Ibnu Utsaimin: Tak Mengapa, Pilih Pemimpin yang Dicalonkan Partai


Banyak umat Islam yang telah mengkaji pandangan Syeikh Ibnu Utsaimin mengenai masalah ibadah, muamalat atau aqidah, sedangkan mengenai masalah siyasah, amat jarang untuk dikaji. Seorang mahasiswa Saudi, Abdul Aziz Abdurrahman As Syabrami, memilih mengkaji dan mengkompilasi pandangan Syeikh Utsaimin dalam masalah siyasah, untuk tema desertasi, guna memperoleh gelar doktoral di Ma’had Ali lil Qadha’ Universitas Islam Imam Ibnu Sa’ud, sebagaimana yang ia tulis di islamtoday.net (27/4).

Pandangan menganai siyasah ulama yang pernah menjadi anggota Haiah Kibar Ulama Saudi ini mencakup juga masalah pergantian pemimpin secara periodik, juga masalah pencalonan pemimpin melalui partai politik, serta hukum mencari kekuasaan atau meminta jabatan.

Dalam masalah meminta jabatan kekuasaan, Utsaimin berpendapat bahwa hal itu tidak dibolehkan, dengan dasar hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa ada kaum yang mendatangi Rasulullah SAW, lalu mereka meminta jabatan, maka beliau mengatakan, “Kami tidak akan memberikan jabatan untuk urusan kami ini, kepada siapa yang memintanya.”

Akan tetapi beliau menilai, ada pengecualian dalam hal ini, yakni jika seseorang mengetahui bahwa ada orang lain yang berambisi mencari kedudukan, padahal orang tersebut tidak memenuhi syarat, maka ia boleh meminta jabatan itu, jika ia memenuhi syarat. Beliau berpandangan demikian berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, ”Berkata Yusuf, jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (Yusuf [12]: 55).

Mengenai pembatasan masa pemimpin, yang terjadi saat ini, Utsaimin berpendapat bahwa hal ini mengandung maslahat bagi masyarakat, hingga terlihat apakah yang bersangkutan memiliki kemampuan atau tidak.

“Menjadikan kepemimpinan berlaku selama beberapa tahun adalah hal yang baik, hingga ia teruji, dan dinilai. Berapa banyak orang, yang dinilai tidak mampu, tapi ternyata ia mampu? Juga betapa banyak hal yang malah sebaliknya terjadi, kita mengira dirinya mampu, tapi ternyata tidak?”

Utsaimin berpandangan demikian karena menurut beliau, jabatan kepemimpinan bukanlah akad persewaan. Adapun lama tidaknya jabatan, hal ini melihat kemaslahatan, bisa ditambah, atau dikurangi.

Sebagaimana diketahui, cara pengangkatan pemimpin dahulu dengan berkumpulnya ahli syura untuk menunjuk seorang pemimpin, kemudian dibaiat. Akan tetapi saat ini dilakukan dengan cara pemilihan umum. Dengan demikian, pencalonan tidak bisa dihindari.

Apakah umat boleh memilih pemimpin yang demikian? Atau tidak boleh, karena termasuk meminta jabatan? Ulama yang banyak menghasilkan karya ini menjawab, ”Adapun mereka yang meminta jabatan kepemimpinan dalam Pemilu, sesungguhnya mereka (umat) tidak bermaksud untuk memilihnya, dan Allah yang Maha Tahu atas niat mereka, akan tetapi mereka (umat) bermaksud untuk memilih partainya, karena di sana ada partai lawan. Kalau seandainya itu diberikan untuk partai lain yang sesat, maka kerusakan akan terjadi, ini sebagaimana yang dikatakan Yusuf Alaihissalam kepada Al Aziz,”…Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf [12]: 55). [tho/aly/hidayatullah]

11 Tanggapan

  1. ya boleh kayak gitu kalo emang partai islamnya cuman satu dan jelas2 mau memperjuangkan syariat Islam, lha ini partai islamnya banyak mau perjuangin syariat juga gak? pakai demokrasi pula

    Jawab Abu Jaisy:
    Insya Allah, dengan seiringnya waktu berjalan. Partai Islam akan menjadi satu. Insya Allah perjuangan syari’at akan terus digelorakan tanpa harus berteriak-teriak menunjukkan eksistensi diri. Demokrasi adalah realitas keberadaan tanpa perlu dinafikkan, mau berjuang atau diam! Syaikh Bin Baz membolehkan mengikuti pemilu, silahkan dilihat komentar “Meninjau Dalil” disini —> Suaranews.com

    ”Adapun mereka yang meminta jabatan kepemimpinan dalam Pemilu, sesungguhnya mereka (umat) tidak bermaksud untuk memilihnya, dan Allah yang Maha Tahu atas niat mereka,”

    adapun syariat Nabi Yusuf alaihi sallam jelas beliau Nabi yg mendapat wahyu jadi wajar beliau mencalonkan diri itu juga jelas dari wahyu nubuwwah beliau. sedangkan kita umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mencalonkan dan mentazkiyah diri? padahal jelas larangan dari Allah

    “Janganlah kalian mentazkiyah (menganggap suci) diri kalian sendiri !” [ Qs. An-Najm : 32)

    tapi lihatlah caleg2 kita yg berpose sana sini dimana2 mentazkiyah diri dan meminta jabatan.

    ”Adapun mereka yang meminta jabatan kepemimpinan dalam Pemilu, sesungguhnya mereka (umat) tidak bermaksud untuk memilihnya, dan Allah yang Maha Tahu atas niat mereka,”

    Wallahu a’lam

    Jawab Abu Jaisy:
    Setaraf ulama Saudi saja harus dinafikkan pendapatnya oleh orang-orang dibawahnya, apalagi ulama yang lain? 🙂
    Pendapat ulama itu lebih tinggi tingkatannya dari orang-orang yang baru belajar.
    Meminta jabatan atau tidak hal itu hanya diri Caleg dan Allah yang tahu. Kalau-lah benar-benar tidak diketahui oleh orang-orang didekatnya. Daripada berprasangka buruk pada orang lain, maka berbuatlah dengan cara yang terbaik dari diri pribadi daripada harus mengkoreksi kesalahan orang lain yang mungkin (sudah jadi prasangka) kita tidak mengetahui kecuali hanya prasangka saja.
    Benar, jadi titik pointnya. Hanya Allah yang tahu niat mereka, bukan kita! Maka janganlah kita mengambil haq Allah untuk menghukumi orang lain

  2. insya Allah ahlussunnah tetap menghormati para ulama,antum juga harus baca jelas fatwa2 beliau dan bertanya kepada murid2 beliau ( qodarullah ana juga mengaji dgn salah satu murid beliau di indonesia) juga mengenai kedudukan fatwa tersebut dan aplikasi, kepada siapa fatwa tersebut ditujukan.
    jgn membawa fatwa kepada kepentingan politik antum dan partai antum saja.itu terlihat jelas dengan mengapa tiba2 antum memaksakan fatwa beliau disini adapun fatwa beliau dalam masalah maulid dll antum dan partai politik antum tidak mau memakainya walaupun itu sudah dgn dalil2 yg jelas itu yg ingin ana pertanyakan. kalau antum memang jelas menghargai beliau (syeikh ibnu ustaimin rahimahullah) tentu antum juga memakai fatwa beliau dalam hal maulid dll.

    Jawab Abu Jaisy:
    Alhamdulillah jika antum memahami hal ini. Saya tidak melihat kedudukan dalam fatwa tersebut diaplikasikan di Arab Saudi kecuali negara-negara tempat umat Islam berada ketika menganut asas demokrasi. Jika tidak difatwakan untuk diluar Saudi, lalu buat apa berfatwa dinegeri yang sudah jelas-jelas berazas monarki absolut?
    Saya tidak membawa fatwa beliau untuk kepentingan politik, tetapi untuk mengingatkan bahwa perjuangan politik diparlemen itu juga penting. Ana tidak tiba-tiba memakai fatwa beliau loh. Tahun yang lalu saya juga sudah memakai fatwa beliau dan Syaikh Bin Baz ketika berbicara masalah politik. Karena terasa sekali orang-orang hizb Salafy sebagian belum memahami fatwa-fatwa Ulama Saudi tentang politik. Ana membawakan fatwa tersebut itu untuk mengingatkan, bukan mempersoalkannya. Jadi bukan berarti ketika saya mempublikasikan fatwa seorang ulama, lalu kami berpandangan seperti beliau penuh. Itu namanya taklid buta. Tidak juga Syaikh Yusuf Qaradhawi. Kami selalu menghormati para ulama, bukan membanggakan diri mereka. Masalah maulid, hal itu jelas masih khilafiyah dikalangan umat Islam. Saya sendiri meskipun tidak bermaulid, tetapi bukan berarti saya harus melarang mad’u saya bermaulid. Dalam masalah partai politik Syaikh Bin Baz tidak mempersoalkan hal tersebut jika digunakan untuk tujuan perjuangan umat. Dan saya mempergunakan fatwa yang memang dirasa sesuai dengan kondisi umat, bukan memaksakan fatwa. Ingat ““Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.” (Muttafaq Alaih)

    adapun masalah menghukumi hati ana tidak menghukumi hati siapa2 disini dan itu memang bukan hak ana, ini kutipan dari tulisan antum sendiri ttg Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah.

    ”Adapun mereka yang meminta jabatan kepemimpinan dalam Pemilu, sesungguhnya mereka (umat) tidak bermaksud untuk memilihnya, dan Allah yang Maha Tahu atas niat mereka,”

    ana cuma menjelaskan larangan mentazkiyah diri dlm Al qur’an dan kedudukan caleg2 yg mereka berbeda dgn Nabi Yusuf alaihissalam yg jelas2 mendapat wahyu. menyamakan diri dgn posisi Nabi Yusuf alaihissalam jelas qiyas yg tidak tepat.

    Jawab Abu Jaisy:
    Yang ana maksud menghukumi adalah prasangka antum. Sedangkan Syeikh Ibnu Utsaimin jelas menyatakan dalam fatwa beliau “Dalam masalah meminta jabatan kekuasaan, Utsaimin berpendapat bahwa hal itu tidak dibolehkan, dengan dasar hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa ada kaum yang mendatangi Rasulullah SAW, lalu mereka meminta jabatan, maka beliau mengatakan, “Kami tidak akan memberikan jabatan untuk urusan kami ini, kepada siapa yang memintanya.”

    Akan tetapi beliau menilai, ada pengecualian dalam hal ini, yakni jika seseorang mengetahui bahwa ada orang lain yang berambisi mencari kedudukan, padahal orang tersebut tidak memenuhi syarat, maka ia boleh meminta jabatan itu, jika ia memenuhi syarat. Beliau berpandangan demikian berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, ”Berkata Yusuf, jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (Yusuf [12]: 55).”

    Nah, ana sendiri tidak pernah menyatakan “menyamakan” seorang caleg apalagi presiden setingkat Nabi. Jika ada caleg yang berpose, meminta dicontreng yah itu jelas terserah individunya, dan tidak bisa dihakimi mereka telah mentazkiyah diri mereka sesuai dengan tingkat Nabi. Karena sudah sangat jelas fatwa Syaikh ibn Utsaimin yang menyatakan pengecualian, ketika kita mengetahui ada orang lain yang berambisi mencari kedudukan, padahal orang terebut tidak memenuhi syarat, maka ia boleh meminta jabatan itu tentunya jika memenuhi syarat. Maka dari itu, yang mencontreng harus jeli memilih yang akan wakil yang akan dipilihnya. Dan yang meng-qiyaskan seperti nabi Yusuf itu Syaikh Ibn Utsaimin sendiri, bukan ana! Jadi kalau antum sudah pintar setaraf Syaikh Ibn Utsaimin atau melebihi beliau, silahkan kalau mau protes yah kebeliau (Syaikh Ibn Utsaimin). Afwan antum harus benar-benar jeli dan faham fatwa seorang ulama ketika dikeluarkan, sehingga tahu dengan jelas tentang fatwa yang dimaksud.

    kemudian perlu ana tekankan hal yg kita lakukan disini adalah saling nasehat menasehati dlm kebaikan dan kesabaran bukan dlm rangka su’udzon. bukankah agama ini nasehat. yg dari saling nasehat2 menasehati inilah kita mendapatkan ilmu.

    barokallahu fikkum

    Jawab Abu Jaisy:
    Amien.
    Iya, saya sepakat dengan antum. Saya sendiri mempublikasikan artikel tersebut untuk menjadikan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, jauh dari hati ana prasangka atau bahkan su’udzhon kepada saudara muslim yang lainnya. Agama Islam ini nasehat, mari kita saling menasehati.

  3. ana rasa gak ada yg sulit, gak ikutan demokrasi (cara kafir) di indonesia jg tidak sulit sama sekali, tidak merayakan bid’ah maulid juga tidak sulit. tinggal pilihan kita aja.

    Islam gak sulit kok.

    Jawab Abu Jaisy:
    Afwan ana rasa antum belum memahami sama sekali perkataan Ibnu Utsaimin, ana disini tidak membahasa “sulit atau tidak sulit”.
    Kalau jawaban seperti itu, berarti antum telah mepelepaskan statement antum tanpa dasar ilmu yang jelas. Di penjelasan ana insya Allah sudah sangat jelas. Tentang pernyataan antum sendiri, semua sangat membingungkan. Dilain sisi bisa berubah dengan drastis, padahal sangat jelas pernyataan tersebut dilontarkan oleh seorang ulama besar.

  4. Saya rasa tulisan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebab saudara hanya copypaste tanpa ada rujukan yang jelas (Hidayatullah bukan referensi anda bisa mengetahui siapa itu Syaikh Utsaimin).
    Apabila kita perhatikan tulisan di atas jelas samasekali bahwa Syaikh Utsaimin tidak pernah mengeluarkan seperti saudara duga (coba tunjukkan di buku apa beliau berpendapat seperti itu).
    Bagi kami hal ini bukanlah sesuatu yang baru, contoh lain fatwa dari Syaikh Nashiruddin Albani mengenai bolehnya partai Islam masuk kedalam parlemen, namun setelah ditelusuri tidak ada kebenarannya dari fatwa tersebut. Sekali lagi hal ini bukanlah omong kosong untuk menutupi akan kebenaran tersebut tetapi ketahuilah saudaraku..
    Anda telah membawa perkara besar membawa nama seorang ulama demi kepentingan anda dan golongan anda (mengutip pernyataan dari ‘omnya dihya’).

    Allah Ta’ala berfirman :
    “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti………” (Al Hujurat (49) : 6)

    Hadits di bawah ini sengaja kami tulis sebagai perumpamaan agar mereka lebih berhati-hati dalam urusan dien ini bukan tujuan menghalalkan segala cara

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.
    (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll)

    Jawab Abu Jaisy:
    Tidak bisa dipertanggungjawabkan? Apakah antum mampu mempertanggunggjawabkan statement antum bahwa tulisan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan? Jika benar mampu, maka bersumpahlah atas nama Allah bahwa Ibnu Utsaimin tidak pernah menyatakan hal tersebut! Hidyatullah adalah referensi yang jelas dari sebuah media, antum tahu nggak sih etika media? Semua media mempunyai kredibilitas tertentu, dan mereka tidak asal saja dalam memberitakan sesuatu. Kalau salah bisa jadi hukum yang berbicara. Media-media yang berkredibilitas itu tidak seperti kajian-kajian antum yang umbar statement tapi tidak terbukti. Karena itu di jamaah kalian sendiri kalian bisa ngomong seenaknya! Tapi kalau sudah menyangkut publik itu, ada realitas hukum-hukum yang harus dipatuhi, kalau salah yah masuk penjara!

    Lah, itu fatwa Ibnu Utsaimin, bukan saya! Saya tidak menduga-duga, tetapi itu fatwa beliau. Kalau mau menunjukkan itu tulisan dibuku mana, kalau antum orang yang ngerti bukan kepada saya antum meminta itu, tetapi kepada sumbernya yaitu Hidayatullah. Afwan, antum lugu atau bego sih? Sekarang kalau itu tidak terbukti yah langsung tuntut Hidayatullah, pasti kalian tidak seberani atas ucapan disetiap kajian-kajian antum! Seperti yang sudah-sudah, mengecamnya cuman di jamaah sendiri. Tetapi tidak berani memberikan statement di publik!

    Anda ini belajar kepada Ibnu Utsaimin dan Syaikh bin Baz atau murid Juhaiman?

    Baik, saya tantang anda untuk menuntut Hidayatullah yang telah menyebarkan berita dan “kata anda” sebagai orang fasik. Atau saya tantang anda untuk menuntut saya atas berita ini. Berani? Kalau tidak berani, jangan memakai alibi apapun. Bilang saja “TIDAK BERANI”! Jangan sampai anda yang menjadi orang fasik itu.

    Dalil tersebut bisa menjadi bumerang bagi anda sendiri yang menuduh tanpa dasar! Jika ini salah, baru anda bisa mengeluarkan dalil tersebut. Tetapi jika masih dalam prasangka ketidakbenaran, dalil yang anda kemukakan itu tidak seharusnya dikeluarkan. Karena jika itu dikeluarkan maka sudah jelas itu adalah prasangka buruk terhadap sesama muslim. Dan anda pasti tahu hadits tentang prasangka bukan?

    Jangan menghalalkan cara untuk menuduh orang-orang atas prasangka anda, karena Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban dan orang yang anda tuduh akan meminta pertanggungjawaban juga. Ingatlah itu!

  5. Agar anda tidak bingung dengan pernyataan saudara sendiri sebab itu merupakan sifat dasar seorang ihwani, yaitu menunggu sebuah kepastian (kemarin idealis sekarang sekuler), tidak ada wala’ dan bara’ yang ada loyalitas terhadap AD/ART (tujuan segala-galanya). Omnya dihya berusaha menunjuki engkau kepada suatu jalan mudah dalam beragama tidak ada yang sulit dalam hal tersebut tapi anda tidak bisa bersikap apa.

    menjawab artikel anda diatas silakan lihat :
    http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg00037.html
    terjawab sudah siapa itu DR Abdur Razzaq bin Khalifah Asy-Syayiji.

    mengenai haramnya pemilu silakan pula anda baca :
    http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/tentang-pemilu/

    Jawab Abu Jaisy:
    Agar anda tidak bingung atas pernyataan saya, karena itu sifat para Syalafi (bukan salafi tapi Syalafi) idealis kaum syalafi adalah idealis Juhaiman yang menganggap dirinya paling benar! Maka anda silahkan membaca seluruh postingan saya masalah demokrasi dan saya bisa memberikan bukti fatwa dibolehkannya demokrasi oleh ulama-ulama saudi!

    Oh iya silahkan langsung mengomentar ini yah, tafadhol diberitahu ustad dijamaah antum tentang ini
    Tidak Terbantahkan, Hizb Salafy itu ada

    Baca ini juga yah
    Yang Penting Demokrasi Haram

    Kalian berusaha menujukkan kebenaran apa malah menjerumuskan saya kepada prasangka su’udzhon kalian yang akut? Islam itu tidak sulit, tetapi sebagian dari kalian yang malah menyulitkannya.

  6. Semakin seru nih kelihatannya………baiklah, karena anda telah singgung etika media maka saya akan beritahu apa sebenarnya yang menjadi etika itu agar kamu tidak asal dalam postingan di blog saudara yang primitif ini. Dalam etika media kita semua ketahui adanya COVER BOTH SIDE (pengecekan terhadap sumber berbeda) yang nantinya ketika penerbitan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak salah jika saya tuntut anda dengan pertanyaan di buku apa beliau berpendapat seperti itu atau mungkin kamu punya rekaman kajiannya? JIka YA…maka tidak perlu ada lagi yang harus diperdebatkan disini sebab kita sama-sama mengetahui alasannya kenapa beliau keluarkan pendapat seperti itu (sebenarnya ini sudah terbantah dengan copyan url saya tapi sayang anda tidak baca dengan teliti karena TAQLID = mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya).

    Jawab Abu Jaisy:
    Semakin seru? Wah saya rasa ini hanya obrolan murahan abang becak! Karena saya sering ngobrol dengan abang becak seperti ini, yah saya tanggapi saja obrolannya. Seperti obrolan anda ini. Pengecekan terhadap sumber yang berbeda itu dilakukan manakalah anda yang merasa bahwa ada sesuatu yang “salah”. Pihak yang meragukan itu yang seharusnya mengecek sendiri kepada sumbernya langsung. Anda harus tahu bagaimana seorang ahli hadits dalam mengecek sebuah hadits, mereka akan merujuk pada sumbernya langsung dari sumber-sumber orang yang mengatakannya. Nah, karena saya tsiqoh dengna sumbernya (Hidayatullah) maka saya berani menuliskannya. Seperti para orang-orang yang memakai hadits, mereka hanya memakai dari sumber yang mereka percayai. Karena apa, karena mereka bukan periwayat hadits! Anda harus paham itu. Tidak semua orang mempunyai waktu untuk mencari riwayat sesuatu, nah untuk itu dibutuhkan orang yang memang mempunyai waktu untuk itu. Tinggal kita mengikutinya. Nah karena penyakit hati anda sudah akut, maka anda tidak akan percaya kepada siapa saja kecuali kepada ashabiyah golongan anda!

    Mengenai tantangan yang saudara inginkan (saya yakin ketika kamu tulis itu dipenuhi dengan nafsu dan kesombongan), mohon maaf saya tidak bisa penuhi karena ujung dari nafsu tidak berakibat baik. Oleh karena itu saudara yang memiliki kepintaran pasti mau saya berikan suatu referensi yang bisa menunjuki kamu kepada kebenaran di mana saya banyak relasi di kedutaan Saudi Arabia-Jakarta, selain itu saya kenal Ustadz yang berhalaqoh langsung dengan Syaikh Utsaimin jadi antara saya dan saudara bisa sama-sama bertemu dengan beliau untuk bertanya langsung mengenai fatwa Syaikh Utsaimin.

    Jawab Abu Jaisy:
    Yah, saya sudah memperkirakan hal itu. Karena hanya para pengecut saja yang selalu bersembunyi dari ketiak-ketiak para syeikhnya dengan taklid buta. Makanya mereka bukan seperti para ulama-ulama salaf yang mampu mencari hal kebenaran dalam Islam. Bagaimana kamu bisa yakin kalau saya menulis dengan dipenuhi hawa nafsu dan kesombongan, Demi Allah apakah kamu berani bersumpah atas nama Allah saat mengucapkan hal itu? Ataukah karena prasangka-prasangka burukmu terhadap orang-orang Islam! Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena menurut saya tidak ada yang salah. Saya sangat senang sekali diberikan referensi, tetapi saya juga akan mencari referensi yang lain agar bisa berimbang. Jadi saya tidak ingin taqlid buta atas apa yang menimpa anda! Saya sangat menghormati setiap para ulama umat Islam. Bukan seperti anda yang taklid buta terhadap beberapa ulama sehingga sudah berlagak jadi tuhan untuk mengkafirkan, menbid’ahkan, menyesatkan umat yang lain. Hal ini benar-benar ciri khawarij, dan ciri-ciri Juhaiman!

    Apabila anda bisa hadir Alhamdulillah bagi saya, namun jika tidak karena kesibukan saudara memberikan celaan kepada sesama kaum muslimin (saya lihat dari berbagai postingan di blog ini ; ini juga alasannya kenapa saya tidak sebut anda dengan akh, antum dan sebagainya sebab sebutan itu tidak layak). Entahlah apa yang ada dihati kamu dan ketika hati itu sudah hitam, maka kebencian menjadi raja. Tidak layak bagi kamu dengan mudah mengambil berbagai tulisan lalu di posting pada blog ini demi kepentingan anda dengan tuduhan-tuduhan keji kepada berbagai pihak. Apakah itu pula sifat seorang ihwani suka provokasi, senang melihat saudaranya saling tumpah darah kemudian mereka cuci tangan?

    Jawab Abu Jaisy:
    Insya Allah saya selalu hadir di majelis-majelis kalian. Saya tidak pernah merasa sibuk jika untuk mencari sebuah ilmu. Tetapi saya juga tidak akan menelan ilmu dengan mentah-mentah tanpa olahan kematangan yang cukup untuk ditelan. Anda menfitnah saya mencelah kaum muslimin? Buktikan kata-kata celaan yang kamu maksud! Meskipun kamu tidak memanggil “akh, antum, dll” saya tidak menjadi soal, karena saya juga tidak ingin dihormati oleh kalian. Walaupun saya selalu hormat kepada setiap umat Islam.
    “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Inilah perbedaan umat Islam dengan kalian. Bagi khawarij, mereka tidak akan menghormati golongan diluar mereka. Tetapi bagi umat Islam yang teguh dalam memegang ilmu-ilmu Ulama Salaf, maka mereka akan menghormati setiap muslim yang lain. Apakah kalian tidak sadar apa yang kalian lakukan? Apakah kalian lupa pemberontakan yang kalian lakukan? Apakah anda mau bukti bagaimana kedekatan Saudi dengan para kaum kafir dan yahudi?

    Wahai saudaraku….takutlah kamu akan azab Allah yang maha dahsyat, semuanya ini kami berikan tidak lain akan rasa kasihan terhadap kamu.

    Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah berkata :
    “Dan nasehat kepada kaum muslimin pada umumnya dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, dan melarang mereka berbuat keburukan, dan membimbing mereka kepada petunjuk dan mencegah mereka dengan sekuat tenaga dari kesesatan, dan mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana ia mencintainya untuk diri sendiri, dikarenakan mereka itu semua adalah hamba-hamba Allah, maka haruslah bagi seorang hamba untuk memandang mereka dengan kacamata yang satu yaitu kacamata kebenaran.” (Syarah Al-Arbain, hal 48)

    Jawab Abu Jaisy:
    Demi Allah, yang ruhku berada pada genggamana Al Haq! Aku sangat takut terhadap adzab Allah yang maha dahsyat. Karena itu aku akan selalu mengingatkan kaum-kaum khawarij atau orang-orang seperti kamu untuk kembali kepada jalan Islam yang benar. Apakah perkataan Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi bukan merupakan perkataan untuk mengingatkan kalian agar kembali kejalan Islam yang benar? Jika bukan, maka kamu termasuk orang-orang yang sombong!

    Dan karena permusuhan kalian terhadap setiap muslim, maka kami ingatkan ini kepada kalian “Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)”

  7. Ketahuilah saudaraku Sunnah akan tetap tegak selama bumi ini kita pijak dan seperti itu pula nasehat yang senantiasa datang walaupun engkau berusaha hindari dari kebenaran tersebut. Dalam kesempatan ini saya, insya Allah akan menanggapi pernyataan anda mengenai kaum Salaf {tanpa huruf ‘Y’}. Lihatlah betapa lancangnya dengan mudah kamu menuduh Salafiyyah ialah kaum Juhaiman {pemberontak}, disadari atau tidak anda telah membuat luka di dada kaum muslimin seluruh penjuru dunia, sebab tidak ada beda antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ath-Thaifah al-Manshurah dan Salafiyyah. Oleh karena itu, berikut saya akan menggugat landasan pemahaman kamu sebagai seorang Ihwani.

    Perhatikan dan renungkan, anda jangan marah dulu….

    Hasan al-Banna telah menuduh kepada Salaf, bahwasanya Salaf itu menta’wil, ghuluw (berlebihan) dan melampaui batas dalam hal memahami sifat Allah Ta’ala.
    {Mudzakirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyah}

    Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam menanggapi tuduhan di atas :
    “Ini adalah satu kaidah, bahwa semua datang dalam Al-Qur’an atau apa yang telah shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya kita membiarkannya sebagaimana adanya, dan seperti inilah yang telah diriwayatkan dari as-salaf yang mereka berkata dalam mengimani ayat-ayat sifat (yakni sifat-sifat Allah Ta’ala) dan hadits-haditsnya: ‘Biarkanlah sebagaimana datangnya tanpa mempertanyakan (hakekatnya)’. Maka wajib bagi kita untuk membiarkannya sebagaimana adanya.” {Ad-Durah al-Madhiyyah li Aqidah al-Firqah al-Mardhiyah}

    Dari pernyataan tadi dapat kita simpulkan bahwa jelas terdapat perbedaan antara Hasan al-Banna dengan Syaikh Utsaimin, lantas sangat mudah sekali engkau mengambil rujukan dari musuh gurumu…….Bisa dipahami apabila ada indikasi legalitas kepentingan yang haram jadi halal dan sebaliknya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Ketahuilah saudaraku. Sunnah tetap akan tegak walaupun kalian sendiri yang mengacuhkannya. Saya menuduh ulama salaf? Whats? Ini jelas anda sepotong-sepotong dalam menerima pemahaman, dan jelas anda memecah-mecahkan kalimat pada setiap orang yang berkata. Ini jelas bukan sikap seorang muslim yang baik! Lalu apakah anda juga tidak menyadari menuduh kamu muslim dengan tuduhan bid’ah, sesat, dll. Apakah tuduhan itu bukan malah seperti yang dituduhkan Juhaiman? Camkanlah itu!

    Menggugatk Imam Hasan Al banna?
    Oh iya, itu dihalaman berapa syaikh Hasan Al banna menyatakan seperti itu? Saya ceknya langsung. Karena kebiasaan kalian itu memotong-motong perkataan orang. Untung-untung saja surat Al Mau’un “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat” tidak kalian potong!

    Saya akan selalu hormat kepada perkataan setiap ulama umat Islam. Maka saya tidak perlu menggugat ulama seperti kebiasaan jahil kalian! Tuh, diblog sebelah yang pada menghujat-hujat ulama yang kalian sebutkan. Saya tidak ikut terprovokasi seperti mereka, apalagi seperti kalian yang sudah kebiasaannya seperti itu. Masya Allah. Tidak akan pernah saya lakukan hal seperti itu. Na’udzubillah!

    Kemudian Syaikh Utsaimin dengan tegas berkata tentang Ikhwani bahwa kelompok ini adalah bid’ah sebab Allah telah mencela mereka, sebagaimana Firman-Nya :
    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am: 159)

    “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 32)

    Tidak ragu lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan Allah membatasinya dengan firman-Nya:

    “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

    Dan masih banyak lagi pendapat para Ulama Sunnah atas kelompok saudara, seperti : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muqbil al-Wadi’i , Syaikh Shalih al- Fauzan, Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali. Tidak mungkin saya uraikan satu per-satu dalam kesempatan yang singkat ini.

    Tidak salah jika sampaikan apabila anda seorang tukang fitnah {menguji seseorang dengan sesuatu yang bathil} dan menuduh seluruh para ulama yang tidak sependapat dengan kelompok anda, seperti di bawah ini :

    1. Tuduhan kepada Abu Hanifah, seorang Jahmiy, Murjiy dan seorang ahli bid’ah (mubtadi’) yang sesat. Merupakan kesialan bagi Islam dan ahlinya. Tidak terlahir di dalam Islam orang yang lebih sial/malang melebihi dia. Hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang alim dari para ulama salaf, sehingga dia pantas untuk diberi nama Abu Jiifah (bapaknya bangkai).
    2. Menuduh Al-‘Izz bin Abdussalam, seorang Jahmi dan Asy’ari, pada dirinya terdapat karakter (watak) Khawarij.
    3. Tuduhan terhadap Adz-Dzahabi: Lunak di dalam hukum-hukumnya dan mutasahil (bersikap remeh/gampangan) terhadap ahli bid’ah dan juga dia adalah seorang kuburi.
    4. Menuduh Ibnu al-Jauzi: Seorang Jahmi tulen.
    5. Tuduhan kepada Ibnu Bazz: Lemah ilmunya terhadap hadits, meragukan di dalam berfatwa, diam terhadap ahli bid’ah dan tertipu dengannya.
    6. Menuduh Ibnu Utsaimin: Permainan di tangan Sururiyyin.

    Dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    “Suatu kaum yang mengikuti sunnah selain sunnahku dan mengambil petunjuk dari selain petunjukku, kenalilah mereka dan ingkari!” (HR. Muslim nomor 1847)

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Allah. Saya tidak akan ikut provokasi kalian yang selalu menghina gerakan Islam yang lain. Biarlah Allah yang menghukumi kalian.
    Bukankah yang bangga terhadap golongan adalah hizby Salafy yang kalian gunakan sekarang! Dengan menyesatkan orang, mengkafirkan orang yang tidak mengikuti kajian kalian itukan sudah sangat jelas bahwa apa yang kalian lakukan adalah diluar apa yang dilakukan ulama salaf!
    Apakah kalian tidak merasa diri kalianlah yang khawarij? Menyerang orang yang berbeda pandangan dengan lidah-lidah busuk dan perkataan yang diluar akhlaq umat Islam!

    Apakah pernah saya menuduh ulama-ulama yang termasuk saya hormati itu seperti apa yang kalian tuduhkan? Demi Allah apakah saya seperti itu? Jangan beprasangka buruk terhadap umat Islam, karena itu juga tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama salaf.

    Sangat mudah sekali jika saya mencari celah-celah kesalahan para ulama saudi. Tetapi buat apa, saya masih menghormati mereka sebagai seorang ulama. Tetapi jika pemerintahan Saudi, maka saya tidak mentolerir kejahilan yang mereka lakukan!

  8. La haula wala quwwata illa billah….
    Komentar anda ngawur tidak mencerminkan sebagai seorang yang berpendidikan, jauh dari sistematis dan bersifat tendensius, Saya bawakan hujjah dan dalil malah dianggap obrolan murahan, bisa jadi karena status dan gengsi yang anda miliki. Biarpun anda hadir dalam majelis ilmu kami, maka itu tidak memberikan faedah apa-apa jika tidak dilandasi dengan keikhlasan.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham tentang agamanya. Sesungguhnya aku hanyalah yang membagikan dan Allah-lah yang memberi. Dan ummat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya keputusan Allah (hari Kiamat)” (HR. Bukhari dengan sanad Shahih).

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Allah, komentar anda kali ini bernuansa emosi, bahkan setiap kali tidak lupa untuk mencela orang muslim yang lainnya. Anda membawahkan dalil tentang apa? Lalu apakah saya tidak memberikan dalil juga kepada anda, sehingga anda menyatakan bahwa saya seorang yang tidak berpendidikan. Anda sendiri menganggap blog ini primitif. Apakah anda terlalu banyak menghujat orang sehingga lupa dengan hujatan anda kepada setiap orang? Lalu kalau anda dibalas dengan hujatan, anda ngamuk-ngamuk. Heii, ingatlah sabda Rasulullah:

    “Dua orang yang saling memaki itu seperti apa yang mereka katakan, namun kesalahan ada para orang yang memulai, selama orang yang mendapat makian tidak melewati batas (dalam membalas makiannya).” Riwayat Muslim. ”

    “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan yang suka melaknat, bukan yang berperangai jahat, dan bukan pula yang berlidah kotor.”

    Sedari pertama anda berkomentar, komentar yang anda layangkan selalu mencela kami. Jika komentar anda dengan baik-baik, maka saya akan menanggapi dengan baik-baik. Tetapi jika komentar anda buruk dan sombong, maka menyombongi orang sombong itu diperbolehkan! Anda mengagung-agungkan majelis ilmu anda sendiri, kalau saya tidak akan menganggung-agungkan majelis manapun. Tetapi saya memuliakan semua majelis ilmu yang saya datangi, itu sudah termasuk dari diluar majelis kalian!

    Saya tidak pernah gengsi dari ilmu yang saya dapatkan, maka dari itu saya selalu datang dimajelis ilmu manapun. Tidak hanya ditempat kalian, tetapi saya bukan orang yang taklid buta seperti kalian, yang selalu menerima mentah-mentah ilmu dari orang lain! Sehingga mudah menyesat-nyesatkan orang lain diluar kalian. Jelas itu adalah ashabiah golongan anda sendiri. Dan sebuah ciri-ciri khawarij!

    Apakah anda tidak merasa bahwa hadits itu juga merupakan peringatan untuk anda!?

    Apabila sudah paham maka tidak mungkin anda memvonis
    kami Khawarij atau Juhaiman…..(Subhanallah anda mencela manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tuduhan yang bathil betapa luka yang anda letakkan di dada-dada kaum muslimin seluruh penjuru dunia, baik yang terdahulu, sekarang dan akan datang), namun sayang hadirnya anda pada majelis kami seperti parasit, menyebarkan kebencian lalu membodohi para penuntut ilmu. Sayangnya juga Imam Ahmad bin Hambal, yang kita ketahui sebagai seorang kuli panggul di pasar sudah wafat, kalau saja hidup maka anda anggap ilmunya murahan juga.

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Allah, anda suka menfitnah orang yah. Wah…wah, sudah berapa orang yang anda fitnah ingatloh!

    “Tidak akan masuk surga orang yang suka memfitnah.”

    JIka anda bukan penfitnah, maka buktikan dimana letak kalimat saya mencela manhaj Rasulullah? Ingatlah, kaum khawarij juga merasa dirinya paling mengikuti Rasulullah dari Umat Islam yang lain, hingga mereka mudah mengatakan sesat kepada umat Islam yang lain! Ini sejarah, nggak belajar sejarah yah kamu.

    Nah tuh, suka mencela lagi. Masya Allah. Semoga Allah memaafkan kamu!

    Saya hadir di tempat kajian yang kamu selenggarakan itu untuk mencari ilmu. Tetapi sebagian besar bukan ilmu yang saya dapatkan, tetapi doktrin! Saya sedari SMP juga sudah tahu bid’ah dan nggak, kecuali para pengikut yang baru-baru belajar ilmu dan taklid buta seperti kalian. Tetapi saya lebih mewaspadai ucapan bid’ah ataupun sesat untuk dialamatkan kepada orang lain. Bukanlah sebuah ijtihad atau khilafiyah seorang ulama menjadi justifikasi bid’ah ata sesat! Kalau itu yang saya lakukan, maka saya adalah penganut khawarij tanpa saya sadari. Seperti kamu!

    Sudah saya katakan kalau saya hormat juga kepada Imam Ahmad. Tetapi saya bukan seperti kalian, yang menuhankan imam Ahmad! Lalu kenapa bukan Imam Syafi’i guru imam ahmad yang kalian sebut-sebut. Kenapa bukan Imam Maliki, kenapa bukan Imam Az Zuhri, dan imam-imam yang lain? Karena itulah kalian taklid buta, sehingga manafikkan ulama salaf yang lain.

    Apakah Imam Ahmad mencela para imam yang berbeda pandangan dengan beliau. Jawabnya TIDAK! Nah kalian membawa nama imam Ahmad lalu menyesat-nyesatkan orang lain, maka kalian akan dimintai pertanggungjawabanya kelak oleh Imam Ahmad.

    Saya yakin anda ini benar-benar taklid buta. Karena suka menfitnah orang.

    Buktikan kalimat mana saya menyebut ilmu imam Ahmad murahan? Dikalimat yang mana?

    Saudara yang pintar tentu mengerti bahwa dalam jurnalistik masih ada celah untuk rekayasa maka dari itu perlunya etika disini agar tidak terjadi kebohongan kepada publik, yaitu dengan COVER BOTH SIDE sebagai nilai pembanding. Saya di sini tidak menyalahkan Hidayatullah untuk mempublish berita di atas, silahkan saja apabila anda ingin ta’ashub dan tidak ada yang melarang, jika itu saya lakukan nanti dikatakan melanggar HAM atau apalah namanya……Tetapi saya dengan hujjah-hujjah yang jelas mengecam kepada pemberitaan yang tidak dilandasi dengan kebenaran, sarat kepentingan membawa SARA. Sebagaiman firman Allah Ta’ala :

    Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
    (QS. al-Hujurat (49) : 6)

    Disini jelas sekali saya sama sekali tidak menghukumi seorang pun dengan sebutan fasik karena bukan itu urusan saya (maaf jika ada yang tersinggung) tetapi masalahnya adalah pada kalimat :
    “MAKA PERIKSALAH DENGAN TELITI……”
    Hal ini kita lakukan agar tidak menimbulkan fitnah, sebab semua pendapat bisa saja tertolak kecuali pendapatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

    Semoga yang singkat ini membawa hidayah bagi anda…….amien

    abu rasyid al ‘abbad

    Jawab Abu Jaisy:
    Nah itulah jelas sikap khawarij kalian sudah terbuktikan lagi. Bagaimana sebuah media Islam yang insya Allah dimedia tersebut orang-orang Islam yang selalu menjaga Dien Islam anda sebut dengan fasiq! Kalau bukan dari sikap khawarij yang anda tidak sadari. Jika tidak disebut fasiq, maka dalil dalam Al Quran itu tidak bisa dipakai. “Maka Periksalah Dengan Teliti” itu untuk orang fasiq. Bukan untuk orang Islam yang tsiqoh. Anda sudah saya jelaskan tentang makna berita dalam Islam seperti tentang periwayatan Hadits. Anda paham nggak sih!?

    Ada etika setiap muslim dalam berbicara. Bukan seperti anda ini, tidak mempercayai seorang muslim yang lainnya hanya karena berbeda golongan!

    Ingatlah peristiwa kabar dari seorang muslim yang mengatakan bahwa kiblat Umat Islam dirubah menjadi berkiblat di ka’bah. Kenyataannya Rasulullah tidak mengingkari, dan bahkan Rasulullah berterima kasih atas informasi itu kepada para umat Islam yang lainnya. Jika Rasulullah mengingkari, pastinya dalil yang anda sebutkan merupakan hal yang bisa dipakai.

    Belajar yang banyak dari sirrah, pasti karena ketaklidan anda, makanya anda tidak tahu banyak ilmu dan malah taklid buta. Benar apa kata Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin yang menyangkal tulisan anda sendiri
    “Atau ia merupakan seseorang yang tumbuh pada suatu cara beragama tertentu atau madzhab tertentu, dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangka bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada dirinya. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya” (Al-Qawa’id Al-Mutsla Fi Shifatillah wa Asma’ihi Al-Husna)”

    Anda tidak perlu mengalihkan masalah, pake HAM dibawa2. Eh, kamu jangan lugu-lugu. Di dunia ini setiap media Islam itu punya bukti. Karena mereka bukan orang-orang sekumpulan orang bodoh! Seandainya saya bisa buktikan kamu mau apa sekarang? Apakah kamu akan percaya?

    Walaupun saya bukan orang Hidayatullah. Tetapi saya lebih percaya media Hidayatullah, ketimbang media yang biasa kamu baca!

    Media Islam seperti Hidayatullah itu memiliki reputasi yang baik. Tidaklah mereka bodoh memberitakan sebuah berita yang membuat timbulnya fitnah. Nah bagi anda yang sedang mempunyai banyak waktu untuk mengetahui fatwa tersebut silahkan ditelusuri sendiri. Jika mau, saya bisa menghubungi orang-orang Hidayatullah untuk kemudahan anda mencari bukti kebenaran fatwa tersebut.

    Semoga jawaban saya yang banyak ini membuat anda kembali kejalan Islam yang benar. Amien

    Abu Jaisy

  9. Alhamdulillah, secara perlahan anda kini sudah menyadari kekeliruan meskipun terdapat sedikit ego. Semoga Allah Ta’ala memberiku kekuatan agar dapat menyadarkan anda. amien……

    Hasan al Bana, itu jelas tokoh utama anda, lantas tidak salah apabila kita ketahui apa saja yang menjadi i’tiqodnya, termasuk beliau bukan anda (saya yakin anda tidak memiliki kemampuan) menuduh kepada Salaf bahwa suka menta’wil dalam hal memahami sifat Allah Ta’ala (klarifikasi tulisan di atas : lihat Al-‘Aqaid hal 26).
    Perhatikan kembali pernyataan al Bana dalam al-‘Aqaid hal 74, “Dan kesimpulan dari pembahasan ini ialah bahwasanya Salaf dan Khalaf telah bersepakat bahwa yang dikehendaki adalah bukan zhahir yang diketahui di antara manusia, maka inilah ta’wil secara umum’

    Aqidah Hasan al Bana bukanlah beraqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah melainkan aqidah Shufi dan Quburiyyun, hal ini dapat dibuktikan dalam Mudzakirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyah hal 23: “Dan aku berkawan dengan orang-orang Al-Hashafiyyah di Damanhur, dan aku biasa hadir di masjid At-Taubah setiap malam. Dan di hal 27, dari kitab ini juga dia berkata: “Aku singgah di kota Damanhur dalam kondisi kenyang dengan fikrah Al-Hashafiyyah, kota Damanhur ini adalah tempat dimakamkannya Syaikh Sayyid Hushain al-Hashafi, Syaikhnya Tarikat Al-Hashafiyyah yang pertama.

    Bagaimana anda bisa yakinkan kepada kami jika Ikhwanul Muslim adalah bermanhaj Salaf? Layaknya minyak yang dicampur dengan air, mungkin anda juga menganggap antara Sunni dengan Syiah tidak ada beda, aneh……….

    SEKALI LAGI ANDA TELAH KELIRU DALAM MEMAHAMI HIDUP BERMANHAJ ALA NUBUWWAH !!!!!

    Oleh karena sungguh besar perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Janganlah engkau jadikan hatimu terhadap syubhat seperti spon (karet busa) yang menyerapnya serta merta: Tetapi jadikanlah hatimu seperti kaca yang kuat, sehingga tatkala syubhat mampir padanya, dia dapat melihat dengan kejernihannya dan mengusir dengan kekuatannya. Tetapi apabila engkau jadikan hatimu menyerap setiap syubhat, maka dia akan menjadi sarang syubhat:” (Miftah Dar as- Sa’adah oleh Imam Ibnul Qayyim, l/443.

    Baiklah saya akan mengurai benang yang sudah kusut ini dan sepenuhnya saya serahkan kepada pembaca budiman manakah yang lebih gemar untuk melakukan tuduhan dan perkataan keji, sebagai berikut :
    Diawali dengan pertanyaan saya mengenai bahwa Hidayatullah bukan referensi yang tepat bisa mengetahui siapa itu Syaikh Utsaimin, apakah anda pernah baca buku-bukunya, sebab tidak ada pernyataan beliau mengenai bolehnya kita pilih pemimpin dari partai politik?
    Lalu anda bersikeras dengan kebenarannya Hidayatullah tersebut, bahkan dengan nafsu dan kesombongan menantang saya untuk menuntut Hidayatullah agar tidak dikatakan sebagai orang fasik, lugu atau bego. sebagaimana anda ketahui saya tidak memiliki hak dan wewenang, selain itu bukan tujuan saya membawakan firman Allah Ta’Ala, surat al-Hujurat ayat 6, untuk menyebut anda FASIK. Sekali lagi dugaan anda tidak benar!!!.

    Kemudian perhatikan kalimat SIFAT DASAR SEORANG IKHWANI, bukan pengertian secara luas setiap orang miliki, yaitu menunggu sebuah kebenaran kemarin idealis sekarang sekuler, agar tidak salah paham saya bawakan juga faktanya, yaitu koalisi PKS dengan partai Demokrat (pemenang Pemilu Legislatif) guna mendapatkan jabatan di kementrian. Wajar saja jika anda bersikap loyalitas terhadap kelompok anda dengan aturan partai, sehingga tidak ada wala’ dan bara’
    Anda pun tidak kalah serunya menyatakan SIFAT PARA SYALAFI (BUKAN SALAFI TAPI SYALAFI….;….di sini seharusnya anda berhati-hati, satu huruf berubah maka maknanya bisa berbeda) ADALAH IDEALIS JUHAIMAN yang menganggap dirinya paling benar! (demi Rabb pemilik Arsy, saya berlepas diri dari hal ini).
    Berulang kali saya sampaikan apabila anda masih bersikukuh bahwa kami adalah khawarij dengan segala ciri-cirinya, maka anda telah SALAH BESAR !!! Dan membuat hati seluruh kaum muslimin menangis di penjuru dunia baik itu yang mendahului kami yang masih hidup atau generasi kami sesudahnya.

    Hujjah dan dalil yang saya tulis hanya kamu anggap sebagai obrolan murahan abang becak! Hal tersebut barangkali mengingat status sosial anda yang tinggi, sehingga ketika anda bicara dengan seseorang yang derajatnya di bawah anda maka akan anda anggap murahan, seperti halnya Imam Ahmad, kuli panggul itu bisa jadi ilmunya itu murahan karena hanya seorang kuli panggul. Apakah ini penghormatan anda kepada para Ulama??? Sangat naif sekali………..
    Tidak puas dengan hal itu anda menuduh kami telah
    MENUHANKAN IMAM AHMAD (Saya memohon ampun kepada Allah Ta’Ala dan berlepas diri terhadap tulisan ini).

    Tolong anda pahami dan renungkan kembali apa-apa saja yang telah anda tulis.

    “Dua orang yang saling memaki itu seperti apa yang mereka katakan, namun kesalahan ada para orang yang memulai, selama orang yang mendapat makian tidak melewati batas (dalam membalas makiannya).” Riwayat Muslim.”

    “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan yang suka melaknat, bukan yang berperangai jahat, dan bukan pula yang berlidah kotor.”

    “Tidak akan masuk surga orang yang suka memfitnah.”

    Fitnah yang dimaksud di sini dalam bahasa arab berarti ujian, cobaan, kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan, bukan menyebarkan berita bohong, atau mengadu domba. Disadari atau tidak, postingan di blog anda ini telah menguji orang lain demi kepuasan hawa dan kepentingan kelompok kalian, contoh “Tidak Terbantah Hizb Salafy Itu Ada” dan saya sudah memberikan komentarnya “Distorsi Analogi Dalam Kebebasan Berpikir”, sengaja saya tidak tambahi dengan SEORANG IKHWANI, agar tidak timbul fitnah dikalangan kaum muslimin.
    Oleh sebab itu, sungguh betapa hati-hatinya para ulama Hadits didalam periwayatan Hadits karena harus berdasarkan Metodologi Hadits (pengumpulan, penghimpunan, pengklasifikasian, tabwib (formasi) dan penulisan Hadits), bahkan ‘Abdullah Ibnul Mubarak didalam Muqaddimah Shahih Muslim, mengatakan : “Sanad merupakan bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa saja akan berkata menurut apa yang dikehendakinya”.

    Kembali saya ingatkan tolong anda lebih berhati-hati “Periksalah Secara Teliti” dalam mempublish suatu penulisan yang berkaitan Dienul Islam, seperti membawa ucapan ulama yang anda sendiri tidak mengetahui metodologinya.

    “Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. (HR. Ibnu Majah)

    Pastinya jika anda tidak berbuat demikian, maka waktu yang saya miliki pun terbatas. Saya mengajak kepada anda untuk komitmen agar jujur dalam penulisan sesuai dengan etika jurnalistik (mungkin anda pelajari juga apa hukum pers itu) dan beserta kaidah periwayatan Hadits, baik Sanad maupun Matannya. Anda SETUJU……………

    abu rasyid al ‘Abbad

    Jawab Abu Jaisy:
    Sebelum saya menjawab komentar anda, maka jawablah daftar komentar saya yang belum anda jawab. Kalau saya yang menjawab pertanyaan anda terus, itu namanya bukan dialog ilmiah!
    Silahkan jawab dulu 10 pertanyaan yang belum terjawab:
    1.Tidak bisa dipertanggungjawabkan? Apakah antum mampu mempertanggunggjawabkan statement antum bahwa tulisan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan? Jika benar mampu, maka bersumpahlah atas nama Allah bahwa Ibnu Utsaimin tidak pernah menyatakan hal tersebut!

    2. Bagaimana kamu bisa yakin kalau saya menulis dengan dipenuhi hawa nafsu dan kesombongan, Demi Allah apakah kamu berani bersumpah atas nama Allah saat mengucapkan hal itu?

    3. Anda menfitnah saya mencelah kaum muslimin? Buktikan kata-kata celaan yang kamu maksud!

    4. Anda menuduh saya menuduh ulama salaf! Buktikan tuduhan itu?

    5. dihalaman berapa syaikh Hasan Al banna menyatakan seperti itu? (Harus ditulisan Hasan Al banna, bukan tulisan para penghujat)

    6. Apakah pernah saya menuduh ulama-ulama yang termasuk saya hormati itu seperti apa yang kalian tuduhkan? Demi Allah apakah saya seperti itu?

    7. JIka anda bukan penfitnah, maka buktikan dimana letak kalimat saya mencela manhaj Rasulullah?

    8. Lalu kenapa bukan Imam Syafi’i guru imam ahmad yang kalian sebut-sebut. Kenapa bukan Imam Maliki, kenapa bukan Imam Az Zuhri, dan imam-imam yang lain?

    9. Buktikan kalimat mana saya menyebut ilmu imam Ahmad murahan? Dikalimat yang mana?

    10. Seandainya saya bisa buktikan kamu mau apa sekarang? Apakah kamu akan percaya?

    NB: Jawab pertanyaan ini dengan baik, insya Allah saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan komentar anda dengan sangat mudah sekali.

  10. “Ya Allah, cukupilah aku dalam menghadapi mereka dengan apa yang Engkau kehendaki” (HR. Musliim 4/2300 dalam Hisnul Muslim)

    Alhamdulillah akhirnya selesai ………Insya Allah dalam jawaban ini saya menggunakan metode jawaban tanpa urutan soal disebabkan adanya pendekatan satu dengan lainnya.

    Bukti yang saya berikan seharusnya cukup apabila tulisan ini Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan !!! Seperti disampaikan sebelumnya masalah ini bukanlah suatu yang baru. Masih dalam ingatan kita tahun 2004 lalu beredar lembaran berjudul Fatwa Politik Ulama Sunnah, yaitu Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin diterjemahkan oleh Normal Sho’iman dari buku “Fatawa wa Kalimaat fi Hukmi al Musyarakahbi al Barlamanaat” karya DR Abdur Razzaq bin Khalifah asy Syaayiji. Inti dan maksud dari selebaran tersebut adalah membentuk opini bahwa kedua Syaikh tersebut membolehkan masuk ke parlemen Menaggapi hal tersebut Syaikh Salim bin Ied al Hilali ketika diwawancarai majalah Al Furqon di Surabaya, menyatakan bahwa penulis buku tersebut adalah seorang Sururiyyah, dinisbatkan kepada Muhammad bin Surur. Kelompok ini merupakan pecahan Ikhwanul muslimin yang didirikan oleh Hasan al Banna rahimahullah di kota Isma’iliyyah sebagai firqah harakah/pergerakan (lihat al Jama’ah al Islamiyyah, hal 195, karya Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali). Setelah dilakukan investigasi penyebar dari selebaran ini ialah Ikhwanul Muslimin di Jakarta. Dilatar belakangi kejadian ini tentunya saya berikan reaksi yang tegas terhadap tulisan anda agar tidak tidak timbul fitnah di kalangan kaum muslimin (jawaban soal no.3)
    (lihat juga http://www.almanhaj.or.id/content/861/slash/0).

    Baiklah saya ringkas soal no. 1 dan 10 menjadi satu jawaban berikut ini :
    Perhatikan dengan teliti tulisan anda di atas, “Seorang mahasiswa Saudi, Abdul Aziz Abdurrahman As Syabrami, memilih mengkaji dan mengkompilasi pandangan Syeikh Utsaimin dalam masalah siyasah, untuk tema desertasi, guna memperoleh gelar doktoral di Ma’had Ali lil Qadha’ Universitas Islam Imam Ibnu Sa’ud, sebagaimana yang ia tulis di islamtoday.net”

    Silahkan anda jawab pula kerancuan ini :
    Apakah desertasi Abdul Aziz as Syabrami mengenai pandangan Syeikh Utsaimin sudah diuji langsung dihadapan para Syaikhnya??? Bukankah tulisan mahasiswa Saudi tersebut yang terdapat islamtoday baru sebatas tema yang diajukan agar mendapatkan gelar doctoral……………..

    Paragraph berikutnya dari tulisan anda hanya menjelaskan pandangan Syaikh Utsaimin mengenai masalah pergantian pemimpin secara periodik dan hukum mencari kekuasaan atau meminta jabatan di mana Syaikh menjelaskan dengan penuh kehati-hatian (tulisan serupa terdapat di suaranews, “Umat Islam Harus Memenuhi Tantangan Demokrasi”), sedangkan bahasan pencalonan pemimpin melalui partai politik yang menjadi pokok masalah tidak ada penjelasannya bukankan juga ini kontradiktif dengan judul di atas.

    Demi Allah yang menguasai jiwaku, sungguh Syaikh kami, yaitu Syaikh Muhammad Shalin bin Utsamin rahimahullah begitu sayang terhadap umat ini betapa perhatian beliau terhadap masalah siyasah syar’iah sangat hati-hati dan tidaklah kalian mengambil yang sebenarnya.

    Kini perhatikan lagi paragraph terakhir sebagai berikut : “Ulama yang banyak menghasilkan karya ini menjawab, ”Adapun mereka yang meminta jabatan kepemimpinan dalam Pemilu, sesungguhnya mereka (umat) tidak bermaksud untuk memilihnya, dan Allah yang Maha Tahu atas niat mereka, akan tetapi mereka (umat) bermaksud untuk memilih partainya, karena di sana ada partai lawan. Kalau seandainya itu diberikan untuk partai lain yang sesat, maka kerusakan akan terjadi masalah pencalonan pemimpin melalui partai politik………[tho/aly/hidayatullah]”

    Ulama mana yang anda maksud disini? Apakah ulamanya Hidayatullah, ulama Ikhwanul Muslimin atau Ulama Al Lajnah Ad Da’imah, silahkan anda jelaskan berikut buktinya? Saya tunggu segera jawabannya.

    Bukan rahasia umum lagi bahwa pegangan kelompok ini di mana anda termasuk dalam bahasan ini, yaitu gemar menteror orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah mereka lalu menyebutnya Khawarij (lihat al Jama’ah al Islamiyyah, hal 216). Seperti anda ketahui bahwa banyak yang memberikan komentar terhadap tulisan ini adalah Ikhwan Salaf Ahlussunnah Wal Jama’ah begitu pula saya, jika anda menuduh saya Khawarij maka anda menuduh mereka juga seluruh kaum muslimin yang menisbatkan kepada salaf hingga nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (jawaban soal no.7).

    Selain itu, jamaah anda atau Ikhwanul Muslimin memusuhi ahli tauhid Salafiyah dan bersimpati dengan ahli bid’ah dan kaum musyirikin (lihat al Mauridul Adzbuz, hal 208, karya Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad an-Najmi). Bagaimana mungkin anda menjadikan fatwa Syaikh Utsaimin sebagai rujukan. Jelas sekali ada kepentingan disini yang ingin diuntungkan kelompok anda dalam masalah politik (jawaban soal no.4).

    Lebih lanjut jawaban soal no.5, yaitu Ikhwanul Muslimin merasa tidak perlu kepada ulama Sunnah serta memberi gelar-gelar yang buruk kepada para ulama tersebut (lihat al Mauridul Adzbuz Zhulaal, hal 233), pembahasan ini juga terdapat pada “Dialog Bersama Ikhwani”, karya Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, hal 16. (jawaban soal no.6).
    Silahkan anda baca kitab-kitab lainnya, seperti “Menyingkap Syubhat Dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin Catatan Dan Bantahan Atas Buku Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugerah Allah Yang Terzalimi,” karya Andy Abu Thalib Al-Atsary, “Mengenal Hakikat “Al Ikhwanul Muslimun,” karya Nurul Mukhlishin Abu Athiyah, Lc., M.Ag, “Akhirnya Aku Tinggalkan Dakwah Ikhwanul Muslimin,” karya Faishol bin Abduh Qo’id Al Hasyidi, dan masih banyak lainnya.

    Pertanyaan no 2. Bagaimana kamu bisa yakin kalau saya dalam tulisan ini dipenuhi hawa nafsu dan kesombongan, berikut ini :
    “Baik, saya tantang anda untuk menuntut Hidayatullah yang telah menyebarkan berita dan “kata anda” sebagai orang fasik. Atau saya tantang anda untuk menuntut saya atas berita ini. Berani? Kalau tidak berani, jangan memakai alibi apapun. Bilang saja “TIDAK BERANI”! Jangan sampai anda yang menjadi orang fasik itu.”
    Jawab : Apakah anda hanya gertak saja dengan dua kali menantang saya sekaligus konsekuensinya?

    Pertanyaan soal no.9. Buktikan kalimat mana saya menyebut ilmu imam Ahmad murahan? Dikalimat yang mana?
    Jawab : Anda menganggap obrolan dengan saya obrolan murahan tukang becak sedangkan yang saya sampaikan adala hujjah dan dalil yang terdapat periwayatannya dari Imam Ahmad

    Soal no.8 : Lalu kenapa bukan Imam Syafi’i guru imam ahmad yang kalian sebut-sebut. Kenapa bukan Imam Maliki, kenapa bukan Imam Az Zuhri, dan imam-imam yang lain?
    Jawab : Silahkan anda tanyakan ini langsung kepada Ustadz-ustadz bermanhaj Salah Ahlulssunnah Wal Jama’ah.

    Wallahuta’ala a’lam Bissawab.

    Abu Rasyid al ‘Abbad

    Jawab Abu Jaisy:
    Heehehe, masya Allah.
    Sebaiknya anda belajar lagi deh. Saya malas berdialog dengan orang yang tidak ilmiah! Jika ingn menjawab maka urutkan dengan sesuai pertanyaannya. Jika tidak bisa maka tundalah perntanyaan itu tetapi jawablah pertanyaan berikutnya. Dengan ketidak-beraturan jawaban anda ini sudah sangat menjelaskan anda tidak berilmu dan tidak ilmiah!
    Saya tunggu anda mengurutkan jawaban pertanyaan yang saya kemukakan (meskipun jawabannya sama diatas, yah nggak apa2lah. Mungkin itu yang anda bisa). Baru saya akan menjawab pertanyaan anda.
    Bagaimana bisa dikatakan mengikuti ulama salaf, menjawab pertanyaan saja tidak beraturan seperti itu. TIDAK ILMIAH SAMA SEKALI! Saya tunggu jawaban anda yang kedua dengan mengurutkan jawaban pertanyaan saya. Jika tidak, saya akan malah menganggap anda menyelisihi ulama salaf!

    Dengan ketidakberaturan jawaban anda, menjawab dengan sendirinya akan ketidakberaturan pemahaman anda!

    Hehehe, anda menganggapnya selesai? Hem, segitu saja yah pemahaman anda! 😀
    Masya Allah. Susah benar memang menyadarkan orang (teringat dengan kata2 Luqman kepada anaknya)

  11. Very nice site!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: