Geliat Islam di Australia


Jumlah umat Islam di Australia memang terus bertambah. Tapi, problem yang dijumpai dalam keseharian mereka juga bertambah. Apa saja? Ikuti laporan wartawan Jawa Pos yang baru pulang dari negeri itu.

Salah satu problem yang belakangan ini dirasakan umat Islam di Negeri Kanguru adalah sertifikasi halal untuk berbagai produk makanan.

Jika di Indonesia urusan itu menjadi wewenang MUI (Majelis Ulama Indonesia), di Australia, siapa pun bisa mendirikan lembaga sertifikasi halal asal memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Dan, saat ini sertifikasi halal menjadi bisnis menggiurkan di Australia.

Mengapa menggiurkan? Ini karena Australia termasuk salah satu negara yang banyak mengekspor produk halal ke negara lain. Sebagai gambaran, menurut data yang dilansir Halal Australia, sebuah lembaga sertifikator halal, populasi muslim dunia mencapai 1,8 miliar orang. Perkembangan per tahun sekitar 2,9 persen.

Dengan populasi seperti itu, diperkirakan kebutuhan makanan halal di seluruh dunia, jika dinominalkan mencapai angka USD 400 miliar – USD 580 miliar, per tahun.

Untuk lokal Australia, pasar makanan halal mencapai AUD 2 miliar per tahun (sekitar Rp 15 triliun, dengan kurs AUD 1 = Rp 7.500). Ini bisa diartikan, total belanja umat Islam di Australia (yang jumlahnya sekitar 400 ribu) untuk makanan halal selama setahun sekitar AUD 2 miliar.

Berdasarkan data yang diperoleh Jawa Pos sejak 2001-2002, nilai ekspor Australia untuk makanan halal mencapai USD 3,7 miliar (sekitar Rp 34,4 triliun dengan kurs USD 1 = Rp 9.300)

Sedangkan khusus untuk produk ekspor kombinasi antara daging sapi, domba, dan kambing mencapai USD 330 juta (sekitar Rp 3 triliun). Jumlah itu adalah data mulai 2001 – 2006.

Belum lagi pasar untuk katering dan makanan yang disediakan untuk penumpang pesawat. Pasar terbesar untuk ekspor Australia adalah Indonesia, Malaysia, dan negara-negara di Timur Tengah.

Melihat begitu besarnya pasar dan kebanyakan pasar adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim, di Australia bermunculan lembaga sertifikator halal. Jadi, lembaga inilah yang akan memberi stempel halal untuk produk-produk makanan yang akan diekspor.

Di antara lembaga sertifikator di Australia, terjadi persaingan yang cukup ketat. Maklum, saat ini setidaknya ada 15 lembaga sertifikator halal di sana. Mereka mendapat lisensi untuk mengeluarkan sertifikat halal dari otoritas pemerintah.

Persaingan di antara mereka sampai pada tataran saling menginvestigasi ketidakberesan lembaga sertifikasi halal lain.

Ini bisa dirasakan Jawa Pos ketika mengunjungi kantor Halal Australia di Auburn, New South Wales. Direktur Eksekutif Halal Australia Muhammad M. Khan menunjukkan temuannya kepada Jawa Pos. Dia menunjukkan foto sebuah produk daging babi yang telah ditempeli label halal. ’’Masih ada saja lembaga sertifikasi yang integritasnya diragukan seperti ini,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, jika kecurangan ini dilakukan lembaga sertifikasi halal, yang sangat dirugikan adalah negara-negara Islam yang menerima produk itu.

Saat mengimpor daging dari Australia, mereka tidak tahu lembaga sertifikator halal yang ditunjuk.

"Saya berharap negeri Anda lebih jeli dalam memilih label halal yang dikeluarkan lembaga sertifikator asal Australia," pesan Khan. Sebab, hal ini terkait standardisasi metode penyembelihan. "Ada yang dipukul dulu menggunakan Mushroom Gun (semacam alat pemukul dari besi yang bentuknya mirip jamur), baru disembelih. Indonesia dan negara negara Timur Tengah masih meloloskan.daging jenis itu. Dalam hal ini Malaysia lebih ketat," papar Khan.

Di negara bagian Victoria, Jawa Pos berkesempatan mengunjungi rumah jagal bersertifikasi halal Cedar Meats. Perusahaan tersebut memproses daging kambing, dengan jaminan 100 persen halal. Mulai para jagal yang bersertifikasi halal. "Kami mempunyai enam jagal yang semuanya muslim," kata pemilik Cedar Meats Tony J. Kairouz.

Bentuk rumah jagal diatur sedemikian rupa sehingga ketika menyembelih hewan, para jagal menghadap kiblat, sebagai salah satu syarat halal dalam Islam. Untuk mempercepat proses penyembelihan, mereka menggunakan metode strum (stunning). "Agar kambing linglung, kami menggunakan listrik 200 sampai 300 watt. Tapi, kejutan listrik tersebut tidak mengakibatkan kematian," kata Tony.

Dengan cara ini, dalam satu menit, delapan ekor kambing bisa disembelih. Dalam sehari, 3.500 ekor kambing diekspor Cedar Meats ke Timur Tengah, Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.

Perusahaan itu baru berjalan enam bulan, dan menjadi satu-satunya perusahaan jagal terbesar di Victoria. Tidak hanya daging, Cedar Meats juga mengeskpor kulit, dan jeroan ke Timur Tengah. Dari seluruh bagian kambing, hanya kepalanya yang terbuang sia-sia.(candra kurnia harinanto/kum)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: