Istri yang Hitam


Ahmad bin Aiman bertamu ke rumah Muslim bin Umran, saudagar terkenal di Bashrah dan mendapat jamuan istimewa. Di tengah suasana perjamuan, kedua putra Muslim datang menghadap Ayahnya dengan sopan.

Menyaksikan putra Muslim, Ahmad bin Aiman sangat terpesona. Bagaimana tidak. Kedua anak itu sungguh sopan dan tingkah lakunya seperti anak-anak sultan. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa yang indah, seperti penyair. Bukan hnya itu, wajah kedua anak itu putih, bersih dan bersinar. Sungguh elok menawan hati, seperti matahari dan bunga. Rambutnya hitam, mengkilat. Pakaian yang serasi membuat setiap mata terpesona dan orang berdecak kagum. Siapapun akan menduga, pastilah ibunya adalah keturunan raja yang sangat cantik, cerdas dan halus budi. Ahmad tercenung dan kagum. Terucap dari mulut Ahmad bin Aiman, “Anak yang sangat menawan. Pastilah ibunya seperti bidadari dari kahyangan.”


Muslim bin Umran diam mendengar pujian Ahmad. Beberapa saat kemudian, dia menceritakan sesuatu yang mencengangkan tamunya. “Aku akan menceritakan bagaimana dengan ibunya,” kata Muslim.
“Pada suatau hari,” cerita Muslim. “aku mendengar nasihat dari Abu Abdullah Al-Balakhi yang mengutip hadits Rasulullah saw.; ‘Wanita yang hitam lebih baik daripada wanita cantik yang mandul. Sungguh nasihat yang menyentuh hatiku.’

Al-Balakhi menjelaskan panjang lebar makna hitam dan mandul dalam hadits itu, sehingga sangat gamblang dalam benakku. Muncul tekadku untuk membuktikan itu dalam kehidupan. Mungkin wanita yang tidak menarik secara fisik akan lebih baik daripada wanita cantik yang tak berakal dan tak berbudi. Apalagi tidak dapat melahirkan anak-anak yang saleh dan aku merasa sudah tidak pantas lagi membujang.”

“Sampailah pada suatu hari,” lanjut Muslim. “Aku tertarik pada seorang paman yang selalu menolak lamaran para pejabat Bashrah untuk anaknya. Aku pikir tentulah anaknya itu sangat istimewa. Maka hatiku pun tergerak untuk ikut melamar. Aku datang ke rumahnya dan mengutarakan maksudku. Jawaban paman itu mengejutkanku. Katanya pernikahan tu adalah perbudakan bagi anaknya dan langsung menolak lamaranku. Aku kaget.”

“Meski demikian, aku tetap memaksa,” kata Muslim meneruskan ceritanya. “Aku bilang bahwa pernikahan bukanlah perbudakan dan aku berjanji untuk itu, walau aku belum pernah melihat calon istriku. Mendengera jawabanku paman itu terkejut sebentar. Lalu menanyakan sekali lagi kesungguhanku. Aku pun mengiyakannya.”

“Akhirnya paman itu memintaku datang bersama para pengiring besok. Ia akan menikahkanku dengan anaknya. Aku terkejut dan bersorak gembira,” cerita Muslim. Ahmad bin Aiman terdiam mendengarkan, “Lalu… lalu bagaimana?” tanyanya.

“Sabar… sabar, biar aku menyelesaikan ceritaku,” jawab Muslim singkat. “Maka pernikahan pun dilaksanakan. Setelah akad nikah dan jamuan selesai, aku masuk ke kamar istriku. Para pengasuh pun datang mengerumuniku dan mendoakan. Ketika terbuka, aku terkejut. Ternayta istriku tidak termasuk wanita yang cantik. Aku tertegun dan yang muncul dibenakku hanyalah nasihat Syekh Al-Balakhi. Mungkin inilah kebenaran hadits itu.”

Muslim melanjutkan ceritanya. “Istriku langsung mendekatiku dan berkatan,’inilah aku rahasia yang dipegang rapat ayahku. Kalau kecantikan yang engkau tuju, sungguh berat apa yang engkau rasakan saat ini. Aku memiliki harta. Bolehlah engkau menikahi wanita lain yang cantik dengan harta itu. Namun aku akan mengabdi kepada engkau sebagai istri yang baik. Pintaku hanya satu, janganlah kau bocorkan rahasia ini.”

“Namun hatiku sudah terang,” lanjut Muslim. “Nasihat Al-Balakhi sudah mantap dihatiku. Maka jawabanku pun mantap kepada istriku. Maka kataku, “Wahai istriku, aku datang bukan untuk kecantikanmu, namun aku datang karena satu hadits Rasulullah saw., yakni wanita yang hitam lebih baik daripada wanita cantik yang mandul. Dan aku yakin dengan sabda Nabi ini.”

“Sejak itu, maka tetesan kebahagiaan pun mengalir dalam keluargaku. Istriku pun semakin hari semakin ceria dan segar. Semakin lama, samakin terasa kecantikan akal dan hatinya. Lalu anak-anakku pun lahir dan dibesarkan dengan budi pekertinya, sampai hari ini,” tutup cerita Muslim. Ahmad bin Aiman tunduk dan menengadahkan tangan berdoa serta berkata, “Sungguh benarlah Rasul. Sungguh Rasulullah selalu benar.”

Wanita yang “hitam” lebih baik daripada wanita cantik tetapi “mandul” baik fisik, akal, maupun hatinya.

(saduran dari majalah LMI (Lembaga Manajemen Infaq) “Oase”

Iklan

2 Tanggapan

  1. I recently came across your blog and have been reading along. I thought I would leave my first comment. I dont know what to say except that I have enjoyed reading. Nice blog. I will keep visiting this blog very often.

    Sincerely,
    triz from High Quality Picture

  2. Kisah yang penuh makna. Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: