Tidak Terbantahkan, Hizb Salafy itu ada


Saat ini kita sering melihat bagaimana seringnya sebuah golongan/organisasi/kelompok yang paling anti dengan sebutan hizby. Bahkan cenderung menjelek-jelekkan umat Islam yang lain, mereka ini adalah yang biasa menyebut diri mereka Salafy (atau kadang biasa disebut juga Ahlul Sunnah). Mereka menentang hizby (kelompok/golongan/organisasi) umat Islam yang lain, dan menggolongkan sebagai kelompok sesat atau kelompok sempalan terhadap Islam. Tidak perduli itu Muhammadiyah, NU, PERSIS, PKS (Tarbiyah), HTI, MMI, dll. Mereka semua adalah hizby yang paling tidak disukai oleh kelompok/Hizby Salafy.

Pengertian Salafy

Awal mula kata salafi merupakan kata salaf, yaitu yang berarti orang terdahulu. Dalam pengertian Islam, Salaf merupakan runtutan dari Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. Sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

“Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”

Juga dalam hadits yang lain riwayat Muslim dan Bukhari

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”

Jadi salafy merupakan orang-orang yang mengikuti salaf (orang yang terdahulu, seperti Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. Setiap orang-orang yang mengikuti jejak ulama salaf, maka mereka disebut salafy. Dan salafy bukan monopoli kelompok sepihak kecuali jika nama itu diambil sebuah organisasi. Hal ini masih diperbolehkan, seperti Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah yang berarti “pengikut Muhammad”, maka secara otomatis bukan berarti hanya Organisasi Muhammadiyah saja yang mengikuti Rasulullah Muhammad, Saw.

Distorsi Salafy

Salafy kini terdistorsi oleh sebuah klaim sepihak. Sebuah gerakan mengklaim diri mereka paling salaf dan paling mengerjakan amalan-amalan dari Rasulullah telah berkembang. Ironisnya, mereka paling anti disebut sebagai hizby/golongan/organisasi/kelompok. Karena mereka meyakini bahwa salafy yang mereka pahami bukanlah sebuah kelompok/hizby/organisasi. Tetapi pada kenyataannya gerakan ini mempunyai pusat komando dari para syaikhnya. Pada dasarnya setiap system komando (pengatur) merupakan bentuk dari hizby itu sendiri. Walaupun mereka tidak harus mempunyai struktur keorganisasian yang jelas.

Dalam sebuah pengertian organisasi, Stoner mengatakan “Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama”

Organisasi Menurut James D. Mooney mengatakan “Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”

Sangat jelas, tujuan hizb Salafy merupakan memberantas kebid’ahan, kesesatan, dll. Tetapi sayangnya mereka mengklaim diri mereka lebih baik dan lebih benar dari umat Islam yang lainnya. Sehingga tidak jarang mereka yang ghuluw (ekstrim) mudah untuk mentandzhir (berkata-kata buruk) kepada umat Islam yang lainnya. Sehingga tidak jarang terjadi gejolak diantara umat Islam yang lainnya.

Struktur Hizb Salafy ini tidak begitu rapi, mereka cenderung mengajarkan sesuatu dan menafikkan ajaran yang lainnya. Seperti halnya di Arab Saudi, makna jihad yang diperuntukkan oleh-oleh orang kafir, sangat “terlarang” untuk dibuat menjadi kajian umat Islam. Dan mereka dikontrol untuk tidak mengajarkan makna jihad untuk orang kafir, kecuali berjihad memberantas kebid’ahan, kesesatan, dll. Maka tak jarang bahkan mereka mengatakan orang yang duduk dengan ahlul bid’ah itu tidak akan mendapatkan hikmah. Hal ini sudah sangat jelas ghurur, dan sangat menyelisihi Allah. Setiap manusia itu merupakan urusan Allah mau diberi hikmah atau tidak, bukan karena dia duduk dengan ahlul bid’ah.

Dan terbuktinya Hizb Salafy ini sebagai hizby adalah salah satunya membuat sebuah ma’ahad (universitas/sekolah/dll). Karena membentuk ma’ahad tentunya harus ada struktur keorganisasian yang jelas. Ini sekarang berkembang pesat di Indonesia. Beberapa waktu lalu, ketika Laskar Jihad terbentuk. Ini pun menjadi sebuah hizby, yang akhirnya dibubarkan oleh para syeikhnya karena mereka (Laskar Jihad) menyerupai sebuah hizby. Padahal, pembubaran tersebut juga menjadi hal pembenaran bahwa Hizby Salafy itu memang benar-benar ada. Kenapa? Karena sangat jelas sekali garis komando sebuah organisasi itu pasti ada. Nah garis komando tersebut dipegang oleh para syeikh mereka di “atas”.Dengan begitu ada “struktur” organisasi, walaupun tidak mutlak berstruktur. Pada dasarnya pembubaran Laskar Jihad tersebut tidak hanya bersumber pada para syeikh-nya. Tetapi atas desakan dari berbagai unsur termasuk pemerintahan, untuk dibubarkannya Laskar Jihad.

Padahal, pada dasarnya salaf itu merupakan sebuah manhaj (metode/jalan) yang dijadikan sebuah madzhab (madzhab manhajy), seperti dalam pengertian Al-Ghazali dalam Iljamul ‘Awwam ‘An ‘ilmil Kalam hal.62 “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan Tabi’in”

Seperti halnya Muhammadiyah, apakah para pengikut organisasi ataupun Hizby Muhammadiyah paling “mengikuti” Muhammad, Saw? Dan apakah mereka boleh mengklaim diri mereka paling “mengikuti” Muhammad, Saw? Karena jelas, “ya” dalam akhiran tersebut adalah “pengikut”. Tentu mereka tetap tidak diperbolehkan mengklaim diri paling mengikuti manhaj-nya Rasulullah, bukan. Walaupun memang pada kenyataannya Muhammadiyah lebih cenderung mengikuti aturan-aturan Rasulullah.

Jika kader Hizby Salafy menolak dikatakan Hizby terhadap gerakannya dan membenci hizby yang lain, maka mereka sudah selayaknya keluar dari negara Indonesia ini. Karena pada dasarnya, negara ini merupakan negara hizby. Negara yang dikelola dalam sebuah kelompok organisasi dalam mengatur elemen masyarakat yang didalamnya. Jadi setiap orang yang mempunyai KTP merupakan anggota dari Hizby Indonesia. Dan ketika menolak mempunyai KTP, maka mereka bisa “dianggap” makar oleh Pemerintahan Indonesia, dan hal ini jelas haram hukumnya makar terhadap pemerintahan.

Dalam fatwa Sayikh Shalih Al-Fauzan, beliau menyatakan bahwa Salaf adalah hizbullah ‘golongan Allah’. Salaf adalah golongan, akan tetapi ia adalah hizbullah. Allah berfirman:

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadillah [58]: 22)

Dan seperti ucapan Ali radihyallahu’an. “Kebenaran yang tidak terkelompok/terorganisasi/ter-hizby akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terkelompok/terorganisasi/ter-hizby”

Menisbatkan (menyandarkan diri) Salaf Pada Nama Orang

Banyak sekali para kader Hizby Salafy yang menisbatkan namanya kepada salaf seperti halnya dengan embel-embel As-Salaf atau yang lainnya. Hal ini tidak ada tuntunannya dalam Islam. Beberapa orang memakai sebuah hadits untuk membenarkan hal tersebut (menisbatkan diri). Dengan hadits “Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”. Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no.2450. Ucapan Rasulullah kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha.

Atau ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal 149 : “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran”.

Pada dasarnya hadits Rasulullah tersebut bukan menyandarkan kepada nama Rasulullah kepada salaf, tetapi Rasulullah ingin menyatakan tentang sebaik-baik “orang yang terdahulu” adalah Rasulullah. Hal ini tidak terbantahkan, karena Rasulullah adalah uswatun khasanah bagi kita semua.

Tentang pernyataan Syaikhul Ibnu Taimiyah, bermanhaj salaf adalah keniscayaan namun bukan berarti mengklaim diri kita paling salafi dari yang lain. Sehingga menafikkan umat Islam yang lain. Apakah bukan menjadi kesombongan manakalah kita mengklaim diri kita adalah pengikut orang-orang baik?

Generasi ulama salaf merupakan generasi yang tak terbantahkan keimanan dan ketaqwaan serta pemahaman mereka terhadap Islam. Lalu apakah pantas ada orang yang menyatakan diri paling mengikuti amalan mereka (ulama salaf)?

Setidaknya mana ada orang yang menyatakan diri dihadapan orang banyak dengan mengatakan “Saya orang baik loh!” atau mengatakan “Saya ini pengikut orang baik loh!”

Hal ini juga harus di ingat, seandainya penisbathan nama ini hal yang biasa dilakukan umat Islam. Maka hal yang patut di buat “embel-embel” nama adalah Muhammadiyah. Karena akhiran “ya”-nya tersebut jelas menjelaskan “pengikut”. Dan tidak perlu lagi mengklaim paling “Muhammadiyah” (paling mengikuti Rasulullah Muhammad, saw) karena jelas orang-orang yang “mengikuti” Muhammad pasti menjalankan aturan dan menjauhi hal yang dilarang dalam Islam.

Yang menjadi ingatan kita adalah bukan hanya pada penisbathan kepada ulama salaf. Tetapi esensi yang terkandung dalam pelajaran yang dapat diambil substansinya ketika kita bermanhaj salaf. Seperti halnya, bagaimana ulama salaf menghargai perbedaan ijtihad ulama masing-masing tanpa harus merasa paling benar sendiri. Tidak pernah mentandzhir kepada siapapun, salalu berbaik sangka terhadap setiap ulama yang berbeda pendapat/ijtihad dan tidak terburu-buru dalam berfatwa.

Iklan

8 Tanggapan

  1. Artikel yang bagus mas.

    Ada tips untuk membeli komputer di
    http://kenmahdi.wordpress.com

    silahkan mampir….

    Jawab Abu Jaisy:
    Terima kasih bos, insya Allah sangat berguna sekali 🙂

  2. tafsir anda lebih bagus dari tafsir syeikhul Islam ibnu taimiyah ya tentang penisbatan diri kepada salaf? kenapa anda gak protes ke muhammadiyah sekalian muhammadiyah kan menyandarkan diri sebagai pengikut nabi? bahkan membawa2 nabi muhammad sebagai embel2 organisasinya. padahal bukan berarti orang muhammadiyah merasa yg paling ngikut nabi muhammad shallallahu alaihi wa sallam khan?sama juga dgn salaf dasarnya juga jelas hadist bukhari diatas

    “Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”. Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no.2450

    dan dijelaskan lagi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal 149 : “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran”.

    Jawab Abu Jaisy:
    Loh kapan saya menisbatkan diri paling pintar dari Ibnu Taimiyah? Kapan saya kontradiktif dengan Ibnu Taimiyah? Diparagraft keberapa? Apakah Ibnu Taimiyah mengklaim diri beliau paling mengikuti ulama salaf dari ulama yang lain? Dikitab apa beliau menyatakan diri paling mengikuti ulama salaf dari ulama yang lain? Tolong dijelaskan!

    Wah, antum kurang cermat membaca rupanya. Mungkin terlalu terburu-buru. Coba akhi, kalau membaca dengan tenang. Walaupun kita berbeda pendapat, tetapi bacalah dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi, sehingga antum malah terlihat tidak cermat dan tidak ilmiah dalam berdialog.

    Yang saya maksud, Muhammadiyah itu adalah sebuah contoh. Sangat jelas sekali bukan, orang-orang Muhammadiyah (Insya Allah saya juga termasuk orang Hizby Muhammadiyah) tidak pernah menisbatkan diri pada nama yang ada embel2nya “Muhammadiyah”, yah layaknya saya misalkan memberikan embel2 nama Fajar Agustanto Al Muhammadiyah, hehehe. Tapi tidak bukan! 😀
    Dan Muhammadiyah tidak pernah mengklaim diri mereka paling mengikuti Rasulullah dari Organisasi/Hizby yang lain.

    Bahwa Muhammdiyah tidak bisa mengklaim diri mereka paling mengikuti Rasulullah itu sebuah keniscayaan. Begitu juga Hizb Salafy, tidak boleh mengklaim diri mereka paling mengikuti ulama salaf (Rasulullah). Nah jika seperti itu, hanya nama hizby saja yang bisa dipakai. Seperti halnya Muhammadiyah atau Hizby Salafy (dengan embel2 Hizby). Kalau tidak ada embel2nya berarti merasa sudah paling mengikuti ulama salaf yang lain bukan? Padahal mengikuti Ulama salaf itu hak setiap umat Islam, tidak boleh dimonopoli oleh segelintir orang saja dengan mengklaim diri mereka paling mengikuti ulama salaf!

    adapun pernyataan antum ttg hizb salaf memang hizb seperti yg dikatakan

    Syaikh Shalih Al-Fauzan, beliau menyatakan bahwa Salaf adalah hizbullah ‘golongan Allah’. Salaf adalah golongan, akan tetapi ia adalah hizbullah. Allah berfirman:

    “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadillah [58]: 22)

    adapun yg ditentang salaf adalah sikap hizbiyyah dan hizbiyyah bukan hizbullah.

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Alllah. Afwan, sudah merasa diri berada dibarisan hizbullah kah antum? Jika seperti itu, antum sombong sekali! Saya kan sudah menjelaskan bahwa hakekat mengikuti ulama salaf adalah substansinya, seperti penjelasan Syaik Shalih Al-Fauzan. Beliau menyatakan substansinya yang diambil, bukan kesombongannya! Jadi setiap orang yang mengikuti ulama salaf maka mereka adalah hizbullah, walaupun ngajinya tidak dikajian yang sering “antum” adakan.

    Dari artikel diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa antum tidak bisa menafikkan bahwa antum dan ikhwa2 yang lainnya masuk kedalam jaringan hizby! Jadi jika antum menolak hizby, atau dengan pake email “nohizbi” berarti antum menafikkan kebenaran. Dan hanya orang-orang munafik yang menafikkan kebenaran tersebut. Semoga kita tidak masuk dalam golongan orang-orang yang dibenci Allah. Amien.

  3. Pendiri salaf itu sendiri adalah Nabi muhammad Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam..
    Salafy bukanlah hizby tapi penisbahan/penyandaran diri terhadap para salaf as-Sholeh (pendahulu kita yang soleh) yaitu Rasululloh shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Hal itu berdasarkan sabda nabi kepada kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha berikut ini:

    “Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya” (Bukhari dan Muslim)

    Apakah setiap mukmin yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salaf dikatakan hizby ?
    Jika antum menganggap hal tersebut sebagai hizby, maka otomatis antum mengatakan tabiin, tabiut tabiin dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah hizby…naudzubillah

    Jawab Abu Jaisy:
    😀
    Baca sekali lagi dengan tenang, dengan hati yang tawadhu’ dan selalu berharap ingin mendapatkan ilmu baru. Siapakah sebanarnya Hizby Salafy, yang berasal dari gerakan dakwah Salafiyah al-Mubtasiba. Insya Allah antum paham siapa pendiri gerakan dakwah tersebut, yang di Indonesia disebut Salafy. Atau kalau saya menyebutnya Hizby Salafy, setaraf dengan HTI, Muhammadiyah, NU, Tarbiyah, dll.

    Tolong dibaca yang jeli dulu, baru berkomentar. Karena jika tidak seperti itu, namanya tidak ilmiah! 🙂

    Terima kasih atas kunjungannya

  4. makasih infonya…!

  5. Distrosi Analogi Dalam Kebebasan Berpikir

    Tulisan ini sengaja kami turunkan menyikapi keadaan yang terjadi sekarang ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

    “Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. (HR. Ibnu Majah)

    Di mana setiap orang secara bebas nyatakan pemikirannya terkhusus di internet dengan gaya bahasa yang dibuat tanpa kontrol dalam mengkritik perkara yang sudah baku dan tak ada hak otoritas baginya dalam hal terdapat di bawah ini :
    “Ironisnya, mereka paling anti disebut sebagai hizby/golongan/organisasi/kelompok tetapi pada kenyataannya gerakan ini mempunyai pusat komando dari para syaikhnya. Pada dasarnya setiap system komando (pengatur) merupakan bentuk dari hizby itu sendiri. Walaupun mereka tidak harus mempunyai struktur keorganisasian yang jelas”

    Jawab :
    Alasan kenapa Salaf bukan hizb, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Salim bin Id Al-Hilali dalam kitabnya Basha’ir Dzawi Asy-Syaraf bi Syarhi Marwiyyat Manhaji As-Salaf, sebagai berikut :

    Salafiyah adalah manhaj. Ia merupakan metoda memahami Islam; metoda memahami al Qur`an dan Sunnah. Ia bukan suatu “harakah” atau “gerakan” yang muncul pada masa tertentu di zaman ini dengan ditokohi oleh orang atau kelompok tertentu seperti yang disangka oleh sebagian orang yang tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, atau apriori terhadap kebenaran. Salafiyah merupakan penisbatan kepada Salaf, dan ini merupakan penisbatan terpuji kepada manhaj (metoda pemahaman terhadap al Qur`an dan Sunnah) yang benar, bukan merupakan madzhab baru yang diada-adakan secara bid’ah.

    Jawab Abu Jaisy:
    Benar, di internet orang bebas menyatakan pemikirannya, bahkan menyesatkan, menbid’ahkan juga berbuat dusta terhadap fitnah-fitnah umat Islam mudah dilancarkan di internet ini.

    Please deh! Ikhwanul Muslimin juga menyatakan diri bermanhaj Salaf. Ingat itu! Kalau manhaj its ok, tidak ada pertentangannya disitu. Tetapi adakah seorang ulama mengklaim diri mereka paling mengikuti ulama salaf dari ulama yang lain? Jika ada, kesombongannya tidak terbantahkan itu!

    Nah sekarang bagaimana dengan Muhammadiyah. Kenapa tidak menyatakan dirinya Muhammadiyah, kenapa harus mengikuti ulama Salaf bukan mengikuti Muhammad. Jadi kenapa harus mengucapkan “kita harus mengikuti salaf”, kenapa bukan “Kita harus mengikuti Muhammad”. Kalau mengikuti Muhammad kan sudah jelas! Jadi kalau begitu yang pantas mengklaim bermanhaj yah seharusnya Muhammadiyah! Bukan salaf! Ini logikanya seperti itu.

    Tetapi ini metode/jalan/manhaj tidak boleh diklaim oleh salah satu pihak. Sudah jelaskan saya utarakan diatas. Ulama Salaf itu representatif untuk dijadikan manhaj seluruh umat Islam. Tidak boleh ada yang mengklaim diri paling salafi. Seperti juga Muhammadiyah, karena Rasulullah Muhammad adalah representatif untuk diikuti oleh seluruh umat Islam, tidak boleh ada yang mengklaim paling Muhammadiyah dari pengikut Muhammad yang lain. Nah kalau hanya sebatas nama organisasi/hizby, its ok! Sekarang mana ada orang Muhammadiyah mengklaim diri mereka paling mengikuti Muhammad, sejak dibentuknya Muhammadiyah oleh Kh. Ahmad Dahlan, tidak pernah tuh menyesatkan umat Islam yang lain. Apalagi Kh. Ahmad Dahlan mengaku jamaahnya paling mengikuti Muhammad. Tidak ada tuh klaim seperti itu.

    Substansinya itu yah disini “Ulama salaf tidak bisa dimonopoli oleh salah satu jamaah, kecuali sebuah nama jamaah/organisasi/hizby itu sendiri”

    Perhatikan kalimat “setiap system komando (pengatur) merupakan bentuk dari hizby itu sendiri”,

    Betapa lancangnya mereka nyatakan manhaj Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-dikritik dengan analogi yang keliru bahwa itu merupakan hizb. Sedangkan kita ketahui bersama garis komando dalam syariat ini adalah berpegang dengan apa yang ditempuh oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti jejak mereka (Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani rahimahullah dalam Ushulus Sunnah).

    Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Kebenaran tidak diukur dengan orang, tetapi oranglah yang harus ditimbang dengan kebenaran. Inilah timbangan yang benar. Meskipun kedudukan dan derajat seseorang dapat berpengaruh bagi diterimanya perkataannya, sebagaimana diterimanya berita orang adil atau diabaikannya berita orang fasik, akan tetapi itu bukan tolok ukur kebenaran sama sekali. Sebab manusia adalah orang yang bisa luput dari kesempurnaan ilmu, dan dari kekuatan pemahaman, sesuai dengan seberapa besar kadar ilmu dan pemahaman yang terluput darinya. Bisa jadi seseorang merupakan orang yang kuat dalam beragama dan memiliki akhlak, namun mungkin ia adalah orang yang kurang ilmu dan lemah pemahamannya, sehingga terlepaslah kebenaran darinya sebesar kekurangannya dalam ilmu dan kelemahannya dalam pemahaman. Atau ia merupakan seseorang yang tumbuh pada suatu cara beragama tertentu atau madzhab tertentu, dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangka bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada dirinya. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya” (Al-Qawa’id Al-Mutsla Fi Shifatillah wa Asma’ihi Al-Husna)

    Jawab Abu Jaisy:
    Jika anda menyatakan apa yang saya maksud itu manhaj, maka anda menfitnah saya! Saya tidak pernah mengkriti manhaj adalah hizby! Kecuali anda sendiri yang mengaku-ngaku bermahaj Salafy dengan nama hizby Salafi. Jadi sangat jelas sekali, silahkan anda bermanhaj salaf. Tetapi jangan salahkan orang lain yang bermanhaj salaf yang lain juga mengaku dirinya mengikuti ulama salaf.


    Saya salinkan tulisan anda
    mengikuti jejak mereka (Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani rahimahullah dalam Ushulus Sunnah).

    Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin menyangkal tulisan anda sendiri
    “Atau ia merupakan seseorang yang tumbuh pada suatu cara beragama tertentu atau madzhab tertentu, dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangka bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada dirinya. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya” (Al-Qawa’id Al-Mutsla Fi Shifatillah wa Asma’ihi Al-Husna)”

    Dari pernyataan anda yang pertama, anda berpegang teguh kepada Rasulullah, dan mengikuti jejak mereka dengan yang anda tulis dan anda kasih tanda “()” untuk mempertegas kita agar mengikuti Imam Ahmad. Dengan begitu, sudah sangat jelas sekali bahwa anda tumbuh sebagai seorang yang pada suatu cara beragama tertentu atau bermadzhab tertentu. Dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangkal bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada golongan anda sendiri.

    Betapa dahsyatnya seseorang yang kurang ilmu dan lemah pemahaman jika berfatwa terhadap masalah agamanya tanpa disadari telah membuat kerusakan, terkhusus terhadap dirinya dan ummat pada umumnya, karena mata hatinya telah tertutup untuk melihat kebenaran tersebut sehingga tidak bisa membedakan antara haq dan bathil.

    Jawab Abu Jaisy:
    Yups, benar sekali. Makanya anda harus banyak belajar kepada syaikh-syaikh anda dan menerima banyak pemahaman tentang perbedaan ijtihad, dan belajar bagaimana para ulama Salaf, agar tidak membuat kerusakan terkhusus terhadap diri anda dan umat pada umumnya. Sehingga anda tidak bisa membedakan antara haq dan bathil

    Perhatikan kembali kutipan di bawah ini :
    “ Dan terbuktinya Hizb Salafy ini sebagai hizby adalah salah satunya membuat sebuah ma’ahad (universitas/sekolah/dll)”

    Jawab ::
    Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron pernah menjelaskan masalah ini secara ilmiah tanpa dilandasi suatu kepentingan lain, sebagai berikut : Menurut asal hukumnya adalah halal, kecuali bila organisasi tersebut membawa mafsadah atau kerusakan pribadi, umat atau agama Islam, maka hukumnya haram, sebagaimana kaidah usul yang mengatakan al-ashlu fil-asyya’-al-ibahah (asal segala sesuatu hukumnya mubah).

    “Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [Al-Baqoroh : 29]

    Lantas bagaimana bila mendirikan partai, jama’ah, golongan dengan tujuan berdakwah!?

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, saya sering menghadiri ustad dari Gresik tersebut. Saya pernah memakai baju Parta, dan menanyakan kepada beliau. Lalu jawaban pada intinya “diperbolehkan, selama membuat kemaslahatan kepada ummat” Jangan mengira saya tidak pernah hadir dari halaqah anda. Bahkan menghadiri syaikh yang kalian cela sekalipun saya menghadiri mereka. Karena kami melihat kalian sendiri saling berseteru mengklaim diri paling salafi. Hehehe, lucu. Para Hizby Salafi saling mengklaim diri mereka paling salaf. Dan penjelasan diatas sudah sangat jelas sekali, bahwa dibolehkannya berpartai dan membuat organisasi selama memberikan kemaslahatan. Hal ini sama dengan apa yang difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz
    “Al-Ishlah : Para mahasiswa banyak bertanya tentang hukum masuknya para ulama dan duat ke DPR, parlemen dan ikut pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalankan syariat Islam. Bagaimana aturannya ?.

    Syaikh Bin Baz : Masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke parlemen, DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun bila seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta, maka dia telah masuk untuk membela agama Allah SWT, berjihad di jalan kebenaran dan meninggalkan kebatilan.

    Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandang bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya. Bila dia masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal bashirah hingga memberikan posisi pada kebenaran, membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan, semoga Allah SWT memberikan manfaat dengan keberadaannya hingga tegaknya syariat dengan niat itu. Dan Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu.

    Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau haus kekuasaan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat, membela kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-argumennya, niscaya majelis ini memberinya ganjaran yang besar.

    (Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H. Terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).”

    Juga fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
    Syaikh Al-’Utsaimin : Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala’. Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah untuk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya di mana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya. Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah.

    Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini (DPR), pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak memasukinya, namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar mengausai masalah, memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak.

    (Majalah Al-Furqan – Kuwait hal. 18-19 Zulhijah 1411 )

    Jadi apanya yang salah? Apakah anda akan menyalahkan saya lagi dengan mempertanyakan sumbernya. Kalau seperti itu, anda yang tidak ilmiah. Sudah dijelaskan sumbernya kok masih nanya lagi, berarti kayak Yahudi karena banyak bertanya lihat Al Baqarah. Dan Rasulullah pun beberapa kali kesal terhadap orang-orang yang sering banyak bertanya.

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat orang mengajak umat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma ulama Sunnah. Adapun ciri ahli bid’ah mereka mengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yang mengakibatkan umat berpecah belah, mereka mencintai umat karena mengikuti peraturan golongannya dan memusuhi orang yang tidak mengikuti golongannya” [Dar’ut Ta’arudh 1/149]

    Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Al-Rum : 31-32]
    Jawab Abu Jaisy:
    Lalu jelas kalau begitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz yang mendirikan gerakan dakwah Salafiyah al-Mubtasiba juga termasuk menyekutukan dan memecah belah agama dan menjadikan beberapa golongan. Dan tiap-tiap golongan bangga terhadap golongan mereka. Seperti anda bangga terhada golongan anda “Saya loh salafy yang paling salaf” 😀
    Lalu seperti Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz atau juga Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang menjadi salah satu tokoh agama di Arab Saudi yang jelas termasuk mengangkat orang dan mengajak umat untuk mengikuti pola hidup dan aturan Saudi, masuk kedalam fatwanya Ibnu Tiamiyah yah? 😀

    Syaikh Abu Anas Ali berkata : “Sesungguhnya partai dan golongan yang memiliki peraturan yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah ditolak oleh ajaran Islam, karena tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang membolehkan umat Islam berpartai dan bergolong-golongan, justru sebaliknya kita jumpai banyak dalil yang mencela berdirinya beberapa partai dan golongan, misalnya firman-Nya yang tercantum dalam surat Al-An’am : 159 dan Ar-Rum : 32, bahkan dampak yang kita ketahui dengan adanya banyak partai dan golongan satu sama lain saling menjelekkan, mencaci dan memfasikan, bahkan boleh jadi lebih dari pada itu, mengkafirkan yang lain tanpa dalil” [Kaifa Nualiju Waqanal Alim 199-200]

    Jawab Abu Jaisy:
    Fatwanya kan sudah jelas “partai dan golongan yang memiliki peraturan yang menyelisihi Al Quran dan As-Sunnah”. Apakah pernah kami mengkafirkan orang, menyesatkan orang lain? Tidak! Justru kalian yang melakukan itu. Nah sangat jelas sekali kalian membuat Hizby Salafy lalu mengkafirkan, menyesatkan, menbid’ahkan, dll umat Islam yang lain. Sudah tentu kalianlah yang membuat golongan dan menyelisihi ulama salaf!
    Tidak perlu ada kata “partai, organisasi, dll” untuk membuat hizby. Tetapi substansinya yang dimaksud itu apa. Sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan taklid buta terhadap seorang ulama.
    Sebenarnya saya bisa juga membawa berbagai macam dalil dari ulama yang saya ikuti. Tapi mungkin itu terlalu sulit bagi anda, lebih baik dalil yang anda kemukakan saja saya jawab. Karena sebenarnya dalil-dalil dan hujjah yang kalian lontarkan bisa menjadi boomerang bagi kalian sendiri!

    Semoga diambil bermanfaat

    Abah Rasyid

    Jawab Abu Jaisy:
    Amien. Semoga apa yang saya utarakan memberi manfaat kepada anda juga.

    Abu Jaisy

  6. syukran jiddan infonya,,,ana juga ikut pengajian salafi akh…tapi pertama datang bukannya tenang hati malah panas hatii…heheh,,
    di daeraha ana ada seorang ustadz namanya abu qatada(alumni persis cempakwarna)
    ketika tidak stuju beliau langsung datang ke ustadz ana(ustadz pimpinan pesantren persis)
    bedanya kalau ustaz abu qatada memperuncing kalau ustad aman meluruskan..

    Jawab Abu Jaisy:
    Inilah kita, yang selalu tidak taklid buta terhadap ulama, inilah kita yang tidak ashabiyah terhadap harakah kita. Mari terus kita lestarikan!!! Kajian boleh dimanapun, yang terpenting tidak mengklaim diri kita paling benar sendiri. 🙂

  7. Jazakallahu khoiron katsir ya akhi, ana paham yg antm maksud! ana paham! anadapat faedah banyak dari tulisan antm, uhibbuka fillah. oya ana minta nasihatnya, gmna ya kiat2 mengalahkan hawa nafsu!

    Jawab Abu Jaisy:
    Masya Allah, afwan telat jawabnya.
    Mengalahkan hawa nafsu yah? Nafsu itu terdiri dari beberapa kriteria, antara yang baik dan yang buruk. Nafsu yang baik terdiri dari Nafsu Mutmainah, Nafsu Raudiah, Nafsu Kamaliah, Nafsu Mardiah. Dan nafsu yang buruk itu adalah Nasfu Amarah, Nafsu Lawamah, Nafsu Marhamah. Nah tentu, jangan sampai kita mengalahkan nafsu yang baik, bisa tambah dosa kita 🙂
    Kalau untuk nafsu yang buruk, jelas harus dikalahkan tentunya. Rasulullah menyuruh kita untuk selalu membersihkan jiwa kita dengan Tazkiyatun Nafs. Tentunya dengan selalu tidak melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan selalu mengerjakan apa-apa yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

  8. kl gt mau tanya?
    1. Kl saya awam, trus byk yg ngaku salaf, saya belajar ke siapa?

    Jawab Abu Jaisy:
    Pada hakekatnya ulama salaf (terdahulu) itu banyak, versinya juga macam-macam. Tahukah kita orang yang selalu mengagung-agungkan ulama salaf dengan kajian ilmiahnya yang kami sebut sebagai hizby Salafy adalah kelompok penggiat Madzhab Imam Ahmad. Nah, alangkah lebih baik kita selalu belajar dan belajar tanpa harus menganggap kebenaran hanya kepada satu madzhab saja. Sehingga tidak terdoktrin kepada satu madzhab dan “menistakan” madzhab yang lainnya. Alangkah lebih baik kita mendapatkan seorang ustad/syaikh/Kyai/ulama yang mampu memberikan pilihan-pilihan madzhab. Jadi bukan mengajarkan kepada satu madhzab saja. Saya sangat terkesan dengan (salah satu ulama yang dijadikan rujukan Hizby Salafy) Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin atas taujih beliau kepada seluruh umat Islam:
    “Atau ia merupakan seseorang yang tumbuh pada suatu cara beragama tertentu atau madzhab tertentu, dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangkal bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada dirinya. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya” (Al-Qawa’id Al-Mutsla Fi Shifatillah wa Asma’ihi Al-Husna)”

    2. kl ada 2 kelompok mengaku salaf, prinsip dasarnya berbeda sekali, saya hanya bs berpikir 3 kemungkinan:
    a. Keduanya tidak mungkin benar
    b. Salah satunya benar
    c. Keduanya salah.

    Jawab Abu Jaisy:
    Setiap ulama salaf itu sering sekali berbeda pendapat. Dalam masalah fiqh tidak bisa kita meraba tentang hitam putihnya sebuah kebenaran. Kebanaran itu jelas mutlak Allah yang akan menghakiminya nanti atas fatwa dari setiap fiqh ulama salaf. Dan masalah ijtihad dari furu’iyah ataupun khilafiyah para ulama salaf sudah dijelaskan tentang pahala masing-masing. 2 pahala bagi yang benar, dan 1 pahala bagi yang salah dan itu semua sudah diatur oleh Allah di akhirat nanti. Perkara mana yang benar, itu urusan Allah bukan manusia. Alangkah baqhilnya seorang manusia yang dengan congkak merasa diri paling benar dari para ulama salaf yang saling berbeda pendapat. Padahal kedua-duanya juga memberikan dalil yang kuat satu sama lainnya. Dan tahu kah kita, setiap penggiat satu madzhab yang saya temui selalu melemahkan madzhab yang lainnya. Betapa congkaknya kita merasa paling benar dari para ulama salaf yang mulia. Satu contoh, Imam Syafi’i memakruhkan menggerakkan telunjuk di saat tasyahud, tetapi Imam Ahmad berbeda lagi dengan mempertegas untuk melakukannya, sedangkan Imam Malik sendiri juga berbeda dari kedua Imam tersebut, juga imam Abu Zuhri. Nah yang benar yang mana? Yang benar adalah yang tidak ragu atas keputusannya mau ikut yang mana. Taklid kepada ulama salaf itu boleh, tetapi jangan sampai terbutakan sehingga “menistakan” madzhab yang lainnya.

    3. yg ana tau, wahdah islamiyah mengaku salaf, IM mengaku salaf, Sururiy mengaku salaf, pokoknya banyak deh yg ngaku..jk mereka bukan manhaj, lantas manhaj mrk apa? kl dblg al-qur’an dan assunnah, kenapa masalah aqidah mereka berbeda, beda banget lagi, satu hakimiyah, satu sufiyyah (rububiyah doang), satu lagi???

    Jawab Abu Jaisy:
    Kalau seperti itu berarti kita harus tahu arti manhaj itu sendiri. Sehingga tidak bingung dalam mengartikan manhaj. Setiap jalan dakwah itu bermanhaj salaf, dan itu tidak bisa dipungkiri. Adakah seorang yang berani mengaku paling salafy dari umat Islam yang lainnya? Jika ada berarti mereka adalah orang yang sombong. Selama ini para penggiat buku-buku penentang Harakah Islamiyah seperti Wahdah Islamiyah, IM/Tarbiyah, NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad. Mereka hanya sebatas buku-buku dan ceramah kepada golongan mereka sendiri. Tetapi ketika mereka diundang untuk tabayyun atas tulisan dalam buku-buku mereka, mereka salalu mengelak dan menolak untuk datang. Ini fakta loh! Bukankah memberikan kebenaran yang haq itu adalah kewajiban, seandainya mereka memang benar kenapa takut atas undangan para ulama-ulama harakah tersebut? Kenapa hanya berani menerbitkan buku-buku yang menikam umat Islam sendiri! Coba bayangkan saja, buku-buku, dakwah-dakwah mereka didanai oleh Arab Saudi, tetapi Arab Saudi sendiri senang bekerja sama dengan Yahudi/Israel dan kafir Amerika. Apalagi ada sebuah fatwa dari ulama Hizby Salafy dari Saudi yang tidak membolehkan jihad dipalestina dengan senjata. Apakah seperti itu disebut bermanhaj salaf? Bukankah ulama salaf itu sangat “terdepan” dalam mengangkat senjata kepada kaum kafir dan Yahudi.

    4. jk tdk boleh mentahdzir ahlul bid’ah, kenapa ALLAH hy mencaci abu lahab, pdhl org ‘arab baik bersilaturahim, kenapa Nabi menyuruh membunuh khowarij, padahal sholat dan ngaji mereka melebihi shohabat?? trus knp imam malik, menghajr org yg mngatakan qur’an itu makhluq, pdhl dia ahlul ibadah? saya jd bingung, kl ada orang A yg saya kenal dia tukang tipu dan klepto,pasti saya gak ingin temen dekat saya jd korban dia.. gak mungkin saya muji2, misalnya saya katakan, “meskipun begitu dia penyayang, dermawan, dll..” kl saya blg gitu, pasti temen saya bingung, jd si orang A ini baik apa nggak?? jadiin temen atau nggak.. hmm..

    Jawab Abu Jaisy:
    Apakah Islam mengajarkan mencaci? 🙂
    Saya tidak setuju jika ayat-ayat Allah disebut mencaci seseorang. Karena Al Quran itu diturunkan dengan seindah-indahnya bahasa yang ada di dunia. Dan jika “mencaci” pun bahasanya sangat halus, bukan bahasa caci maki pada umumnya yang dilakukan manusia. Lalu juga kalau seandainya Allah mengajarkan caci maki, jelas kontras dengan dalil-dalil yang lain tentang akhlaq seorang muslim. Seperti
    “Mencaci-maki seorang mukmin adalah suatu kejahatan, dan memeranginya adalah suatu kekufuran. (HR. Muslim)” Atau “Sahabat Ibnu Mas’ud ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Mencaci maki seorang muslim adalah perbuatan fasik, sedang membunuh seorang muslim adalah tindak kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Dan perlu di ingat bahwa Abu Lahab adalah seorang kafir, bukan muslim.
    Konteksnya berbeda dengan khawarij yang telah bersikap ghuluw (ekstrim). Dalam sebuah hadits dikatakan
    “Abu Said al Khudri berkata; Sewaktu Rasulullah saw sedang membahagi-bagikan harta (kepada kaum Muslimin) tiba-tiba Dhul Khuwaysirah al Tamimiy datang dan berkata: ”Berlakulah adil wahai rasulullah”. Mendengar teguran yang kasar itu baginda berkata: ”Celakalah kamu, siapakah yang akan menegakkan keadilan sekiranya aku tidak melakukannya?”. Umar bin Khtatab mencelah, ”Wahai Rasulullah, adakah Anda membenarkanku untuk memancung lehernya?”. Baginda menjawab: ” Biarkanlah dia karena suatu hari nanti dia akan mempunyai pengikut yang akan mencela shalat kamu semua dengan membandingkan dengan shalat mereka, mereka juga mencerca puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, mereka keluar daripada agama (Islam ) sederas anak panah yang keluar daripada busurnya ” ( Sahih Muslim/2456; Sahih Bukhari/6933; Kitab Muwattha/156; Sunan Abu Daud/6741).

    Dan kenapa khawarij itu harus “dibumi hanguskan”!? Inilah haditsnya:
    Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul dinatara umatku kaum yang membaca Al-Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Quran itu milik mereka sahaja, padahal sebenarnya Quran itu akan melaknat mereka, Tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah daripada busurnya ” (Sahih Muslim/ 2467, Sunan Abu Daud/4748 ).

    Said al Khudri menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul diantara kamu kaum yang menghina shalat kamu dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, amal perbuatan kamu dibandingkan dengan amap perbuatan mereka, mereka itu membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka tidakakan melewati kerongkongan mereka, dan mereka akan memecah agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya ” (Sahih Bukhari/5058 ).

    Nah, jika merujuk pada beberapa dalil diatas (sebenarnya masih banyak sekali hadits yang senada diatas) maka seharusnya kita berfikir ILMIAH. Siapakah kelompok-kelompok yang merasa paling benar dalam shalatnya sehingga menghina shalat yang merujuk pada madzhab lain. Walaupun dengan predikat Ahlu sunnah atau salafy jika mereka bertindak seperti itu maka secara jelas hadits diatas bisa dipakai buat mereka bukan? Lalu siapakah yang lebih layak diperangi ahlul bid’ah atau khawarij. Sedangkan jelas-jelas sekali khawarij lebih toleran kepada kaum kafir daripara umat Islam sendiri. Dan ini sudah dijelaskan dalam beberapa fakta fatwa yang lebih menguntungkan kaum kafir ketimbang muslim yang dilakukan oleh beberapa hizby yang mengaku paling mengikuti ulama salaf. Dengan menjadikan musuh utama dengan alasan “kebid’ahan” terhadap umat islam yang lainnya. Dan bersikap lembek kepada kafir Harby dan Yahudi yang memerangi umat Islam.

    Dalam fatwa Imam Malik pun kita harus ingat bahwa beliau sangat tidak ingin madzhabnya berada pada seluruh umat Islam. Dan ini berbeda dengan para Hizby Salafy yang penggiat Imam Ahmad. Yang menyatakan tidak ada kebenaran selain dari pada mereka sendiri, atau tidak ada orang yang boleh mengikuti ulama salaf kecuali dari golongan mereka saja.

    Nah, bukankah Ikhwanul Muslimin tidak pernah mempermasalahkan madzhab? Dan Ikhwan lebih cenderung kepada pergerakannya untuk menyatukan Islam diatas panji Islam. Bukan menyatukan Islam diatas Madzhab satu ulama Salaf. Saya sendiri lebih sreg mengikuti Imam Ahmad, tetapi bukan berarti saya harus mengklaim Imam Ahmad lebih baik daripada imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Az Zuhri, dan imam-imam salaf yang lainnya.

    Bukankah Islam itu diturunkan untuk menyeru kepada kabaikan, lalu kenapa umat Islam takut untuk menyeru terhadap kebaikan terhadap ahlul bid’ah karena takut terwarnai? Bukankah Ahlul Bid’ah itu adalah orang Islam sendiri yang juga berhak untuk mendapatkan dakwah yang haq. Tetapi caranya tentu bukan dengan menjadi qadhi’ atau hakim sehingga menjustifikasi kesalahan mereka dengan terang-terangan atau dengan bersemangat mempublikasikan kebid’ahan mereka.

    Hidayah Allah itu datangnya kapan saja, bisa datang dengan cepat juga bisa lama. Yang terpenting proses dan cara dakwah itu sendiri yang harus dievaluasi setiap saat.

    Tetapi harus di ingat, kebid’ahan dengan ijtihad dari seorang ulama apalagi ulama salaf itu berbeda. Karena sering berkata bid’ah-bid’ah, saya sendiri sering menemui ustad dari hizby Salafy di kajian ilmiah yang ternyata tidak mengerti bahwa ada dalil dari seorang ulama salaf yang lain yang berbeda dari apa yang diapahami. Dan merujuk lagi, kuat atau lemahnya sebuah dalil juga tidak bisa hanya berdasarkan karena “si fulan riwayatnya lemah” atau “si fulan pernah melakukan kebohongan” dll. Karena pada dasarnya setiap madzhab itu ternyata mempunyai dalil yang sama-sama kuatnya. Dan satu sama lainnya mempunyai celah dari kelemahan masing-masing dalil.

    Kewajiban kita sebagai taklidun ulama salaf, seharusnya hanya mempelajari saja yang berguna untuk pengetahuan, bukan menghakimi para ahli ijtihad.

    ‘afwan ya saudaraku…
    saya bukan dr basic pendidikan agama islam, atau seorang ahlul hadits, ahlut tafseer, ahlul fiqh, yg bs mengomentari pernyataan diatas dgn bijak…
    hanya berusaha untuk belajar, berpikir dgn kemampuan otak yg segini, tidak berani untuk mengatakan “menurut saya” atau “pendapat saya” dlm hal agama..
    hy skdr bertukar pikiran..
    semoga ALLAH membimbing kita semua…
    tapi ana tidak mengenal sifat2 yg bbrp kawan diatas sebutkan ketika bermajelis dgn salafy…
    sebagian org mungkin ada, tp mrk jg belajar…
    krn salafy itu bkn tukang tahdzir, bukan itu pekerjaan intinya, tp ilmu ttg tahdzir mmg ada dalam kaidah ahlus sunnah dgn adab yg tepat…(insyaALLAH)
    Allaahua’LAM

    Jawab Abu Jaisy:
    Kita semua wajib untuk selalu belajar dan belajar. Sehingga kita mampu menelaah atas kebaikan yang akan kita ambil sendiri. Kebenaran dari ulama salaf itu berserakan. Kewajiban kita adalah mempelajarinya semampu kita. Bukan untuk justifikasi atau bahkan untuk membenarkan madzhab yang kita ikuti. Semua itu berguna untuk kematangan kita dalam menerima perbedaan dari umat Islam yang lain. Jika memang bid’ah katakan (dalam) hati bahwa itu bid’ah, tetapi jangan kita merasa pintar atau jago-jagoan sehingga berkata kasar apalagi dengan mentandzhir dengan keras kepada mereka. Bukankah Rasulullah sudah sangat jelas menyuruh kita untuk:
    “Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari”
    Sejauh ini dan selama saya mengikuti kajian hizby Salafy, mereka selalu selalu seperti itu dipertengahan atau disepertiga terakhir kajian. Tetapi bagi saya, hal yang buruk adalah sesuatu yang tidak perlu diambil dan dipergunakan, karena masih banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan dari semua kajian-kajian Islam yang saya ikuti.
    Cara dan adab mentandzhir sendiri ada kaedahnya. Dan itu sering sekali jika saya ingin mencari-cari kesalahan terhadap mereka (hizby Salafy) maka saya akan menunjukkan satu persatu daftar ustadz/syaikh yang tidak sesuai dengan ulama Salaf dalam mentandzhir. Karena sudah sangat jelas, Allah dan Rasulnya sangat mengharamkan umat Islam yang selalu mencari-cari kesalahan, kelemahan dari umat Islam yang lainnya. Tentu hal ini juga semoga dipahami oleh ahlul tandzhir.
    Wallahu’alam.

    Semoga bermanfaat.
    Barakallahu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: