POLIGAMI BUKAN UNTUK SEMBARANG ORANG


”HA! POLIGAMI!” sekilas ada seorang yang tercengang saat kalimat poligami dilontarkan. Banyak kaum wanita merasa takut dengan kata-kata yang berbau POLIGAMI. Dalam beberapa hal, kadang poligami membuat kita merasa jengah dengan seorang pria yang malakukannya. Wanita akan menganggap hina bagi dirinya, jika dia menjadi seorang yang dipoligami.

Sejarah membuktikan bahwa, banyak seorang yang menikah. Karena kebutuhan seksnya terlalu besar. Dan seorang wanita, hanya dijadikan objek seksual kaum pria. Seperti pernikahan raja-raja dalam masa-masa kegelepan (Eropa) dan jaman Jahilia (Arab).

Setelah itu lahirlah seorang nabi dari Arab. Yang dijuluki, Muhammad. Dengan sangat luar biasanya. Nabi ini bisa mengembangkan dakwah dalam agamanya. Hingga sampai kemanapun. Sampai-sampai menjadi tokoh No. 1 sebagai Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (buku Michael H. Hart) yang terbit di Eropa. Semua masalah dapat dipecahkannya, melalui beberapa firman yang diturunkan oleh Allah. Termasuk masalah poligami. Dan sangatlah hebat, Muhammad bisa menjadikan poligami sebagai solusi dari krisis yang melanda wanita-wanita Arab. Saat peperangan terjadi, jumlah kaum perempuan yang menjadi janda. Sangat melonjak drastis. Apakah seorang perempuan yang menjadi janda, bisa ditolong tanpa harus menikahinya? Sebuah pertanyaan besar dibenak kita.

Seorang perempuan, adalah manusia biasa. Seperti kaum pria juga. Mereka mempunyai rasa yang ingin disayang dan menyayangi. Seorang wanita pun menginginkan sebuah kepastian dalam sebuah hubungan dan takut akan terkena fitnah. Adalah Dr. Gustaf Lebon. Seorang cendekiawan Eropa, yang mengatakan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa praktik poligami secara resmi yang dipraktikkan masyarakat Timur lebih baik daripada hubungan seksual diluar nikah dan yang mengakibatkan banyaknya bayi lahir tanpa ayah, sebagaimana yang terjadi di sejumlah Negara Eropa. Ketertinggalan kaum Muslimin dalam mengejar kemajuan saat ini bukan disebabkan dibolehkannya poligami. Kenyataan ini harus kita sadari.

Jika dicermati dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ideal hubungan suami istri adalah di saat seorang suami hanya memiliki seorang istri. Inilah kondisi kehidupan rumah tangga yang ideal. Kondisi seperti inilah yang ingin dicapai oleh umat manusia dan seharusnya terus dipelihara oleh sepasang suami istri. Akan tetapi, ada beberapa factor yang menyebabkan manusia tidak selamanya dapat mempertahankan kondisi ini. Laki-laki kadang terjebak dalam suatu kondisi yang mengharuskannya beristri lebih dari satu. Keputusan untuk melakukan poligami ini terkadang dilakukan bukan hanya untuk kemaslahatan suami sendiri, namun juga untuk kemaslahatan orang lain.

Terkadang poligami dilakukan untuk kemaslahatan manusia secara umum. Perempuan bekerja di kantor-kantor, pabrik-pabrik, dan di tempat-tempat umum. Kondisi yang membuat mereka sering menjadi sasaran pelecehan seksual. Dan, hal ini juga telah menggugah sebagian cendekiawan Inggris untuk menyuarakan agar praktik poligami diberlakukan kembali (Di Inggris).

Didalam artikel yang termuat di harian London Truth. Seorang jurnalis perempuan menulis.

….Lihatlah berapa banyak anak yang lahir dari hubungan gelap? Tidakkah ini merupakan suatu aib kemanusiaan? Jika poligami dibolehkan, kondisi memprihatinkan yang menimpa bayi hasil hubungan gelap tidak akan terjadi. Jika poligami dibolehkan, maka kehormatan keduanya akan terjaga…

Dalam surat kabar Esterm Mile. Seorang penulis kenamaan, Miss Enrud menulis;

Kenapa negeri kita tidak seperti negeri-negeri muslim yang mengajarkan agar kehormatan dan kesucian perempuan dipelihara. Negeri di mana para perempuan memiliki pembantu yang siap melayani dengan baik. Mereka menjalani hidup dengan indah dikelilingi pembantu yang melayani mereka berikut anak-anak mereka dengan baik. Walhasil, mereka tidak mengalami kondisi di mana harga diri dan kehormatannya dilecehkan. Benar-benar aib memalukan bangsa Inggris jika kaum perempuannya terjebak dalam perilaku buruk sebagai akibat pergaulan bebasnya dengan laki-laki. Apa yang menghalangi kita menganut konsep yang membuat perempuan terfokus mengerjakan tugas yang selaras dengan fitrahnya, dan menyerahkan urusan laki-laki kepada laki-laki?

Dalam surat kabar Echo. Lady Cokce, memiliki pendapat.

Lihatlah, bukankah perempuan yang hamil di luar nikah kebanyakan adalah perempuan yang bekerja di lapangan public, para pembantu, dan para perempuan yang membiarkan dirinya menjadi barang pameran, yang bebas dilihat dan dinikmati keindahan tubuhnya oleh siapa saja. Jika para dokter memboikot memberikan obat-obat pencegah kehamilan, sudah pasti kita dapati jumlah kehamilan di luar nikah sangat mencengangkan.

Jadi system poligami, sebenarnya bukan system yang merusak hubungan suami istri. Tetapi, sejatinya menyelamatkan wanita dari bahaya-bahaya aib yang akan melandanya. Poligami, tidak dapat dilakukan manakalah suami tidak mengerti tentang hukum-hukum Islam secara benar. Dan tidak mengetahui system keadilan yang jelas. Dalam QS An-Nisaa’ : 3 disebutkan ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.’ Lalu, apakah seorang laki-laki bisa menjadi seorang yang adil? Karena dalam Al Qur’an pun menyebutkan (QS Annisa 129.) ‘Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’

Lalu, apakah benar seorang laki-laki tidak dapat berlaku adil? Dalam Al Qur’an dan hadits dijelaskan. Seperti halnya doanya Rasulullah “Yaa Allah, inilah pembagianku pada apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memiliki.” Makna dari doa Rasulullah adalah, bahwa Rasulullah tidak memiliki apa yang ada dalam hatinya berupa cinta kepada sebagian isteri yang lebih mendalam daripada cintanya kepada sebagian yang lain. Sebab, hati adalah kepunyaan Allah; Dia memalingkannya sebagaimana yang Dia sukai. Dan dalam Al Qur’an pun dijelaskan. “Karena itu, janganlah kamu terlalu cenderung (kepada salah seorang istri-istri kamu) sehingga kamu membiarkan yang lain terkatung-katung” QS. An-Nisaa’ : 129.

Dengan demikian, syarat untuk menikahi wanita lebih dari satu (poligami) adalah keadilan, tetapi bukan keadilan dalam perkara yang terdapat dalam hati. Karena itu, Allah memerintahkan kita di akhir ayat “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai).” Tetapi Allah tidak memerintahkan kepada kita supaya tidak berpoligami, karena apa yang terdapat dalam hati adalah kepunyaan Allah. Dia, memberitahukan kepada kita bahwa kita tidak akan mampu berbuat adil didalamnya. Oleh karena itu, hendaklah masing-masing dari kita tidak cenderung melebihi kelaziman sehingga berdampak buruk kepada yang lainnya. Pada dasarnya, sikap keadilan dalam Islam sangat tinggi. Hingga seorang sahabat Rasulullah, sampai menghitung jumlah ciuman diantara istri-istrinya. Takut jika nanti dia tidak bisa berbuat adil.

Sudah seharusnya kita juga tidak melecehkan, mencemooh atau bahkan menghinakan seorang yang ingin berusaha berlaku adil. Dengan berpoligami. Sikap seperti itu sangat terlihat tidak mempunyai kedewasaan dalam diri. Biarkanlah seseorang berusaha untuk menjadi adil. Dan janganlah merasa yang paling baik, sehingga menjudging orang lain dengan keadilan yang kita punyai. Karena sebenarnya, sikap adil itu juga mempunyai tahapan dalam setiap pola pikir seseorang.

Dan, adapun jika seorang laki-laki tidak bisa memberikan keadilan terhadap jatah untuk menggilir setiap istri-istrinya (termasuk dalam hal ini adalah memberikan nafkah). Maka, cukuplah mempunyai satu istri saja baginya. Karena sesungguhnya “Allah Swt. Menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” QS. Al-Baqarah : 185. Dan Adzab Allah sangat berat dan pedih bagi orang yang tidak dapat berlaku adil. Dan menuntutlah wahai istri-istri yang merasa dizhalimi oleh suami yang tidak bisa berlaku adil. Kelak dihadapan Allah, suami-suami yang dzalim itu akan mendapat perhitungan sendiri dari Allah. Tetapi, berikanlah rasa cinta yang tinggi terhadap suami yang bisa berlaku adil. Dan doakanlah kemuliaan disisi Ilahi. Karena kelak, wanita yang menerima suaminya berpoligami. Adalah bidadari-bidadari yang senantiasa bersuka cita dalam surga.

Mengutip pernyataan ulama terkenal (Buya HAMKA) “Aku tidak ingin berpoligami, tetapi aku tidak akan menyulitkan atau bahkan melarang orang yang akan berpoligami”. Dan saya tidak berpoligami, tetapi janganlah seseorang atau sebuah institusi Pemerintahan menyulitkan atau bahkan melarang orang untuk berpoligami. Cukup berikan hukuman berat bagi suami-suami yang lalai dalam memberikan keadilan dalam rumah tangganya. Bukan hanya kepada suami yang berpoligami, tetapi untuk semua suami yang telah menelantarkan istri dan anak-anak mereka.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Ada satu pesan dari pelaku poligami: jangan sekali-kali berniat melakukan poligami, kalo hanya semata-mata berdasar nafsu (bisa kecelik-bhs.jawa).
    Blognya bagus, saya link ya?

    Jawab Jaisy01:
    Kecelik Bule petek yah pak? 😀
    Iya sama2 ngelik pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: