Jika Mengabaikan Palestina, Allah Akan Murka dan Sejarah Akan Mengutuk Umat Islam

Mursyid ’Aam Ikhawanul Muslimin Mesir, Mohammad Mahdi Akif mengajak umat Islam di Mesir, di negara-negara Arab dan umat Islam di seluruh dunia untuk terus mendukung rakyat dan kelompok-kelompok pejuang di Palestina dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan rezim Zionis Israel. Mahdi Akif juga menyerukan umat Islam untuk terus menggelar berbagai aksi guna mengakhiri blokade Israel di Jalur Gaza dan membuka perbatasan-perbatasan terutama perbatasan Rafah.

Dalam pesannya yang dimuat di situs Ikhwanul Muslimin, Akif mengingatkan bahwa kejahatan Israel di Jalur Gaza belum akan berakhir.

Saudara-saudaraku di Mesir, Arab dan dunia Islam …

Israel telah gagal mencapai tujuannya dalam agresi brutalnya ke Gaza, oleh sebab itu Israel masih terus melakukan berbagai serangan di Jalur Gaza dan seiring dengan pemilu parlemen yang akan digelar, para pemimpin Israel mengancam akan melanjutkan agresinya terhadap rakyat Palestina. Seolah-olah, kursi kekusaaan hanya bisa dicapai dengan bayaran darah, tengkorak anak-anak, kaum perempuan dan darah rakyat Palestina. Sebuah pertanda bahwa pembantaian baru masih akan terjadi. Baca lebih lanjut

Tuduhan dan Jawaban terhadap Tokoh Ikhwan

Hasan al-Banna dituduh bersikap tafwidh (menyerahkan) terhadap makna ayat-ayat sifat dan asma Allah.

Sesungguhnya lafadz "tafwidh" yang dimaksud oleh Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah adalah tafwidh terhadap kaifiyah (cara). Sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang kaifiyah istiwa’. Imam malik mengatakan, "Istiwa itu ma’lum (diketahui), kaifiyah itu majhul (tidak diketahui)." Artinya kita kembalikan pemahaman kaifiyah istiwa itu kepada Allah swt. yang lebih mengetahui tentang kaifiyah yang layak bagi-Nya.

Yang lebih mengukuhkan bahwa yang dimaksud Hasan al-Banna adalah tafwidh dalam hal kaifiyah adalah bahwa beliau merincikan penjelasan tentang asma dan shifat dalam kitabnya.

Kalaulah yang dimaksud adalah tafwidh dari sisi makna, niscaya al-Banna tidak berbicara rinci tentang hal tersebut dalam risalah al-‘Aqa’id.

Tuduhan selain itu adalah seputar perkataan Hasan al-Banna yang menjadikan ayat-ayat asma’ wa shifat dalam kelompok ayat-ayat Mutasyabih (penyerupaan makna sehingga tidak ada kejelasan).

Perkataan tersebut adalah, "Dan ma’rifatullah -tabaraka wa ta’ala-, mentauhidkan dan mensucikan-Nya merupakan unsur aqidah Islam yang paling tinggi. Ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih serta yang terkait dengannya dari masalah-masalah yang mutasyabih, kami mengimaninya sebagaimana adanya tanpa ta’wil (tatsir yang jauh dari eks) dan ta’thil (peniadaan) dan kami tidak ingin tenggelam dalam perselisihan antara ulama dalam masalah ini.

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami…" (QS. Ali Imran: 7)

Lafadz mutasyabih dalam ungkapan al-Banna di atas adalah dalam kaifiyah penyifatan, bukan bahwa asma wa sifat itu mutasyabih. Ini jelas tersimpul bila kita meneliti tulisan-tulisan Imam al-Banna rahimahullah. Baca lebih lanjut