Sebuah Catatan Kecil dari Brisbane


Oleh Abdul Rahman Jamil

Tinggal dalam lingkungan yang jauh dari norma Islam memang bukan hal yang mudah. Salah satu kesulitan terbesar adalah saat waktu sholat ketika sedang berpergian, fasilitas seperti musholla atau sekedar praying room rasanya sulit sekali ditemui. Akhirnya, keseringan sholat diakukan disembarang tempat. Namun, Alhamdulillah semua tempat itu masuk kategori bersih dan terawat, jadi rasanya nyaman saat diri ini menghadapkan diri keharibaan Illahi.

Di balik kesulitan tentu ada kemudahan, begitu memang Sunatullah. Saya semula tidak mengira, di balik sikap mereka yang sepertinya individualis justru tersimpan sikap sangat menghormati sesama manusia. Yang rasanya, hampir sulit saya temui di negeri kita yang katanya mayoritas penduduknya muslim.

Contoh kecil adalah saat saya menuntun sepeda saya ketika tak mampu mengayuhnya karena jalannya terlalu mendaki. Tiba-tiba sebuah mobil yang tadi mendahului saya, mundur kembali (kebetulan jalan memang sedang sepi). Dan dari dalam mobil seorang pria muda bule dengan ramah bertanya, kenapa sepeda saya tidak dinaiki? Apakah karena ada yang rusak? Bisa saya bantu? Begitu tanyanya ramah dan dengan tulus menawarkan bantuannya untuk menolong saya. Ketika saya jawab semua baik-baik saja, baru dia berlalu dengan senyum ramah.

Subhanallah, rasanya hampir tak percaya. Seseorang yang sama sekali tidak kenal, begitu pedulinya dengan keadaan saya saat itu. Dan semua itu mendorong ingatan saya pada saudara sesama muslim ditanah air. Adakah mereka peduli dengan kesusahan Suadara mereka?

Yang sering saya temui malah, mereka yang bermobil kadang tak mau memberi kesempatan kepada pejalan kaki maupun sepeda. Mereka merasa lebih berhak atas jalan yang sedang mereka lalui. Ah, egoisnya.

Dengan satu contoh kecil itu memang tidak cukup bagi saya untuk membuat suatu kesimpulan bahwa mereka semua baik. Akan tetapi, paling tidak memberi gambaran kepada saya, bahwa tidak selamanya yang tidak mengenal ajaran Islam, tidak mamapu melakukan sikap yang dijunjung tinggi oleh Islam.

Saya tidak dalam posisi membela mereka yang non muslim dan mendikreditkan saudara-saudara kita yang muslim di tanah air. Saya Cuma ingin membagi pengalaman saya, betapa nilai universal itu masih dijunjung tinggi oleh mereka yang jelas-jelas tidak mengenal betapa luhurnya nilai-nilai Islam. Dan saya merenung, apabila nilai universal ini diperkaya dengan nilai keIslaman, tentu akan menjadi sesatu yang lebih mulia dan indah.

Bukan hal yang mustahil, bila mereka yang semula selalu memandang Islam dengan kebencian, akan berbalik mengagungkan Islam. Caranya ya dengan itu tadi, memberikan contoh baik, bahwa muslim itu adalah orang yang peduli dengan sesama, mau berbagi dan selalu menjunjung tinggi budi pekerti mulia.

Dan seringkali diujung sholat saya bersyukur, betapa Allah tidak pernah membedakan dalam memberikan kasih dan sayang kepada umat-Nya. Jauh dari lingkungan Islami bukan berarti tidak merasakan nilai-nilai keIslaman.

Brisbane, 9 July 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: