Hakekat Nasehat


Sejumlah blog bermunculan di internet. Mulai dari yang bersifat catatan pribadi, hobi sampai opini dan blog nasehat. Sejumlah orang merasa sudah benar dalam melaksanaka nasehat di blognya. Apalagi merasa bahwa dia paling mengetahui seluk-beluk organisasi, partai maupun individu. Sungguh, kebanyakan orang menasehati tetapi mereka sendiri tidak tahu adab dalam memberikan nasehat.

Contoh kasus, ada yang mengatakan “saya hanya ingin memberikan masukan atau taujih kepada Partai ini, karena sesungguh mereka telah lepas dari jalur-jalur Islam yang telah digariskannya” Setelah mengatakan seperti itu, lalu mereka membloup kesalahan-kesalahan salah satu partai yang dikatakan sudah tidak melalui jalur-jalur yang Islami. Mereka menyatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah kebenaran, ataupun sebagai pembenar dari rasa sakit seseorang penulis blog tersebut. Wallahu’alam, terasa sekali ganjalannya, nasehat mereka lebih terlihat mendeskriditkan salah satu partai!

“Mata keridhaan tidak dapat menyaksikan berbagai aib, tetapi ia mata kebencian menampakkan segala keburukan” ucap salah satu Penyair.

“Oleh karena itu, kita harus menjaga diri dari prasangka buruk dan tuduhan orang-orang jahat, karena mereka tidak berprasangka kepada semua orang kecuali dengan prasangka jahat. Jika anda melihat seseorang yang berprasangka buruk terhadap orang lain dan mengungkit aib-aibnya. Maka ketahuilah bahwa dialah orang yang buruk batinnya. Itulah refleksi keburukan batinnya, sehingga ia melihat orang lain dengan kaca matanya yang buruk. Sesungguhnya seorang mukmin memberikan maaf dan menerima alasan orang lain, sedangkan orang-orang munafik mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain. Seorang mukmin bersikap lapang dada terhadap semua makhluk.” (Tazkiyatun Nafs, SA’ID HAWWA)

Umat Islam sangat diwajibkan untuk saling menasehati disemua urusan. Tetapi cara yang tepat dalam memberi nasehat adalah ukuran keimanan seorang muslim. Sungguh Islam telah mengatur segala macam urusan yang ada di dunia. Bahkan untuk sekedar menasehatipun, Islam telah mengaturnya. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain” yang artinya, ia melihat apa yang terdapat pada orang lain yang ia tidak dapat melihatnya sendiri, sehingga seseorang mengambil manfaat dari saudaranya dengan mengetahui kekurangan dirinya dan seandainya ia sendiri, maka ia tidak akan mengambil manfaat.

Nasehat didalam Islam, melarang keras mempublikasikan apa yang akan dinasehatkannya. Jika dilakukan di tempat keramaian, maka hal itu merupakan penghinaan dan pencemaran. Imam Syafi’I berkata “Barangsiapa yang menasehati saudaranya secara rahasia, maka ia telah memberi nasihat dan menghiasinya dan barangsiapa yang menasehatinya secara terang-terangan, maka ia telah mencemarkan dan membongkar aibnya.”

Pernah dikatakan kepada Mas’ar, “Apakah engkau menyukai orang memberitahumu tentangan kekuranganmu?” Ia berkata, “Apabila ia menasehatiku secara rahasia, maka saya katakana, ‘Ya,’ namun apabila ia menegurku di dalam keramaian, maka saya katakan, ‘Tidak.’” Ia telah berkata benar, karena nasihat yang diberikan di tengah keramaian merupakan suatu pencemarann dan Allah akan menegur seorang mukmin pada hari Kiamat di bawah naungan lindungannya, lalu ia menghentikannya karena dosa-dosa secara rahasia.

Perbedaan antara teguran dan nasihat rahasia dengan nasiihat dan teguran secara terang-terangan sama dengan perbedaan antara mencari muka (mudarah) dan menjilat (mudahanah) dengan tujuan yang timbul dari sikap mengabaikan. Apabila anda mengabaikan demi keselamatan agama dan Anda melihat bahwa dengan mengabaikannya demi keuntungan diri, memenuhi keinginan, dan keselematan wibawa Anda, maka anda termasuk penjilat (mudahin).

Jika anda berkata, “Apabila nasihat itu menyebut aib, maka ia berarti iyhasy al-qalb.” Lalu bagaimana hal itu terjadi dengan hak persaudaraan? Ketahuilah bahwa iyhasy al-qalb terjadi dengan menyebut aib yang diketahui oleh saudara Anda dari dirinya sendiri. Adapun memperingatkannya dengan sesuatu yang ia tidak ketahui, maka ia merupakan sebuah rasa kasihan, dan hati cenderung terhadapnya. Maksudnya adalah orang-orang yang berakal. Adapun orang-orang tolol, mereka tidak cenderung terhadapnya, maka apabila mereka memperingatkan Anda atas perbuatan tercela yang Anda lakukan atau sifat tercela yang Anda miliki agar jiwa Anda bersih darinya, maka ia sama dengan orang yang memperingatkan Anda dari ular atau kalajengking yang berada di bawah Anda yang telah siap membinasakan Anda. Alllah, swt. Telah menyifati para pembohong dengan kebencian mereka terhadap orang-orang yang memberi nasihat dengan firman-Nya, “…Tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (Al A’raaf 7:9).

Ini merupakan suatu aib yang tidak mereka perhatikan. Jika Anda tahu bahwa ia mengetahuinya dari dirinya sendiri, maka ia tidak berdaya melawan wataknya. Dan sepatutnya untuk tidak menyingkap tirainya jika ia menyembunyikannya. Jika ia menampakkannya, maka ia harus berlemah lembut dalam memberikan nasihat dengan sekali-kali menyindir atau berterus terang yang tidak sampai kepada iyhasy. Apabila Anda tahu bahwa nasihat tidak mempan baginya dan wataknya selalu mendesaknya untuk terus-menerus melakukannya, maka diam adalah lebih baik.

Ketika kita memberi nasehat maka lihatlah cara dan bagaimana kita menasehati. Jangan sampai kita menasehati tapi malah kita yang menjadi penyebar aib orang lain. Pernah suatu hari Rasulullah didatangi seseorang yang memberitakan si Fulan sedang berbuat zinah. Tetapi apa yang dikatakan oleh orang yang datang kepada Rasulullah? “Sesungguhnya engkau lebih buruk dari orang yang berbuat zinah itu” selidik punya selidik, ternyata apa yang diucapkan oleh orang itu dihadapan orang selain Rasulullah. Dan itu sama saja membuka aib orang lain!

Ketika kita membuat blog, dengan bermaksud untuk menasehati. Maka blog bukanlah tempat yang tepat untuk menasehati seseorang maupun segolongan partai atau organisasi. Karena sama saja menyebarkan aib kepada setiap orang yang tidak bersangkutan. Ada juga orang-orang yang terburu-buru dengan mangatakan “Saya sudah menasehati lewat manapun, tetapi saya malah dianggap tidak tsiqoh! Maka lewat blog saya ini, saya akan menasehati.” Ucapan itu adalah ucapan putus asa. Padahal Islam sangat melarang Muslim untuk berputus asa. Ketahuilah, bahwa ketika engkau menasehati dengan benar dan baik. Maka Allah sendiri yang akan mengetahui seberapa besar keikhlasanmu terhadap apa yang engkau nasehatkan. Tetapi ketika engkau mempublikasikan aib orang lain, maupun organisasi lain. Maka sesungguhnya engkau telah menjerumuskan dirimu sendiri.

Kenapa kita harus sakit hati kalau nasehat kita tidak diterima oleh orang yang kita nasehati? Kenapa kita menjadi orang yang mudah menganggap nasehat kita paling benar sendiri atau paling baik? Padahal jika engkau ikhlas akan nasehat yang engkau berikan. Maka sesungguhnya kita sudah berlepas diri dari kesalahan-kesalahan yang ditimpakan Allah kepada kita. Kewajiban umat Islam itu menyeru, bukan menjadi hakim. Manakalah seruan kita tidak dengar, maka bertawakallah kepada Allah, dan bersabar. Jangan jadi hakim bagimu sendiri, yang merasa paling tahu dan paling benar dalam memberikan nasehat.

Belum tentu orang yang kita nasehati itu melakukan kesalahan apa yang kira! Maka dari itu jika kita ikhlas, kita tidak akan lagi membloup kesalahan atau aib seseorang maupun kelompok dihadapan orang yang seharusnya tidak melihatnya. “Ada sesuatu yang boleh diperlihatkan, dan ada sesuatu yang tidak perlu untuk diperlihatkan jika malah membuat bingung umat!”

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] kita lebih hebat daripada pemikiran para pakar Syari’ah diamanahkan untuk berfikir syar’i? “Hakekat Nasehat” Dan kenapa saya menuliskan hal ini —:> Improvisasi Kader Karbitan Yang Selalu Menyesakkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: