Hasan Al Banna Pemimpin yang disiapkan Allah


Ahmad Saiful Islam Al Banna, merupakan orang yang paling tepat untuk berbicara tentang Imam Hasan Al Banna. Ada banyak alasan tentang hal ini. Pertama, ia adalah anak kandungnya, dan secara langsung merasakan sentuhan pendidikan Al Banna selama 14 tahun di rumah. Kedua, Saiful Islam adalah kader dakwah Al Ikhwan yang hingga kini masih aktif bergerak bersama organisasi dakwah yang didirikan ayahnya. Ketiga, peran-peran dakwah Saiful Islam yang terasa manfaatnya dalam rangka membangun umat islam khusunya di Mesir, karena ia pernah menjadi anggota legislative Mesir. Ia pernah juga dipenjara selama dua puluh lima tahun oleh penguasa Mesir Jamal Abdul-Nasir. Ada pepatah Arab yang menyebutkan “Anak seekor singa adalah singa juga”. Ahmad Saiful Islam memiliki segala sifat ayahnya.
<p>
Berikut petikan wawancara yang dilansir oleh ikhwanonline.com
<p>

– Bagaimana kisah tentang hal masa kecil Al Banna yang Anda tahu dari cerita-cerita kakek Al Banna kepada Anda?
<p>
Di antara cerita yang disampaikan kakek ketika ayah masih kecil. Ayah suatu hari jum’at pernah diduga hilang. Keluarga mencari ayah tapi upaya itu tak berhasil. Ayahku Hasan Al Banna tetap tidak bisa ditemukan. Akhirnya, ada salah seorang keluarga yang menyarankan agr mencoba membuka pintu masjid dan melihat-lihat ruangan masjid, siapa tahu Hasan Al Banna ada disana. Ternyata benar, mereka mendapatkan ayahku Hasan Al Banna ada di mimbar masjid. Saat ditemukan, ayah sedang khutbah di mimbar masjid yang kosong dari jamaah shalat setelah usai shalat jum’at. Ayah rupanya ketika itu meniru kakek Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna rahimahullah, yang sebelumnya menjadi khatib di masjid itu saat shalat jum’at.
<p>
Peristiwa ini seolah menjadi bagian dari persiapan Allah swt, kepada ayah. Untuk menjadi orang yang memperjuangkan dakwah Islamiyah. Aku juga ingat, suatu saat ayah menyampaikan khutbah di tahun 1946, dalam rangka memperingati wafatnya sosok pemimpin Musthtafa Kamil yang juga sebagai kader Al Ikhwan Al Muslimun yang banyak peran-peran dakwahnya. Ketika itu, ayah mengatakan, “Pemimpin itu ada tiga kategori: Pemimpin yang mencetak dirinya, pemimpin yang diciptakan oleh zuruuf (kondisi), dan pemimpin yang diciptakan oleh Allah swt.” Menurutku, ayah adalah kategori pemimpin yang ketiga.”
<p>
– Sejauh mana peran kakek dalam memberi pengenalan Anda terhadap ayah?
<p>
Ya, Pembicaraan dan cerita kakek tentang ayah itu meniggalkan kesan mendalam dalam jiwa aku. Bagaimana kakek menyatakan keinginannya agar aku memanfaatkan semaksimal mungkin perpustakaan peninggalan ayah. Bagaimana kakek juga mengarahkan aku untuk belajar ilmu syariat Islam. Dan itu pula yang mendorong aku hingga aku melanjutkan pendalaman ilmu syariah di Fakultas Darul Ulum. Jadi, memang perpustakaan yang ditinggalkan ayah sangat mempengaruhi perkembangan pikiran dan jiwa aku, termasuk juga memberi kedalaman pengenalan aku lebih jauh kepada ayah. Sehingga tepat kalau ada ungkapan yang berbunyi, “Jika engkau ingin mengenal seseorang, kenalilah dari buku-buku perpustakaannya.”
<p>
Buku-buku yang tersusun di perpustakaan ayah memberi banyak informasi yang menjadi cermin bagaimana sosok ayah, bagaimana pemikirannya dan bagaimana gerakan dakwahnya. Dalam buku-buku perpustakaan itu ada buku-buku khusus yang berbicara tentang kondisi dunia Islam seluruhnya. Ada pula buku-buku khusus tentang berbagai gerakan perlawanan Islam. Bahkan berbagai buku skill dan profesi tertentu. Ayah memang banyak mendorong kami anak-anaknya untuk cinta membaca. Ayah memberikan sebuah loker khusus untuk aku agar banyak membaca, dan menambahkan uang saku untuk aku sebanyak 50 qirsy yang seluruhnya dialokasikan untuk membeli buku. Aku membeli banyak buku dengan uang itu, dan aku susun buku-buku itu dalam sebuah loker khusus. Dalam banyak tulisannya, ayah kerap menekankan pentingnya memiliki perpustakaan sendiri di rumah setiap keluarga Islam, meskipun perpustakaan itu sederhana saja.
<p>
Aku memperhatikan kehidupan ayah dari berbagai bahan dan catatan pribadinya. Dari sana aku menemukan banyak sisi-sisi pribadi ayah dan juga bagaimana klip catatan sastra yang begitu indah. Selain itu, aku juga sengaja banyak mendengarkan apa kenangan para ikhwan yang banyak berinteraksi dengan ayah. Ada banyak buku yang di kisahkan mereka tentang ayah. Termasuk di antaranya adalah sebuah buku yang ditulis pemimpin ketiga Al Ikhwan Umar Tilmitsani rahimahullah. Dan ayah, sebagaimana sering dikatakan orang, seluruh buku-buku yang ditulisnya mudah dipahami oleh pembaca sampai orang-orang awam biasa dan bukan sosok ilmiyah. Tulisan-tulisan ayah juga menarik peneliti untuk diteliti isi pemikiran di dalamnya.
<p>
– Jika demikian, berarti Anda mempunyai pengenalan yang sungguh mendalam tentang Hasan Al Banna?
<p>
Tidak sangat mendalam, bahkan aku merasakan aku belum banyak mengenalnya. Pengenalan aku dengan ayah bisa dikatakan sangat terbatas.
<p>
– Kenapa?
<p>
Aku yakin, ayah adalah sosok manusia Rabbani. Beliau dikaruniakan Allah swt., sebagai kemampuan dan kapasitas. Lalu karunia itu juga diberikan Allah dalam bentuk menumbuhkan keikhlasan dalam dirinya untuk bekerja hanya karena Allah. Allah swt., memberi keutamaan kepada ayah hingga derajat ini. Dari paradigma seperti ini, maka aku yakin tak ada yang lebih mengenal kemampuan Hasan Al Banna kecual Allah swt., yang telah menganugerahi banyak kebisaan kepadanya.
<p>
Aku yakin bahwa Al Banna adalah sosok manusia Rabbani yang dihasilkan dari perjalanan pengalaman dirinya. Di masa-masa akhir hidupnya. Ayah mengumpulkan aku dan seluruh saudaraku lalu di sana ia menyampaikan wasiatnya denga tegas sekali. Sebelum itu, ayah sudah memberikan kepada aku sejumlah buku untuk aku baca. Dari buku-buku itu kemudian aku bisa mengerti banyak kandungan makna yang belum sempat disampaikan ayah kepadaku.
<p>
Apa yang disampaikan ayah dalam wasiatnya ketika itu, benar-benar terjadi. Aku banyak menghadapi berbagai peristiwa yang membuat aku bimbang. Tapi dalam wasiatnya itu, aku mendapatkan jawaban apa yang harus kita lakukan. Aku sangat menjaga untuk tetap melakukan wasiat ayah sehingga itulah yang kemudian menjadi bagian pemikiran dan tindakan yang menyelamatkan aku.
<p>
– Dalam waktu singkat, ayah Anda mendirikan sebuah gerakan Islam terbesar. Beliau menjadi pembaharu dalam Islam di abad keempat belas hijriyah. Bisakah Anda menyampaikan kepada kami, sisi-sisi kepribadiannya yang langka?
<p>
Ini pertanyaan yang memerlukan jawaban panjang. Mungkin aku bisa menyampaikan sebagian dari hal itu. Antara lain, ayah pada awalnya datang berinteraksi dengan masyarakat Mesir, dunia Arab dan Islam dengan melakukan perilaku yang bermanfaat bagi umat ini. Sedikit saja orang yang bisa melakukan hal ini seorang diri. Sejak masa pertumbuhannya beliau sudah melakukan perlawanan terhadap penjajahan barat terhadap peradaban Islam. Sejak usia muda ia sudah menyatakan bahwa ia akan menentang supremasi asing terhadap banyak lokasi di dunia Islam. Tak ada yang mengarahkan beliau untuk memiliki sikap seperti itu, kecuali keimanannya yang mendalam kepada Allah swt., dan jihadnya di jalan dakwah ini. Ketika itu, khilafah Utsmaniyah telah rapuh, hingga akhirnya tumbang. Barat memanfaatkan kesempatan ini untuk menancapkan kukunya di banyak wilayah Arab dan dunia Islam. Saat itulah, Hasan Al Banna datang untuk membangkitkan kembali dakwah Al Ikhwan Al Muslimun untuk menghadapi semua kondisi itu. Upaya Barat terhadap dunia Islam itu sedikit banyak berhasil digagalkan oleh dakwah Al Ikhwan, meski tanpa dukungan negara asing, tanpa dukungan dana, tanpa sikap fanatic kelompok. Ini merupakan contoh istimewa yang muncul dari kekuatan iman kepada Allah swt. Dari sini pula, kita memahami perkataan Al Imam Hasan Al Banna, “Jika telah ada seorang mukmin, berarti telah ada pula bersamanya berbagai alas an untuk berhasil,” Karena itu juga, Al Imam Hasan Al Banna mengkader sebuah generasi baru di Mesir untuk memerangi penjajahan Inggris ketika itu dan berperang mengusir pendudukan Zionis Israel di Palestina. Itulah yang kemudian memberi perubahan mendasar dalam sejarah Mesir.
<p>
Kedua, kepribadian Hasan Al Banna yang memiliki banyak kemampuan dua ragam potensi unik. Sangat jarang satu Individu yang memiliki keragaman penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu dan potensi. Hasan Al Banna adalah sosok yang jiwanya sentimental tapi di sisi lain ia juga orang yang realistik dalam memandang berbagai persoalan. Beliau adalah sosok konseptualis dan sekaligus sosok praktisi. Begitulah. Semua ini menjadikan Hasan Al Banna yang memiliki kedalaman pemikiran yang sungguh baik. Apalagi, kehidupannya semuanya merupakan langkah yang satu dari awal hingga akhir di jalan dakwah Islam. Hasan Al Banna mengerahkan semua kemampuan dirinya, lisan, tulisan, tenaga, dan dakwahnya untuk garis dakwah Islam sampai ia menjemput syahid. Beliau memang sosok Rabbani yang memang dipersiapkan oleh Allah swt. Allah swt., menyelamatkannya untuk tidak terjerumus pada ragam perselisihan madzhab sebelum datangnya dakwah Rabbani yang dibawanya. Apa yang dilakukan Al Banna semuanya merupakan contoh dan qudwah.
<p>
Ketiga, kebersihan Al Banna sebagai pemimpin politik dan pemimpin gerakan Islam sebagai sosok pemimpin ideal yang bersih. Berbagai analisa, khususnya dokumen penjajah Inggris yang menyatakan kekhawatirannya atas sepak terjang Hasan Al Banna bersama gerakan Al Ikhwan Al Muslimun. Ini merupakan indicator yang sangat jelas menerangkan ketulusan perjuangan yang diusung Hasan Al Banna.
<p>
– Bagaimana Al Banna bisa dengan mudah masuk dalam hati banyak orang dan meyakinkan orang lain dengan pemikiran dakwahnya?
<p>
Ayahku, semoga Allah merahmatinya, adalah seorang khatib. Cukup Anda ketahui bahwa khutbah sebelumnya dilakukan dengan membaca buku-buku tradisional, yang isinya sama sekali tidak relevan dengan kondisi dan realitas masyarakat. Ketika Al Banna datang dan muncul sekolah-sekolah Al ikhwan dengan metode baru dalam khutbah, muncullah metode yang bisa menghimpun antara agama dan politik, antara tuntunan agama dengan realitas dan problematika masyarakat. Karena itulah bisa dikatakan bahwa Al Ikhwan sebenarnya adalah sekolah khutbah. Sebagaimana khutbah yang dilakukan para Ikhwan tidak hanya untuk orang-orang Al Azhar saja tapi telah masuk ke berbagai universitas ketika itu.
<p>
Aku ingat sebuah majalah pernah mengadakan polling di tahun 1974, tentang khatib yang paling digemari masyarakat. Ketika itu, nama Al Banna menempati posisi pertama dalam polling.
<p>
– Bagaimana hubungan Al Banna dengan para kader dakwah?
<p>
Hasan Al Banna sangat mencintai para ikhwan dan memberikan mereka kecintaan yang bergeleora. Beliau sangat mengapresiasi dan menghormati semua ikhwan karena keterkaitannya dengan dakwah, janji mereka pada dakwah, kesiapan mereka untuk berkorban di jalan dakwah. Ini jelas sekali terlihat dari banyak buku-buku di tulisannya. Ia banyak memuji generasi pertama dari jama’ah ini yang telah mengabdikan semua kemampuan mereka untuk kepentingan dakwah. Dalam salah satu tulisannya, beliau mengatakan “….Dengan perilaku dan sikap inilah, yang mengingatkan engkau dengan para sahabat Rasulullah saw, dakwah Al Ikhwan Al Muslimun berdiri….”
<p>
Aku sebutkan contoh kecintaan dan penghormatan beliau terhadap para ikhwan, yang aku lihat sendiri. Saat datang seorang utusan dari Majalah Mushawwir tahun 1946 untuk melakukan interview dengan tema “Satu Hari dalam Kehidupan Hasan Al Banna”. Reporter mengambil foto Al Banna sesukanya dan ketika itu telephon rumahnya berdering dan seorang Ikhwan membawakan pesawat telephon kepada beliau. Beliau segera menolak pengambilan foto ketika itu dan meminta agar foto yang sudah diambil tidak disebarluaskan. Ayah bahkan menuliskan sambutan di majalah tersebut dengan menegaskan bahwa dalam Al Ikhwan tidak ada posisi pemimpin dan pasukan. “Semua kita adalah pasukan di jalan Allah,” ujar ayah.
<p>
Sebagaimana, ayah juga terbukti tulus dan jujur saat harus menghadapi lawan pemikirnya. Ayah sangat menjaga perkataan dengan mereka. Tak ada ungkapan yang kasar tercatat dalam buku-buku Al Banna. Ketika ada sebagian Ikhwan yang mengkritisi sikapnya yang lembut terhadap orang yang menentangnya, ayah menuliskan sebuah naskah yang menegaskan bahwa bagaimanapun seorang muslim harus berpegang pada pola seperti ini.
<p>
– Terakhir, bagaimana menurut Anda sikap Al Banna di rumah, terkait Anda sebagaimana anaknya yang hidup bersamanya selama 14 tahun?
<p>
Ayah adalah pemimpin rumah tangga ideal yang tidak melalaikan hak-hak keluarga. Awal makalah yang ditulisnya “Dakwah adalah Kewajiban”, dan makalah keduanya bertajuk “Kepada Siapa Dakwah ini Diserukan?” Dalam makalah itu ditegaskan bahwa keluarga adalah nomor satu objek dakwah yang harus diperhatikan. Ayah melandaskan hal itu pada firmah Allah swt “Wa andzir asyiiratakal aqrabiin…” Dan berilah peringatan pada keluarga kalian yang dekat..”

Iklan

2 Tanggapan

  1. Al Bana telah menyelesaikan tugas jamannya dan kini seharusnya muslim lebih realistis menghadapi realitas yang berbeda dari masa lalu. Tatap ke depan dan ciptakan peradaban yang lebih baik meneruskan jejak masa lalu

  2. subhanallah…
    ingin rasanya berkumpul dengan orang-orang seperti beliau suatu hari nanti…

    umat Islam memang belum kembali berjaya, namun ia telah menyelesaikan tugasnya…. “Perjuangan Telah Dimulai” InsyaAllah,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: