Umat Islam Harus Memenuhi Tantangan Demokrasi


Pernahkah kita mendengar ataupun membaca seseorang yang menyatakan demokrasi itu kufur? Demokrasi adalah produk barat? dsb. Pernahkah? Insya Allah sebagian besar pasti pernah mendengar hal tersebut. Apalagi di dunia maya ini, komentar-komentar sejenis mungkin sangat banyak, dan mungkin terlalu pedas hingga tidak lagi berbuah komentar, tetapi celaan, cacian bahkan hujatan yang kental dengan nuansa tendensiusnya.

Kurang dari beberapa minggu kita nanti akan melakukan Pemilu yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Indonesia. Dan “pesta demokrasi” pun dimulai. Dengan itupula komentar-komentar pembela dan penghujat demokrasi bertebaran. Saling serang sana-sini, saling lempar pernyataan dan klaim sepihak. Dan ini sebagian besar dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri.

Demokrasi menantang umat Islam untuk bertanding! Bagi yang tidak ingin bertanding sebaiknya diam dan menjadi penonton setia, dan bagi pemainnya sebaiknya tidak perlu mengikuti komentar-komentar penonton yang pada hiruk-pikuk berteriak-teriak. Pemain sudah selayaknya berkonsentrasi kepada cara pemenangan pertandingan tersebut, tentunya dengan sesuai syar’i. Tingkat ke syar’ian ini pun sering menjadi polemik, antara komentar penonton dan para pemain yang sedang bertanding.

Itulah ibarat atlit yang sedang bertanding dengan dilihat penonton yang selalu bersorak-sorai, tak lupa dengan komentar celaan, makian maupun hujatan. Itu sudah biasa!

Dan seperti halnya, Demokrasi adalah sebuah sebuah jalan sebagai prasarana yang hanya dipergunakan saat ini, dan partai adalah kendaraan sebagai sarana yang telah tersedia. Dengan itu kaum kafir menantang umat Islam untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut. Walaupun prasarana yang dipakai mungkin sangat tidak layak, dan sarana yang digunakan juga tidak memungkinkan. Tetapi setiap muslim itu tidak pernah takut dengan tantangan-tantangan musuh-musuh Islam.

Sesuatu hal yang haram dan halal telah ditetapkan secara qhot’I oleh Allah dan adapula sesuatu hukum yang bersifat halal dan haram bisa juga disesuaikan dengan ijtihad para ulama. Hal ini yang tidak boleh dinafikkan. Dan inilah yang sering menjadi tolak ukur perbedaan ulama satu dengan yang lainnya. Mungkin kita perlu mengingat Peringata Allah kepada kita :

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan (kedustaan) terhadap Allah?’ Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Yūnus 59-60)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl 116)

Sebuah ijtihad ulama tidak dapat dinyatakan mutlak kebenarannya dari ulama yang lainnya. Dengan kata lain, sesuatu yang diharamkan oleh ulama belum tentu sesuatu tersebut diharamkan oleh Allah.

Dan demokrasi itu sendiri adalah hal yang menjadi perdebatan para ulama, ada yang menyatakan halal untuk mengikuti demokrasi selama tidak meyakininya, dan ada yang mengharamkannya karena ke-tasyabuh-annya. Mungkin kita perlu mengingat pendapat seorang ulama yang menjadi banyak disepakati para ulama (al-Fakhr ar-Rāzi) “yaitu sesuatu yang bermanfaat adalah halal dan sesuatu yang mendatangkan mudharat adalah haram”. Jika demokrasi mampu mendatangkan kemaslahatan untuk kembali tegaknya khilafah Islamiah, lalu apakah itu mutlak diharamkan?

Demokrasi adalah ajang latihan para umat Islam untuk dapat mengelola sebuah Daulah atau bahkan Khilafah. Ini adalah training untuk mendapatkan kembali kejayaan Islam. Sesungguhnya mengelola sebuah daerah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ada banyak masalah yang harus dipecahkan, ada banyak agenda yang harus diselesaikan. Semua itu perlu latihan dengan tujuan yang jelas. Semua itu ketika umat Islam dapat memenangkan arena pertandingan ini (demokrasi).

Contoh hal yang paling mutlak, disebuah daerah mempunyai APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) ketika seandainya Allah mendatangkan kemudahannya dengan mempercepat penguasan sebuah daerah kepada umat Islam, dan ketika itu umat Islam yang berada ditempat itu belum mampu dan belum mengetahui cara pengelolaan sebuah APBD. Apakah malah bukan menjadi sebuah olokan atas system Islam yang dipakai, padahal bukan system Islamnya tetapi orang-orang Islamnya saja yang belum mampu menguasai pengelolaan sebuah daerah. Dengan ini, dengan demokrasi ini kita berlatih, kita bersiap diri untuk mendapatkan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah.

Lalu seandainya umat Islam tidak ada yang mengikuti alur demokrasi itu sendiri, apakah mampu mereka menguasai sebuah daerah dengan legalitas yang jelas? Tentu tidak. Tentu yang mendapatkan dan menguasai sebuah daerah tersebut pasti orang-orang non Islam. Dan umat Islam hanya menjadi kacung-kacung yang hanya mampu berteriak tetapi tidak mampu bertindak apapun.

Dan seandainya saja, umat Islam memenangkan golput. Apakah dengan golput bisa menguasai sebuah daerah? Tentu tidak, pemilu bukanlah sebuah rapat yang jika tidak dihadiri quota peserta rapat menjadi tidak sah. Kemenangan golput hanya mampu menjatuhkan sebuah kredibilitas pemerintahan tetapi bukan sebuah legalitas.

Dengan demokrasi ini Umat Islam ditantang untuk menerapkan system Islamnya yang menyeluruh dan sempurna dalam berbagai bidang. Dengan penerapan ini, jelas untuk memberikan sebuah pernyataan bahwa Islam telah memberikan solusi dari berbagai hal. Mana mungkin Islam akan tegak dengan kata? Karena Rasulullah sendiri tidak hanya berkata-kata, tetapi menerapkan system syari’at Islam kedalam pemerintahannya tanpa harus berteriak-teriak “tegakkan syari’at”.

Syari’at Islam adalah hal yang pasti, namun syari’at Islam itu adalah aplikasi dari sebuah hukum. Tidaklah mungkin ketika kita memahami syari’at Islam tetapi mengkufurkan sesuatu hal yang cenderung ada nilai kebaikannya disitu! Syari’at Islam adalah implementasi dari berbagai hukum yang memberikan kemaslahatan kepada semua termasuk non Islam, tentunya dengan bersifat muamalah.

Islam ditantang untuk menerapkan syari’atnya saat berpartai. Syari’at Islam berperan penuh dalam hal ini, tentang kebebasan beragama, tentang ekonomi syari’ah, tentang pembangunan daerah yang merata dan adil serta syari’at memberikan kesejahtaraan yang mampu dirasakan oleh semua pihak, bukan hanya orang Islam. Tetapi semua umat beragama. Inilah aplikasi dari syari’at Islam. Dan inilah hal yang sudah pernah diterapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, serta sahabat-sahabatnya.

Namun ketika kita meyakini ijtihad ulama yang lain, tentang pengharamannya demokrasi. Maka tidak boleh seorang itu menghakimi umat Islam yang lain ketika memenuhi tantangan demokrasi untuk menunjukkan kekuatan Islam. Apalagi mengecap kufur, munafiq, dll. Celaan, cacian dan hujatan adalah diharamkan oleh Allah dan Rasulullah. Demokrasi jelas tidak ada dalil qhot’I mengenai keharamannya. Jadi seseorang diharamkannya menyatakan kufur terhadap umat Islam yang sedang memenuhi tantangan demokrasi.

Seandainya benar seseorang tersebut menyatakan kufur terhadap demokrasi. Maka setiap produk demokrasi adalah kufur dan haram untuk diikuti. Inilah totalitas yang harus dipahami. Seperti halnya tidak mengikuti UU Lalu Lintas, mengikuti hukum Pidana atau Perdata ketika terkena sengketa, karena semua itu adalah produk dari demokrasi dan haram serta kufur jika mengikutinya. Namun, apakah bisa seperti itu? Tentu tidak! Apalagi haram dan kufur juga untuk meminta-minta terhadap pemimpin demokrasi atau yang biasa disebut thogut atas sebuah kebijakan ataupun masalah apapun. Ini hal yang harus menjadi konsekuensi, betapa jelas bahwa pengorbanan atas penerapan ijtihad tersebut diaplikasikan. Bukan setengah-setengah! Yah, apalagi jangan sampai kita mengharamkan demokrasi karena kalah dalam pertarungan demokrasi!

Jadi sangat jelas sekali, demokrasi bukan tujuan utama tetapi hanya menjadi “jalan” untuk tercapainya sebuah tujuan. Demokrasi adalah arena pertarungan, yang disitu banyak pemangsa-pemangsa yang siap untuk menerkam. Tetapi di demokrasi ada umat Islam yang mampu menerapkan aplikasi dari syari’at Islam. Ada kesantunan, ada kegigihan, ada pengorbanan dan ada perjuangan yang terus-menerus memberikan kontribusi tentang keikhlasan. Semua itu terangkum, dan semua itu hanya mampu dilaksanakan oleh umat Islam yang berjuang tanpa jiwa yang dengki dan iri!

Bagi umat Islam, haram hukumnya bersu’udhon kepada setiap umat Islam yang dengan ikhlas mengorbankan setiap perjuangannya untuk memikirkan kontribusi kemajuan dunia Islam dan Bangsa Indonesia ini. Jangan jadikan jiwa-jiwa pendengki, hasud dan iri menggelayuti jiwa kita. Hanya karena perbedaan prinsip cara perjuangan! Mari kita semua bersatu, merapatkan barisan dan saling berkhusnudhon terhadap setiap muslim atas setiap perjuangannya. Bukan mengklaim sepihak atas nafsu pribadi dan golongan! (sumber, Suaranews.com)

Iklan

4 Tanggapan

  1. Bagaimana juga Demokrasi itu adalah hal yang HARAM, di yakini atau tidak tetap haram, dan jika ada orang muslim yang menghalalkan demokrasi berarti ia telah MURTAD dari Islam. tidak ada dalil dari Al-Quran dan Sunnah yang membolehkan pemakaian syariat selain syariat Islam. dalil-dalil yang anda pakai itu gak nyambung…“…barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah [5]: 44) pasti anda tau dengan ayat ini, apa argumen anda

    Jawab Abu Jaisy:
    12 tahun lalu sampai sekarang saya selalu bertanya, adakah Nash yang Qath’i menyatakan demokrasi itu Haram? Ingatloh dalil Qath’i bukan ijtihad! Tafadhol tolong diberitahukan. Karena yang saya ketahui cuman seperti antum ini, membawa hujjah dari ijtihad seorang ulama. Ingat, mengharamkan sesuatu dengan atas nama Islam (bukan individu atau golongan) konsekuensinya berat dihadapan Allah! Ingatkah ketika seorang Nabi mengharamkan sesuatu yang tidak disukainya dan Beliau di tegu langsung oleh Allah? Lalu apakah taraf ulama sudah mampu menyaingi Nabi sehingga mampu membuat ijtihad dengan menyatakan keharamannya dari Islam, bukan dari individu pribadinya. Jika seseorang mengharamkan atas nama pribada/golongannya hal itu tidak mengapa, tetapi jika hal itu sudah menjustifikasi tentang keharamannya dari Nash Al Quran dan As Sunnah, padahal tidak ada dalil Qath’i masalah tersebut, dan masalah itu masih tetap menjadi Ikhitilaf dimasing-masing golongan, maka keharamannya itu nanti akan menjadi pertanggung-jawaban yang luar biasa beratnya dihadapan Allah nanti.

    Oh iya, surat Al Maidah yang antum sebutkan tersebut sebab-sebab turunnya itu untuk pertikaian Yahudi dengan Yahudi, yang ketika itu Rasulullah yang mendamaikannya. Beberapa Ulama Saudi dan Mesir banyak yang menyatakan bahwa surat Al Maidah 44 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” tersebut bukan ditujukan untuk orang Islam, tetapi untuk orang yahudi. Pada saat itu ada pertikaian antara Yahudi dengan kelompok Yahudi yang lain. Karena itu ada salah satu orang Yahudi yang meminta pendapat Rasulullah, tetapi ada pihak Yahudi yang lain tidak mengakui Rasulullah, sehingga muncullah sebab-sebab ayat tersebut. Karena memahami konteks Al Quran itu dengan cara melihat Sebab-sebab diturunkan ayat (Ashbabul Nuzul) Al Quran, serta melihat keseluruhan teks yang dimaksud. Sehingga tidak seenaknya memotong-motong ayat Quran sembarangan, lalu diartikan tekstual. Karena bisa jadi hal tersebut nantinya malah salah persepsi dalam memahami hal yang lain.

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Siapa yang meninggalkan syari’at paten yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum (Allah) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang berhukum kepada Ilyasa dan lebih mengedepankannya atas hukum Allah? Siapa yang melakukannya maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin”. [Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119].
    Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang Yasiq/Ilyasa: “Ia adalah kitab undang-undang hukum yang dia (Raja Tartar, Jengis Khan) kutip dari berbagai sumber ; dari Yahudi, Nashrani, Millah Islamiyyah, dan yang lainnya, serta di dalamnya banyak hukum yang dia ambil dari sekedar pandangannya dan keinginannya, lalu (kitab) itu bagi keturunannya menjadi aturan yang diikuti yang lebih mereka kedepankan dari pada al hukmu bi Kitabillah wa sunnati Rasulillah shalallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang melakukan itu, maka wajib diperangi hingga kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, selainnya tidak boleh dijadikan acuan hukum dalam hal sedikit atau banyak”.
    “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki…” (QS. Al Maidah [5]: 50)
    silahkan komentari tentang hal ini

    Jawab Abu Jaisy:
    Akhi, kita tidak bisa langsung menterjemahkan tafsiran Ibnu Katsir dengan hanya tekstual saja. Karena hal tersebut bisa jadi “membahayakan”. Ana sendiri tentu paham Syari’at Islam adalah pilihan utama dari segala Syari’at. Dan itu adalah jalan hidup, syari’at Islam bukan hanya Undang-Undang dalam sebuah negara, tetapi itu adalah sikap seorang muslim seharusnya.
    Sekarang, Syari’at Islam itu bentuknya seperti apa? Apakah sekedar Undang-Undang layaknya sebuah negara, ataukah itu bentuk dari pedoman/jalan hidup? Tentu bagi setiap Muslim yang berpegang teguh kepada Kitabullah adalah Pedoman/jalan hidup. Jadi Syari’at itu bukan sekedar Undang-undang negara tanpa bisa di-aplikasi, didalam syari’at itu ada bentuk hukuman, tetapi juga ada bentuk pelarangan serta bentuk reward (pahala/hadiah). Nah itulah yang harus dipahami. Nah sekarang, perlu diketahui bahwa UU negara Islam itu diambil dari Al Quran, Hadits serta Ijtihad penguasa. Nah pada dasarnya Syari’at Islam itu konteksnya luas sekali. Dan tentu ada marhalah-marhalah dari setiap memperjuangkan syari’at Islam, lihatlah di Sirrah, bagaimana Rasulullah berdakwah dengan sirry ketika mendakwahkan Islam, baru setelah banyak yang menerima Islam serta mempunyai pemahaman Islam yang benar Rasulullah “mendeklarasikan” Islam. Sekarang banyak orang yang berlabel Islam, tetapi shalat aja tidak pernah dan paling anti dengan syari’at Islam. Lalu apakah kita langsung gembar-gembor syari’at? Tentu harus ada strategi khusus dalam hal tersebut. Jangan sampai seperti salah satu sahabat Rasulullah yang di usir oleh Rasulullah atas tindakannya yang terburu-buru.

    Dalam Bahasa Hukum, setiap orang itu adalah pelaku hukum, entah itu pelaku hukum aktif (Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara) atau Pasif (orang biasa). Nah semua orang yang berada di negara ini adalah pelaku hukum secara otomatis. Dan mereka tidak bisa mendeklarasikan dirinya atas ketidak-taatan terhadap hukum, kecuali jika dia memang lepas dari negara itu sendiri (dengan membuat negara sendiri tentunya).

    Nah jika antum berpedoman secara tekstual atas tafsiran Ibnu Katsir tersebut, maka sudah jelas semua produk hukum di negara manapun (termasuk negara Arab) tidak ada yang produk Islam murni! Semuanya telah tercampur baur antara satu dengan yang lainnya. Produk-produk hukum itu biasa kita lakukan sehari-hari. Mulai dari hukum Lalin (Lalu Lintas), Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana, Hukum Perdata, dll. Adakah antum bisa lepas dari hukum non Islam ini? Tentu tidak!

    • Akhi…kalau yang dimaksudkan adalah adanya dalil di Al-Quran dan hadist secara teks bahwa demokrasi adalah haram maka tentunya tidak ada….yang ada hanyalah secara umum…bahwa kita dilarang memakai sistem selain dari sistem Islam..dan dalil untuk itu banyak (tentunya anda sudah tahu hal tersebut) dalam islam telah diatur bahwa kalau ingin berdakwah harus melalui hal-hal yag benar baik niat, cara dan tujuan….saya tau tujuan anda baik, hanya cara saja yang harus diperbaiki jangan memakai cara yang tidak islami….

      Jawab Abu Jaisy:
      Itulah yang dilarang keras oleh Allah, menciptakan keharaman yang tidak berada pada sumber Al Quran dan Sunnah, lalu seenaknya mengharamkan atas nama Islam. Rasulullah saja ketika mengharamkan sesuatu yang beliau tidak sukai, langsung ditegur oleh Allah. Apalagi yang bukan Rasulullah menciptakan keharaman atas nama Islam!? Maka dari itu jika tidak ada teksn jelas (dalil Qath’i) kita dilarang mengharamkan atas nama Islam. Jika mengharamkan atas nama individu/golongannya sendiri it’s ok! Jika kita dilarang memakai sistem selain sistem Islam, berarti kita juga dilarang memakai sistem/aturan hukum fisika, kimia, komputer, lalu-lintas, dll. Wah sempit sakali akh pemahaman yang seperti itu! Dalil mengenai pelarangan sistem yang bukan dari Islam itu sudah berada pada ranah Ijtihad, khilafiyah dan ikhtilaf para ulama. Maka kita sudah tentu dilarang untuk mengusik ijtihad mereka apalagi merasa paling benar ijtihadnya sudah mencapai tingkatan sombong itu!

      apakah boleh laki-laki dan perempuan berdua-duaan dengan alasan berdakwah…tentu tidak boleh, begitupun dengan demokrasi

      Jawab Abu Jaisy:
      Hehehe, kalau itu berbeda konteksnya akhi. Kalau antum men-generalisir semuanya. Tentu antum juga haram bermain internet, karena internet bukan sistem dari Islam. 😀

      apa kebaikan dari demokrasi….apa hasil dari demokrasi yang dirasakan oleh umat sekarang…tidak ada akhi
      yang dirasakan hanyalah kesengsaraan dan kezhaliman

      Jawab Abu Jaisy:
      Akhi, antum harus adil dalam memutuskan sesuatu. Meskipun sesuatu hal itu bukan dari Islam, jika ada kebaikannya antum harus mengakuinya.
      “Sahabat Abdillah bin Amrin bin Ash ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Orang-orang yang berlaku adil, di sisi Allah mereka berada di atas mimbar (panggung) yang terbuat dan cahaya yang gemerlapan, berada di sebelah kanan Allah. Padahal kedua tangan Allah adalah kanan (mulia). Mereka adalah orang-orang yang berbuat adil dalam memberikan hukum, berbuat adil kepada keluarga (istri-istrinya), dan adil terhadap apa yang menjadi kekuasannya.” (HR, Muslim dan yang lain).
      “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.”(QS. Annisaa’ 135)
      “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah 8)

      kalau anda mengatakan di negara Arab, memang di Arab tidak Islami hukumnya, bahkan meleceng jauh dari ajaran Islam

      Jawab Abu Jaisy:
      Negara Timur Tengah itu banyak yang mencampur adukkan hukum Islam dan barat, negara Arab Saudi sendiri memasukkan Syari’at Islam yang begitu banyak, semua itu antum anggap masih melenceng dari ajaran Islam. Lalu sekarang, contoh negara Islam seperti apa yang antum inginkan? Sesuai jaman Rasulullah, dan sesudahnya? Jika itu yang antum impikan, maka sudah barang tentu antum harus duduk manis dan bermimpi tentang itu semua. Pantas orang kafir (musuh) Islam selalu tertawa atas sikap muslim yang selalu bermimpi tentang kejayaan dimasa lampau. Tetapi bagi kami, memimpikan sesuatu itu adalah wajar, yang tidak wajar adalah ketika mimpi itu menjadi keterusan dan tidak pernah terselesaikan. Karena Allah juga melarang orang yang selalu berkhayal (bermimpi) tanpa berjuang, apalagi selalu mencela orang-orang yang berjuang!

  2. ada akh… kita bisa kok lepas dari hukum yang ada…. tapi nanti…. ketika kita di dalam kubur… 🙂

    semoga Allah meridhoi langkah dan perjuangan kita semua… amin…

    Jawab Abu Jaisy:
    Amien.

  3. […] Mossad: Jangan Sampai Arab Mengikuti Demokrasi, Biarkan Mereka Menjadi Negara Monarki Absolut Umat Islam Harus Memenuhi Tantangan Demokrasi Demokrasi, Barang Curian Milik Islam? Sistem Demokrasi: Apakah Sesuai Syariah? SATU ORANG SATU […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: