Sugesti Batu Sakti Ponari


Matahari belum sepenuhnya menyinari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ketika Maschan Incok Sunarya beringsut dari penginapan. Penyakit diabetes yang diderita selama puluhan tahun mengakibatkan kaki kakek berusia 69 tahun itu bengkak.

Senin pagi lalu, setelah menginap tiga hari, Sunarya berharap mendapat giliran beroleh tuah mujarab dari Muhammad Ponari. Bocah yang belum genap berusia 10 tahun ini diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Sunarya harus mengantre bersama 10.000 orang lainnya yang juga memburu asa.

"Mudah-mudahan Ponari membawa kesembuhan," kata Sunarya, sambil menenteng botol air yang diyakini sebagai media pengobatan, setelah sebelumnya dicelupi batu sebesar buah sawo, milik Ponari. Sunarya dan istrinya, yang datang dari Bekasi, Jawa Barat, berharap penyakitnya disembuhkan Ponari, si dukun cilik.

Sunarya tertarik datang berobat ke Jombang setelah menonton berita di televisi tentang "kesaktian" Ponari. Ribuan orang mengantre setiap hari untuk mendapatkan kesembuhan dari bocah ini. Panitia yang berjumlah 500 personel, terdiri dari aparat Polsek Megaluk, Polres Jombang, koramil, satpol PP, serta aparat desa sempat, kewalahan mengatur jalannya pengobatan.

Berdasarkan catatan panitia, setiap hari terdaftar 10.000 pasien. Empat orang meninggal ketika menungu antrean. Imbauan panitia agar pengunjung tertib dan mengantre lewat pengeras suara tak henti-hentinya menggema. Namun pengunjung terus merangsek. Akhirnya panitia mengatur lewat kertas atau kupon antrean. Setiap hari, 10.000 kupon habis terbagi.

Ponari buka praktek tiap hari, kecuali Kamis dan Jumat. Proses pengobatan yang dilakukan Ponari terbilang sederhana. Sekali prosesi, sebanyak 300 pasien diminta memasuki halaman rumah dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Setiap pasien diminta membawa gelas berisi air minum.

Selanjutnya Ponari, digendong orangtuanya atau kerabatnya, mendatangi pasiennya yang membawa gelas berisi air. Tanpa melihat ke pasien, tangan kanan Ponari yang memegang "batu sakti" sebesar buah sawo dicelupkan ke dalam gelas-gelas berisi air putih satu demi satu. Sementara itu, tangan kiri Ponari asyik bermain game di ponsel pemberian salah satu pasiennya.

"Pada saat Ponari mencelupkan batu ke air, pasien diminta berdoa dalam hati untuk kesembuhan penyakitnya," kata Mbah Senen, kakek Ponari. Munculnya Ponari, bocah kelas III SD, sebagai dukun tiban itu memang mengejutkan. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia mampu menyedot perhatian ribuan orang.

Ia kali pertama praktek pada 15 Desember lalu. Pasiennya sebatas warga terdekat. Jumlahnya hanya lima sampai 10 orang per hari. Sepekan kemudian, jumlah pasiennya mencapai 100 hingga 200 orang. Selama tiga pekan belakangan ini, jumlah pasien Ponari melimpah hingga 10.000 sehari.

Melonjaknya pasien yang ingin berobat ke Ponari membuat kondisi Dusun Kedungsari ikut berubah drastis. Dusun terpencil yang terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Jombang itu kini sangat ramai. Di sepanjang jalan sekitar 1 kilometer dari tempat pengobatan berdiri warung-warung dadakan. Para pedagang mencoba mencari untung dengan membuka tenda-tenda seadanya sebagai tempat berjualan.

Tidak hanya itu. Gang masuk menuju tempat pengobatan kini berubah menjadi mulus. Paving block tertata rapi sepanjang 100 meter. Padahal, sebelumnya, jalan setapak itu becek. "Semua ini karena berkah dari Ponari," kata Kepala Dusun Kadungsari, Muhlison, sambil tersenyum. Biaya perbaikan jalan didapat dari dana pasien Ponari.

Dari jasa pengobatan itu, Ponari bisa mendapat uang Rp 5 juga hingga Rp 10 juta sehari. Bahkan, menurut Muhlison, seandainya uang sumbangan dari pasien tidak dibatasi, bisa jadi uang yang dikumpulkan bisa lebih dari itu. "Ponari minta agar sumbangan tidak lebih dari Rp 10.000 per orang," katanya.

Sosok bocah kelahiran 6 Juli 1999 itu tidaklah istimewa. Perawakan anak semata wayang pasangan Kasim, 35 tahun, dan Mukarromah, 28 tahun, itu lebih kecil dibandingkan dengan teman sebayanya. Ia tergolong bocah pendiam dan penakut. "Kalau ada temannya mengganggu, Ponari malah lebih pergi menjauh," kata Mbah Senen.

Teman sekolah dan teman sepermainan Ponari menyebut si dukun cilik itu suka menyendiri. "Dia sukanya bermain monopoli," kata Rafli Setiawan, kawan akrab Ponari. Di dalam kelas, Ponari duduk sendiri di bangku belakang paling pojok.

Dukun kecil itu tumbuh dalam keluarga sederhanya. Ayahnya, Kasim, tak lulus sekolah dasar. Sedangkan Mukarromah, ibunya, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. "Rata-rata penghasilan kami Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per hari," kata Kasim. Penghasilan yang jauh dari cukup untuk ongkos hidup sehari-hari dan biaya sekolah Ponari.

Keluarga ini menempati rumah mungil berukuran 5 x 7 meter, berdinding bambu yang sebagian ditembok. Satu-satunya barang berharga di dalam rumah adalah televisi usang 14 inci. Cerita keluarga ini berubah 180 derajat ketika pada suatu sore, tepatnya 12 Desember silam, Ponari bersama empat temannya bermain air hujan.

Konon, pada saat Ponari asyik bermain di tengah lapangan, tiba-tiba petir menyambar. Bersamaan dengan itu, kata Kasim, sebuah batu warna cokelat sebesar buah sawo menerpa kepala Ponari. Ia kesakitan. Karena tertarik oleh benda yang sudah menimpuknya, Ponari membawa pulang batu itu.

Batu itu sempat dibuang oleh ibunya ke kebun belakang rumah. Anehnya, masih menurut Kasim, boleh percaya boleh tidak, batu itu kembali berada di tempat semula. Kemudian giliran Kasim membuangnya. "Eh, batu itu kembali lagi," tutur Kasim.

Di tengah peristiwa aneh itu, Ponari tiba-tiba berujar bahwa batu itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Muawamah, 56 tahun, tetangga rumah Ponari, mengaku menjadi orang pertama yang merasakan tuahnya. "Beberapa jam setelah pengobatan, sesak napas dan perdarahan saya hilang," kata Muawamah.

Cerita sukses Ponari mengobati Muawamah sampai juga ke telinga Djamil. Pensiunan guru yang juga tetangga Ponari ini tertarik untuk mengobati putrinya, Luluk Jamilah, 35 tahun, yang 10 tahun terakhir menderita sakit jiwa. Hasilnya lumayan. Luluk sudah bisa diajak mengobrol. Ia pun sudah mau tinggal di rumah, tidak lagi di gubuk kecil di belakang rumah yang dibangun khusus untuk Luluk. "Kesembuhannya mencapai 50%," kata Djamil.

Sejak itu, "kesaktian" Ponari beserta batunya jadi buah bibir. Hanya saja, hingga kini belum ada penelitian, batu jenis apa yang ada di tangan Ponari. Belum juga terbukti secara ilmiah, apakah batu itu memang bisa mengobati berbagai penyakit?

Dokter Endang Warsiki, spesialis ilmu kedokteran jiwa dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, memastikan bahwa pengobatan ala Ponari tidak ada penjelasan medisnya. "Itu bersifat irasional," katanya. Kalaupun ada pasien yang sembuh, menurut dia, bisa jadi karena kehendak Tuhan. "Bisa jadi juga karena sugesti si pasien," ujar Dokter Endang.

Fenomena berobat ke dukun cilik semacam Ponari itu, kata Endang, seharusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang tak bisa menyediakan pengobatan murah. "Sehingga banyak orang yang mencari cara di luar medis," ujarnya. Pendapat senada diungkapkan Hawa`in Mahrus, sosiolog dari Unair.

Menurut dia, orang yang berobat ke Ponari itu kemungkinan berawal dari rasa bingung karena tidak mampu berobat ke rumah sakit. "Lalu mereka mencoba mencari alternatif pengobatan lain yang lebih murah," kata Hawa`in. Ini terlihat dari kelas sosial pasien Ponari yang kebanyakan masyarakat bawah.

Mahalnya ongkos berobat ke rumah sakit, menurut Hawa`in, juga membuat banyak orang menjadi tidak rasional dan suka sekali mengkhayal. "Lantas larinya ke magic," ujarnya. Pengobatan yang dilakukan Ponari pun, kata Hawa`in, berangkat dari khayalan belaka. "Kalau toh memang sembuh, itu hanya sugesti si pasein. Merasa yakin sembuh kalau minum air dari Ponari," ia menegaskan.

Bila orang stres dan bingung, Hawa`in memaparkan, maka akan timbul pergolakan di dalam tubuh. Aktivitas hormon-hormon meningkat. Pergerakannya tidak stabil seperti biasanya. Nah, ketika datang ke Ponari, lalu minum air yang dicelupi batu, bisa jadi orang itu menjadi tenang.

Stresnya hilang karena adanya kepercayaan akan sembuh. Kalaupun ada perubahan, mungkin karena hormon kembali bekerja normal. "Padahal, sebenarnya penyakitnya bisa jadi tetap ada," katanya. Analisis Hawa`in itu bisa jadi benar.

Hingga saat ini, belum terbukti ada pasien Ponari yang sehat total. Beberapa penderita stroke, misalnya, memang mengaku mengalami kemajuan sesaat setelah minum dan mengoleskan air yang dicelupi batu Ponari. Namun semuanya mengaku masih butuh pengobatan lanjutan.

Karena itulah, Hawa`in memperkirakan, fenomena dukun cilik Ponari tidak bakal berlangsung lama. Bahkan fakta terakhir membuktikan, Selasa lalu, Ponari jatuh sakit karena kelelahan. Ia sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Jombang.(Gatra)

Satu Tanggapan

  1. Percaya tidak percaya…
    tergantung anda memandangnya dari segi mana…??!!

    Jawab Jaisy01:
    Hehehe kayak acara televisi aja bang, “percaya tidak percaya terserah anda” hihihi.
    Yups, tergantung dari segi mana kita mensingkapinya. Kalau yang ngomong salah juga pasti dibenarkan sama yang lain, begitu pula sebaliknya kalau ngomong benar juga nanti disalahkan sama yang lain. Pokoknya yang penting posting ajalah heheheh 😀

    Sukses terus Pak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: