Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS, Part II


Beberapa waktu yang lalu saya membuat postingan yang sama “Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS” dan kini saya kembali mem-posting hal yang sama. Seandainya jika dia tidak menfitnah saya, maka postingan kedua ini insya Allah tidak akan saya publikasikan. Namun karena syabab Hizbut Tahrir ini membuat status di facebook yang menfitnah saya, maka postingan ini adalah sebagai tabayyun saya atas seluruh umat Islam tentang fitnah yang sudah biasa dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan para syabab Hizbut Tahrir.

image

Diskusi ini adalah bermula ketika Syabab Hizbut Tahrir (Riyan Zahaf) membuat sebuah status di Facebook:

image

Dengan postingan ini, insya Allah semua bisa melihat dengan jelas. Bagaimana seorang Syabab Hizbut Tahrir yang menjawab dengan segala argumentasinya dapat kita sangkal dengan mudah. Mereka bukanlah orang-orang yang faqih dalam beragama tetapi mudah sekali mengambil kesimpulan yang dini dan sepotong-sepotong dan tergesa-gesa. Padahal jelas tergesa-gesa itu adalah sifat syaitan.

Saya mengatahui berbagai dalil dari jawabannya adalah hasil search dari google. Jadi bukan hasil dari ilmu yang  mereka miliki, kebanyakan mereka copy paste tanpa melihat jelas tafsiran yang sesungguhnya. Mereka miskin ilmu pengetahuan Islam, tetapi semangatnya saja yang besar. Ibarat orang mereka itu bisa disebut "Nafsunya besar tenaganya kurang"

Didialog ini bisa kita lihat bahwa ketika mereka berdialog, maka sesungguhnya mereka itu hanya ingin mengalahkan lawan dialognya saja, tidak benar-benar ingin mendapatkan kebenaran. Sehingga kebenaran mereka itu hasil dari pembenarannya saja, bukan bukti dengan dalil yang syar’i dari kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Syabab Hizbut Tahrir dari dulu hingga sekarang ternyata masih tidak pernah berubah, debat adalah ciri mereka untuk mempertahankan kelemahan mereka. Ibarat strategi perang, mereka mungkin beranggapan "Pertahanan yang terbaik itu adalah menyerang". Sungguh ini adalah strategi yang bodoh jika dilakukan oleh orang yang lemah, karena prinsip strategi yang bagus adalah "mengukur kemampuan musuh sebelum bertanding adalah sebuah kewajiban". Dan sungguh ini adalah kesesatan syabab Hizbut Tahrir yang senang berdebat. Rasulullah bersabda:

"Tidak akan sesat suatu kaum setelah mereka mendapat petunjuk kecuali jika mereka melakukan perdebatan"

Malik bin Anas, berkata: "Perdebatan tidak sedikit pun termasuk dalam agama." Ia juga mengatakan, "Berdebat itu membuat hati menjadi keras dan menimbulkan dendam."

Lukman, berkata kepada anaknya: "Wahai anakku, jangan debat para ulama sebab mereka akan membencimu."

Bilal bin Sa’ad berkata: "Jika engkau melihat seorang laki-laki yang keras kepala dan suka berdebat serta bangga dengan pendapatnya sendiri maaka sesungguhnya telah sempurna kerugiannya."

Abu Darda, berkata:"Cukuplah menjadi dosa bagimu jika engkau senantiasa menjadi seorang pendebat."

Syabab Hizbut Tahrir ini tidak pernah bisa melihat dan membedakan antara dialog (mujadalah) dengan debat (jidal). Mereka beranggapan apa yang mereka lakukan adalah dialog (mujadalah) padahal sesungguhnya mereka tersesat dalam perdebatan. Karena dialog itu adalah memberikan pemecahan masalah dengan solusi serta saling menghargai pendapat masing-masing, ini berbeda dengan jidal (debat) yang lebih mengutamakan kemenangan argumentasi daripada kebenarannya. Sehingga syabab Hizbut Tahrir tersesat jauh dalam perdebatan untuk berbangga mendapatkan kebenarannya sendiri melalui pembenaran mereka yang memotong-motong dalil tanpa tahu maksud sesungguhnya.

Maka ketika sudah melihat ketidak-singkronan keilmuannya, seorang awam akan mengedepankan emosi, prasangka dan semangatnya. Sehingga mereka tidak berdialog dengan ilmu kecuali dengan ketiganya itu (Emosi, prasangka dan semangat). Sungguh ini adalah hal yang bathil dalam Islam!

Kebiasaan Syabab Hizbut Tahrir yang ketika berdebat melakukan kecurangann, seperti menjawab dengan memotong-motong argumentasi seseorang, mencoba mengalihkan tema untuk mengaburkan tema perdebatan, menjawab perdebatan ketika seseorang menganggap perdebatan itu telah selesai, sehingga dimaksudkan agar Syabab Hizbut Tahrir itulah yang memenangkan perdebatan. Dan ketika mereka benar-benar terjepit, mereka biasanya lari dari perdebatan dan menfitnah seseorang yang berbeda pemahamannya ditempat lain. Sehingga terkesan mereka terdzalimi, padahal hakekatnya mereka adalah orang yang zhalim, mereka sesuai ciri kaum munafiq yang digambarkan Rasulullah:

"Ada empat sifat yang apabila dimiliki oleh seseorang maka dia berarti munafik murni. Dan barangsiapa memiliki salah satu dari empat sifat dimaksud, berarti dia memiliki salah satu dari ciri seorang munafik. Empat sifat itu adalah: Apabila berbicara bohong, apabila dipercaya serong, apabila berjanji mengingkari, dan apabila berdebat tidak sportif (lacur)."

Semoga dengan berbagai bukti tentang fakta-fakta yang terjadi pada syabab Hizbut Tahrir menjadikan kita semua terjaga dan terhindar dari fitnah-fitnah keji mereka. Dan slogan-slogan Khilafah & Syari’at mereka sebenarnya hanya omong kosong belaka, karena mereka tidak akan mau menerima jika tidak madzhabnya yang berkuasa. Seperti dari informasi saudara kita "Sang Pengelana":

"An-Nabhani berkata: “…semestinya aktivitas Hizbut Tahrir yang paling menonjol adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut mengurus kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas yang meyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat) seperti pembentukan kementrian dan pemilihan wakil rakyat. Yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah pemerintah.”

Kemudian an-Nabhani melanjutkan, “Oleh karena itu, kelompok berkuasa tadi seluruhnya harus diserang, baik menyangkut tindakan maupun pemikiran politiknya."

Jadi sadarlah, betapa bahayanya Hizbut Tahrir jika mereka berkuasa! Mereka tidak akan menghargai perbedaan pendapat selain menyatukan seluruh pendapatnya berada pada (madzhab An-Nabhani) Hizbut Tahrir ini. Sungguh para ulama sudah mengingatkan, bahwa menyatukan madzhab kepada satu madzhab itu adalah sebuah tindakan fitnah yang besar!

Betapapun mereka menuduh serta menfitnah umat Islam yang lainnya dengan tindakan-tindakan isu-isu yang mereka buat, sesungguhnya telah ada contoh dari Rasulullah untuk melarang orang yg senang membuat isu, menyia-nyiakan harta dan terlalu banyak bertanya!

Mari bersama-sama mengasiani mereka atas berbagai tindakan keji yang mereka lakukan. Dan mendo’akan agar mereka kembali kepada jalan Rasulullah dalam berdakwah!

(Saya menampilkan seluruh diskusi adalah untuk menunjukkan bahwa diskusi ini bukan didominasi oleh saya atau orang yang sependapat dengan saya, tetapi dialog ini disaksikan oleh para syabab Hizbut Tahrir yang lainnya juga. Terlepas mereka tidak ingin ikut dalam dialog itu kecuali hanya (mungkin) ingin menjadi pemandu sorak "saudaranya" yang sedang berjuang (red, berdebat). Karena mereka juga (mungkin) tak tahu harus menjawab seperti apa… Untuk anggota PKS, saya (Fajar Agustanto/Abu Jaisy) arahkan kepada saya! Ini terlepas bagi yang sependapat dengan saya)

Saya (Fajar Agustanto/Abu Jaisy) membuat warna merah kepada setiap apa yang saya jawab, adalah untuk lebih mudah dikenali dan dipilah dalam setiap dialog bukan bermaksud apa-apa.

Silahkan menyimak diskusi tersebut:

clip_image001

Sekuntum Khilafah Innallaha ma’ash shobbirin.

16 September jam 12:00 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf aamiieen..

16 September jam 12:00 · SukaTidak Suka

  • clip_image003

Topaz Daffa Murtadha emang HT siapa ya?

16 September jam 13:57 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf HT = Hizb Tahrir, Partai Politik Internasional beridiologi Islam yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya syari’ah dan Khilafah Islam yang menggunakan metode kenabian, insyaAllah.

16 September jam 19:12 · SukaTidak Suka

  • clip_image004

Saiful Bachri ada apa lagi saudaraku?

16 September jam 20:17 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

Tuduhan seringkali disebut nasihat. Fakta seringkali dianggap tuduhan. Cara berpikir yang salah, maka menimbulkan kesimpulan yang salah pula. Namun,, lebih sering terjebak pada anggapan "saya yang benar, anda yang salah."

Pak,, saya sempat beberapa waktu lalu diskusi di beberapa status salah satu kader HTI Medan dengan akun fb -Nasya Nazira Mumtaz-. Lihatlah bagaimana disana saya dikeroyok oleh kader2 HTI lainnya bahkan dengan bahasa2 yang tidak layak dikeluarkan oleh seorang pejuang khilafah (menurut saya.. ). Anda akan menemukan inkonsistensi kader HTI antara keagungan niat (mendirikan Khilafah ‘ala minhajunnubuwwah) dengan etika.Lihat Selengkapnya

17 September jam 8:10 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana Akhirnya,,, saya diremove oleh yang punya status dan bahkan diblokir.. Kalau Muktazilah itu dikarenakan memisahkan diri… Nah.. kalau menyingkirkan orang yang tak sependapat dengannya kira2 disebut apa ya.. ???

17 September jam 8:11 · SukaTidak Suka

  • clip_image006

Noviandi Suryosumirat

‎@Riyan : Sabar mas…sesungguhnya mereka tidak mengetahui kalo kita ini shohih…
orang munafiq itu orang yang pernah munas di Rirtz Calton, yang pernah memberontak kepada Utsmaniyah, yang mendatangkan para Bule Londo di negeri ini dan berkhidmat kepada mereka..
"Kabarkan kepada orng-orang munafiq itu dengan azab yang pedih, mereka adalah orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai aulia dan meninggalkan orang-orang mukmin" (Idari Mabdai TQS An Nisa).
Seolah-olah meraka berbuat kebaikan padahal tidak sama sekali…."Dan ketika dikatakan kepada mereka Janganlah berbuat kerusakan di bumi, mereka manjawab ‘kami adalah orang-orang yang berbuat kebaikan’ Ketahuilah mereka telah berbuat kerusakan, namun mereka tidak sadar" (Idari Mabdai TQS Al Baqarah)
Kelak jika Khilafah berdiri, salah satu tugas kita adalah membuat mereka sadar persis seperti seorang shahabat yang diutus oleh Imam Ali untuk menyadarkan mereka…..Jika mereka tidak mau kembali ke pangkuan Khilafah…Khilafah akan mengirimkan pasukan untuk menyadarkan mereka persis seperti Imam Ali mengirimkan pasukan untuk menyadarkan orang-orang itu…
Heaven Above U bro…Lihat Selengkapnya

17 September jam 9:56 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Pendapat pribadi ane,Tugas syabab adalah harus fokus untuk:
1) Memperbaiki pemikiran, prilaku pribadi dari diri, keluarga, dan masyarakat.
2) mengkritik dan membongkar pemikiran yang menyimpang ditengah-tengah kaum muslim secara umum.
3) mengkritik kebijakan yang menyimpang dan makar penguasa secara khusus maupun umum (muhasabah lil Hukkam).

Dari ketiga hal ini, maka:
1)sebaiknya para syabab tidak mengkritik secara khusus jama’ah Islam lainnya, kecuali secara umum saja. Misalnya, mengkritik penggunaan Demokrasi (sistem Kufur) atau Pluralisme, tetapi tidak mengurusi urusan "dapur" harokah lainnya.

2), ketika mengkritik jangan memfokuskan kepada satu harokah tertentu, tetapi dilihat bahwa hal-hal yang dikritik adalah perkara yang sifatnya umum terjadi di masyarakat. Mudah-mudahan, dengan cara begini, para syabab bisa meminimalisir benturan yang tidak perlu yang justeru merusak Ukhuwwah. Para syabab harus berfokus pada muhasabah lil hukkam bukan muhasabah lil jama’ah.

3) Juga tidak jarang, ada syabab yang terpancing emosi, sehingga mengeluarkan perkataan yang tidak ahsan (terpuji) dan emosional. Hal ini bisa merusak citra dakwah yang lagi dibangun dengan susah payah. Semestinya, para syabab memahami bab terakhir kitab Nizham al Islam, bahwa akhlaq yang Islami juga adalah perintah Allah Subhana wa Ta’ala yang mesti ditunaikan tanpa memandang mashlahat atau mudharat, dan ‘illat, sehingga senantiasa mengedepankan hukum syara’ disetiap kondisisi dan saat kapanpun.

Ane sendiri, masih jauh dari haritsan Islaman Aminan. Semoga, kita ditolong Allah Subhana wa Ta’ala, aamiieen.

Allaahu’alam bi-ash-showwab.Lihat Selengkapnya

17 September jam 17:46 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Noviandi Suryosumirat: Sebelum menggaliri orang munafiq, lihatlah dulu munafiq menurut Allah dan Rasul-Nya:

Sahabat Nu’man bin Basyir ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa berbuat serong (khianat) kepada teman berserikat terhadap sesuatu yang telah dipercayakan terha­dap dirirtya, maka aku tidak lagi memperdulikan orang itu." (HR. Abu Ya’la dan Baihaqi). Dalam riwayat Imam Bukhari dan Mus­lim diketengahkan, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Ada empat sifat yang apabila dimiliki oleh seseorang maka dia berarti munafik murni. Dan barangsiapa memiliki salah satu dari empat sifat dimaksud, berarti dia memiliki salah satu dari ciri seorang munafik. Empat sifat itu adalah: Apabila berbicara bohong, apabila dipercaya serong, apabila berjanji mengingkari, dan apabila berdebat tidak sportif (lacur)."

Sahabat Abdillah bin Amrin bin Ash ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada empat perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang berarti dia seorang munafik murni. Dan barangsiapa memiliki salah satu sifat dari empat sifat itu, maka berarti dia memiliki sebagian dari sifat munafik hingga dia mau meninggalkan sifat tersebut. Empat perkara tersebut adalah: Bila dipercaya khianat, bila berbicara bohong, bila berjanji mengingkari, serta bila berdebat licik." (HR. Bukhari dan Mus­lim)

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar (QS Al Ahzab 60)

(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.( QS At Taubah 79)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At Taubah 107)

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)." Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.( QS Ali Imran 167)

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."(QS Al Anfaal 49)

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna."( QS An Nisaa’ 62)

Belum apa-apa sudah sudah menggelari muslim yang lainnya munafiq.Yaa Rabb, sembuhkan orang-orang yang berpenyakit hati seperti ini!Lihat Selengkapnya

17 September jam 19:58 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf: Setuju akhi.

Alangkah nikmatnya jika satu harakah tidak mengurusi kebijakan harakah yang lainnya. Sehingga akan terjalin ukhuwah yang tinggi dan menjadikan rasa saling menghormati atas kebijakan masing-masing harakah.

Dengan begitu tidak ada yang merasa kebijakan harakahnya lebih benar dari harakah yang lainnya. Setiap harakah mempunyai dewan syuro’ yang disitu insya Allah terdapat ulama-ulama yang hanif. Dan ketika mengambil sebuah keputusan, tentu setiap harakah akan memikirkan dengan matang.

Nah ketika sebuah keputusan itu sudah diambil oleh sebuah harakah, tentunya tidak perlu lagi ada harakah yang merasa menjadi Hakim dari harakah yang lainnya. Sehingga tidak perlu ada isi buletin ataupun artikel yang menyindir-nyindir keputusan harakah yang lainnya dinilai salah.

Nikmat jika kita setiap muslim tidak berpenyakit hati, dilingkupi kekhawatiran dan berprasangka buruk, sehingga terkesan serang harakah lain sana-sini.

Perjuangan selalu ada pengorbanan. Saya sendiri dulu juga beberapa kali ditangkap aparat, masuk sel, ditelanjangi, disetrum, dll. Di Polda Jatim. Tetapi alhamdulillah setelah semua itu berlalu, saya tidak pernah merasa dendam dengan polisi. Walaupun tidak sebanding penderitaan saudara-saudara kita yang ada di afghanistan, Iraq, kosovo, Pattani, Moro atau bahkan di Palestina. Tetapi alhamdulillah saya telah mendapatkan hikmah yang terdalam dari setiap perjuangan, bahwa masa perjuangan itu ada marhalahnya ada fase untuk menuju yang lebih besar, dari hanya sekedar gerakan militan awalnya menjadi gerakan yang lebih terorganisir.

Kami selalu mempersilahkan setiap muslim untuk berjuang diluar parlemen, dan kami tidak pernah iri apalagi dengki terhadap perjuangan setiap musilm. Yang kami inginkan adalah perjuangan setiap muslim tidak membenarkan mutlak apa yang difatwakan ulama harakahnya kepada harakah yang lain. Itu saja, sehingga saling menghargai dan bekerjasama akan lebih tercipta dengan baik.

Mari bekerjasama dengan hal-hal yang kita sepakati! Metode setiap perjuangan harakah Islam saling berbeda-beda. Maka marilah kita menghormati keputusan para ulama dari setiap harakah!Lihat Selengkapnya

17 September jam 20:24 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎[Misalnya, mengkritik penggunaan Demokrasi (sistem Kufur) atau Pluralisme, tetapi tidak mengurusi urusan "dapur" harokah lainnya.]

Bagaimana tidak mengurusi dapur suatu harakah lainnya, sementara memanfaatkan demokrasi merupakan bagian dari dapur harakah tersebut????

[ketika mengkritik jangan memfokuskan kepada satu harokah tertentu, tetapi dilihat bahwa hal-hal yang dikritik adalah perkara yang sifatnya umum terjadi di masyarakat.]

Salah satu hal yang umum yang terjadi di masyarakat adalah pelaksanaan demokrasi. Bagaimana tidak memfokuskan kritik pada satu harakah tertentu, sementara harakah itu menggunakan hal yang umum tadi (demokrasi) sebagai ijtihad mereka???Lihat Selengkapnya

18 September jam 9:24 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

‎@SP:
Sudah merupakan tabi’at alamiyyah, bahwa perbedaan mahzab pasti menghasilkan dialektika dan pandangan yang berbeda terhadap suatu perkara. Dalam suatu masalah, tidak mungkin ada dikatakan halal dan haram secara bersamaan. Tidak mungkin, suatu perkara dikatakan benar dan salah secara bersamaan. Yang ada, hanya salah satunya, yaitu benar atau salah, halal atau haram. Begitupula, terhadap perkara yang ijtihadiyah, tidak mungkin semua pandangan yang berbeda itu salah semua, atau benar semua. Yang ada adalah, ada yang salah dan ada yang benar.

IM menyatakan halal menggunakan demokrasi, sedangkan HT menyatakan haram menggunakan Demokrasi, sudah dapat dipastikan akan menghasilkan perdebatan atau diskursus yang tidak berkesudahan, kecuali hingga saat Khilafah tegak nanti, insyaAllah.Lihat Selengkapnya

18 September jam 10:27 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Maksud, urusan dapur itu adalah urusan yang terkait kebijakan internal khusus, seperti kebijakan memilih hotel Ritz, munas di Bali, non-aktif beberapa Ustadz dari aleg dan lainnya.

Sedangkan kalau HT mengkritik Demokrasi, toh bukan cuma PKS yang menggunakan Demokrasi, tetapi juga semua partai Islam yang terlibat Pemilu dan tidak dimaksudkan hanya untuk PKS saja. Begitupula, keanggotaan non-muslim dan laiinya, ini tidak cuma PKS yang mengadopsi hal tersebut. Karena itu, saya mengkategorikannya sebagai perkara yang umum yang terjadi pada kaum muslimin.

Yang sulit itu, adalah jika penguasa yang dikritik diangkat dari harokah tertentu. Sesungguhnya, jika HT mengkritik penguasa tersebut, tidak dimaksudkan untuk mengkritik harokahnya tetapi karena, status dia sebagai penguasa yang dalam pandangan HT melakukan penyimpangan dalam hukum Syara’. Sekalipun, penguasa tersebut dalam setiap tindakannya senantiasa diambil dari keputusan Dewan syura’ harokah tersebut maka HT tetap akan melakukan muhasabah lil Hukkam kepada penguasa tersebut sebagaimana yang terjadi di Gaza dan Turki.

Tetapi, betapapun diwarnai perdebatan dan kritik diantara harokah Islam, usaha untuk memelihara tetap wajib dilaksanakan. Allaahu’alam bi-ash-showwab.Lihat Selengkapnya

18 September jam 11:28 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf: Perbedaan madzhab itu pasti menghasilkan dialektika dan tentu menjadikan pandangan yang berbeda pada masing-masing individu memutuskan sebuah perkara.

Namun perlu dilihat substansi yang disebut ijtihad, tentu ijtihad itu bukan dilakukan sembarang orang, seperti saya ataupun antum. Tetapi dilakukan oleh ulama yang faqih dan hanif.

Ijtihad itu bukan hitam dan putih atau benar dan salah juga halal dan haram dengan perhitungan manusia. Karena itu dilakukan oleh ahli ilmu, maka yang memutuskan adalah Allah.

Contoh kasus, ketika imam Maliki membolehkan (menghalalkan) makan daging anjing lalu imam salaf yang lainnya mengharamkannya, maka bagi penuntut ilmu bukan menghakimi siapa yang benar dan salah, tetapi diyakini hatinya sendiri untuk mengambil madzhab mana yang ingin dia ikuti.

Maka dari itu Allah menyatakan bagi para ulama yang berijtihad itu adalah 1 pahala yang salah dan 2 pahala yang benar. Dan itu Allah yang menentukan. Bukan seperti manusia, karena tingkatannya adalah ahli ilmu!

Banyak hal-hal qath’i yang ada dalilnya tetapi para ulama masih saja berbeda pendapatnya. Apalagi yang tidak ada dalil qath’inya seperti demokrasi ini! Tentu saling berbeda pendapat adalah hal yang wajar!

IM mengharamkan sesuatu itu ada pada batasan-batasan tertentu. Dulu Demokrasi Haram bagi IM, tetapi setelah ada ijtihad baru maka demokrasi dibolehkan.

Ini sama saja seperti ketika Hizbut Tahrir mengharamkan Demonstrasi dulu. Bahkan syabab HT melihat orang yang demonstrasi terlihat jijik dan sering menyindir-nyindir keharaman demonstrasi, tetapi sekarang atas ijtihad yang baru malah HT yang lebih sering demonstrasi.

Nah ini yang disebut ijtihad, ada pembaruan, penambahan, perubahan, penetapan dan kesepakatan. Pada perubahan jaman, ada saja ijtihad baru dikalangan setiap ulama.

Dialektika dalam tema demokrasi ini sama saja dengan ijtihad masa lalu, contoh kasus seperti qunut, wudhu ataupun hukum fiqh yang lainnya. Jadi tidak menutup kemungkinan walaupun khilafah sudah terbentuk demokrasi masih menjadi tema-tema perdebatan umat.

Hal yang harus dijadikan titik pointnya adalah, tidak merasa lebih benar dari yang lain.

Yang Ke2
Adab mengkritik seharusnya menjadi acuan Hizbut Tahrir dalam mengingatkan penguasa.

Mengkritik itu bukan menghujat, memaki atau bahkan melaknat. Mengkritik itu adalah bagian dari perbaikan, tentu kritikan haruslah sesuai dengan adab-adab Islam. Jangan sampai menghujat dianggap mengkritik, itu jelas haram dalam Islam.

Tidaklah patut kita menghakimi sebuah kebijakan yang diambil secara matang oleh ulama dari sebuah harakah dianggap keluar dari hukum syara’, tentu ini jelas mengkerdilkan harakah lain dan mengangkat Hizbut Tahrir menjadi "polisi" harakah!

Hukum syara’ setiap kebijakan harakah tentu berbeda dengan pemahaman harakah yang lain.

Contoh kasus, mengangkat senjata dengan berperang dengan Israel bagi HAMAS adalah kewajiban. Tetapi bagi Hizbut Tahrir hanya sebatas seruan yang sampai sekarang Hizbut Tahrir masih belum mempunyai angkatan perang untuk memerangi Israel.

Kita tidak perlu memungkiri bahwa selama ini memang Hizbut Tahrir senang mengkoreksi Harakah yang lain, tetapi ketika Hizbut Tahrir dikoreksi dan dikritik maka orang yang mengkoreksi dan mengkritik dianggap menghujat Hizbut Tahrir.

Lalu dimanakah ketetapan syara’nya?

Nah, nantinya akan menjadi lebih jelas. Bahwa Hizbut Tahrir hanya menginginkan khilafah itu berada pada naungan Hizbut Tahrir, karena menganggap setiap pemerintahan yang dipimpin oleh harakah Islam lainnya tidak sesuai dengan ketetapan hukum syara’ Hizbut Tahrir.

Bayangkan, ketika ada isu negatif, pemerintahan Turki dan Gaza digoyang habis-habisan oleh Hizbut Tahrir, tetapi ketika ada perbuatan positif yang terjadi di Turky dan Gaza, Hizbut Tahrir seakan menutup mata dengan kebaikan yang ada.

Nah, inilah kondisi yang real! Keburukan hati menutup segala kebaikan yang dilakukan seseorang.

Istilahlahnya kalau seringkali Hizbut Tahrir mengkritik, bertanya kepada harakah lain, maka harusnya Hizbut Tahrir juga harus merasa bahwa harakah ini (Hizbut Tahrir) bukan harakah bentukan Allah yang anti berbuat salah. Bahkan anti kritik dan koreksi, sehingga ketika kita bertanya kepada Hizbut Tahrir bukan dianalogikan sebagai menghujat.

Harakah/organisasi Islam akan mampu menjaga Ukhuwah, manakalah satu dengan sama lainnya menghormati ketetapan keputusan sebuah harakah/organisasi Islam, bukan malah diperdebatkan atau dihakimi sepihak.Lihat Selengkapnya

18 September jam 12:27 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎@ Fajar:

[Kita tidak perlu memungkiri bahwa selama ini memang Hizbut Tahrir senang mengkoreksi Harakah yang lain, tetapi ketika Hizbut Tahrir dikoreksi dan dikritik maka orang yang mengkoreksi dan mengkritik dianggap menghujat Hizbut Tahri...r.]

[Nah, nantinya akan menjadi lebih jelas. Bahwa Hizbut Tahrir hanya menginginkan khilafah itu berada pada naungan Hizbut Tahrir, karena menganggap setiap pemerintahan yang dipimpin oleh harakah Islam lainnya tidak sesuai dengan ketetapan hukum syara' Hizbut Tahrir.

Bayangkan, ketika ada isu negatif, pemerintahan Turki dan Gaza digoyang habis-habisan oleh Hizbut Tahrir, tetapi ketika ada perbuatan positif yang terjadi di Turky dan Gaza, Hizbut Tahrir seakan menutup mata dengan kebaikan yang ada.]

An-Nabhani berkata: “…semestinya aktivitas Hizbut Tahrir yang paling menonjol adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut menguru…s kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas yang meyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat) seperti pembentukan kementrian dan pemilihan wakil rakyat. Yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah pemerintah.”

Kemudian an-Nabhani melanjutkan, “Oleh karena itu, kelompok berkuasa tadi seluruhnya harus diserang, baik menyangkut tindakan maupun pemikiran politiknya.

(SUMBER : Terjun ke Masyarakat, Penulis : Taqiyyuddin an Nabhani, Judul Asli : Dukhul al Mujtama’ , Dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1377 H / 1958 M, Penerjemah : Abu Falah, Penerbit : Pustaka Thariqul ‘Izzah, Cetakan I, Syawal 1420 H, Pebruari 2000 M, halaman 8 dan 9).
dikutip dari:

http://sidogiri.net/index.php/artikel/view/91 dan
http://www.facebook.com/group.php?gid=102442103128398Lihat Selengkapnya

18 September jam 13:49 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

yang pertama:
Ijtihad itu adalah bisa salah dan bisa benar. Karena itu di dalam hadist muttafaq ‘alaihi tersebut dikatakan:

"..Tetapi bila keputusannya salah maka dia akan memperoleh satu pahala." [Muttafaq ‘alaih].

Jaminan diberikannya pahala kepada Mujtahid, karena Mujtahid tersebut telah mengerahkan upayanya dengan sungguh-sungguh untuk menggali hukum syara’ dalam perkara tersebut.

"Ijtihad secara bahasa adalah mencurahkan segenap upaya dalam mentahqiq (meneliti) suatu perkara hingga menjumpai kesulitan atau kesukaran. Ijtihad menurut istilah para pakar ilmu ushul diperuntukkan bagi pengerahan segala usaha dalam memperoleh suatu hukum atau beberapa hukum syara’ yang bersifat zhanni sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya hingga ia merasa lemah (tidak sanggup lagi) mencapai hal yang lebih di dalam usahanya."[Shakshiyyah, Juz 1]

Tetapi, ketentuan (jika salah mendapat 1 pahala) hanya pada mujtahid, tidak berlaku bagi orang yang bertaqlid (muqallid). Karena itu, Allah Subhana wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menjauhi thaghut dan memilih pendapat yang lebih mendekati kebenaran diantara hasil Ijtihad yang ada.

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِي

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, [QS:39.17]

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. [QS:39.18]

Para Imam Mujtahid juga memerintahkan kepada pengikutnyaLihat Selengkapnya

18 September jam 14:43 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

untuk mengambil pendapat yang terkuat, yang lebih sesuai nash. Bisa dilihat di bagian awal kitab Sifat sholat Nabi karangan Syaikh Albani rahimahullah.

Bagi kami yang memahami bahwa Demokrasi adalah haram, maka pandangan terhadap Demokrasi tidak sama seperti permasalahan ikhtilafnya Qunut, dan Rakaat tarawih. Karena:

1) Perbedaan ini, tidak terjadi dimasa shahabat dan tabi’in dan Imam Mujtahid. Sehingga, menyamakan dengan Qunut, dan Rakaat tarawih adalah suatu yang sangat jauh.
2) Efek perbedaan ini juga menyebabkan penahanan dan penangkapan bagi aktivis yang menolak penggunaan Demokrasi, sebagaimana halnya HT di Gaza dan di Turki.
3) Efek dari perbedaan ini menjadi ketentuan kriteria antara Islam Moderat dan Islam Radikal yang ditetapkan oleh AS dan sekutunya.

Allaahu’alam bi-ash-showwabLihat Selengkapnya

18 September jam 14:52 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎[sebaiknya para syabab tidak mengkritik secara khusus jama'ah Islam lainnya, kecuali secara umum saja. Misalnya, mengkritik penggunaan Demokrasi (sistem Kufur) atau Pluralisme, tetapi tidak mengurusi urusan "dapur" harokah lainnya.]

[Maksud..., urusan dapur itu adalah urusan yang terkait kebijakan internal khusus, seperti kebijakan memilih hotel Ritz, munas di Bali, non-aktif beberapa Ustadz dari aleg dan lainnya.]

Kebijakan itu adalah hasil musyawarah dari orang2 yang ahli di bidangnya yang ditunjuk oleh organisasi/harakah yang bersangkutan. Proses penunjukan dari para ahli inipun saya pikir melalui beberapa tahapan internal organisasi, artinya tidak sembarangan menentukan siapa yang dianggap ahli. Kebijakan internal itu saya pikir juga tidak sebatas hanya menentukan hal2 yang sifatnya praktis dan teknis seperti memilih hotel atau menon aktif-kan beberapa anggota organisasi, tapi juga menyangkut hal-hal yang sifatnya lebih strategis, dan di hal yang strategis inilah terkadang kita temukan kebijakan itu juga berupa hasil ijtihad dari para ahli/pakar yang dihimpun untuk memusyawarahkannya, seperti yang santer terdengar dimana sebuah parpol Islam telah bersedia menjadikan non muslim sebagai aleg dan pengurus di struktural partai. Terlepas benar atau tidaknya berita itu, kendatipun itu benar maka jika Anda konsisten dengan pernyataan Anda di atas (yaitu tidak mengurusi dapur (kebijakan internal khusus)), maka itu artinya Anda tidak akan mengomentari dengan bernada menyalahkan parpol Islam dengan kebijakannya itu. Begitukah???Lihat Selengkapnya

18 September jam 15:03 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf:

Yang Pertama:
Kita sebenarnya disini hanya membahas substansi ijtihad. Insya Allah apa yang kita pahami tentang arti ijtihad insya Allah kurang lebih sama.

Point yang utama, Para Ulama-lah yang patut menjadi mujtahid atas apa yang akan di ijtihad-kan.

Setiap umat Islam boleh bertaklid kepada para ulama. Tentu yang paling utama adalah menjadi Muqallid muttabi’. Pahala dapat atau tidaknya itu Allah yang menjadi hakimnya. Bukan antum atau saya!

Thaghut berbeda maknanya disetiap penguasa. Contoh kasus Al Qaedah menjadikan Arab Saudi sebagai Thagut, namun Arab Saudi dan para ulamanya juga menganggap Al Qaedah juga thagut. Setiap penafsiran Al Quran seringkali memang tidak terlepas dari dimana dan untuk kepentingan apa! :D

Kedua:

Maka dari itu ketika ada harakah yang berijtihad melegitimasi keharaman Demokrasi, maka selayaknya ijtihad tersebut dipegang penuh dan membuang jauh-jauh hal-hal yang semuanya berkaitan dengan Demokrasi. Semua termasuk ‘urf Demokrasi. Dengan begitu sangat jelas ijtihad tersebut dilaksankan. Bukan hanya sekedar simbolisasi legalitas keharamannya.

Pandangan demokrasi dengan substansi Furu’ masalah Qunut, wudhu, dll. Adalah sama, Ijtihad para ulama. Kita mengambil yang lebih dalam dari sekedar huruf, yaitu substansinya!

1. Tentu Demokrasi tidak menjadi bahasan perbedaan dikalangan sahabat dan ulama salaf ketika itu. Yah seperti Rokok, obat bius, infus, dll. Karena ini bersifat ibadah ‘ammah, bukan mahdah jadi tidak masuk dalam wilayah furu’ tetapi ikhtilaf para ulama.

2. Penahanan maupun penangkapan aktivis harakah itu hal yang biasa. Tidak perlu digembar-gemborkan, karena setiap aktivis mempunyai pengalaman sendiri-sendiri dalam masalah tersebut. Efek perbedaan itu bukan menjadi titik tolaknya, tetapi cara-cara apa yang dilakukan itulah yang harusnya menjadi koreksi Hizbut Tahrir. Sekarang contoh kasus Hizbut Tahrir ketika dikiritik saja merasa dihujat, apalagi selebaran-seleberan Hizbut Tahrir yang jelas-jelas sering melakukan hujatan! Apalagi tidak jarang berita-beritanya kopi paste dan tanpa pertanggung-jawaban tentu hal ini bisa jadi pembunuhan karakter. Yah kalau seperti itu yah memang bersalah, harus ditangkap.

Contoh kasus, Hizbut Tahrir tidak ikut memerangi Israel. Tetapi mudah sekali mengklaim HAMAS sesat. Ini jelas membuat sakit hati muslim yang lainnya. Tentu orang-orang seperti ini memperkeruh suasana, tidak ikut memegang senjata (berperang) tapi malah mengolok-ngolok yang berperang. Ini ibaratnya sama seperti:
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At Taubah 107)

3. Ketentuan Islam Moderat Atau Radikal yang antum sebutkan menurut versi Amerika jelas berbeda. Arab Saudi yang mengharamkan Demokrasi tetapi dianggap sebagai negara Islam moderat oleh Amerika. PKS, Hamas, AKP, IM yang membolehkan Demokrasi tetap dianggap "teroris" oleh Amerika! Jadi tidak ada sangkut pautnya antara demokrasi dan pembagian Islam versi Amerika atas dasar halal dan haramnya Demokrasi.

Di Amerika dan sekutunya, Hizbut Tahrir sendiri walaupun mengharamkan Demokrasi, tidak mendapatkan julukan teroris oleh Pemerintahan Amerika! Bahkan tidak masuk daftar teroris di Amerika dan sekutunya. Bahkan IM yang notabene membolehkan Demokrasi tetapi menjadi salah satu daftar target teroris pemerintahan Amerika dan sekutunya.

Kadang realitas kebenaran itu sering dipendam agar orang tidak mengetahui, membuat propaganda luar agar orang bersimpati, tetapi kebenaran itu tidak bisa dipendam, dia akan lahir dan timbul sesuai apa yang digariskan-Nya. Dan membuka tabir serta tirai kebohongan-kebohongan.Lihat Selengkapnya

18 September jam 16:17 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

‎@akhi SP:
Maksud saya membedakan hal-hal tersebut, supaya HT lebih memfokuskan (perang pemikirannya) shira-ul Fikr-nya hanya pada hal-hal yang strategis dan berlaku umum di masyarakat. Itu adalah tanggung jawab kami dalam amar ma’ruf nahi munkar, sekalipun harus berhadapan para ulama, cendikiawan dan penguasa sekalipun yang mendukung ide yang menurut kami melanggar hukum syara’. Dari zaman shahabat, tabi’in dan seterusnya, saling mengoreksi dan membantah pendapat sesama Ulama adalah perkara yang lumrah. Apalagi, membantah pendapat penguasa yang menyimpang. Begitupula, harokah Islam lainnya, boleh saja mengoreksi HT. Dan, Status ane itu khan bukan melarang harokah lain untuk mengoreksi HT… :)

Akhi SP:

Terkait Thaghut, penjelasan pemahaman yang shahih tentang thaghut:

Ajaran nabi-nabi sebelum Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam memiliki inti yang sama, yaitu seruan kepada Tauhid dan penolakan kepada Thaghut:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).[QS:16.36]

Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan surah Al Baqarah ayat 256, yang potongan ayatnya berbunyi:
..
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[QS:2.256]

Makna ucapan Umar radhiyallaahu ‘anhu tentang thagut —bahwa thagut adalah setan— sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti MENYEMBAH BERHALA DAN MEMINTA KEPUTUSAN HUKUM KEPADANYA SERTA MEMBELANYA.

Ustadz ane pernah menjelaskan tentang makna thaghut, kata beliau, Thaghut berasal dari kata thagha (melampaui batas), artinya semua orang yang melampaui batas dari hukum-hukum Allah subhana wa ta’ala masuk dalam pengertian Thaghut.Lihat Selengkapnya

19 September jam 7:41 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

‎@Fajar:

Kalau satu qunut, yang lain nggak khan dihukum. Tetapi, jika yang satu menggunakan Demokrasi, yang lain tidak, maka akan dihukum. Dari situ saja, pasti perbedaan pendapat tentang Demokrasi tidak sama dengan perbedaan Qunut.

Meskipun HT tidak memiliki Askariyyah, bukan berarti syabab-nya tidak ada yang berjihad terhadap Zionis Israel. Ketentuan wajibnya syabab untuk Jihad terhadap Zionis Israel adalah perintah internal dikalangan Syabab Palestina yang mesti dilaksanakan dengan tanpa mengatasnamakan HT, tetapi bisa dengan sendiri-sendiri atau bahkan bergabung dengan batalyon Al Qasam-HAMAS, atau Jihad Islam.

bisa lihat:
http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/23/ahmad-al-qoshosh-media-informasi-hizbut-tahrir-lebanon-jihad-hukumnya-wajib/

Wah, ane belum tahu kalau HT nggak masuk daftar teroris. Antum punya link-link siapa saja yang didaftar teroris oleh AS? Yang ane tau, bahwa HT dianggap organisasi radikal, meskipun tidak menggunakan kekerasan. Ini link-nya:

http://www.foreignaffairs.com/articles/61200/zeyno-baran/fighting-the-war-of-ideas

Jazzakallaahu khaair, allaahu’alam bi-ash-showwab.Lihat Selengkapnya

19 September jam 8:11 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf:

Pertama:

Insya Allah masalah Thoghut antum sudah sepakat dengan saya.

Thaghut berbeda maknanya disetiap penguasa. Contoh kasus Al Qaedah menjadikan Arab Saudi sebagai Thagut, namun Arab Saudi dan para ulamanya juga menganggap Al Qaedah juga thagut. Setiap penafsiran Al Quran seringkali memang tidak terlepas dari dimana dan untuk kepentingan apa! :D

Jadi bisa jadi makna melampaui batas itu digunakan oleh setiap orang untuk menjuluki seseorang yang lain.

"setiap orang membenarkan perkataannya dengan dalil, masing-masing menggunakan dalil untuk memperkuat hujjah mereka. Dan satu sama lainnya menyatakan bahwa dalilnya paling kuat dan benar diatas yang lain. Serta melemahkan dalil yang lainnya."

Kedua:

:) Qunut, wudhu masuk dalam hal furu’ yang disitu substansi dalam furu’ itu adalah ijtihad itu sendiri. Nah tentu Qunut berbeda dengan Demokrasi, karena demokrasi masuk kedalam ranah ‘ammah, sehingga demokrasi masuk wilayah ikhtilaf bukan furu’, sehingga masuk kepada "fiqh" ikhtilaf. Bukan fiqh Furu’.

Fiqh ikhtilaf ini sama juga seperti boleh tidaknya puasa orang sakit dengan memakai infus, Obat bius guna mencegah rasa sakit, dan banyak lagi. Hal ini tidak pernah terjadi dimasa-masa sahabat dan Ulama salaf. Nah ini masuk dalam wilayah ikhtilaf para ulama, ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya.

Mohon berkali-kali diambil substansinya dari ijtihadnya. Dengan begitu titik pointnya bisa ketemu. Kalau antum bahas Furu’ lalu mengatakan berbeda dengan ikhitlaf, tentu berbeda, bahkan artinya juga berbeda. Tetapi yang kita ambil adalah ketika terjadinya furu’ ataupun ikhtilaf ulama dengan begitu substansinya yah Ijtihad itu sendiri.

Masalah Jihad di Palestina, dengan begitu sudah jelas. Bahwa memang Hizbut Tahrir hanya menyatakan seruan wajib, bukan kewajiban itu sendiri. Tentunya berbeda antara seruan dan kewajiban. Jika seruan, hanya sebatas simbolisasi saja, sehingga tidak ada legalitas keterlibatan harakah disini. Hal ini tentu sangat tidak bertanggung jawab, karena dengan begitu harakah seperti ini bisa lepas tangan jika nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Tetapi berbeda jika harakah tersebut menyatakan wajibnya berjihad di Palestina, maka seluruh komponen harakah dari atas sampai bawah melakukan perlawanan penuh, dan semua itu diback-up penuh oleh harakah, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang bertanggung-jawab adalah harakahnya, bukan individunya.

Brigade Al-Qossam itu bukan kelompok separatis akhi, yang mudah dimasuk-keluari oleh orang selain Hamas, Brigade Al-Qossam adalah tentara-tentara pilihan Hamas, mereka adalah loyalis Hamas sejati, tidak pernah berselisih apalagi membangkang. Jadi insya Allah tidak mungkin ada syabab Hizbut Tahrir yang masuk kesitu. Kecuali gerakan militan separatis, kemungkinan bisa dimasuk-keluari orang dengan seenaknya seperti syabab HT di Palestina.

Insya Allah, Hizbut Tahrir tidak masuk dalam target Teroris Amerika. Tidak seperti Hamas, dll. Antum bisa lihat langsung di link CIA, siapa target teroris yang dimaksud Amerika.

Bahkan kebanyakan target Teroris Amerika itu sama yang biasa disesat-sesatkan oleh Hizbut Tahrir.

Kalau dianggap gerakan Radikalnya amerika sih banyak, FPI, MMI, PKS, Muhammadiyah itu masuk gerakan yang dianggap radikal oleh Amerika, tetapi tidak masuk wilayah teroris. Jumlahnya banyak sekali gerakan Islam yang dianggap radikal oleh Amerika bisa ribuan organisasi.

Jadi sebaiknya, antum tidak mengkotak-kotakkan yang menolak demokrasi dengan sebutan teroris, toh jelas-jelas bahwa Amerika tidak menganggap organisasi Islam yang menolak demokrasi dianggap sebagai organisasi teroris. Yah semacam Hizbut Tahrir!

Karena organisasi yang memakai demokrasi untuk perjuangan Islam ternyata juga masuk daftar teroris.

Logikanya, jika Hizbut Tahrir dianggap sebagai organisasi teroris tentu sudah ditangkapi para syabab HT yang berada di Amerika dan sekutunya. Dari beberapa informasi ikhwah yang di Inggris dan Amerika, HT disana termasuk yang "disenangi" oleh mereka (Amerika dan inggris). Karena dengan ulah HT, umat Islam disana bisa terbelah dan tidak menjadi kesatuan utuh dalam mempunyai para wakil disetiap pemerintahannya.

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

19 September jam 10:57 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

‎@Akhi Fajar:
Yang ane fahami adalah, Furu’ itu adalah lawan dari ushul. Sedangkan Ikhtilaf (perselisihan) adalah Ijma’ (kesepakatan). Ane, belum bisa memahami kerangka dasar pemikiran antum dalam hal ini.

Meskipun dijumpai banyak perbedaan dikalangan Ulama, tetapi tidak boleh kita memilih-milih pendapat yang paling ringan, tetapi harus semata-mata didasarkan pada dalil yang terkuat. Karena, tidak semua pendapat hasil ijtihad yang berbeda adalah salah, dan tidak semua pendapat hasil ijtihad yang berbeda adalah benar. Kalau kita membenarkan semua pendapat hasil ijtihad yang berbeda, maka itu bukan berarti kita menghormati Ulama yang mengeluarkan ijtihad, tetapi karena kita terpengaruh pemahaman Pluralisme. Apalagi, Ulama salaf yang menetapkan ijtihad tersebut telah mewanti-wanti agar pengikutnya tidak mengikuti semua pendapat mujtahid tersebut apabila ternyata ditemukan hadist yang shahih yang ternyata bertentangan dengan hasil ijtihadnya. Bisa lihat di mukaddimah kitab Sifat sholat Nabi karangan Syaikh Albani rahimahullah, dan kitab Ushul Fiqh yang membahas tattabu ar-rukhsah.

Thaghut sendiri, punya banyak pengertian. Kalau ada yang menolak penjelasan Ulama Salaf (bukan Ulama Mutakhirin lho..), ya terserah saja. Yang penting, sudah ane sampaikan.

antum bisa lihat link:
http://knrp.or.id/berita/aktual/mossad-keluarkan-daftar-organisasi-teroris-12-di-antaranya-di-indonesia.htm

Diantara daftar tersebut, ada :"memasukkan Kelompok Islam di Uzbekistan yang berusaha untuk mendirikan sebuah negara Islam di negara itu.". Kira-kira siapa ya?

Ane mohon antum sertakan link atau referensi yang menetapkan bahwa PKS, dan AKP, dianggap organisasi teroris. Syukran, Jazzakalaahu khaair.Lihat Selengkapnya

19 September jam 12:10 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf: Yaa akhi yang insya Allah dirahmati oleh Allah.

Dalam masalah furu’ dan ushul antum telah membuat tema lain lagi. Masalah ini jelas terjadi khilaf diantara para ulama, sebagian menyatakan bahwa tidak ada pembagian sebagian lagi memang terjadi pembagian.

Disini ulama yang membagi furu’ dan ushul ini adalah lebih kepada mengedepankan ghalabatu-zhann, yaitu dugaan yang kuat diantara dua ijtihad perbedaan para ulama yang bisa jadi kedua-duanya mempunyai kebenaran.

Masalah ikhtilaf dan Ijma’ itu berbeda. Dalam ikhitlaf itu pada ranah fiqh sedangkan ijma’ itu pada ranah syari’at. Nah kedua hal ini harus dibedakan, namun tetap memiliki korelasi satu dengan yang lainnya. Tidaklah akan terjadi ikhtilaf jika sudah ada ijma’.

Jika kita membahas masalah ini, maka akan lari dari tema yang sebenarnya. Yaitu substansi ijtihad.

Gampangannya begini akhi.
Kenapa terjadi Furu’iyah (cabang-cabang)? Karena ada ijtihad para ulama.

Kenapa terjadi Ikhtilaf? Karena ada ijtihad para ulama.

Nah dua hal ini jelas, substansinya adalah terjadinya perbedaan pendapat yang satu dengan yang lainnya dengan membuat fatwa-fatwa yang berbeda.

Insya Allah saya sudah menjelaskan diatas tentang memilih madzhab:
1.
Contoh kasus, ketika imam Maliki membolehkan (menghalalkan) makan daging anjing lalu imam salaf yang lainnya mengharamkannya, maka bagi penuntut ilmu bukan menghakimi siapa yang benar dan salah, tetapi diyakini hatinya sendiri untuk mengambil madzhab mana yang ingin dia ikuti.
2.
Setiap umat Islam boleh bertaklid kepada para ulama. Tentu yang paling utama adalah menjadi Muqallid muttabi’. Pahala dapat atau tidaknya itu Allah yang menjadi hakimnya. Bukan antum atau saya!

Dan perlu di ingat bahwa dari kedua ijtihad dimungkinkan terjadi kebenaran yang sama. Atau sama-sama mempunyai kekuatan dalil, maka dari itu ada yang dinamakan Istihsan. Imam Al-Syathibi berkata "Salah seorang pengikut Maliki mengakatan, "Menurut kami dan madzhab Hanafi, istihsan adalah mengamalkan salah satu di antara dua dalil yang paling kuat…" Hal ini karena menggunakan ghalabatu-zhann.

Dengan menggunakan ghalabatu-zhann maka kita akan mengedepankan rasa hormat kepada para ulama, karena menganggap satu sama lainnya punya kekuatan dalil. Sehingga tidak mudah menyesat-nyesatkan ijtihad ulama yang lain.

Contoh kasus, ketika kita berada pada ranah Imam Syafi’i, maka Qunut itu menjadi hal yang harus dilakukan saat subuh, walaupun tidak wajib. Tetapi di Imam Ahmad, qunut shubuh itu adalah hal yang mengada-ada. Sedangkan mereka adalah guru dan murid, sekarang mana ada pengikut Imam Syafi’i yang menyatakan dalil qunut mereka lemah, atau sebaliknya pengikut Imam Ahmad yang menyatakan dalilnya lemah. Tidak ada, tetapi satu sama lainnya menguatkan dalil mereka masing-masing. Nah padahal itu berada pada Ibadah mahdah, apalagi dalam tataran wilayah ‘ammah yang tidak ada dalilnya, tentu ijtihad para ulama akan berbeda-beda, dan terjadi khilaf diantara satu dengan yang lainnya.

Contoh kasus, lagi. Ketika Demokrasi haram, menurut Hizbut Tahrir dan Hizb Salafy, walaupun sama-sama mengharamkan masih saja terjadi khilaf diantara keduanya. Bahkan satu sama lainnya terlihat menyerang dalil-dalil keharaman demokrasi. Nah ini karena masuk pada ranah ‘ammah, maka terjadi ikhitilaf, ada furu’iyah dalam keharaman Demokrasi. Nah karena masing-masing tidak menggunakan istihsan/ghalabatu-zhann, maka yang terlihat adalah merasa paling benar sendiri atas ijtihad para ulamanya.

Nah, dalam Islam ada bentuk plural. Tentu kita harus membedakan antara plural dengan pluralisme, jangan sampai kedua-duanya hanya karena kata asalnya sama lalu dibuat bentuk jama’ berarti semua maknanya sama.

Contoh kasus masalah sedekap, dalam Syekh Albani dan Syekh bin Baz terjadi perbedaan dan satu sama lainnya menguatkan pendapatnya masing-masing. Ada orang yang mengatakan pendapatnya lebih kuat Syekh bin Baz, ada juga yang menguatkan pendapatnya Syekh Albani.

Dan ungkapan yang paling benar bagi saya adalah ketika Imam Syafi’i menyatakan yang pada intinya "boleh jadi saya yang benar dan kamu yang salah, boleh jadi saya yang salah dan kamu yang benar"

Serta ucapan Imam Maliki yang pada intinya "Janganlah engkau menjadikan madzhabku sebagai madzhab seluruh umat Islam, karena jika itu yang terjadi maka akan terjadi fitnah dimana-mana"Lihat Selengkapnya

19 September jam 23:18 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Masalah thaghut.

Wah, berarti saya bisa jadi salah ketika bersandar kepada ustad antum yang menyatakan:
‘Ustadz ane pernah menjelaskan tentang makna thaghut, kata beliau, Thaghut berasal dari kata thagha (melampaui batas), artinya semua orang yang melampaui batas dari hukum-hukum Allah subhana wa ta’ala masuk dalam pengertian Thaghut."
Karena seperti yang antum sebutkan "(bukan Ulama Mutakhirin lho..)"

Begini akhi, maksud yang ingin saya sampaikan kepada antum. Bahwa Thaghut itu memang seperti apa yang antum utarakan sesuai dengan ulama salaf tersebut. Tetapi, (Nah ada "TETAPInya") ketika makna thaghut para ulama salaf dan sahabat itu berada pada masing-masing individu pergerakan, maka yang terjadi adalah perbedaan maknanya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 seperti yang antum katakan surat Al Baqarah 256. Dari Hassan (Yaitu Ibnu Qaid Al-Absi) yang menceritakan bahwa Umar r.a. pernah mengatakan "Sesungguhnya al-jibt adalah sihir dan thaghut adalah setan. Sesungguhnya sifat berani dan sifat pengecut ada di dalam diri kaum lelaki; orang yang pemberani berperang membela orang yang tidak dikenalnya, sedangkan orang yang pengecut lari tidak dapat membela ibunya sendiri. Sesungguhnya kehormatan seorang lelaki itu terletak pada agamanya, sedangkan kedudukannya terletak pada akhlaknya, sekalipun ia seorang Persia atau seorang Nabat."

Hal yang sama diriwiyatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui riwayat As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Hassan Ibnu Qaid Al-abdi, dari Umar
Makna ucapan Umar tentang thaghut "bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya.

Imam Malik bin Anas r.h. berkata:
“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah swt.”
(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)

Imam Ibnu Qayim r.h. berkata:
“At -thaghut adalah seseorang yang menghormati seseorang melibihi batasan yang seharusnya, apakah seseorang itu menyembah, menaati atau mengikuti.” (Diriwayatkan dalam Thalaathatul Usul)

Ini bisa jadi setiap harakah menafsirkan sendiri-sendiri. Beberapa ulama menyatakan bahwa makna ucapan Umar yang kedua adalah lebih kepada memenuhi tuntutan orang/penguasa yang melakukan kejahatan, dan dari kejahatannya itu setiap orang tunduk dan patuh atas keputusan hukum yang diambil oleh penguasa jahat tersebut.

Nah sekarang akhirnya merujuk pada fatwa Umar yang pertama, dimanakah orang yang berani berperang membela orang yang tidak dikenalnya? Menghancurkan penguasa jahat tersebut.

Hal ini tidak bisa dimaknai Jama’, bahwa setiap pemerintahan yang tidak mengacu kepada hukum Islam adalah Thaghut. Mengacu kepada Qiyas para ulama, bahwa banyak para muslim yang ternyata berada pada kekuasaan penguasa kafir. Dan tentunya jika ini dimaknai jama’ maka imbasnya, orang yang berada pada kekuasaan kafir maka termasuk "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya" karena tentunya setiap orang yang berada pada daerah tertentu merupakan (wilayah kafir) yang mempunyai hukum dan aturan terntu dan itu wajib setiap orang yang berada pada wilayah tersebut mematuhinya!

Contohnya wilayah Perancis yang melarang penggunaan Niqab ataupun jilbab yang berada pada wilayah pemerintahan, sekolah dan rumah sakit. Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!

Wallahu’alam, saya tidak mengetahui Kelompok Islam di Uzbekistan yang berusaha untuk mendirikan sebuah negara Islam disana. Karena tidak ada jelas siapa mereka, tentu bagi kita bukanlah orang yang mengandai-andai. Jikalau Kelompok Islam di Uzbekistan yang berusaha mendirikan sebuah negara Islam di-identikkan HT, tentunya HT Amerika dan sekutunya juga berteriak-teriak khilafah tetapi toh tidak masuk daftar teroris Israel. Taliban yang mendirikan negara Islam toh bukan dari HT, ataupun Maroko yang berlabel hukum Islam dan menyatakan diri sebagai negara Islam, toh juga bukan dari HT. Jadi, sebaiknya tidak menduga-duga atau berprasangka.

Untuk PKS dianggap teroris, bisa dilihat disini. Tentunya bukan jelas atas PKS yang dilabelkan teroris, jika yang terjadi seperti itu Indonesia bisa benar-benar dipermalukan oleh Amerika, "masa negera menerima partai yang masuk daftar Teroris Amerika"

hafez.wordpress.com/2007/11/09/heboh-ceramah-taufik-kiemas-di-rsis-singapura/
www.gatra.com/2004-02-26/artikel.php?id=34534
www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=30018

Maaf untuk AKP, setelah saya cari link yang terdahulu sudah tidak ada. "Page Not Found"

dan untuk Hamas, bisa dilihat di link ini
www.state.gov/s/ct/rls/other/des/123085.htm

Mohon bisa sepesifik informasinya dimana dan kapan Hizbut Tahrir masuk dalam daftar teroris yang antum maksud. Syukron.

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

19 September jam 23:20 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎@ Riyan:
Perkataan Anda: "Tidak mungkin, suatu perkara dikatakan benar dan salah secara bersamaan. Yang ada, hanya salah satunya, yaitu benar dan salah, halal dan haram. Begitu pula, terhadap perkara ijtihadiyah, tidak mungkin semua pandangan yg berbeda itu salah semua, atau benar semua. Yang ada adalah, ada yang salah dan ada yang benar."

Pada kasus pasca perang khandaq, dimana para sahabat yang diutus kpd bani khuraizah (yahudi) saling berbeda pendapat memahami petunjuk Rasulullah saw. mengenai waktu pelaksanaan shalat ashar. Sebagian sahabat melaksanakannya di awal waktu dan sebagian lainnya mentakhirkannya. Ketika hal tsb disampaikan kpd Rasulullah saw, lihatlah apa tanggapan beliau, kedua perbuatan sahabat tsb dibenarkan. Dari kisah ini, maka jelaslah bahkan Nabi saja tidak melakukan vonis benar-salah..
Dimana logika Anda itu dalam kasus ini? Tidakkah cukup mendapat nilai 1 pd ijtihad yang salah menjelaskan kendati ijtihadnya salah tetap mendapat hadiah. Artinya kesalahan dalam mengeluarkan keputusan tidak selamanya disebut dosa.Lihat Selengkapnya

20 September jam 9:46 · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎@ Riyan: Menjadikan demokrasi sebagai wasilah dakwah terutama untuk mencapai kekuasaan, adalah sebuah ijtihad dari para ulama. Ingat, para ulama, bukan hanya satu ulama saja. Jika HT memvonis ikut demokrasi itu haram, berarti HT menilainya jatuh kepada dosa. Itu artinya HT memandang perkara ini bukanlah sebuah ijtihad?

Mengenai jihad palestina.. Anehlah HT berjihadnya tidak pakai lembaga HT, padahal di beberapa kesempatan, media dan tulisan, HT berkata jihad adalah solusi Palestina. Solusi itu artinya jawaban atas masalah atau jalan keluar. Masa untuk perkara demonstrasi (yg bukan dianggap solusi) HT menggunakan lembaga, sedangkan untuk perkara jihad Palestina yang jauh lebih besar bahkan merupakan solusi tidak menggunakan lembaga. Jadi terkesan memang HT itu fokusnya untuk membongkar2 kesalahan yang belum tentu salah dimata pihak lain.., sebab pada dasarnya demonstrasi itu kan bentuk protes. Lihat Selengkapnya

20 September jam 10:12 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:
antum berkata:
"Hal ini tidak bisa dimaknai Jama’, bahwa setiap pemerintahan yang tidak mengacu kepada hukum Islam adalah Thaghut. Mengacu kepada Qiyas para ulama, bahwa banyak para muslim yang ternyata berada pada kekuasaan penguasa kafir. Dan tentunya jika ini dimaknai jama’ maka imbasnya, orang yang berada pada kekuasaan kafir maka termasuk "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya" karena tentunya setiap orang yang berada pada daerah tertentu merupakan (wilayah kafir) yang mempunyai hukum dan aturan terntu dan itu wajib setiap orang yang berada pada wilayah tersebut mematuhinya!

Antum melakukan generalisasi bahwa setiap orang yang hidup dibawah kekuasaan thaghut berarti adalah pembela dan penyembah thaghut.

1) Telah jelas di dalam sirah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam dan shahabatnya hidup dibawah kekuasaan thaghut musyrikin mekah. Tetapi, tidak ada ayat atau hadist yang menyatakan bahwa Nabi dan Shahabatnya termasuk sebagai pembela dan penyembah thaghut, padahal ayat-ayat yang berisi seruan untuk menjauhi thaghut masih turun. Jadi, sebelum kita berbicara dengan Qiyash, maka kita harus merujuk Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ shahabat terlebih dahulu.

Antum berkata:
"Contohnya wilayah Perancis yang melarang penggunaan Niqab ataupun jilbab yang berada pada wilayah pemerintahan, sekolah dan rumah sakit. Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!"

2)Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut. Tetapi, kata-kata antum menyiratkan secara implisit bahwa Negara Perancis bukan sebagai negara thaghut. Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut.

Sesungguhnya, di dalam referensi Fiqh Daulah atau Fiqh Siyasah yang ditulis Ulama terdahulu dan saat ini, dikenal istilah Darul Islam dan Darul Kufur. Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah. Tetapi, kalau dari pandangan antum, Perancis itu bukan negara Thaghut, dan bukan darul Kufur. Benar nggak??

Pendapat pribadi:
Dengan menggunakan thariqul Jam’i terhadap perkataan Umar radhiyallahu anhu diatas dapat difahami bahwa thghut itu adalah Setan. Dan Setan itu ada yang berwujud manusia dan ada yang berwujud Jin. Setan yang berwujud manusia itu, salah satnya adalah orang yang Fasiq, orang yang kafir dan penguasa yang menerapkan aturan selain dari Allah subhana wa Ta’ala. Jadi, dalam pandangan ane, kata-kata umar radhiyallaahu ‘anhu tersebut tidak bertentangan.Lihat Selengkapnya

20 September jam 21:09 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:
Yang terbaru, PKS masih dianggap organisasi teroris atau terkait dengan teroris?

HT itu semuanya adalah sama dan satu struktur. Jika di Uzbek dimasukkan organisasi teroris atau di asia tengah dianggap organisasi radikal berarti semua HT dianggap sama. Tetapi, nggak apa kau antum juga meragukan maksud gerakan di Uzbek yang ingin mendirikan khilafah. Tetapi, paling tidak di link situs resmi council of Foreign Affair itu telah jelas menetapkan bahwa HT meskipun tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi ajarannya memicu tindakan kekerasan, alias dianggap Islam radikal.

Allaahu’alam bi-ash-showwab.Lihat Selengkapnya

20 September jam 21:20 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi SP:

Riwayat tentang perdebatan dikalangan shahabat terhadap pelaksanaan shalat ashar di tempat bani Qurayzah adalah benar menunjukkan hasil ijtihad yang berbeda tetapi keduanya dibenarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam. Syara’ memperbolehkan jama’ tetapi syara’ juga memberikan pujian bagi sholat di awal tepat pada waktu bagi musafir.

Akan tetapi, sikap shahabat yang senantiasa melaporkan dan mengadukan ikhtilaf dikalangan mereka kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam menunjukkan bahwa:

1) Masing-masing kelompok shahabat, membenarkan pendapat mereka dan menganggap lemah atau salah pendapat kelompok yang lain. Karena, tidak mungkin ada perselisihan atau pertengkaran yang mesti diselesaikan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam jika masing-masing kelompok shahabat telah membenarkan pendapat kelompok shahabat yang lainnya.

2) para shahabat mengkhawatirkan kalau-kalau ijtihad mereka adalah salah, sekalipun hasil ijtihad itu telah mereka putuskan dengan segenap kemampuan mereka.

Riwayat lainnya membahas kondisi dimana Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa salam tidak menganggap benar setiap ijtihad shahabat atau menguatkan salah satu-nya:
——————-
Riwayat #1:

Suatu saat salah seorang shahabat terluka dikepalanya, dan berada dalam keadaan junub, sehingga dia harus mandi janabat (ghusl) sebelum melaksanakan shalat. Maka dia bertanya kepada para shahabat, apakah dia bisa me1akukan tayamum sebagai ganti janabat (ghusl). Para shahabat memberitahu bahwa mereka tidak menemukan keringanan baginya untuk bertayamum. Maka shahabat yang terluka kepalanya pun mandi, dan akhirnya meninggal. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam mendengar kejadian ini. maka beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda:

قَتَلوْهُ
..Mereka telah membunuhnya?..

Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam melanjutkan sabdanya:

أَلاَ سَأَلُوْا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوْا
..Seharusnya mereka bertanya jika mereka tidak tahu. (HR Abu Dawud)
——————-
Riwayat #2:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan

firman-Nya:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
…, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…[QS:4.59]

Bahwa Rasulullab shallallaahu ‘alaihi wa salam pernah mengirimkan suatu pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid radhiyallaahu ‘anhu, di dalam pasukan ini terdapat Ammar ibnu Yasir.

Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh mereka; dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat karena hari telah malam. Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan mereka, Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka dikemasi. Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam hari menuju ke tempat pasukan khalid ibnul Walid.

Setelah ia sampai di tempat pasukan kaum muslim, maka ía menanyakan tentang Ammar ibnu Yasir, lalu Ia datang kepadanya dan mengatakan, “Hal Abul Yaqzan, sesungguhnya sekarang aku masuk Islam dan
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Sesungguhnya kaumku setelah mendengar kedatangan kalian; mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di tempat. Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti? Jika
tidak, maka aku pun akan ikut lari”Ammar menjawab, “Tidak, bahkan Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu. Sekarang pulanglah, dan
tetaplah di tempat tinggalmu!” Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya.

Pada keesokan harinya Khalid ibnut Walid datang menyerang, dan teryata ia tidak menemukan seorang pun dan musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya dan mengambil semua hartanya. Ketika
sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya,

“Lepaskanlab lelaki ini, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya ia telah berada di bawah perlindunganku.” Khalid berkata, “Atas dasar apakah kamu memberi perlindungan’?”
Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya melaporkan penistiwa itu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam.

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan penlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan.
——————-

Jadi, tidak berarti bahwa setiap ijtihad shahabat selalu dibenarkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa salam, karena ada kalanya rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam menguatkan salah satu pendapat ijtihad shahabat seraya melemahkan pendapat yang lain, atau bahkan menyalahkan semua pendapat ijtihad shahabatnya sama sekali. Secara hakikat, adalah benar bahwa hanya Allah Subhana wa Ta’ala saja yang Maha Mengetahui mana yang paling benar diantara semua pendapat ijtihad. Tetapi, Allah Subhana wa Ta’ala juga menurunkan ajaran melalui Rasul-Nya, yang kemudian sebagian ahli ilmu (Ulama yang Faqih dan wara’) dapat menggalinya untuk menentukan mana pendapat yang paling kuat dan paling benar, dan mana yang salah atau lemah. Kita, tinggal mempelajarinya dan memilihnya yang terbaik (sesuai nash) saja.

Perkataan yang terkenal dari Imam Syafi’i rahimahullah “Ra’yi shawab yahtamil al-khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ yahtamil al-shawab" (Pendapatku adalah benar meskipun ada kemungkinan salah, pendapat selainku adalah salah meskipun ada kemungkinan benar).Lihat Selengkapnya

20 September jam 21:23 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf ‎@Fajar: coba antum cek:
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_designated_terrorist_organizations

20 September jam 21:41 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf: Subhanallah akhi, ana bingung dengan antum.

Antum sering sekali memenggal sepenggal kalimat saya, dan lalu antum maknai sebagai kesalahan.Padahal substansi, konteksnya insya Allah sudah sangat JUELAS SEKALI :D

Pernyataan Saya:
"Hal ini tidak bisa dimaknai Jama’, bahwa setiap pemerintahan yang tidak mengacu kepada hukum Islam adalah Thaghut. Mengacu kepada Qiyas para ulama, bahwa banyak para muslim yang ternyata berada pada kekuasaan peng…uasa kafir. Dan tentunya jika ini dimaknai jama’ maka imbasnya, orang yang berada pada kekuasaan kafir maka termasuk "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya" karena tentunya setiap orang yang berada pada daerah tertentu merupakan (wilayah kafir) yang mempunyai hukum dan aturan terntu dan itu wajib setiap orang yang berada pada wilayah tersebut mematuhinya!

Jawaban Antum:

Antum melakukan generalisasi bahwa setiap orang yang hidup dibawah kekuasaan thaghut berarti adalah pembela dan penyembah thaghut.

1) Telah jelas di dalam sirah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam dan shahabatnya hidup dibawah kekuasaan thaghut musyrikin mekah. Tetapi, tidak ada ayat atau hadist yang menyatakan bahwa Nabi dan Shahabatnya termasuk sebagai pembela dan penyembah thaghut, padahal ayat-ayat yang berisi seruan untuk menjauhi thaghut masih turun. Jadi, sebelum kita berbicara dengan Qiyash, maka kita harus merujuk Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ shahabat terlebih dahulu.

Jawaban Saya:
Sudah sangat jelas kalau saya mengatakan "HAL INI TIDAK BISA DIMAKNAI JAMA’…..MENGACU PADA QIYAS PARA ULAMA….DAN TENTUNYA JIKA INI DIMAKNAI JAMA’ MAKA IMBASNYA…"

Nah coba dilihat lagi, jawaban antum itu membenarkan jawaban saya.

Lihat kata "DIMAKNAI JAMA’" dan"TENTUNYA JIKA" serta "IMBASNYA". Nah jika kita memaknai secara tekstual Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 Al Baqarah 256 yang mengacu kepada Pendapat Umar:
"Makna ucapan Umar tentang thaghut "bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya."

Maka imbasnya akan kena semua orang yang berada di negeri kafir. Maka dari itu ada Qiyas para ulama, seperti dalil yang antum sebutkan, itu merupakan hukum Qiyas para ulama yang menyatakan bahwa orang yang berada di negeri kafir, tidak/belum tentu "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya"

Akhi, coba dibaca dan dicerna dulu. Sebelum menyalahkan orang lain.

Pernyataan Saya:
"Contohnya wilayah Perancis yang melarang penggunaan Niqab ataupun jilbab yang berada pada wilayah pemerintahan, sekolah dan rumah sakit. Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!"

Jawaban Antum:
2)Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut. Tetapi, kata-kata antum menyiratkan secara implisit bahwa Negara Perancis bukan sebagai negara thaghut. Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut.

Jawab Saya:
Akhi, antum sangat membingunkan, di no 1 antum menyalahkan saya karena menyatakan saya dengan kalimat "Antum melakukan generalisasi bahwa setiap orang yang hidup dibawah kekuasaan thaghut berarti adalah pembela dan penyembah thaghut."

Dan dijawaban kedua, antum menyatakan kesepakatan bahwa saya tidak men-generalisir "Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut"

Afwan, akhi. Antum kok (bahasa jawanya) mencla-mencle.

Di kalimat akhir tulisan saya " Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!"

Inikan jelas yang dibahas itu adalah "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya" atau makna thoghut yang dimaknai para ulama salaf. Dan tidak bisa digeneralisir juga bahwa semua hukum kafir itu secara otomatis menjadi thaghut!

Jawaban Antum:
Sesungguhnya, di dalam referensi Fiqh Daulah atau Fiqh Siyasah yang ditulis Ulama terdahulu dan saat ini, dikenal istilah Darul Islam dan Darul Kufur. Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah. Tetapi, kalau dari pandangan antum, Perancis itu bukan negara Thaghut, dan bukan darul Kufur. Benar nggak??

Jawaban saya:
Referensi antum itu adalah referensi ijtihad akhi, bukan mutlak kebenarannya. Dan saya tidak sependapat dengan itu tetapi saya menghormati ijtihad tersebut.
Negeri kafir itu bukan berarti secara otomatis negeri thaghuttiyah yang seperti antum katakan. Dan jika itu yang terjadi, maka hampir 99% seluruh dunia ini ini dikuasai oleh thaghut. Dan semua 99% semua pemerintahan itu walaupun berhukum Islam selain Syari’at Hizbut Tahrir adalah Thaghut!

Jika seperti itu, maka antum "mengebiri" dalil antum sendiri. Lihat no 1. Lalu apakah Rasulullah mengajarkan kita untuk menyembah Thaghut dengan menyuruh Sahabat-sahabatnya berhijrah ke negeri kafir? Seperti dalam hadits “Pergilah kalian ke Bumi habasyah, sesungguhnya di sana ada Raja yang tidak mendzalimi seorangpun, hingga Allah membuat jalan keluar untuk kalian dari kesusahan ini.”

Jadi sudah sangat jelas, pemerintahan kafir itu bukan secara otomatis pemerintahan Thoghut! Karena Thoghut itu mencakup segala aspek seperti orang, benda, penguasa, dll. Coba lihat pernyataan Imam Maliki
Imam Malik bin Anas r.h. berkata:
“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah swt.”
(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)

lalu Imam Ibnu Qayim r.h. berkata:
“At -thaghut adalah seseorang yang menghormati seseorang melebihi batasan yang seharusnya, apakah seseorang itu menyembah, menaati atau mengikuti.” (Diriwayatkan dalam Thalaathatul Usul)

Lalu lihat pernyataan Umar " "bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya."

Dimana letak spesifik kalimat thaghut itu adalah pemerintahan/penguasa atau hukum kafir saja? Apalagi menyatakan bahwa pemerintahan kafir itu secara otomatis pemerintahan thaghut?

Kembali seperti apa yang dibilang ustad antum "Ustadz ane pernah menjelaskan tentang makna thaghut, kata beliau, Thaghut berasal dari kata thagha (melampaui batas), artinya semua oran…g yang melampaui batas dari hukum-hukum Allah subhana wa ta’ala masuk dalam pengertian Thaghut."

Dengan merujuk pada makna kalimat awal "Melampaui Batas", maka setiap orang/kelompok jika melampaui batas maka mereka adalah thoghut, seorang muslim juga bisa menjadi thoghut, bahkan Hizbut Tahrir yang senang menyesat-nyesatkan harakah yang lainnya juga bisa disebut sebagai Thaghut!

Nahkan, seperti apa yang saya katakan dari awal.
"Thaghut berbeda maknanya disetiap penguasa. Contoh kasus Al Qaedah menjadikan Arab Saudi sebagai Thagut, namun Arab Saudi dan para ulamanya juga menganggap Al Qaedah juga thagut. Setiap penafsiran Al Quran seringkali memang tidak terlepas dari dimana dan untuk kepentingan apa! :D"Lihat Selengkapnya

20 September jam 23:43 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Part II
Ketika antum menyatakan pendapat antum pribadi, hal ini malah bertentangan dengan pendapat jamaah antum
Pertama:
Sesungguhnya, di dalam referensi Fiqh Daulah atau Fiqh Siyasah yang ditulis Ulama terdahulu dan saat ini, dikenal istilah Darul Islam dan Darul Kufur. Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah

Kedua:
Pendapat pribadi:
Dengan menggunakan thariqul Jam’i terhadap perkataan Umar radhiyallahu anhu diatas dapat difahami bahwa thghut itu adalah Setan. Dan Setan itu ada yang berwujud manusia dan ada yang berwujud Jin. Setan yang berwujud manusia itu, salah satnya adalah orang yang Fasiq, orang yang kafir dan penguasa yang menerapkan aturan selain dari Allah subhana wa Ta’ala. Jadi, dalam pandangan ane, kata-kata umar radhiyallaahu ‘anhu tersebut tidak bertentangan.

Dengan gamblang di komentar pertama, bahwa secara otomatis negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah. Ini dengan spesifik menyatakan Thaghut adalah Pemerintahan/penguasa dan hukum kufur.

Sedangkan komentar antum yang kedua. Malah melemahkan pendapat yang diatas, bahwa "thghut itu adalah Setan. Dan Setan itu ada yang berwujud manusia dan ada yang berwujud Jin…"

Nahkan, sangat membingungkan sekali. Dilain pihak spesifik pemerintahan/penguasa tetapi disisi lain adalah seperti hujjah yang saya utarakan.

Apa yang ana sebutkan itu sudah Qiyas para Ulama. Dan pernyataan Umar dan para Ulama Salaf itu sudah saling berkaitan dengan jelas maksud thaghut tersebut.

Maka dari itu (afwan) Hizbut Tahrir sering dibingungkan dengan fatwanya sendiri. Mengambil sepenggal "seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya." Dianggap sebagai haram mutlak menerima hukum selain hukum Allah. Jika seperti itu, maka tentunya semua umat Islam yang berada pada naungan kafir secara otomatis penyembah Thaghut, karena sudah jelas-jelas dan otomatis menerima hukum selain hukum Allah. Tetapi bagi saya dan sebagian banyak orang tidak seperti itu!

Tentunya jika memang haram mutlak berada pada naungan hukum kafir, maka tentu ada ayat dan hadits yang akan disampaikan kepada kita semua. Maka dari itu ulama salaf menyatakan itu sebagai ruang kelonggaran (al-’afw) dan itu merupakan sengaja diberikan Allah sebagaimana sabda Rasulullah:
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketentuan-Nya, janganlah kalian langgar. Dia telah menetapkan beberapa perkara wajib, janganlah kaliang sia-siakan. Dia telah mengharamkan beberapa perkara, janganlah kalian langgar, Dan, Dia telah membiarkan dengan sengaja beberapa perkara sebagai bentuk kasih-Nya terhadap kalian, jangan kalian permasalahkan!" (HR. Al-Daruquthni)

"Biarkanlah apa yang aku biarkan untuk kalian" (HR Ahmad, Al-Bukhari, Al-Nasa’i, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah)Lihat Selengkapnya

20 September jam 23:44 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Masalah Ijtihad:

Sudah saya sampaikan, yang kita singgung adalah masalah ijtihad ulama dimana kita harus menghormatinya satu sama lainnya walaupun bertentangan, tidak mudah menyesat-nyesatkan fatwa yang berbeda.

Yang dibahas dalam substansi ijtihad itu adalah ketika terjadi perbedaan. Maka terjadi ikhtilaf para ulama dalam menentukan fatwa-fatwa masing-masing.

Seperti yang antum katakan:
Perkataan yang terkenal dari Imam Syafi’i rahimahullah “Ra’yi shawab yahtamil al-khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ yahtamil al-shawab" (Pendapatku adalah benar meskipun ada kemungkinan salah, pendapat selainku adalah salah meskipun ada kemungkinan benar).

Ini adalah seorang ulama salaf yang berkata, beliau tidak ingin menyatakan bahwa pendapat beliau adalah mutlak kebenarannya, tetapi menyangkal pendapat yang lain dengan menyandarkan ghalabatu-zhann untuk pendapat ulama yang lainnya, bahwa terdapat juga kebenaran dalam pendapat tersebut.

Ucapan imam Syafi’i diatas (kalau tidak salah) adalah ketika berdialog dengan muridnya (Imam Ahmad) ketika berbicara masalah bersedekap ketika shalat.

Orang-orang yang tidak mampu berijtihad, sudah seharusnya melakukan Istihsan dengan tidak meninggalkan ghalabatu-zhann.

Karena setiap ulama diyakini pasti akan berbeda pandangan. Maka itu ijtihadnya para ulama sering berbeda satu dengan yang lainnya.

Contoh kasus ketika Imam Maliki melarang murid-muridnya untuk menjadikan madzhabnya sebagai madzhab umat Islam seluruhnya. Maka beliau menyatakan yang pada intinya "setiap sahabat Rasulullah diturunkan Allah ditempat yang berbeda-beda, dan isi kepala mereka juga berbeda-beda. Dan tak jarang saling berbeda ketika mengambil keputusan. Bisa jadi haram disuatu daerah dan bisa jadi halal didaerah yang lain"

Ungkapan-ungkapan ulama salaf ini adalah ungkapan ahli ilmu yang faqih dan wara’. Mereka bukan pemaksa fatwa, tetapi mereka adalah ulama yang mampu berbuat moderat, tidak mudah mengklaim kebenaran disatu-sisi. Bahkan menghormati ulama yang lainnya.

Ini berbeda dengan beberapa ulama (yang antum sebut) mutakhirin. Coba bayangkan, mudah sekali menyesat-nyesatkan ulama yang lain ketika tidak sependapat. Gampang menuduh serampangan ulama yang tidak sependapat. Dan tidak jarang melecehkan fatwa ulama yang lainnya.

Perbedaan "ammah saja bisa sampai menyesatkan ulama yang lain. Bahkan sudah menjadi seperti Allah dalam memutuskan suatu perkara. Ijtihadnya bagaikan nash Quran yang harus dipatuhi, kalau tidak ingin disebut kufur oleh mereka.

Semoga kita berlindung oleh ulama-ulama zhalim tersebut. Amien.

Dengan begitu substansinya, jelas. Ijtihad bisa menjadi ada satu yang salah dan benar, tetapi dimungkinkan ada dua-duanya yang benar. Maka dari itu kita semua seorang penuntut ilmu, wajib mengutamakan ghalabatu-zhann dalam fatwa para ulama. Agar tidak mudah terprofokasi ulama zhalim yang serampangan dalam menyesatkan fatwa ulama yang lain.

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

21 September jam 0:21 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Masalah Teroris:
PKS tidak masuk daftar Teroris Amerika, begitu juga HT yang ada di Amerika di Inggris, dll.
(selain Rusia).

Tetapi HAMAS sampai sampai sekarang menjadi target teroris Amerika.

Saya tidak mendapati kata Hizbut Tahrir di Uzbekistan. Sehingga saya tidak ingin mengandai-andai bahwa itu Hizbut Tahrir. Link ke-3 yang antum sertakan itu bahwa Hizbut Tahrir menjadi target Teroris di Rusia, ini seperti halnya Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) yang juga jadi target teroris di Rusia.

Untuk daftar terorisi di Israel, saya juga tidak tahu 12 organisasi di Indonesia itu termasuk "PKS" atau bukan. Karena kita semua tahu, PKS juga ikut aktif mengirimkan dokter dan relawan serta dana ke Gaza.

kalau situs yang antum berikan ( council of Foreign Affair) yang saya tahu hanya sebatas situs media sosial bukan situs resmi Amerika seperti state.gov/s/ct/rls/other/des/123085.htm kalau situs sosial banyak sekali yang me-list teroris-teroris Islam.

Jika antum berkata
"HT itu semuanya adalah sama dan satu struktur. Jika di Uzbek dimasukkan organisasi teroris atau di asia tengah dianggap organisasi radikal berarti s…emua HT dianggap sama."

Seharusnya antum tidak tanya PKS masuk daftar teroris apa bukan. Karena sudah melegitimasi IM dan HAMAS itu sendiri. Bahkan menurut informasi situs yang antum link-kan, HAMAS dianggap teroris di 4 negara.

Hizbut Tahrir bergerak "dibawah tanah" tentu dengan mudah dianggap teroris oleh sebuah pemerintahan negara.
Tetapi ketika PKS sudah masuk ranah parlemen tentu negara yang ingin menjadikannya sebagai target teroris akan berfikir 2 kali. Karena ini menyangkut hubungan negara dan negara, bukan hubungan "bawah tanah".

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

21 September jam 0:56 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:
ini kesulitan apabila berdiskusi dengan teks.

tulisan ane:
"Jawaban Antum:
2)Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut. Tetapi, kata-kata antum menyiratkan secara implisit bahwa Negara Perancis bukan sebagai negara thaghut. Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut. "

maka kalimat:
"Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut"

maksudnya, adalah bukan pendapat ane. Tetapi adalah apa yang ane fahami dari pendapat antum. Maaf, kalau antum jadi bingung. Pendapat ane adalah tetap, bahwa:

" Negara perancis adalah negara thaghut. Kaum muslim yang hidup di dalamnya tidak otomatis dianggap penyembah thaghut selama mereka bisa menjaga diri mereka dari upaya mendukung atau pelaku kemungkaran di negara thaghut tersebut".Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 7:09 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:
Jika Allah subhana wa ta’ala memerintahkan kita untuk menjauhi thaghut, misalnya dengan firmannya:

"أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", [QS:16.36]

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
..Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu..[QS:4.60]

Berarti menjauhi semua bentuk thaghut. Dari referensi antum dan ane, bentuk thaghut yang ada adalah yang artinya: Syaitan (bentuk jin dan manusia), baik penyembah Tuhan selain Allah subhana wa ta’ala, baik orang yang menta’ati ataupun yang dita’ati dalam perkara yang melanggar ketetapan Allah Subhana wa Ta’ala, dan semua sosok pengingkaran atau penolakan Allah dan Rasul-Nya.

Dan negara kafir, atau pemerintahan yang menggunakan hukum kufur, ssudah jelas masuk di dalam pengertian thaghut diatas.

Imam Syaukaniy ketika menafsirkan firman Allah swt, surat An Nisa’ ayat 59;
“وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية”
“Ulil amriy adalah para imam, sultan, qadliy, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’iyyah bukan kekuasaan thaghutiyyah”.(Fath al-Qadiir, juz 2)

Beliau rahimahullah menetapkan bahwa lawan dari kekuasaan syar’iyyah adalah kekuasaan tahghuttiyyah. Dan negara thaghut adalah negara yang menerapkan hukum thagut, dan kekuasaan yang dibangun adalah kekuasaan thaguttiyah.

Di dalam pembahasan Aqidah Islam, seseorang yang meyakini kebenaran perkara halal dan haram yang menyalahi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, juga dianggap melakukan syirik, yaitu menyembah selain Allah subhana wa Ta’ala. Bisa antum lihat di dalam kitab tafsir Imam Ibnu Katsir mengenai ayat:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.[QS:9.31]

"Addi melanjutkan kisahnya, bahwa Ia menjawab, ‘Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya.” kemudian Rasulullah Shalallaahu’alaihi wa salam bersabda:

"Tidak, sesungguhnya mereka mengharamkan hal yang halal bagi para pengikutnya dan menghalalkan hal yang haram bagi mereka, lalu mereka mengikutinya, yang demikian itulah ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib mereka."[Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Addi ibnu Hatim radhiyallaahu 'anhu]

Artinya, juga jika Pemerintahan SBY menerapkan syari’at kufur, maka pemerintahan SBY dianggap Penguasa Thaghut. Tidak boleh menjadi pendukungnya, kecuali jika mau menerapkan aturan Allah Subhana wa ta’ala.

Terserah antum yang mau mengatakan bahwa HT adalah thaghut. Yang penting adalah, antum do’akan agar HT dapat meruntuhkan penguasa thaghut di negeri ini, InsyaAllah.. aamiieen.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 7:54 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf:
Akhi, setiap diskusi itu bisa dilakukan dengan apa saja.
Para ulama juga biasa berdiskusi dengan tulisan-tulisan. Dan mereka jelas memberikan hujjahnya seperti apa dan bagaimana. Dan itu semua jelas, makna, substansi dan tema yang dibicarakan. Serta fokus apa yang dibahasnya.

Pernyataan Antum:
2)Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut. Tetapi, kata-kata antum menyiratkan secara implisit bahwa Negara Perancis bukan sebagai negara thaghut. Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut. "

"Karena, jika dikatakan negara thaghut berarti kita mengatakan bahwa umat Islam disana adalah penyembah thaghut, terkecuali mereka yang menjadi pendukung kemungkaran penguasa di negera Perancis tersebut"

Jawaban Saya:
Akhi, maksud saya bukan kalimat terakhirnya seperti yang antum katakan diatas. Tetapi pada kalimat awal. Lihat pernyataan antum:
"Ane dan antum sepakat bahwa Umat Islam disana bukan sebagai penyembah thaghut"

Sedangkan jelas-jels antum menyatakan "Negara perancis adalah negara thaghut"

Lalu lihat pernyataan Umar:
"bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya."

Lihat kalimat terakhir:
"…seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya…"

Sekarang logikanya, ketika kita masuk kesuatu wilayah, daerah, negara tentu punya aturan-aturan dan keputusan hukum. Secara otomatis, ketika kita datang kesuatu wilayah, daerah, negara maka kita akan dengan sendirinya menyetujui aturan serta keputusan hukum tersebut.

Lalu dimana logikanya jika ada orang yang datang kenegeri Thoghut (seperti yang antum katakan perancis), lalu orang tersebut tidak mau menerima atau menyetujui aturan serta keputusan hukum negeri tersebut? Ini jelas tidak rasional!

Nah ini jelas jika dimaknai teks seperti pengertian antum yang menyatakan:
"Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah."

Tentu saja 99% setiap negara termasuk dalam pandangan Hizbut Tahrir adalah thaghut!

Dan sangat jelas kata-kata:
"sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah."
Merupakan aturan-aturan serta keputusan hukum itu sendiri! Lalu bagaimana orang yang tinggal di negera kafir tidak dianggap sebagai penyembah Thaghut dalam pandangan Hizbut Tahrir (seperti pernyataan umar "…menerima keputusan hukum kepadanya…")

Nah karena hal itu hanya dipandang tekstual oleh Hizbut Tahrir, sehingga sudah jelas bahwa semua umat Islam dinegera kafir adalah penyembah thaghut!

Maka dari para ulama kebanyakan tidak setuju pandangan Hizbut Tahrir. Karena sudah ada Qiyas dan ijma para ulama yang menyatakan seperti yang saya katakan diatas:
1.
Ini bisa jadi setiap harakah menafsirkan sendiri-sendiri. Beberapa ulama menyatakan bahwa makna ucapan Umar yang kedua adalah lebih kepada memenuhi tuntutan orang/penguasa yang melakukan kejahatan, dan dari kejahatannya itu setiap orang tunduk dan patuh atas keputusan hukum yang diambil oleh penguasa jahat tersebut.

2.
Hal ini tidak bisa dimaknai Jama’, bahwa setiap pemerintahan yang tidak mengacu kepada hukum Islam adalah Thaghut. Mengacu kepada Qiyas para ulama, bahwa banyak para muslim yang ternyata berada pada kekuasaan penguasa kafir. Dan tentunya jika ini dimaknai jama’ maka imbasnya, orang yang berada pada kekuasaan kafir maka termasuk "Penyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya" karena tentunya setiap orang yang berada pada daerah tertentu merupakan (wilayah kafir) yang mempunyai hukum dan aturan terntu dan itu wajib setiap orang yang berada pada wilayah tersebut mematuhinya!

Jadi thaghut itu tidak hanya spesifik seperti pengertian HT yang hanya menyatakan penguasa kafir dan hukum-hukumnya itu adalah thaghut.

Sekarang apakah Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk meminta perlindungan dengan thaghut? “Pergilah kalian ke Bumi habasyah, sesungguhnya di sana ada Raja yang tidak mendzalimi seorangpun, hingga Allah membuat jalan keluar untuk kalian dari kesusahan ini.” bukankah ini adalah negara kafir, dan berhukum kafir?

Jadi makna thaghut itu harus dilihat substansinya dengan jelas, harus dilihat kedalam dan menyeluruh seluruh konteksnya didalam setiap teks.

"pemerintahan kafir itu bukan secara otomatis pemerintahan Thoghut! Karena Thoghut itu mencakup segala aspek seperti orang, benda, penguasa, dll. Coba lihat pernyataan Imam Maliki

“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah swt.”
(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)

lalu Imam Ibnu Qayim r.h. berkata:
“At -thaghut adalah seseorang yang menghormati seseorang melebihi batasan yang seharusnya, apakah seseorang itu menyembah, menaati atau mengikuti.” (Diriwayatkan dalam Thalaathatul Usul)

Lalu lihat pernyataan Umar " "bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya."

Dimana letak spesifik kalimat thaghut itu adalah pemerintahan/penguasa atau hukum kafir saja? Apalagi menyatakan bahwa pemerintahan kafir itu secara otomatis pemerintahan thaghut?"Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 8:09 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Dalil antum tersebut:

"Lalu apakah Rasulullah mengajarkan kita untuk menyembah Thaghut dengan menyuruh Sahabat-sahabatnya berhijrah ke negeri kafir? Seperti dalam hadits “Pergilah kalian ke Bumi habasyah, sesungguhnya di sana ada Raja yang tidak mendzalimi seorangpun, hingga Allah membuat jalan keluar untuk kalian dari kesusahan ini.”

Dari dalil ini Antum mengatakan bahwa habasyah adalah negara kafir tetapi bukan negara thaghut. Sebenarnya, dalil tersebut tidak dapat dijadikan landasan dari pernyataan antum tersebut. Dalil tersebut hanya menjelaskan bolehnya berhijrah ke negeri kafir, manakala tidak ada negeri Islam, dan semata-mata hanya untuk menjaga agama dan keselamatan jiwa.

Pengertian thaghut itu adalah lebih umum daripada pengertian kafir berdasarkan banyaknya makna dari thaghut itu sendiri. Antum sendiri mengecap HT itu Thaghut khan? tetapi antum (mungkin) tidak berani menyatakan bahwa HT itu Kafir. Mengapa?? mungkin karena antum meyakini bahwa perkataan kafir jauh lebih berat daripada perkataan thaghut.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 8:15 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Di dalam kitab al-Jihaad wa al-Qitaal fi al-Siyaasah al-Syar’iyyah, juz II, Syaikh Dr. Mohammad Khair Haekal mengutip beberapa pendapat ulama tentang Darul Kufur, dan Darul Islam. Yaitu:

a) Dalam kitab Bada’i’ as-Shana’i’ dinyatakan dengan redaksi: Tidak ada perbedaan pendapat di antara para penganut mazhab kami, bahwa Darul Kufur akan menjadi Darul Islam dengan dominannya hukum-hukum Islam di negeri tersebut. Namun, mereka berbeda pendapat men genai Darul-Islam; apa yang menyebâbkannya berubah menjadi Darul-Kufur. Abu Hanifah berpendapat, bahwa Darul-Islam tidak akan berubah menjadi Darul-Kufur, kecuali dengan syarat: Pertama, dominannya hukum-hukum Kufur di negeri tersebut; Kedua, berbatasan dengan Darul-Kufur; Ketiga, kaum Muslim maupun Ahli Dzimmah di negeri tersebut tidak lagi mendapatkan jaminan keamanan dengan keamanan pihak pertama, yaitu jaminan keamanan kaum Muslim. Abñ Yusuf dan Muhammad rahimahu-lâh— juga berkata: Negeri tersebut akan berubah menjadi Darul-Kufur karena dominannya hukum-hukum Kufur di dalamnya.[ Bada’i’ as-Shaná’i’, juz VII, hal. 130]

b) Dalam kitab Hasyiyah Ibn ‘Abidin ‘ala ad-Durr al-Mukhtar Syarh Tanwir al-Abshâr dinyatakan: Qawluhu: La tashIru dar al-Islam dar Al-Harb (Darul-Islam tidak akan berubah menjadi dârul-Harb) dan seterusnya, maksudnya: Misalnya, warga negara Kufur menguasai salah satu negeri kita, atau misalnya, penduduk suatu negeri telah murtad kemudian mereka berkuasa dan menerapkan hukum-hukum Kufur, atau membatalkan perjanjian Dzimmah, kemudian mereka menguasai negeri mereka —maka masing masing tidak akan berubah rmenjadi Dârul-Harb, kecuali dengan tiga syarat. Mereka (maksudnya, Abu Yusuf dan Muhammad) berkata: Dengan satu syarat saja, tidak lebih, yaitu dominannya hukum Kufur dan itu merupakan bentuk analogi.[lbn ‘Abidin, Hasyiyah, juz III, hal. 390]

c) Menurut keterangan as-Syawkani dinyatakan sebagai berikut: Yang harus dijadikan sebagai penilaian adalah penampakan kata secara eksplisit; jika perintah dan larangan di negeri tersebut ada di tangan kaum Muslim, dimana kaum Kufar yang berada di negeri tersebut tidak mampu mendemonstrasikan kekufurannya, kecuali pada batas-batas yang dibenarkan oleh kaum Muslim, negeri ini merupakan Dârul-Islam. Munculnya atribut kekufuran di negeri tersebut tentu tidak bisa mengubah statusnya. Sebab, itu tidak muncul melalui kekuatan militer dan serangan kaum Kufar, sebagaimana fenomena Ahli dzimmah, baik Yahudi, Nasrani maupun Kafir Mu’ahad yang mendiami kota-kota Islam. Namun, jika masalahnya berbalik, status negeri tersebut merupakan kebalikannya… Setelah itu beliau mengatakan: Ketahuilah, bahwa mengemukakan Darul-Islam dan Dãrul-Kufur tersebut sangat minim sekali manfaatnya, karena penjelasan yang telah kami kemukakan kepada Anda tentang Darul-Harb. Dan, bahwa orang Kafir dalam konteks apapun, darah dan hartanya menjadi halal selama dia tidak dijamin dengan jaminan keamanan kaum Muslim, (maksudnya, baik di Dârul-Islam maupun Dárul-Kufur). Sementara harta dan darah kaum Muslim di dalam Dâr al-Kufr dan lain-lain tetap dilindungi dengan perlindungan Islam…[as-Sayl al-Jarror, juz IV hal. 575-576].

d) As-Syaikh Muhammad Abü Zahrah berpendapat: Barangkali buah perbedaan pendapat di antara kedua pendapat tersebut terlihat pada zaman kita sekarang. Dengan mengimplementasikan pandangan Abu Hanifah, maka seluruh wilayah Islam dari ujung Maroko hingga daratan Turkistan dan Pakistan adalah Darul-Islam. Sebab, sekalipun rakyatnya tidak menerapkan hukum-hukum Islam, mereka tetap hidup dengan jaminan keamanan Islam yang pertama (kaum Muslim). Karena itu, negeri-negeri tersebut merupakan Dârul-Islam. Dan dengan mengimplementasikan pendapat Aba Yusuf dan Muhammad, serta para fuqaha’ yang mengikuti mereka, maka seluruh wilayah Islam tersebut tidak bisa dianggap sebagai Dârul-Islam, malah sebaliknya merupakan Darul-Harb. Sebab, hukum hukum Islam tidak tampak dan tidak diterapkan di sana [Al-Jarimah wa al-’Uqubah Ii al-Fiqh aI-Islami, hal. 343].

e) Dr. Wahbah az-Zuhayli menyatakan: Standar yang benar untuk membedakan suatu negeri (Islam atau Kufur) adalah adanya kekuasaan dan penerapan hukum. Jika kekuasan dan hukumnya Islam, maka negeri tersebut adalah Darul-Islam, dan jika bukan Islam, maka negeri tersebut adalah Darul-Kufur. [Atsar al-Harb, hal. 155]

f) Dalam kitab as-Siyâsah as-Syar’iyyah, karya Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khallaf dinyatakan: Dárul-Islam adalah negeri dimana hukum-hukum Islam diterapkan di sana, sementara orang yang berada di dalamnya mendapatkan jaminan keamanan yang berada di tangan kaum Muslim. Darul-Kufur adalah negeri dimana hukum-hukum Islam tidak diterapkan di sana, dan orang yang berada di dalamnya tidak mendapatkan jarminan keamanan yang berada di tangan kaum Muslim [as-Siyasah as-Syar’iyyah, hal. 69]

g) Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mendeskripsikan apa telah dinyatakan dalam kitab as-Siyâsah as-Syar’iyyah, karya Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khallaf dengan menyatakan: Penilaian terhadap suatu negeri sebagai Dârul-Islam atau Dârul-Kufur harus dilakukan dengan menganalisis dua perkara: Pertama, penerapan Islam; Kedua, keamanan berada di tangan kaum Muslim, atau di bawah pemerintahan mereka. Jika kedua unsur mi dipenuhi oleh negeri tersebut, maka negeri itu merupakan Darul-Islam, dan telah berubah dari Darul-Kufr ke Darul-Islam. Namun, Jika salah satunya hilang, negeri tersebut tidak akan berubah menjadi Darul-Islam. Begitu pula, jika negeri Islam tersebut tidak diperintah dengan hukum-hukum Islam, maka negeri tersebut merupakan Darul-Kufr. Jika telah diperintah dengan Islam, namun keamanannya tidak berada di tangan kaum Muslim, atau di bawah pemerintahan mereka (kaum kufar), misalnya keamanannya berada di tangan kaum Kufar, atau di bawah pemenintahan mereka, maka negeri tersebut juga akan menjadi Darul-Kufr..
Syaikh an-Nabhani juga menegaskan apa yang sebelumnya dinyatakan oleh Syaikh Abu Zahrah, bahwa penetapan beliau atas status hukum negeri Islam saat ini sebagai Dárul-Kufur, atau Darul-Harb berdasarkan pendapat Abu Yusuf dan Muhammad, seraya menyatakan: Karena itu, seluruh negeri kaum Muslim saat ini adalah DaruI-Kufr, karena tidak menerapkan Islam. Begitu juga akan tetap menjadi Darul-Kufr, meski kaum Kufar di sana telah mengangkat seorang Muslim yang memerintah berdasarkan hukum-hukum Islam, tetapi berada di bawah kekuasaan mereka, dan keamanannya pun berada di tangan mereka, maka negeri tersebut tetap sebagai Dârul-Kufr [as-Syakhshiyyah aI-islamiyyah, juz II, hal. 215-216]

Kesimpulannya, Negara Prancis adalah Negara Kafir, atau disebut Negara Thaghut.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 8:16 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf Allaahu ‘alam bi-ash-showwab

Rabu pukul 8:24 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf:
Akhi, insya Allah semua orang Islam juga berusaha menjauhi thaghut. Tentu saya dan semua umat Islam akan menjauhi thaghut, tetapi makna spesifik Thaghut dalam dalil tentang hukum kufur dan penguasa kafir itu adalah otomatis Thaghut itu tidak ada!

Sehingga apa yang di-ijtihad-kan HT dengan beberapa ulamanya mengenai Thaghut jelas memaknai bahwa Thaghut adalah penguasa kafir dan aturan hukum kafir. Maka seluruh umat Islam yang berada di negeri kafir adalah penyembah Thaghut.

Karena mengacu kepada kalimat Umar "…menerima keputusan hukum kepadanya…" maka sudah selayaknya HT menerapkan Ijtihad tersebut. Dan menyuruh seluruh Syabab HT untuk meninggalkan negeri kafir dan aturan hukum kufur. Agar tidak menjadi penyembah thaghut.

Pernyataan saya:
"Lalu apakah Rasulullah mengajarkan kita untuk menyembah Thaghut dengan menyuruh Sahabat-sahabatnya berhijrah ke negeri kafir? Seperti dalam hadits “Pergilah kalian ke Bumi habasyah, sesungguhnya di sana ada Raja yang …tidak mendzalimi seorangpun, hingga Allah membuat jalan keluar untuk kalian dari kesusahan ini.”

Pernyataan antum:
Dari dalil ini Antum mengatakan bahwa habasyah adalah negara kafir tetapi bukan negara thaghut. Sebenarnya, dalil tersebut tidak dapat dijadikan landasan dari pernyataan antum tersebut. Dalil tersebut hanya menjelaskan bolehnya berhijrah ke negeri kafir, manakala tidak ada negeri Islam, dan semata-mata hanya untuk menjaga agama dan keselamatan jiwa.

Jawaban saya:
Hal tersebut adalah Qiyas, menyandarkan nash dengan kasus hukum yang memiliki sandaran nas karena ada kesamaan sebab hukum. Maka tentunya dengan qiyas para ulama ini, orang yang berada pada negeri kafir tidak menyembah Thaghut! Semua dalil bisa dipakai jika memiliki sandaran dalam kasus hukum yang sama. Karena Thaghut di-spesifikkan sebagai penguasa/hukum/pemerintah kufur tidak ada dalil yang jelas dan tegas.

Ini berbeda dengan makna hizbut Tahrir yang dengan tegas menyatakan negara kufur itu adalah Thaghuttiyah. Karena ini sama halnya setiap muslim akan dengan tegas telah menyembah Thaghut dinegara kufur. Pendapat ini ditentang banyak para ulama!

Jika menurut antum pengertian thaghut itu lebih umum, lalu kenapa ada hujjah dengan men-spesifikkan thaghut itu adalah Penguasa/pemerintah/hukum kufur? Saya kok jadi bingung dengan kalimat yang meloncat-loncat antum. Disatu sisi meng-khususkan thaghut, disisi lainnya menjadikan thaghut sebagai makna umum. Seharusnya jika memang memakna-kan umum, tentu tidak perlu ada peng-khususu-san. Apalagi jika sudah meng-khusus-kan tentu tidak boleh ada makna umumnya!

Saya tidak bermaksud memaknai HT sebagai thaghut, tetapi itu hanya sebagai contoh saja. Dan jika seandainya HT Thaghut, tentu saya tidak akan mengambil apa-apa darinya. Karena tentu kita harus menjauhi thaghut. Dan saya tidak pernah ingin menyatakan HT kafir, karena belum ada jelas tanda-tandanya. Jika jelas, maka kita wajib mengatakannya. Karena saya menjadikan makna umum tentang thaghut, maka tentu semua orang bisa menjadi thaghut itu sendiri. Bisa jadi saya yang thaghut atau atum, dan yang lainnya. Hal ini dimaknai sebagai tingkah laku manusia. Seperti apa yang diutarakan ulama salaf:

“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah swt.”
(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)

Termasuk pernyataan Umar:
"bahwa Thagut adalah setan- sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan menerima keputusan hukum kepadanya serta membelanya."

Tidak ada hujjah dan dalil dari para ulama yang antum tuliskan diatas yang menyatakan bahwa Darul kufur itu otomatis Thaghuttiyah! Kecuali perkataan antum:
"Kesimpulannya, Negara Prancis adalah Negara Kafir, atau disebut Negara Thaghut."

Saya tidak berbeda dengan pernyataan Darul Kufur dan Darul Islam. Tetapi yang saya bedakan adalah Darul Kufur adalah otomatis Thaghuttiyah, tidak ada dalam pernyataan ulama diatas dan dalil yang jelas dan tegas.

Karena jika sudah meng-Khususkan sesuatu. Konsekwensinya berat! Meraka harus menerapkan ijtihad khusus mereka!

Dan jika memang Darul kufur itu adalah Thaghuttiyah. Tentu Allah dan Rasul-Nya pasti akan memperingatkan kita semua. Karena ini jelas, terdapat dalam Al Quran, tentu hal ini adalah sesuatu yang penting. Maka karena tidak ada makna khusus dalam pernyataan Allah dan Rasul-Nya maka hal yang penting ini adalah dimaknai secara umum. Bukan secara khusus. Oleh sebagian besar para ulama.

Pemerintahan kafir itu adalah jelas menggunakan hukum selain Allah, namun disisi lainnya hukum tersebut ada yang thaghut dan ada yang tidak.

Maka dari itu kenapa Rasulullah menyuruh hijrah kenegeri kafir, karena tidak semua orang kafir itu adalah musuh Islam. Bagi kafir yang memusuhi Islam, maka mereka adalah thaghut. Tentu, hal ini akan terjadi khilaf lagi, siapa yang dianggap musuh Islam. Musuh secara Jahr atau Syirri.

Namun ini ijtihad. Kita tidak boleh melarang para ulama untuk ber-ijtihad seperti para ulama HT. Yah saya menghormati ijtihad ulama HT. Dan hanya menyarankan untuk lebih menjadikan ijtihadnya sebagai prilaku total dari apa yang sudah seharusnya di-ijtihadkan.

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 9:44 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:

ane ngak mengerti ucapan antum yang menyatakan bahwa

"makna spesifik Thaghut dalam dalil tentang hukum kufur dan penguasa kafir itu adalah otomatis …Thaghut itu tidak ada!"

Akhi, insyaAllah, sudah jelas tentang dalil dan penafsiran Ulama mengenai thaghut ini. Ane tidak mengkhususkannya, dan tidak mengumumkannya, karena mengkhususkan itu diperlukan dalil.

"Al amm yabqo ala ummumihi maa lam yarid dallilu at-takhsis"
Perkara yang umum tetap dalam keumumannya terkecuali ada dalil yang yang mengkhususkan"

Al qur’an dan as-sunnah telah menetapkan banyak makna dari thaghut ini dan kita tinggal mengambil ibrah darinya. Dan makna yang banyak terkait dengan pembahasan ane diatas, adalah makna thaghut yang berarti "MENYEMBAH BERHALA DAN MEMINTA KEPUTUSAN HUKUM KEPADANYA SERTA MEMBELANYA". Dimana makna menyembah tidak hanya terkait dengan taqdis (menganggap suci) pada urusan mahdhoh dan Aqidah saja, tetapi juga terkait masalah penetapan syari’at selain dari Allah Subhana wa ta’ala. Hal ini sudah dijelaskan di dalam riwayat Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Addi ibnu Hatim radhiyallaahu ‘anhu diatas.

Ane lihat di dalam tafsir ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya."[QS:4.60]

Al imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:
—————
"Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya
itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan
keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-
Nya, yaitu kepada kebatilan. Hal inilah yang dimaksud dengan itulah
thagut dalam ayat ini. Seperti yang disebutkan di dalam firman-
Nya yang menyatakan bahwa:

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ
..Mereka hendak berhakim kepada thaghut,..[QS:4.60]
—————–
Apakah, hukum kufur atau negara kafir itu tidak menympang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan menyerahkan
keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-
Nya?? Logika sederhana ane (tidak perlu Qiyash syar’i) menyatakan bahwa hukum kufur atau negara kafir itu adalah menympang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sehingga, apa yang nyatakan, negara Kufur adalah negara thaghut, dan penguasa yang menerapkan aturan kufur adalah penguasa thaghut adalah tidak memiliki kontradiksi sama sekali.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 13:19 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:

Antum berkata:
"Pemerintahan kafir itu adalah jelas menggunakan hukum selain Allah, namun disisi lainnya hukum tersebut ada yang thaghut dan ada yang tidak. "

Ane jadi bertanya,
1)"Jika negeri habasyah (dizaman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam) antum katakan negara kafir yang bukan negara thaghut dibandingkan negara Prancis yang melarang Niqab, maka apakah antum katakan:
a)Negara Kafir bukan negara thaghut
b)Negara Kafir dan negara thaghut
c)bukan negara kafir tetapi negara thaghut
d)bukan negara kafir bukan negara thaghut.

Ane bertanya begini, karena antum sepertinya antum menyebut:
"Perancis adalah bukan Negara Thaghut dan bukan negara kafir", berdasarkan pernyataan antum terhadap ane :

"1) Contohnya wilayah Perancis yang melarang penggunaan Niqab ataupun jilbab yang berada pada wilayah pemerintahan, sekolah dan rumah sakit. Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!"

Gimana??Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 13:37 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf Allaahu ‘alam bi-ash-showwab.

Rabu pukul 13:38 · SukaTidak Suka

  • clip_image006

Noviandi Suryosumirat ‎@fajar : Ya Allah, jadikanlah orang ini lebih faqih agar mampu memahami fakta dengan benar, berilah dia ilmu alat yang lengkap agar mampu memahami mana yang ijtihad dan mana yang bukan ijtihad….aamiin….

Rabu pukul 14:37 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf:
Pernyataan Saya:
"tetapi makna spesifik Thaghut dalam dalil tentang hukum kufur dan penguasa kafir itu adalah otomatis …Thaghut itu tidak ada! "

Jawaban Antum:
Akhi, insyaAllah, sudah jelas tentang dalil dan penafsiran Ulama mengenai thaghut ini. Ane tidak mengkhususkannya, dan tidak mengumumkannya, karena mengkhususkan itu diperlukan dalil.

Jawaban Saya:
Nahkan, antum berbeda lagi. penjelasan makna HT sangat jelas, mem-spesifikan bahwa thaghut itu adalah pemerintahan atau penguasa kufur, seperti yang antum katakan. Seperti:
"Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah."
Bukankah hal itu jelas dimaknai khusus! Bahwa makna khusus tersebut bahwa negara Thaghuttiyah itu adalah darul kufur itu sendiri.

Antum jelas hal ini mencoba menyangkal pendapat antum sendiri, dengan meng-khususkan makna thaghut dan mencoba untuk mengaburkan makna umum dari thaghut itu sendiri.

Sekarang masalah tafsir Ibnu Katsir Juz 5 An-Nisa 60.

Setelah saya membuka Tafsir Ibnu Katsir yang saya punyai, saya menemukan hal yang sangat berbeda dengan pendapat antum. Antum dan beberapa orang telah memotong maksud tafsir tersebut. :D

Baiklah saya tulis awalnya dahulu. Seperti tafsir ibnu katsir yang antum tuliskan sebelumnya. Yang tidak menyertakan awal dan maksudnya, agar tidak terlihat sepotong-sepotong.

Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 An Nisa 60-63. yang dimaksud oleh antum adalah:
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan anshar dalam suatu persengketaan. Lalu si lelaki Yahudi mengatakan,"Antara aku dan kamu Muhammad sebagai pemutusnya." Sedangkan lelaki anshar mengatakan, "Antara aku dan kamu Ka’b ibnul Asyraf sebagai hakimnya."

Menurut pendapat yang lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang munafik dari kalangan orang-orang yang hanya lahiriahnya saja Islam, lalu mereka bermaksud mencari keputusan perkara kepada para hakim Jahiliah. Dan menurut pendapat yang lainnya, ayat ini diturunkan bukan karena pernyebab tersebut.

Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkara kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kebatilan. Hal inilah yang dimaksud istilah thaghut dalam ayat ini. Seperti yang disebut didalam firman-Nya. "mereka hendak berhakim kepada thaghut." (QS An-Nisa 60).

Adapun Firman Allah Swt: "Mereka (orang-orang munafik) menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An-Nisa 61).

Dengan kata lain, mereka berpaling darimu dengan sikap sejauh-jauhnya, seperti halnya sikap orang yang sombong terhadapmu. Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Swt, perihal kaum musyrik, melalui firman-Nya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dari dari (perbuatan) nenek moyang kami." (QS Al-Baqarah 170)

Sikap mereka berbeda dengan sikap kaum mukmin yang disebut oleh Allah Swt, melalui firman-Nya:"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, "Kami mendengar dan kami patuh." (An-Nur 51). hingga akhir ayat.

Kemudian Allah Swt, berfirman dalam rangka mencela orang-orang munafik melalui firman-Nya:"Maka bagaimanakah halnya apabila mereka ditimapa sesuatu musibah karena perbuatan tangan mereka sendiri. (An-Nisa 62).

Yakni apakah yang akan dilakukan mereka apabila takdir menggiring mereka untuk mengangkatmu menjadi hakim mereka dalam menanggulangi musibah-musibah yang menimpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka sendiri, lalu mereka mengadukan hal tersebut kepadamu."kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah. "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna." (An-Nisa 62)

Yaitu mereka meminta maaf kepadamu dan bersumpah, "Kami tidak mau pergi mengadukan hal ini kepada selainmu dan meminta keputusan hukum kepada musuh-musuhmu, karena kami menginginkan penyelesaian yang baik dan keputusan yang sempurna." Dengan kata lain, hal itu mereka utarakan sebagai bahasa diplomasi dan menjilat. bukan atas dasar keyakinan mereka akan kebenaran dari keputusannya. Seperti yang diceritakan oleh Allah Swt, mengenai perihal mereka melalui firman-Nya dalam ayat yang lain yaitu: "Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatnya (orang-orang munafik) bersegeralah mendekati mereka (Yahudi dan Nashrani), seraya berkata. "Kami takut akan mendapat bencana." (Al Maidah 52)

sampai dengan firman-Nya: "Mereka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (Al-Maidah 52)Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 18:51 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Jawaban Part II:

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Ahmad ibnu Yazid Al-Hatui, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Umar, dari Ikramah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu abu Barzah Al-Aslami adalah seorang tukang ramal, dialah yang memutuskan peradilan di antara orang-orang Yahudi dalam semua perkara yang diperselisihkan di kalangan mereka. Lalu kaum musyrik pun ikut-ikutan berhakim kepadanya. Maka Allah Swt, menurunkan firman-Nya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? (An-Nisa 60).

Sampai dengan firman-Nya: "Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna." (QS An-Nisa 62).

Kemudian Allah Swt, berfirman:"Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang didalam hati mereka." (QS An-Nisa 63)

Mereka adalah orang-orang munafik, Allah mengetahui apa yang ada didalam hati mereka, dan kelak Allah akan memberikan balasan terhadap mereka atas hal tersebut. Karena sesungguhnya tidak ada seesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah. Karena itu, serahkanlah urusan mereka kepada Allah, hai Muhammad, sebab Dia mengetahui lahiriah mereka dan apa yang mereka sembunyikan.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:"Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka." (QS An-Nisa 63).

Maksudnya, janganlah kamu bersikap kasar terhadap kemunafikan yang ada didalam hati mereka: "dan berilah mereka pelajaran."(QS An-Nisa 63).

Yakni cegahlah mereka dari kemunafikan dan kejahatan yang mereka sembunyikan di dalam hati mereka."dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka." (QS An-Nisa 63)

Para fuqaha berpendapat bahwa menjadi seorang hakim harus memberikan keputusan yang adil dan benar, walaupun terjadi dua persengketaan itu adalah dua orang munafiq ataupun kafir. Maka keputusan hukum harus adil dan benar. Tidak diperbolehkan untuk melakukan keputusan yang bathil, tidak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. "Mereka hendak berhakim kepada thaghut." (QS An-Nisa 60). Walaupun nantinya mereka akan menjauh darimu.

Maka selayaknya ketika ibn Abu Barzah Al-Aslami dimintai suatu pendapat tentang peradilan, maka dia tidak boleh bertindak bathil. Atau bahkan memutuskan sebuah peradilan dengan keputusan yang bathil dengan memusuhi Rasul-Nya.

dst….

Jadi, akhi, Riyan Zahaf yang insya Allah dimuliakan oleh Allah. Ketika mengambil sebuah dalil, jangan setengah-setengah yang malah menghilangkan makna sesungguhnya.

Dari awal hingga akhir, yang disinggung adalah keputusan hakim dalam melakukan peradilan. Tentu setiap hakim muslim sewajibnya mengedepankan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Yaitu tidak melakukan keputusan yang bathil. Karena tentu kebathilan itu adalah thaghut itu sendiri.

Sekarang dari awal hingga akhir yang saya tulis, dimanakah letak bahwa thaghut itu adalah SECARA OTOMATIS darul kufur dan hukum yang berada pada darul kufur?

Dengan jelas, bahwa thaghut itu adalah sesuatu yang bathil, karena thaghut itu adalah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya!

Pemahaman yang seperti antum, yang memutuskan bahwa thaghut itu adalah darul kufur dan hukum kafir adalah menyelisihi Sunnah Rasul. Karena Rasulullah tentu tidak akan menjadikan umatnya menyembah Thaghut seperti tekstual ucapan Umar "MENYEMBAH BERHALA DAN MEMINTA KEPUTUSAN HUKUM KEPADANYA SERTA MEMBELANYA"

Dan kesimpulan ibnu katsir yang antum sebutkan itu adalah lebih kepada keputusan hakim (Baca, KEPUTUSAN HAKIM) dalam mengambil sebuah putusan peradilan. Maka seorang hakim tidak boleh melakukan kebathilan, karena tentu kebathilan itu menyalahi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Karena kebathilan itu adalah thaghut!

Seperti yang saya sampaikan, jika memang HT berpendapat meng-Khususkan thaghut itu adalah darul kufur dan hukum kufur, maka tentu setiap HT yang berada dinegara tersebut adalah penyembahnya. Karena setiap orang yang berada pada negara kufur/darul kufur dan dinaungi hukum kufur tentu otomatis mematuhi hukum kufur tersebut.

Yah contoh kasus yang dulu saya utarakan kepada antum, ketika HTI meminta ke MK untuk "membela" sebuah hukum kufur (hukum thaghut).

Kontras sekali loh pernyataan antum, dulu mengatakan tidak mengapa membela hukum yang disitu ada kemaslahatan walaupun dinegara thaghuttiyah, sekarang malah fatwanya lain lagi. Ini fatwa yang aneh, adakah fatwa yang (maaf) mencla-mencle (tidak tetap) seperti itu?Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 18:52 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Kedua:
Antum bertanya,
1)"Jika negeri habasyah (dizaman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam) antum katakan negara kafir yang bukan negara thaghut dibandingkan negara Prancis yang melarang Niqab, maka apakah antum katakan:
E. (Jawaban Saya). Negara kufur itu bukan otomatis negara thaghut. Negara yang menyatakan negara Islam, jika memerintah dengan bathil maka bisa menjadi keputusan thaghut, jika negara kufur melakukan kebathilan maka itu adalah keputusan thaghut.

Pertanyaan Antum:
Ane bertanya begini, karena antum sepertinya antum menyebut:
"Perancis adalah bukan Negara Thaghut dan bukan negara kafir", berdasarkan pernyataan antum terhadap ane :

"1) Contohnya wilayah Perancis yang melarang penggunaan Niqab ataupun jilbab yang berada pada wilayah pemerintahan, sekolah dan rumah sakit. Lalu apakah umat Islam yang berada disana itu menjadi penyembah thaghut? Tentu insya Allah tidak!"
Gimana??

Jawab Saya:
Hehehe. susah yah jika berdialog dengan orang yang prasangkanya buruk! :D

Hati-hati akhi, apa yang antum prasangkakan kepada saya bisa termasuk apa yang ditafsirkan oleh Kitab Ibnu Katsir Juz 5 An-Nisa 60-63.

Saya sudah berkali-kali menjawab jika:
"Negara kufur itu bukan otomatis negara thaghut. Negara yang menyatakan negara Islam, jika memerintah dengan bathil maka bisa menjadi keputusan thaghut, jika negara kufur melakukan kebathilan maka itu adalah keputusan thaghut."

Nah, jika saya menyatakan Perancis negara thaghuttiyah, maka saya akan menuduh seluruh umat Islam yang ada di Perancis adalah penyembah Thaghut! Hukum perancis yang melarang penggunaan niqab, jilbab, dll. Adalah salah satu keputusan thaghut, tetapi hukum Perancis yang melarang pembunuhan, pencurian, dll. Maka itu bukan keputusan thaghut!

Nah hal ini berbeda sekali dengan antum, dengan jelas-jelas antum menyatakan darul kufur adalah thaghuttiyah, maka seluruh orang muslim yang berada didarul kufur adalah penyembah Thaghut! Bahaya sekali pemikiran ini! Dan akhirnya berapa banyak imbasnya syabab HT yang menyembah-nyembah thaghut didarul kufur!

Berarti HTI juga menyembah thaghut ketika memperjuangkan sebuah UU Positif yang ada di Indonesia. (jangan menjadi orang yang bertelanjang sambil lari berteriak TUTUP AURATMU….TUTUP AURATMU…TUTUP AURATMU…)

Wallahu’alam

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

Rabu pukul 18:52 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto ‎@ Noviandi Suryosumirat: Amien.

Ada masalah dengan ijtihad? Mohon penjelasannya jika memang saya salah.

Rabu pukul 18:55 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:

Jazzakallaahu khaair telah bersusah payah mengutip tafsir tersebut secara lebih lengkap. Dari penjelasan detil di dalam tafsir tersebut, ane simpulkan:
1) Sifat thaghut adalah umum, bisa disematkan kepada individu, jama’ah, partai, institusi, bahkan negara yang nyata-nyata menimpang dari ketetapan Allah Subhna wa Ta’ala. Ini diambil dari kalimat:

"Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkara kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kebatilan. Hal inilah yang dimaksud istilah thaghut dalam ayat ini."

2) Salah satu sifat orang-orang yang dikategorikan pendukung thaghut adalah sikap orang munafik, yang meminta diangkat hakim dari kalangan lain yang tentunya akan memutuskan mereka diluar Kitabullah. Ini diambil dari kalimat:

"Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Ahmad ibnu Yazid Al-Hatui, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Umar, dari Ikramah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu abu Barzah Al-Aslami adalah seorang tukang ramal, dialah yang memutuskan peradilan di antara orang-orang Yahudi dalam semua perkara yang diperselisihkan di kalangan mereka. Lalu kaum musyrik pun ikut-ikutan berhakim kepadanya. Maka Allah Swt, menurunkan firman-Nya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? (An-Nisa 60)."

Alhamdulillah, bagi ane bertambah jelas definisi thaghut yang luas, ternyata juga mencakup tahkim diluar kitabullah.

Kemudian, dari ayat-ayat lainnya, yang menyebutkan bahwa:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.[QS:5.44]

Menjelaskan bahwa, Dan menetapkan hukum diluar kitabullah dan Sunnah-Nya, dikategorikan sebagai kafir. Begitupula menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dikategorikan sebagai Thaghut.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
"Thoghut adalah segala sesuatu yang mana seorang hamba itu melampaui batas padanya, baik berupa sesuatu yang diibadahi atau diikuti atau ditaati. Maka thoghut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemutus perkara oleh suatu kaum, selain Alloh dan rosulNya, atau mereka ibadahi selain Alloh, atau mereka ikuti tanpa berdasarkan petunjuk dari Alloh, atau mereka taati pada perkara yang mereka tidak tahu bahwa itu ketaatan kepada Alloh. Inilah thoghut didunia ini, apabila engkau renungkan keadaan manusia bersama thoghut ini engkau akan melihat mereka kebanyakan berpaling dari berhukum kepada Alloh dan RosulNya lalu berhukum kepada thoghut, dan berpaling dari mentaati Alloh dan mengikuti rosulNya lalu mentaati dan mengikuti thoghut".(Alamul Muwaqqi’in I/50)

Keumuman makna thaghut ini mencakup sifat-sifat kekufuran. Sehingga, maka jelas sekali bahwa kekufuran adalah thaghut itu sendiri. Dan Darul Kufur adalah Darut-Thagut, atau kekuasaan thaghuttiyah (mengikuti definisi yang dikemukakan Imam asy-Syaukani, telah berlalu kutipannya).

Jadi, ini adalah penjelasan dari ane tentang pernyataan antum:
"tetapi makna spesifik Thaghut dalam dalil tentang hukum kufur dan penguasa kafir itu adalah otomatis Thaghut itu tidak ada! "Lihat Selengkapnya

Kamis pukul 15:18 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

Akhi Fajar:

Ane catat tuduhan antum:
1)"bahkan Hizbut Tahrir yang senang menyesat-nyesatkan harakah yang lainnya juga bisa disebut sebagai Thaghut!"
2) "Dan akhirnya berapa banyak imbasnya syabab HT yang menyembah-nyembah thaghut didarul kufur!"
3) Menuduh bahwa HT telah menetapkan: "maka seluruh orang muslim yang berada didarul kufur adalah penyembah Thaghut!"

HT bukan thaghut, bukan penyembah thaghut dan tidak pernah menetapkan bahwa seluruh warga darul kufur adalah penyembah thaghut. Tidak ada nasyroh, tidak fatwa dari HT yang mentakfirkan seluruh kaum muslim di negara Kafir. Khususnya tuduhan yang ke 2 dan yang 3, itu hanyalah dari kesimpulan logika mantiq antum saja. Kesimpulan logika mantiq sebaiknya dihindarkan di dalam pembahasan Fiqh.

"Yang menarik dalam ushul Syafi’i adalah bahwa beliau berjalan dengan pembahasan yang bersifat ushul dan bersifat tasyri’, bukan dengan cara yang bersifat manthiq. Sebab, perkara ini amat berbahaya dalam pembahasan, bahkan berbahaya bagi umat yang bangkit dan berjalan dengan (metode) manthiq, terlebih lagi dalam fiqih dan ushul. Imam Syafi’i sangat menjauhi cara-cara manthiq, dan selalu terikat dengan cara yang bersifat tasyri’. Beliau tidak berputar pada gambaran dan pengandaian yang bersifat teoritis, melainkan mengukuhkan perkara-perkara yang ada faktanya. Artinya, mengambil nash-nash syara’ dan berhenti pada batasan-batasan nash serta pada batas yang ditunjukkan oleh nash dan disaksikan oleh manusia. [Shakshiyyah Islamiyyah, Juz 1]

Ane hanya menyatakan bahwa negara Kufur dapat dikatakan sebagai negara thaghut, berdasarkan kesamaan sifat yang ada pada keduanya yaitu menyelisihi dan bertolak belakang dari keimanan dan kebenaran Kitabullah, Sunnah shahiha dan Ijma’ shahabat. Tidak ada ane menyatakan bahwa rakyat di dalamnya adalah penyembah thaghut. Karena, di zaman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam dan shahabatnya ketika fase dakwah di Mekah, yang notabene adalah dibawah kekuasaan Thaghut dan Kufur, tidak serta merta bahwa kaum muslimin yang tinggal di dalamnya adalah pendukung dan penyembah thaghut. Dengan demikian, sunnah af’alliyah (sirah nabi shalallaahu ‘alaihi wa salam) ini sekalipun khabar ahad sudah sangat jelas sekali membantah kesimpulan Qiyash antum (atau sebenarnya logika mantiq antum, atau bukan Qiyash Syar’i), karena Khabar ahad lebih kuat daripada Qiyash.

"Dan khabar ahad lebih kuat dari pada qiyas apabila illatnya diambil melalui dilalah (penujukkan suatu dalil) atau melalui istinbath ataupun qiyas."[Shakshiyyah Islamiyyah, Juz 1]

Paradoksal dari kezaliman pernyataan antum itu adalah:
1) HT yang insyaAllah telah berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan Syari’ah dan khilafah, dengan kejamnya antum katakan Thaghut, tetapi negara Perancis yang sudah difahami kerusakan dan penentangannya terhadap syari’ah, tidak antum katakan Thaghut.

2) Antum khawatir bahwa jika menyebutkan negara Kafir adalah negara thaghut, akan menghasilkan kesimpulan bahwa warga muslim di dalamnya adalah penyembah thaghut. Tetapi, antum tidak khawatir bahwa dengan menyebutkan HT adalah thaghut juga dapat menghasilkan kesimpulan bahwa kaum muslim di dalamnya adalah penyembah thaghut.

Astagfirullah….

Ane, mungkin belum akan menjawab pertanyaan antum yang terkait dengan aplikasi hukum syara’, jika ternyata permasalahan akarnya saja yang terkait dengan definisi tidak ada kesepakatan.

Allaahu a’lam bi-ash-showwabLihat Selengkapnya

Kamis pukul 16:21 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

@ Riyan Zahaf:
Afwan Akhi. (hehehe)
1. Bukankah kesimpulan yang antum simpulkan sudah sejak lalu saya sampaikan. Berarti dalam hal ini kita sepakat bahwa tidak ada makna khusus bahwa darul kufur itu adalah thaghuttiyah yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir. Alhamdulillah antum sudah menyadari hal ini.

2. Setiap orang harus berlaku adil dalam segala hal, tidak terlepas dia dijadikan hakim atau selainnya. Nah, tentunya ketika dia berada pada darul kufur ya pastinya hakimnya hakim kufur. Tetapi kekufuran itu tentu berbeda dengan thaghut (bathil) yang lebih mengarah kepada keputusan/tindakan. Kufur itu bathil, tetapi khufur bukan berarti menjadi thaghut atau sebaliknya, thaghut tidak berarti harus kufur. Jadi ketika ada hakim kafir yang memutuskan dengan benar, maka hakim tersebut bukan thaghut (bathil). Tetapi tetap dikatakan hakim kafir!

Jadi tentu kita tidak boleh menghakimi seorang munafik, ketika dia mendapatkan masalah sedangkan dia berada pada daerahh kafir. Maka tentu hakimnya juga hakim kafir bukan hakim dari kalangan Islam.

Alhamdulillah antum sudah menyadari saat ini bahwa makna thaghut itu luas. Dan tidak mencakup hanya sekedar Darul kufur yang dinyatakan sebagai otomatis thaghuttiyah.

Wah tafsir lagi neh.
Sebenarnya saya sudah menduga antum akan mengeluarkan jurus ayat tersebut Al Maidah 44 :D

Baik menurut Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Al Maidah 41-44 antum silahkan

Bahwa didalamnya terdapat khilaf antara para ulama, tentang ayat tersebut (QS Al Maidah 41-44). Diantaranya para ulama sepakat dan meyakini bahwa ayat tersebut adalah hanya untuk orang Yahudi saja, dan ada yang sepakat bahwa diantaranya adalah untuk Yahudi dan Nashrani, tetapi ada ulama yang mencakup termasuk umat islam.

Dalil yang menurut pendapat ulama tentang sebab-sebab munculnya ayat tersebut adalah karena ada sengketa dari para Yahudi dengan Yahudi yang lain ketika sedang zinah, dan ada pula yang menyatakan sebagai masalah pembunuhan. Sebab itu beberapa ulama mengkhususkan bahwa dalil ini tidak bisa dipakai pada seorang muslim, karena bisa menghina keimanannya. Namun dalil yang lain memasukkan umat Islam kedalamnya, tetapi lebih kepada bersifat umum.

Jika yang dipakai dalil para ulama yang bersifat umum tentang makna kafir tersebut dipakai juga untuk orang islam dimasa saat ini, maka sejatinya seluruh umat Islam yang berada di Darul Kufur akan dicap sebagai kafir. Setuju atau tidak setuju, setiap orang yang berada didarul kufur maka mereka adalah pengikut hukum kufur.

Maka jika antum memakai pendapat ulama salaf tentang Al Maidah 41-44 itu termasuk umat Islam juga, maka konsekwensinya seluruh syabab HT akan kufur jika berada pada darul kufur. Karena tentu sudah jelas bukan di naungan hukum Islam. Hal ini tidak ada yang dinamakan rukshah, karena ulama salaf yang sepakat dengan memasukan Al Maidah 41-44 termasuk umat Islam itu adalah dari segala konsekwensinya!

Namun saya lebih kepada pendapat ulama salaf yang pertama, yaitu lebih kepada kekhususan ayat tersebut kepada Yahudi saja. Sehingga tentu setiap muslim yang berada didarul kufur tidak termasuk umat Islam yang kufur.

Pengambilan hukum oleh Rasulullah ketika menjadi hakim diantara kedua yahudi tersebut adalah dari kitab suci mereka sendiri, Taurat. Ketika itu Rasulullah bersabda:"Datangkanlah oleh kalian kepadaku dua orang lelaki yang paling alim dari kalian"

Maka mereka mendatangkan dua orang anak Suria, lalu Nabi Saw., bertanya kepada keduanya, "Bagaimanakah kalian jumpai perkara kedua orang ini dalam Kitab Taurat?
Seperti dalam QS Ali Imran 93: "Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar."

Beberapa hadits menunjukkan bahwa Rasulullah Saw., memutuskan hukum sesuai dengan apa yang terkandung di dalam kitab Taurat. Tujuannya ialah untuk memaksa mereka agar mengakui apa yang ada di tangan mereka secara sebenarnya, yang selama ini mereka sembunyikan dan mereka ingkari serta tidak mereka jalankan dalam kurun waktu yang sangat lama.

Hal ini adalah menjelaskan bahwa memutuskan secara benar adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan. "Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman." (QS Al Maidah 43)
Walaupun ketika sudah diputuskan dengan adil orang-orang tersebut tetap tidak beriman.

Ayat tersebut juga menyatakan kepada orang yang senang dengan berita-berita bohong dan perkataan orang lain tanpa dilihat kebenarannya juga seperti tingkah laku Yahudi. Para musuh Islam adalah mereka yang mempunyai kegemaran "amat suka mendengar (berita-berita) bohong." (Al Maidah 41)

Yakni mereka percaya kepada berita bohong dan langsung terpengaruh olehnya: "dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu." (Al Maidah 41)

Pendapat ibnul Qayyim menguatkan pedapat saya juga, bahwa thaghut itu adalah bersifat umum. Tetapi tidak bisa dipakai sebagai dalil untuk menyatakan darul kufur itu adalah thaghuttiyah.

Makna umum sifat kufur dalam Al Maidah 41-44 yang disepakati oleh beberapa ulama salaf tentang hal itu adalah kafir yang bersifat umum. Tentu saja jika ini yang dipakai seluruh umat Islam, tidak hanya orang kafir ketika melakukan sesuatu yang menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya maka tentu mereka semua adalah kafir. Walaupun derajat kafir untuk orang Islam tidak menyamai derajat kafir yang sesungguhnya.

Jadi tentu setiap orang Islam yang berada didaerah kafir adalah penyembah thaghut. Jika merujuk dalil yang antum bilang, nah seharusnya ijtihad ini dimaknai secara umum tentu tidak ada lagi yang harus dikhususkan dengan memakai dalil ruksha atau yang lainnya.

Karena dalam QS Al Ma’idah 41-44 yang dianggap kafir oleh beberapa ulama salaf terhadap umat Islam itu adalah ketika umat Islam tidak bisa menjadikan hukum Islam itu sebagai hukum haq disuatu daerah, maka dengan itu orang yang berada didalam (hukum kafir) tersebut adalah kafir. Yaitu menerapkan hukum Pidana Islam, Perdata Islam, dsb.

Dan kita harus membedakan antara meninggalkan hukum Allah yang telah ada dan menggatikannya dengan Menghukumi bukan dari hukum Allah.

Thaghut adalah bermakna umum, maka siapapun bisa menjadi thaghut.Tetapi negara kafir tidak bisa dijadikan otomatis Thaghuttiyah. kekufuran itu memang thaghut dan ini universal antara muslim dan kafir, tetapi orang kafir belum tentu thaghut! Maka dari itu negara kafir belum tentu Thaghut.

Dalil-dalil antum yang menjadikan makna thaghut universal malah mengkrucut pada negara yang berhukum kafir. Padahal seharusnya ada dikotomi dalam hal ini.

Hal ini berarti Hizbut Tahrir memang membuka mata mereka hanya kepada negara yang menghukumi selain dari hukum Allah yang buruk-buruknya saja. Dan tidak pernah melihat sisi kebaikan sesuatu. Jelas hal ini munkar, tentu bukan institusi yang adil dalam memutuskan suatu perkara.

Bukankah Allah menyuruh kita untuk Adil dalam berbagai hal! Hal ini termasuk menghukumi sesuatu perkara, walaupun sebuah negara kafir ketika mereka menerapkan aturan yang baik, maka kita harus mengapresiasikan dengan baik. Dan jika ada sisi keburukannya, maka pahamilah bahwa mereka adalah kafir, yang mungkin (prasangka baik kita) belum mengenal Islam secara utuh.Lihat Selengkapnya

Kamis pukul 21:48 · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

Jawaban ke II
1. Ini bukan tuduhan, tetapi fakta. Ada banyak bukti Hizbut Tahrir senang sekali menyesat-nyesatkan harakah yang lainnya!

2. Logikanya, setiap orang yang berada pada darul kufur adalah orang yang dinaungi hukum kufur, alasan HT darul Kufur adalah Thaghuttiyah mencakup segalanya. Termasuk pelaku hukumnya. Sekarang, coba bayangkan ketika Aktivis Syabab Hizbut Tahrir ketika dicekal oleh negara kafir, mereka mengikuti aturan tersebut dengan tidak memasuki wilayah itu. Bukankah hal itu masuk kedalam tekstual Umar seperti yang dipahami HT!

3. Ini bukan tuduhan, tatapi otomatis. lihat jawaban ke-2

Yah, mana ada organisasi Islam yang mau disebut Thaghut akh. Hehehe. HT juga tidak akan mau disebut thaghut dengan berbagai alasan. Nah kalau tidak mau disebut Thaghut, yah tidak perlu ngurusi harakah Islam yang lain! Apalagi dengan "berlebih-lebihan" menyesatkan harakah yang lain tidak Islami.

Antum mengambil dalilnya Imam Syafi’ tentang mantiqi, sedangkan antum sendiri menggunakan mantiq untuk menafsirkan thaghutiyah! Kok aneh yah? :D

Kita tidak bisa melepaskan logika dan dalil walaupun jelas harus mengutamakan dalil. Namun logika yang ingin disampaikan harus sesuai dengan dalil.

Saya memberikan berbagai logika sesuai dengan dalil yang saya berikan, bahkan logika mantiq yang saya pakai tidak menyimpang dari dalil yang antum berikan.

Antum mengatakan "Ane hanya menyatakan bahwa negara Kufur dapat dikatakan sebagai negara thaghut, "

Hehehe yaa Rabb… bukankah pernyataan ini sangat jelas "Dalam pandangan Ulama HT, Perancis, sebagai negeri yang menerapkan aturan kufur, keamanan dan penguasanya bukan ditangan Islam, dikatakan sebagai Darul Kufur. Atau dikatakan sebagai negara Thaghuttiyah."

Kalimat HT dengan jelas memvonis thaghut adalah pemerintahan kufur dan hukum kufur, setelah itu kalimat terakhir antum menyatakan "DAPAT DIKATAKAN". Nah kata yang terakhir ini jelas antum mulai berfikir bahwa thaghut itu "Bisa Jadi negara yang memutuskan suatu perkara secara bathil, entah itu negara kafir atau negara Islam" Alhamdulillah, antum sudah mulai tersadar sedikit demi sedikit.

Jika negara kafir belum tentu thaghuttiyah tentu hal itu tidak akan menghakimi seluruh umat Islam yang berada pada negara kafir. Contoh halnya Rasulullah, pernah Rasulullah saat fase Mekkah mengatakan kekuasaan Mekkah adalah kekuasaan kafir maka dengan otomatis menyatakan sebagai thaghuttiyah? Tidak pernahkan! Tetapi thaghut bermakna lebih umum, lebih general dan universal, siapapun bisa menjadi thaghut.

Jawaban Yang merasa
Paradoksal dari kezaliman pernyataan antum itu adalah:
1. Antum tidak perlu melankolis seperti itu akh. Saya tidak menuduh, ini adalah sebuah logika ketika fatwa ijtihad HT diterapkan bahwa semua darul kufur itu adalah Thaghuttiyah, nah berarti dengan jelas rakyat yang dibawahnya kena semua jadi penyembahnya termasuk jika disitu ada masyarakat Islamnya, atau ada syabab HT disitu.

Afwan akhi, kalau baca itu dilihat dengan jelas. Dicerna satu persatu, sehingga prasangka buruk antum kepada saya tidak terlalu akut. Lihat kalimat saya diatas, dengan jelas saya menyatakan:
"Nah, jika saya menyatakan Perancis negara thaghuttiyah, maka saya akan menuduh seluruh umat Islam yang ada di Perancis adalah penyembah Thaghut! Hukum perancis yang melarang penggunaan niqab, jilbab, dll. Adalah salah satu keputusan thaghut, tetapi hukum Perancis yang melarang pembunuhan, pencurian, dll. Maka itu bukan keputusan thaghut!"

Bayangkan, thaghut yang maknanya umum saja antum merasa bahwa hal itu kejam ketika diarahkan kepada HT, lalu bayangkan setiap harakah ketika disesat-sesatkan HT dengan atasnama institusi HT-nya. Wah, ini bukan kejam lagi, tapi zhalim. Nah, coba bayangkan perasaan jutaan orang yang merasa kesal dan merasa ter-zhalimi oleh buletin-buletin HT yang menyudutkan, melecehkan, mencela, dll. Dalam menuduh gerakan/organisasi/harakah Islam yang lain telah tersesat?

2. Itulah kekhwatiran saya, bahwa ketika saya menjustifikasi seperti ijtihad HT, maka dengan otomatis imbasnya kepada umat Islam yang lainnya sebagai penyembah thaghut. Maka saya dalam hal ini lebih mudah menilainya sebagai hal yang umum, bukanhal yang khusus seperti HT (Darul Kufur adalah Thaghuttiyah). Loh, saya tidak pernah menyebutkan HT Thaghut, kan saya bilang "SEANDAINYA". Bukankah makna Thaghut yang saya sampaikan diatas sudah jelas! Iqra’…Iqra’ jangan prasangka buruk yang didahulukan.

Beginilah jika ruh tidak selalu dibersihkan, jiwanya keruh dengan prasangka buruk. Astagfirullah!

Loh bagi saya sudah ketemu akar masalahnya. HT memaknai thaghut kepada makna khusus Darul Kufur adalah Thaghuttiyah. Sedangkan saya memaknai umum bahwa Thaghut itu adalah perilaku, tindakan, keputusan dalam melakukan sebuah kegiatan yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sangat jelas bukan bedanya!

Perbedaan ijtihad ini akan susah disatukan akhi, kecuali jika satu sama lainnya terbuka dan menerima perbedaan dalam berijtihad, bukan senang menyesat-nyesatkan harakah yang berbeda ijtihadnya.

Saya tetap menghormati ijtihad ulama Hizbut Tahrir! Tetapi bukan berarti menerima disesatkan Hizbut Tahrir!

Wallahu’alam.Lihat Selengkapnya

Kamis pukul 21:48 · SukaTidak Suka

  • clip_image002

Riyan Zahaf

‎@akhi Fajar:

Buat ane, udah terang kebathilan (sifat penentangan terhadap Kitabullah dan sunnah) dari Hukum Prancis. Sehingga, Hukum Perancis adalah Hukum Thaghut. Sudah terang bahwa Hukum Perancis berlawanan secara Qathi’ terhadap hukum Allah subhana wa ta’ala, karena itu hukum Perancis adalah Hukum Kufur.

Allaahu a’lam bi-ash-showwab.Lihat Selengkapnya

11 jam yang lalu · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

Wah… seru juga debatnya.. Saya ketinggalan jauh nih.. Semoga ilmu Anda berdua diberkahi Allah Swt.

@ Riyan: maaf saya mengusik kembali apa yang saya permasalahkan atas perkataan Anda, yaitu: " Tidak mungkin, suatu perkara dikatakan benar dan salah secara bersamaan. Yang ada, hanya salah satunya, yaitu benar dan salah, halal dan haram. Begitu pula, terhadap perkara ijtihadiyah, tidak mungkin semua pandan…gan yg berbeda itu salah semua, atau benar semua. Yang ada adalah, ada yang salah dan ada yang benar."

Kemudian Anda menjawab mengenai kasus shalat ashar saat para sahabat menuju Bani Qurayzah. Berikut sebagian dari jawaban Anda:
"Akan tetapi, sikap shahabat yang senantiasa melaporkan dan mengadukan ikhtilaf dikalangan mereka kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam menunjukkan bahwa:

1) Masing-masing kelompok shahabat, membenarkan pendapat mereka dan menganggap lemah atau salah pendapat kelompok yang lain. Karena, tidak mungkin ada perselisihan atau pertengkaran yang mesti diselesaikan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam jika masing-masing kelompok shahabat telah membenarkan pendapat kelompok shahabat yang lainnya.

2) para shahabat mengkhawatirkan kalau-kalau ijtihad mereka adalah salah, sekalipun hasil ijtihad itu telah mereka putuskan dengan segenap kemampuan mereka."

Pendapat saya:
1) Pada akhirnya asumsi2 dari para sahabat yang merasa benar sendiri (menyalahkan pendapat yang lainnya) telah dipatahkan oleh Rasulullah sendiri, dengan membenarkan kedua jtihad yang berbeda tersebut. Pelajaran dari sini adalah, jangan begitu mudahnya menyalahkan ijtihad kelompok lain, sebab bisa jadi ijthad yang Anda salahkan itu ternyata ijtihad yang dibenarkan. Bahkan asumsi Sahabat sekalipun telah dibuktikan Nabi Saw adalah asumsi yang keliru, yaitu asumsi sebagaimana yang Anda katakan " membenarkan pendapat mereka dan menganggap lemah atau salah pendapat kelompok yang lain. " Gimana lagi dgn asumsi Anda atau Hizb Anda yang menganggap ijtihad kelompok atau ulama lain adalah salah, sedangkan Anda sendiri bukanlah Sahabat Nabi Saw.
Salah dalam ijtihad tetap mendapat nilai 1, sedangkan salah berasumsi (menganggap pendapat sendiri yang benar) tidak ada jaminan mendapat pahala!

2) Apakah Anda tidak mengkhawatirkan kalau-kalau asumsi Anda adalah salah, atau vonis2 Anda atas ijtihad kelompok lain adalah vonis yang keliru???
Di masa sekarang ini dimana Rasulullah telah tiada sebaiknya Anda berhati2 dalam memvonis salah pendapat lain, sebab bisa jadi Anda dalam waktu yang sangat lama akan berada dalam kejumudan asumsi buruk. Berbeda dengan para sahabat, yang begitu mudah mendapat jawaban kebenaran dari Rasulullah, sehingga jika ternyata mereka keliru maka secepatnya mereka menyadari kekeliruan itu.Lihat Selengkapnya

9 jam yang lalu · SukaTidak Suka

  • clip_image005

Sang Pengelana

‎@ Riyan:
Anda berkata: "Jadi, tidak berarti bahwa setiap ijtihad shahabat selalu dibenarkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa salam, karena ada kalanya rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam menguatkan salah satu pendapat ijtihad shahabat seraya melemahkan pendapat yang lain, atau bahkan menyalahkan semua pendapat ijtihad shahabatnya sama sekali."

Jawaban saya:
Anda benar, tidak berarti setiap ijtihad sahabat selalu dibenarkan oleh Rasulullah saw. Namun riwayat2 yang Anda sampaikan tersebut hanyalah menjelaskan demikian, yaitu Nabi Saw dalam beberapa hal menolak ijtihad sahabatnya. Baik riwayat #1 maupun #2 tidak menjelaskan adanya dua ijtihad yang berbeda dari para sahabat atas satu permasalahan, kemudian Rasulullah Saw menghakiminya. Jadi, riwayat2 yang Anda kutip itu tidak pas membenarkan pernyataan Anda "Tidak mungkin, suatu perkara dikatakan benar dan salah secara bersamaan. Yang ada, hanya salah satunya, yaitu benar dan salah, halal dan haram. Begitu pula, terhadap perkara ijtihadiyah, tidak mungkin semua pandangan yg berbeda itu salah semua, atau benar semua. Yang ada adalah, ada yang salah dan ada yang benar."
Harusnya Anda sampaikan riwayat lainnya yang menjelaskan peristiwa dimana Rasulullah menentukan kebenaran salah satu dari dua ijtihad para sahabatnya yang saling berbeda.

BenarLihat Selengkapnya

9 jam yang lalu · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf:

Jazzakallahu khair… telah berkenan berdialog dengan saya. Dan saya rasa dengan jawaban antum diatas, mengubah dialog kita. Sehingga sudah tidak lagi merujuk kepada dalil yang syar’i dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Namun lebih mengedepankan emosi, prasangka dan hamasah saja. Sehingga mungkin ini titik final bagi kita berdua untuk mengakhiri dialog ini.

Semoga dengan kasus dialog ini kita semua bisa mengambil hikmah, bahwa beragama tidak cukup dengan berprasangka dan bersemangat saja. Tetapi lebih kepada mengedepankan ilmu dengan dalil yang benar, dan memahami Islam dengan sebaik mungkin tanpa merasa paling benar sendiri.

"Janganlah menghukumi orang dengan pernyataan pendosa (selalu berbuat dosa), sedangkan setiap orang pasti ada perbuatan baiknya." (Ibn Muslim bin Sa’id)

Sahabat Abdillah bin AmTin bin Ash ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Orang-orang yang berlaku adil, kelak di sisi Allah mereka berada di atas mimbar nan indah yang terbuat dari nur, berada di sebelah kanan Allah. Padahal semua sisi, bagi Allah adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang bertindak adil dalam memberi hukum dari dalam melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab mereka." (HR. Muslim dan Nasai).

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS Al Maidah 8)

"Setiap permusuhan dapat didamaikan. Kecuali permusuhan orang timbul dari kedengkian" (Syair Mu’awiyahh)

"Mata Keridhaan tidak dapat menyaksikan aib, tetapi mata kebencian menampakkan segala keburukan" (Tazkiyatun Nafs)

Terakhir:
Apabila kamu berjumpa dengan seorang yang memperturutkan sifat pelit, mengumbar hawa nafsu, mengutamakan dunia, dan selalu membanggakan pendapatnya sendirii, maka selamatkan dirimu. (Sunan at-Tirmidzhi)

Syukron. Telah meluangkan waktu dari diskusi kita ini, insya Allah ini akan menjadi hal yang menarik bagi kita semua.

Semoga Allah memberikan kemudahan ilmu-Nya, bagi kita semua agar dapat memahami apa yang terkandung didalam-Nya dan menjadi mu’min sejati yang tanpa merasa paling benar sendiri. Amien.

Barakallahu…

@ Sang Pengelana:
Amien. Wa barakallahu.

Terima kasih telah meluangkan waktu dalam berdialog bersama.Lihat Selengkapnya

9 jam yang lalu · SukaTidak Suka

  • clip_image007

Fajar Agustanto Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan fitnah keji dari syabab HT. Hal ini bukan yang pertama kali. Insya Allah. Jadi timbangan pemberat amal kebaikan bagi saya. Amien.

9 jam yang lalu · Suka

 

Ini adalah link-link mengenai postingan tentang Hizbut Tahrir:

Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS

Dewan Masjid Manchester (Afzal Khan): Hizbut Tahrir Tidak Mewakili Umat Islam Mayoritas

Hizbut Tahrir Berulah Lagi, Menghina Muslim Yang Lainnya "Jawaban Atas Fitnah"

HIzbut Tahrir Menyesatkan Hamas

Daftar Pertanyaan Yang Belum Dijawab Kader Hizbut Tahrir

Apakah benar kader HTI munafiq?

About these ads

9 Tanggapan

  1. Masya Allah. Susah sekali yah di ingatkan, ketika dialog pun kayaknya hanya ingin membenarkan pendapatnya sendiri saja.

    Semua hujjah sudah ditegakkan, bahkan ketika menafsirkan seenaknya sudah dijelaskan maksud tafsiran sesungguhnya dari Ibnu Katsir, tetapi tetap menyatakan Darul Kufur adalah Thaghuttiyah.

    Saya tidak bisa bayangkan ketika saya dan saudara-saudara disini (Toronto) harus rela menjadi penyembah thaghut karena mengikuti aturan kufur.

    Kayaknya memang saudara-saudara Hizbut Tahrir di berbagai negara perlu belajar ukhuwah Islamiyah yang dalam, karena sampai sekarang Imam Masjid disini sering dibuat pusing oleh ulah orang-orang Hizbut Tahrir.

    Salam dari nan jauh dari Indonesia yang rindu berlebaran di Indonesia.

    Jawab Abu Jaisy:
    Kedengkian mengalahkan segala kebenaran, mematikan dan menjerumuskan Iman.
    Terima kasih telah berkunjung.
    Salam kenal.

  2. panjang bener artikelnya.. nanti save dulu ye.

    Jawab Abu Jaisy:
    Silahkan bu…

  3. copas komentar si penulis :

    “Didialog ini bisa kita lihat bahwa ketika mereka berdialog, maka sesungguhnya mereka itu hanya ingin mengalahkan lawan dialognya saja, tidak benar-benar ingin mendapatkan kebenaran. Sehingga kebenaran mereka itu hasil dari pembenarannya saja, bukan bukti dengan dalil yang syar’i dari kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”

    “Syabab Hizbut Tahrir dari dulu hingga sekarang ternyata masih tidak pernah berubah, debat adalah ciri mereka untuk mempertahankan kelemahan mereka. Ibarat strategi perang, mereka mungkin beranggapan “Pertahanan yang terbaik itu adalah menyerang”. Sungguh ini adalah strategi yang bodoh jika dilakukan oleh orang yang lemah, karena prinsip strategi yang bagus adalah “mengukur kemampuan musuh sebelum bertanding adalah sebuah kewajiban”.

    dst…..

    Dari sini saja bisa dilihat bagaimana karakter si penulis yang MEMFITNAH orang lain dengan kata – sebutan FITNAH pula. Dari sini pula bisa di lihat siapa yang karena ketidafahaman nya sehingga dengan mudah memfitnah lawan debatnya. Dapat pula dilihat siapa yang sebnarnya yang telah menepuk air di dulang.

    Jawab Abu Jaisy: :D
    Tidak perlu esmosi begitulah John, kalau saya menfitnah sebutkan kata yang saya fitnah dengan bukti konkrit. Bukankah kalimat diatas sudah jelas, bahwa memang Hizbut Tahrir senangnya berdebat dan menyerang, lah itu diatas ada debat dan serangannya. Saya punya postingan lagi john, mungkin malah membuat si John tambah meradang. “Menguak Keburukan Watak Syabab Hizbut Tahrir”, tunggu yah John!

    Kalau ada buktinya itu bukannya menfitnah John! Masa gitu aja nggak ngerti sih. :D

    Freeport, agama kok dipahami dengan emosi :D

  4. HT oh HT….

  5. [...] $27 Dalam SehariInilah Akibatnya Jika Berani-berani Mengganggu Indonesia (Pic, Rudal Pemusnah TNI)Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS, Part IIKobaran Api Seribu Derajat Celcius di Dasar Laut (Salah Satu Bukti Kebenaran Al Quran)Download Novel [...]

  6. miqumm ikhwan,klo sy prhtikn,anda n si A itu GR dgn klompok anda msing2,ribut wae kaya ora nduwe utek! mgkin RosuluLlah dsna malu mliaht klakuan anda masing2,yang notabne saling mnjelekn. Anda jg mnybut nma n kburukn orang,anda sdh tw bkn hkm mmbincangkn kjelekn orang lain? apkh itu kpribadian seorang mukmin? dh,koreksi akhlaq qt msing2 apkh sesuai yg dcontohkn bginda RasuluLlah SAW.
    ingat smkin qt sling mrsa bnar mka mdh bgi orang2 kafir untuk mmcah ukhuwah umat muslim,qt saudara n jgnlah brcerai berai.
    wassalam……….

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehee… moso wong Islam kok ngilokno wong Islam liane “Ngak duwe utek”. Iki yo luweh nggak berakhlaq! (Masa orang Islam kok mengolok orang Islam yang lainnya “Nggak punya otak”. Ini malah nggak berakhlaq).
    Jangan perhatikan PKS-nya, tapi perhatikan dialognya. Saya tidak membangga-banggakan PKS, PKS disitu adalah “perwakilan” dari partai Islam (PKB, PPP, PKNU,PMB, dll). Nah karena disitu cuma hanya ada “anggota” PKS, maka saya memberikan hujjah argumentasi Partai Islam semuanya ketika mengikuti demokrasi.
    Bukankah jelas HTI menyesatkan semua partai Islam (PKS, PKB, PKNU, PMB, PAN, dsb), karena mengikuti demokrasi dan dianggap sebagai antek thaghut!? Maka saya memberikan hujjah jika itu tidak benar! Dan itu terbukti, karena kedangkalan berfikir seseorang maka mereka mudah menyesat-nyesatkan umat Islam yang lainnya.

    Coba ente lihat di situs pusat HTI, mereka mudah sekali menyesat-nyesatkan umat Islam yang lainnya. Saya hanya ingin memberitahukan bagaimana faham HT ini bisa merusak hubungan sesama Islam yang lainnya.

    Aib itu ada yang tidak boleh dibuka dan ada yang boleh dibuka jika menyangkut kemaslahatan umum, baca Tazkiyatun Nafs. (Lihat ilmunya sebelum berkomentar). Lagi pula dialog itu di Facebook, tentu itu adalah ruang publik dan tentu itu bukan sebuah aib bagi HT!

    Jangan lihat PKS-nya, lihat dialognya BOS!

  7. PKS sudah jelas hubud dunya nya.. mereka orang2 yang cinta dunia dan takut kehilangan kekuasaan..

    Jawab Abu Jaisy:
    nah kalau ini yang paling bodoh komentarnya, karena tidak bisa melihat realitas dan yang paling bodoh adalah karena sudah membodohkan orang lain tanpa hujjah yang benar. :D
    Neh lihat para kader PKS —> http://www.suaranews.com/2011/01/gubernur-sumbar-sosok-pemimpin-tauladan.html
    Atau —> http://www.suaranews.com/2011/01/kasihan-anggota-dewan-ini-karena.html

    Fitnah ente kembali kepada diri ente!

  8. @ atas: Bukankah jelas HTI menyesatkan semua partai Islam (PKS, PKB, PKNU, PMB, PAN, dsb), karena mengikuti demokrasi dan dianggap sebagai antek thaghut!? Maka saya memberikan hujjah jika itu tidak benar! Dan itu terbukti, karena kedangkalan berfikir seseorang maka mereka mudah menyesat-nyesatkan umat Islam yang lainnya.
    kom: ini adalah sbuah kebodohan komentarnya..

    Jawab Abu Jaisy:
    Kenapa hanya bisa komentar tentang : Bodoh, Sesat, kufur, dsbnya.
    Disitu dijelaskan dengan gamblang, sungguh hanya orang bodoh saja yang tidak mau membaca dan berfikir. Tulisan yang panjang begitu hanya dijawab “ini adalah sbuah kebodohan komentarnya”, hehehe… siapa yang bodoh? Yang suka membodohkan tanpa hujjah atau yang memberikan hujjah tanpa berucap bodoh? Hehehe… aneh-aneh saja komentarnya :D

  9. biarkan sj bang. mereka (HT) mmg suka berdebat dan membahas masalah yg sebenarnya nomor dua. sy byk berteman dgn bbrp dari mrk dan sy tdk prnh meladeni mrk berdebat krn tdk satupun dr mrk yg mengerti bahasa arab apalagi menguasai 10 ilmu alat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: