Demonstrasi antara menyampaikan kritik atau menghujat?


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah berasbda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir janganlah menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau hendaklah diam".

Sitiran sebuah hadits Rasulullah tersebut adalah pengingat kita semua untuk berbuat baik dalam segala hal. Termasuk dalam menyampaikan pendapat maupun kritikan. BBM (Bahan Bakar Minyak) telah dinaikkan oleh pemerintah. Demonstrasi dimana-mana, untuk menuntut agar BBM tidak dinaikkan. Kenaikan BBM ini memang realitas dari pemerintahan kita yang tidak berdaya dalam mengelola sebuah negara.

Demonstrasi untuk menyampaikan pendapat, dan kritikan kepada pemerintah. Adalah sangat sah, bahkan dalam sebuah hadits menyatakan :

Sahabat Abdillah Thariq bin Syihab Al-Bajili telah berkata, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw sambil duduk bersimpuh: "Ya Rasulallah, manakah jihad yang paling utama?" Jawab Rasulullah: "Menegakkan kebenaran di hadapan pemimpin yang zhalim." (HR. Nasai dengan sanad yang shahih).

Dasar berkata yang benar kepada penguasa yang zhalim, jelas itu merupakan termasuk salah satu jihad yang utama. Jadi, demonstrasi dalam menyampaikan pendapat kepada pemerintah jelas dapat dibenarkan. Namun yang perlu diketahui adalah, akhlaq ataupun adab dalam menyampaikan pendapat tersebut. Cara bagaimana kita menyampaiakan pendapat harus sesuai dengan ketentuan sopan santun yang baik.

Beberapa kali demonstrasi berakhir bentrok, kericuhan dan pengrusakan menjadi sebuah hal yang “biasa” kita lihat. Mulai dari Jakarta sampai Sulawesi, mahasiswa dan aparat saling unjuk gigi dalam kekuatan fisik masing-masing. Tentunya polisi yang lebih akan memenangkan pertempuran tersebut. Selain sudah terlatih, para polisi ini juga dilengkapi prisai, body protector hingga senjata pentungan dan senapan. Peralatan yang lengkap dibeli dari uang rakyat untuk melindungi rakyat.

Saya jadi ingat (penulis, red) ketika masih mahasiswa. Mulai demonstrasi anarkis hingga yang biasa-biasa saja (tanpa chaos), saya lakukan. Kecenderungan mahasiswa kadang memang berlebihan ketika demonstrasi. Apalagi kata-kata hujatan dan makian yang tidak mengenakkan serta membuat panas telinga dilontarkan dalam orasi ocehan yang nggak karuan. Jelas tujuannya demonstrasi “memperjuangkan sesuatu hal” tetapi polisi yang kena getah caciannya. Tujuannya baik, semangatnya luar biasa. Tapi sayang, cara penyampaiannya membuat orang lain merasa jengah! Bahkan ketika waktu dulu, seseorang melempar air kencing kepada aparat yang berjaga-jaga. Sering saya ketahui, walaupun sering juga mereka adalah para provokator yang ketika ditangkap bukan segolongan dari pendemo (mahasiswa).

Ada cara yang bijak dan baik ketika harus menyampaikan sebuah pendapat. Ada cara yang indah ketika kata-kata berlantun makna yang membuat para aparatpun senang mendengarnya. Kita harus tahu, bahwa para polisi yang berjaga-jaga sebenarnya juga adalah orang-orang yang terkena imbas dari kenaikan BBM. Rasa marah mereka ketika mereka memukuli mahasiswa kemungkinan besar frustasi mereka karena kenaikan BBM juga. Satu sama lainnya, sebenarnya adalah orang-orang yang terkena imbas dari penguasa yang seenaknya. Jadi satu sama lainnya harusnya sadar, bahwa kita harus berjuang bersama-sama dalam menentang kesewenangan pemerintah kita. Gaji pejabat pemerintahan ini tinggi-tinggi, karena itu mereka seenaknya menaikkan BBM karena tidak tahu bagaimana resahnya para rakyat dibawahnya.

Jadi akhlaq ataupun adab dalam menyampaikan pendapat harus kita bawa selalu. Sesuai apa yang kita ketahui, bahwa menyampaikan sesuatu ataupun berbicara kepada seseorang dengan bahasa yang baik. Akan membuat orang lain senang mendengarnya. Tetapi juga harus diingat, bahwa polisi yang menjaga mahasiswa itupun harus ingat pula. Bahwa mahasiswa-mahasiswa adalah adik-adik mereka sendiri. Ketika perjuangan adik-adik mereka terpenuhi, maka polisi juga yang akan mendapatkan keberhasilan tersebut. Jadi tindakan represif yang digunakan polisi seharusnya dihapuskan. Bukan malah ditingkatkan, hingga memukuli mahasiswa-mahasiswa layaknya maling ayam. BUKAN. Aktivis- aktivis mahasiswa adalah pejuang serta pahlawan bangsa ini, mereka tidak layak diperlakukan seperti maling ayam, bahkan diperlakukan sesuai jaman feodal!

Jika seperti itu, maka polisi sama halnya dengan orang-orang yang tidak beradab bahkan tidak berakhlaq. Maka mereka harus belajar adab dan akhlaq bersama para aktivis mahasiswa yang juga tidak beradab dan berakhlaq dalam menyampaikan pendapat. Satu sama lainnya harus saling menghargai. Tidak boleh ada yang menghujat, dan tidak boleh ada yang memukul!

Saya jadi ingat lagi, ketika menangkap seorang provokator yang melampar batu kearah aparat. Ternyata saat kami tangkap mereka adalah agen-agen yang ingin membenturkan chaos antara mahasiswa dan aparat. Karena itu mahasiswa harus berhati-hati dengan orang-orang yang seperti ini. Jangan terprovokasi ketika ada orang yang melempar, memukul, mencaci dan menghujat aparat. Karena kemungkinan besar, mereka adalah agen-agen yang disusupkan untuk menjadikan perjuangan mahasiswa tidak lagi sesuai jalur tuntutannya. Akibatnya chaos!

Silakan demonstrasi, tetapi yang baik. Santun dalam berucap dan bertindak. Senyum dalam wajah yang teduh sebagai seorang pahlawan bangsa sesuai dengan agen of change-nya. Dan polisi pun harus senyum ketika berhadap-hadapan dalam tatapan. Tunjukkan adab, akhlaq dan profesionalismenya dalam bertugas menjaga mahasiswa agar tidak tersusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Jika perlu, jadikan prisai-prisai polisi sebagai tempat yang teduh dalam memayungi para demonstran. Bukan sebagai tameng penghadang. Dan jika perlu, gantilah senjata (pentungan, senapan) ketika berhadapan dengan mahasiswa dengan senapan-senapan air yang bisa menjadi penyejuk dahaga ketika selesai orasi!

Jangan sampai terjadi lagi kerusakan-kerusakan yang lain, karena sesungguhnya Allah sangat melarang keras orang-orang yang berbuat kerusakan “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Berjuanglah terus kepada para penguasa yang zhalim. Karena sesungguhnya berjuang dengan ikhlas akan membawamu kepada kekuatan iman. Dan biarlah para penguasa kita berbuat curang atas apa yang mereka lakukan dengan gaji-gaji besar mereka yang tidak memihak sama sekali kepada rakyat. Karena Rasulullah telah bersabda “Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bawa Rasulullah saw telah bersabda "Tiga golongan manusia yang kelak pada hari kiamat Allah tidak akan berbicara dan tidak akan melihat mereka, serta tidak akan mengampuni dosa-dosa mereka, dan buat mereka adalah siksaan yang keji. Mereka adalah orang tua yang berzina, penguasa yang curang, dan orang fakir yang sombong " (HR Mus­lim dan Nasai)

Semoga bermanfaat. Mari kita berjuang untuk Indonesia yang lebih baik dengan keadilan dan kesejahteraan.

Iklan
%d blogger menyukai ini: