Kontras: PKS Cari Simpati, Momen Tidak Tepat


Jakarta – Ajakan rekonsiliasi PKS dengan menampilkan mantan presiden Soeharto di jajaran pahlawan dan guru besar dinilai hanya untuk meraih simpati dan mendulang suara. Momennya sangat tidak tepat.

"Rekonsiliasi antara siapa dengan siapa? Apa yang persis mau direkonsiliasi? Momennya tidak sangat tidak tepat," kata Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, Kamis (13/11/2008).

Menurut dia, iklan itu lebih sebagai upaya mencari simpati, meraih suara lebih dengan segmen yang seluas-luasnya. "Jauh dari upaya menggelar rekonsiliasi yang jujur," ujarnya.

Usman mengatakan, generasi baru dan generasi lama telah membangun moralitas politik reformasi dengan penegakan hukum. Hukum itu dibuat untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang beradab agar tidak ada dendam.

"Jadi jangan kita keliru melihat masalah ini. PKS tidak perlu defensif," kata aktivis mahasiswa 1998 ini.

Dalam kesempatan ini, Usman pun ikut menyoroti iklan PKS yang menuai kontroversi. Usman menilai, iklan PKS adalah iklan politik karena ditujukan untuk kepentingan politik.

Kedua, lanjut dia, setiap partai punya klaim atas tradisi dan pendasaran etiknya sendiri. Tradisi ini bagian dari kekhasan dan identitas perjuangan tiap partai.

Dalam konteks kontestasi, pengambilan identitas partai, tradisi yang lain selalu diartikan sebagai taktik untuk ’mengurangi’ yang lain.

"Dari sudut ini, iklan PKS itu bersifat ofensif. Jadi kita paham mengapa NU dan Muhammadiyah protes," cetusnya.

Selanjutnya, Usman menambahkan Soeharto tidak bisa disejajarkan dengan KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Bung Karno, Bung Tomo, Muh Natsir yang jelas-jelas pahlawan.

"Status hukumnya masih tersangka korupsi dan tidak dideponir Jaksa Agung Hendarman Supandji. Belum lagi kasus pelanggaran HAM, terhadap suara kritis rakyat yang dituding subversif, ekstrem kiri, ekstrem kanan," lanjut sarjana hukum dari Universitas Trisakti ini.

Usman meminta PKS dan semua partai harus menjunjung moralitas politik reformasi dan mengubah metode kampanye dari yang mengandalkan simbol, dan figur menjadi nilai, platform, manisfesto, ideologi.(aan/nrl)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: