa jadi tasyabuh :)
    Jika menurut dalil yang antum berikan, hal ini sama saja masih berpandangan teks, bukan konteksnya. Istilahnya seperti ini, “Barang siapa menggunakan Komputer, mobil, tv, radio, dll (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka” atau bisa jadi, “Barang siapa menggunakan ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu komputer, ilmu matematika, ilmu administrasi, dll (menyerupai) suatu kaum” Padahalkan konteksnya bukan itu! :)
    Dan dalil yang antum berikan bukan dalil qath’i, karena tetap masih terjadi khilaf disini.

    • untuk membahas ini, perlu dicek, definisi demokrasi menurut anda apa?
      jika dikembalikan ke teori demokrasi: landasan demkrsi adalah hukum buatan manusia, dan suara mayoritas, atau artinya hukum halal haram dapat ditawar dari suara mayoritas. memang tdk ada dalil langsung yg mngatakan demokrasi haram, namun jk dikaji dari asas dmkrasi yg sbenarnya, maka hukum syara takkan bisa tegak dgn asas spt demokrasi. akan menghapus h syara hnya krn ada suara mayoritas, padahal jelas dikatakan dlm surat an-nisa ayat 44, 45, dan ayat yg semakna, bahwa kita hanya layak bhukum dengn hukum Allah swt.

      Jawab Abu Jaisy:
      Kalau begitu juga kalau mau dicek hukum fisika, kimia, dll. Definisinya apa orang-orang fisikawan, kimiawan, dll. Menggunakan hukum-hukum buatannya sendiri! :D

      Landasan hukum syari’at itu juga beralandas kepada ijtihad manusia (ulama). Jadi yah sama-sama manusianya!

      SEMUA KOMENTAR ANDA SUDAH SAYA JAWAB DIATAS, MOHON DIBACA KESELURUHAN. DAN JANGAN MALAS MEMBACA

  3. Antum mau dalil?

    Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al Maidah: 45)

    ”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al Maidah: 47)

    Jawab Abu Jaisy:
    Jangan menafsirkan ayat dengan hanya memotong ayat-ayatnya, jika itu yang terjadi orang munafiq dan kafir bisa sah-sah saja menggunakan ayat ini “Maka kecelakaan bagi orang-orang yang shalat” (QS Al Maa’uun 4)

    Mari kita kupas pernyataan dari dalil ijtihad (bukan dalil Qath’i) antum.

    Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang lalim. (QS Al Maidah 45)

    Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah 47)

    Sebab-sebabb turunnya ayat tersebut adalah penyelesaian Rasulullah kepada beberapa orang Yahudi yang ketika itu bersengketa dengan sesama Yahudi. Ayat dari Al Quran tersebut masih ada hubungannya dengan Al Maidah 44. Ulama Al Azhar (Mesir) dan Arab Saudi tidak sepakat bahwa ayat-ayat tersebut menjadi dalil pembenar dalam mengharamkan demokrasi, karena ayat tersebut diturunkan untuk kaum kafir, bukan untuk mu’min. Adapun beberapa ulama Al Azhar dan Arab Saudi yang tidak setuju dengan Demokrasi (mengharamkannya) itu tetap dalam rangka ijtihad masing-masing.

    • ya…memang benar ayat itu untuk orang kafir, karena mereka memakai hukum yang bukan hukum Islam, dan demokrasi itu adalah sistem kafir….jad bener donk ayat tersebut sebagai pembenaran mengahramkan demokrasi…. saudaraku seharusnya anda paham apa yang di haramkan tersebut kalau produk yang bukan menyangkut tentang ideologi ya tidak apa-apa kita ambil….la ini kan demokrasi sebuah ideologi sebuah aturan, sebuah hukum jadi tidak boleh diambil…..karena Nabi tidak pernah berhukum dengan hukum jahiliah,

      Jawab Abu Jaisy: :)
      Menyangkut demokrasi itu sendiri, sudah seharusnya kita sadar bahwa segala apa yang ada didunia ini memiliki aturan/hukum. Kalau hanya menyangkut demokrasi yang mengatur beberapa hal yang disitu ada kemaslahatannya lalu apakah kita buang seluruhnya? Sekarang boleh disebutkan sejak kapan Demokrasi menjadi sebuah ideologi? Jika hanya sekedar ideologi, sudah seharusnya bukan hanya demokrasi yang harus diharamkan, tetapi orang-orang yang berideologi fisikaisme, kimiasme, biologiesme, komputer-isme, dll. Semua juga bisa jadi haram :D. Anda menaiki kendaraan (mobil/motor) jika ada meyakini bahwa hanya kendaraan itulah satu-satunya yang dapat membawa anda ketujuan yang seharusnya, itu juga diharamkan. Mengerti apa yang saya maksud? :D

      • Maaf, komentar anda kami Delete

        Jawab Abu Jaisy:
        Anda sebaiknya lihat peraturan blog ini. “sebelah kiri atas” WARNING: KAMI AKAN MENGHAPUS KOMENTAR YANG BERISIKAN HUJATAN, CELAAN, MENGECAP KAFIR TANPA DASAR. DAN HAL-HAL YANG DILARANG DALAM ISLAM. JADI KAUM KHAWARIJ (YANG MENGECAP KAFIR SEMBARANGAN) MINGGIR…. (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR)

        KATANYA ISLAM, KATANYA INGIN BERJUANG MENEGAKKAN SYARI”AT ISLAM. LAH KOK TUKANG TIPU!!!! Syari’at Islam itu tidak diperjuangkan dengan cara menipu.
        gogo
        gmail.com
        bbghariyanto@gmail.com
        124.81.85.222

        abu hijaz
        gmail.com
        bbghariyanto@gmail.com
        124.81.85.222

        ehm
        gmail.com
        bbghariyanto@gmail.com
        124.81.85.222

      • Admin bilang: Sekarang boleh disebutkan sejak kapan Demokrasi menjadi sebuah ideologi? Jika hanya sekedar ideologi, sudah seharusnya bukan hanya demokrasi yang harus diharamkan, tetapi orang-orang yang berideologi fisikaisme, kimiasme, biologiesme, komputer-isme, dll. Semua juga bisa jadi haram . Anda menaiki kendaraan (mobil/motor) jika ada meyakini bahwa hanya kendaraan itulah satu-satunya yang dapat membawa anda ketujuan yang seharusnya, itu juga diharamkan. Mengerti apa yang saya maksud?

        Ana Jawab: Jika kefisika’annya, kebiologiannya, kimiawiaanya mengideolog dan Islamnya tidak mengideolog, maka jelas kafir.

        Antum tau kan definisi ideologi..???

        Tapi, antum seolah ingin membuat pembaca bingung dengan mengidentikkan para ilmuwan dan kaum ideolog… Isme di luar Islam adalah kafir, apa dan bagaimana bentuknya… Antum ingat definisi Islam menurut Syaikh Hasan Al Banna dalam Ushul Isyrin poin pertama tentang Syumuliyatul Islam kan,,??? Definisi ini secara umum disepakati ahli ilmu…

        Antum juga faham kan definisi ad-diin..??? millah..??? dan kata yang sejenisnya yang dalam bahasa Indonesia seharusnya tidak sekedar berarti “Agama”, namun lebih dari itu… Sehingga konsekwensinya pun lebih dari itu….

        Jawab Abu Jaisy:
        Afwan, akhi. Bagaimana ana menjawab pertanyaan antum. Karena sudah sangat jelas sekali pertanyaan-pertanyaan antum ini tidak jelas. Apa yang saya maksud Ideologi itu adalah keyakinan itu sendiri. Jika seseorang berkeyakinan bahwa Demokrasi itu adalah jalan utama, menuju sesuatu yang diharapkan maka hal itu jelas syirik dan haram. Ini sudah saya jelaskan beberapa kali, dan orang-orang seperti antum ini selalu memotong-motong maksud yang terkandung. Sehingga tak jarang Al Quran pun dipotong-potong seenak sendiri. Saya kopaskan maksud saya:

        “Menyangkut demokrasi itu sendiri, sudah seharusnya kita sadar bahwa segala apa yang ada didunia ini memiliki aturan/hukum. Kalau hanya menyangkut demokrasi yang mengatur beberapa hal yang disitu ada kemaslahatannya lalu apakah kita buang seluruhnya? Sekarang boleh disebutkan sejak kapan Demokrasi menjadi sebuah ideologi? Jika hanya sekedar ideologi, sudah seharusnya bukan hanya demokrasi yang harus diharamkan, tetapi orang-orang yang berideologi fisikaisme, kimiasme, biologiesme, komputer-isme, dll. Semua juga bisa jadi haram :D . Anda menaiki kendaraan (mobil/motor) jika ada meyakini bahwa hanya kendaraan itulah satu-satunya yang dapat membawa anda ketujuan yang seharusnya, itu juga diharamkan. Mengerti apa yang saya maksud?”

        Jawaban yang kedua yang berhubungan.
        “Saya tidak membahas masalah teknologi loh. Afwan, antum tahu maksud dari point yang ana sebutkan apa tidak yah? Karena kok kayaknya nggak nyambung sekali.
        Yang saya maksud dengan “Jika antum men-generalkan dalil tersebut, tentu saja kita semua tidak boleh untuk belajar ilmu Fisika, kimia, matematika, Komputer, dll. Karena disitu terdapat hukum-hukum/aturan-aturan/rumus-rumus yang bukan datang dari Allah, dan itu datangnya dari para master-master produk dari Demokrasi.”

        Ini bukan masalah teknologinya, tetapi masalah hukum/aturan/syari/at itu sendiri, yang bersumber bukan dari Allah. Jika antum berpendapat seperti yang antum sebutkan sekarang, berarti antum menafikkan dalil antum yang menyatakan pada intinya “semua produk hukum yang bersumber pada demokrasi adalah haram walaupun itu hukum yang bersumber dari Islam”. Nahkan lucu, disatu sisi mengharamkan, tetapi disatu sisi jika menguntungkan dihalalkan! :D

        Nahkan sudah jelas, apa yang saya maksud tersebut. Jadi “isme/ideologi” itu yang dibahas, bukan melebar kemana-mana! Ilmuwan itu juga mempunyai ideologi, jadi jangan pisah-pisahkan hal ini! Nah sama halnya dengan para “ilmuwan” sosial tentang demokrasi itu sendiri. Jadi tidak ada bedanya!

    • Jawaban syar’i tentang demokrasi juga sudah tuntas dibahas oleh Abu Muhammad Al Maqdisi dalam “AGAMA DEMOKRASI”, juga Abu Basheer dalam “SYUBHAT DEMOKRASI” dan pembahasan tafsir al Maidah yang disebutkan di atas sudah juga dibahas tuntas oleh Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Abdul Aziz dalam “TAHBIQ SYARI’AH”…

      Satu lagi, pembahasan demokrasi juga terdapat dalam ceramah Asy Syahid – insya Allah – Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi…

      Jawab Abu Jaisy:
      Yups, tafadhal merujuk pada ulama-ulama tersebut. Namun satu hal yang harus dan patut kita sepakati, bahwa semua buku tersebut adalah buah pikir (ijtihad) dari beliau sendiri. Bukan memberikan keterwakilan umat Islam seluruhnya.

      • Admin bilang: JADI KAUM KHAWARIJ (YANG MENGECAP KAFIR SEMBARANGAN) MINGGIR…. (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR)

        Ana tidak tahu siapa yang dicap Khawarij, jika al Qaeda (Salafy Jihady) dicap Khawarij, ana fikir admin belum mengenal al Qaeda… Karena al Qaeda berbeda dengan Khawarij… Mereka punya metode dalam Takfir, tidak sembarangan mengkafirkan…

        Yang jelas itu adalah bahwa al Qaeda berbeda dengan Jama’ah Takfir wal Hijrah… Bahkan Abu Muhammad Al Maqdisi membahasnya dalam buku “MEREKA MUJAHID TAPI SALAH LANGKAH”…
        Juga dibahas oleh Abu Mush’ab As Sury dalam PERJALANAN GERAKAN JIHAD….

        Jawab Abu Jaisy: :D
        Apakah saya mengatakan kalau itu Al Qaedah? Kapan? Afwan, akhi antum harus benar-benar tahu permasalahan sebelum berstatement. Jangan asal saja, Islam mengharamkan orang yang asal berstatement tapi tidak tahu masalahnya! Masya Allah.
        Seharusnya antum tanya dengan ikhlas, maksud saya membuat “label” disebelah kiri atas! Karena disitu jelas banyak sekali komentar-komentar siluman (tidak teregistrasi WordPress seperti antum ini) yang laingsung mengkafirkan saya diblog ini, langsung menghujat, dsb. Dan tak jarang banyak yang menipu dengan membuat nick-nick palsu dengan orang yang sama. Itulah yang saya maksud!

        Semoga antum lekas sembuh dari prasangka-prasangka yang diharamkan oleh Islam. Amien

  4. Islam itu bukan kata fulan,kiyai atau ustadz anu atau itu, tapi kata Allah dan Rasul-Nya , Al-qur`an dan sunnah.

    Ustadz anu,kiyai itu, guru itu, syaikh anu bisa salah, kecuali Rasulullah yang ma`sum. Jangan taklid!

    Jawab Abu Jaisy:
    Yups, setuju. Karena itu kerangka berfikir kita jangan sampai menjadi jama’ah robotiyah tanpa bisa berfikir dengan “merdeka” diarahkan kepada satu madhzab saja. Mengutip pernyataan imam Malik “janganlah engkau menjadikan madzhabku sebagai madzhab seluruh umat Islam, karena jika itu yang terjadi maka akan timbul fitnah. Setiap sahabat Rasulullah diturunkan didaerah tertentu, dan setiap sahabat Rasulullah itu berbeda isi dari otaknya. Maka dari itu ijtihadnya pun akan berbeda-beda” insya Allah kurang lebih seperti itu.

  5. Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya seluruhnya. Wa ba’du:
    akhi apa yang antum cari lagi jika semua dalil yang ada antum tolak dengan pukul rata semua ayat-ayat allah tentang thogut adalah tidak bisa dijadikan dalil qathi.

    dan Apakah rabb itu…? Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mendefinisikan rabb itu adalah: “Yang memberikan fatwa kepada engkau dengan fatwa yang menyelisihi kebenaran, dan kamu mengikutinya seraya membenarkan”.

    Ketika orang mengikuti apa yang bertentangan dengan hukum Allah, maka dia disebut mempertuhankan, sedangkan yang diikutinya yang mana ia mengetahui bahwa hal itu pembuatan aturan, maka dia memposisikan dirinya sebagai Rabb. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31)

    Pada ayat ini Allah memvonis orang Nashara dengan lima vonis:

    1. Orang-orang Nashara tersebut telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka
    2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah
    3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
    4. Mereka musyrik
    5. Alim ulama dan pendeta mereka telah memposisikan dirinya sebagai arbab… sebagai Tuhan

    Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan: “Kami (maksudnya: dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik, kami melanggar Laa ilaaha illallaah…” dst. Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya kemusyikan itu adalah shalat, sujud atau memohon kepada selain Allah. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah kemusyrikan, mereka heran… sebenarnya apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya?”, lalu ‘Adiy berkata: “Ya!”, maka Rasul berkata: “Itulah bentuk peribadatan (orang Nashrani) terhadap mereka”.

    Jawab Abu Jaisy:
    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31)

    Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan: “Kami (maksudnya: dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik, kami melanggar Laa ilaaha illallaah…” dst. Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya kemusyikan itu adalah shalat, sujud atau memohon kepada selain Allah. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah kemusyrikan, mereka heran… sebenarnya apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya?”, lalu ‘Adiy berkata: “Ya!”, maka Rasul berkata: “Itulah bentuk peribadatan (orang Nashrani) terhadap mereka”.

    Benar sekali, namun dalil ini tidak bisa digeneralisasikan seperti apa yang antum maksud. Jika antum men-generalkan dalil tersebut, tentu saja kita semua tidak boleh untuk belajar ilmu Fisika, kimia, matematika, Komputer, dll. Karena disitu terdapat hukum-hukum/aturan-aturan/rumus-rumus yang bukan datang dari Allah, dan itu datangnya dari para master-master produk dari Demokrasi. Terlepas dari ilmu-ilmu tersebut juga berawal dari ilmuwan muslim. Namun yang perlu digaris bawahi adalah aturan dari semua itu berasal dari manusia.

    Dan yang dimaksud dalam “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya?”, lalu ‘Adiy berkata: “Ya!”, maka Rasul berkata: “Itulah bentuk peribadatan (orang Nashrani) terhadap mereka”.

    Adalah menghalalkan sesuatu yang sudah dinash-kan haram dan mengharamkan yang sudah dinash-kan halal. Jelas dalam Al Quran yang halal dan haramnya sudah ditetapkan, maka itu tidak bisa diotak-atik. Contohnya seperti menghalalkan memakan babi,meminum khamr. Disitu sudah ada dalil Qath’inya. Tentu saja hal itu dilarang!

    Jika antum memakai dalil seperti ini, seharusnya memakai dalil yang lain. Yaitu dalil ketika sahabat Rasulullah membawa/membaca injil dan Rasulullah marah sambil mengatakan “Apakah ada yang lebih baik dari Al Quran” insya Allah seperti itu. :D

    Jadi, ketika alim ulama memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum (sekarang: undang-undang), maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai tuhan… sebagai Rabb. Sedangkan orang yang mengikuti atau menjalankan hukum-hukum yang mereka buat itu, maka Allah memvonisnya sebagai orang yang telah mempertuhankan, yang beribadah kepada si pembuat hukum itu dan melanggar Laa ilaaha illallaah lagi musyrik…!

    lalu apa bedanya dengan antum dalam mempertuhankan demokrasi ini.. sekali-kali pasti antum akan jawab ana tidak mempertuhankannya..
    tapi dan tapi..???

    Jawab Abu Jaisy:
    Seorang yang memposisikan sebagai penguasa, tentu mereka yang harus membuat peraturan hukum tersebut. Kewenangan dalam membuat hukum itu sendiri sudah dicontohkan dalam Sirrah. Ingatkah ketika Utsman bin Affan menyuruh membakar semua tulisan Al Quran yang berada dimana-mana, kecuali Al Quran yang telah dikumpulkannya (mushaf Utsmani). Dan melarang orang untuk membaca Al Quran selain Mushaf yang diterbitkan oleh kekuasaan Utsman pada saat itu. Ingatkah ketika kekuasaan yang dipegang Umar bin khattab mengumpulkan orang untuk shalat tarawih berjama’ah bukankah itu juga sebuah keputusan seorang penguasa yang belum pernah dilakukan semasa Rasulullah. Lalu bagaimana Umar bin Khattab membuat sebuah keputusan hukum tentang jumlah mahar, walaupun akhirnya direvisi lagi oleh Umar bin Khattab. Tetapi itu sebuah ibrah yang harus kita ketahui. Lalu seandainya apa yang antum katakan bahwa pembuat undang-undang itu memposisikan dirinya sebagai Tuhan, bukankah berarti Sahabat-sahabat Rasulullah juga seorang pembuat keputusan Undang-undang lalu apakah mereka juga memposisikan sebagai Tuhan?

    Pelaku hukum itu ada dua, yaitu pelaku hukum pasif dan pelaku hukum aktif. Pelaku hukum Aktif adalah polisi, jaksa, hakim, pengacara. Dan pelaku hukum pasif adalah orang-orang yang diluar pelaku hukum aktif. Dengan begitu antum sendiri adalah secara otomatis pelaku hukum pasif dari hukum yang antum haramkan! Dengan hujjah diatas, antum juga termasuk menyembah para pembuat hukum itu sendiri. Karena mana-mungkin antum melapas semua hukum yang sudah ditetapkan. Dan setiap saat bahkan setiap hari antum telah menyembah hukum tersebut!

    ini adalah perkara TAUHID dan bukan fururuyah akhi..ingat antum harus bedakan mana perkara yang FURU mana perkara yang BUKAN furu…

    coba antum sebutkan mana para tabiin, imam, syaikh dan ulama2 terdahulu yang pernah melegalkan hal demokrasi ini..
    kapan sih datangnya demokrasi barbar ini??lalu mengapa umat islam banyak mengatakan ini tidak mengapa…

    Jawab Abu Jaisy:
    Tentu saja masalah demokrasi itu bukan furu’iyah (cabang-cabang) dari Islam, tetapi demokrasi itu adalah masalah khilafiyah ataupun ikhtilaf dari ijtihad para ulama. Jadi antum harus membedakannya. Maka dari itu ketika terjadi khilafiyah dan ikhitilaf dari ijtihad para ulama akhirnya muncul yang dinamakan fiqh (termasuk juga furu’iyah). Demokrasi tidak ada dalam Al Quran ataupun As Sunnah, maka dari itu timbul khilafiyah ataupun ikhtilaf dari ijtihad para mujtahid. Namun masalah furu’iyah itu berbeda, karena masing-masing punya dalil yang sama. Maka dari itu, karena ada dua dalil yang “bertentangan”, biasanya disebut furu’iyah. Nah, untuk masalah demokrasi tidak ada nash yang qath’i sehingga tidak bisa sebut sebagai masalah furu’!

    Kalau menyebutkan siapa tabi’it wa tabi’in maupun ulama salaf yang melegalkan demokrasi, tentu tidak ada. Sama halnya kita ditanya, siapa Tabi’it wa tabi’in dan ulam
    a salaf yang menggunakan komputer? :D

    ini ana copy pastekan lagi tentang penjabaran nya..semoga antum mendapatkan hidayah dari alloh swt untuk kembali kejalan yang benar…

    Jawab Abu Jaisy:
    Syukron, tetapi apakah antum begitu sombongnya sehingga menganggap antum lebih benar daripada ana? :)
    Namun afwan akhi, kalau hanya sebatas kopi paste, sebaiknya ana hapus. Sebaiknya sebutkan saja linknya biar orang datang diblog antum sendiri.
    Karena hujjah-hujjah semacam antum sebutkan sudah bertebaran dikomentar blog ini. Dan lagi-lagi sama, hasil dari kopas (copy paste), apakah tidak ada pemikiran yang berbeda dari jawaban yang selalu sama setiap bulannya.

    DAN SELAMA INI TIDAK ADA DALIL QATH’I YANG MENGHARAMKAN DEMOKRASI, KECUALI IKHTILAF ATAS KHILAFIYAH DARI IJTIHAD PARA ULAMA!

    Jawab Abu Jaisy:
    Syukron kathsir atas bantahan dari hujjah antum diatas.
    Ana sebenarnya pengen membantah semua hujjah antum diatas, tetapi tidaklah akhsan jika sebelum ana mengemukakan hujjah, ana tidak tahu siapa antum, Kerja dimana, dan bertempat tinggal dimana. Mohon, dijawab dulu yah pertanyaan ana. Insya Allah ana akan membantah hujjah antum dengan sesuai hujjah antum diatas. Tafadhol.

    • Maaf, komentar anda kami Delete

      Jawab Abu Jaisy:
      Anda sebaiknya lihat peraturan blog ini. “sebelah kiri atas” WARNING: KAMI AKAN MENGHAPUS KOMENTAR YANG BERISIKAN HUJATAN, CELAAN, MENGECAP KAFIR TANPA DASAR. DAN HAL-HAL YANG DILARANG DALAM ISLAM. JADI KAUM KHAWARIJ (YANG MENGECAP KAFIR SEMBARANGAN) MINGGIR…. (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR)

      KATANYA ISLAM, KATANYA INGIN BERJUANG MENEGAKKAN SYARI”AT ISLAM. LAH KOK TUKANG TIPU!!!! Syari’at Islam itu tidak diperjuangkan dengan cara menipu.
      gogo
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

      abu hijaz
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

      ehm
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

    • Bismillahhirohmanirrohim Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya seluruhnya. Wa ba’du..

      Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya hal paling pertama yang Allah fardlukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah, sedangkan dalilnya adalah firman-Nya:

      ‘”Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu, “(An Nahl: 36)

      ini perkataan antum :
      Benar sekali, namun dalil ini (9:31)tidak bisa digeneralisasikan seperti apa yang antum maksud. Jika antum men-generalkan dalil tersebut, tentu saja kita semua tidak boleh untuk belajar ilmu Fisika, kimia, matematika, Komputer, dll. Karena disitu terdapat hukum-hukum/aturan-aturan/rumus-rumus yang bukan datang dari Allah, dan itu datangnya dari para master-master produk dari Demokrasi. Terlepas dari ilmu-ilmu tersebut juga berawal dari ilmuwan muslim. Namun yang perlu digaris bawahi adalah aturan dari semua itu berasal dari manusia.

      ana jawab: perlu diingat ana hanya seorang yang fakir yang tidak pernah menafsiri hadis & ayat alloh dengan ro’yu…coba antum lihat lagi bahwasanya yang menjelaskan jawaban tentang surat (9:31)pertanyaan sahabat tersebut adalah rosul sendiri dan bukan ana yang fakir ini… jadi tidak perlu antum fitnah ana mengeneralisasikan ayat semau ana sendiri karena ana tidak punya kewenangan dalam menafsiri hal ini ana pun mengutip dari hadist yang di jelaskan oleh syaikh muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah..

      Jawab Abu Jaisy:
      Masya Allah, antum memotong kalimat saya. Beginikah seorang muslim, hanya berpegang kepada kalimat yang sepotong-sepotong? Saya Kopas jawaban saya.
      “Benar sekali, namun dalil ini tidak bisa digeneralisasikan seperti apa yang antum maksud. Jika antum men-generalkan dalil tersebut, tentu saja kita semua tidak boleh untuk belajar ilmu Fisika, kimia, matematika, Komputer, dll. Karena disitu terdapat hukum-hukum/aturan-aturan/rumus-rumus yang bukan datang dari Allah, dan itu datangnya dari para master-master produk dari Demokrasi. Terlepas dari ilmu-ilmu tersebut juga berawal dari ilmuwan muslim. Namun yang perlu digaris bawahi adalah aturan dari semua itu berasal dari manusia.

      Dan yang dimaksud dalam “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya?”, lalu ‘Adiy berkata: “Ya!”, maka Rasul berkata: “Itulah bentuk peribadatan (orang Nashrani) terhadap mereka”.

      Adalah menghalalkan sesuatu yang sudah dinash-kan haram dan mengharamkan yang sudah dinash-kan halal. Jelas dalam Al Quran yang halal dan haramnya sudah ditetapkan, maka itu tidak bisa diotak-atik. Contohnya seperti menghalalkan memakan babi,meminum khamr. Disitu sudah ada dalil Qath’inya. Tentu saja hal itu dilarang!

      Jika antum memakai dalil seperti ini, seharusnya memakai dalil yang lain. Yaitu dalil ketika sahabat Rasulullah membawa/membaca injil dan Rasulullah marah sambil mengatakan “Apakah ada yang lebih baik dari Al Quran” insya Allah seperti itu. :D

      Coba lihat diparagraft ke dua dan tiga. Antum seharusnya tahu titik point yang saya maksud. Bukan malah memotong seenak antum sendiri. Dan maksud saya “Namun dalil ini tidak bisa digeneralisasikan seperti yang antum maksud” adalah bahwa antum tidak bisa mengatakan keharaman Demokrasi dari dalil tersebut, karena demokrasi tidak ada dalam nash yang qath’i. Apakah ada Nash yang qath’i mengatakan Demokrasi itu haram? Jika ada tolong buktikan dalilnya! Itu saja kok berbelit-belit. Jika tidak nash yang qath’i berarti hal tersebut adalah hasil dari ijtihad!

      mengapa antum tidak mengerti apa itu aqidah dan teknologi.. aqidah itu semua bersumber dari alloh azza wajjala dan akidah yang datang dari alloh itu hanya tiga akidah yahudi, nasrani, islam dan agama yang di ridhoi di sisinya hanya islam (Bukti bahwa Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah, dapat pula diperhatikan pada wahyu terakhir yang diterima oleh Rasulullah SAW tatkala beliau sedang melaksanakan haji wada’ yang berbunyi: ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agamamu (QS 5: 3)
      Dalam ayat lain Allah SWT menegaskan: ”Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS 3: 19)
      Pencipta manusia adalah ALLAH Azza wajjala lalu dengan penciptaannya itu maka alloh membuat aturan terhadap apa yang telah diciptakannya.
      Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia,yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Hasyr 22-24)

      dan hakekat allah menciptakan Manusia pasti antum sudah tau yaitu hanya untuk beribadah hanya kepada allah, dan segala bentuk peribadahan yang didasari hanya untuk allah maka alloh memberikan tata-caranya aturan-aturannya yang di sampaikan kepada para nabi dan rosulnya kemudian kepada ummatnya. dan barang siapa yang beribadah tidak bersumber dari alloh dan rosulnya maka semua ibadah itu akan tertolak.

      Jawab Abu Jaisy:
      Jawaban antum yang ini sudah terlalu melebar. :D
      Masalah beribadah kepada Allah tentu insya Allah kita semua tahu. Lalu apakah ketika kita patuh terhadap Undang-undang lalu lintas, UU Administrasi, UU International, UU Pidana, UU Perdata kita sudah tidak beribadah lagi kepada Allah?
      “Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang mempersulit agama, maka ia akan kalah. Oleh karena itu, sedang-sedanglah, dekatkan diri kalian (kepada Allah) dan bersukacitalah kalian, serta pergunakanlah waktu pagi, sore, serta sedikit dari waktu malam (untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (HR Bukhari)

      Dan benar sekali, bahwa ibadah itu harus bersumber kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun perlu diperhatikan jika itu terdapat dalil qath’inya. Hal itu tentu tidak menjadi perbincangan. Yang menjadi perbincangan adalah ketika tidak terdapat dalam nash yang qath’i, sehingga timbul multi tafsir dari para mujtahid.

      Orang yang dihukum Allah SWT dengan siksa yang pedih dan berat adalah orang yang secara sengaja dan jelas-jelas melanggar apa yang telah diharamkan Allah. Keharamannya adalah keharaman yang jelas dan telah menjadi ijma” atau minimal menjadipendapat mayoritas ulama dengan didukung dengan dalil-dalil yang qath”i. Baik Qath”i secara tsubut maupun qath”i secara dilalah.

      Misalnya keharaman minum khamar, berzina, membunuh nyawa yang bukan haknya, mencuri, berkhianat, dan seterusnya. Semua itu adalah keharaman yang sudah muttafaqun ”alaihi di semua lapis umat Islam. Tukang ojek pinggir jalan yang lagi mabok pun tahu kalau minum khamar itu haram, meski dia sedang melakukannya.

      Kalau jenis dosa seperti itu tetap dilakukan juga, dengan sengaja, dengan sepenuh kesadaran serta tahu resikonya, maka barulah seseorang akan disiksa di neraka.

      Tetapi…

      Manakalah suatu hukum masih menjadi perdebatan para ulama, maka seorang yang memlilih salah satu versi pendapat itu tidak akan dikenai sanksi oleh Allah SWT. Sebab sebagian ulama mengatakan haram tetapi sebagian mengatakan halal, sementara kedua pendapat itu berangkat dari hasil ijtihad, lantaran dalilnya masih mengandung hal-hal yang bisa ditafsirkan menjadi berbagai versi pemahaman.

      Logikanya sederhana saja, bagaimana mungkin Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang itu main hakim sendiri, main siksa dan main kayu kepada hamba-hamba-Nya, sementara aturannya tidak jelas, multi tafsir dan memang sulit dipungkiri.

      Lalu di mana keadilan Allah? Di mana kerahiman Allah? Mengapa Allah seakan membuat jebakan buat hamba-Nya sendiri? Di mana Allah SWT sengaja membuat dalil yang multi tafsir lalu siapa yang salah dalam menafsirkannya, harus siap dilumat api neraka.Tentu Allah SWT bukanlah tuhan dengan sikap rendah seperti itu.

      TEKNOLOGI = ada atau tidak adanya para nabi dan rosul teknologi itu akan senantiasa bertambah maju dan canggih dan hakikat alloh mengutus para nabi dan rosul itu bukan memperbaharui TEKNOLOGI tetapi memperbaharui aqidah(keyakinan). dan teknologi diciptakan dan di kreasikan oleh MANUSIA dan atas ijin alloh azza wajjala.

      contoh: jauh sebelum datangnya nabi muhammad saw orang2 jahilia dan bangsa romawi telah mengenal bagaimana cara pembuatan Pedang, Baju perang, alat panah, alat makan, alat minum, rumah, benteng, dsb.
      dan ketika seorang PENCIPTA (teknologi) menciptakan sesuatu yang ia ciptakan maka yang mengatur dan mengoperasikan adalah hak dari seorang Pencipta yang lagi2 pasti atas ikut campur alloh azza wajjala bisa mengendalikan dan mengoperasikan ciptaanya sendiri..apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini yang teramat cangih begitu banyak teknologi yang tercipta hari demi hari selalu di perbaharui tetapi beda halnya dengan aqidah yang mana DARI AWAL PENCIPTAANNYA SAMPAI AKHIR ZAMAN AKAN SELALU SAMA DAN TIDAK BERUBAH itulah janji allah yang pasti.
      perkara DUNIA dan AKHIRAT itu ada aturannya masing-masing..

      Jawab Abu Jaisy:
      Saya tidak membahas masalah teknologi loh. Afwan, antum tahu maksud dari point yang ana sebutkan apa tidak yah? Karena kok kayaknya nggak nyambung sekali.
      Yang saya maksud dengan “Jika antum men-generalkan dalil tersebut, tentu saja kita semua tidak boleh untuk belajar ilmu Fisika, kimia, matematika, Komputer, dll. Karena disitu terdapat hukum-hukum/aturan-aturan/rumus-rumus yang bukan datang dari Allah, dan itu datangnya dari para master-master produk dari Demokrasi.”

      Ini bukan masalah teknologinya, tetapi masalah hukum/aturan/syari/at itu sendiri, yang bersumber bukan dari Allah. Jika antum berpendapat seperti yang antum sebutkan sekarang, berarti antum menafikkan dalil antum yang menyatakan pada intinya “semua produk hukum yang bersumber pada demokrasi adalah haram walaupun itu hukum yang bersumber dari Islam”. Nahkan lucu, disatu sisi mengharamkan, tetapi disatu sisi jika menguntungkan dihalalkan! :D

      Antum mengatakan “perkara dunia dan akhirat itu ada aturannya masing-masing…” Lah ini kan tambah lucu! Bukankah Demokrasi itu mengatur dunia! Demokrasi tidak mengatur shalat, zakat, puasa, dll. Tetapi mengatur hanya sebatas kedunia’an. Nahkan antum malah menjadi sekuler sekarang! Membedakan perkara dunia dan akhirat. :D Bukankah Islam diturunkan itu untuk mengatur perkara dunia yang akan dijadikan pertanggung-jawaban di akhirat kelak!

      Tidak hanya teknologi yang berubah, tetapi ijtihad para ulama juga akan terus diperbaharui atau berubah-ubah. Karena strata sosial semakin tahun semakin berbeda! Karena Islam itu bukan agama monoton atau bahkan stagnan berjalan ditempat.

      perkataan antum:
      Ingatkah ketika Utsman bin Affan menyuruh membakar semua tulisan Al Quran yang berada dimana-mana, kecuali Al Quran yang telah dikumpulkannya (mushaf Utsmani). Dan melarang orang untuk membaca Al Quran selain Mushaf yang diterbitkan oleh kekuasaan Utsman pada saat itu.

      ana jawab: pada saat perkara membakar semua tulisan al-quran itu adalah bukan perkara makar untuk mengganti HUKUM ALLAH dengan hukum selain ALLAH, tetapi jelas hukum yang diterapkan oleh khalifah utsman bin affan adalah hukum alloh dan rasulnya..dan hukum asalnya membuat mushaf adalah sebuah teknologi yang mana dari sebuah hafalan di ubah dalam bentuk tulisan. dan itu perkara dunia.

      Jawab Abu Jaisy:
      Perkara Utsman bin Affan yang memerintahkan membakar mushaf yang bukan dari mushaf utsmani adalah perkara dari ijtihad seorang khalifah. Yang mempunyai kewenangan membuat hukum itu sendiri. Jika antum menyatakan “tetapi jelas hukum yang diterapkan oleh khalifah utsman bin affan adalah hukum alloh dan rasulnya” Tolong buktikan nash Qath’i yang menyuruh Utsman bin Affan membukukan Al Quran dan membakar mushaf yang lainnya.

      Afwan, antum tahu sirrahnya nggak sih?
      Awal mulanya dibukukannya Al Quran adalah atas gagasan para sahabat dimasa Khalifah Abu Bakar, karena melihat begitu banyaknya para hafidz yang syahid. Maka dari itu sahabat2 mengusulkan untuk dibukukannya Al Quran. Ketika itu Abu Bakar berkata “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah” insya Allah seperti itu. Lalu Umar bin Khattab memberikan komentarnya yang pada intinya bahwa Rasulullah juga akan setuju dengan usulan tersebut. Dst….
      Dari sini sudah jelas, bahwa Abu Bakar sendiri menyatakan membukukan Al Quran itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dengan begitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan sampai kepada Utsman bin Affan, yang sudah membukan Al Quran tersebut adalah tidak ada dalan nash qath’i kecuali ijtihad dari kewenangan penguasa untuk membuat hukum itu sendiri. Bahkan membakar mushaf yang lain itupun atas kewenangan penguasa untuk membuat hukumnya.

      Mungkin saya yang tidak tahu dalil Qath’inya, jadi tolong dibuktikan dalilnya seperti apa yang antum katakan “tetapi jelas hukum yang diterapkan oleh khalifah utsman bin affan adalah hukum alloh dan rasulnya”

      perkataan antum: Lalu seandainya apa yang antum katakan bahwa pembuat undang-undang itu memposisikan dirinya sebagai Tuhan, bukankah berarti Sahabat-sahabat Rasulullah juga seorang pembuat keputusan Undang-undang lalu apakah mereka juga memposisikan sebagai Tuhan?

      apakah khalifah umar merubah-rubah keputusan jumlah mahar itu perkataan rasul(hadist) atau perkataan umar?? ana belum pernah menemukan dalilnya umar merubah2 dalil. buku rujukan apa yang bisa ana baca untuk tabayun dalam hal perkara tersebut akhi???
      dan jika itu tidak benar sungguh kedustaan yang telah kau tebarkan dalam hal perkara ini dengan menfitnah para khilafah merubah hukum-hukum allah sebagai penduan hidupnya.

      Jawab Abu Jaisy:
      Masya Allah, kasar sekali bahasa antum! (main kasar neh?) :D
      Mungkin antum terlalu bodoh atau mungkin terlalu sempit wawasan yang antum ketahui, sehingga tidak tahu masalah seperti ini. “Aku tidak mendengar seorang wanita yang maharnya melewati mahar istri-istri Nabi, kecuali aku akan menguranginya.” Ucap Umar bin khattab. Lalu tiba-tiba seorang wanita berkata kepada Umar “Kau berkata dengan pendapatmu sendiri atau kau mendengar dari Rasulullah? Karena kami menemukan dalam Alquran sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataanmu. Dia lalu membaca QS 4:120. Mendengar kritik wanita tersebut, Umar bin Khathab berkata “Perempuan ini betul dan Umarlah yang salah”
      Walaupun beberapa ulama mengatakan ini dha’if. Tetapi hal ini tidak mengurangi kadarnya!

      dan tidaklah perkataan rasul itu berasal dari akliyahnya melainkan semua itu bersumber dari alloh azza wajjala dan dalam perkara memutuskan peraturan hakim itu rasul bersumber langsung dari allah azza wajjala.

      lalu bagaimana bisa antum samakan hukum memutuskan paraturan para hakim saat ini(begeri ini atau dimana saja) dengan peraturan yang buat oleh rasul yang jelas bersumber dari alloh dan bukan hawa nafsu.
      kemudian para sahabah adalah orang yang mengataskan syariah dia atas segala-galanya bagaimana mungkin antum bisa samakan dengan para pembuat hukum saat ini yang bersumber dari manusia untuk manusia???

      Jawab Abu Jaisy:
      Afwan, antum terlalu bodoh atau gimana yah? Perkataan Rasulullah yang bersumber dari Allah adalah dalam Al Quran, perkataan yang berangkat pada diri Rasulullah adalah hadits, dan diataranya ada hadits Qudsi yang bersumber dari Allah tetapi tidak termasuk dalam Al Quran.
      Tidak semua keputusan Rasulullah itu bersumber dari Allah, banyak juga yang bersumber melalui pemikiran beliau sendiri. Contohnya adalah ketika beliau ditanya tentang cara menanm buah kurma agar menghasilkan buah yang bagus, atau juga ketika menggunakan taktik peperangan yang ternyata tidak efektif yang akhirnya menggunakan ide dari Salman Al Farisi.

      Keputusan seorang qadhi’ (hakim) adalah atas ijtihad dia sendiri, ingatlah perkataan Rasulullah yang menjadi inspirasi dari keputusan Umar Bin Khattab “Rasulullah SAW: Hindarkanlah had (hukuman yang sudah ditentukan, misalnya potong tangan atau rajam–Pen) semampu kalian dari orang Islam. Sebab, lebih baik seorang imam (hakim) salah dalam memberikan ampunan daripada ia salah dalam memberikan had. Karena itu, kata Umar ra: Menggugurkan had dalam masalah-masalah yang belum jelas, lebih baik daripada melaksanakannya.”

      perkataan antum :Demokrasi tidak ada dalam Al Quran ataupun As Sunnah
      ana jawab: lihat dalil2 yang kemarin ana kasih walaupun dari hasil copy paste tetapi itu adalah sebuah kebenaran yang antum nafikan.. intinya THOGUT itu ya demokrasi.

      Jawab Abu Jaisy:
      Dalil-dalil yang kemarin sama dengan dalil yang sudah ada sejak dulu-dulu. Isinya hanya ijtihad, tidak ada nash qath’i haramnya Demokrasi.
      Kalau bicara Thaghut, maknanya luas. Bisa jadi raja Arab Saudi adalah Thaghut dimata Al Qaidah, Di mata pemerintahan Arab Saudi, Al Qaidah juga merupakan Thaghut. Karena Thaghut sendiri bisa berarti orang yang memusuhi kaum muslimin, orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu, atau bisa juga berhala. Bahkan seorang yang tidak punya kekuasaanpun bisa juga disebut thogut karena perilakunya.

      Jadi jelas, Thogut sendiri bukan berarti Demokrasi! Tetapi Thaghut yang antum kira demokrasi juga merupakan ijtihad dari beberapa ulama yang mengharamkan demokrasi. Tentu arti Thaghut bukan Demokrasi! :D

      perkataan antum: Syukron, tetapi apakah antum begitu sombongnya sehingga menganggap antum lebih benar daripada ana?
      masyaallah antum telah mendahului alloh sebgai yang maha tau akan hal ghaib(hati ana) dan prasangka antum yang ana mengatakan copy paste kan lagi berikut penjabarannya antum katakan sebagai kesombongan ana..sungguh ana ketika mengetikan hal tersebut adalah hanya untuk membagikan apa yang tertulis di dalam alquran dan semua kebenarannya.. dan sungguh ana menulis ini hanya menyampaikan kebenaran yang ana pelajari selama ini. bukankah kita di perintahkan untuk menyampaikan kebenaran walaupun satu ayat..
      dan jika yang di copy paste kan adalah sebuah kebenaran dan antum menolaknya, LALU siapakan yang sombong dalam perkara ini…

      Jawab Abu Jaisy:
      Masya Allah. kalimat tanya kok disebut kalimat justifikasi. Kan sudah jelas “tetapi apakah antum begitu sombongnya sehingga menganggap antum lebih benar daripada ana?”

      Kata “Apakah” dan “?” itu memberikan keterwakilan kalimat tanya saya kepada antum. Kok malah antum menghakimi saya berprasangka. Aneh antum ini! Kan sudah jelas antum mengatakan “semoga antum mendapatkan hidayah dari alloh swt untuk kembali kejalan yang benar”

      Makna kalimat antum itu yang malah seharusnya dipertanyakan! Antum menganggap saya sesat dengan mengatakan “Kembali kejalan yang benar”. Bukankah itu sudah kalimat justfikasi kesombongan bahwa antum sudah merasa palling benar!

      Masya Allah, saya berhadapan dengan orang-orang yang bahlul lagi!

      Antum menganggap diri antum paling benar dengan menggunakan dalil-dalil teks Al Quran yang tidak ada hubungannya dengan semua ini kecuali hanya dihubung-hubungkan saja. Lalu sudah menganggap diri paling benar dengan menyampaikan kebenaran yang antum pelajari selama ini. Wuih Sombong banget loe! :D

      Masalah ijtihad itu tidak bisa dianggap benar satu pihak, jika seperti itu namanya sombong.

      Masalah copy paste, sebaiknya antum tidak perlu lakukan lagi. Sebaiknya antum melihat semua komentar di blog ini, insya Allah sudah ada copy paste jawaban sama yang seperti antum sampaikan. Atau bisa juga di link-kan saja, itu etikanya. Umat Islam itu etikanya tinggi, maka dari itu antum sebagai umat Islam harus beretika jika bertamu ditempat seseorang, atau di blog seseorang. Harus mengikuti aturan pemilik itu sendiri.

      Antum tidak menjawab paragraft yang ini “Pelaku hukum itu ada dua, yaitu pelaku hukum pasif dan pelaku hukum aktif. Pelaku hukum Aktif adalah polisi, jaksa, hakim, pengacara. Dan pelaku hukum pasif adalah orang-orang yang diluar pelaku hukum aktif. Dengan begitu antum sendiri adalah secara otomatis pelaku hukum pasif dari hukum yang antum haramkan! Dengan hujjah diatas, antum juga termasuk menyembah para pembuat hukum itu sendiri. Karena mana-mungkin antum melapas semua hukum yang sudah ditetapkan. Dan setiap saat bahkan setiap hari antum telah menyembah hukum tersebut!” Atau memang susah menjawabnya karena masih tinggal di negara Demokrasi.

      Yah cepat-cepatlah antum keluar dari negara Demokrasi, karena pasti beban mental berbuat dosa setiap hari :D

      bantahan antum tak satu pun bersumber dari alquran dan sunnah dan tak sepantasnya antum membantah sebuah hujjah yang bersumber dari al-quran wa sunnah antum bantah dengan ro’yu antum semata tanpa tabayun terlebih dahulu..dan dari begitu banyak ayat alquran
      untuk rujukan silahkan antum lihat di tafsir ibnu katsir bab tentang barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum allah..
      di fathul majid tentang hal yang sama..
      Majmu Al Fatawa 7/137.
      Al Fatawa 7/290
      Untuk lebih jelasnya silahkan rujuk Risalah Abu Bashir Abdul Mun’im Mushthafa Halimah tentang Hukmu Istihlal Amwal Al Musyrikin. Wallahu A’lam.

      Alhamdulillaahirrobbil ‘aalamiin

      Jawab Abu Jaisy:
      Hehehe, lalu apakah artikel diatas tidak menjawab komentar antum? Ah, saya kok jadi sanksi dengan keilmuan antum. Kan saya sudah jawab di artikel atas dengan dalil Al Quran. Berarti antum telah menfitnah saya. Semoga Allah mengampuni antum atas fitnah-fitnah keji antum kepada muslim yang lainnya.

      Untuk masalah tafsir ibnu Katsir bisa lihat dialog saya dengan hijazalattar.

      NB: Masalah Furu’iyah gimana neh? Sudah tahu kan apa itu Furu’iyah, khilafiyah, ikhtilafiah dan ijtihad. Hehehe, Demokrasi kok disangkut-sangkutin sama Furu’ (aya-aya wae!) :D

      • Analogi2 Admin aneh: yang kita tuntut itu adalah pembuatan hukum di luar hukum Allah, tapi analoginya kenapa ke hal2 yang tidak berkaitan dengan pembuatan hukum, seperti: mushaf, perang khandaq, dan lainnya…

        Jawab Abu Jaisy:
        Antum harus fair/adil dalam membahas segala masalah. Jika ingin berdialog lebih baik antum membaca keseluruhan apa yang saya maksud. Dengan seperti ini ana menganggap antum ghurur dalam berpendapat. Dalam pertanyaan awal seperti ini
        “Jadi, ketika alim ulama memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum (sekarang: undang-undang), maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai tuhan… sebagai Rabb. Sedangkan orang yang mengikuti atau menjalankan hukum-hukum yang mereka buat itu, maka Allah memvonisnya sebagai orang yang telah mempertuhankan, yang beribadah kepada si pembuat hukum itu dan melanggar Laa ilaaha illallaah lagi musyrik…!”

        Jawaban pertama (Abu Jaisy):
        “Seorang yang memposisikan sebagai penguasa, tentu mereka yang harus membuat peraturan hukum tersebut. Kewenangan dalam membuat hukum itu sendiri sudah dicontohkan dalam Sirrah. Ingatkah ketika Utsman bin Affan menyuruh membakar semua tulisan Al Quran yang berada dimana-mana, kecuali Al Quran yang telah dikumpulkannya (mushaf Utsmani). Dan melarang orang untuk membaca Al Quran selain Mushaf yang diterbitkan oleh kekuasaan Utsman pada saat itu. Ingatkah ketika kekuasaan yang dipegang Umar bin khattab mengumpulkan orang untuk shalat tarawih berjama’ah bukankah itu juga sebuah keputusan seorang penguasa yang belum pernah dilakukan semasa Rasulullah. Lalu bagaimana Umar bin Khattab membuat sebuah keputusan hukum tentang jumlah mahar, walaupun akhirnya direvisi lagi oleh Umar bin Khattab. Tetapi itu sebuah ibrah yang harus kita ketahui. Lalu seandainya apa yang antum katakan bahwa pembuat undang-undang itu memposisikan dirinya sebagai Tuhan, bukankah berarti Sahabat-sahabat Rasulullah juga seorang pembuat keputusan Undang-undang lalu apakah mereka juga memposisikan sebagai Tuhan?”

        Jawaban Kedua (Abu Jaisy):
        Perkara Utsman bin Affan yang memerintahkan membakar mushaf yang bukan dari mushaf utsmani adalah perkara dari ijtihad seorang khalifah. Yang mempunyai kewenangan membuat hukum itu sendiri. Jika antum menyatakan “tetapi jelas hukum yang diterapkan oleh khalifah utsman bin affan adalah hukum alloh dan rasulnya” Tolong buktikan nash Qath’i yang menyuruh Utsman bin Affan membukukan Al Quran dan membakar mushaf yang lainnya.
        Afwan, antum tahu sirrahnya nggak sih?
        Awal mulanya dibukukannya Al Quran adalah atas gagasan para sahabat dimasa Khalifah Abu Bakar, karena melihat begitu banyaknya para hafidz yang syahid. Maka dari itu sahabat2 mengusulkan untuk dibukukannya Al Quran. Ketika itu Abu Bakar berkata “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah” insya Allah seperti itu. Lalu Umar bin Khattab memberikan komentarnya yang pada intinya bahwa Rasulullah juga akan setuju dengan usulan tersebut. Dst….
        Dari sini sudah jelas, bahwa Abu Bakar sendiri menyatakan membukukan Al Quran itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dengan begitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan sampai kepada Utsman bin Affan, yang sudah membukan Al Quran tersebut adalah tidak ada dalan nash qath’i kecuali ijtihad dari kewenangan penguasa untuk membuat hukum itu sendiri. Bahkan membakar mushaf yang lain itupun atas kewenangan penguasa untuk membuat hukumnya.
        Mungkin saya yang tidak tahu dalil Qath’inya, jadi tolong dibuktikan dalilnya seperti apa yang antum katakan “tetapi jelas hukum yang diterapkan oleh khalifah utsman bin affan adalah hukum alloh dan rasulnya”

        Sampai sekarang saudara abuusamahalfatih belum menjawab pertanyaan saya, (inilah kebiasaan, kaalau sudah “terjepit” pasti akan lari. Apakah antum nanti juga seperti itu juga? :) )

        Pernahkah ditanya pada para penguasa saat ini:
        1. Melarang perzinaan..?? Dan menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah. Jika tidak, maka mereka berarti tidak berhukum dengan hukum Allah, berarti ada hak Allah yang diambil yakni hak hakimiyyah Allah dan ini adalah termasuk salah satu kekhususan Uluhiyyah Allah. Jika pemerintah tidak berhukum dengan hukum Allah dan menghukumi warganya dengan hukum yang tidak diturunkan Allah, maka pemerintah berarti telah menjadi thaghut baru karena mengambil hak hakimiyyah Allah. Ini yang dimaksud Rasulullah dalam Kisah ‘Ady di atas. Dan orang yang mengiyakannya berarti sedang beribadah pada hukum2 tersebut.

        Jawab Abu Jaisy:
        Lalu apakah ketika Umar bin Khattab tidak melaksanakan hukuman kepada seorang pencuri itu juga telah melanggar hukum Allah? Apakah ketika hukuman rajam di batalkan dengan cara berdamai itu juga menyelisihi hukum Allah? Lalu, apakah ketika antum dijalan bertemu orang kafir juga telah melaksanakan hukum disyari’atkan Allah?

        2. Syirik merupakan dosa besar yang pelakunya adalah kafir (tidak ada perbedaan), saat ini dalam dunia demokrasi, asalkan rakyat dan suara mayoritas mendukung, maka syirik akan tetap bertebaran. Misal: (afwan nyebut nama tempat) di Cirebon, Benten, Solo, Jokja, dan tempat2 lainnya, yang terbaru adalah di kuburannya Gusdur. Dalam titik ini pemerintah yang memiliki kekuasaan tidak berusaha untuk menghancurkan kesyirikan, padahal mereka mampu melakukannya, bahkan membiarkan dengan alasan kebebasan berkehendak dan kebebasan berkepercayaan.

        Jawab Abu Jaisy:
        “Pemimpin itu hadiah dari Allah, jika rakyatnya buruk maka pemimpinnya pun akan buruk, jika rakyat baik maka Allah juga akan menghadiahkan pemimpin yang baik” (Syaikh At Tamimi). Lalu sudah merasa baikkah diri antum dan sudah mampu berbuat sesuatukah terhadap apa yang antum permasalahkan. Atau antum hanya sekedar ghirah yang tak tersalurkan? Adakah Rasulullah saat futuh Mekkah, berteriak-teriak tentang penghancuran berhala-berhala? Karena kebanyakan para harakah dakwah mengatakan saat ini bagaikan futuh Mekkah maka hal ini perlu dijawab dengan baik!

        3. Rasulullah bersabda bahwa murtadin harus dihukum mati, namun di Indonesia -atas nama demokrasi- membiarkan mereka, dengan alasan kebebasan beragama.

        Jawab Abu Jaisy:
        “Dari Ibnu Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga hal: [1] Seorang yang telah menikah namun berzina, [2] Membunuh nyawa dengan tidak hak dan [3] Orang yang meninggalkan agamanya (Islam) serta meninggalkan jamaah. (HR. Bukhari Muslim)”

        Sekarang kita harus sadar diri, apakah Indonesia ini sudah menjadi negara Islam sehingga kita dengan mudah meminta Indonesia untuk menghukum mati orang yang murtad? Karena perlu diperhatikan bahwa semua vonis murtad itu harus berasal dari proses hukum formal dan vonis juga berasal dari lembaga hukum yang formal. Berarti ini adalah Pekerjaan Rumah (PR) kita semua untuk memperjuangkan hal tersebut.

        4. Dalam dunia demokrasi, kebebasan berekspresi diutamakan, karenanya selama tidak mengganggu orang lain, tidak masalah bagi seseorang untuk melanggar syariat, dan -atas nama demokrasi- pemerintah meng-iyakannya. Contoh kasus: Film Air Terjun Pengantin dan yang Terbaru Film Suster Keramas…er

        Jawab Abu Jaisy:
        Seharusnya kita juga sadar dengan demokrasi ini. Sekarang yang patut dipertanyakan adalah, seberapa banyak mu’min dengan pelaku maksiat? Jika banyak pelaku mu’minnya, tentu insya Allah kita mampu menerapkan apa yang ingin kita terapkan. Tetapi ketika pelaku maksiat itu lebih banyak, yah jangan menggerutu kalau kalah! Terimalah kekalahan dengan lapang dada. Karena dengan begitu kita tahu kualitas dakwah para mu’min tidak sebanding dengan apa yang diharapkannya sendiri. Istilahnya “Nafsu besar tenaga kurang”.

        Masalah film seperti ini, bisa antum lihat di artikel saya yang ini —-> Kenapa Miyabi (Maria Ozawa) Dilarang Main Film Di Indonesia.

        5. Allah memerintahkan kita untuk berhukum dengan apa yang diturunkan BUKAN “seperti apa yang diturunkan-Nya.” Walaupun sesuai, hakim dalam persidangan (misal pencuri di Indonesia dihukum potong tangan, namun…) akan berkata : “Berdasarkan Undang-Undang yang berlaku dalam fasal sekian ayat sekian, bukan ditujukan kepada nash2 yang syar’i… Berarti hakim tidak berhukum kepada apa yang Allah turunkan, berarti hakim tidak menjadikan Rasulullah sebagai pemutus perkara… Allah berfirman: “Tidak beriman di antara kalian hingga menjadikan engkau (hai Muhammad) sebagai hakim atas perkara di antara mereka.”

        Jawab Abu Jaisy:
        Apakah yang antum maksudkan ini An Nisaa’ ayat 65. Yang berbunyi “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

        Semua ulama sepakat bahwa ayat diatas menyangkut masalah ibadah mahdhah. Perlu di ingat dan diperhatikan bahwa ada dua jenis ibadah: ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah ‘ammah (sosial). Kaidah ushul fiqh menyatakan, bahwa asal hukum dari ibadah mahdhah adalah haram, kecuali jika ada dalil yang membolehkannya. Sedangkan asal hukum ibadah ammah adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sedangkan sudah sangat jelas sekali, sedangkan definisi Demokrasi itu sendiri berbeda-beda maknanya. Demokrasi ala Amerika, berbeda dengan Demokrasi ala Indonesia, Demokrasi ala Filiphina juga berbeda ala Indonesia dan Amerika, begitu juga seterusnya. Pada hakekatnya demokrasi tidaklah sesuai dengan yang seharusnya. Jadi kenapa pusing memikirkan kata “demokrasi”. Apalagi diharamkan mutlak terhadap Islam, padahal sudah jelas-jelas pengharaman mutlak terhadap Islam selain ada dalil Qath’i-nya itu diharamkan oleh Allah! Jadi mengharamkan demokrasi itu adalah sebuah ijtihad, bukan berasal dari Islam!

        ““Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl 116)”

        Afwan… Kepada admin tolong analoginya yang sesuai, Demokrasi menyangkut halal-haram dalam hukum yang qath’i, tapi analogi antum menyangkut strategi dakwah.

        Jawab Abu Jaisy:
        Bukankah mengikuti demokrasi merupakan juga strategi dakwah! Sedangkan orang yang mengharamkan demokrasi secara memutlakkannya dalam Islam, sampai sekarang belum ditemukan dalil qath’i-nya!

      • Ana bukan pelaku hukum pasif demokrasi Pancasila… Ana berbuat baik (tidak membunuh, tidak mempekosa, tidak berzina, tidak mencuri, dan lainnya) bukan dalam rangka menaati UUD dan Pancasila, namun karena Allah yang memerintahkan hal yang demikian.

        Adapun untuk masalah kebaikan2 umum, seperti berhenti pada saat lampu merah, berjalan di sebelah kiri, dan lain2nya adalah karena hal tersebut merupakan ‘urf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan al Quran dan as Sunnah dan semua itu dilakukan untuk kebaikan manusia…

        Jadi, ana bukan pelaku hukum pasif demokrasi… Adapun pajak, dan lain sebagainya ana tidak melaksanakan kecuali dipaksa (misal otomatis ditarik dan dipotong oleh pemerintah)…

        Jawab Abu Jaisy:
        Inilah yang sering tidak diakui oleh orang-orang seperti antum. Jelas orang seperti antum tidak bisa adil dalam menempatkan sesuatu hal! Kan sudah dijelaskan, secara otomatis, mengakui atau tidak. Antum ini telah melakukan hukum Demokrasi. Walaupun dengan alasan apapun! :D

        Sekarang, jika Allah memerintahkan untuk membunuh orang yang melewati shaff / garis sutra kita, apakah kita akan memukul atau bahkan membunuhnya? Apakah ketika kita (muslim) lewat dijalan raya dan mengetahui ada orang kafir berjalan juga apakah kita akan menghadangnya?

        Hehehe, dijaman Rasulullah sudah ada Lampu lalinnya yah? Aneh-aneh saja alibi antum ini! Antum mengatakan ini ‘urf / adat kebiasaan. Kalau hanya sebatas adat, lalu kalau ada polisi menilang dengan mengatakan “Anda melanggar lalu lintas dengan dasar ayat …. UU Lalu Lintas” Bukankah hal itu sudah antum katakan bahwa “Jika pemerintah tidak berhukum dengan hukum Allah dan menghukumi warganya dengan hukum yang tidak diturunkan Allah, maka pemerintah berarti telah menjadi thaghut baru karena mengambil hak hakimiyyah Allah. Ini yang dimaksud Rasulullah dalam Kisah ‘Ady di atas. Dan orang yang mengiyakannya berarti sedang beribadah pada hukum2 tersebut.”

        Hehehe, antum menafikkan perkataan antum sendiri. Masya Allah. Yah seperti inilah jika mencari pembenaran saja, bukan kebenaran!
        Loh siapa yang memaksa membayar pajak? Pemerintah? Wah, antum salah kaprah! Sudah memakai jalan dan fasum (fasilitas umum) seenaknya tapi nggak mau bayar apa-apa. Jadi Pajak Penghasilan, Pajak kendaraan bermotor, Pajak Bumi dan Bangunan, dll. Itu langsung dipotong yah oleh pemerintah? Bukankah hal-hal tersebut harus seizin/persetujuan kita! Kalau mau, tidak membayar juga tidak apa-apa, asal tahu konsekuensinya saja!

        Dalam Undang-Undang pun pajak telah ditetapkan, antum sendiri yang “rela” dipotong/ditarik oleh pemerintah. Pada dasarnya mematuhi Undang-Undang Pajak itu sendiri, jika antum tidak mengakui, secara otomatis antum pasti akan meminta hal tersebut karena merupakan haq antum pribadi.
        Atau antum akan mengatakan bahwa mengikhlaskan hal tersebut untuk sedekah!? Kalau terus seperti ini, yah sudah pasti. Antum hanya cari pembenaran untuk memaksakan kebenaran versi antum sendiri. Hal ini jelas gawat sekali!

        Admin seringkali membuat a haqq menjadi sangat relatif, misal dalam mendefinisikan “thaghut”, ya, itu ijtihad namun bukan berdasarkan hawa nafsu… Toh, orang2 seperti ana dan sepemikiran dengan ana pasti dicap TERORIS… tapi, dalam makna yang haqq di hadapan Allah, siapakah yang dilaknat oleh Allah..?? Kami – yang berusaha berjalan di atas haqq, bii idznillahi ta’ala – atau Para pemimpin Kafir seperti Pemerintah Amerika dan Zionist..?

        Jawab Abu Jaisy:
        Hehehe, saya menjelaskan hal tersebut karena memang sudah sangat relatif, siapa yang berijtihad. Ingatlah “Apa yang dipikirkan seseorang itu, adalah apa yang dia dapatkan dalam kehidupannya” tahu teori pemikiran tersebut!? Saya jelaskan sedikit, dalam kehidupan setiap orang itu mengalami pengalaman yang berbeda-beda. Apa yang kita alami itu berbeda dengan yang dialami orang yang lain. Dan itu juga merujuk pada para ulama. Kenapa ulama satu dengan ulama yang lain berbeda dalam menempatkan hukumnya, karena mereka satu sama lainnya berbeda pola kehidupannya! Kenapa Ulama Palestina cenderung lebih memilih berperang dan kenapa fatwa ulama saudi lebih memilih menahan diri. Ini adalah jelas corak pandang yang berbeda dari satu kehidupan para ulama. Tidak bisa kita mengklaim bahwa mengatakan “ulama Palestina lebih faqih, daripada ulama Saudi. Atau mengatakan Ulama Saudi lebih faqih daripada ulama Palestina”.

        Hal tersebut jelas dilarang dalam Islam! Yang patut diperhatikannya adalah pola kehidupan mereka (ulama) dari situasi dan kondisinya. Sehingga kita bisa mengerti fatwa-fatwa satu dengan yang lainnya. Tidak malah menghakimi satu persatu, dan melabelkan ulama yang kita anuti paling faqih! Ingatlah perkataan Imam Maliki “Janganlah engkau menjadikan madzhabku menjadi madzhab umat Islam seluruhnya, hal itu akan menjadi fitnah! Sahabat Rasulullah satu dengan yang lainnya diturunkan Allah ditempat yang berbeda-beda. Dan setiap isi dalam kepalanya itu juga berbeda-beda satu dengan yang lainnya” Insya Allah seperti itu!

        Siapa yang dilaknati Allah? Yah kita merujuk pada Al Quran dan As Sunnah! Membunuh mu’min, mengkafirkan mu’min yang lainnya, berkhianat, dll. Itu juga salah satu hal yang dilaknati oleh Allah dan Rasulnya! Jadi kenapa kaum khawarij itu dilaknati, yah karena pemahamannya seperti itu, istilah kasarnya “mengklaim paling benar dari kebenaran yang lainnya!”
        Bedakan konteksnya masalah ini antara Amerika dan Zionis Israel! Kalau konteks yang dimaksud mereka (Amerika dan Zionis Israe) yah tentu tidak perlu dipertanyakan lagi siapa yang dilaknati oleh Allah!

  6. ana minta yang ana postkan jangan atum cut karena ini akan menjadi hujjah bagi ikhwanifillah yang lain yang mambaca situs blog antum..jzklh khair..

    Jawab Abu Jaisy:
    Segala apa yang ana putuskan itu sesuai dengan aturan yang ana buat sendiri. Jika komentar antum tidak ada hubungannya dengan postingan yang saya buat. Maka demi fokusnya diskusi harus dan wajib di cut, karena hujjah yang tidak berada ditempatnya itu juga dibenci oleh Rasulullah.

    • afwan akhi ana faham ini situs antum, dan situs ini atas dasar antum semua tetapi yang ana khawatirkan adalah antum menutupi sebuah kebenaran yang telah nyata dan ana takut antum terkena fitnah dari menyembunyikan sebuah kebenaran hanya untuk hawa nafsu belaka..bukan ana merasa paling benar tetapi sebuah kalimat haq itu jelas dan kalimat bathil pun jelas..tetapi jika dalam hujjah ana ada yang antum bisa bantah dan itu lebih benar maka ana siap rujuk ke hujjah antum selama hujjah antum itu adalah sebuah kebenaran..
      dan jika ternyata sebuah hujjah yang benar lalu antum sembunyikan lalu bagaimana para ikhwah bisa membandingkan sebuah hujjah secara adil..wallahu a’lam mustaan..
      buat apa antum harus mengenal ana terlebih dahulu dan jika sudah kenal baru antum bantah..bukankan sebuah kebenaran itu harus di terima walaupun dari mana datangnya???? walaupun dari SETAN pun jika itu sebuah kebenaran maka ambilah kebenaran tersebut (riwayat abu hurairoh ketika mengetahui bahwa setan itu paling takut kepada ayat kursi)
      jadi jika antum punya dasar yang haq untuk menyatakan sebuah kebenaran ini maka lakukanlah walaupun antum tidak kenal ana..
      tapi klo antum ingin mengenal ana maka datang saja ke kajian rutin ana di di cileungsiKomplek Limus Blog G antum bilang saja rumah bapak Roni kajian ustd aman. setiap sabtu pagi jam 9-zuhur (antum bisa ketemu ana disitu)

      Jawab Abu Jaisy: :) syukron atas kekhawatiran antum. Namun perlu di ingat bahwa banyak sekali blog-blog yang bertebaran memuat hujjah yang seperti antum tuliskan di komentar. Jadi antum tidak perlu khawatir tentang tutup menutupi, bahkan tidak jarang jawaban ana tentang hujjah bolehnya mengikuti demokrasi di banned tidak ditampilkan, walaupun dengan dalil dan hujjah yang akhsan. Namun ana tidak pernah berpikiran seperti antum!
      Dan perlu di ketahui juga, bahwa ana setiap tahun atau setiap bulan selalu menjawab pertanyaan dan jawaban yang sama tentang masalah demokrasi. Sudah seharusnya antum jika ingin berkomentar seperti ini, melihat semua postingan dan jawaban komentar ana satu persatu, sehingga antum tahu jawaban ana seluruhnya, tidak hanya berprasangka seperti diatas, karena jelas prasangka (buruk) itu diharamkan dalam Islam.

      Bukankah Islam itu mengharuskan saudaranya untuk satu sama lainnya saling berta’aruf? Bagaimana mungkin kita bicara tentang seluk-beluk Islam tetapi kita tidak pernah mengenal lawan bicara kita? Islam itu penuh dengan adab, bagaimana adab berbicara juga diatur dalam Islam. :)
      Syukron atas pemberitahuan lokasi tempat tinggal antum, karena itu juga merupakan jawaban ana nantinya.
      Ok langsung ana jawab pertanyaan antum. Tafadhol dilihat!

      • Ana sepakat, jangan cari pembenaran tapi cari kebenaran… Dan ana liat di antara antum sekalian masih menutup pintu hati untuk menerima kelemahan masing-masing sehingga mengedepankan egoisme masing-masing…

        Jawab Abu Jaisy:
        Tapi antum belum-belum sudah memberikan pembenaran dari kebenaran yang lainnya! :)

        Yang pasti demokrasi BUKAN BERASAL dari ISLAM, dan TIDAK SEJALAN dengan ISLAM…

        Jawab Abu Jaisy:
        Nahkan, belum-belum ups sudah beberapa kali antum mencari-cari pembenaran. Padahalkan sudah jelas, hal ini masih debatable! Masih berbeda prinsip ijtihad masing-masing ulama saja sudah langsung klaim seperti itu! Kalau asal kata Demokrasi yah memang bukan dari Islam. Tetapi kalau ada beberapa prinsip dari demokrasi itu sendiri, bisa jadi demokrasi itu adalah barang curian milik Islam!

        Namun yang pasti adalah TIDAK ADA DALIL QOTH’I TENTANG HARAMNYA DEMOKRASI

        Adapun Asatidz yang saat ini ada di Parlemen tidak pernah memperjuangkan demokrasi (ini yang ana dapat dari taujih salah seorang masyaikh dakwah Tarbiyah di hadapan anggota Parlemen tahun 2004), kecuali jika visinya telah berubah…

        Jawab Abu Jaisy:
        Loh, kalau niatnya memperjuangkan demokrasi itu jelas haram! Kalau niatnya memperjuangkan wanita itu juga jelas haram! “Sahabat Umar bin Khathab ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sahnya semua amal hams disertai niat Dan suatu perbuatan yang dilakukan seorang sangat tergantung pada niatnya. Barangsiapa berhijrah karena hendak mencari keridhaan Allah dan rasul-Nya, tnaka keridhaan Allah dan rasul-Nya pulalah yang akan dijumpai. Dan barang-siapa berhijrah karena hendak mencari kekayaan dunia atau karena wanita yang hendak dinikahi, maka apa yang diUiju itulah yang ditemuinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
        Bukankah hal itu yang selalu ditekankan oleh Syaikhul Dakwah Tarbiyah di Indonesia! Ini sama saja dengan yang lainnya, tidak hanya di parlemen. Buruh, Karyawan, PNS, Dan entah apa namanya. Intinya harus menjaga niatnya dalam berbuat. Orang islam kalau niatnya hanya untuk dunia dan isinya, tentu saja dia hanya mendapatkan hal tersebut. Maka dari itu “JAGALAH NIAT JANGAN ENGKAU SIMPANGKAN, JAGALAH NIAT LENTERA HIDUP ISLAM” :D

        Cuma memang dalam perkembangannya menjadi: para penganut demokrasi itu sendiri, karena demokrasi itu menghendaki suara terbanyak, maka logika demokrasi harus dipakai oleh aktivis Tarbiyah, contohnya yang sederhana adalah mendukung Gus Dur menjadi Pahlawan… Ini jelas bathil… Ini adalah mudhahanah yang diharamkan… Seorang al Akh di facebooknya Ustadz Mahfudz Sidiq bilang klo Partai’nya Ikhwah Tarbiyah itu nggak mendukung Gus Dur, maka akan kehilangan suara Nahdhiyyin… Ada yang bisa menjelaskan ini..???

        Jawab Abu Jaisy:
        Tabiat seorang muslim itu memberikan penghargaan kepada orang atas jasanya adalah hal yang biasa. Kenapa sih ribut dengan gelar pahlawan! Kalau PKS dicaci-maki, dihujat, difitnah nggak ribut-ribut amat. Hanya gelar “Simbol” pahlawan saja dibesar-besarkan! Aneh kita ini.
        Saya dulu diwilayah Sidoarjo, sekarang pindah diwilayah Mojokerto (dekat dengan Jombang), walaupun saya hidup dan dibesarkan dari luang lingkup Muhammadiyah. Tetapi saya hidup dan berorganisasi dengan orang-orang NU. Tercatat saya 2003 sebagai Sekjen PMII Cabang Surabaya. Walaupun saya saudah tertarbiyah mulai 1998. Tetapi ada skala prioritas bagi saya untuk memahami konsep perjuangan masing-masing umat Islam! Terlepas kontroversi Gus Dur. Saya lebih memilihnya menjadi sebuah ibrah, bukan justifikasi!
        Oh iya, boleh tahu antum tinggal didaerah mana? Kalau antum mau merasakan tinggal di Daerah NU, atau dekat dengan Tebu Ireng, Jombang. Tafadhal hubungi saya! Seperti yang saya bilang, setiap orang berbeda tingkat pola pemikirannya karena dipengaruhi daerah sekitarnya. Kalau antum jumud hanya berada pada wilayah kajian yang Bid’ah, Jihad, Haram dan halal, dsb. Antum harus refres dengan berkunjung di kajian yang berbeda, tidak perlu merasa lebih pintar hanya duduk, diam, mendengarkan, telaah sendiri, ambil yang baik, dan buang yang buruk!

        Oh iya, perlu diketahui. Bahwa salah satu ustad di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Ada yang menjadi Sekretatris DPD PKS Jombang! Insya Allah beliau yang lebih memahami apa yang terbaik untuk PKS di Jombang, bukan saya ataupun antum! Dan di Tebu Ireng sendiri, banyak juga Kyai yang tidak “sreg” dengan Gus Dur. Tetapi walaupun begitu mereka-mereka masih memberikan hormat atas tsaqafah yang dimiliki Gus Dur. Inilah akhlaq yang harus ditiru, bukan justifikasi semata tanpa menghargai manfaat yang lainnya. Anak dari Gus Sholah (adik Gus Dur), juga merupakan kader PKS yang “tersembunyi”. Ada satu Kyai dari Tebu Ireng (saya lupa nama beliau), juga sangat bangga jika dirinya disebut PKS atas kesamaan Sunnah yang dilakukan beliau.

        Dan dari semua ini, saya ingin bilang “Bahwa masyarakat NU itu unik, yang mampu menembus mereka adalah dari mereka sendiri”. Ciri karakteristik masyarakat NU itu sangat menghormati Kyai, hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu menghormati para ulama, walaupun berbeda ijtihad dengan yang kita yakini!

        Ana sudah kirim email ke DSP Partai tersebut, tapi belum ada jawaban, bahkan ana kirim ulang, tapi juga belum dijawab terkait dengan syubhat Gus Dur…

        Jawab Abu Jaisy:
        Yah jangan berprasangka buruk jika sampai sekarang syubhat antum tidak dijawab oleh DSP! Kerja dewan Syari’ah Daerah saja sangat sibuk apalagi Dewan Syari’ah Pusat! Sudah seharusnya antum bertanya hal itu kepada DSD, atau DSW. Bukan ujug2 langsung tanya ke DSP, bahasa kasarnya “Emang siapa loe!” :D
        Saya pernah bertanya kepada salah satu ustad di DSW, kenapa ada beberapa pertanyaan yang dijawab dan ada yang tidak. Ustad DSW tersebut mengatakan “Kita harus memilih dan memilah, mana yang benar-benar bertanya dan mana yang bertanya namun sifatnya diskusi/debat. Kalau sifatnya memang benar-benar bertanya, maka itu wajib kita jawab. Tetapi kalau hanya sebatas diskusi/debat, kita boleh tidak meladeninya! Hal ini pernah dicontohkan beberapa ulama salaf yang tidak meladeni orang-orang yang bertanya tetapi dengan tujuan mendebatkannya. Apalagi, masih banyak pekerjaan yang harus kita tunaikan daripada menjawab pertanyaan satu yang tidak ada ujung pangkalnya!”

        Sekarang koreksilah diri antum, apakah antum tulus dan ikhlas menanyakan sesuatu hal tersebut. Atau ingin mendebatkannya? Wallahu’alam. Antum sendiri yang tahu!

        Dalam titik ini, berarti para aktivis dakwah yang pro demokrasi telah terbawa arus untuk mengorbankan akhirat (berwala terhadap Gus Dur) untuk dunia (meraih suara)… Na ‘udzu billah…

        Jawab Abu Jaisy:
        Naudzubillah. Antum telah berprasangka! Bukankah termasuk niat, dan niat itu urusan Allah! Kenapa antum harus menghakimi sesuatu yang seharusnya itu adalah hak Allah! Apakah antum sudah mampu menyaingi Allah sehingga berkata seperti itu? Astagfirllah. Bertobatlah atas pernyataan tersebut!

        Ana juga masih tercatat sebagai kader Partai ini… tapi, ana seringkali menemukan beberapa Ikhwan yang bilang klo fikrah ana sudah rusak, tidak tajarrud, insilakh dan lain sebagainya…

        Jawab Abu Jaisy: :D Saya juga dulu mendapatkan hal seperti itu, ikhwah yang lain juga pernah curhat kepada saya tentang hal itu. Tetapi saya lebih memilih untuk diam, daripada terus sesumbar! Diam itu lebih baik daripada sesumbar yang akan membuat kerusakan. Diam dan koreksi diri, kenapa jiwa kita membuat firqoh sendiri dari yang lain. Setelah banyak membaca, akhirnya yang harus dipahamkan bahwa Jamaah Tarbiyah ini syumul. Kita boleh berbeda masalah ijtihad ulama, tetapi masalah tandzhim harus satu. Sebagaimanapun kita tidak setuju dengan keputusan tandzhim kita tetap harus melakukan hal tersebut. Karena sebuah keputusan tandzhim itu tidak diputuskan oleh satu dua orang, tetapi oleh 99 DSP. Lalu apakah kita sudah merasa sombong bahwa pemikiran kita lebih hebat daripada pemikiran para pakar Syari’ah diamanahkan untuk berfikir syar’i? “Hakekat Nasehat” Dan kenapa saya menuliskan hal ini —:> Improvisasi Kader Karbitan Yang Selalu Menyesakkan Dada karena tidak sedikitnya orang-orang seperti saya (Abu Jaisy) yang ketika itu baru seumur jagung belajar syari’at lalu mengklaim diri yang paling benar sendiri. Beruntung saya dibimbing oleh ustad yang hanif, sehingga tahu bagaimana hal yang seharusnya dilakukan oleh orang yang seperti saya! Dan sekarang inilah bentuknya. Saya bukan berarti menjadi ashabiyah, tetapi saya lebih enjoy saja berada pada jamaah yang mampu bergerak bebas atas dalil yang mampu dibuktikannya, bukan asumsi semata. Yah seperti Umar bin Khattab yang mengurungkan memotong tangan seorang pencuri!

        Namun ana fikir kita harus mengakui kelemahan diri… Jika memang ada yang bertentangan dengan al Quran dan as Sunnah yaa wajib kita tentang…

        Jawab Abu Jaisy:
        Menentang itu dilarang dalam kaidah Islam. Tetapi memberikan nasehat, jika mudah menentang itu namanya cara para khawarij! Tetapi mukmin itu memberikan nasehatnya kepada mu’min yang lainnya, juga kepada para penguasa! Dan belum tentu nasehat kita lebih benar dari orang yang kita nasehati, itu prinsipnya. Memberikan nasehat dengan ikhlas, jika tidak diterima yah harus ikhlas, bukan menggerutu, membuat makar, mempengaruhi yang lain, dsb!

        Satu lagi: ana mau tanya kepada Ikhwah Fillah sekalian –> APA TUJUAN AKHIR DA’WAH..???

        Jawab Abu Jaisy:
        Tergantung niatnya masing-masing. Jadi tidak perlu di ekspos, Allah yang tahu apa tujuan dakwah saya, antum dan ikhwah yang lainnya!

      • Afwan jadinya menjurus ke salah satu partai tertentu, tapi, ini hanya contoh kasus bagaimana da’wah di Parlemen dengan menggunakan logika demokrasi… Afwan jiddan buat antum Ikhwah2 Tarbiyyah,,, Mungkin juga di partai2 yang lain lebih banyak lagi kemadharatannya (ini hanya prakiraan), wallahu a’lam…

        Semoga menjadi otokritik bagi para aktivis da’wah yang Pro Demokrasi (termasuk ana)…

        Jawab Abu Jaisy:
        Setiap Harakah punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Yang memilih jalur Demokrasi dan yang tidak, yang terpenting tidak perlu mengklaim paling benar dari ijtihad ulamanya sendiri!

  7. Afwan ustad (Abu Jaisy). Sebaiknya memang sudah seharusnya antum tidak perlu menyetujui komentar yang sekedar hanya kopas (kopi paste). Karena sama halnya komentar yang kopas hanyalah sebatas komentar hasil dari doktrinan, bukan hasil asli dari pemikiran.

    Sudah seharusnya komentar yang hanya sebatas kopas juga bukan di kopas seluruhnya, tetapi sebagian saja dan menunjukkan link blog/situs yang dimaksud. Hal ini lebih baik daripada kopas dengan tulisan yang panjang sekali tetapi bukan hasil dari pemikiran si empunya komentar.

    Saya tidak bisa membayangkan kalau blog ini penuh dengan komentar kopas. Dan kasihan adminnya, beliau harus menjawab berulang-ulang kopas, dengan mengetik sendiri. Bukankah hal itu juga tidak adil. Karena sudah sangat jelas itu bukan hujjah si empunya komentar.

    Jawab Abu Jaisy:
    Syukron atas ide antum.

    • Maaf, komentar anda kami Delete

      Jawab Abu Jaisy:
      Anda sebaiknya lihat peraturan blog ini. “sebelah kiri atas” WARNING: KAMI AKAN MENGHAPUS KOMENTAR YANG BERISIKAN HUJATAN, CELAAN, MENGECAP KAFIR TANPA DASAR. DAN HAL-HAL YANG DILARANG DALAM ISLAM. JADI KAUM KHAWARIJ (YANG MENGECAP KAFIR SEMBARANGAN) MINGGIR…. (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR)

      KATANYA ISLAM, KATANYA INGIN BERJUANG MENEGAKKAN SYARI”AT ISLAM. LAH KOK TUKANG TIPU!!!! Syari’at Islam itu tidak diperjuangkan dengan cara menipu.
      gogo
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

      abu hijaz
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

      ehm
      gmail.com
      bbghariyanto@gmail.com
      124.81.85.222

    • @abu khalid = lahhhh ana kan juga copy pastenya dari alquran dan hadits lah nte dari mana hujjahnya dari DARMO GUNDHUL….
      berarti pemikiran antum selama ini dari pemikiran antum sendiri yaa rusaklah..memangya antum dengan para sahabat lebih alim SIAPA???? dari situlah makanya kita disuruh untuk meniti sunnah dan para sahabatnya..

      Jawab Abu Jaisy:
      Masya Allah. Keji Sekali watak orang ini!
      Naudzubillah jika Islam diperjuangkan dengan orang-orang seperti ini! Demi Allah, apa yang engkau ucapkan saat ini akan dituntut oleh Abu Khalid kelak di akhirat.
      Bicara tentang Islam tetapi tidak beradab, katanya orang Islam tetapi tidak berakhlaq, layaknya para kafir yang mudah berkata-kata kotor

      • Astaghfirllah.

        Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Jauhilah berprasangka. Sebab prasangka itu sejelek-jelek perkataan. Dan janganlah kamu saling mencari-cari kekurangan dan kejelekan orang lain janganlah bermegah-megahan, janganlah saling dengki mendengki, janganlah saling mengumbar emosi, dan janganlah saling menjauhi satu sama lain. Jadilah hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Orang muslim adalah saudara sesama muslim, yang di antara mereka dilarang saling menyakiti dan saling menghina. Taqwa itu berada di sini (sambil Rasulullah menunjuk ke arah dada). Cukuplah seseorang dikatakan melakukan kejelekan bila dia menghina sesama muslim. Orang muslim dengan muslim lainnya harus saling menjaga kehormatan, rahasia, dan harta kekayaannya.” (HR. Bukhari dan Mus­lim).

        Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: “Barangsiapa menutur kejelekan seseorang dengan mengada-ada dalam rangka menghina dan meremehkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam siksa neraka sehingga dia bisa membuktikan apa yang dikatakannya itu.” (HR. Thabrani).

        Mungkin belum pernah melihat yang seperti ini yah kamu (abuusamahalfatih).

        Pantas saja ilmunya sepotong-sepotong, Kamu mengambil hujjah dengan dalil Al Quran yang tidak ada hubungannya dengan tema. Itu namanya kebodohan yang nyata.

        Dengan hanya mencopy pastekan ayat Al Quran, kamu sudah begitu bangga. Padahal ayat-ayatnya hanya sepotong-sepotong saja. Naif sekali kamu ini.
        “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS Al Qashash 76)

        ” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman 18)

        NAJIS SEKALI JIKA KAMU BERBICARA ATAS NAMA ISLAM!

        Abu Jaisy, sudah kebiasaan orang-orang seperti abuusamahalfatih itu hatinya tidak tenang. Sehingga gampang menuduh siapapun. Dan hujjahnya tak ubahnya hanya kertas kosong yang dicorat-coret dengan kalimat2 Al Quran. Ini tak ubahnya kalimat Al Quran itu dijadikan “jimat” pembenar dari hujjahnya.

        Tetap istiqomah akhi Abu Jaisy.

        Jawab Abu Jaisy:
        Sabar yaa Akhi. Ini hanya sebatas fitnah dunia. Semoga kita semua istiqomah dalam dakwah ini. Amien.

      • abuusamahalfatih, antum sudah mulai panas yah? Dalam ilmu psikologi telah diajarkan, bahwa orang seperti antum ini kepribadiannya tidak menarik. Gampang ikut-ikutan atau suka jadi ekornya orang yang anda jadikan figur. Ini tidak ada bedanya dengan orang-orang yang suka membanggakan kyai.

        Ketika diajak diskusi, isinya hanya sebatas kopas dari kyai antum. Sehingga ketika ada pertanyaan yang sifatnya mengkritisi argumen tersebut, antum kelabakan tidak bisa menjawab, kecuali menjawabnya seenaknya sendiri, istilah bahasa jawanya”ilmu gato” (ilmu menggabungkan). Antum menggabung-gabungkan ayat Al Quran atau hadits, padahal ayat-ayat tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan perbincangan tersebut.

        Intinya, antum menggabung-gabungkan ayat Al Qur’an dengan hadits sifatnya hanya ingin terlihat memakai hujjah. Padahal sebenarnya malah memperlihatkan ketidaktahuan atau ketidakpahaman antum terhadap materi yang ingin disampaikan.

        Hal ini jelas yang dinamakan doktrinan. Orang-orang hasil dari doktrinan itu memang susah sekali diajak berdialog, karena mainstrem atau pehamannya disetting untuk kontra dengan yang lain. Dan orang-orang hasil doktrinan ini mudah sekali tersulut emosinya. Yah seperti antum ini.

        Orang yang paham pada sebuah masalah itu tidak akan mudah tersulut emosinya. Karena mereka mempunyai hujjah sendiri, bukan taklid buta kepada seorang ulama. Kalau ingin menjawab hujjah dari orang lain, sebaiknya pahamkan dulu diri antum sebelum menjawab. Daripada menjawab pertanyaan yang malah memalukan diri antum. sendiri.

        Referensi itu sih boleh saja, asal jangan referensi itu dijadikan hujjah. Karena hujjah itu bersumber pada pemikiran kita sendiri dalam berdialog, bukan asal kata seseorang yang jika dikritisi referensi itu tidak bisa menjawab sendiri.

        Ana hanya mengkritisi diri antum akhi. Tidak ada maksud lain. Semoga kedepan antum bisa lebih baik lagi.
        Barakallahu.

  8. Kalau yang dimaksud demokrasi itu demos + kratos [pemerintahan rakyat], suara rakyat adalah suara Tuhan, maka hal itu adalah Haram. namun jika yang dimaksud demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat, maka hal iru tidak haram. Dalam islam kan menghargai majlis syuro? ketika perang khondaq, dimana pembuatan parid adalah atas ide dari shahabat.

    mas tonton |
    mas tonton |

    • Sepertinya demokrasi sampai kapanpun tidak akan menjadi Syuura… Karena:
      1. Hukum ada tangan manusia, bukan Tuhan…
      2. Hukum berdasarkan suara terbanyak dan kesepakatan rakyat, bukan al Quran dan As Sunnah…
      3. Syuura memperhatikan kemashlahatan yang diukur dengan nash syar’i dan qath’i, sedangkan demokrasi diukur oleh logika dan (bisa jadi) hawa nafsu manusia….
      4. Syuura adalah mencari putusan dari orang-orang terbaik, orang-orang yang faqih terhadap agama, sedangkan demokrasi, siapapun bisa asal banyak didukung suara… Sehingga suara seorang Kiyai akan sama dengan suara seorang pezina… dinilai 1… Suara para da’i dan mujahid akan sama dengan suara kaum kuffar… Demi Allah ini bukan sesuatu yang dibenarkan… Hukum Allah itu harus ditegakkan bukan untuk disodorkan di hadapan parlemen, lalu kita bilang: “Hayu, siapa yang setuju sama hukum Allah angkat tangan….” Ini menurut saya (pandangan pribadi) adalah penghinaan terhadap hukum Allah, karena menjadikan manusia sebagai Hakim (pemutus perkara) dalam menentukan langkah manusia…

      Jawab Abu Jaisy:
      Afwan bukannya saya malas menjawab, jikalau antum memang berniat mempelajari kebenaran. Pasti akan melihat seluruh postingan dan jawaban saya. Dan pertanyaan seperti ini sudah berulang-ulang kali ditanyakan disini. Tafadhal dibaca seluruh postingan dan jawaban komentar saya dengan kerendahan hati, dan bukan dengan jiwa yang tidak tenang. Atau bisa juga langsung di kunjungi —:> Mengatasi Masalah dengan Masalah (Mengharamkan Demokrasi Demi Madharat yang Lebih Besar)
      Mossad: Jangan Sampai Arab Mengikuti Demokrasi, Biarkan Mereka Menjadi Negara Monarki Absolut
      Umat Islam Harus Memenuhi Tantangan Demokrasi
      Demokrasi, Barang Curian Milik Islam?
      Sistem Demokrasi: Apakah Sesuai Syariah?
      SATU ORANG SATU SUARA (Ulama & Non-Ulama Sama Saja)

      • Tafadhal, akhi… Ternyata jalan kita memang berbeda…
        Namun, ana teringat seorang Ustadz yang pernah berkata kepada ana. Waktu itu ana bersama beliau sedang berada di Pangalengan, Bandung dalam rangka membantu korban gempa Jawa Barat.

        Ana sebagai utusan KAMMI dan FSLDK sempat berincang dengan ustadz tersebut, beliau hanya mengatakan: walaupun kita saat ini berada dalam manhaj dan fikrah yang berbeda, ana hanya berharap ketika tiba saatnya nanti, perang kubra itu terjadi, kita berada dalam satu barisan melawan kaum kuffar…

        Dan itu pun yang ingin ana katakan kepada antum dan orang-orang yang bersama antum…

        Tersebarnya buku Ma’alim fii Ath Thariq Asy Syahid (insya Allah) Sayyid Quthb di kalangan aktivis yang semangat dan tanpa ilmu, banyak terjadi penyimpangan dari kalangan Ikhwan di Mesir, untuk meredam sekte sesat a la Khawarij, Hasan Al Hudhaybi menulis kitab Du’at Laa Qudhat.

        Namun di satu sisi, dua buku tersebut merupakan awal munculnya dua madrasah di kalangan Ikhwan, yakni madrasah Jihad dan madrasah Parlementaria.

        Ikhwan pada awalnya harus berfikir apakah akan mengikuti aliran Sayyid Quthb untuk terus mengangkat senjata, atau masuk ke dalam sistem dan berperang di parlemen, akhirnya Hasan Al Hudhaybi menetapkan secara resmi bahwa Ikhwan yang dipimpinnya masuk Parlemen, sedangkan madrasah Sayyid Quthb kemudian mendirikan Tandzhim al Jihad untuk merealisasikan pemikiran Sayyid Quthb, sebagai penerus pemikiran Hasan Al Banna…

        Jikalau antum lebih memilih mengikuti madrasah Hudhaybi, maka ana lebih memilih mengikuti madrasah Sayyid Quthb… Hanya saja, ana berharap bahwa keberadaan Ikhwan sekalian di Parlemen bukan dalam rangka mengembosi Jihad dan malah membantu kaum kuffar untuk memerangi mujahidin dengan seruan memerangi terorisme…

        Ana berharap Ikhwan dan astidz sekalian justru memberikan peluang bagi gerakan jihad agar bisa berkembang, karena gerakan jihad tidak menempatkan ash Shahwah al ISlamiyyah sebagai musuh… Target operasi kami yang paling utama adalah menghancurkan kepala ular: AMERIKA yang ditukangi ZIONIST la’natullah ‘alaiyhim…

        Tafadhal antum menyebut apa atas segala aktivitas i’dad dan jihad yang kami lakukan….

        Jawab Abu Jaisy:
        Yups.
        Terlepas dari pemahaman 2 kutub ini, kita berlepas diri. “Al khaqqu mirrabbika falaa takuunanna minalmumtariin” (Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu).
        seperti sabda Rasulullah yang pada intinya “Kebenaran itu tidak membuat hati kita ragu” insya Allah seperti itu.
        Ketika saya mahasiswa alhamdulillah pernah mengikuti banyak Ormek, mulai dari PMII, KAMMI, menghadiri FSLDK di Samarinda (dulu), BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus-Ikhwah HTI) dan sampai sekarang mengikuti berbagai kajian dari manapun (Hizby Salafy, MMI, NII (saat mahasiswa), Tarbiyah, NU, Muhammadiyah, HTI). Dari berbagai kajian itulah alhamdulillah saya bisa memilah dan memilih ilmu yang menurut saya baik untuk diambil.

        Maka dari itu, kenapa salah satu ustad (Ustad. Musbichin, Lc) dari Sidoarjo, pernah berpesan “Masih banyak sekali ikhwah (Tarbiyah) yang tidak tahu jati dirinya. Mereka mengingkari salaf, padahal kita (Tarbiyah) bermanhaj Salaf. Banyak ikhwah (Tarbiyah) bertaklid pada satu ulama sedangkan kita (Tarbiyah/IM) mempunyai banyak sekali ulama. Memberikan penyadaran kepada mereka adalah hal yang paling baik” Insya Allah seperti.
        Maksud beliau (Ustad Musbichin) bahwa banyak sekali dari kita yang menganggap satu pendapat satu ulama dan menafikkan ulama yang lainnya. Padahal dalam perjalan Tarbiyah atau Ikhwanul Muslimin, banyak sekali ulama-ulama yang satu sama lainnya kadang berbeda ijtihad. Hal yang membuat miris adalah ketika Syaikh Yusuf Qaradhawi berpendapat tentang Sayyid Quthb harus bertanggung-jawab atas ekstrimis yang berkembang melalui pemikirannya. Dan langsung kecaman diarahkan kepada Syaikh Yusuf Qaradhawi, hujatan, celaan, dsb.

        Padahal hal-hal seperti itu (saling berbeda pendapat) adalah hal yang wajar di Ikhwanul Muslimin. Lalu kenapa orang diluar IM yang merasa berhak menghakimi kebenaran salah satunya? Inilah indahnya IM. Walaupun saling berbeda, mereka tidak saling lantas membenarkan pendapatnya sendiri. Namun orang-orang diluar IM-lah yang sering melakukan itu (memilih-milih dan saling mempersengketakan).

        Masalah IM di Mesir sekarang yang katanya di berita terjadi “gonjang-ganjing” kepemimpinan dan pergerakan, yang katanya juga antara kaum muda dan kaum tua. Menurut saya adalah hanya sebatas kontra pemikiran. Hal itu biasa didalam suatu gerakan. Hal ini juga terjadi dimana-mana tidak hanya di IM. Namun sampai detik ini, tidak ada gerakan yang mengakui bahwa mereka sempalan dari Ikhwanul Muslimin. Tetapi gerakan yang mengklaim mengambil pendapat/ijtihad/gagasan serta semangat Ikhwanul Muslimin sangat banyak sekali. Gerakan-gerakan inilah yang sering kali mengambil satu ulama IM dan menafikkan ulama yang lain (saya tidak mengatakan harakahnya loh!).

        Seringkali fatwa Sayyid Quthb berbeda dengan Syaikh Yusuf Qaradhawi saat ini, atau fatwa Syaikh Yusuf Qaradhawi kadang juga ada yang kontra dengan fatwa Sayyid Sabiq. Atau dengan ulama IM yang lain, hal ini adalah sebuah hal yang biasa dan tidak pernah dibesar-besarkan oleh kader Ikhwanul Muslimin, kecuali bagi mereka yang tidak tahu!

        Indah manakalah kita mampu untuk mengetahui berbagai idiom dari berbagai harakah Islam. Hal yang terpenting tidak mengklaim diri paling benar sendiri! Karena perjuangan Islam itu bisa diambil dari jalan manapun, kecuali yang melanggar nash qath’i!

        Saya sendiri kadang sepakat dengan pemikiran Sayyid Quthb, atau bahkan kadang tidak sepakat dengan Yusuf Qaradhawi, walaupun sebagian besar saya sepakat dengan Imam Hasan Al banna, tetapi kadang saya juga tidak sepakat dengan pemikiran beliau! Selama ada lebih bagus dan rajih untuk dijadikan dalil, maka itulah yang saya gunakan. Dan itulah hakekat Ikhwanul Muslimin, tidak menjadi taklid buta terhadap ulamanya sendiri! Dan hal inilah yang sering-kali kader Tarbiyah tidak mengetahuinya!

        Sesungguhnya kami tidak pernah mengusik gerakan/harakah dakwah yang lain. Dan kami selalu berkhusnudzhan kepada harakah dakwah yang lain, kecuali mereka selalu mencari gara-gara untuk mengusik kami dalam berjuang.

        Alangkah lebih baik manakalah kita saling bekerja sama dari hal-hal yang kita sepakati, dan toleran dari apa yang kita perbedakan. Dan bekerja serta berjuang bersama-sama dari lini manapun tanpa harus merasa paling merasa berjasa dan paling merasa yang paling berjuang. Semoga hal ini bisa terwujud!

      • Berarti pertanyaan tentang dalil haramkah demokrasi mirif dengan pertanyaan
        ” Haramkah Rokok?”

        apa dalilnya rokok haram?…

        Jawab Jaisy01:
        Yah, intinya sesuatu bisa diharamkan secara pribadi, namun jika menjadi ijma seluruh ulama umat Islam maka hal itu adalah haram. Tetapi jika masih dalam perdebatan, haramkan saja atas pribadi bukan atas nama Islam. Sesuatu yang masih dalam polemik tidaklah layak kita membenarkan pendapat kita sendiri.

  9. Ah, bosen gua. Paling nanti kayak yang sudah-sudah. Ngacir semuanya. kalau nanya paling getol, giliran ditanya pada ngacir.

    Atau seperti saudara gogo, yang suka berjenis “kelamin” ganda. Lalu hujat sana-sini kalau kalah diskusi.

    Mas abu jaisy tetap sabar yah.

    Jawab Abu Jaisy: :)

    • Terakhir ingin ana sampaikan, menurut antum semua, dakwah itu bagian dari muraqbatullah atau bukan… Jika memang bagian dari muraqbatullah atau ibadah, maka kaidah ushul fiqihnya jelas:

      “Seluruh ibadah diharamkan kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

      Perintah dakwah jelas dalam al Quran, lalu berkaitan dengan sarana, kaidah ushul fiqh’nya juga jelas:

      “Tujuan tidak menghalalkan segala cara.”

      Jawab Abu Jaisy:
      Jadi sudah jelas bahwa (copy paste jawaban saya lagi) ada dua bentuk ibadah, yaitu ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah ‘ammah (sosial). Kaidah ushul fiqh menyatakan, bahwa asal hukum dari ibadah mahdhah adalah haram, kecuali jika ada dalil yang membolehkannya. Sedangkan asal hukum ibadah ammah adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sedangkan sudah sangat jelas sekali, definisi Demokrasi itu sendiri berbeda-beda maknanya. Demokrasi ala Amerika, berbeda dengan Demokrasi ala Indonesia, Demokrasi ala Filiphina juga berbeda ala Indonesia dan Amerika, begitu juga seterusnya. Pada hakekatnya demokrasi tidaklah sesuai dengan yang seharusnya. Jadi kenapa pusing memikirkan kata “demokrasi”. Apalagi diharamkan mutlak terhadap Islam, padahal sudah jelas-jelas pengharaman mutlak terhadap Islam selain ada dalil Qath’i-nya itu diharamkan oleh Allah! Jadi mengharamkan demokrasi itu adalah sebuah ijtihad, bukan berasal dari Islam!

      Jadi tolong belajar lagi yah akhi!

      Sekarang – karena dakwah (termasuk caranya) adalah bagian dari ibadah – dan bukan termasuk mu’amalah, maka ana yang sekarang minta dalil qath’i yang membolehkan sarana demokrasi (dengan segala sifat dan kelemahan, berkumpul dengan orang kafir dan sistem hukum yang ada di dalamnya) sebagai wasilah dakwah..??

      Jawab Abu Jaisy:
      Ditanya belum bisa jawab, kok nanya. Aneh antum ini! Kan sudah jelas di atas judulnya itu “TOLONG BUKTIKAN DALIL QATH’I TENTANG HARAMNYA DEMOKRASI” pertanyaan antum ini sudah saya jawab sebelumnya, lihat di artikel saya yang lain! Definisi ibadah saja belum genap kok sudah berani mendefinisikan sendiri! Masya Allah, Mu’amalah tidak dianggap termasuk sebagai dakwah dan ibadah! Bukankah Mu’amalah itu jelas adalah dakwah dalam ibadah yang termasuk dalam ibadah ‘ammah (sosial). Wah-wah, gawat sekali pehamanan yang seperti ini. Bisa jadi nanti kalau berlaku curang dalam mu’amalah adalah hal yang biasa, karena bukan termasuk dalam ibadah! Na’udzubillah.

      Ana mau beranalogi, jika antum tidak menemukan dalil qath’i-nya, maka lihat contoh kasus berikut:

      “Seorang Ikhwan bersemangat berdakwah dan ia berharap rekan2nya, para tetangga yang perempuan berjilbab semua (ini adalah tujuan yang mulia), lalu si Ikhwan ini mulai mendekati salah seorang perempuan dengan tujuan berdakwah, mereka lalu “berpacaran” dan ketika pacaran itu, si Ikhwan terus memberikan nasihat tentang pentingnya Jilbab…”
      Jawab Abu Jaisy:

      Pertanyaannya: Apakah dakwah Ikhwan ini haqq atau bathil..???

      Jawab Abu Jaisy:
      Lagi-lagi analoginya tidak berbeda, kayaknya memang di setting pertanyaan ini sama semua yah! Afwan akhi, ana males jawab. Sudah ana jawab di komentar sebelumnya, tafadhal lihat jawaban-jawaban komentar yang lainnya!

      • Ana mohon comment’ya di blog ana:

        http://alfadhli.wordpress.com/2010/01/11/mencari-akar-filosofis-dua-kutub/

        Ini adalah tentang dua pandangan dakwah parlemen…

        Jawab Abu Jaisy:
        Sudah saya komentari dialog propaganda tersebut akhi. Semoga dialog propaganda tersebut bisa dipahami semua orang :)

    • untuk saudara ringgo saya tidak berjenis kelamin ganda….kalau saya punya 3 nick name itu ketidak sengajaan saya…mana mungkin saya melakukan itu dengan sengaja jika hal tersebut dengan sangat pasti akan diketahui oleh orang lain dengan melihat kode yang ada dan waktu pengiriman tulisan….saya tidak mungkin melakukan kebodohan yang pasti sangat terlihat kebodohannya dan saya tidak pernah menghujat siapapun dan saya tidak pernah merasa bahwa abu jaisy diskusi dengan saya dengan niat ingin mengalahkan saya….

  10. Terima kasih saudaraku…..mudah-mudahan kita semua di jauhkan dari fitnah

  11. dari pertama perdebatan ini di buka dan sampai sekarang…saya sudah mengerti dan mungkin sama dengan alfadhl jlan dan pemikiran kita berbeda, dan jika diteruskan saya takut akan ada fitnah nantinya….walaupun bisa saja rujukan kita sama mulai dari quran, sunnah nabi dan buku-buku bacaan serta juga kegiatan-kegiatan organisasi…mungkin saja kita pernah ketemu, karena saya orang samarinda dan pernah ikut meramaikan FSLDK, walapun tidak jadi peserta…dan pernah juga di KAMMI dan PKS serta jamaah yang lain….seperti anda bilang bahwa masing-masing jamaah memiliki jalannya sendiri-sendiri…mari kita berjuang menurt apa yang kita anggap benar. dan moga suatu hari Alloh akan menyatukan kita dalam sebuah barisan untuk menegakkan syariah islam di bumi ini….

    Nb : mohon tulisan yang menyebutkan saya seorang pembohong, penipu dan penyebar fitnah kalau bisa dihapus….karena apa yang saya lakukan jauh dari kesengajaan dan saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu

    • Al Fadhl likes this..!

      Saatnya membangun, bukan saling menghancurkan…

      Saatnya berlapang dada, bukan saling menghina…

      Saatnya bekerja, bukan saling berjidal…

      Jadi inget kata2nya Syaikh Al Banna di ushul Isyrin poin 9: “Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya -sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu- adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. ”

      Makannyav (di poin 8): “Khilaf dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak men¬jadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.”

      Indahnya dakwah…

      Jawab Abu Jaisy:
      Yah inilah yang menjadi pegangan kader Tarbiyah / Ikhwanul Muslimin.
      Mereka sangat ingin menjauhi perdebatan, mengingat juga bai’at yang ditekankan oleh Imam Hasan Al banna point ke 4 “Jangan banyak berdebat dalam setiap hal, karena perdebatan tidak bisa mendatangkan kebaikan” Ataupun dari hadits

      Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).

      Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

      Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahma]
      Dsb.

      Namun “diamnya” kader Tarbiyah ini kadang sering dianggap sebagai ketidak-pahaman itu sendiri. Kader-kader Tarbiyah yang diam bukan berarti tidak memiliki tsaqafah untuk menjawab pendebat, tetapi lebih dipentingkan tentang kemaslahatan atas dirinya dan orang yang akan didebat. Karena sering-kali berdebat lebih banya mudharatnya. Dan inilah yang sering dimanfaatkan oleh Harakah lain, dengan menjustifikasi bahwa kader Tarbiyah lemah dari pemahaman syar’i-nya. Bahkan tak jarang ada yang membodoh-bodohkan, menghujat, dsb.

      Tidak terbantahkan, tudingan miring, fitnah, dll. Terus menyeruak dilancarkan pada jamaah Dakwah Tarbiyah ini. Namun satu hal yang patut digaris-bawahi, bahwa Ikhwanul Muslimin tidak mengharamkan perdebatan. Namun tetap berdebat harus sesuai dengan kaidah syar’i!

      Dan itulah yang saya lakukan saat ini. Namun seiring dengan hal tersebut, kadang (tetapi tidak selalu) saya terpancing juga menjawab pelecehan atas sesuatu yang melecehkan saya dan jamaah Tarbiyah ini atas komentar para komentator.
      “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dua orang yang saling memaki itu seperti apa yang mereka katakan, namun kesalahan ada pada orang yang memulai, selama orang yang mendapat makian tidak melewati batas (dalam membalas makiannya.” Riwayat Muslim.”

      Benar sekali, bahwa jangan sampai hal furu’, ijtihad, khilaf menjadi faktor pemecah persatuan Islam. Sampai detik ini, saya tidak pernah mempertentangkan hal semua itu, kecuali mereka yang ingin menetangnya. Seperti halnya masalah Demokrasi, hal ini jelas masalah ijtihad seorang ulama. Sehingga tidak diperbolehkan satu sama lainnya menghakimi atas kebenaran mereka masing-masing.

      Semoga bermanfaat. Barakallahu

  12. oh jadi fadli disini teh temen ane di KAMMI…..ane tau siapa ente…….

    gimana bos KAMMI jatinangor????hehehe

    bukannya ente ketuanya….

    buat apa nunjukin bahwa ente KAMMI…????

    Jawab Abu Jaisy:
    Wah, sudah kenal yah akh? :)
    Alhamdulillah kita ditemukan disini.

    • Bukan, Akh… Ana ketua KAMMI Daerah Sumedang… Jatinangor aman, tapi akan ada perubahan struktur kayaknya…
      ;)

      INdahnya uhkuwwah, cinta itu : Jauh di mata dekat di hati…

      Jawab Abu Jaisy:
      5 tahun lalu serasa masih baru kemaren. Indahnya ketika mahasiswa, saling beradu hujjah, saling berkumpul, dll. Namun realitas itu akan datang menakalah ketika lepas dari itu semua. Saya selalu teringat ketika mendapat amanah untuk menjadi pembicara di DM KAMMI ataupun MAPABA PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), saya selalu menekankan “Jangan memperjuangkan idealisme dengan arogansi egoisme pemikiran”. Apa bedanya kita dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) jika seperti itu? Dikasih hujjah dengan dalil yang lain tidak mengindahkan sama sekali, kecuali bertahan atas dalil satu yang menurutnya lebih benar dari yang lainnya.
      Wallahu’alam.

  13. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh
    Ramai juga ya?
    Semoga bisa dipertemukan di dunia nyata krn kalau di dunia digital ramai manipulasi dan kemajhulan.
    semoga tetap semangat membangun negeri dan mengarahkan Umat ISLAM agar bangun dan sadar kepada agamanya.

    Salam Ukhuwah
    0852 903 6775

    Jawab Abu Jaisy:
    Waalaikumsalam.
    Semoga Allah mempertemukan kita disini (dunia) dan di akhirat kelak. Dengan penuh senyum persaudaraan setiap muslim.
    Walaupun dunia maya ini penuh manipulasi, semoga kita tidak takut akan makar-makar yang dilakukan oleh para munafiq dan kafir dalam menghambat dakwah setiap mukmin.
    Semangat!!! :)
    031-60136768

  14. Kita manusia akhir zaman ini sudah sangat jauh dari sumber asli yang di bawa Rosulullah saw dan para shahabatnya. ulama akhir zaman tidak akan lebih baik kualitasnya dari ulama terdahulu. karena sebagaimana kita tahu, bahwa batas terjadinya fitnah adalah setelah umar bin khotob.
    para shahabat saja banyak berbeda pendapat, maka apalagi di zaman ini? yang tentu ilmunya jika dibandingkan para shahabat tidak ada seujung kukunya?
    Sudah seyogyanya kita berfikir “mana mungkin jutaan masalah umat islam ini dapat diselesaikan dengan segelintir orang?. Kita jangan terlalu berfikir bahwa masalah akan dapat selesai dengan cara ini, cara itu , dan sebagainya. karena itu semua adalah Allah yang akan mengatur. Tugas kita hanya mengikuti apa-apa yang sudah di gariskan oleh Al-Qur’an dan Assunnah.
    Tentu dengan car-cara yang tidak menyimpang pula.
    Kita juga jangan terlalu sok bisa menyelesaikan permasalahan umat islam ini dengan dalil-dalil yang dimiliki. karena puluhan tahun Nabi menyebarkan islam, dengan berbagai cara yang benar. Adakah jaminan bahwa seluruh kegiatan nabi yang puluhan tahun itu dapat tercatat dan sampai kepada kita?
    mungkin hanya sangat sedikit yang sampai kepada kita karena kebodohan kita sendiri.
    Wallahu a’lam

    dari orang awam…

  15. Asslmkm. Admin, ana mau tanya, sebenarnya pengertian arti demokrasi apa sih? Kok antum sgt membanggakan sistem ini? Padahal Amerika sendiri sdh tdk percaya dgn sistem ini? Di demokrasi keputusan berdasar suara terbanyak kan? Tapi di PBB ketika semua negara memvooting utk menghukum Israel, tapi dgn adanya veto, AS berhasil menggagalkannya, inilah bukti AS pun sdh tdk percaya dgn demokrasi! Sdh saatnya sistem ini diganti dgn sistem Islam, yakni khilafah…

    Jawab Abu Jaisy:
    Waalaikumsalam.
    Disitukan sudah dijelaskan, Hizbut Tahrir sendiri juga memperjuangkan demokrasi loh. Insya Allah jika memang berminat dan meminta bukti Hizbut Tahrir Indonesia memperjuangkan demokrasi, saya bisa buat artikel beserta bukti-buktinya. Tetapi itu atas permintaan antum, dan bukan atas inisiatif saya. Sebaiknya mari kita menghormati apapun ijtihad setiap ulama, tanpa harus merasa paling benar. Karena jika sudah merasa paling benar, maka itu adalah kesalahan.

  16. hmm….

  17. Tolong Buktikan Dalil Qath’i Tentang Halal dan Bolehnya Demokrasi!

    Jawab Abu Jaisy: :) kalau diatas dijadikan panduan pertanyaan bisa jadi begini:
    “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berkomputer”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya mengemudi mobil”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berinternet”, dll. Hehehe, pertanyaan yang konyol dan bahlul! :D
    Adanya pertanyaan diatas adalah karena ada harakah/organisasi yang mengharamkan demokrasi secara mutlak dan untuk seluruh umat Islam. Tetapi sayang harakah/organisasi ini juga tidak pernah lepas dari jeratan demokrasi.
    Dan sampai saat ini belum ada orang yang mampu membuktikan bahwa demokrasi itu haram mutlak, kecuali hanya diharamkan atas ijtihad organisasi semata!

    • hahaha setuju pak. hanya orang2 bahlul dan konyol yang bisanya cuma ngeles, sambil melontarkan analogi yang konyol dan bahlul seperti di atas itu ^___^

      Jawab Abu Jaisy: :), bukankah seorang munafiq itu membalik-balikkan pertanyaan seorang muslim! Semoga anda bukan segolongan kaum munafiq tersebut, Amien.
      Tinggal jawab ada atau nggak saja kok susah banget jawabnya! Kalau tidak ada yah berarti itu ijtihad dan tidak ada kebenaran mutlaq tentang sebuah ijtihad! Semoga anda mengerti dari kekonyolan dan ke-bahlulan pertanyaan yang anda sampaikan diatas.

      Dan semoga Allah mengampuni dan menyadarkan anda atas pernyataan konyol dan bahlul yang anda lontarkan terhadap nash-nash Qath’i pertanyaan diatas. Na’udzubillah!

      Dalil Qath’i saja bisa dibilang konyol dan bahlul, tidak ada bedanya dengan kaum munafiq dan kafir!

      • Saya melihat bahwa orang-orang yang anti Demokrasi disini tidak mempunyai pemahaman landasan yang kuat. Sehingga terkesan sangat egois dalam memahami syari’at Islam.

        Ketika saya melihat tulisan diatas, saya jadi yakin kalau memang mengkufurkan demokrasi itu adalah sebuah ijtihad semata. Jadi bukan kufur mutlak, tetapi hanya berlandaskan pendapat ulama saja.

        Saudara Abu Jaisy, antum memang mampu menjawab berbagai pertanyaan dari yang anti demokrasi dengan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah.
        Tapi ana mohon, antum untuk lebih bersabar dalam menjawab pertanyaan. Saya kok melihat antum terlalu (afwan) “kasar” terhadap mereka yang anti demokrasi.

        Jazzakallah. Senang berkunjung diblog ini

        Jawab Abu Jaisy:
        Syukron atas nasehatnya, semoga saya bisa menjaga hati lagi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus ditanyakan berulang-ulang padahal sudah dijawab sebelum mereka bertanya (sebenarnya saya malas menjawab pertanyaan yang sama tiap tahun demi tahun sehingga terlihat kasar dalam kalimatnya).
        Terima kasih atas kunjungannya.
        Barakallahu fik.

      • Nah nah nah. Fatwa-nya dah keluar dah. Ternyata dimana2 sama aja. Disinggung dikit, keluar kata2 munafik lah, kadzibin lah. Bahkan sebagian mereka ada yang langsung melaknat, “La’natullah ‘alal kadzibin. Padahal…ckckck… introspeksi diri dulu lah. Hihihi.

        Orang bahlul dan konyol memang tidak bisa mencerna kalimat dengan baik. Lha wong nash qathi’i aja dibolak-balik untuk membenarkan kebahlulan dan kekonyolannya :-)

        Coba anda cerna kalimat sy, maka akan nampak kekonyolan dan kebahlulan anda yang dengan gampang menganalogikan:
        “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berkomputer”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya mengemudi mobil”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berinternet”, dll.
        Analogi2 bahlul dan konyol itulah yg sy maksud yang menjadi kebahlulan dan kekonyolan anda.
        Tinggal jawab ada atau nggak saja kok susah banget jawabnya! :-)

        Lebih bahlul dan konyol lagi ya judul postingan ini.

        Apa anda mengharapkan disebutkannya “demokrasi itu haram” dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma shahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin?
        Dan karena kalimat itu tidak ada, kemudian anda berijtihad kalo demokrasi sah2 aja dilakukan. Gitu ya. Sekalian aja pak, liberalisme juga boleh. kolonialisme juga boleh, semua isme2 yg bukan dari Islam boleh diikuti. Semoga anda segera sadar dari kebahlulan dan kekonyolan anda sehingga tidak tergolong kaum munafiq dan kafir!

        NB: Boleh aja anda delete komen ini, karena ini blog anda. Dan dengan begitu akan semakin tampak kebahlulan dan kekonyolan anda ^____^
        Nah nah nah. Fatwa-nya dah keluar dah. Ternyata dimana2 sama aja. Disinggung dikit, keluar kata2 munafik lah, kadzibin lah. Bahkan sebagian mereka ada yang langsung melaknat, “La’natullah ‘alal kadzibin. Padahal…ckckck… introspeksi diri dulu lah. Hihihi.

        Orang bahlul dan konyol memang tidak bisa mencerna kalimat dengan baik. Lha wong nash qathi’i aja dibolak-balik untuk membenarkan kebahlulan dan kekonyolannya :-)

        Coba anda cerna kalimat sy, maka akan nampak kekonyolan dan kebahlulan anda yang dengan gampang menganalogikan:
        “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berkomputer”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya mengemudi mobil”, “Tolong buktikan dalil qath’i tentang halal dan bolehnya berinternet”, dll.
        Analogi2 bahlul dan konyol itulah yg sy maksud yang menjadi kebahlulan dan kekonyolan anda.
        Tinggal jawab ada atau nggak saja kok susah banget jawabnya! :-)

        Lebih bahlul dan konyol lagi ya judul postingan ini.

        Apa anda mengharapkan disebutkannya “demokrasi itu haram” dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma shahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin?
        Dan karena kalimat itu tidak ada, kemudian anda berijtihad kalo demokrasi sah2 aja dilakukan. Gitu ya. Sekalian aja pak, liberalisme juga boleh. kolonialisme juga boleh, semua isme2 yg bukan dari Islam boleh diikuti. Semoga anda segera sadar dari kebahlulan dan kekonyolan anda sehingga tidak tergolong kaum munafiq dan kafir!

        NB: Boleh aja anda delete komen ini, karena ini blog anda. Dan dengan begitu akan semakin tampak kebahlulan dan kekonyolan anda ^____^

        Jawab Abu Jaisy:
        Maaf, sebaiknya anda melihat jawaban-jawaban saya yang lain. Kenapa saya sebut munafiq? Karena mereka adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran!

        Bukankah saya jelas mengatakan bahwa sebuah ijtihad demokrasi tentang kekufurannya itu tidak ada dalam Nash Qath’i! Jika tidak ada dalil qath’i tentang sebuah haram-halalnya sesuatu seseorang tidak boleh mengharamkannya dengan mutlak! Seseorang boleh mengharamkan sesuatu asal itu haram bagi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain!

        Jika tidak ada dalil Qath’i tentang haramnya Demokrasi, lalu kita cari dalil halalnya demokrasi ini jelas analogi yang bodoh. Bukankah adanya larangan pengharamannya itu yang harus ditelusuri dulu, jika tidak ada maka yang ada adalah ijtihad boleh atau tidak. Seperti haram atau makruhnya rokok, karena memang tidak ada nash qath’inya sehingga terjadi perbedaan ijtihad. Tentu yang mengharamkannya tidak boleh merasa paling benar dari yang memakruhkannya. Dan tentu keharaman rokok yang ditetapkan itu sebatas pada fatwa dari golongan ulama tertentu dan tidak mencakup aspek yang lain.
        Haram dan halalnya kartu kredit, diberbagai tempat ada ulama yang mengharamkan kartu kredit, tetapi ditempat lain kartu kredit masih ditolerir oleh beberapa ulama. Haramnya berniaga dengan yahudi (untuk saat ini) yah karena itu adalah fatwa dari ijtihad ulama, tetapi bukan mayoritas ulama. Tentu keharamannya tidak mencakup seluruh umat Islam!

        Insya Allah saya gabungkan semua jawaban dan pertanyaan orang-orang seperti anda di sebuah postingan tersendiri. Semua analogi anda sudah saya jawab sebelum anda bertanya dikomentar sekarang! (Alhamdulillah saya gabungkan semua posting yang biasa ditanyakan oleh kalian —> Kumpulan Tanya-Jawab Masalah Demokrasi (Haram atau Tidak?)

        Saya itu malas meladeni orang-orang seperti anda, karena pertanyaan dan jawaban kalian itu SEMUANYA SAMA kayaknya kalian memang disetting/disetup seperti robot jadi semuanya kompak! Tapi kalau sudah ditanya sedikit kritis kalian langsung gelagapan, yah kayak pertanyaan diatas!

        Orang-orang anti demokrasi seperti anda ini lebih sering menuduh orang lain sebagai seorang yang kufur, tetapi kalian menafikkan bahwa kalian hidup dalam ketiak demokrasi yang kalian benci.

        Saya harap jika memang anda ingin berdialog, gunakanlah hujjah yang benar. Jika anda orang Islam, gunakanlah dalil Al Quran dan As Sunnah atau ijtihad dari seorang ulama. Bukankah artikel/postingan diatas saya sudah jelas menggunakan itu semua! Jadi sebaiknya jawablah pertanyaan, tidak perlu menjawab pertanyaan dengan analogi pertanyaan yang membingungkan seperti itu. (saya sudah mengetahui trik dan tips seperti ini saat di jamaah pemimpi Khilafah)

        Saya tunggu, hujjah anda tentang haramnya demokrasi! Karena sampai sekarang orang-orang konyol bin bahlul yang mengharamkan demokrasi nanti juga pasti LARI dari dialognya sendiri

  18. Makanya pak, konyol dan bahlul jangan dipelihara. Pelajari dulu hakekat sebuah isme sebelum anda terjun ke dalamnya. Jika ujung2nya untuk menandingi Allah dalam menentukan hukum, seorang muslim tentu haram bergabung di dalamnya. Berkomputer ujung2nya membuat hukum ga? Berinternet produk akhirnya hukum ga? Mengendarai mobil, menggunakan hape, dan sebagainya dalam rangka duduk bersama dengan orang2 kafir membuat UU ga? :)

    ***

    “Kenapa saya sebut munafiq? Karena mereka adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran!…”

    Subhanallah, anda sudah menjadi mufti ya. yang bisa memvonis orang lain munafik hanya karena tidak menerima penjelasan anda??? Anda bilang sendiri kalo haram tdknya demokrasi merupakan ijtihad, yang bisa salah bisa benar. Lalu kenapa anda memaksa orang mengikuti pendapat anda dan menyebut orang yang menolak pendapat anda dengan sebutan munafik?? Aneh. :-)

    Jangan2 anda yang LARI dan TIDAK KONSISTEN dari dialognya sendiri :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    hehehe, nahkan selalu begitu. Saya nyatakan kebenaran itu bisa dimana saja, dengan begitu yang menentang demokrasi tidak perlu mengurusi fatwa tentang bolehnya mengikuti demokrasi. Saya tidak memaksa orang untuk ikut demokrasi, anda menfitnah saya! Disemua jawaban masalah demokrasi yang saya utarakan adalah termasuk postingan diatas, merupakan jelas bahwa demokrasi adalah hasil ijtihad. Jadi bisa salah dan bisa benar, intinya tidak perlu ngurusi fatwa orang lain sehingga dikufur-kufurkan!

    Apakah menolak nash qath’i yang dipelintir seperti di bawah ini juga tergolong munafik?

    http://revolusidamai.multiply.com/journal/item/578

    silakan dikonfirmasi ke Dewan Syariah Daerah PKS Surakarta :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    Yang menulis jawaban fatwa tersebut merupakan orang yang tidak mengerti kaidah syar’i! Seharusnya yang ditanya adalah admin blog tersebut, sudahkah mereka bertabayyun sebelum menulis artikel itu? meskipun sudah bertabayyun dan jawabannya berbeda, seorang muslim tidak menganggap dirinya lebih benar dan lebih pintar dari yang lain, sehingga menyesat-nyesatkan orang Islam. Ini jelas ciri khawarij! Bukankah imam Ahmad dan imam Syafi’i ketika berbeda dengan masalah ibadah mahdah saja bisa saling hormat, apalagi ini. Masalah demokrasi yang tidak berada pada tataran ibadah mahdah! Nahkan, anda tidak mengerti kaidah syar’i! Hehehehee. Benar-benar jamaah yang aneh! Dan perlu di ingat, bahwa fatwa yang dikeluarkan oleh DPD PKS tersebut adalah fatwa yang mengikat pada gerakannya sendiri, tidak mengikat kepada keputusan umat Islam keseluruhan. Ini merupakan ijtihad politik mereka sendiri, kalau HTI mau berijtihad masalah politik dengan berbeda dengan fatwa itu silahkan, asal tahu kaidah syar’i untuk tidak menyesatkan gerakan Islam yang lain! Nah, lagi-lagi blog yang anda jadikan rujukan ternyata blog yang tidak mengetahui kaidah syar’i dalam Islam. Hehehe, aneh. Jamaah yang selalu mencampuri jamaah yang lain, emang nggak ada kerjaannya apa!

    ***

    “Bukankah saya jelas mengatakan bahwa sebuah ijtihad demokrasi tentang kekufurannya itu tidak ada dalam Nash Qath’i!… bla… bla…bla…”

    Anda mengatakan masalah haramnya ijtihad, itu pendapat anda sendiri atau bukan. Kalo anda mengatakan itu ijtihad, berarti demokrasi merupakan hal yang baru yang belum pernah ditemui di jaman Rasulullah sampai tabi’ut tabiin. padahal kita tau, demokrasi sendiri telah ada jauh sebelum diutusnya Nabi Isa kepada Bani Israil! :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Allah, kapan saya menyatakan tentang haramnya ijtihad. Lagi-lagi anda menfitnah saya, na’udzubillah bertemu dengan orang-orang seperti anda! Jika memang demokrasi sudah ada sejak nabi Isa, bukankah seharusnya Rasulullah menyatakan bahwa dengan jelas dalam haditsnya “Bahwa Demokrasi itu adalah Haram”. Sekarang mana buktinya demokrasi itu sudah berada pada jauh sejak nabi Isa belum datang? (hayoo, jangan jadi tukang boong loh!). Jika anda mengatakan demokrasi itu jauh sebelum nabi Isa datang, maka saya bisa mengatakan bahwa umat Islam dimasa Sahabat-pun melakukan pemilihan dengan cara demokrasi! Saya bisa buktikan ini.

    “Jika tidak ada dalil Qath’i tentang haramnya Demokrasi, lalu kita cari dalil halalnya demokrasi ini jelas analogi yang bodoh. Bukankah adanya larangan pengharamannya itu yang harus ditelusuri dulu, jika tidak ada maka yang ada adalah ijtihad boleh atau tidak. Seperti haram atau makruhnya rokok, karena memang tidak ada nash qath’inya sehingga terjadi perbedaan ijtihad…. bla… bla…bla”

    Wah kalo begitu, setiap orang blh donk berijtihad. Setiap orang yang punya kepentingan boleh berijtihad sambil mengutip, menyitir, dan mengambil dalil yang disesuaikan dengan kepentingannya. Seperti di bawah ini:

    http://revolusidamai.multiply.com/journal/item/578

    Kita berijtihad dengan sungguh2 pun bisa salah. dan ketika satu masalah dihukumi dengan haram dan mubah atau halal, tentu lebih baik kita berhati2, jangan2 yang menghukumi mubah itu hasil ijtihadnya salah.
    Ini contoh nyata. Ada satu pimpinan jamaah yang berfatwa daging anjing halal dengan beranggapan anjing tdk DISEBUTKAN dengan gamblang dalam Al-Qur’an. Padahal sudah menjadi ijma ulama, hukum daging anjing adalah haram. Sebagai seorang muslim, sikap hati2 haruslah diutamakan dengan tidak mengonsumsi daging anjing.

    Jawab Abu Jaisy:
    Setiap gerakan Islam itu mempunyai dewan Syari’ah sendiri-sendiri. Adakah dewan Syari’ah PKS menghukumi fatwa dari jamaah yang lain? Tidak ada! Karena mereka memahami bahwa masalah ijtihad itu adalah masalah setiap harakah masing-masing sebelum khilafah itu terbentuk. Disatu sisi ijtihad bisa salah, disatu sisi yang lain ijtihad bisa benar. (Saya males mengulang-ulang jawaban) lihat disini —-:> Kumpulan Tanya-Jawab Masalah Demokrasi (Haram Atau Tidak?)

    Hehehe, seorang ulama yang salah dalam berijtihad itu tidak mengapa. Allah itu bukan maha kejam seperti yang anda gambarkan! Allah memberikan berbagai ayat dan hadits dengan berbagai penafsiran, tentunya untuk menafsirkan dibutuhkan kaffa’ah Islam yang benar dan baik. Allah akan memberikan 1 pahala kepada ulama yang salah berijtihad dan 2 pahala kepada seorang ulama yang benar dari ijtihad. Jadi jangan salah sangka terhadap hasil ijtihad kalau salah maka Allah akan murka, karena setiap ulama yang hanif itu adalah orang “pilihan” Allah dalam menentukan sebuah fatwa.

    Yang saya lihat itu orang-orang anti demokrasi selalu PEDE (red, Percaya Diri) kalau ijtihadnya paling benar sendiri, inilah jelas kesalahannya! Dan hal ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, Sahabat dan ulama-ulama Salaf! Jadi kalian yang begitu PEDE atas membenarkan sendiri ijtihad ulama kalian adalah seorang yang menentang sunnatullah perbedaan yang dianugerahkan oleh Allah! Dan menyimpang dari garis Islam seperti Khawarij yang sudah disesatkan oleh Islam karena merasa lebih benar pemahamannya daripada yang lainnya!

    Saya orang yang termasuk mengharamkan memakan daging anjing, tetapi saya bukan orang seperti anda yang tidak tahu dan mengerti apa-apa atas ijtihad seorang ulama. Pendapat menghalalkan daging anjing itu adalah dari madzhab Imam Malik, Imam Malik ini adalah seorang ulama Salaf yang hujjahnya bisa dipakai. Bukankah dalam hadits Rasulullah membolehkan kita untuk mengikuti ulama salaf “ikutilah aku (Rasulullah), sahabat-sahabatku serta sesudahnya (tabi’it tabi’in / ulama salaf/ orang sesudah generasi sahabat) Insya Allah seperti itu.

    Tentu saja saya tidak akan menyesatkan seorang ulama yang patut kita hormati atas tsaqafahnya, bukan seperti anda yang ilmunya masih cetek sudah menganggap diri paling benar!
    Seperti halnya Imam Syafi’i yang mengharamkan daging anjing, murid dari Imam Malik ini tidak menfatwakan sesat terhadap ijtihad gurunya yang membolehkan memakan daging anjing. Ah malas, saya harus selalu menjadi orang yang menjawab pertanyaan berulang-ulang atas pernyataan bahlul dan konyol seperti statement anda! BELAJAR DULU SANA.

    “Saya itu malas meladeni orang-orang seperti anda, karena pertanyaan dan jawaban kalian itu SEMUANYA SAMA kayaknya kalian memang disetting/disetup seperti robot jadi semuanya kompak! Tapi kalau sudah ditanya sedikit kritis kalian langsung gelagapan, yah kayak pertanyaan diatas!”

    Ini bukan merupakan hal yang aneh. jika ada sekelompok orang setuju dengan sesuatu pastilah mereka kompak. Apalagi jika telah ada nash yang jelas tentang hal yang disetujui. samalah dengan anda dan orang2 yang setuju dgn demokrasi. jawaban kalian pun juga kompak! Jika mungkin ada yang glagapan, mungkin dia bingung menghadapi orang yang mementahkan nash qath’i dengan analogi2 konyol dan bahlul :-)
    saya jadi ingat kata2 seorang kawan yg tobat dari demokrasi, “Anda tidak akan bisa mempengaruhi kami. Sekuat apa2pun hujjah yang anda kemukakan, kami telah di-set untuk ngeyel dan beranalogi utk membingungkan orang”

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, kompak jawaban dan pertanyaannya sama? hehehe, itu sih bukan kompak, tetapi pengikut/taklid. Yang dinamakan kompak itu adalah mempunyai jawaban yang bisa berbeda-beda, tetapi tetap pada satu tujuan fatwanya itu. Nah jika orang yang seperti anda sebutkan tersebut, jelas adalah orang-orang yang tidak berilmu tetapi bertaklid mengikuti orang yang berilmu. Yah ibaratnya bebek yang ketika digiring ngikut kemana aja tanpa berfikir dalam Islam orang-orang seperti ini sah-sah saja, asal tidak sembarangan berfatwa. Karena ujung-ujungnya juga pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan orang lain!

    “Orang-orang anti demokrasi seperti anda ini lebih sering menuduh orang lain sebagai seorang yang kufur, tetapi kalian menafikkan bahwa kalian hidup dalam ketiak demokrasi yang kalian benci.”

    sebagai orang yang bertauhid, saya mengatakan saya hidup di bumi Allah. dan kami tidak ridha bumi Allah diatur dengan demokrasi :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    Rasulullah bertauhid dan Rasulullah mentolerir umat Islam kala itu diatur oleh orang-orang Quraisy yang jahil! Dan Rasulullah tidak pernah mendobrak kekuasaan jahiliyah kecuali ketika futuh Madinah yang juga pada saat itu khilafah sudah terbentuk. Yah, sebelum berstatement sebaiknya belajar dululah mas. Kok statment anda selalu konyol gini! :D Bukankah “Demokrasi itu adalah barang curian milik Islam

    “Saya harap jika memang anda ingin berdialog, gunakanlah hujjah yang benar. Jika anda orang Islam, gunakanlah dalil Al Quran dan As Sunnah atau ijtihad dari seorang ulama. Bukankah artikel/postingan diatas saya sudah jelas menggunakan itu semua! Jadi sebaiknya jawablah pertanyaan, tidak perlu menjawab pertanyaan dengan analogi pertanyaan yang membingungkan seperti itu. (saya sudah mengetahui trik dan tips seperti ini saat di jamaah pemimpi Khilafah)”

    saya bukan kader jamaah pemimpi khilafah :-)

    btw, bukannya orang2 yang mengharamkan demokrasi telah memberikan dalil yang jelas? dan bukannya anda yang menjawab dalil2 itu dengan analogi yang membingungkan? ketika orang mengemukakan dalil haramnya tasyabuh, anda malah menganalogikan dengan jenggot, mobil, komputer, dan hal2 yang membingungkan
    ketika dikemukakan dalil dari Al-Qur’an, anda punya tafsiran sendiri.

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, lalu anda menganggap bahwa orang yang membolehkan demokrasi hujjahnya tidak jelas!? Aneh!
    Anda tahu dalil tasyabuh? Maaf sebelumnya, anda tahu nggak sih yang dimaksud tasyabuh? Mungkin karena anda tidak mempunyai kaffa’ah yang benar, sehingga anda bingung. Bagi seorang yang memberikan dalil tersebut dan mengerti hakekatnya tasyabuh, maka mereka akan terdiam ketika hujjah itu masuk keranah yang lain ketika hadits tersebut hanya didasarkan pada tekstualnya saja. Misalkan hadits ini
    “Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” (Dishahihkan oleh At Tirmidzi)
    atau
    -Al Bazzar telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma secara marfu’ : “Janganlah kalian menyerupai orang-orang Ajam, biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”
    Jika dipahami tekstual, tentu orang-orang Islam yang berkumis bukanlah termasuk golongannya Rasulullah, lalu kenapa banyak orang-orang HTI, MMI, Raja-raja Arab, dll. Tetap memakai kumis!?
    Lalu contohnya sekarang banyak sekali group-group musik yang beraliran metal, mereka memanjangkan jenggotnya dan memotong kumisnya, lalu apakah mereka termasuk golongannya Rasulullah! Heheh, nah itu kalau setiap ayat dipahami tekstualnya saja, sehingga dengan mudah orang menjustfikasi keimanan berdasarkan penampilan fisiknya. Bahkan pernah ada seorang pendeta yang penampilannya mirip dengan ustad-ustad yang tidak ada kumisnya! Hehehe, nah kalau diartikan tasyabuh, maka jelas tasyabuh!
    Dan hadits yang dipakai ini
    -Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu dia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
    Ini juga maknanya luas, bukan diambil pada sisi tekstualnya saja, hanya karena tidak berjenggot dianggap sebagai orang kafir, kalau orang kafir sering menggunakan komputer, maka dianggap orang kafir.
    Ingatkah ketika Kh. Ahmad Dahlan dicap sebagai kafir hanya karena memakai bajunya belanda! Apa yang diatakan Kh. Ahmad Dahlan “Anda sendiri datang kerumah saya dengan menggunakan sepur (kereta api), bukankah orang-orang kafir yang pertama kali menggunakan sepur? Berarti anda juga mengikuti orang kafir”
    Hehehhehe, kalau banyak orang-orang tekstual Islam tak ubahnya dengan khawarij yang sudah disesatkan oleh Islam!

    “Saya tunggu, hujjah anda tentang haramnya demokrasi! Karena sampai sekarang orang-orang konyol bin bahlul yang mengharamkan demokrasi nanti juga pasti LARI dari dialognya sendiri”

    Subhanallah. Apa gelar anda? LC? Ckckck… gegabah sekali menyebut ulama dan syaikh yang mengharamkan demokrasi dengan konyol d

    an bahlul.
    Jawab Abu Jaisy:
    Saya tidak pernah menghina ulama-ulama yang tidak sepakat dengan demokrasi, karena mereka bukan jamaah Robotiyah, tetapi orang yang kaffa’ahnya memang disitu. Tetapi yang saya hina adalah orang-orang yang tidak mampu menelaah ijtihad tetapi ditelan mentah-mentah dengan menyatakan demokrasi itu adalah haram mutlak bagi Islam. jelas inilah orang-orang konyol bin bahlul yang tidak mampu menelaah dan tidak mengetahui ushul fiqh!

    Bagaimana dengan dewan syariah yang memlintir dalil untuk melegalkan mengangkat pemimpin orang kafir? Jangan2 lebih bahlul dan konyol. Kalo dewan syariah saja seperti itu, apalagi yang dibawahnya :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, anda ini maaf (bodoh) dari berbagai statement. Setiap hujjah itu harus menggunakan dalil, jika dalil itu masuk dalam wilayah hujjah maka dalil itu adalah yang pas untuk dijadikan pedoman. Dalil bisa diambil dari berbagai hal, seperti Al Quran, As Sunnah ataupun ushul Fiqh, Sirrah, dsb. Jadi yang konyol itu adalah orang-orang yang memaksakan hujjahnya kepada orang lain, jelas orang seperti ini tidak tahu ilmu Islam yang benar. Imam Ahmad berbeda dengan Imam Syafi’i walaupun Imam Ahmad murid dari Imam Syafi’i tetapi beliau (imam Syafi’i) tidak merasa hujjah yang disertai dalil atas ijtihad yang dikeluarkan itu adalah kebenaran mutlak. Dalam masalah ibada mahdah saja banyak perbedaan prinsip antara berbagai Imam Madzhab ulama Salaf, apalagi dalam masalah muamalah dalam ibadah ‘ammah!

    Jangan hanya karena menemukan hadits satu, lalu sudah merasa bangga bahwa sudah memahami hadits tersebut dengan baik. Padahal masih ada dalil yang lain dari hujjah yang lain. Tentu kita harus menghormatinya dengan baik, tanpa harus menganggap ijtihad yang dikeluarkan dengan hujjah disertai dalil yang kita anggap benar sebagai kebenaran mutlak islam.

    benar sabda Rasulullah, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’
    Bersilat lidah mencari dalil untuk mendukung kepentingannya :-)
    introspeksi pak, barangkali justru anda yang masuk ke jamaah robotik. atau jamaah konyol sekali (JKS). Sy bilang ‘jamaah’ lho ya, bukan ‘partai’ :-)

    Jawab Abu Jaisy:
    Yaa Allah, jauhkanlah aku dari apa yang disebut oleh Rasul-Mu bersilat lidah.

    Yang paling aku takuti atas kamu sesudah aku tiada ialah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
    Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya’la)

    Bukankah orang-orang munafiq itu berkata, tetapi perkataannya tidak sesuai dengan tindakan dan perilakunya. Berkata demokrasi haram, tetapi masih berada pada ketiak demokrasi, berkata jihad tetapi tidak pernah melaksanakannya.

    “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).
    Bukankah sudah jelas bahwa Demokrasi itu bukan haram secara mutlak kepada seluruh umat Islam, tetapi pengharaman tersebut adalah ijtihad seorang ulama yang tidak bisa berbeda dengan ulama yang lainnya. Apalagi yang akan kalian tentang pendapat saya ini? Jika begitu andalah yang bersilat lidah dan keras permusuhannya kepada ulama yang membolehkan berdemokrasi! Bukankah kami juga memberikan hujjah dan dalil yang sesuai syar’i, kecuali kalian memalingkan muka dan mengacuhkan dalil dari hujjah-hujjah kami dan menjuluki kami sebagai orang-orang kufur karena demokrasi!

    Ingatlah ini:
    Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

    Bukankah kalian yang selalu mencari-cari kesalahan terhadap kami dan mencoba mendebat fatwa-fatwa internal yang kami keluarkan. Kalian memberikan perumpaan tetapi kalian sendiri tidak mengerti perumpamaan itu (seperti masalah khilaf tentang ijtihad daging anjing). Padahal ini hanya sekedar untuk membantah dan ingin bertengkar saja!

    Kalian menganggap ada dalil qath’i demokrasi dengan mengharamkan mutlak kepada Islam dan umatnya, padahal kalian tidak mengetahui bahwa itu adalah hasil ijtihad yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah!

    Sy cukupkan sampai disini, selesai bihamdillah

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, nahkan. Ujung-ujungnya LARI!!!!

    Semua statement anda yang seperti ini sudah saya jawab disini —-> Kumpulan Tanya-Jawab Masalah Demokrasi (Haram Atau Tidak?)

    Anda katanya bukan orang Jamaah Pemimpi Khilafah, tapi panutannya Himpunan Tukang fItnah, aneh anda ini! Itu Fatwa PKS ngapain juga organisasi lain ngikut fatwa PKS ada-ada saja. Ada fatwa dari HTI yang mewajibkan berperang di Palestina, tetapi HT sendiri ongkang-ongkang kaki tidak mau berperang, bahkan menyesat-nyesatkan HAMAS. Jamaah Pemimpi Khilafah ini menganggap berperang itu hanya dengan PROPAGANDA semata. Hehehe, semoga mereka disadarkan oleh Allah atas mimpi-mimpinya!

    Dan debat dengan inisial Tegoeh di multiply saat saya di Add Yahoo Massenger, ternyata dia lebih banyak jadi tukang Bohong! Insya Allah saya masih men-Save debat dengan dia ketika itu!

    Ini adalah terakhir kalinya saya menjawab pertanyaan orang-orang anti demokrasi dengan berulang-ulang. Selanjutnya semua orang seperti anda, silahkan merujuk pada postingan ini —–> Kumpulan Tanya-Jawab Masalah Demokrasi (Haram Atau Tidak?)

    NB: Afwan, dari beberapa jawaban saya terlalu kasar dan keras. Saya berlaku tidak adil terhadap anda hingga menyimpangkan hak-hak anda sebagai sesama muslim. Ini semua karena saya selalu bertemu orang-orang yang menjustifikasi sebelum berhujjah!
    Di Rumah (blog) saya ini, sebagai seorang muslim yang harus menerima tamu dengan baik. Maka saya meminta maaf atas perilaku saya terhadap anda. Perbedaan ini tidaklah seharusnya membuat kita saling berseteru, tetapi lebih kepada perjuangan yang satu sama lainnya berada pada jalannya masing-masing tanpa perlu mengusik perjuangan umat Islam yang lainnya.
    Terima kasih atas kunjungannya

  19. lantas dalil qath’i tentang boleh, halal dan wajibnya mengunakan sistem demokrasi apa pak kyai??????

    Jawab Abu Jaisy:
    Sudah saya jawab disini pertanyaan ente ——-> http://suara01.wordpress.com/2010/04/07/kumpulan-tanya-jawab-masalah-demokrasi-haram-atau-tidak/

  20. MasyaAllah…sya sudah berkomentar…bahwa saya minta maaf kalau saya ganti-ganti nick name, tapi demi Allah bukan untuk seperti yang anda maksudkan, dan demi Alloh saya sya tidak tahu bahwa hal itu akan menjadi masalah dan ..key sekali lagi saya minta maaf….dan saya sudah bilang bahwa saya akan memakai nick name abu hijaz……
    saya abu hijaz (bbghariyanto@gmail.com) yang mempunyai nick name gogo, abu hijaz, ehm mulai sekarang akan memakai nama abu hijaz….saya harap saudara pemilik blog ini dapat memaafkan atas segala kekhilafan saya…..

    Jawab Abu Jaisy:
    Saya sebenarnya sudah memaafkan anda jauh sebelum anda meminta maaf. Tetapi saya memang ingin anda memilih nickname apa yang ingin anda gunakan! Agar tidak ada fitnah diantara kita.

  21. Alhamdulillah…
    BTW, Akhuna Abu Jaisy, masih ingat tsawabit Jama’ah Ikhwan..???

    Bukannya yang nggak sesuai sama tsawabit jama’ah bukan bagian jama’ah…??? (Klo nggak salah ada di kitab fii afaqi ta’alim Said Hawwa) juga di Syarah Risalah Ta’alim (cetakan lama judulnya “Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan)….

    Juga ada kisah di Buku Komitmen Da’i Sejati (Muhammad Abduh)…

    ana juga sebenarnya agak bingung dengan kondisi Ikhwan di Indonesia, di satu sisi memegang teguh tsawabit jama’ah, tapi di sisi lain, para kadernya (bahkan yang sudah “dilantik” jadi kader Ikhwan pun banyak yang nggak faham… Sayangnya hal itu tidak disiapkan sejak awal)…

    Baru ketika ada Ikhwah yang keluar dari tsawabit Jama’ah, baru di-ilaj dan lain sebagainya…

    Ini koreksi buat saudara2 antum juga, semoga antum bisa membantu menyampaikannya…

    Sampaikan juga terkait dengan Pendalam Fikrah, harusnya ditanamkan beriringan dengan pendalaman aqidah… Yang ana tahu, akhir2 ini Ikhwan disibukkan dengan jutaan aktivitas tapi minim fikriyyahnya, terutama ilmu2 syar’i…
    (Sebenernya Ikhwan2 Jihady sama, gitu, makannya muncul aliran sesat TAKFIRI-KHAWARIJ dan sebagian ngikutin metode “keras”nya salafy yamani-ngikutin istilahnya Abu Abdurahman di Dakwah Salafiyah dakwah Bijak)

    Sukses akhi,,, saat Ikhwah2 di Ikhwan sedang melaju dan menekan gas sekuat2nya, ana harap kehadiran orang seperti antum dapat menjadi rem, karena kendaraan tanpa rem pasti akan celaka, tapi kendaraan di rem terus nggak jalan2…

    Ma’annajah… Yubaarik fiikum…

    Jawab Abu Jaisy:
    Dibeberapa komentar ada yang pernah bertanya seperti itu. Inti dari tsawabit Jama’ah yang dimaksud adalah tandhzim itu sendiri. Namun bukan berarti Ikhwanul Muslimin menjadi representatif mewakili Islam dari gerakan Islam yang lain. Karena di Indonesia ini tidak ada gerakan Ikhwanul Muslimin, yang ada adalah “perwakilan” gerakan tersebut. Walaupun di Indonesia ada gerakan yang namanya Ikhwanul Muslimin Indonesia, namun pada hakekatnya tidak diakui oleh Ikhwanul Muslimin secara global. Maka dari itu pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi yang menyatakan PKS adalah “perwakilan” Ikhwanul Muslimin di Indonesia, dan tidak dibantah oleh Qiyadah PKS merupakan bentuk pengakuan itu sendiri. Namun perlu dibedakan, tandhim “perwakilan” dengan tandhzim murni Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Beberapa teman-teman saya yang pernah kuliah di Mesir, menyatakan bahwa kader yang benar-benar di rekrut oleh Ikhwanul Muslimin itu merupakan orang-orang “pilihan”. Maksud dari “pilihan” itu adalah mereka orang-orang yang mampu menerapkan syari’at Islam didalam dirinya. Jadi pada dasarnya, kader yang benar-benar Ikhwanul Muslimin adalah orang-orang yang telah terbina dengan sangat bagus sekali, mereka bukan asal comot, dsb.

    Namun berbeda di Indonesia, yang berbentuk partai politik itu sendiri. Sehingga aspek pembinaannya kadang tidak maksimal, bahkan minim pembinaan. Karena memang dituntut untuk instan! Namun PKS adalah simbol dari contoh pergerakan “perwakilan” yang mampu mendobrak politik dari segala pergerakan “perwakilan” Ikhwanul Muslimin di dunia. Maka dari itu kenapa ustad Ani Mata pernah dimintai report tentang strategi politik saat terjadi pertemuan yang diselenggarakan ikhwanul Muslimin.

    Nah, disinilah sering terjadi ketimpangan tsaqafah. Salah satu teman saya yang pernah satu halaqah langsung mereka (kader Ikhwanul Muslimin di Mesir) menyatakan bahwa “Jika urusan tandzhim maka kita ‘mendengar dan patuh’ namun jika masalah itu menyangkut akhidah (ibadah mahdah), maka mereka berpaham apa yang mereka yakini masing-masing”

    Inilah indahnya Ikhwan. Kita tidak taklid dengan satu ulama, tetapi kita mematuhi aturan dari tandzhim itu sendiri. Walaupun berbeda dengan pemahaman satu sama lainnya, tetapi kader Ikhwanul Muslimin selalu bersikap khusnudhan jika menyangkut masalah keputusan gerakan walaupun kadang ada pertentangan, tetapi hal itu tidak membuat ghuluw dari setiap kader Ikhwanul Muslimin. Yah intinya “Kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, kita berlapang dada dalam hal yang tidak kita sepakati”

    Setiap gerakan Islam mempunyai ijtihadnya masing-masing. Dan mereka juga mempunyai hujjah masing-masing dalam berharakah. Maka kita patut berprasangka baik kepada setiap harakah Islam yang ingin memperjuangkan Islam. Tanpa merasa paling benar dari ijtihad harakahnya! Maka dari itu, kembali lagi “Kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, kita berlapang dada dalam hal yang tidak kita sepakati”

    Barakallahu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: