Antara kader dakwah dan ngebut dijalanan


Setiap kali saya mengantar istri, saya sering bertemu dengan pengendara yang kebut-kebutan. Kadang juga langsung ikut tancap gas, tetapi beruntunglah ada istri yang mengingatkan saya. Sambil menepuk dada saya, dan mengatakan “mas jangan ngebut” euy dahsyat man. Langsung saja saya kembali kejalan yang benar hehehe.
Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya untuk saling mengingatkan saja. Karena umat Islam itu harus saling mengingatkan, maka saya akan mengingatkan diri saya pribadi dan saudara-saudara muslim yang lainnya. Berkendara adalah perbuatan yang kita lakukan setiap hari, Insya Allah bagi yang punya kendaraan mobil atau motor. Tapi kadang saat kita berkendara, ada kelalaian dalam diri untuk memacu gas tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

Setiap kali saya mengantar istri, saya sering bertemu dengan pengendara yang kebut-kebutan. Kadang juga langsung ikut tancap gas, tetapi beruntunglah ada istri yang mengingatkan saya. Sambil menepuk dada saya, dan mengatakan “mas jangan ngebut” euy dahsyat man. Langsung saja saya kembali kejalan yang benar hehehe.

Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya untuk saling mengingatkan saja. Karena umat Islam itu harus saling mengingatkan, maka saya akan mengingatkan diri saya pribadi dan saudara-saudara muslim yang lainnya. Berkendara adalah perbuatan yang kita lakukan setiap hari, Insya Allah bagi yang punya kendaraan mobil atau motor. Tapi kadang saat kita berkendara, ada kelalaian dalam diri untuk memacu gas tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

Memang aturan Lalu Lintas bukan hukum Islam. Tetapi pada dasarnya secara hierarki dalam konteks syariat Islam adalah menyelamatkan semua manusia dari berbagai kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat. Lalu apa hubungannya dengan ngebut dijalan? Nah inilah yang harus kita cermati!

Saat kita memacu kendaraan kita bagai si raja jalanan. Entah karena apa kita memacu kendaraan kita hingga bisa dikatakan “ngebut”. Entah karena (maaf) kebelet buang air besar, takut telat, sok pamer motor baru, dll. Yang penting ngebut. Ada hal yang harus kita ingat. Saat kita ngebut, kita memacu kendaraan dengan cepat. Dan sifat itu memang cenderung terburu-buru dalam mengambil langkah. Gas ditancap kendaraan kita pun melesat cepat. Bagaikan valentino rossi yang berada di sirkuit.

Namun, apakah kita tidak ingat dengan firman Allah dari Al Anbiyaa 37. “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” Tergesa-gesa atau terburu-buru merupakan tabiat manusia hingga Allah merumuskannya kedalam firman-Nya. Sangat jelas bahwa Allah memperingatkan kita agar jangan tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu hal. Seperti halnya menaiki kendaraan kita. Kesabaran kita diuji saat kita berkendara. Apakah kita akan membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan perbuatan “ngebut” kita. Ataukah mereka lebih senang dengan cara “ngebut” kita? Ataukah jangan-jangan malah saat-saat kita “ngebut” malah kita didoain yang nggak enak oleh banyak orang. Bahasa kasarnya disumpahin, walah!

Saya beberapa kali memergoki seorang akhwat yang “ngebut”. Tanpa sadar adrenalin saya tertantang untuk ikut ngebut, tetapi langsung istri saya mengetahui niat saya sambil menepuk dada saya “jangan ngebut mas” ucapnya. Pernah suatu kali ada seseorang yang memotong laju kedaraan saya sambil ngebut. Saat itu pun saya sedikit emosi dan mengikuti langkah ngebut untuk mengejar dia. Tetapi setelah sampai dilampu merah dan saya tepat dibelakangnya. Tertulis dibelakang rompinya “Partai Keadilan Sejahtera” walah, saya jadi malu sendiri! Kader PKS kok kebut-kebutan dijalan pake simbol pula! Pernah suatu kali saya di dahuluin seorang akhwat, laju motornya kenceng banget. Saya pun iseng ngejar, saat itu tertulis dibelakangnya “tegakkan khilafah, tegakkan syariat” hehehe… walah-walah kader dakwah kok yah pada ngebut sambil make simbol. Dari PKS, Jamaah Khilafah sampai yang nggak ada simbolnya.

Ternyata kita masih benar-benar harus mengevaluasi diri untuk meningkatkan kesabaran, termasuk kesabaran dalam berkendara. Mungkin saja saat kita ngebut ada orang yang tersakiti, atau bisa saja ada orang yang menyeberang mendadak. Semua kemungkinan itu bisa terjadi, Namun saat kita mengikuti aturan LALIN (Lalu lintas) Insya Allah UU LALIN sudah benar-benar untuk memberikan kemaslahatan kita bersama. Jadi jangan menganggap karena UU LALIN bukan syariat Islam kita dapat seenaknya melanggar LALIN. Tetapi seharusnya kemaslahatan itu yang harus kita sadari.yang menciptakan. Umat Islam adalah umat yang penuh rahmat, maka saat kita dimanapun dan kapanpun berikan kemaslahatan kepada siapapun karena kita “Islam”. Dan ingat ada beberapa hadits yang menyatakan bahwa “terburu-buru adalah sifat syetan”. Maka berhati-hatilah dalam berkendara. Mengingatkan, jika saat kita menyalahi batas ambang normal berkendara atau dalam artian melakukan sebuah kesalahan dalam berkendara, maka saat kita kecelakaan itu adalah menzhalimi diri sendiri, dan saat kita meninggal maka kita dihitung sebagai “bunuh diri”.

Contoh pengendara yang buruk:
1. Ngebut
2. Merokok saat berkendara
3. Menerima telepon saat berkendara tanpa memakai headset
4. Mabuk
5. dll. Pokoknya yang buruk2

Just from Jaisy01

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: