Repot, Demonstrasi Kemanusiaan Kok Dikira Kampanye!


JAKARTA – Partai politik harus berhati-hati menggelar demonstrasi. Sedamai apa pun, bila dicurigai sebagai kampanye terselubung, demo tersebut bisa menjadi urusan hukum.

Itulah yang kini menimpa PKS. Demo aksi solidaritas Palestina pada Jumat (2/1) lalu berbuntut panjang. Gara-gara menyertakan atribut tanda gambar dan nomor urut partainya dalam aksi tersebut, Presiden PKS Tifatul Sembiring diadukan Panwaslu DKI Jakarta ke Polda Metro Jaya. Aksi partai yang dipimpinnya itu dituding sebagai kampanye terselubung di luar jadwal.

Rencananya, kepolisian hari ini memanggil Tifatul Sembiring untuk dimintai keterangan. ’’Sebagai warga negara yang baik, insya Allah saya pasti datang,’’ kata Tifatul di Jakarta kemarin (14/1). Bersama-sama dia, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Triwisaksana dan Ketua DPD PKS Jakarta Pusat Agus Setiawan juga siap memenuhi panggilan itu.

Apa status mereka saat ini? ’’Di dalam surat panggilan, kami disebut sebagai tersangka,’’ jawabnya. Sebenarnya, itu adalah panggilan kedua. Pada panggilan pertama, Senin (12/1), Tifatul tidak bisa memenuhi karena baru saja kembali ke Jakarta dari acara konsolidasi partainya di Bandung.

Pemanggilan tersebut sangat disesalkan Tifatul. Menurut dia, aksi PKS itu murni gerakan kemanusiaan. Bukannya ditunggangi kepentingan kampanye Pemilu 2009. ’’Demokrasi itu kan tujuannya untuk melindungi HAM. Justru rasa kemanusiaan Panwaslu DKI ini yang sepertinya harus diasah,’’ ujarnya dengan nada jengkel.

Dia juga mempertanyakan balik logika yang dipakai panwaslu. Dalam pandangan Tifatul, penggunaan aktribut yang mencerminkan identitas kelompok demonstran dalam demonstrasi adalah hal yang lumrah. ’’Apa bisa demonstrasi tanpa atribut. Itu menegaskan identitas pihak yang bertanggung jawab atas aksi,’’ kritiknya.

Secara terpisah, mantan anggota KPU Mulyana Wira Kusumah menilai aksi unjuk rasa yang dilakukan PKS tidak bisa langsung dinyatakan sebagai kegiatan kampanye. Pasalnya, dalam undang-undang dinyatakan dengan jelas bahwa kampanye adalah penyampaian visi-misi dan program partai atau calon anggota legislatif melalui alat peraga atau media massa.

’’Saya kira aksi unjuk rasa (yang dilakukan kader PKS) itu sekadar penyampaian pendapat, yang kebebasannya dijamin undang-undang. Kalau kegiatan kampanye, partai politik pasti akan melaporkan kepada KPU 3 x 24 jam sebelumnya," katanya.

’’Karena itu, saya berpendapat, tidak dibenarkan adanya pembatasan menyampaikan pendapat di muka umum,’’ ujar Mulyana dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki kemarin.

Mantan anggota Panwalu Topo Santoso yang juga hadir dalam diskusi tersebut juga menilai tidak setiap kegiatan yang melibatkan atribut partai politik dapat dianggap sebagai kegiatan kampanye. ’’Kalau Jakarta banjir, lantas ada partai yang memberikan bantuan, kegiatan itu dapat ditetapkan sebagai kampanye atau tidak?’’ katanya mencontohkan.

Topo menganjurkan KPU, Bawaslu, dan panwaslu untuk menangani masalah yang lebih penting, yakni pengawasan dana kampanye serta pengadaan dan distribusi materi pemungutan suara. ’’Saya terkesan Panwaslu DKI Jakarta memaksakan diri melaporkan dugaan pelanggaran pemilu yang dilakukan PKS ke polisi," paparnya.

Sebelumnya, Panwaslu DKI Jakarta menilai PKS melakukan kampanye terselubung dalam aksi unjuk rasa mengecam agresi Israel ke Jalur Gaza pada 2 Januari lalu. Menurut laporan Panwascam Gambir, sejumlah peserta demo membawa bendera PKS yang bernomor delapan. Selain itu, sejumlah caleg PKS juga berorasi dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Panwaslu DKI juga menilai aksi unjuk rasa menentang agresi Israel ke Palestina merupakan penyampaian visi-misi PKS. Pasalnya, pasal 107 platform PKS berisi penegasan dukungan kepada kemerdekaan Palestina. (pri/noe)

Iklan

2 Tanggapan

  1. Israel Negara Berdasarkan Terorisme

    Resolusi PBB No.3103 tanggal 12 desember 1973 menyatakan bahwa setiap bentuk perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan, mempertahankan hak untuk menentukan nasib-sendiri, adalah syah sesuai hokum internasional. Resolusi itu juga menetapkan bahwa upaya membasmi perjuangan ini merupakan pelanggaran terhadap persahabatan dan kerja sama internasional.
    Sejak merintis pembentukan negara zionis israel dari tahun 1880 sampai sekarang, para pemrakarsa dan pemerintah israel yang sampai sekarang tidak pernah melepaskan cara – cara terorisme dalam rangka memperluas wilayahnya dan memaksakan kehendak politiknya terhadap bangsa Arab-Palestina. Sejak tahun 1880, tiga tahun setelah kongres zionis internasional ke-1 di Bazel seraya melakukan pembelian tanah orang Arab-Palestina, usaha itu disertai dengan mengorganisasikan gerakan terorisme bersenjata yahudi di bawah nama Hashumer yang menteror orang Arab-Palestina untuk memaksa mereka menjual tanahnya dan meninggalkan kampung halaman mereka.
    Tahun 1920 – 1930 organisasi Haganah di bawah pimpinan David Ben-Gurion melakukan teror kekerasan dengan tugas yang semula hanya terbatas sebagai kekuatan bersenjata untuk mempertahankan pemukiman imigran yahudi, tetapi kemudian berubah menjadi tugas penyerangan terhadap orang Arab-Palestina. Mereka juga melakukan pengadaan dan pembelian senjata untuk merancang konflik dengan masyarakat Arab-Palestina yang kemudian dikenal dengan rencana Ben Zion Dinos yang menyusun “daftar dan tanggal aksi pembunuhan” terhadap para pemimpin Arab-Palestina.
    Ketika negara yahudi israel berdiri pada bulan Mei 1948, organisasi Israel Defence Forces (IDF) dibentuk, yang para pemimpinnya pada umumnya berasal dari tokoh – tokoh organisasi teroris seperti Haganah, Bahnach, Stern Gang, Irgun, Lehmi Haret Israel, dan sebagainya. Bahkan setelah Israel merdeka, politik terorisme oleh negara tetap dipertahankan oleh israel dengan membiarkan, bahkan memberikan bantuan intelijen kepada organisasi – organisasi teroris yahudi seperti Kach (pimpinan rabbi Kaen Meyer) Haschmunaem (teroris kelompok fundamentalis yahudi). Moked Yahef (yang beroperasi di pemukiman orang Arab-Palestina), Herat David, Sihrikim, Herf David, dan entah apa lagi.
    Terorisme yang paling brutal adalah serangan terhadap kamp pengungsi Arab-Palestina di desa Shabra dan Shatilla di Libanon Selatan selama tiga hari berturut – turut dari tanggal 16 – 18 September 1982 yang dipimpin oleh brigadir jendral ariel sharon. Mereka membantai seluruh penghuni kedua kamp pengungsi yang terdiri dari anak – anak, wanita, orang rompo, dan siapa saja yang mereka temui. Pembantaian tanpa mengenal perikemanusiaan itu memakan korban 3.297 orang syahid, dalam tempo tidak lebih dari tiga hari. Tank – tank dan pasukan israel mengepung kamp pengungsi Shabra dan Shatilla di Barat Daya Beirut. Pasukan Israel diperintahkan untuk tidak seorangpun dengan alasan apapun diizinkan keluar dari wilayah pengepungan tersebut. Tidak ada kutukan dari PBB, tidak ada kecaman dari amerika serikat dan negara barat. Pada tanggal 15 November 1998 ariel sharon berpidato tentang kejadian Sharbra dan Shatila tersebut, ”tiap orang harus bergerak, berlari, dan merebut puncak bukit sebanyak mungkin untuk memperluas pemukiman, karena apa yang kita rebut hari ini akan menjadi milik kita untuk selama – lamanya… apa yang tidak kita rebut akan menjadi milik mereka”. Anehnya presiden amerika bush malah memandang ariel sharon sebagai seorang ”tokoh perdamaian”?. Kemudian juga tercatat israel melakukan serangan terhadap markas perwakilan PLO di sebuah negara berdaulat Tunisia pada tanggal 1 Oktober 1985 yang membunuh sejumlah fungsionaris PLO. Selanjutnya serangan terhadap Libanon Selatan sampai ke Beirut pada bulan April 1996 dengan operasi di bawah nama Cluster Wrath (kutukan beruntun).
    Sikap angkuh dan tidak berperi-kemanusiaan kaum yahudi dapat disimak dari pernyataan – pernyataan para hachom (alim-ulama) dan rabbi (guru agama) serta para pemuka Yahudi seperti di bawah ini.
    ”Kita akan menurunkan peran penduduk Arab (di Palestina) menjadi tidak lebih daripada tukang potong kayu dan pelayanan” (Sabri Jiryas, ’The Arabs in Israel’).
    ”Kita harus melakukan segala upaya untuk menjamin agar mereka (pengungsi Arab-Palestina) tidak akan pernah kembali (ke Palestina)”. (Ben Gurion : the Armed Prophet)
    ”Kita harus menggunakan teror, pembunuhan, intimidasi, penyitaan tanah, dan pemutusan semua pelayanan sosial untuk membersihkan tanah Galilea dari penduduk Arab (israel koenig, ’the koenig memorandum’).
    ”(orang Palestina) tidak lain adalah binatang yang berjalan di atas dua-kaki” (menahem begin dalam pidato di depan knesset).
    ”… kita akan gunakan kekuatan secara maksimum sehingga orang palestina akan mendatangi kita dengan merangkak”. (rafael eitan, kepala staf tentara israel).

    http://www.infopalestina.com/ms/

  2. Dekadensi Moral Target Yahudi

    Akibat keliru memahami Taurat, bangsa yahudi dan talmud mengklaim bahwa seluruh potensi dunia ini milik mereka. Berbagai cara mereka lakukan agar seluruh potensi itu kembali ke tangan mereka. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah mengekploitasi kehidupan seksual. Karenanya mereka mengorganisasi ekspor komoditi pelacur ke rumah – rumah bordil di seluruh penjuru dunia. Pada tahun 1960, organisasi pimpinan solomo berlshtain, anggota partai alabam, telah berhasil mengumpulkan kurang lebih tiga ribu orang pelacur.
    Kota Munich di Jerman merupakan markas besar distribusi wanita – wanita israel untuk konsumsi negara – negara eropa. Bisnis seperti itu telah lama ditangani oleh kalangan aristokrat yahudi. Di israel sendiri, bisnis seperti ini mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda akibat datangnya para konglomerat untuk berlibur ke tanah israel. Yahudi juga memanfaatkan bisnis seks sebagai alat pengorek informasi rahasia kalangan birokrat. Departemen luar negeri israel sengaja memanfaatkan seksual sebagai jerat, terutama untuk kalangan birokrat Afrika yang mereka undang dengan iming – iming dukungan PBB atas problematika negara masing – masing.
    Dikalangan israel sendiri, seks bebas telah menciptakan budaya seks primitif. Tidak heran jika gadis – gadis israel tidak sungkan berjalan – jalan dengan busana minim. Di perbatasan Arab-israel, pasukan wanita israel penjaga perbatasan telah dilegalisasi untuk berbaur dengan pasukan perdamaian PBB dan pasukan darurat internasional. Mereka bertugas mengorek informasi dari setiap wakil negara. Majalah Hoolim Haziah mengatakan :
    ”Jarang sekali kita menemukan perwira polisi internasional tidak memiliki teman wanita yahudi…Dengan demikian informasi tentang negara Arab akan mengalir dengan mudah”.
    Tidak puas jika hanya menjadi negara pengekspor dan pendistribusi pelacur, yahudi pun telah menjadikan negaranya sebagai tempat mengkoordinasi pelaksanaan bisnis seks untuk negara – negara lain. Perancis misalnya, Perancis hanya mampu mempertahankan kedaulatan tidak lebih dari dua minggu setelah Perang Dunia II karena masyarakatnya telah kehilangan semangat dan keberanian akibat mewabahnya dekadensi moral yang ditanamkan yahudi di negara itu. Yahudi pun berhasil menghancurkan keluarga – keluarga Amerika lewat bisnis pelacuran. Keluarga kalangan birokrat pun tidak luput dari pengaruh bisnis yahudi. Tahun 1908, sejak pemerintahan Franklin Delano Rooasevelt, pihak pemerintah senantiasa menyediakan wanita – wanita untuk delegasi – delegasi asing. Hal itu diungkapkan oleh sebuah majalah :
    ”Di Kantor Departemen Luar Negeri AS ditemukan daftar nama dan alamat dua puluh wanita cantik yang nantinya akan dipilih untuk mrnghibur parapolitikus yang datang. Semua sesuai dengan kebutuhan dan selera. Oleh Departemen Luar Negeri, kelompok wanita itu diberi inisial sebagai seksi cinta”.
    Di Skandinavia, terutama Swedia dan Denmark, sepak terjang yahudi mengalami sukses yang gemilang. Yahudi berhasil mencapai target setelah memprogramkan pendidikan seks di sekolah – sekolah. Murid – murid sekolah memperoleh kebebasan melakukan aktivitas seksualnya. Bahkan pemerintah Denmark melegitimasi aborsi dan adopsi bayi. Radio Denmark pun pernah menyiarkan pentingnya hubungan seksual pranikah dalam menekan angka perceraian.
    Program dekadensi yahudi juga merambah Rusia (Uni Soviet) sehingga di sana terdapat program pemerataan wanita melalui prinsip berikut, pria kaya dapat mengambil wanita tercantik, sedangkan pria miskin tidak. Karena itu tidak boleh tidak pemerataan seks yang mewujudkan persamaan hak dalam bidang seksual harus ada. Uni Soviet juga memasyarakatkan pengahupusan ikatan suami-istri melalui perceraian gratis.
    Kondisi di atas, tidak bisa terlepas dari program perendahan martabat suatu bangsa seperti yang tercantum dalam propaganda No.10 yahudi in : ”Hancurkan kehidupan rumah tangga di setiap bangsa dan runtuhkan peran pendidikan di dalamnya”.

    http://www.infopalestina.com/ms/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: