Awas NII masih berkeliaran


Beberapa hari yang lalu saya ditemui seseorang dirumah saya. Dia adalah teman SMA saya, setelah ngobrol-ngobrol teman saya ini berbicara masalah pemerintahan Islam. Dia menyebutkan tentang pentingnya berjamaah dan mempunyai seorang qiyadah (pemimpin) atau khalifah. Beberapa sebab yang membuat umat Islam tercerai-berai, adalah karena umat Islam tidak mempunyai seorang pemimpin yang pasti. Setiap kelompok Islam saling berebut untuk menjadi pemimpin. Padahal sesungguhnya sudah ada pemerintahan Islam yang sudah berdiri, namun karena ini masih dijaman jahiliyah jadi umat Islam harus berhijrah terlebih dahulu. Itu kurang lebih katanya!


Saya sudah bisa menangkap maksud apa yang ingin diberitahukan teman saya. Karena itulah dulu saya pernah berdebat dengan seorang ustad dalam sebuah kajian teman saya, yang pada waktu itu saya diajak untuk mengikuti kajian. Beberapa hal yang sering digembar-gemborkan adalah beberapa hadits tentang wajibnya mempunyai pemimpin. Seperti dalam hadits “Dari al-Harits al-Asy’ari ra, Rasulullah saw bersabda, “Dan aku memerintahkan kepada kalian dengan lima hal. Allah memerintahkan aku dengan kelima hal tesebut, yaitu: berjama’ah, mendengarkan, mentaati, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah. Barangsiapa keluar dari jama’ah sejengkal saja, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, sehingga ia kembali lagi….” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sekalipun dia shalat dan puasa?” Rasulullah saw bersabda, “sekalipun dia puasa shalat, dan mengaku muslim”
Dan beberapa hadits yang menyatakan tentang wajibnya mengangkat seorang khalifah.

Saya waktu itu sebenarnya malas untuk menjawab semua hujjah (argumentasi) teman saya. Karena saya sudah pernah berdebat dengan seseorang yang sekaliber murabbi mereka. Yang akhirnya pada waktu itu, saya tidak pernah lagi diajak oleh teman saya untuk mengikuti kajian tersebut lagi. Dan baru saya ketahui bahwa kajian teman saya itu kajian NII, atas informasi dari teman-teman saya yang lain, yang sudah hampir dibai’at disuatu tempat. Alhamdulillah teman saya tersadar akan tipu daya mereka!

Dalam beberapa hal, pengangkatan khalifah itu memang wajib hukumnya! Namun bukan berarti sembarangan mengangkat seorang khalifah, ada beberapa hal yang harus dipahami dalam pengangkatan khalifah. Menurut Imam Mawardi criteria dalam pengangkatan khalifah adalah

1. “Adalah” berikut semua persyaratannya
2. Ilmu yang dapat mengantarkan kepada ijtihad dalam berbagai kasus dan hokum
3. Sehat panca indera seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, supaya dapat mengetahui sesuatu secara langsung
4. Tidak memiliki cacat anggota badan yang akan menghalangi kesigapan gerak dan kecekatan kerja
5. Mempunyai pandangan yang dapat membawa kepada kebijakan rakyat
6. Memiliki keberanian dan kegigihan untuk melindungi kawan dan memerangi lawan.
7. Berketurunan Quraisy. (Namun dalil tersebut masih dalam perdebatan para ulama, ada yang mengharuskan orang Quraisy dan ada yang mengatakan tidak harus, namun beberapa hadits yang paling kuat adalah membolehkan tidak harus orang Quraisy). Wallahu’alam

Untuk persyaratan no 1, “Adalah (kesempurnaan secara normal) merupakan syarat utama yang harus dipenuhi. Bahkan, oleh para fuqaha’, sifat ini dijadikan salah satu persyaratan umum kepemimpinan. Apalagi bagi seorang yang dicalonkan untuk jabatan imamah ‘uzhma (kepemimpinan agung) yang di antara rukun-rukunnya yang terpenting ialah kejujuran, kebersihan dari dusta, amanah terhadap kemaslaatan umat, suci dari barang-barang haram, menjauhi dosa, menghindari keraguan dan syubhat, terjaga alam hal ridha dan marah, serta mempunyai muru’ah dalam agama dan dunianya.

Seorang pendusta tidak layak menjabat sebagai imamah. Demikian pula seorang pengkhianat, orang yang tenggelam dalam dosa dan keraguan, dan orang-orang yang tidak memiliki akhlak yang baik dan muru’ah. Bahkan Imam Ghazali menamakannya dengan sifat yang tidak mungkin dapat dipinjam atau diperoleh dari orang lain, karena ia merupakan sifat diri yang berkaitan dengan orang itu sendiri. Orang yang tidak mampu mengekang nafsunya sendiri dan tidak mampu mengarahkannya ke jalanyang dikehendaki Allah, akan lebih tidak mampu mengekang nafsu orang lain. Dan tugas imamah yang paling utama adalah mengarahkan umat ke jalan yang diridhai Allah. Ada sebuah ungkapan “Orang yang tidak punya tidak akan dapat memberi”.

Dan kewajiban mengangkat khalifah/imamah/qiyadah adalah manakala umat Islam sudah memiliki sebuah dasar yang kuat dalam sebuah wilayah! Atau sebutannya Khilafah Islamiah. Selama belum ada khilafah Islamiah, maka belum dapat kita mengangkat seorang khalifah, kecuali hanya jamaah-jamaah sempelan saja yang melakukan hal itu. Dan itu merupakan sifat terburu-buru yang tidak pernah disenangi oleh Rasulullah.

Masalah bai’at tidaklah seseorang muslim membai’at kepada seorang khalifah yang tidak memiliki kemampuan mengatur wilayah tersebut! Kecuali mereka adalah orang-orang yang jahil bin bahlul. Jamaah-jamaah sempalan ini lebih cenderung memanfaatkan objek-objek ma’mumnya untuk mengeruk keuntungan. Yang sering dan kecenderungan jamaah-jamaah seperti ini, mereka lebih didominasi oleh orang-orang yang semangat Islamnya kuat namun pemahaman agamanya masih perlu perbaikan dan penambahan dengan pemahaman Islam yang syamil (menyeluruh). Namun jika bai’at tersebut adalah bai’at untuk diri kita sendiri dalam masalah perjanjian dalam meningkatkan ibadah, itu malah sangat dianjurkan. Seperti halnya 10 bai’at yang disarankan oleh Hasan al Banna dalam masalah peningkatan keimanan diri kita sendiri. Jika berbai’at untuk pemimpin, maka jangan pernah percaya. Karena kita belum mempunyai khilafah/daulah yang dapat menaungi umat Islam seluruhnya.

Sebenarnya banyak sekali jawaban dari hujjah teman saya tersebut. Namun kalau dituliskan bisa berlembar-lembar page :). Saya jadi geli sendiri, saat teman saya bertanya pekerjaan saya. Waktu itu saya jawab “saya sekarang di PKS!”. Ada ekspresi yang mengejutkan, wajahnya terlihat kaget saat saya mengatakan seperti itu, yang pada akhirnya pembicaraannya terlihat lebih berhati-hati pada waktu itu.

Beberapa teman-teman saya di PKS (Partai Keadilan Sejahtera), juga pernah mengalami hal yang serupa. Yaitu didatangi oleh orang-orang yang mengajak berbicara masalah bai’at, hijrah, pengangkatan khalifah/imamah/qiyadah dan lain-lain. Yang pada akhirnya ujung-unjungnya mengajak kepengajiannya. Bentuk kajiannya memang terlihat menarik! Namun tetap saat mengambil dalil-dalil terkesan dipaksakan! Yang mengkhawatirkan adalah orang-orang yang belum mengerti ajaran Islam yang akhirnya ikut kedalam kajian tersebut, bisa jadi mereka akan menganggap bahwa “kajian ini adalah kajian Islam yang sesungguhnya”.

Jadi kita harus berhati-hati dalam mensingkapi hal ini, namun sikap kehati-hatian kita jangan sampai menjadi paranoid terhadap setiap kajian Islam. Ikutilah kajian disetiap kajian yang ada, jangan hanya satu kajian. Dan tanyakanlah hal-hal yang menurut kita tidak relevan dalam ajaran Islam, kepada setiap kajian yang lain. Insya Allah itu yang akan membuat kita mengetahui dengan sendirinya kebenaran Islam.

Just from Jaisy01

Iklan

Satu Tanggapan

  1. I was just now searching for about this when I came upon your blog post. I’m simply stopping by to say that I very much enjoyed reading this post, it’s very clear and well written. Are you planning toblog more on this? It appears like there is more fodder here for future posts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: