Anggi


Anggi namanya, seorang wanita yang dilahirkan dengan tubuh sempurna dan dengan kecantikan yang merona seakan-akan tidak ada pemuda yang tidak jatuh cinta jika melihatnya. Sosok gadis energik, yang gemar dalam berorganisasi membuatnya seakan memang dia bidadari dari surga dengan kain penutup aurat yang benar-benar menutupi dirinya menambah keharuman yang terpancar untuk selalu melihatnya. Sungguh kesempurnaan seorang wanita.
Anggi tak pernah lepas dari beberapa kegiatan keagamaan, sehingga tak sedikit Ikhwan-Ikhwan yang jatuh hati pada sosok perempuan ini. Wajah cantiknya terpancar dari semua sudut dan terlihat sangat memukau oleh semua kalangan.
“Ukhti Hilda, gimana bakti sosial di kampung Sono Cangkring besok? Apa sudah terkumpul dananya? Masih kurang nggak? Kalau kurang, ini ana punya sedikit uang. Mendingan ana sumbangin aja di sini!” kata Anggi dengan menyodorkan beberapa lembaran kertas uang ratusan ribu ke Hilda,
“Besok, jadi dong! Dananya Alhamdulillah sudah terkumpul semua. Nah, kalau anti mau nyumbang, wah terima kasih sekali loh! Wah, banyak banget Ukh!“ dengan senang Hilda menerima uang itu dari Anggi.
Setelah itu Anggi mohon diri untuk pulang dan akan mempersiapkan beberapa keperluan bakti sosial.
“Tluuut..tluut…tluut” terdengar bunyi dari Hp Anggi. Dengan cepat Anggi yang baru selesai sholat Shubuh dan masih memakai mukena mengangkat hpnya “Assalamualaikum Akh,” bisik Anggi lirih menyapa si penelpon.
“Walaikumsalam Ukh. Gimana, ikut bakti sosial nggak? Kalau ikut nanti ana jemput beberapa akhwat nanti juga minta dijemput. Oh yach, ana masih belum tahu rumah anti. Di mana rumah anti, Ukh?”
Anggi menjawab dengan lirih “Iya, ana insya Allah ikut. Sudah nggak usah dijemputlah! Makasih. Ana bawa mobil sendiri kok. Antum langsung saja kekampus, nanti ana juga ke sana! Syukron?”. Entah kenapa sebelum Aryo menjawabnya Anggi langsung mematikan hpnya.
Aryo hanya bengong mendengar jawaban Anggi dari seberang sana.
Anggi datang ke kampus dengan BMW-nya. dengan wajah yang begitu muram, seakan ada sesuatu yang tersembunyi menggelayuti hatinya.
“Ukhti Anggi, alhamdulillah anti datang juga yach!” sambut Indah dengan senang.
Anggi hanya tersenyum seakan menyembunyikan aral yang membelenggu dalam dirinya. Anggi langsung mengajak Indah untuk mengemasi barang-barang yang akan diperlukan dalam bakti sosial nanti. Beberapa teman-teman merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganjal dihati Anggi, tapi mereka tidak berani menanyakannya kepada Anggi. Mereka segan bahkan mungkin bosan dengan ketertutupan hati Anggi. Dia tipe gadis yang sangat tertutup, tidak pernah berbagi cerita, suka dan duka dengan teman-temannya bahkan teman dekatnya. Dalam perjalanan bakti sosial beberapa teman-teman masih asyik mengobrol tentang keIslaman, tetapi Anggi hanya termenung terpaku dengan tatapan yang menerawang jauh dari pandangan. Anggi yang begitu senang jika sedang diajak ngobrol tentang dunia Islam, dan mempunyai cita-cita besar untuk menyatukan umat Islam sedang diam terpaku tanpa kata yang menghiasi bibir indahnya. Teman-teman Anggi merasa bahwa Anggi mempunyai masalah besar sehingga dia harus diam saat teman-temannya sedang berdiskusi tentang kemajuan Islam, “apakah masalah Ukhti Anggi lebih besar dari masalah umat Islam ini?” ucap Dina lirih,
Dengan berbisik lirih pun Hilda menjawab “Hus, anti tidak boleh bicara seperti itu, mungkin bener-bener ada masalah besar yang dihadapi Ukhti Anggi?.”
Perjalanan berakhir ketika sampai didesa yang kecil dan terpencil. penduduk desa itu memang terlihat kurang mampu untuk kehidupan sehari-harinya, bahkan masjid yang seharusnya disebut masjid adalah seukuran dengan musholah di desa tetangganya atau bahkan dikota-kota. Teman-teman Anggi, masih belum berani menanyakan masalah Anggi. Sehingga, mereka hanya menyimpan pertanyaan tentang masalah Anggi pada diri mereka masing-masing. Terlihat tatapan Anggi bagaikan bola mata yang memancar sinar cahaya ketenangan, sosok gadis cantik berparas jilbab yang mengitari tubuhnya itu membuat orang-orang desa menjadi begitu senang melihat Anggi. Tetapi cahaya mata Anggi kali ini begitu lain, sorot mata Anggi terasa teduh dan senduh, dia merasa sangat kaget dengan suasana yang baru dikenalinya,
“Ukhti Anggi, Anti kenapa?” Hilda memberanikan bertanya pada Anggi,
“Ukh, ana tidak menyangka kalau masih banyak saudara Islam yang sangat membutuhkan, lihat itu Ukh, rumah yang reyot hampir rubuh, dan juga lihat masjidnya, ana benar-benar tidak tahu Ukh!” Anggi menjawab dengan kesedihan yang terungkap oleh wajah cantiknya.
“Sudahlah Ukh, kita disini memang untuk bantu mereka jadi kita harus bantu sesuai dengan kemampuan kita, ok!” Hilda memberikan dorongan semangat pada Annggi.
Langit merah, sedikit kelam kelabu, namun terasa tampak indah jika dipandang mata. Anggi duduk sendirian terlihat gelisah melamunkan sesuatu hal. Hilda, teman akrab Anggi, hanya bisa melihat dari kejauhan dan berpikir apa yang membuat sahabatnya resah. Hilda memandang sosok Anggi adalah sosok yang taat dalam ibadah juga senang berjuang untuk Islam, dan bahkan dia gemar mempromosikan jilbab agar dipakai semua wanita muslim. Penampilan seperti ini diharapkan dapat membedakan antara wanita kafir dan wanita muslim.
Anggi terlihat diam dan terpaku sendiri. Tiada kata terucap dari mulutnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang, memanggil umat Islam untuk menghadap Sang Kholik. Anggi terlihat bangkit dari tempat duduknya, mengambil mukena dan berjalan menuju masjid yang berukuran mushola itu.
Di keheningan malam desa, Anggi dan Hilda duduk bersama. Mereka seakan dua orang sahabat yang memang di peruntukkan oleh Allah untuk saling berbagi, hanya karena Allah. Hilda sering membicarakan masalahnya kepada Anggi, Anggi sering bisa menyelesaikan masalah-masalah Hilda hingga berakhir dengan kesejukan hati. Namun berbeda dengan Anggi, Anggi tidak pernah mengatakan masalah apapun pada Hilda, bahkan Hilda yang sering bertanya kepada Anggi apakah dia mempunyai masalah apa tidak, jawaban Anggi selalu sama “ah nggak ada kok Ukh, yang memang ana masalahkan tuh cuman satu. Yaitu Allah ridho nggak akan perbuatan ana, itu aja kok Ukhl!” Entah apa yang di katakan Anggi, tetapi Hilda merasa bahwa Anggi mempunyai masalah besar. Namun Hilda tetap tidak berani untuk bertanya kepada Anggi.
Siang hari bakti sosial di mulai, anak-anak desa senang terhadap perlakuan Anggi, dan bahkan Anggi begitu riangnya melayani anak-anak desa seakan-akan Anggi yang kemarin termenung terpaku dan membatu tak terlihat pada diri Anggi sekarang. Tatapan mata persaudaraan selalu ditunjukkan Anggi, pada setiap penghuni desa itu. Sampai-sampai semua orang desa sangat menghormati Anggi.
“Ilmu apa yang di pakai oleh Ukhti Anggi, sehingga dia bisa membius sekian banyak orang untuk menatapnya dengan tatapan kedamaian!” terlintas sebuah pertanyaan di pikiran Hilda, “Ukh, anti terlihat seneng banget sama anak-anak dan orang-orang desa sini?,” tanya Hilda disela-sela melayani pemberian sembako gratis,
Dengan senyum Anggi hanya menjawab “nggak tahu Ukh, ana seolah sangat menyayangi mereka, ana bener-bener merasa bahwa mereka adalah saudara-saudaraku sendiri, lihat saja masih banyak anak-anak disini yang tidak bisa membaca Al Qur’an, itulah yang juga membuat ana sangat kasihan kepada mereka, agama mereka Islam tetapi mereka masih belum tahu tentang Islam!”.
Beberapa kali terlihat bahwa Anggi memang sangat menikmati acara bakti sosial yang di adakan oleh sekretariat UKKMI di kampusnya, seakan itulah jalan dakwah dan ladang pahala yang tepat untuk selalu di kembangkan oleh orang-orang Islam, yang mempunyai kelebihan harta benda. Sehingga nantinya umat Islam tidak seperti ini. Bakti sosial sudah terlaksana dan waktunya kembali ke kota, terlihat tatapan sedih Anggi saat melihat perkampungan kecil itu, bahkan beberapa tetesan kristal keluar dari mata Anggi jatuh menyentuh kain penutup auratnya. Sungguh kepedihan yang tidak sering kita lihat pada saudara umat Islam.
Beberapa hari Anggi tidak terlihat dikampus setelah acara bakti sosial di selenggarakan, Hilda bingung mencari Anggi karena tidak pernah bertemu di kampus lagi, semua teman-teman Anggi bingung mencari keberadaannya.
“Tlutt…tluut…” Anggi mengangkat hpnya, dengan lirih Anggi menjawab “Assalamualaikum, Ukhti Hilda,”
Hilda menjawab dengan perasaan yang agak lega karena sudah mendengar suara Anggi “Walaikumsalam sahabiahku, Ukhti Anggi. anti ada dimana sekarang? Ana pengen ketemu Ukhti,”
Dengan nada yang bergetar, Anggi menjawab “Ana ada dirumah, afwan ana nggak bisa kekampus lagi!” secara langsung Anggi mematikan Hpnya.
Hilda terkejut dengan nada suara Anggi yang bergetar “jangan-jangan ada apa-apa nich sama Ukhti Anggi?” gumam lirih dalam hati Hilda.
Hilda dengan penasaran mencari alamat Anggi di buku-buku administrasi para anggota UKKMI, setelah beberapa lama akhirnya Hilda menemukan alamat Anggi
“wah, inikan perumahan elit,” gumam Hilda sendirian.
Akhirnya dengan mengajak Indah, Hilda pergi kerumah Anggi. Dirumah Anggi, Hilda dan Indah bener-bener kagum dengan kebesaran dan keindahan rumah Anggi.
“Ukh, ini benar rumah Ukhti Anggi yach?” tanya Indah dengan kagum,
Hilda hanya bisa mengerutkan dahi serta mengangkat bahu dan tangannya, seraya mengatakan “ana juga tidak tahu!”.
Bel dibunyikan Hilda, seorang tukang kebun menghampirinya
“Cari siapa neng?” tanya tukang kebun
“Angginya ada Mang!” Hilda bertanya sambil tersenyum,
“oh neng Anggi yach, bentar ya neng Mamang panggilin. Silakan masuk dulu aja yach” dengan sopan seorang tukang kebun itu mempersilahkan masuk.
Indah dan Hilda heran dengan kedatangan seorang cewek berbaju ketat memperlihatkan aurat-auratnya, juga rambut panjangnya yang terurai indah berparasan yang cantik. Indah dan Hilda merasa kenal dengan cewek itu
“Assalamualaikum, Ukhti Hilda, Ukhti Indah. Ini ana, Anggi!” Cewek itu memberi salam dan memperkenalkan diri
Mereka berdua kaget bukan kepalang, ternyata mereka bener-bener tidak habis pikir seorang Anggi yang taat beribadah dan berjilbab menutup auratnya harus berpakaian seperti….
“Wwwwaaallaikumsalam” jawab mereka berdua serentak,
Dengan mata berbinar Anggi berkata “kalian pasti kaget ya melihat ana seperti ini”.
Anggi menceritakan semua masalahnya, pada Hilda dan Indah. Bagai guntur yang mengelegar, Hilda dan Indah sangat kaget dengan permasalahan yang dihadapi oleh Anggi. Apa yang dipikirkan oleh Hilda dan Indah serta teman-teman yang lainnya, ternyata salah besar. Teman-teman yang mengira Anggi adalah keturunan Arab, yang taat dalam menjalankan agama, serta giat dalam berjuang menegakkan agama Islam. Ternyata adalah keturunan kafir tulen, yang sangat membenci Islam. Anggi menceritakan bahwa jika dia masuk Islam, maka dia akan dibunuh oleh keluarganya. Sehingga dia harus merahasiakan identitasnya sebagai mualaf, kegiatan bakti sosial pada waktu itu yang akhirnya menjadi sebab keluarga Anggi tahu kalau Anggi sudah masuk agama Islam. Sehingga Anggi tidak diperbolehkan keluar rumah, apalagi mengenakan Jilbab sebagai kewajiban wanita muslim. Setelah Anggi bercerita banyak, akhirnya Hilda dan Indah mohon diri untuk pulang, dengan membawa berbagai pertanyaan dalam benak dihati mereka masing-masing.
Dua hari kemudian, berita yang sangat menggemparkan bagi umat muslim dan terutama bagi teman-teman Anggi. Dalam berita surat kabar, dituliskan “Karena Berjilbab, Dibunuh Keluarganya”. Semua anggota UKKMI tertunduk, dengan meneteskan air mata. Entah kata terindah apa yang pantas di gelarkan pada mujahidah ini. Dalam buku harian yang diperiksa oleh polisi, tertulis dibagian akhirnya

25 Desember 2001
Kata orang 25 Desember adalah hari kelahiran
Tapi kalau menurutku adalah detik-detik kematianku
Karena aku sudah lepas dari kekafiran. Maka kunyatakan :
Mulai saat ini aku bukan wanita kafir
Akan aku pertahankan Jilbabku meskipun pedang mengancam nyawaku
Biarlah aku mati hari ini
Karena aku akan dijemput oleh malaikat surga yang menanti
Aku nyatakan Laa Ilaa Haa ilallah
Dan percaya pada agama yang di bawa Muhammad
Ya Allah engkau tahu kegundahan hatiku
Maka masukkan aku kedalam surgamu

26 Desember 2001
Terdengar suara dobrakan dikamarku, yang dilakukan oleh keluarga kafirku. Selamat tinggal semuanya, jika masih ada tanggal kehidupan dunia maka akan aku hapus tanggal 26 Desember 2001. Selamat Tinggal Ukhti Hilda, Ukhti Indah, Ukhti Eka, Ukhti Dina, Akhi Aryo, Akhi Deny dan semuanya para pembela Islam, salamku untuk mujahid dan mujahidah Allah yang ada di belahan bumi manapun. Aku datang wahai para Mujahid dan Mujahidah yang ada di akhirat.
“Anggi Andini” (darah memenuhi isi buku harian ini)

NB
Ukhti / Ukh = Saudara perempuan
Akhi / Akh = Saudara laki-laki
Afwan = meminta maaf
Ana = saya
Anti = kamu (panggilan untuk saudara wanita)
Antum = kamu

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Hey I just did find your blog. Good Stuff! Dont have time now to read trough all the topics but I will come back later to read more.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: