Evaluasilah diri kita!


Apa yang saat kita lakukan pada saat pertama kali terjadi tabrakan menimpa kita?
+ Hal yang sering pertama kita lihat adalah kendaraan milik kita sendiri, rusak atau tidak

Apa yang saat kita lakukan jika ada orang meminta-minta?
+ Hal yang sering kita lakukan adalah menolak atau memberi sambil menggerutu atau juga memberi tanpa ekspresi

Apa yang kita lakukan saat melihat orang melakukan kesalahan?
+ Hal yang sering terjadi adalah langsung menyalahkan atau bahkan langsung dicaci dan dimaki si pembuat kesalahan tersebut.


Apa yang kita lakukan saat kita dipuji orang?
+ Hal yang sering terjadi adalah merasa bangga terhadap diri walaupun nanti mengatakan “ah itu sih biasa-biasa aja?”

Apa yang kita lakukan jika saat kita ngebut dijalan dan ada orang menyeberang tepat dihadapan kita?
+ Hal yang sering kita lakukan adalah, langsung mengatakan “Mau mati loe!” atau kata-kata lain. Sambil marah-marah.

Semua itu adalah sepenggal dari banyaknya permasalahan yang kita jumpai atau alami sendiri setiap hari. Adalah evaluasi bagi diri kita, saat emosi masih dalam taraf pengendalian. Bukan mengendalikan emosi kita, maka kita akan lebih bersifat responsible pada setiap kejadian apa yang menimpa kita. Dan responsible yang kita lakukan adalah bersifat devensif atau membela diri kita, dengan merasa bahwa diri kita paling benar dari orang lain.

Jika saat kita bertabrakan, dan saat itupula langsung kita melihat kendaraan kita, tanpa memperdulikan kendaraan orang lain. Merupakan hal yang biasa terjadi, namun pada dasarnya sifat-sifat seperti ini sebenarnya sifat merasa memiliki yang berlebihan. Padahal semua barang dan diri kita hanyalah sebuah titipan semata, niscaya Allah akan mengambil apa yang dititipkan didiri kita. Manakalah kita merasa bahwa semua milik kita adalah milik Allah, maka sungguh tidak akan ada perasaan kepemilikan yang berlebihan. Dan tidak akanmembuat kita galau saat Allah ingin mengambilnya.

Ada sebuah kisah nyata yang menarik dari teman saya. Pada saat di ditabrak oleh seseorang, padahal sudah jelas-jelas orang tersebut salah mengendalikan kendaraannya. Malah teman saya yang disalahkan, dan dimintai ganti rugi. Teman saya mengatakan “lebih baik ke polisi saja pak! Insya Allah kita tahu yang mana yang benar” seseorang yang salah tersebut ngotot tidak mau ke polisi, tapi ingin berdamai saja dengan tetap mengharuskan teman saya untuk mengganti rugi kerusakan si penabrak. Teman saya tersenyum, sambil mengatakan “Pak, Insya Allah saya mau mengganti kerusakan kendaraan bapak. Tapi apakah bapak berani mempertanggungjawabkan kebenaran bapak yang jelas-jelas adalah kesalahan? Demi Allah, Tuhan saya. Saya tidak bersalah, dan saya siap mengganti kerusakan motor bapak. Karena sungguh, Allah itu Maha Adil, yang pasti nanti menghukum setiap orang yang bersalah tanpa meminta maaf atau tersadaar dari kesalahannya!” padahal sudah banyak saksi dari para tukang becak dan orang-orang disitu kalau teman saya tidak bersalah. Sebenarnya ada beberapa kisah menarik dari teman-teman saya yang lain. Tapi karena saya takut teman-teman pada ujub (membanggakan diri) jadi yah satu aja kisahnya :).

Inilah kisah yang mungkin terjadi di sekitar kita, atau mungkin pada diri kita sendiri. Itulah indahnya Islam, saat-saat orang mengerti tentang ajaran Islam. Mereka tidak akan mudah mengumbar emosi dimanapun. Dan selalu menyebar rahmat dalam setiap tempat yang disinggahinya.

Ketika ada seorang meminta-minta kebiasaan kita sering memberi tapi menggerutu atau memberi tanpa ekspresi, atau bahkan tidak memberi tapi menggerutu. Indah saat kita melihat ajaran Islam dengan penuh kebijakan. Islam menganjurkan orang berkasih-sayang hingga sampai senyum kepada saudaranya pun menjadikan sebagai Ibadah tersendiri di mata Allah. Sungguh alangkah baiknya saat kita tersenyum sambil memberikan sesuatu, pemberian kita bukan karena kasihan tetapi lebih didasarkan karena perintah Allah untuk mengasihi setiap umat manusia.

Dan alangkah indahnya saat kita tidak memberi, namun senyuman penolakan dengan lemah lembut yang menjadi persambahan. Karena betapapun saat kita tersenyum, sebenarnya ada nilai sedekah yang tinggi pada setiap senyum kita. Mulai saat ini berusahalah untuk tersenyum kepada setiap orang, dan hilangkan maksud senyuman-senyuman semu kita! Tapi, jangan tersenyum sendiri :).

Seringnya kita saat melihat orang melakukan kesalahan, sesering itupula kita menyalahkan atau bahkan ramai-ramai mencaci-maki. Sungguh disetiap jiwa manusia, pasti sering melakukan kesalahan, karena itu merupakan hal yang niscaya pasti dilakukan oleh manusia. Karena manusia bukan malaikat yang tanpa dosa. Manusia adalah tempatnya khilaf (lupa) dan dosa.

Alangkah bijaknya saat kita melihat orang melakukan kesalahan. Orang tersebut kita rangkul dan kita berikan penjelasan dengan kelembutan bahasa dengan akhlaq yang teduh. Karena sesungguhnya setiap manusia yang melakukan kesalahan, didalam qalbunya terdapat kegundahan yang mendalam. Maka jangan malah menambah kegundahan itu menjadi api yang membakar tubuh. Hingga akhirnya api itu menghanguskan kegundahan dalam qalbu. Sehingga rasa bersalah dalam kegundahan itu akhirnya sirnah. Dan orang tersebut akan melakukan kesalahan terus-menerus. Jadi jangan menyalahkan orang-orang yang telah bersalah.

Pujian kadang membuat kita lupa, bahwa tubuh ini adalah titipan dari Sang Khaliq. Sungguh saat seseorang dipuji oleh orang lain, kita tidak akan mudah menafikkan rasa ujub kita. Maka alangkah baiknya, saat kita dipuji seseorang. Kita beristiqfar didalam hati, karena sesungguhnya yang berhak di puji hanyalah Allah SWT. Syetan-syetan sering merasuk dalam tubuh dengan balutan yang halus dan bentuk yang indah. Bahkan pujian itu pun kadang adalah lontaran-lontaran syetan untuk melumpukan hati kita. Maka kita harus waspada dengan semua itu. Namun jangan sampai yang memuji kita, kita katakan “anda syetan!” walah bisa kacau urusan!

Ini yang sering terjadi, mengebut dijalan sambil merasa bahwa jalan adalah milik kita sendiri sampai-sampai kita lupa ada haq orang lain disetiap jalan yang kita lalui. Arogansi yang kadang berselubung dengan keterburu-buruan membuat diri kita menjadi target syetan untuk melajukan kendaraan kita sekencang-kencangnya. Hingga kita lupa bahwa kita melakukan sebuah kesalaha besar. Karena menzhalimi orang lain, apakah kita mau saat kita mengebut lalu ada orang yang tersinggung dan akhirnya berdoa kepada Allah, karena orang yang tersinggung tersebut terzhalimi seandainya Allah benar-benar mengabulkan doa orang itu, malah kita yang rugi sendiri. Sudah dosa, malah dapat siksaan lagi. Yah untung-untung tidak di do’akan menjadi kodok!

Setiap hari kita beraktifitas, setiap hari pula kita melakukan pekerjaan. Dan setiap hari itulah evaluasilah diri kita. Jadikan kita benar-benar menjadi orang yang lebih baik tanpa mengulangi kesalahan yang sama dihari yang berbeda. Karena sesungguhnya saat kita menghisab diri kita setiap hari, maka itu adalah lebih baik daripada dihisab di yaumul akhir nanti!

Just fromJaisy01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: