Pengkafiran Sesama Muslim adalah Satu Ciri Khawarij


Oleh : Dr. Mustafa Helmi
<p>

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Rasulullah menorehkan sebuah garis di atas tanah dengan jarinya, lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah yang lurus’. Kemudian beliau menorehkan pula garis yang menyimpang ke kiri dan kanan garis pertama tadi, lalu sabdanya pula: ‘Dan garis yang ini, tak lain adalah jalan setan ke arah mana ia mengajak manusia melaluinya’. Selanjutnya beliau membacakan ayat: ‘ Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain selain itu)’…(QS. Al-An’am, 6:153), [Hadits riwayat Ahmad]

<p>

Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam muncul satu type pemuda yang gelisah jiwanya yang diwarnai sepak terjang yang mencerminkan kekacauan akidah, kedangkalan berpikir, emosional dan beringas. Mereka adalah pemuda yang muncul dengan mengatasnamakan pribadi-pribadi dan ingin menyantap apel sebelum masak (tidak memiliki bekal yang memadai tentang Kitabullah, Sunnah Rasulullah maupun perjuangan beliau dalam berda’wah). Selain itu mereka memiliki tindakan yang serampangan terhadap Kitabullah dan Sunah Rasul dengan mengambil makna-makna lahiriah lalu dianggapnya hal itu sebagai ajaran agama yang sakral, tak boleh dilanggar dan mereka pertahankan dalam derajat yang boleh dikata sangat membabi-buta.
<p>

Memang diakui bahwa keikhlasan sangat mewarnai jiwa sebagian besar para pemuda itu. Sayangnya, keikhlasan ini dibarengi dengan pengabaian salah satu aspek tertentu yang sangat berpengaruh terhadap pandangan mereka tentang tujuan dan sarana dakwah.
<p>
Para pemuda seperti ini, ditambah dengan kelompok tertentu lain, bisa jadi akan merupakan kekuatan yang justru menjadi bumerang bagi gerakan dakwah Islamiyah – pemuda-pemuda yang dibesarkan oleh suatu kondisi yang tanpa mereka sadari, tegas-tegas telah menyimpang dari dakwah Islam, persis sama menyimpangnya dari tujuan pendidikan akidah yang dimaksudkan oleh dakwah Islam itu sendiri – suatu hal yang membuat motivasi mereka berpangkal pada aspirasi individual dan tidak terorganisasi secara baik. Pemuda-pemuda ini selamanya melahirkan kesulitan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beramaluntuk Islam, dimana mereka tidak saja bisa ditunggangi oleh pihak tertentu yang kapan dan di mana saja selalu menaruh kesempatan baik untuk menghambat dakwah Islam, tetapi sekaligus bisa dijadikan sarana propaganda guna mengaburkan sosok dakwah Islam yang penuh toleransi. Tambahan lagi, mereka selalu melecehkan para penyeru Islam dengan nada yang amat pongah, sehingga gerakan Islam mengalami banyak hambatan dan rintangan.
<p>

Kalau kita mencoba menemukan interpretasi tentang fenomena dan corak para pemuda muslim dengan kualitas dan motivasi seperti mereka ini, maka kita hanya akan menemukan dua faktor penting yang nampaknya telah disepakati bersama oleh para analis sebagai penyebab semuanya itu, yakni:
<p>

1. Ketidakpastian yang secara luas melanda masyarakat dan dekadensi yang menebarkan racun di semua aspek kehidupan kita seiring dengan kekalahan kita yang terjadi susul menyusul, dimana darah dan harta kita terkuras habis-habisan, dan setelah itu kita kehilangan kepribadian peradaban kita, lalu tenggelam dalam, dan hanyut oleh system barat yang materialis-atheistis. Kitapun terombang ambing pula antara liberalisme dan sosialisme serta pandangan-pandangan hidup sekuler yang pada gilirannya mengikis habis seluruh determinasi kita untuk mengaktualisasikan diri, dan dari hari kehari kita semakin lemah dan tercecer. Lantaran itu, tidak bisa tidak, generasi muda yang memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya,pastimenyimpulkan bahwa nasib buruk yang kita alami sekarang ini adalah akibat penyelewengan ajaran Islam dan pelanggaran terhadap pedoman yang diberikan Allah. Generasi muda yang dibesarkan oleh tatanan social, moral politik dan ekonomi yang demikian buruk,pasti mengalami kekalutan persepsi dan emosi, lalu membenci semua kondisi negatif yang mengepung mereka itu.
<p>

2. Petaka yang susul menyusul menimpa dakwah Islam dan para pemimpinnya pada masa sebelum ini, serta penggunaan cara dan sarana yang amat biadab guna menindas dan melakukan kediktaroran dalam upaya menghancur-luluhkanIslam semisal pembunuhan, penangkapan, penekanan, terror dan tuduhan-tudahan palsu. Dengan demikian bagaimanapun juga, generasi muda yang ditimpa oleh, dan dibesarkan dalam kondisi buruk dibawah kepemimpinan Islam serupa itu, pastimemiliki reaksi keras dan kebencian yang ditujukan kepada mereka yang telahmewariskan petaka itu. Dan karena itu pula, maka kekuatan yang tersimpan dalam diri merekapun tersalurkan lewat kebencian-kebencian terhadap apa saja yang berada di sekitar mereka: tanpa kata maaf dan alasan apapun! Semua tersalur pada jalur yang tidak benar, yang bisa menciptakan kemaslahatan bagi dakwah Islam pada umumnya.
<p>

Pemuda-pemuda muslim yang telah kehilangan akidah yang lurus dalam amaliah Islam mereka, lantaran tiadanya panutan dan dibesarkan dalam kondisi yang demikian menyakitkan, lalu ditinggalkan begitu saja tanpa pimpinan dan petunjuk sehingga mereka meraba-raba kesana-kemari, serta merta didukung oleh pihak-pihak yang membenci Islam agar semakin kalut pikiran mereka dan kacau-balaulah langkah-langkahnya. Kalau sudah demikian, merekapun terjerumus dalam jurang kehancuran, dan itulah tujuan gerakan baru musuh-musuh Islam dalam upaya mereka mengikis habis dakwah Islam dan mencerabut agama ini sampai ke akarnya.
<p>

Musuh-musuh Islam yang selalu menanti setiap kesempatan untuk mengikis habis agama ini, memberi dukungan kepada gerakan para pemuda ekstrim ini melalui berbagai cara dan sarana, antara lain:
<p>

a. Setapak demi setapak menggiring para pemuda memasuki jebakan mereka sehingga menggunakan kekerasan dan cara revolusioner untuk menegakkan pemerintahan Islam – suatu cara yang amat dihindari oleh dakwah Islam. Sebab system yang Islami selamanya tidak menghalalkan cara demi tujuan seperti yang ada pada system-sistem lain yang menerakan teror dan pertumpahan darah yang pada gilirannya membuat system serupa itu gagal dengan sendirinya.
<p>

Permainan baru semacam ini menampakkan sosoknya dalam usaha mengaburkan jalan yang ada di hadapan para pemuda itu, sehingga merekapun memberlakukan cara kekerasan yang pada akhirnya toh gagal total. Dengan demikian, musuh-musuh Islam itu dapat memperoleh kepastian tentang jalan paling pintas menghadapi gerakan dakwah Islam.
<p>

b.Secara bertahap menggiring para pemuda itu untuk bersikap fatalis dan mengisolasi diri, dimana sebagian darimereka akan mementingkan ‘uzlah dan tasawuf sehingga kehilangan daya dobrak yang selama ini mampu menjadi motor pendobrak gerak maju mereka, sedangkan yang lain akan mengurung diri di bawah pengaruh pikiran-pikiran khayali dan ajaran-ajaran sesat, lalu berusaha memisahkan dari masyarakat guna membentuk kelompok-kelompok muslim ekslusif – suatu hal yang selama ini tidak pernah ditemukan realisasinya ditengah-tengah kondisi negara modern, dan baru merupakan ide serba aneh yang dimanfaatkan sebagai alat permainan baru guna mengaburkan sosok da’wah Islam dan menghentikan penyusupannya dalam diri umat yang baru mengenal Islam sesudah mereka mengalami kekalahan menyakitkan yang berkaitan dengan persoalan intern mereka. Upaya-upaya serupa itu dipusatkan pada kegiatan propaganda yang diarahkan kepada kelompok pemuda ekstrim tersebut, sehingga terciptalah jurang yang amat dalam dan perilaku yang membuat umat lari dari para penyeru Islam, lalu menjadi terbataslah pengaruh para penyeru Islam itu di masyarakat,dan respon secara nasionalpun semakn menyusut.
<p>

Kecenderungan-kecenderungan semacam ini, apakah ia positif atau negatif bila dinisbatkan dengan usaha pengaburan dakwah Islam yang dilancarkan musuh-musuhnya, telah membuahkan hasil dengan munculnya konsepsi “pengkafiran” dan “penjahiliyahan” yang ditegakkan atas hukum mengkafirkan penguasa dan menjahiliyahkan masyarakat. Juga mengkafirkan individu-individu lantaran adanya anggapan bahwa orang yang bersedia bergabung dibawah penguasa-penguasa kafir adalah kafir, dan bahwasanya pada sosok luarnya masyarakat memang mau dan bersedia menerima kekafiran. Nah, hukum kafir pun ditetapkanlah berdasar gambaran lahiriyah tanpa bukti yang meyakinkan. Sampai akhirnya, kaum musliminpun kembali terjebak pada sengketa dialektis-theologis, yang dulu pernah berkembang pada masa kejayaan mereka, yang dimaksudkan untuk merobek-robek persatuan mereka dan memadamkan semangat juang dalam jiwa mereka.
<p>

Kini, pemuda-pemuda dengan tipe semacam ini, melahirkan ancaman dan perpecahan ditengah ummat melalui kekacauan konsepsi mereka, dan akhirnya – sesudah semua usaha mereka gagal total – merekapun dilanda frustasi besar-besaran yang menyebabkan mereka lalu berpangku tangan dari perjuangan untuk Islam sepanjang mereka menganggap bahwa usaha-usaha itu tidak menjanjikan tercapainya penggulingan “para thagut dari tahta mereka” dan menjadikan ummat manusia hanya menyembah kepada Tuhan mereka semata, serta menegakkan negara Islam yang selama ini mereka perjuangkan mati-matian. Akibatnya seperti ini sudah dapat dipastikan, sebab seluruh apa yang dilakukan untuk, dan diabdikan kepada Islam, menurut persepsi mereka, hanyalah merupakan tujuan antara yang amat terbatas dan bersifat untung-untungan: kalau memang berhasil, ya untunglah, tapi kalau tidak, ya sudah!)
<p>

Dalam kondisi serupa ini, tipe pemuda semacam itu sendirilah yang menempatkan diri mereka pada cara-cara yang beringas ini karena mereka memang tidak mengerti betul bagaimana metode dakwah yang sebenarnya, dan tidak pula memahami Islam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, bukanlah tanpa alasan manakala Allah tidak berfirman kepada Rasul-Nya dan kaum muslimin untuk merealisasi satu bentuk tertentu, melainkan Ia berfirman: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan peringatan yang baik…” (QS. An-Nahl, 16:125) dan “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, (berarti) engkau tidak menyampaikan amanat-Nya…” (QS. Al-Maidah, 5:67).
<p>

Menyeru kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada ummat manusia adalah tugas utama kaum muslimin,dan itu tidak terbatas pada batasan-batasan tertentu maupun tergantung pada kondisi, tempat dan waktu. Imbalan bagi mereka yang melaksanakan tugas itu disambut dengan baik oleh ummat manusia maupun ditolak. Allah berfirman: ”Bukanlah tanggungjawabmu untuk memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki….” (QS. Al-Baqarah, 2:272).
<p>

Penyeru kepada Allah bukanlah person yang lepas dan terputus kaitannya dengan orang-orang yang mendahuluinya atau yang datang sesudahnya. Ia merupakan satu mata rantai dalam jajaran panjang yang membentang sejak Allah menciptakan kehidupan di atas dunia ini sampai kelak Ia mewariskan bumi dengan seluruh isinya kepada mereka. Alllah SWT telah memberlakukan kehendak-nya agar iradat-Nya teralisasikan di bumi-Nya sebagai suatu pemerintahan Islam yang memeratakan keadilan dan kebajikan. Sungguh, kehendak-Nya itu pernah terealisasikan melalui tangan orang-orang yang sabar yang menyeru ummat manusia kepada Allah, berjuang di jalan-Nya, dan menyodorkan argumen-argumen yang kuat kepada ummat manusia dengan segala kesungguhan dan konsistensi mereka dalam memegang kebenaran.
<p>

Dalam dua kondisi seperti itu, tugas utama seorang Muslim adalah mengajak manusia menuju Allah, agar mereka memperoleh petunjuk dan keselamatan, baik dakwah itu disampaikan dengan sarana informasi dan penyampaian yang ada di negara Islam maupun melalui suara-suara individual mukmin yang memiliki semangat tinggi dan mau mempertaruhkan nyawanya dalam upaya mengajak umat manusia menuju jalan Allah yang lurus. Kelompok yang disebut belakangan ini, hendaknya sekali-kali tidak menganggap bahwa sarana dakwah amat terbatas, juga hendaknya ia tidak berkecil hati bila sambutan masyarakat terhadap dakwahnya kecil sekali. Yang terpenting adalah ia mengarahkan seluruh kemampuannya dalam mengajak menusia semaksimal mungkin dengan cara yang bijaksana dan nasehat-nasehat yang baik, serta mengembangkan sarana dakwah sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi. Itu harus ia lakukan terus sampai kelak tercipta kelompok-kelompok mukmin yang mampu menegakkan kebenaran tanpa takut terhadap tentangan orang-orang yang memusuhuinya hingga tiba satnya Allah memutuskan kehendak-Nya.
<p>

Kendati demikian, apakah peran yang harus dimainkan oleh seorang mukmin dalam kehidupan ini hanya terbatas pada tercapainya cita-cita seperti itu tanpa ada jangkauan lebih lanjut berupa menegakkan pemerintahan Allah di muka bumi ini? Masalah ini tak perlu dipermasalahkan lagi, hatta bagi meraka yang hanya tahu serba sedikit tentang Islam sekalipun! Yakni, bahwa Islam itu adalah akidah, ibadah dan syari’ah, dan pada saat yang sama ia juga negara dan system pemerintahan. Sekalipun demikian, watak Islam ialah selamanya menuntut pemeluknya untuk memancangkan pilar-pilar pemerintahan dalam negaranya atas asas islami, dimana hendaknya tugas utama yang amat mendasar, yakni dakwah dan memberi petunjuk kepada umat manusia, tidak diruntuhkan. Jadi, andai kata jalan ke arah teralisasikannya pemerintahan Islam itu belum terpenuhi, ia janganlah menghentikan tugas utamanya sebagai penyeru umat manusia menuju Allah dengan menggunakan berbagai macam sarana yang ada dengan bijaksana dan nasehat-nasehat yang baik, dan tidak menempuh cara revolusi politik yang menggunakan kekerasan sehingga membatasi tugasnya semata-mata hanya pada perebutan kekuasaan dan melakukan makar terhadap pemerintah melalui kritik dan ejekan yang dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat, lantas dengan itu ia menganggap diri telah menunaikan kewajibannya dengan baik.Dan bila ternyata bahwa upaya semacam itu telah menguras tenaga dan waktu, sedangkan pemerintahan yang ingin ia jatuhkan tetap berdiri dengan kokohnya iapun lantas dilanda frustrasi besar-besaran dan menganggap segala jerih payahnya telah gagal total, lalu dipergunakanlah cara kekerasan. Ia lakukan semua itu guna membenarkan sikapnya, baik secara konsepsional maupun akidah, sementara ia lupa bahwa dia sendirilah yang keliru memahami masalah itu serta menempatkannya pada proporsi yang tidak tepat.
<p>

Islam adalah agama petunjuk dan hidayah. Dan merupakan nikmat Allah yang tak terhingga kepada manusia manakala Allah tidak menjadikan pelaksanaan tugas seorang muslim tergantung semata-mata pada adanya negara Islam yang mengatur kegiatan dakwah menuju Allah, tetapi menjadikan dakwah itu sebagai kewajiban individual yang harus dilaksanakan sebagai tugas pertama dan utama. Kalau memang ada negara yang bisa mengorganisasi dan melindungi kegiatan dakwah itu, maka adalah merupakan kewajiban kaum Muslimin yang baik untuk menggalang usaha dakwah mereka dalam suatu organisasi yang bisa memberi arah dan mengupayakan terciptanya kondisi ideal tadi. Kalaupun seandainya ditakdirkan ada seorang muslim yang hidup sendirian di suatu negeri zhalim, maka ia tetap wajib melakukan dakwah dan memberikan petunjuk kepada umat manusia menuju Allah, dan tiadanya negara Islam, Imam atau jama’ah, sama sekali tidak menghapuskan kewajiban itu. Bahkan andainya ia hidup sebagai satu-satunya muslim di muka bumi ini dan hanya mungkin hidup dengan makan akar tumbuh-tumbuhan karena dakwahnya, ia tetap diwajibkan melaksanakannya sejalan dengan petunjuk Nabi yang termuat dalam riwayat yang terkenal itu.
<p>

Apabila Al-Qur’an dan Sunnah Rasul telah menentukan cara pergaulan dengan orang-orang muslim di saat Islam berada di pihak yang berkuasa, maka aturan seperti itu tidak pula dilupakannya di saat Islam berada jauh dari kemungkinan memegang kekuasaan, bahkan sikap Rasulullah saw terhadap kaumnya pada masa-masa awal periode Mekah serta metode dan tehnik dakwah yang beliau terapkan sungguh merupakan petunjuk nyata bagi orang-orang yang hidup dalam kondisi serupa itu untuk kesekian kalinya, dan ia bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa maksud-maksud terentu – toh bisa saja Allah memasukan keimanan dalam kalbu bangsa Arab tanpa Rasulullah sendiri harus berjuang mati-matian menghadapi berbagai siksaan dan memperlihatkan kesabaran berliau yang demikian indah selama tiga belas tahun dalam melaksanakan dakwahnya. Seorang penyeru agama atau penganjur kebajikan tidaklah akan bisa menangkap makna lain dari periode Mekah dan metode dakwah yang diterapkan Rasulullah saat itu, kecuali bahwa sesudah itu beliau menerima tampuk pemerintahan, di mana seluruh sepak terjang beliau betul-betul menjadi suri-teladan dan petunjuk paling baik.
<p>

Tidaklah menjadi soal apakah pemerintahan dimana kita hidup sekarang ini menyimpang dari murtad, dari Islam atau kafir terhadapnya, yang jelas kewajiban kita bukanlah untuk melontarkan caci-maki terhadap masyarakat atau semata-mata mengemukakan bukti-bukti kekafirannya, melainkan untuk melaksanakan dakwah dan memberikan petunjuk kepada umat manusia menuju jalan yang lurus. Dan merupakan hal yang amat baik sekali menakala tugas itu kita laksanakan dengan metode yang baru agar ia bisa memainkan peran positif dalam menyelamatkan umat manusia dari segala noda yang kini mengotori mereka.
<p>

Kini mari kita kembali pada persoalan semula, dan kembali saya tegaskan bahwa dalam perjuangan Rasulullah SAW terdapat suri-teladan yang amat baik. Kaum beliau adalah orang-orang yang paling sengit penentangannya, paling hebat pendustaannya, dan paling mengerikan penyiksaannya terhadap beliau. Kendati demikian,beliau tidak pernah berhenti barang sekejap pun untuk menyampaikan seruan dan memberikan petunjuk kepada mereka. Beliau tak henti-hentinya mendatangi Nadwah (tempat pertemuan), pasar-pasar, dan festival-festival mereka, karena kenginan beliau yang demikian keras untuk menyampaikan petunjuk. Konon lagi, sekarang ini di masyarakat kita tidak ditemukan orang yang melakukan tindakan seperti yang pernah dilakukan oleh Bani Tsaqif kepad Rasulullah SAW dulu. Sekalipun begitu, toh Rasulullah SAW selalu memulangkan segala kekurangan gerakan dakwahnya kepada diri beliau sendiri. Beliau antara lain pernah mengadu kepada Allah, katanya: …sekiranya Engkau tidak murka kepadaku (atas semuanya ini), maka aku tidak akan ambil perduli…”,lalu didoakan kaumnya landataran kebodohan mereka dengan “Allahuma, Ya Allah, tunjukilah kaumku, sebab mereka itu adalah orang-orang yang tidak tahu (kebenaran)”. Beliau tetap berusaha menyampaikan petunjuk kepada kaumnya kendatipun alasan untuk tidak menyampaikannya sudah cukup bagi beliau. Lalu bagaimana halnya dengan sikap kita terhadap masyatrakat kita dewasa ini, padahal kita tahu pasti bahwa perlakuan mereka terhadap Islam yang demikian rupa ini bukanlah didasarkan atas kesengajaan, dan bahwa kesediaan mereka menerima sistem yang bukan Islam itu hanyalah semata-mata karena terpaksa? Mengapa kita mesti menebarkan propaganda yang menghasut, menipu dan selingkuh?
<p>

Yang membuat tanggung jawab itu terasa semakin berat di pundak para penyeru Islam adalah bahwa masyarakat kita telah kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang menyeru mereka kejalan yang bukan Islam. Semua bukti yang ada sekarang mengisyaratkan pada kita bahwa di seluruh pertarungan yang terjadi antar kebenaran melawan kebatilan, kini mulai dimenangkan oleh Islam, dan untuk masa-masa mendatang medan pertarungan itu akan dikuasai oleh, dan tidak menentang kepada Islam. Konsepsi dan prinsip-prinsip lokal yang ada dalam masyarakat secara jelas mulai merosot dan kehilangan popularitas. Selama ini kesesatan-kesesatan itu terus membelit mereka dan mencoba menggeser Islam. Kendatipun demikian, manakala prinsip-prinsip dan konsepsi-konsepsi itu dirterjunkan dalam pertarungan dan dicoba diberlakukan di masyarakat, ternyata gagal total, sebab masyarakat telah mengetahui penyesatan yang dilakukannya dan mereka betul-betul yakin bahwa konsepsi dan prinsip-prinsip itu adalah sarana-sarana kaum Zionis dan imperialis yang berusaha memecah-belah persatuan umat dan menghancur-leburkan dirimereka dengan cara merusak akidah dan moral mereka, lalu menjauhkan umat dari agama mereka. Semuanya itu dimaksudkan agar kaum Muslimin tetap menjadi pengikut umat lain. Umat manusia telah mencoba system kapitalis, nasionalis, rasialis, komunis dan juga sosialis. Namun semuanya itu hanya membuat mereka semakin menderita semakin kehilangan arah, sementara itu waktu terus bergerak dengan memainkan peran alaminya: sesudah kemenangan pasti datang kekalahan, dan sesudah kekalahan pasti datang kemenangan. Tambahan lagi, para thagut pun telah pula mencobakan berbagai prinsip pada masyarakat yang mereka kalahkan, tetapi semuanya itu justru semakin mendekatkan mereka pada kekalahan dan keruntuhan, dan yang ada di hadapan mereka sekarang tinggal Islam. Islam terus muncul dan bergerak ke depan melalui manhaj-nya yang hebat dan diperjuangkan oleh para penyerunya yang memiliki keteguhan dan kemampuan besar. Ini disebabkan karena mereka adalah orang-orang yang tergolong dalam kelompok yang memiliki kejujuran dan keteguhan serta terbebas dari arus pengingkaran dan membenarkan segala cara. Mereka terus bertarung di Palestina dan wilayah-wilayah lain, sebab wilayah-wilayah itu merupakan tanah air Islam dan kekayaan bersama kaum Muslimin. Selain itu, adalah juga disebabkan karena suara mereka adalah satu-satunya suara yang bebas yang berani mengatakan “tidak” kepada para thaghut itu, sekalipun untuk itu mereka harus mengalami tekanan hebat dan terus-menerus dilabrak karena berani mengatakan “kalian zhalim” kepada orang-orang zhalim dan “kalian penghianat” kepada kaum pengkhianat. Mereka tak pernah merasa gentar menghadapi semua itu, dan berguguranlah syuhada’ demi syuhada’ di jalan Allah. Kendatipun jasad para syuhada’ itu koyak-moyak oleh luka, namun jiwa mereka tetap luhur dan suara mereka terus berkumandang mengingatkan umat manusia tentang tipu muslihat para thagut dan kelicikan para penjajah tanpa gentar sedikitpun terhadap caci-maki siapa saja. Semua itulah yang menyebabkan umat manusia mengacungkan jempol atas sikap kelompok muslim yang terpuji itu, lalu menanamkan keyakinan dalam lubuk hati mereka bahwa kelompok muslim seperti itulah yang mampu berkarya demi kebaikan dan pembebasan kaum muslimin.
<p>

Kepercayaan umat yang demikian besarnya ini, hendaknya bisa memotivasi cita-cita dalam diri para pemuda itu, sehingga semakin meningkatkan tanggung jawab dan respon mereka. Kemudian tanggung jawab itu akan lebih baik lagi manakala perjuangan mereka itu tergabung dalam satu suara, satu langkah, dan satu system, sehingga bisa menciptakan satu arah yang satu, baik dalam konsepsi, system mupun program-programnya. Ini, tak bisa tidak, harus dilakukan sebab tantangan yang harus dihadapi Islam saat ini memiliki kehandalan dan kemampuan kuat, baik dalam dana, ilmu dan teknologi yang mungkin –bahkan tidak bisa sama sekali- dihadapi kecuali dengan kemampuan dan suara yang sama. Untuk terciptanya kekuatan seperti itu, tak bisa tidak, harus digalang kesatuan kata. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Imam asy-Syahid Hasan al-Banna tatkala menyampaikan betapa pentingnya kesatuan dakwah Islam dalam abad kedua puluh ini. Beliau antara lain mengatakan: “Dakwah ini adalah dakwah yang putih bersih tak terwarnai oleh warna apapun. Ia selalu memperjuangkan kebenaran dimanapun juga ia berada. Menganjurkan persatuan dan tidak suka perpecahan. Dan hendaknya diketahui bahwa bahaya paling besar yang dihadapi kaum Muslimin sekarang ini adalah perpecahan dan perselisihan, sedangkan asas bagi setiap kemenangan tak lain adalah persatuan dan kasih sayang. Dan hendaknya diketahui pula bahwa perjuangan umat ini tidak akan memberikan hasil yang baik sepanjang bertolak dari awal yang baik pula”.
<p>

Kepercayaan ini, yakni kondisi umat yang telah didesak kebutuhan pada munculnya orang yang bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran moral, menyebabkan mereka selalu mengamati gerakan dakwah Islam dan menunggu munculnya seorang “Juru Selamat” dari kalangan pemudanya – suatu harapan yang mesti dijawab oleh para pemuda Islam menakala mereka betul-betul mengharap ridha Allah dengan menampilkan dari mereka sebagai idola bagi umatnya serta menjadi lampu penerangan melalui kelapangan dada dan kualitas amal dalam jiwa dan akhlak, serta dalam cara berdakwah dengan karya dan bukan dengan “jual omong”, dengan sikap dan bukan dengan teori kosong. Itulah cara yang paling efektif yang mesti dilaksanakan oleh para pemuda dalam upaya mereka “berdialog” dengan bangsanya dan dalam usaha mereka mengubah masyarakatnya. Masyarakat kita yang saat ini berada dalam kondisinya yang paling memprihatinkan, pasti akan menyambut setiap alternatif yang berkaitan dengan manhaj islami.
<p>

Kepercayaan umat ini, kini diarahkan pada program baru guna menghancurkan Islam, yang karena itu pulalah maka upaya-upaya musuh Islam itu ditujukan untuk merusak dan menghancurkan umat Islam melalui cara membangkitkan keberingasan para pemuda dan mengacaukan system mereka di tengah-tengah umat dan di kalagan para penyerunya – suatu hal yang harus disadari betul oleh pemuda dan harus diatasi dengan cara meningkatkan kewaspadaan dan toleransi.
<p>

Kelompok Muslim yang kini berkiprah membela kebenaran itu, sungguh dituntut untuk berkarya guna melindungi dua pilar pokok yang padanya kehidupan dan manhaj mereka ditegakkan – dua pilar yang tidak bisa tidak harus ada agar bisa melaksanakan amanat penting yang dilimpahkan Allah kepada mereka yang karena itu pulalah mereka diutus di dunia ini. Dua pilar yang mesti ada itu ialah: iman dan ukhuwah (persaudaraan); iman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan meyakini pemantauan-Nya terhadap semua aktivitas kehidupan – kapan dan di manapun, serta menggalang ukhuwah dalam agama Allah – suatu ikatan persaudaraan yang bisa membentuk jama’ah Islam menjadi satu bangunan yang dinamis, kuat dan tegar yang mampu memainkan peranan besar dalam kehidupan dan sejarah ummat manusia, yakni peran “amar ma’ruf nahyu munkar: menegakkan kehidupan atas asas yang ma’ruf dan mensucikannya dari noda kemunkaran.
<p>

Keduanya merupakan titik sentral yang padanya kelompok-kelompok mukmin dibentuk, dan dengan keduanya pulalah misi agung mereka dilaksanakan. Kalau salah satu di antara dua pilar itu ambruk, niscaya tidak lagi ada apa yang bisa disebut sebagai jama’ah Islam, dan peran yang semestinya mereka mainkan pun macet total.
<p>

Barisan Islam dituntut untuk tidak melalaikan barang sesaat pun dalam kehidupan mereka terhadap seruan-seruan Tuhannya ini:
<p>

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah. Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu di saat kamu saling bermusuhan lalu Ia persatukan hati-hatimu, sehingga dengan karunia-Nya itu kamu menjadi bersaudara. (Saat itu) kamu berada ditubir jurang neraka (kehancuran) lalu Ia selamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.”
<p>

“Dan hendaklah ada diantaramu satu umat yang menyeru berbuat kebaikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Dan janganlah kamu seperti orang yang bercerai-berai dan berselisih paham sesudah datang kepadanya bukti-bukti yang terang. Mereka itulah orang-orang yang tersedia baginya adzab yang dahsyat.”
<p>

“Pada hari wajah-wajah menjadi putih (berseri) dan wajah-wajah (lain) hitam (muram). Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, (kepada mereka dikatakan): ‘Apakah kamu menjadi kafir sesudah beriman? Maka,rasakanlah olehmu adzab akibat kekafiranmu’. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi putih (berseri), mereka itu berada dalam rahmat Allah: Mereka tinggal didalamnya kekal selama-lamanya” (QS. Al-Imran, 3:106-107)
<p>
Begitulah, semuanya itu dapat teralisasikan manakala mereka memenuhi imbauan
<p>
Allah yang luhur itu dan mengabdikan hidupnya untuk itu. Kalau sudah demikian, niscaya tidak ada lagi kekhawatiran terhadap ancaman dari luar, sebab Allah telah mnemberikan jaminan untuk melindungi jama’ah Islam dari serangan musuh-musuhnya. Yang dikhawatirkan justru adalah ancaman yang datang dari dalam serta kipasan setan yang bisa membangkitkan rongrongan terhadap pilar-pilar utamanya itu. Mereka sendirilah, dan bukan orang lain, yang dituntut untuk menghadapi tipu muslihat setan ini, sebab setan selalu berusaha membangkitkan perpecahan di kalangan umat manusia dan menipu mereka, sehingga mereka dapat menjadi pengikut dan masuk dalam kelompoknya. Allah telah berfirman, “(Setan) memberi mereka janji-janji dan membangkitkan keinginan-keinginan kepada mereka. Pdahal yang dijanjikan setan-setan itu tak lain hanyalah tipu muslihat belaka” (QS.An-Nisa, 4:120). Demikian pula halnya, para pemuda selalu dituntut untuk lebih waspada terhadap ancaman penyakit-penyakit kalbu dan jiwa yang lazimnya melanda orang awam yang mati hatinya dan gelap jiwanya. Allah berfirman pula, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta menutup penglihatannya. Dan bagi mereka tersedia adzab yang pedih”(QS. Al-Baqarah, 2:7).
<p>

Dinisbatkan dengan para pemuda yang kini melahirkan kesulitan bagi kelompok mukmin yang betul-betul berjuang untuk Islam itu, ada satu hal yang harus diketahui di sini, yakni:

<p>
· Apakah akan memilih amal tanpa pamrih dan ikhlas, serta berpijak pada cara yang sederhana dan moderat dalam melakukan gerakan disertai dengan upaya menutup rapat-rapat jendela yang akan diselusupi setan, di mana tidak ada suatu amal apapun yang sia-sia dan bahwasanya Allah itu menyukai amal yang dilakukan dengan ikhlas dan kontinyu – sekalipun serba sedikit. Untuk ini, tidak bisa tidak, para pemuda itu harus mengintrospeksi diri, meninjau kembali konsepsi, penetapan hukum dan tindakan mereka di bawah sorotan Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya, yang dengan begitu mereka akan sampai pada jalan yang lurus seperti yang telah digariskan oleh Rasul yang mulia dan dengan itu pula mereka bisa tergolong dalam kelompok orang-orang yang selamat dan memperoleh petunjuk, atau
<p>

· Tetap memperturutkan hawa nafsunya sendiri sehingga mereka akan sampai pada jalan yang dulu pernah diingatkan oleh Rasulullah dengan sabdanya,”…dan jalan yang ini, adalah jalan yang selalu dilewati setan dan mereka mengajak menusia untuk melaluinya…” di mana mereka akan menjadi “orang-orang yang menyimpang dari agama dan bercerai-berai”, yang oleh sebuah hadits disebut sebagai “para pengikut hawa nafsu, pembuat bid’ah dan pelaku kesesatan di kalangan ummat ini. “Ya Aisyah, ketahuilah bahwa pada setiap dosa itu tersedia taubat, kecuali bagi mereka yang memperturutkan hawa nafsu, dan pembuat bid’ah. Untuk mereka itu tidak tersedia taubat, dan aku berlepas diri dari apa yang mereka lakukan dan mereka pun berlepas tangan pula dariku”. Dengan demikian, barang siapa yang mencoba mengubah dan mengganti sunah Rasulullah, atau membuat bid’ah, maka mereka itu termasuk orang-orang yang terusir dari, dan dinyatakan berada di luar lingkungan Islam. Mereka itulah orang-orang yang akan menjadi hitam wajahnya dan yang mendapat pengusiran paling buruk lantaran memisahkan diri dari jama’ah Islam dan menyimpang dari jalan mereka, semisal kaum Khawarijj, Raifidhah, dan Mu’tazilah. Kelompok-kelompok ini adalah pembuat bid’ah dan mengganti sunnah Rasul, bertingkah laku zhalim, pelaku dosa, menjauhi kebenaran, membunuh penyeru-penyeru dan pengikut kebenaran, terang-terangan melakukan dosa besar dan memendam kemaksiatan, pengikut hawa nafsu, sesat dan menyimpang. Mereka itu, semuanya dikhawatirkan akan menjadi orang-orang yang kelak hitam wajahnya di hari kiamat, sedangkan tiada penghuni neraka yang kekal di dalamnya kecuali orang-orang yang kafir yang hatinya tidak memiliki keimanan barang sebiji atompun.

<p>
Tipu muslihat semacam ini adalah tipu muslihat keagamaan yang seringkali melanda orang-orang yang amat ekstrim dan berlebih-lebihan dalam sikap keagamaannya, seperti yang juga seringkali dialami oleh orang yang religiusitasnya tumbuh secara liar dan mengalami gejolak-gejolak jiwa yang bersifat sesaat.

<p>
Karena itu, hendaknya para pemuda ini selalu waspada terhadap belitan hawa nafsu dan tipu muslihat seperti itu. Mereka mesti memikirkan dengan sungguh-sungguh persoalan mereka dan mengikhlaskan amal perbuatannya semata-mata untuk Allah, lalu meningkatkan keberagamaan mereka secara tawadhu’. Hendaknya mereka menjauhi tipu muslihat yang bisa merobek-robek kebaikan, melahirkan kemurkaan Allah. Kita berlindung kepada Allah dari perilaku semacam itu. Disini, pada tempatnyalah bila dikemukakan kisah tentang seorang laki-laki Bani Israel yang disebut sebagai al-Khali’ (Si Raja Dosa) lantaran banyaknya ia melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Sekali waktu orang ini berpapasan dengan seorang laki-laki lain yang disebut sebagai al-‘Abid (Si Tekun Ibadah) di kalalngan Bani Israel. Diatas orang itu menggantung awan di langit yang menaunginya dari terik panas matahari. Dan ketika si Khali’ itu berpapasan dengannya, ia pun berkata kepada dirinya, “Aku ini adalah Khali’ Bani Israel, dan dia ‘Abidnya. Seandainya aku duduk di sampingnya, niscaya Allah akan merahmatiku”(!!). Dan ketika ia telah duduk di dekat si ‘Abid, berkatalah ‘Abid, “Aku adalah ‘Abidnya Bani Israel, dan dia ini Khali’ seraya berkata: “Pergilah engkau dari sisiku!”. Maka Allahpun menurunkan wahyu kepada Nabi yang ada pada masa itu: “Temui mereka berdua. Tidak seharusnya mereka berdua berpisah satu sama lain”. Maka diampunilah dosa-dosa si Khali’ dan dihapuslah amal si ‘Abid, lalu awan itu pun dipindahkanlah ke atas kepala si Khali’.
<p>

Disalin dari terjemahan Al-Khawarij: al-Ushul at-Tarikhi li Mas’alah Takfir al-Muslim, karangan Dr. Mustafa Helmi, 1977. Cetakan I, PUSTAKA 1986.
<p>
Saduran dari <a href=”http://ihwansalafi.wordpress.com/2007/08/23/pengkafiran-sesama-muslim-adalah-satu-ciri-khawarij/&#8221; mce_href=”http://ihwansalafi.wordpress.com/2007/08/23/pengkafiran-sesama-muslim-adalah-satu-ciri-khawarij/”>Ihwansalafi</a&gt;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: