Ketika Abu Hurairah Lapar


Suatu ketika, Abu Hurairah r.a., sahabat Rasulullah saw., yang terkenal sebagai Ahlu Shuffah (mereka yang tinggal dekat masjid Nabi) merasa sangat lapar sekali. Namun, sebagai sahabat yang memiliki iffah, ia tidak menampakkan keadaannya apalagi meminta-minta. Saking laparnya jalannya pun tampak gontai. Ia duduk menunggu sahabat yang lewat di tempat yang biasanya dilewati para sahabat.

Maka tunggu punya tunggu, datanglah si fulan sahabat Rasulullah saw. Segera Abu Hurairah menegurnya. “Assalamualaikum. Kaifa khaluk ya fulan?” kata Abu Hurairaah, “Bagaimana, apa kau baik-baik saja?”

“Walaikumsalam, ya Abu Hurairah,” jawab si fulan. “Ala kulli hal alhamdulillah. Bagaimana dengan engkau, ya Abu Hurairah.” Setelah saling tegur sapa, maka Abu Hurairah mulai menyampaikan maksudnya.
“Begini fulan. Aku ada satu persoalan agama yang ingin aku diskusikan dengan engkau,” katanya. “Namun aku berharap mendiskusikannya di rumah engkau sja, agar lebih tenang dan dapat pemecahan yang baik,” lanjutnya.Si fulan yang tampaknya tergesa-gesa karena suatu urusan yang akan dikerjakannya, tampak bimbang. Sebenarnya Ia ingin memenuhi ajakan Abu Hurairah, apalagi ini untuk mendiskusikan satu persoalan agama. Meski demikian, ia memutuskan untuk menunda diskusi itu.

“Wahai Abu Hurairah,” katanya. “Sebenarnya aku sangat senang menerima tawaran engkau. Apalagi engkau akan mengajakku mendiskusikan suatu persoalan agama. Tapi, waktuku hari ini sangat sempit. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan.” Lanjutnya. “Bagaimana kalau setelah urusanku selesai aku menemuimu kembali dan kita diskusikan masalah itu? Bagaimana Abu Hurairah?” tanyanya menegaskan.

Setelah merenung sejenak, Abu Hurairah menjawab, “Ya itu juga baik. Silahkan engkau selesaikan urusanmu” doanya. “Nanti, setelah itu kita bertemu kembali insya Allah,” katanya. Maka berpisahlah mereka sambil mengucapkan salam.

Kemudian datang sahabat yang lain. Setelah saling mengucapkan salam dan bertegur sapa, Abu Hurairah menyampaikan maksudnya.

Seperti sahabat yang pertama, sahabat ini juga tidak mempunyai waktu yang luang karena harus menyelesaikan urusannya dengan segera. Maka mereka pun berpisah.

Abu Hurairah termenung sambil menahan rasa lapar yang semakin menggigit dan membuat jalannya semakin gontai. Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan Rasulullah saw., datang kearahnya. Dengan gembira Abu Hurairah menyongsong Nabi dan memberi salam. Rasulullah saw., menjawab salam Abu Hurairah dengan lembut.

Rasulullah saw., terus memandangi kondisi Abu Hurairah. Tampak getaran tubuh Abu Hurairah yang lemas dan pancaran mata yang lesu. Maka pahamlah Nabi bahwa Abu Hurairah tengah kelaparan. Belum sempat Abu Hurairah menyampaikan maksudnya, maka Nabi pun langsung mengundang Abu Hurairah untuk segera datang ke rumahnya dan makan bersama. “Ya Abu Hurairah, tinimbang engkau berdiam di sini, bagaimana kalau engkau aku undang untuk makan bersamaku,” kata Nabi.

Bukan main gembiranya Abu Hurairah. Belum sempat ia mengutarakan niatnya, Rasulullah saw., telah mengundangnya makan. Dengan wajah berseri berjalanlah Abu Hurairah mengiringi Rasulullah saw., pulang.

Ada banyak yang dapat diungkap dengan ketajaman hati, meski dia tidak terucap atau terekspresikan.

saduran dari majalah OASE dari LMI (Lembaga Manajemen Infaq)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Semoga kisah ini menjadikan kita,sebagai orang yang tau untuk bersyukur atas nikmat Allah.amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: