Mengebiri Tokoh Ulama Nasionall


Dari iklan PKS tentang Sumpah Pemuda, yang menampilkan Kh. Ahmad Dahlan, Kh. Hasyim Asy’ari, Ir. Soekarno, Moehammad Natsir. Harus dituntut oleh PBNU dan Ortom Muhammadiyah. Sungguh memilukan, tokoh-tokoh ormas Islam terbesar tersebut lebih terasa ingin menjadikan tokoh-tokoh nasional itu adalah milik mereka sendiri. Dan lebih terasa aroma ketaklidan kepada ulama serta ashabiah dalam golongan. Ketika seorang tokoh sudah diklaim sebagai milik Nasional, maka semua boleh mengaguminya.

Lalu apakah dengan menampilkan sosok tokoh nasional tersebut PKS hanya menjadikan tokoh nasional tersebut sebagai komoditas politik? Pertanyaan yang aneh! Bagaimana tidak, sudah seharusnya dan kewajiban kita semua termasuk partai-partai di Indonesia ini untuk menampilkan sosok-sosok pahlawan nasional. Sosok yang dapat menjadi tauladan dan panutan semua rakyat.

Saya jadi ingat ketika kuliah, dari ribuan Mahasiswa baru yang mengikuti mentoring. Hanya 10% saja yang tahu siapa itu Kh. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari. Inilah bukti nyata bahwa tokoh nasional tersebut tidak setenar Imam Bonjol, Sultan Agung, Cut Nyak Din, dll. Tetapi ketika ada yang mempelopori untuk memperkenalkannya dengan slogan-slogan yang mengagumkan. Ternyata malah diprotes oleh orang-orang yang “merasa” berhak memiliki.

Ketika saya membaca para komentator forum, saya disuguhkan oleh penyudutan dan terasa lebih kearah cacian maupun hujatan kepada PKS. Antara golongan Muhammadiyah dan NU, bergabung untuk “menghancurkan” PKS. Padahal jika saya menilai persahabatan antara keduanya, tidak seperti persahabatan kader PKS yang dari Muhammadiyah atau NU. Karena disetiap kajian Muhammadiyah yang saya ikuti, lebih sering melegitimasi kebenaran mereka sendiri dari yang lain, dan di NU pun sama. Hingga saya sering berfikir, bagaimana umat Islam bisa bersatu. Jalan bersama-sama saja masih sering menjelek-jelekkan dibelakang “layar”. Tetapi ketika kami di PKS, kami selalu menganggap seluruh umat Islam adalah saudara kami. Memuliakan saudara Islam itu adalah kewajiban. Dan kami mengindahkan persoalan furu’ yang sering membuat ikhtilaf diantara umat Islam.

Klaim wahabi yang dulu dialamatkan ke Muhammadiyah, sekarang beralih ke gerakan Islam yang lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan, padahal perang dingin antara Muhammadiyah dan NU sebenarnya masih berlanjut. Bagaimana kedua organisasi Islam ini mengklaim mampu menyadarkan rakyat, sedangkan masalah furu’ dibelakang “layar” saja masih saling melecehkan. Saya bergabung dengan Muhammadiyah mulai dari keluarga saya. Dan bergaul dengan NU mulai dari kecil, hingga pernah diamanah menjadi sekretaris di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) saat mahasiswa. Jadi karakter kedua gerakan ini insya Allah sudah membuat saya paham untuk tidak mau lagi mempermasalah “perbedaan” dalam furu’iyah, ikhtilaf dari ijtihad masing-masing ulama. Hingga akhirnya PKSlah tempat yang tepat untuk berkumpul para pejuang pemersatu umat.

Saya sangat yakin kalau sebenarnya yang kecewa itu bukan para Muhammadiyah atau NU yang “tulen”. Tetapi saya percaya, bahwa yang kecewa tentang penayangan iklan dari PKS tersebut adalah para orang-orang yang berada di barisan partai politik yang berada di belakang Ormas Islam tersebut. Karena mereka kehilangan “pamor” ketika PKS mengambil sekmen ulama nasional. Padahal jika ditilik lebih lanjut, akar ideologis PKS dengan ulama nasional ini sama. Kecuali hanya berbeda masalah organisasinya.

Indikasi “ketakutan” terhadap PKS ini menguat pada beberapa saat ketika akhir 2005. PKS merambah cepat dari setiap lininya dengan cara pengorganisasian yang solid. Inilah yang membuat “blingsatan” para ormas Islam. Karena takut kadernya mengikuti PKS. Karena kalau para kadernya mengikuti PKS, bagaimana mungkin bisa membantu partai “bentukan” ormas Islam itu sendiri? Ah, semuanya pasti bermuatan politis. PKS beriklan seperti itu, bermuatan politis. Dan orang-orang yang menentangnya pun “sangat pasti” juga bermuatan politis. Maka dari itu berpolitiklah yang santun. Jangan asal membuat isu hanya untuk bersatu melawan “musuh”. Karena jika engkau hanya bersatu ketika melawan musuh, maka engkau juga akan terpecah ketika ghanimah itu menggelapkan mata-matamu. Terbukti sekarang, perpecahan “partai” ormas Islam membuat kehilangan muka para ormas Islam. Bagaimana tidak, satu sama lainnya para petingginya hanya menginginkan jabatan. Mau bukti? Mari lihat sejarah Masyumi sampai saat ini. Maka belajarlah dari Masyumi dulu!

Padahal salah satu tim kreatif support kampanye PKS yang membuat iklan-iklan tersebut adalah salah satu anak dari Gus Sholah adik dari Gus Dur. Mau tahu siapa? Tanya sama Bung Ipang.

Beritanya bisa dilihat disini: "Ayo… Rame-Rame Somasi PKS…"

Iklan

3 Tanggapan

  1. harusnya PKS mencantumkan dalam iklannya, siapa sebenarnya Tokoh tsb.
    kemudian, PKS juga harus meminta izin dulu kepada kedua Ormas Islam Terbesar di Indonesia (bahkan dunia) tersebut terkait pencantuman tokoh2 tsb dalam iklan. Sebab, keperluan iklan adalah untuk “komersial”.
    Demikian semoga menjadikan semua pihak mengkoreksi diri dan mawas diri.

    salam

  2. Dan lagi harap diingat mungkin jarang yang tahu bahwa tokoh seperti Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro, terpengaruh gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab saat bangkit melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

    Utamanya Imam Bonjol setelah pulang dari Makkah.

    Bahkan organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan yaitu Muhammadiyah karena pengaruh gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

    Dan ini sangat jarang sekali orang yang tahu.

  3. ^
    ^
    menarik…adakah artikel yg membahasnya? tentu dengan disertai bukti2 sejarah yg otentik…
    secara aq juga pernah dengar hal seperti ini…namun masih kabur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: