Fenomena Ayat-Ayat Cinta


Subhanallah. Ucapan itu yang pertama kali setelah membaca novel ayat-ayat cinta saat tahun 2005. “Saya harus memiliki novel ini” itu ucapan saya langsung setelah membaca novel ayat-ayat cinta pinjaman seorang teman. Saya membacanya mulai pukul 23.00 Wib sampai dengan pukul 04.00 Wib. Sampai-sampai saya lupa kebiasaan saya. Sholat lail tertinggalkan hanya gara-gara membaca novel ayat-ayat cinta. Wuih! Saya hanya tiga kali membaca buku yang saya selesaikan dalam satu hari. Yaitu yang pertama fiqih prioritas, tarbiyah Hasan Al banna, dan novel ayat-ayat cinta. Padahal biasanya saya menyelesaikan membaca buku maksimal dua minggu.

Memang sangat bagus Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) menyampaikan sebuah kisah cinta. Itulah yang menginspirasikan novel kedua saya “Bidadari Untuk Ikhwan”. Tapi sayang, belum dimuat oleh penerbit. Kisah cinta didalam novel ayat-ayat cinta menggugah setiap orang dalam memahami arti cinta. Cinta tidak harus memiliki, ada rasa ikhlas, ada rasa cemburu, ada rasa dengki, dan ada rasa perih yang teriris. Semua tergabung dalam segala asa novel ayat-ayat cinta. Di Indonesia novel sekelas Kang Abik sangat jarang dijumpai. Atau bahkan kita belum menemukan yang dapat menyaingi ayat-ayat cintanya kang Abik. Namun tak terpungkiri, Tenggelamnya Kapal Vanderwijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka adalah novel yang pertama kali membuat saya menangis.

Ayat-ayat cinta, memang tidak membuat saya menangis. Tetapi ada rasa tersendiri disaat setelah membaca novel tersebut. Ada rasa sendu, sedih dan bahkan bahagia. Atau bahkan membayangkan sosok seorang Fahri dalam kesempurnaannya, serta aisyah dengan kecantikannya, dan Nurul dengan keikhlasannya. Karena saya seorang laki-laki, ada kesan ingin menjadi seorang Fahri. Lucu memang, tapi itu adalah sunnatullah. Semua orang pasti ingin menjadi seseorang yang begitu sempurna, apalagi di perebutkan banyak wanita. Hehehe….

Ayat-ayat cinta adalah fenomena yang menggejala setelah begitu lama setelah empat tahun penerbitannya. Entahlah, sekarang sudah berapa cetakan? Karena saat saya membeli novel ayat-ayat cinta tersebut, saya sudah mendapatkan cetakan ke V. Di tahun 2008 ini, menggelegarnya novel ayat-ayat cinta begitu dahsyat. Bahkan setiap orang dan para ABG-ABG sibuk membicarakan novel ini (Ayat-Ayat Cinta, red). Memang begitu fenomenal, ketika para ABG dulu begitu sibuk membicarakan novel karangan yang tidak bernuansa Islami. Tetapi kini sontak mereka terkejut, bahwa ada novel bertajuk Islami yang begitu menggelegar.

Kini para punggawa-punggawa novelis Islam sedang bertengger, dan mulai mempopulerkan karya-karya penggugah cinta dalam iman. Mulai dari Helvy Tiana Rosa HTR, Atau Asma Nadia dan yang lain-lainnya. Karya-karya Islami mulai digemari, sejak pertarungan ideology antara komunis yang dulu sering membuat novel-novel berhaluan “kiri” mereka. Kini novel bertajuk islami mulai datang kembali. Kita memang rindu dengan karya-karya Buya Hamka, dengan Tenggelamnya Kapal Vanderwijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Yang memang membuat Indonesia menjadi benar-benar diperhitungkan dalam sastranya. Jangan mengira Islam tidak mengenal sastra, jika kita merenungi dan mentadaburi Al Quran. Kalimat-kalimat bernilai sastra yang tinggi itu bisa kita dapatkan. Bahkan seorang Umar, seorang yang senang dengan karya sastra. Harus bertekuk-lutut mengakui karya sastra dalam Al Quran yang tidak akan ada orang yang bisa membuatnya, atau bahkan hanya menyetarakannya.

Dan kini, film Ayat-ayat cinta mulai booming. Bahkan menurut kabar, bahwa 3 juta orang sudah menonton film ini. Jelas sekali film ayat-ayat cinta telah mengalahkan film naga bonar jadi 2 yang hanya 1,2 juta penontonnya. Semua orang rame-rame menonton Ayat-ayat cinta, angka 3 juta itu belum dihitung oleh orang-orang yang melihat film bajakannya ayat-ayat cinta, bisa saja mencapai lebih dari angka 3 juta. Karena banyak sekali orang-orang yang sedang mencari-cari bajakan film ayat-ayat cinta.

Yah memang, di film ayat-ayat cinta tidak begitu sama persis dengan apa yang ada di buku novel ayat-ayat cinta. Dan beberapa ada yang memang kurang syar’i. Namun kita harus menyadari, karena itu merupakan proses pembentukan dari film-film ayat-ayat cinta. Memang banyak sekali yang menyayangkan filmnya nggak sama persis seperti di novel, dan ketidak syar’ian didalam beberapa adegannya. Tetapi kita harus menyadari, bahwa para pemeran dan sutradara serta produser bukanlah kader dakwah yang begitu mengerti arti tentang kesyar’ian. Yang mereka mengerti adalah hal-hal umum yang memang biasa bagi mereka. Dan kita harus memakluminya. Kalau ingin film yang benar—benar Islami, yah mending buat sendiri saja!

Sangat diharapkan sekali, dengan kesuksesan novel dan film ayat-ayat cinta. Membuat orang kembali merujuk kepada sastra para novelis islam yang dapat menggugah semangat untuk selalu berada pada jajaran iman, dan setiap saat haru dalam penderitaan saudara seiman, dan menjadi gembira dengan kabar kenikmatan yang akan kita dapatkan di surga nanti. Apalagi menjadi penyemangat untuk dapat menjadi muslim yang selalu berada dalam koridor agama Islam. Semoga ayat-ayat cinta sebagai pembuka pintu bagi novel islami yang lainnya untuk dijadikan rujukan dalam perfilman Indonesia. Karena banyak sekali novel-novel islam yang dapat menjadi rujukan film-film di Indonesia. Bahkan novel islami untuk para ABG-ABG juga sangat banyak. Yah semoga saja!

Jaisy01

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: