Pak, kalau PKS nomor berapa ?


Ada suatu hal yang cukup membuat gembira hati ini, ketika menjadi saksi dari PKS di TPS San Francisco Amerika. Menjadi saksi adalah pekerjaan yang cukup melelahkan. Saksi harus full time mengawasi jalannya pemilu di TPS yang menjadi tanggung jawabnya. PKS Amerika dan Kanada mengerahkan kader-kader terbaiknya untuk ditempatkan di 9 TPS di Amerika dan Kanada.

PKS adalah satu-satunya partai politik di Amerika yang menyebarkan kader-kadernya untuk turut membantu secara langsung kelancaran dan kesuksesan PEMILU 2009 ini. Chicago, Washinton DC, Houston, Los Angeles, New York, Ottawa-Kanada, San Francisco, Toronto-Kanada dan VanCouver-Kanada adalah kota-kota besar yang diserbu oleh saksi PKS. Tanggal 9 April, Kamis adalah hari kerja yang mengharuskan mereka untuk mengambil cuti kerja demi tugas yang mulia ini.

Menjadi saksi adalah suatu kesempatan langka yang tidak sembarang orang akan merasakannya. Kenikmatan tersendiri ketika dapat bersinggungan dengan pemilih-pemilih yang tidak kita ketahui dalam kondisi kampanye. Baik pemilih partai lain atau pun pemilih PKS itu sendiri. Sebagai manusia biasa adalah maklum, ketika melakukan penghitungan suara yang muncul adalah dari partai yang lain. Akan tetapi sungguh kekecewaan itu akan hilang, manakala ada satu suara sekalipun yang memilih partai nomor delapan, yaitu PKS. Sungguh satu suara itu tidak akan ada bandingannya dengan berpuluh-puluh suara yang terakumulasi di salah satu partai. Masih ada orang yang memperhatikan partai dakwah ini adalah suatu bentuk kesayangan Allah kepada partai dakwah ini, walaupun itu adalah satu suara sekalipun. Konyol memang, tapi dari peristiwa ini kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh Rasulullah, Nuh alaihisalam. 950 tahun berdakwah, hanya mendapatkan segelintir pemilih. Bisa jadi Nabi Nuh saat itu juga bersyukur luar biasa dengan jejak langkahnya yang masih ditapaki oleh segelintir ummat terbaiknya saat itu.

Ada satu pengalaman yang menarik yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini. Pengalaman menarik yang akan menghilangkan rasa kecewa dan lelah saat-saat menghitung hasil suara di TPS.

Seorang nenek sendirian dengan kerudung putihnya memasuki ruangan TPS San Francisco. Kelihatan wajahnya yang tua dan badannya yang kurus, menandakan kalau usia sudah diatas sekitar 70 tahunan. Jaket tebal yang basah oleh air, menyadarkan aku akan udara San Francisco saat itu, dingan dan hujan rintik-rintik. Udara San Francisco yang mirip puncak di malam hari, memang terasa dingin bagi orang Indonesia yang terbiasa hidup dengan udara tropis.
Nenek yang tidak ku kenal ini kemudian memperlihatkan pasport yang masih berlakuuntuk menunjukkan bahwa dia adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih. Setelah diskusi dengan petugas TPS, maka aku nyatakan bahwa memang nenek ini mempunyai hak pilih dalam pemilu kali ini, dan perlu mendapatkan surat suara.

Tersirat rasa gembira di wajah nenek ini setelah yakin bahwa dia dapat memilih di TPS San Francisco. Aku lanjutkan pekerjaanku, sibuk melihat para pemilih lain yang ingin mendapatkan surat suara. Tiba-tiba, nenek yang duduk tadi itu bertanya kepada salah seorang petugas TPS,"Pak, kalau PKS nomor berapa ?". Pertanyaan itu memudarkan konsentrasiku melihat email-email yang masuk di Lenovo X61s, notebook kesayanganku. Nenek yang sudah lanjut ini mungkin sudah lupa dengan wajahku, dan aku pun benar-benar lupa dengan wajah nenek ini. Pertanyaan ini membuat pikiran yang cukup terekam kuat di ingatanku. Siapa gerangan nenek ini ? Memoriku pun aku aduk-aduk mencari secercah ingatan yang mungkin masih ada. Akan tetapi tidak juga kutemukan memori tentang nenek ini dalam ingatanku.

Ketika sampai di rumah, peristiwa ini aku sampaikan kepada satu-satunya istriku tercinta, plus tercantik. "Mi, ada seorang nenek yang datang di TPS, abi yakin dia memilih PKS karena sebelum memilih minta dikasih tahu nomor berapa PKS itu, tapi sayang abi tidak tahu….siapa gerangan nenek itu…dan sudah tentu tidak bisa bercakap-cakap dengan kesibukan di TPS waktu itu…siapa ya …". Istri ku pun tidak bisa menjawabnya, karena memang memori yang terekam kuat di ingatanku hanyalah, sedikit ciri wajah dan postur badan nenek itu.

Ada seorang teman yang memberitahukan bahwa photoku terpampang di detik.com. Cepat-cepat aku lihat photo itu. Alhamdulilah !!, batinku. Nenek tua itu ada di salah satu photo itu!!! Aku perlihatkan kepada istriku. "Mi, nenek yang abi ceritakan kemarin ada di detik.com!!" Aku perlihatkan link photo itu lewat Yahoo Messanger, salah satu software penyambung komunikasi rumah dan kantor.
Istriku memberitahu bahwa nenek itu adalah yang dulu datang ke San Francisco airport bersama dengan Ibu mertua. Yang dulu kita temani sebentar di air port, karena anaknya belum datang untuk menjemputnya. Waktu menemani yang terasa pendek waktu itu dengan obrolan ringan, sedikit membuka memori lamaku. Kecemasan nenek itu ketika menunggu anaknya yang akan menjemputnya kembali teringat dalam memoriku.
Tidak disangka, nenek waktu itu adalah PKSer!!!

Subhanallah !!! Aku tahu jarak tempat tinggal nenek itu, kota Oakland, tidaklah dekat untuk menuju TPS San Francisco. Kota Oakland dan kota San Francisco dipisahkan oleh jembatan besar dan panjang, yaitu jembatan BayBridge. Dan Akses sampai ke tempat TPS pun tidak mudah, walau pun dengan kendaraan pribadi sekalipun. Luar biasa nenek ini, batinku. Ingin rasanya semangat suara hati ini aku suarakan kepada teman-temanku di tanah air, tapi apa daya suara tak sampai. Aku tuliskan sepenggal puisi semangat perjuangan, semoga puisi ini sampai di hati teman-teman di Indonesia.

Wahai pengemban amanah keabaikan!
Masihkah engkau ragu dalam langkah ini ?
Wahai pengemban amanah keadilan!
Masihkah engkau beritirahat dalam derapan barisan ini ?
Wahai pengemban amanat kesejahteraan !
Masihkah engkau menikmati rihlah di waktu-waktumu yang senggang ?

Lihatlah di sini, di bumi San Francisco !!!
Seorang nenek PKSer yang berjalan demi hanya satu suara, yang mungkin tidak akan dia nikmati hasilnya kelak selama hidupnya….
Berjuang dalam terpaan rintik hujan dan rasa dingin yang menusuk ….
Menuju TPS San Francisco hanya demi keinginan untuk hidup lebih baik bagi anak cucunya nanti …
Masihkah diri ini harus menatap pesimis dengan hasil dakwah ini ?
Sedangkan masih ada seorang nenek yang tidak kita kenal, ikhlas dan jujur mendukung kekuatan dakwah ini.

Dalam hatiku timbul suatu keyakinan, harapan itu akan masih tetap ada, manakala orang-orang yang ikhlas seperti nenek ini, mendukung dan bersama-sama dengan pejuang-pejuang militan keadilan. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu masih tetap ada.

penulis :
Muhammad Yusuf Efendi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: