Menulis Novel Atau Cerpen Islam Tetap Bid’ah dan sesatkah?


Pada suatu kali saya sedang mengisi sebuah kajian para anak-anak SMA, tentang materi bahayanya pergaulan bebas dalam remaja. Seperti biasa, sikap anak-anak SMA pasti akan cepat tertidur plus borring jika kita membawakan materi-materi yang menurut mereka tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, apalagi bertolak-belakang dengan kebiasaannya. Jadi hanya satu yang harus saya kerjakan, membuat para siswa ini bahagia dan akhirnya merenungi apa yang mereka lakukan adalah kesalahan. Memberikan pemahaman bukan penekanan. Memberikan pengetahuan, bukan justifikasi. Alhasil, setiap materi yang saya lakukan alhamdulillah, insya Allah menjadi terapresiasikan dengan baik.

Sesi tanya jawab adalah sesi yang mengasyikkan, sesi yang lebih dari 70% waktu yang saya khususkan. Mulai dari masalah pacaran, masalah pergaulan, masalah jalan-jalan, orang tua dan segudang permasalahan siswa yang biasa-biasa saja. Tetapi sebuah pertanyaan muncul dari seorang aktivis lembaga dakwah sekolah. Sebuah pertanyaan yang membuat saya tergugah. Yaitu sebuah pertanyaan “Ustad, apakah benar. Menulis novel ataupun cerpen adalah perbuatan yang sia-sia? Dan merupakan bid’ah yang sesat!” Saya benar-benar tergugah, tergugah untuk pentingnya menjawab keraguan-keraguan ini, Sebuah pertanyaan yang pernah saya dapatkan di sebuah media chatting juga, termasuk salah satu blog yang berisi tentang sia-sia dan keharamannya menulis Novel maupun Cerpen Islami. Apakah benar?

Sesungguhnya tidak akan pernah ada hal-hal yang sia-sia di dunia ini! Allah menciptakan segala sesuatu bukan dengan kesia-siaan, Walaupun selama ini saya tidak pernah melihat dalil yang qhat’I (pasti) kepada orang-orang yang biasa membid’ahkan bahkan mengharamkan menulis Novel atau Cerpen Islam. Tetapi saya berbaik sangka kepada mereka, mungkin mereka khilaf telah melupakan akan adanya perbedaan pendapat dari setiap pemikiran-pemikiran umat Islam. Novel maupun cerpen Islam menurut saya adalah tautan puisi maupun syair yang terangkum dengan kata-kata indah yang bermakna membangun jiwa, untuk selalu teringat kepada sang Rabb. Untuk selalu bisa mengambil hikmah ataupun ibroh dari setiap cerita-cerita yang tertulis sehingga merasuk dalam jiwa-jiwa yang rindu akan keindahan kata yang mengukir ke-agungan-Nya. Didalamnya tidak ada perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.

Lalu ada pertanyaan lagi, disetiap cerita novel maupun cerpen islam itu kan nggak nyata? Berarti orang yang menulis novel dan cerpen adalah orang-orang yang suka berbohong! Memang menulis novel maupun cerpen seringkali adalah cerita fiktif yang direkayasa dan diolah kedalam alam fikir dan dituangkan kedalam tulisan. Tetapi tidak sedikit Novel dan cerpen adalah cerita yang sebenarnya dan pernah terjadi di sekitar kita. Tetapi apakah kita sungguh tahu, bahwa cerita fiktif tersebut adalah cerita bohong? Padahal cerita fiktif adalah bentuk imajinatif yang dikeluarkan oleh alam bawah sadar pikiran kita. Untuk membangun sebuah cerita penyadaran kepada umat tentang cerita pembangun jiwa, cerita pembangun semangat, cerita pembangun iman. Yang nanti cerita-cerita itu akan menjadi ibroh atau hikmah bagi setiap orang yang membacanya. Dan di Novel maupun cerpen tersebut beberapa tokoh-tokohnya mempunyai karakter yang sama persisnya dengan sebuah kehidupan yang nyata. Kadang ada jahat, ada yang jahil, ada yang munafik dan adapula yang beriman, yang shaleh dan yang baik. Disitulah terselip kebaikan-kebaikan yang akan kita dapatkan dari membaca novel maupun cerpen Islam.

Sudah berapa banyak orang yang terinspirasi oleh novel dan cerpen Islam. Yang akhirnya mereka mendapatkan hidayah dari Allah! Sudah berapa banyak orang yang tersadar dengan sentilan-sentilan cerita fiktif tersebut yang ternyata adalah kisah nyata dari para pembacanya. Semuanya adalah hidayah dari Allah, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan. Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa” menun-jukkan suatu kebaikan maka.dia akan mendapat pahala sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu.(HR. Muslim) dan dalam Al-Baqarah ayat 110 “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala-Nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Maupun Al Baqarah ayat 215 “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya..

Jadi ketika meniatkan diri untuk menulis novel maupun cerpen Islam. Tidak ada hal yang sia-sia. Karena Allah akan menghitung setiap niat kebaikan yang dilakukan dengan baik, dan menimbulkan kebaikan. Maka Allah akan memberikan pahala kepada setiap hamba-hambanya yang telah berbuat baik. Dan jikalau dikatakan menulis novel maupun cerpen adalah bid’ah. Maka sesungguhnya tidak ada kebid’ahan dalam menulis novel maupun cerpen karena hubungan ini adalah bersifat mu’amalah. Dan insya Allah, selama kita mengazamkan menulis novel dan cerpen hanya untuk beribadah kepada Allah, maka tidak ada kesesatan didalamnya.

Saya jadi teringat dan sangat berterima kasih kepada Ustad Habiburrahman El Shirazy, yang telah memberikan kebaikan atas karyanya, sehingga ketika saya berada di Bank konfensional, para costumer service mengerti bahwa laki-laki dilarang menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Saat costumer service bank tersebut akan bersalaman, saya dengan cepat mengatupkan telapak kedada saya, sambil tersenyum. Dan sesaat costumer service tersebut mengatupkan tangannya sambil tersenyum juga. Dan dia berkata “wah, kok kayak Fahri dalam film Ayat-Ayat Cinta”. Sungguh kenikmatan ketika karya itu menjadikan orang tahu akan aturan-aturan syar’I yang harus dipatuhi.

Jadi, menulislah setiap detik akan apa yang ingin kita tulis. Menulislah karena dengan menulis jiwamu berada pada titik kenikmatan yang besar. Menulislah apa-apa yang ingin engkau tulis, Menulislah sebalum tinta kehidupanmu terkikis dan habis yang berakhir dalam tanah liat yang menyelimutimu. Menulislah!

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Jadi, menulislah setiap detik akan apa yang ingin kita tulis. Menulislah karena dengan menulis jiwamu berada pada titik kenikmatan yang besar. Menulislah apa-apa yang ingin engkau tulis, Menulislah sebalum tinta kehidupanmu terkikis dan habis yang berakhir dalam tanah liat yang menyelimutimu. Menulislah! ===> Betul sekali…… di dalam menulis banyak sekali yang kita dapatkan “Dan dia berkata “wah, kok kayak Fahri dalam film Ayat-Ayat Cinta”. Sungguh kenikmatan ketika karya itu menjadikan orang tahu akan aturan-aturan syar’I yang harus dipatuhi.” ini contoh nya :”>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: