Jangan Terlalu Percaya Apa Kata Buku!


writing31[1]

Apakah anda termasuk salah seorang yang gemar membaca? Yah, bagi anda pembaca setia dari setiap buku-buku yang anda baca. Ada hal yang menarik untuk kita ketahui! Ternyata sebagian besar seorang yang membaca buku itu adalah orang-orang yang senang dengan ilmu yang baru. Dan mempunyai wawasan dalam berfikir yang luas.

Namun ada sebuah hal yang agak merisaukan dengan para pembaca buku. Para penikmat buku kadang tidak bisa berfikir kritis dalam setiap buku yang dibacanya. Asal kata buku ini, asal kata buku itu. Walaupun menyimpang dari idealisme, maka kita dengan sendirinya menjadi “pengekor” seorang penulis buku. Kita semua tahu, bahwa buku adalah buah pikiran seseorang. Dan kita semua tahu, bahwa pikiran satu dengan yang lainnya jelas mempunyai perbedaann. Dengan begitu, seseorang menuangkan ide ataupun gagasannya kedalam buku adalah untuk mengaktualisasikan gagasan tersebut untuk diketahui oleh orang banyak. Dengan banyak yang tahu, ide aktulisasi penulis tersebut dengan cepat tersebar.

Kita harus ingat bahwa banyak sekali ide dari penulis buku yang sering menyimpang dari sebuah idealisme maupun pemahaman kita. Dan kadang (atau sering) sebuah buku menunjukkan angka-angka untuk memperkuat hasil dari setiap aktualisasi yang didapatkan. Padahal belum tentu juga data-data dari angka-angka tersebut dapat diterima kebenarannya.

Disini, kita para pembaca dituntut untuk dapat berfikir kritis dalam membaca serta memahami setiap buku yang telah kita baca. Karena jangan sampai kita menjadi “pengekor” dari paham seseorang yang di doktrinkan kepada kita melalui buku-bukunya. Realitas yang berkembang, para pembaca memang lebih sering menjadi pengekor ketimbang menjadi praktisi. Ini akan menjadikan pikiran kita hanya sebagai data penyimpanan saja tanpa dijadikan sebagai pengolah data. Dengan begitu, pembaca akan menelan mentah-mentah doktrin yang akan diberikan kepada sipenulis. Ketika kita sudah menelan mentah-mentah doktrin tersebut. Dengan begitu kita juga tak ubahnya para kerbau yang selalu dikasih rumput, tetapi kalau kita para “kerbau” yang selalu dikasih buku.

Hal-hal penting dalam membaca buku, juga harus dilihat dari sudut pandang lain. Agar kita tidak terdoktrin menjadi pengekor seorang penulis. Yah minimal kalau memang penulis membuat buku dan buku tersebut memang “benar”. Maka kita melihat kebenarannya bukan hanya karena kita membaca buku tersebut. Tetapi lebih didasari oleh olah otak kita yang berfikir dalam menentukan kebenaran tersebut.

Yah kita semua tahu, bagi pembaca buku ketika mereka sedang membaca merupakan sebuah kenikmatan yang tersendiri. Namun ketika kita membaca buku, jangan sampai kita menjadi layaknya penonton sinetron. Tetapi bacalah sebuah buku layaknya kita akan menjadi “pengamat sepakbola” yang ketika bagus kita bilang bagus. Dan ketika ada penyimpangan kita pun mengatakan ada penyimpangan. Jangan pernah takut salah, atau nggak PeDe ketika memembaca sambil mengoreksi pemikiran yang telah dirangkumkan kedalam buku tersebut. Seberapa besar kepintaran sipenulis, seberapa tinggi gelar sipenulis. Toh anggaplah mereka manusia biasa yang sangat bisa melakukan sebuah kesalahan. Sehingga ketika kita membaca buku tidak mudah untuk menjadi “pengekor”para penulis. Tetapi kita membaca buku karena kita juga adalah penulis!

Saduran dari : Lantunan Kata Yang Bermakna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: