Indonesia Itu Melankolis, Romantis Dan Anarkis


Beberapa hari lalu kita disuguhi oleh banyaknya “tawuran”, entah itu antara masyarakat dengan masyarakat lainnya, antara masyarakat dengan polisi, mahasiswa dan mahasiswa, mahasiswa dan polisi, polisi dan polisi, polisi dan TNI, polisi dan preman.

Berita-berita yang menyuguhkan tentang bagaimana kerasnya pertikaian antara satu dan yang lainnya, membuat miris yang melihatnya. Ini adalah sebuah hal yang harus menjadi perhatian besar bagi kita semua, karena akan terjadi masalah kemerosotan beradaban sebuah negeri. Persoalan-persoalan antara pengerahan massa satu sama lainnya dan saling bentrok membuat keberadaban bangsa Indonesia yang dikenal ramah dan sopan akan menjadi terkikis. Dan menjadikan negara yang tidak beradab dan bermoral dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Ada baiknya kita juga melihat kisah percintaan muda-mudi kita disaluran televisi pada setiap acara reality show. Dari berbagai reality show para muda-mudi, kita akan disuguhkan oleh tayangan-tayangan percintaan yang melankolis, kata-kata cinta yang gampang mengalun indah, tak jarangpun banyak kesempatan untuk menjamah-jamah tubuh si wanita. Rasanya tak menyenangkan jika tidak ada intrik dari kisah-kisah romantis berbalut kata-kata yang melankolis didalam setiap reality show. Dengan adanya intrik, maka datanglah para ksatria-ksatria “sok” jago yang menantang bertarung siapa saja jika merebut “ayam” betinanya. Maka tak pelak adu mulut saling mencaci dan memaki satu sama lainnya. Menantang berduel satu sama lainnya, tak jarang banyak juga yang langsung berduel. Beradu fisik tanpa arena pertandingan!

Inilah wajah generasi kita, wajah-wajah para pecinta yang romantis dan berbalut kata-kata melankolis serta berubah garang menjadi anarkis.Tayangan-tayangan tersebut mungkin menjadi inspirasi bagi para muda-mudi untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara "kuno"! Cara menunjukkan “kejantanan” para lelaki dihadapan para pujaan hatinya. Dengan banyaknya tayangan-tayangan reality show tersebut, generasi muda kita dicekoki dengan tayangan-tayangan “cengeng” yang anarkis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: