“Keturunan” Rasulullah Bukan Hanya Al-Mussawa


Ini adalah jawaban seorang ulama terkemuka di Indonesia tentang ahlul bait, walaupun pada dasarnya yang disebut dalam keturunan bangsa Arab adalah seorang laki-laki, Buya Hamka mampu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Bahkan insya Allah sangat detail sekali. Walaupun ada beberapa golongan yang mengkultuskan hanya pada satu ahlul bait, maka sudah selayaknya kita sebagai umat muslim tidak bersifat seperti itu. Mari kita hormati semua ahlul bait, tidak perlu taklid pada salah satu dan mengacuhkan yang lain, karena prinsip seorang muslim itu memuliakan dan menghormati muslim yang lain.Langsung saja, mari kita mengikuti ulasan seorang ulama terkemuka ini.

H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211 Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal diantaranya tentang keturunan Rasulullah saw.

Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat[1], dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Jawaban HAMKA atas pertanyaan diatas sebagai berikut :

Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi saw tidak meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thayib dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kulsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kulsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih saying dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku’ si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah, si cucu duduk ke tingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawaikan dari Usamah Bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas ke dua belah paha beliau. Lalu beliau saw berkata, ‘Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan aku saying kepada keduanya’.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi saw pernah pula berkata tentang Hasan, ‘Anakku ini adalah SAYYID (tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum muslimin yang berselisih’.

Nubuwat beliau saw itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriyah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, karena tidak suka melihat darah kaum muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai ‘Tahun Persatuan’. Pernah pula beliau berkata, ‘Keduaanakku ini adalah SAYYID (tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak’.

Barangkali ada yang bertanya : ‘Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husein itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya ?. Ini adalah pemakaian bahasa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Di dalam alquran surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa nabi Ya’kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada puteranya Yusuf, sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak. Padahal uang bapak atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayahnya. Di ayat 28 Yusuf berkata, ‘Bapak-bapakku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub’. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapak, dan ucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormati mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum muslimin.

Bagi ahlus sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain dipanggilkan orang SAYYID kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan ‘Kedua anakku ini menjadi SAYYID (tuan) dari pemuda-pemuda di syurga’. Di setengah negeri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa, kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran-penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.

Apatah lagi di dalam alquran, surat ke-33 ‘al-Ahzab’, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya lipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunannya.

Menjawab pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah saw ? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama. Mereka dating dari hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka dating kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri, Jamalullail, Assiry, Al-aidid, Al-jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan almarhum Sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw.

Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadramaut itu, ada juga yang keturunan Hasan yang dating dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggilkan Tuan Sayyid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Serawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakah NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada sayidina Ali dan Fathimah.

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Ba’alawi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga title sayid di muka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan Alawy atau bukan, dengan pimpinan AR Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘al-Akh’, artinya saudara.

Maka baik Habib Tanggul di jawa Timur dan almarhum Habib Ali di Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa al-Muhajir yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu rasulullah Husain bin Ali bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semua kita berlaku hormat dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalahgunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah saw, ‘Janganlah sampai orang lain dating kepadaku dengan amalnya, sedang kamu dating kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu’. Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu, ‘Hai Fathimah binti Muhammad, beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun’. Dan pernah beliau bersabda, ‘Walaupun anak kandungku sendiri fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya.’

Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang dating kemudian dari turunan Alawy memegang teguh agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam ke dalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat ummat Muhammad kepada mereka.(benmashoor)

Iklan

6 Tanggapan

  1. Saya ga ngerti. Knp judulnya begitu ya? Ada dendam ya dg Habib bermarga Al-Musawa? Cerita2 dong..

    Jawab Jaisy01:
    Waduh, masya Allah. Saya nggak ada dendam dengan siapa pun mas/mbak. Hanya ingin memberikan pengetahuan saja kepada yang taklid kepada “marga” Al-Musawwa. Bahwa kita harus hormat pada “keturunan” Rasulullah yang lainnya. Jadi biar semua dihormati, sehingga tidak mengklaim sesat pada umat Islam yang lainnya. Semoga tidak tidak bingung mas/mbak Binun 🙂

    • ass..wr..wb..gak boleh saling hasud..gak baik….ambil sisi positifnya aja dri semua diskusi2 yang ada,,wass

      Jawab Abu Jaisy:
      Waalaikumsalam. Terima kasih atas taujihnya. Saya sendiri tidak pernah menghasut apalagi menfitnah gerakan dakwah lain. Hanya saya ingin mengingatkan kepada orang yang taklid kepada satu orang untuk memuliakan yang lainnya. Bahkan Kakak Habib Munzir Al-Musawa sendiri disepelekan oleh orang yang lebih condong kepada Habib Munzir Al-Musawa, padahal dua2nya adalah seorang ustad yang harus kita hormati atas tsaqafah Islamiyahnya. Tercatat diblog ini bahwa ada orang-orang seperti itu yang selalu menyesatkan umat Islam yang lainnya dengan mengatas-namakan Habib Munzir Al-Musawa, semoga okunum-oknum tersebut sadar dan kembali kepada ajaran yang disampaikan oleh Habib Munzir Al-Musawa. Semoga bermanfaat.

  2. Mas, judulE mbok tulung diganti ampun kdos niku, mboten sae. Tulung ngeh??

    -Nyuwun pengertene sedulur semuslim-

    Jawab Jaisy01:
    Ngaputene mbah, nopo’o kok kudu diganti judul’e? Lah kulo kan geh secara otomatis ngakoni lanek marga Al Musawwa niku salah satu “keturunane” kanjeng Nabi. Niku kangge wong seng senengane nyesataken tiyang muslim seng mboten ngaji teng salah satu “keturunane” kanjeng nabi. Ben sadar tiyange, kulo tetep hormat teng sinten mawon umat Islam seng sholeh.

  3. Assalamualaikum..
    Kesuwun ngeh….

  4. assalamu alaikum..
    saya mo tanya, emang keturunan rasulullah masih ada?
    bukankah Allah telah memutus mata rantai kenabian dan telah memutus mata rantai keturunan beliau saw dengan tidak memberikan beliau saw dengan anak laki-laki yang hidup sampai besar, atau dalam artian tidak memberikan cucu dari anak laki-lakinya. bukah nasab itu mengikuti kepada sang ayah? kalau para habib itu bermula dari sayidina husain, tentu bukan …. bin sayidina husain bin fatimah binti rasulullah saw. tapi ….. bin sayidina husain bin ali bin abi thalib bin abdul muthalib dan seterusnya.
    dan kalau memang habib adalah keturunan rasulullah, kenapa para habib kok kebanyakan dari yaman? kenapa ga dari madinah atau makah saja, tempat di mana beliau di lahirkan, hidup dan di makamkan?
    dan apakah kita rela ketika ada salah seorang keturunan beliau yang melakukan kejelekan atau kebodohan yang menyebabkan orang lain jadi berkata, “keturunan Rasulullah ternyata melakukan kejelekan juga toh”(seolah-olah rasulullah jadi terbawa jelek)
    kalau saja kita meyakini banwa mata rantai keturunan rasulullah telah terputus, tentu nama rasulullah tetap berada dalam kemuliaan yang tak pernah terkotori oleh nasab dan keturunannya yang tak menutup kemungkinan melakukan kesalahan.

    Jawab Abu Jaisy:
    Waalaikumsalam.

    Jawaban anda sudah saya jawab di awal paragraft pertama dan kedua.

    Yah walaupun kita tidak mengikuti para habaib, sebaiknya kita menghormati mereka sebatas manusia sholeh. Bukan mengkultuskan apalagi menjadikan mereka layaknya Rasulullah. Saya teringat Imam Syafi’i yang mengatakan “Jika yang menghormati keturunan Rasulullah itu adalah Syi’ah, maka sayalah syi’ah”. Maksudnya Imam Syafi’i itu adalah penghormatannya saja, bukan justifikasi mengkultuskan.

    Terima kasih telah berkunjung.

    • JAWABAN BUAT SAUDARAKU :CHAIRIL
      1. Turunnya Surat Al-Kautsar adalah jawaban bagi sebagian tokoh qurais yang menertawakan rasulullah dan menyatakan “terputusnya atau ABTAR-nya” keturunan nabi karena meninggalnya putera beliau Ibrahim. Allah SWT, sebaliknya bahkan mengkaruniakan “AL-KAUTSAR/ kenikmatan yang melimpah/telaga Kautsar di Syurga dan Keturunan yang melimpah bagi Rasulullah melalui Fatimah Az-Azahra”. Sedangkan SEJARAH MEMBUKTIKAN orang yang menertawakan Rasulullah “KETURUNANNYA TERPUTUS?TIDAK DISEBUT DAN BAHKAN DILUPAKAN………………”

      2. Kenapa Hadramaut Yaman sebagai salah satu tempat berkembangnya Keturunan Rasulullah SAW, melalui “hijrahnya” Isa Al-Muhajir (bersama sekitar 70an anggota keluarganya) dari Kufah Iraq kemudian menetap sebentar di Madinah lalu ke Haji ke Mekkah dan selanjutnya perjalanan jauh ke Yaman dan menempati daerah hadramaut. Perpindahan tersebut karena KERASNYA ancaman/permusuhan/kebencian sebagian UMAT ISLAM kepada eksistensi “KETURUNAN RASUL SAW”. mungkin kita masih ingat “BAGAIMANA CUCU RASUL HUSEN DIPERANGI dan dibantai bersama 70an keluarganya oleh RIBUAN PASUKAN ISLAM di masa Yazid bin Muawiyah.

      3. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya seluruh nasab (keturunan) dan sabab (hubungan persaudaraan melalui pernikahan) semua akan terputus sampai hari kiamat, kecuali keturunanku”.
      Hal tersebut terbukti dengan penyebaran keturunan beliau sampai saat ini. dan bahkan IMAM MAHDI yang kelak memimpin pemerintahan GLOBAL merupakan keturunan beliau.

      DAN TAHUKAH ANDA APAKAH KOMPENSASI DARI RISALAH KENABIAN YANG RASULLAH MUHAMMAD SAW SERUKAN KEPADA UMMATNYA?

      PASTI BAPAK SUDAH TAHU, TIADA LAIN ADALAH KECINTAAN KEPADA KELUARGA NABI.

      SALAM

      moga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: