Pengkafiran Sesama Muslim adalah Satu Ciri Khawarij

Oleh : Dr. Mustafa Helmi
<p>

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Rasulullah menorehkan sebuah garis di atas tanah dengan jarinya, lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah yang lurus’. Kemudian beliau menorehkan pula garis yang menyimpang ke kiri dan kanan garis pertama tadi, lalu sabdanya pula: ‘Dan garis yang ini, tak lain adalah jalan setan ke arah mana ia mengajak manusia melaluinya’. Selanjutnya beliau membacakan ayat: ‘ Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain selain itu)’…(QS. Al-An’am, 6:153), [Hadits riwayat Ahmad]

<p>

Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam muncul satu type pemuda yang gelisah jiwanya yang diwarnai sepak terjang yang mencerminkan kekacauan akidah, kedangkalan berpikir, emosional dan beringas. Mereka adalah pemuda yang muncul dengan mengatasnamakan pribadi-pribadi dan ingin menyantap apel sebelum masak (tidak memiliki bekal yang memadai tentang Kitabullah, Sunnah Rasulullah maupun perjuangan beliau dalam berda’wah). Selain itu mereka memiliki tindakan yang serampangan terhadap Kitabullah dan Sunah Rasul dengan mengambil makna-makna lahiriah lalu dianggapnya hal itu sebagai ajaran agama yang sakral, tak boleh dilanggar dan mereka pertahankan dalam derajat yang boleh dikata sangat membabi-buta.
<p>

Memang diakui bahwa keikhlasan sangat mewarnai jiwa sebagian besar para pemuda itu. Sayangnya, keikhlasan ini dibarengi dengan pengabaian salah satu aspek tertentu yang sangat berpengaruh terhadap pandangan mereka tentang tujuan dan sarana dakwah.
<p> Baca lebih lanjut

Metodolgi dalam memahami Al Quran dan As-Sunnah

Al Quran dan Sunnah adalah rujukan bagi setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Al Quran harus dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tidak dipaksakan dan tidak serampangan. Sedangkan sunnah harus dipahami melalui para perawi hadits yang dipercaya.
<p>
Dasar yang kedua adalah Al Quran dan Sunnah. Keduanya sering disebut sebagai sumber makrifat. Orang yang ingin mengetahui tentang Islam harus kembali kepada Al Quran dan Sunnah, sebab Al Quran adalah sumber Ilahi yang membatasi hak dan kewajiban manusia. Dasar agama Islam bukan akal tapi wahyu yang sifatnya terjaga dari kesalahan. Dasar ini menjelaskan apa yang diinginkan Allah dari kita, apa yang diridhai dan apa yang dibenci.
<p>
Wahyu dibagi menjadi dua, yaitu: wahyu yang dibaca (wahyu al-matlu) yaitu Al Quran dan wahyu yang tidak dibaca (wahyu ghair matlu), yaitu Sunnah Rasulullah saw. Sunnah adalah penjelas bagi Al Quran. Dalam memahami agama Islam, kedua dasar ini harus diperhatikan.
<p> Baca lebih lanjut

Hasan Al Banna Pemimpin yang disiapkan Allah

Ahmad Saiful Islam Al Banna, merupakan orang yang paling tepat untuk berbicara tentang Imam Hasan Al Banna. Ada banyak alasan tentang hal ini. Pertama, ia adalah anak kandungnya, dan secara langsung merasakan sentuhan pendidikan Al Banna selama 14 tahun di rumah. Kedua, Saiful Islam adalah kader dakwah Al Ikhwan yang hingga kini masih aktif bergerak bersama organisasi dakwah yang didirikan ayahnya. Ketiga, peran-peran dakwah Saiful Islam yang terasa manfaatnya dalam rangka membangun umat islam khusunya di Mesir, karena ia pernah menjadi anggota legislative Mesir. Ia pernah juga dipenjara selama dua puluh lima tahun oleh penguasa Mesir Jamal Abdul-Nasir. Ada pepatah Arab yang menyebutkan “Anak seekor singa adalah singa juga”. Ahmad Saiful Islam memiliki segala sifat ayahnya.
<p>
Berikut petikan wawancara yang dilansir oleh ikhwanonline.com
<p>
Baca lebih lanjut

Saatnya Harus Memahami

Dulu kaum Muslimin memahami makna ini dengan baik dan mereka bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Iman senantiasa menuntun mereka untuk terus berkorban di jalan ini. Tapi kini, kaum Muslimin saling berbeda pendapat dalam memahami misi yang seharusnya mereka embank ini. Mereka membuat berbagai interpretasi untuk membenarkan kemalasan dan ketidakberdayaannya. Sebagian mereka mengatakan bahwa waktu jihad dan amal telah berlalu. Lalu sebagian yang lain turut memberi andil dalam mematikan semangat juang dengan mengatakan, sarana-sarana jihad tidak cukup memadai sedang umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan. Sementara sebagian yang lain lagi sudah meresa puas dalam beragama hanya dengan ucapan-ucapan wirid yang mereka lantunkan setiap pagi dan sore hari. Ia puas dengan beberapa ibadah yang telah ia tunaikan, padahal hatinya kosong dari hakikat. Baca lebih lanjut