Kenapa Aku Mendukung SBY Bukan JK!


Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya membutuhkan cukup waktu untuk bisa memahami alasan DPP PKS memilih tetap berkoalisi dengan SBY-Boediono. Itu, karena tadinya saya mengharapkan dan menyangka PKS akan memilih JK. Namun, setelah jelas sikap DPP sedikit-demi- sedikit saya menemukan jawabannya. Semoga apa yang saya fahami ini tidak semuanya salah.

Pertama, PKS bukan satu-satunya partai Islam yang memilih SBY. Disana ada koalisi seluruh partai Islam dan berbasis massa Islam yaitu PKB, PPP dan PAN. Jadi, ini kemaslahatan pertama yaitu mendahulukan koalisi partai Islam dibanding koalisi sekuler termasuk yang mendukung JK. Mana yang harus kita utamakan, kumpulan partai Islamis atau koalisi partai sekuler?

Kedua, kalau misalnya JK berasal dari partai Islam, atau ada indikasi meyakinkan dia mendukung Islam, misalnya memiliki keberpihakan dalam kasus Ahmadiyah, RUU APP, terorisme Islam dan lain-lain yang ada kepentingan Islam disana, saya setuju pilihan JK disebut sesuai dengan syariah Islam. Kalau indikasinya "hanya" jilbab istrinya dan shalat di masjid Sunda Kelapa karena mau jadi capres, itu tidak cukup. Kenapa? Dulu, waktu ribut majalah Playboy di Indonesia , saya ingat betul JK bilang, ’’Bagaimana caranya menghentikan Playboy? Kita tidak punya instrumennya. ..’’. JK terus terang menolak menghentikan Playboy. Lalu, apa artinya JK yang menjilbabi istrinya tapi tidak bisa mencegah anak-anak bangsa dinegeri Islam terbesar ditelanjangi oleh Playboy? Tentu saja, terbitnya ikon porno itu kini bukan sepenuhnya salah JK. Tapi, dimanakah aspek kesyariahan JK dengan komentar dia itu? FPI tanpa menggunakan perangkat hukum pun sanggup mengusir Playboy dari Jakarta dan
membuat umat Islam sadar tentang bahaya majalah bugil itu dibanding JK. Saya tidak menyalahkan bagi yang mau memilih JK dan semoga JK ingat masjid tidak hanya karena mau jadi capres. Tapi, untuk mengatakan bahwa JK lebih sesuai dengan syariah Islam, kita butuh indikasi yang lebih banyak dan komprehensif. Baik SBY, JK apalagi Mega, tidak ada yang syar’i. Saya kira, kita harus lebih berhati-hati melegitimasi sesuatu dengan predikat syar’i. Ini harus diklarifikasi agar tidak muncul anggapan
PKS melarang memilih sesuai dengan syariah Islam…

Ketiga, ini adalah alasan paling penting. Keputusan memilih SBY dibuat melalui proses Syura. Apa artinya Syura? Artinya, ada 99 kader terbaik PKS yang duduk bersama untuk mengkaji dari segi syariah, politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain dengan dukungan kepakaran, data, survey, analisa, pengalaman dan sistem untuk menetapkan dukungan terhadap SBY. Keputusan ini dikokohkan kembali dengan keputusan pakar-pakar Islam di Dewan Syariah. Dengan begitu, kesalahan makin mantap diminalisir.. Jika kita hendak menolak keputusan syura ini, sepatutnya kita juga mendasarinya dengan kapasitas lebih tinggi atau setingkat. Jika hanya pertimbangan individu, saya khawatir disana ada lebih banyak yang kita tidak tahu daripada yang kita tahu. Kita perlu bertanggungjawab dalam pilihan kita, sebab itu semua akan dimintakan pertanggungjawaban kita di mahkamah Allah pada yaumil akhir nanti.

Ijinkan saya bertanya, saat kita menolak SBY dan memilih JK : sudahkah kita melakukannya— misalkan dengan — proses pengumpulan sample data,
survey, penelitian mendalam, analisa komprehensif dengan fikiran dan hati tenang-jernih tanpa emosi, pengkajian kaedah-kaedah fiqih siyasi yang diiringi shalat tahajjud, shalat istikharah dan munajat kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Majlis Syura dan Dewan Syariah PKS? Jangan-jangan kita hanya merujuk berdasar berita dan rumor di mass media dan fikiran selintas saja? Obrolan di kantor? Apakah semua isi mass media dan imej JK yang dikarang tim suksesnya itu sesuai dengan kenyataan? Siapa yang menjamin? Dapatkah itu menyamai kualitas data, pengalaman politik dan kapasitas 99 anggota Majlis Syura? Kalaupun kita sudah melakukan itu semua, paling tinggi, itukan kita lakukan sendirian… Bisakah kapasitas dan analisa kita menyamai 99 anggota Majlis Syura plus Dewan Syariah? Pantas saja, Allah menyuruh kita menggunakan mekanisme Syura dalam pengambilan keputusan. Ternyata, jika keputusan dibuat sendiri kelemahannya jauh lebih banyak. Tentu saja keputusan Majlis Syura bisa saja salah. Mereka bukan kumpulan malaikat dan nabi. Namun, jika Majlis Syura saja bisa salah, tentu kita yang sendirian lebih pantas untuk salah. Saya rasa, kearifan seperti ini perlu kita gunakan saat mengkritik PKS dengan keputusan-keputusan politiknya.

Keempat, mungkin ini pendapat agak asing, tapi bisa dipertanggungjawabk an. Dalam memilih pemimpin, aspek kesesuaian dengan syariah tidak hanya
didasari alasan kesalehan orang yang kita pilih. Belum tentu orang yang lebih saleh itu, pasti lebih benar dalam memimpin (ini dengan memisalkan JK lebih saleh dari SBY). Imam Ahmad berkata, ’’Seorang panglima yang saleh tapi tidak mengerti perang, kesalehannya hanya untuk dirinya dan ketidaktahuannya tentang perang berakibat fatal bagi umat Islam. Tapi, seorang panglima tidak saleh yang menguasai ilmu perang, ketidaksalehannya hanya siksa untuk dirinya sementara pengetahuan perangnya jadi maslahat bagi umat Islam’’. Pendapat ini didukung pula oleh Ibn Taimiyah. Menurut keduanya, bisajadi pemimpin yang kurang saleh lebih berhasil disamping pemimpin saleh tapi lemah dan tidak punya strategi (Ibn Taimiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah, Beirut : Dar al-Afaq, 1983, cet.1, hal. 16-17). Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah, akan memperkuat agama ini (meski) melalui tangan orang fajir (fajir: pelaku dosa, lawan dari saleh). (HR. Al-Bukhari, Kitab al-Maghazi,
Bab Ghazwah Khaibar, no. 3882 dan Imam Ahmad, Musnad Abi Hurairah, hadits no. 7744).

Jadi, Imam Ahmad, Ibn Taimiyah, Imam al-Bukhari dan lain-lain telah menyimpulkan bahwa kemenangan dakwah bisa juga diperoleh melalui perantara orang-orang bukan shaleh dan fasik.. Tentu, orang fajir dan fasik yang bagaimana dulu….tentu tidak boleh juga sembarangan, kan ? Dalam Sirah Nabawiyah, ada riwayat bahwa Rasulullah SAW meminta bantuan dan perlindungan pada pemimpin musyrik al-Muth’im bin ’Adiy atau raja Kristen Najasyi, beliau juga berkoalisi dengan kabilah Khuzaah yang banyak dari mereka masih musyrik dan Rasulullah SAW berkoalisi dalam treaty dengan Yahudi kafir dalam piagam Madinah yang populer itu, atau meminta tolong pada Abdullah bin Uraiqith, penunjuk jalan yang masih musyrik saat berhijrah ke Madinah.

Meski begitu, pemimpin yang paling tepat adalah yang memiliki kesalehan dan kekuatan strategi sekaligus. Tapi, yang seperti ini menurut Ibn
Taimiyah sangat jarang. Kadang dia saleh tapi dia terhalang oleh faktor luar untuk memberikan kepemimpinan yang benar.. Maka, menurut beliau, pemilihan seorang pemimpin, harus mempertimbangkan aspek sekomprehensif mungkin, bukan hanya sisi pribadi dia sendiri.

Kelima, ditakdirkan JK lebih saleh dari SBY, kita bertanya, bagaimana dengan Golkar? Saya berpendapat, salah satu keuntungan Pemilu 2009 yang
jelas adalah berhasil ’’dihancurkannya’’ suara partai terbesar penyokong kerusakan di Indonesia yaitu PDIP dan Golkar. Kita tidak boleh lupa. Tahun 2008 pasca fenomena PKS di DKI, Depok, Jabar dan Sumut, untuk pertamakalinya PDIP dan Golkar duduk bersama menyatakan Deklarasi Palembang untuk membendung apa yang mereka sebut bahaya sinkretisme terhadap keutuhan NKRI. Orang terkejut untuk pertamakali PDIP-Golkar bisa duduk bersama, dan ternyata kepentingannya sama-sama hendak melawan Islam. Jadi, habisnya dua partai ini di tahun 2009 adalah prestasi yang harus kita syukuri.

Dengan kemenangan SBY di Pilpres mendatang, maka ’’kehancuran’’ PDIP dan Golkar sebagai pilar korupsi dan mega-kejahatan Indonesia itu bisa makin ’’disempurnakan’’. Sebaliknya, kalau JK yang menang apa tidak mungkin Golkar mengkonsolidasikan kekuatan dan come back lagi? Saya bertanya-tanya, bagaimana kita bisa ’’terbius’’ dengan ’’kesederhanaan’’ dan ’’kebersahajaan’’ JK-Wiranto untuk bersama-sama melupakan kejahatan Golkar? Jangan-jangan, kita terjebak dalam strategi mafia dan jaringan kroni Golkar dan kaum anti Islam melalui siasat kampanye tim sukses mereka? Saya kira, masalah Pilpres, tidak bisa disederhanakan dalam figur JK-Wiranto saja. Ini kalau kita menyepakati Golkar lebih bahaya dari Demokrat. Demokrat relatif jauh lebih rapuh, tidak memiliki basis massa yang permanen serta hanya bergantung pada figur SBY yang sudah pasti berakhir di 2014. Demokrat tak punya basis memadai untuk menjadi kekuatan besar dan tahan lama. Demokrat hingga kini tidak punya faktor yang diandalkan selain SBY bukan?

Keenam, bisa jadi JK lebih saleh, namun nyatanya ia memiliki satu kekurangan yang cukup fatal. Dia seorang yang lemah di tubuh Golkar sendiri. Dalam Pemilu kemarin, banyak suara yang menolak JK. Dalam Golkar sampai ada empat blok, selain JK, ada Sri Sultan, Akbar Tandjung dan Fadel Muhammad. Tiga orang ini sama-sama memiliki basis massa yang kuat dan mencoba langkah-langkah politik sendiri. Terlebih lagi, Akbar Tandjung berhasil mengumpulkan banyak wakil dari daerah dalam Mukernas Golkar dan mengajak boikot JK. Di koran Tempo diserukan agar JK berintrospeksi karena tidak mampu menjaga keutuhan Golkar. Golkar, diambang perpecahan serius dimasa kepemimpinan JK. Kondisi ini sangat berbahaya. Ternyata JK tidak mampu mengendalikan partainya. Kalau JK setuju Golkar melakukan konvensi capres seperti di tahun 2004, bisa jadi dia tidak terpilih sebagai capres karena sekarangpun dukungan atas pencapresan JK dilakukan sangat terakhir. Kelemahan JK ini akan mengakibatkan orang-orang partainya bertindak semau gue dalam menjalankan pemerintahan nanti. Maka koalisi dengan JK menjadi langkah yang sangat rawan karena kelemahan JK mengendalikan partainya. Dan kedepan, figur-figur selain JK akan menunggu untuk hadir di 2014.. Ini berbeda dalam kasus Demokrat dan SBY.

Ketujuh, berbicara tentang klenik, saya kira Golkar sendiri tidak bersih dari klenik. Kita tahu, tokoh kunci Golkar yaitu Sri Sultan, mengkondisikan masyarakatnya melalui agenda keraton yang berkutat dengan kultur klenik dan khurafat yang dipelihara sistematis dan mengakar, bahkan menjadi cagar budaya. Di Batam, caleg-caleg nomor-jadi Golkar diisi orang-orang Kristen. Di Sumedang, ada caleg provinsi dari Golkar nomer jadi beragama Kristen yang dimana-mana menggunakan tambahan H didepannya supaya dikesankan Haji. Maka, kalau bisa, untuk mendukung atau menolak seorang pemimpin, sebaiknya tidak didasari oleh secuil kasus A disini dan fakta B disana sehingga yang muncul adalah fragmen yang tidak utuh karena fakta negatif bisa ada dimanapun. Kita membutuhkan informasi yang lengkap dan komprehensif.
Kedelapan, persoalannya bukan terletak pada berubah-ubahnya fatwa dan zig-zagnya suatu langkah politik. Persoalannya adalah, manakah keputusan yang benar?

Langkah politik yang lempang tapi salah, tentu tidak kita inginkan. Para ulama menyepakati kaedah perubahan fatwa mengikuti
perubahan kondisi dan sebabnya.. Zig-zag dan berubah-ubah itu tidak mengapa, asalkan itu benar. Perubahan strategi politik antara 2004
dan 2009 itu tidak mengapa jika memang itu benar dan dibutuhkan. Strategi politik tahun 2004, bukanlah seperti wahyu yang tidak boleh
diubah. Saya yakin, di tahun 2014 nanti juga akan terjadi perubahan-perubahan strategi…
Masih banyak lagi alasan yang bisa diberikan mengenai mengapa tidak memilih JK. Diantaranya adalah SBY telah bersedia menerima kontrak politik
yang berisi agenda-agenda dakwah seperti masalah pembebasan Palestina dan lain-lain. Memang, kelemahan-kelemahan ini sebagian juga ada di
SBY. Namun di beberapa poin, SBY tidak seberat JK dengan Golkarnya.

Bagaimanapun SBY lebih aman dan menguntungkan untuk dipilih. Golkar memiliki tingkat bahaya yang lebih permanen dibanding Demokrat.
Meski begitu, harus diakui PKS juga punya kesalahan dan kelemahan. Selain itu, ada juga masalah teknis dan komunikasi. Makanya, saya tidak terkejut mendapati orang bingung melihat PKS masih di jalur dakwah atau bukan. Wajar, karena PKS bukan kumpulan malaikat dan nabi. Mereka adalah manusia-manusia. . Adalah tidak manusiawi, jika kita tidak mau memahami kesalahan PKS. Namun, selama partai ini masih memelihara ribuan halaqah yang merumuskan dan merealisasikan berbagai agenda dakwah dan tarbawi, lebih dari satu juta kader terbina, ada agenda tatsqif, mabit dan katibah, punya Majlis Syura dan Dewan Syariah, struktur dakwah dan jamaahnya masih solid, tidak pecah dan terus bekerja, masih gegap memekikkan kata jihad, takbir dan kematian syahid, masih menangis dalam shalat malam berjamaah dan merasakan penderitaan rakyat Palestina, saya meyakini PKS tetap satu-satunya partai dakwah yang paling relevan di Indonesia . Kecuali, kalau itu semua sudah bubar dan tinggal kegiatan politiknya saja.

William Lidle, seorang Yahudi ahli Indonesia mengatakan di Metro-TV PKS adalah kekuatan Islam paling berbahaya. Baru-baru ini, terbit sebuah buku "Ilusi Negara Islam" oleh LibForAll. Disana ada Gus Dur, Musthafa Bishri dan Syafii Maarif. Isinya sangat menyudutkan PKS sebagai kaum ekstrim yang membahayakan NKRI. Di Singapore, Taufik Kiemas menyebut PKS sebagai metamorfosa kaum teroris menjadi partai yang legal. Belum lagi isu Wahabi, GAM dan lain-lain yang ditujukan pada PKS. Kaum anti Islam sedang panik melihat perkembangan Islam melalui PKS. Mereka takut fenomena Turki, Mesir dan Palestina terjadi di Indonesia . Mereka jauh lebih takut PKS dibanding HTI, FPI, Salafy atau Majelis Mujahidin. Kenapa justru kita sebagai orang yang sadar dengan Islam malah hendak menyerang PKS?

Sudah cukup rasanya umat Islam merasakan perihnya perpecahan, kelemahan dan dikerjain orang lain. Biarlah kader-kader PKS lebih memilih suara
qiyadah dan syura mereka. Janganlah kita menambah lebih banyak lagi syubhat dan kebingungan sehingga menyebabkan perpecahan dan kelemahan.
Semoga Allah melimpahi kita dan para pemimpin Islam dengan hidayah dan rahmat. Semoga Allah memelihara langkah kita dalam istiqamah. Amin.
Wallah A’lam bis-Shawab. Wassalamualaikum
Citizen Journalism (Judul Aslinya "Alasan PKS Dukung SBY" Penulis Wawan Darmawan)
18/06/2009 – 14:36
inilah.com

TAMBAHAN
Kemanakah JK dalam kasus Lapindo? Apakah benar Lapindo bukan aset Golkar dan menjadi sumber mesin uang partai politik ini? Ingatkah ketika JK melarang buku-buku Hasan Al banna beredar di Indonesia? Ingatkah kasus Maluku yang JK lebih berpihak kepada kaum kafir? Dan menuduh teroris para mujahid di Maluku saat itu.
Tidak ada calon presiden dari ketiga itu yang akan menegakkan syari’at Islam. Daripada tidak memilih, lebih baik menjadi seorang muslim yang kaffah dan memilih pemimpin yang lebih baik dari yang ada. Ada prioritas dari setiap realitas, dewasakan diri untuk mampu memilih prioritas dari realitas. Ketika kita mengacuhkan prioritas atas realitas, maka sesungguhnya kita muslim yang jumud dan tidak mampu berfikir untuk kemaslahatan ummat, kecuali hanya rasa sakit yang terpendam di hati.

Iklan

27 Tanggapan

  1. Kalau untuk pembelaan PKS, agama pun mau dijual.. Kasihan benar kader2 PKS. Perkataan Anis Mata dan gank-nya yang haus kekuasaan seperti firman yang tdk bisa dibantah.. wkwkwkwkwk…

    Jawab Jaisy01:
    Kalau untuk yang memusuhi PKS, agama pun diacuhkan…. Kasihan bener kader2 yang memusuhi PKS. Perkataan hawa nafsunya yang selalu timbul untuk selalu menuruti nafsunya. Haus akan hujatan dan kedengkian. Seperti bagaimana mereka menyembah hawa nafsunya… wkwkwkwkwkwkw…

  2. untuk kali ini, saya sangat kecewa dengan kepuutsan PKS !!! Kenapa hanya JK yang dipertanyakan baik dalam kasus Lapindo maupun kasus majalah Playboy. Kenapa hal ini tidak dipertanyakan untuk pihak SBY yang notabene seorang presiden yang dengan ucapan dan tangannya mampu menyelesaikan masalah2 tsb ??? Sungguh aneh PKS !!! Untuk masalah Lapindo, bukankah Abu Rizal Bakrie seorang kader golkar saat ini lebih asyik berada di ketiak SBY ??? Kalau kami rakyat jelata “dipaksa” untuk mengerti jalan pikiran anda ??? Kenapa tidak sekali-kali anda melihat masalah dari kacamata kami ??? tampaknya PKS sudah cinta buta sama SBY ???

    Jawab Jaisy01:
    Kalau kecewa mohon maaf saja atas keputusannya. Karena hanya JK yang mengeluarkan statement seperti itu, dan diagung-agungkan oleh orang dengan mengatakan JK paling Islami. Nah SBY-kan tidak pernah mengklaim paling Islami bukan? Kalau dia mengklaim paling Islami, kami juga tidak akan setuju. Karena bukan hanya JK ata SBY yang paling Islami, bukankah mbak Intan Noviana juga akan mengatakan paling Islami. Jadi sebaiknya nggak perlu bawa-bawa nama “Syari’at Islam” kalau lagi kampanye.
    Sampai saat ini Bakrie masih setia di Golkar loh Mbak. Dan statement SBY saat akan meminta pertanggungjawaban Lapindo, malah JK yang “marah”. Ini ada apa? Kalau mbak Intan Noviana mengaku Rakyat Jelata yang tidak bisa memikirkan jalan pikiran saya, saya juga rakyat jelata yang tidak bisa memikirkan jalan pikiran mbak. Nahkan sama-sama nggak ngerti 😀
    Jadi kalau sama2 nggak ngerti mending sama-sama berbaik sangka saja, biar nggak kepikiran terus. Ok. 🙂
    Kami tidak bisa melihat masalah dari kacamata yang mbak pakai, karena kacamata itu tertutupi terus jadi kami sulit untuk menembusnya. Mending “dibersihkan” dulu kacamatanya mbak.
    Yah, kalau PKS cinta Buta yah nggak akan pakai kontrak politik apalagi pake ngancam-ngancam putus “cintanya”. Sampai SBY yang datang membawa “bunga rayuan” kepada PKS. Tetapi JK, pernahkah seperti itu?

    • saya hanya merasa heran, sekarang terbukti Aburizal terbukti ternyata orangnya SBY, dan PKS yang menyatakan Islami adalah Penghamba Kekuasaan. Jangan Bicara Dewan Syura dan sebagainya kalau konsep pemerintahan tidak jelas, mau jadi pemerintahan islam yang kayak apa?? Saudi?? Libanon?? Mesir?? semuanya sama saja Anjing Amerika

  3. kontrak politik hanya anda tawarkan pada SBY tapi tidak pada JK…. apakah itu adil namanya ??? apakah caleg-caleg demokrat tidak ada yang katolik ??? tidak ada yang kristen ??? Bukalah mata anda !!! Saat ini siapa saja yang ada di sekeliling SBY ??? Max Sopachua, Ruhut Sitompul !!! Apakah mereka muslim ??? Tolong buka kacamata hitam anda… gunakan kacamata bening !!! TAmpaknya anda sekarang ini benar2, sungguh 2 tidak adil !!! menurut saya kader2 demokrat yang sekarang adalah kader golkar di masa lalu …….. termasuk SBY !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Jawab Jaisy01:
    Loh masa mbak Intan Noviana tidak tahu kalau kontrak politiknya juga sebenarnya pernah ditawarkan ke JK? Yah, kalau kristen ataupun katolik, Caleg PKS juga punya loh mbak di daerah yang berbasis kristen atau katolik. Nah, sms Presiden PKS (Pak Tif) menyatakan bahwa Max dan Ruhut untuk tidak dimasukkan tim 9. Dan itu dipenuhi loh oleh SBY loh mbak. Kacamata hitam dan bening itu tidak perlu dipermasalahkan mbak, yang terpenting kacamata itu dipergunakan untuk memperjelas pengelihatan kita. Jadi mau hitam atau bening/putih, kalau memang untuk memperjelas yah apa saja silahkan dipakai. Yah, kalau mbak beranggapan seperti itu yah silahkan-silahkan saja. Saya bukan orang demokrat, jadi saya tidak tahu mereka yang sebenarnya. Saya hanya ingin berusaha bersikap realistis dan tanpa bermaksud su’udhon kepada siapapun, insya Allah.

  4. saya ingat di komplek saya boleh cek nanti kesana, tahun 2007 ada sebuah kegiatan Maulid Nabi semua DKM sepakat untuk emngadakan perayaan dan hanya orang orang dari PKS yang ga hadir dan acara pun sederhana hanya ada 3 orang panitia yang hadir…ketika dalam PILEG kemaren semua orang PKS hadir dalam acara maulid Nabi……?????? sebuah pertanyaan besar buat saya

    bingung saya sbagai muslim jika benar Maulid Nabi itu tidak boleh dirayakan mana dalilnya, jika benar harus diadakan oleh umat muslim mana dalilnya…

    saya ingin Islam jangan menjadi politisir yang membingungkan umat, saya dulu simpati dengan PKS tapi jelas kecewa, ketika melihat kader-kader PKS begitu nyewot disalah satu TV swasta Metro TV pada saat SBY mengumumkan siapa wakilnya….saya lupa siapa kader tersebut

    saya berharap Islam dijadikan pemersatu antar umat bukan menjadi kebenaran buat sebagian golongan karena bila Islam menjadi Eksklusif jelas sekali Islam akan dibenci oleh umatnya sendiri….

    saya menceritakan ini karena kondisi dilapangan, silakan cek ke daerah serang banten mas….

    Anda sendiri lupa bagaimana seorang SBY mengatakan Amerika itua dalah rumah saya yang kedua,sedangkan anda tahun Presiden Amerika George W. Bush…jelas sekali dialah pembantai umat muslim di irak…

    Jawab Abu Jaisy:
    Bro Omiyan, adakalanya kita juga harus mampu berfikir bahwa PKS itu partai, yang disitu orangnya majemuk dan beragam madzhabnya. Mungkin ini juga menjadi pelajaran bagi kami. Ada cerita dulu ketika ada seorang kader PKS shalat di masjid Muhammadiyah, dan karena bukan orang “Muhammadiyah” maka cara shalatnya pun tidak seperti orang Muhammadiyah. Lalu ada orang Muhammadiyah yang mengatakan bahwa shalat kader PKS tidak sesuai lagi dengan cara-cara Rasulullah. Karena dulu kader ini berasal dari NU dan memakai cara-cara NU maka orang Muhammadiyah mengatakan cara shalat seperti itu bukan dari Rasulullah.

    Seperti perdebatan antara perayaan Maulid Nabi. Pada dasarnya semua sepakat bahwa Maulid ini dilakukan oleh Sang Penakluk Panglima Islam yang kita hormati yaitu Salahudin Al-Ayubi, ketika menghadapi perang Salib. Karena melihat pasukan Islam merasa gentar dengan pasukan Salib, maka Sultan Salahudin Al-Ayubi mencoba untuk mengingatkan lagi bagaimana sirrah Rasulullah dengan mendatangkan salah satu penyair yang mampu menggetarkan jiwa, untuk mengingatkan perjuangann Rasulullah, perjuangan umat Islam dimasa Sahabat. Dll. Semua ulama sepakat bahwa penggagas Maulid Nabi adalah Sultan Salahudin Al-Ayubi, untuk meperkuat mental pasukan Islam. Dan itu berhasil.

    Ada pandangan antara boleh dan tidak merayakan maulid nabi. Disatu sisi ada beberapa orang PKS yang menganggap tidak boleh dan bid’ah, tetapi disatu sisi ada yang menganggap boleh dan tidak bid’ah. Inilah kemajemukan kader dakwah PKS, tetapi hal yang sering harus menjadi perhatian kader PKS adalah bahwa semua itu adalah masalah ikhtilaf atau khilafiyah. Perbedaan pandangan tersebut dibolehkan, tetapi jangan sampai merusak hubungan tali sulahturahim seorang muslim satu dengan yang lainnya.

    Sudah final. Bahwa PKS tidak boleh mengikuti satu madzhab saja, dan PKS tidak boleh membahas masalah ikhtilaf dan khilafiyah atas ijtihad dari setiap ulama. Bagaimana kita masih berkecamuk dengan mengatakan, ini bid’ah, ini sunnah, di tidak bid’ah dan ini tidak sunnah. Lalu menganggung-agungkan pandangan ijtihad ulama yang dianutinya, dan mencemooh ulama lain. Ini bukan ajaran Islam, tetapi ini hawa nafsu pribadi seorang umat Islam.

    Sudahlah, kita lepaskan “baju” madhzab kita. Kita tonjolkan “baju” Islam yang tertutupi oleh lapisan baju madzhab kita. Jika ada yang berbeda, tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi yang perlu dibesar-besarkan adalah bagaimana kita saling bekerjasama dalam melakukan perbaikan. Jangan sampai perbedaan madzhab kita menciptakan masjid-masjid baru karena ketidakpahaman masalah fiqh dalam berbagai ijtihad para ulama. Tetapi kita mengabaikan masalah prinsip seorang muslim, bagaimana shalat berjamaah, bagaimana saling salam, bagaimana saling senyum dan bagaimana menghargai pendapat orang lain.

    Kita hilangkan kedengkian kita, kita hilangkan su’udzhan kita terhadap setiap umat Islam. Mari bekerja sama, masalah perbedaan adalah bukan hal yang patut diagung-agungkan hingga melebihkan diri “kita” yang paling beriman dari muslim yang lain. Islam tidak seperti itu.

    Ketika saya kuliah dulu, saya mempunyai seorang teman seorang alumni santri dari Tebu Ireng. Insya Allah NU-nya tidak dipertanyakan lagi. Beliau mengatakan, “Maulid yang kita lakukan bisa menjadi haram, jika dalam maulid kita mengacuhkan adzan. Kita mengacuhkan shalat berjamaah dan kita lebih khusyuk “menyembah” Rasulullah dari pada Allah. Karena Maulid itu esensinya mengingat Rasulullah, mengingat bagaimana akhidah, akhlaq, tauhid dan ketaqwaan kita”
    Nah jelas sekali esensi dari maulid itu mengigat Rasulullah, mengingat sirrah-sirrah Rasulullah. Tetapi mengingat Rasulullah bukan hanya pada saat “Maulid Nabi”, setiap hari kita harus mengingat Rasulullah, bagiamana shalatnya, bagaimana akhlaqnya, bagaimana kesabarannya, dll.

    Saya ini dari keluarga Muhammadiyah. Dan istri saya juga orang Muhammadiyah. Kami sering tidak habis fikir, kenapa masalah khilafiyah saja bisa membedakan antara ini masjid Muhammadiyah dan ini Masjid NU, dll. Karena pada dasarnya Islam itu satu, tidak membeda-bedakan dimasjid mana kita shalat. Sering kali orang Muhammadiyah tidak mau shalat di sebuah masjid, karena masjid itu punya NU. Ini realitas bro Omiyan, dan kami kader PKS berusaha untuk mendobrak tradisi seperti itu. Kita budayakan tradisi Islam, yang mampu saling memahami dalam perbedaan yang bukan prinsip dari dasar Islam.

    Jika ada kader PKS yang tidak mau hadir di Maulid Nabi, yah kita coba untuk memahami madhzab dia. Dan ketika mereka hadir dilain waktu, yah kita harus mencoba berkhusnudhan. Inti dari setiap maulid itukan mengingat Rasulullah, termasuk pelajaran bagaiman khusnudhan yang selalu dilakukan Rasulullah. Coba kita fikir, mana ada setiap orang yang selalu benar dalam melakukan perbuatannya? Yang ada adalah bagaimana kita memilah dan meminimalisir kita untuk tidak melakukan perbuatan salah terus.

    Untuk struktur PKS yang “sewot” saat SBY mengumumkan calon presidennya, ada beberapa. Termasuk Fahri Hamzah. Tetapi bukan hanya mereka yang sewot, saja juga sewot hehehe 😀
    Ketika saya anggap akan memilih pak Hidayat ternyata milih yang lain. Tetapi ternyata ada nasehat dari ustad PKS yang membuat saya sadar. “Apa yang kita lihat pertama kali adalah nafsu pribadi kita yang timbul, karena disitu terselip rasa sakit hati serta kedengkian. Dan hal itu biasa, tetapi hal yang malah tidak biasa adalah ketika kita mampu untuk menimbang dan berfikir lebih jernih lagi tentang kemaslahatan apa yang diperoleh nanti saat memutuskan masalah”
    Jadi memutuskan masalah itu bukan saat diri kita lagi emosi, tetapi ketika kita sudah mampu mengendalikan emosi kita. Karena seorang yang memutuskan masalah dengan emosi pastilah yang terjadi bukan kemaslahatan, tetapi rasa dengki yang akhirnya menjadi dendam.

    Benar bro Omiyan. Dan kita ingat kader PKS juga yang mendemo besar-besaran atas kunjungan Bush ke Indonesia, dan PKS menuai kecaman dari berbagai pihak atas demo yang dilakukannya. Dan saya juga termasuk salah satu orator yang menentang pada saat itu. Semua ini tidak terlepas dari kontroversi bagaimana kita melakukan sesuatu. Tetapi adakah orang yang mampu memahami apa yang dilakukan seseorang kecuali diri orang itu sendiri?

    Amerika bukanlah negara yang patut kita musuhi bro Omiyan. Tetapi yang kita musuhi adalah sistem dan pemerintahan Amerika atas kekejamannya terhadap negeri-negeri Muslim. Rasulullah saja mengharamkan (Jaisy Muhammad) tentaranya untuk membunuh wanita, anak-anak, orang tua dan merusak rumah ibadah. Ini karena yang dituju bukan “tanah” dari setiap negaranya. Tetapi yang dituju adalah sistem dan pemerintahan yang merusak Islam itu sendiri yang harus diperangi. Tidak adil ketika seorang bule amerika yang tidak terlibat sistem dari pemerintahan Amerika lalu kita cemooh mereka. Hal itu disebut dholim dalam Islam. Karena kalau tidak begitu, bagaimana seorang umat Islam yang lahir di Amerika dan menyatakan mencintai Amerika lalu kita musuhi mereka. Tentu tidak bukan.

    Apa yang kita lakukan adalah bagaimana kita mampu memberikan kemaslahatan atas apa yang diamanatkan Allah terhadap diri kita. Termasuk bagaimana kita mampu memilih pemimpin yang lebih mudah mejalin “perjanjian” dengan kita.

  5. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Yang menjadi pertanyaan saya hingga saat ini, kenapa pada waktu itu PKS tidak berani mempelopori mengusung calon pemimpin alternatif? Andaikan ini terjadi, mungkin positioning PKS akan lebih bagus, dan Insya Allah saya pun tidak akan ada keraguan lagi untuk memberikan dukungan.
    Terus terang hingga saat ini saya masih bimbang menentukan pilihan. Mudah-mudahan Anda dapat memberikan pencerahan kepada saya, bisa kirim via e-mail saya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Waalaikumsalam.
    Iya, itu yang menjadi masalah. Ketika PKS tidak mempelopori mengusung calon alternatif. PKS sesuai janjinya, targetnya 20%. Tetapi ternyata meleset, karena banyak orang yang tidak memilih PKS. Tidak seperti mas Akhmad Sudrajat. Coba kita bayangkan, di Indonesia ini umat Islamnya sangat banyak. Tetapi partai Islam begitu sedikit peminatnya. Hanya PKS saja yang ada kenaikan sedikit. Tetapi partai Islam yang lainnya pada anjlok. Ini benar-benar degradasi “Islam”. Sedangkan dalam demokrasi, kita bertarung dengan suara terbanyak. Seandainya saja PKS memutuskan diri untuk tetap “ngotot” menentukan calon alternatif, tidak menutup kemungkinan isu yang berhembus sama dengan sekarang. Seperti halnya “PKS haus kekuasaan, PKS menginginkan jabatan, dll” dilain pihak, ketika koalisi seluruh partai Islam disatukan, suaranya juga tidak mencapai 20%. Seandainya “jago” alternatif yang diusung PKS memenangkan kursi presiden, malah hanya akan menjadi “sansak” hidup di parlemen. Kita bisa lihat bagaimana kemenangan walikota Nurmahmudi di Depok yang terus digoyang oleh parlemennya dan sampai sekarang kebijakan-kebijakan yang diambilnya-pun sering menjadi polemik isu kedaerahan mereka.

    Hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita mampu berfikir dengan kepala dingin, mengacuhkan segala nafsu buruk yang berada pada diri kita. Ada banyak ibrah/hikmah dari sepak terjang Rasulullah dalam sirrah. Ingatkah perjanjian yang dilakukan Rasulullah, dan sahabat-sahabat Rasulullah menganggap perjanjian itu adalah perjanjian yang merugikan Islam. Dan beberapa sahabat Rasulullah malah menimbulkan mosi tidak percaya terhadap Rasulullah.

    “ada sesuatu yang kita tidak mampu berfikir sendiri karena sulitnya persoalan, dan ada kalanya sesuatu persoalan itu mampu kita fikir secara mudah. Tetapi dibalik itu semua, ada setiap pertimbangan dari apa yang kita semua pikirkan”

  6. Kepada “Bukan Omong Kosong” coba buka forum blog di Kompasinia. Semoga mendapat pencerahan dan salam kenal

    Jawab Jaisy01:
    Tararengkyu, telah dicerahkan. Salam kenal juga 🙂

  7. 😦

  8. sangat Bagus untuk di Baca dan dipelajari agar bermanfaat bagi kita semua. Lanjutkan,…

  9. Pencitraan SBY-Boediono Gagal :
    Menggunakan Ikon Kesantunan Tapi Tak Sejalan dengan Prakteknya

    INILAH.COM, Jakarta – Kesantunan kini menjadi ikon dari capres SBY yang acapkali menggembar-gemborkannya. Namun ternyata, apa yang digemborkan tak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Ada apa di balik kesantunan itu?

    Berdasarkan riset Strategy Public Relations (PR) terhadap 1.689 berita dalam kurun 1 Juni hingga 22 Juni 2009 dari delapan koran terbitan Jakarta dan tiga media online menunjukkan, SBY-Boediono mendapat serangan kampanye negatif sebanyak 163 kali dan menyerang 128 kali, sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) 89 kali menyerang dan diserang, serta Megawati-Prabowo (Mega-Pro) menyerang sebanyak 78 kali dan diserang 67 kali.

    Hasil analisa Strategy PR, berita-berita yang berisi kampanye negatif terhadap JK-Win bersumber dari kubu SBY-Boediono dengan prosentase 79,8 persen dan dari kubu Mega-Pro hanya menyumbang 4,5 persen. Sementara, berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap SBY-Boediono ternyata sumber terbesarnya dari JK-Win yaitu 52,1 persen dan dari kubu Mega-Pro sebesar 45,4 persen.

    Sedangkan 85,1 persen berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap Mega-Prabowo disumbang oleh kubu SBY-Boediono. Dan dari kubu JK-Wiranto hanya menyumbang 3% bagi kampanye negatif Mega-Prabowo.

    Di mata pakar filsafat politik UI Rocky Gerung, hasil survei itu menunjukkan selama ini kesantunan yang selalu diucapkan SBY tak lebih dari sekadar topeng belaka. Apa yang diucapkan SBY ternyata tidak sejalan dengan fakta di lapangan.

    “Memang kesantunan itu hanya sebuah topeng saja jadinya, untuk menyembunyikan kebenaran yang ada. Demi kemenangan strategi kompetitor dihalangi dan demi yang substansial, yang kultural menjadi pagar,” kata Rocky.

    Ia menilai, dengan adanya hasil risat Strategi PR itu juga menunjukkan kegagalan dari tim kampanye SBY-Boediono dalam menjalankan strategi kampanye. Sebagai incumbent, SBY itu seharusnya lebih banyak bertahan ketimbang menyerang.

    Untuk itu, sambungnya, bila selama ini SBY ditampilkan sebagai objek penzaliman tapi ternyata paling banyak menyerang, telah menunjukkan ada kekeliruan pencitraan yang dilakukan SBY. “Tim suksesnya perlu dievaluasi itu dan memang kalau dilihat dari pemberitaan di media, JK yang paling menahan diri,” paparnya.

    Berbeda dengan Rocky, pengamat politik LIPI Lili Romli berpendapat apa yang dilakukan SBY bersama timnya selama ini bukanlah merupakan sesuatu yang melanggar etika kesantunan. Sebab, yang terjadi saat ini adalah kampanye sebatas perang kata dan simbol.

    “Ini hal yang wajar dilakukan oleh para kubu capres dan cawapres dalam kampanye negatif. Dimana persoalan menyerang dan diserang merupakan bagian dari pendidikan politik yang tidak melanggar etika kesantunan,” ungkapnya

    Wakil Ketua Partai Demokrat Achmad Mubarok sendiri menampik bila kesantunan SBY hanyalah sebuah topeng. Sebab, yang paling banyak menyerang itu adalah tim kampanye SBY-Boediono bukan SBY secara pribadinya sendiri.

    “Kalau dari SBY itu yang menyerang bukan dari Pak SBY-nya langsung tapi timnya dan itu bukan kehendak Pak SBY. Pak SBY sendiri selalu menegur timnya yang kurang proporsional. Kalau dari kubu JK-Wiranto, justru yang paling banyak menyerang itu JK-nya langsung. Sama halnya dengan kubu Mega-Prabowo yang menyerang langsung itu adalah Mega dan juga Prabowo-nya langsung,” katanya Guru Besar Psikologi Islam UIN Jakarta ini.

    Untuk itu, menurutnya, kalau yang dipakai ukurannya adalah serangan kandidat terhadap kandidat, maka SBY akan jadi yang paling sedikit menyerang. Mubarok mengakui, penyebab banyaknya serangan dari kubu SBY-Boediono itu berasal dari Jubir SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng.

    Selama ini, lanjut Mubarok, internal Partai Demokrat selalu merasa resah dengan manuver-manuver yang dilakukan Rizal. “Rizal itu telah dianggap merusak citra SBY, mungkin karena itu SBY-Boediono jadi yang paling banyak menyerang. Kita juga sudah minta agar Rizal mengubah gaya berkampanyenya,” cetusnya.

    Batas kesantunan dalam berpolitik memang tidak jelas. Sesuatu yang dianggap santun belum tentu dianggap sama oleh pihak lainnya. Terlepas dari itu, seyogianya seorang pemimpin harus satu kata satu perbuatan, tanpa harus memakai topeng.[L4]

  10. Berikut pendapat yang saya berikan kepada beberapa kader dan simpatisan PKS, yang menanyakan ketidak sesuaian keputusan syuro/pimpinan partai terhadap kata hati mereka.

    Fungsi syuro akan terlaksana baik apabila terpenuhi 3 syarat yakni:

    1. Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
    3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.

    Berikut analisa pribadi saya dan evaluasi terhadap hasil keputusan syuro / dewan pembina partai, pada kenyataannya tidak sesuai dengan kata hati sebagian kader/anggota partai.

    Kemungkinan kekeliruan itu tentu bukan terjadi karena point 2 dan point 3
    sehingga penyebabnya adalah tidak terpenuhi syarat point 1, tidak terpenuhi sumber-sumber informasi yang cukup. Tidak terjadi pembanding yang fair antara pa SBY dan Pa JK (tentu pilihan bu Megawati secara wajar dieliminir oleh partai dakwah). Sesuai ungkapan tak kenal maka tak sayang. Juga tidak menghilangkan kemungkinan “penghilangan” sumber informasi untuk suatu “pesanan”/”kepentingan” atau juga ada langkah “pencitraan” yang keliru.

    Jawab Abu Jaisy:
    Terima kasih telah berkenan memberikan pendapat tentang hal ini.
    Dari ketiga fungsi syuro tersebut mungkin masuk diakal. Namun hal yang perlu kita tekankan bahwa syuro sendiri adalah bentuk mediasi yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Tidaklah seorang muslim itu meragukan dewan syariah sebuah institusi tertentu, karena setiap muslim harus mampu menerima pendapat dari muslim yang lainnya walaupun berbeda pendapat. Di PKS, dewan syuronya bukan orang-orang bodoh yang mudah ikut-ikutan. Cobalah kita renungkan perjanjian hudaybiah yang tidak masuk diakal, hingga menimbulkan mosi tidak percaya beberapa sahabat kepara Rasulullah. Karena apa yang dilakukan Rasulullah tidak ilmiah. Lalu apakah jumlah 99 orang di dewan syuro PKS merupakan orang-orang yang berfikiran sama semua? Logikanya jelas keliru. Karena setiap dewan syuro yang hadir memiliki track record sendiri kepada apa yang akan dibahas.

    Bahan-bahan sumber informasi sudah diolah betul, dan insya Allah sudah sangat matang. Pembanding sana-sini sudah dilakukan atas pertimbangan tertentu. Hal seperti itulah yang mendasari keputusan syuro tersebut. Dengan demikian sikap tawazun yang seharusnya dilakukan, insya Allah sudah dilakukan. Dan debat dalam setiap argumentasi para peserta syuro tersebut insya Allah juga tidak kalah sengit, walaupun tidak ada teriak-teriak atau pukul-pukul meja. Ingatkah ketika para kader PKS lebih menginginkan JK daripada SBY, lalu apakah tim 99 Syuro dari PKS tersebut tidak menimbang hal itu terlebih dahulu? Padahal setiap peserta Syuro adalah representatif dari wakil kader di daerah masing-masing.

    Coba kita berfikir, jikalau argumentasi anilisa anda seperti itu. Apakah tidak sama halnya nanti ketika PKS memilih JK, argumentasi seperti itu akan dipakai oleh timnya SBY 🙂
    Inilah, karena ketidaksiapan kita memahami apa yang akan nanti menjadi pilihan seseorang. Ruang keterbukaan dalam perbedaaan hanya menjadi pepesan kosong yang malah menjurumuskan seseorang untuk berada pada satu keberagaman.

    Menurut saya, biarlah ada orang yang mendukung SBY, biarlah ada orang yang mendukung JK. Karena masing-masing itu mempunyai argumentasi yang dikuatkan atas pikiran masing-masing pendukung.

    Jadi menurut saya, bahwa apa yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan itu bukan keputusan syuro PKS. Tetapi apa yang dilakukan oleh setiap kandidat dari capres untuk menuju pilpres nanti.

    Sebagaimana yang saya ungkapkan dibeberapa kesempatan, saya contohkan bagaimana membandingkan sumber-sumber informasi sangat sederhana untuk pengambilan keputusan dalam mengikuti pilpres nanti.
    Pembanding ini dilakukan dengan sangat fair, menurut istilah yang kita kenal “apel to apel”

    Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
    2. Susilo B Yudoyono / Boediono
    3. M Jusuf Kalla / Wiranto

    Sesuai di tulisan saya di,
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/

    Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
    Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai dengan perintah Allah SWT.

    Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,

    Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburkan uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya.

    Firman Allah,
    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al Isra’ : 27)
    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS. At-Takatsur:1-3)

    Jawab Abu Jaisy:
    Jika pembanding ini yang dijadikan alasan. ini jelas bermuatan politis. Sekarang mana ada acara-acara Golkar yang tidak menghambur2kan Uang. Ingatkah acara-acara yang dilakukan Golkar dalam berbagai efen saat menjelang kampanye Caleg? Lalu jumlahkan berapa anggaran dari setiap acara yang meraka adakan. Sedangkan Demokrat, berapa kali mengadakan acara ketika saat pemilu caleg?
    Coba jumlahkan kedua acara partai tersebut. Dan insya Allah anda akan menemui angka yang melebihi acara Demokrat. Maaf, saya tidak bermaksud membela Demokrat, tetapi kita realistis sajalah.

    Sebelum acara deklarasi itu, adakah setiap Capres dan Wapres yang mengatakan akan mengadakan acara deklarasi yang murah? Tidak ada. Ini baru ketika deklaras SBY dilakukan, lalu mereka ramai-ramai mengklaim bahwa mereka yang paling murah biayanya. Istilahnya, mereka menunggu moment untuk “menjatuhkan” deklarsi SBY. Ini berarti mencari kesalahan seorang muslim, kalau seandainya anda memakai ayat Quran diatas untuk mengkonotasikan dengan kegiatan deklrasi itu menghambur2kan uang. Maka bisa saja saya memakai argumentasi dengan mengatakan ini:

    “Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: “Jauhilah olehmu berprasangka. Sebab prasangka adalah sejelek-jelek perbuatan (pembicaraan). Janganlah kamu saling mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain, Janganlah saling menghina, Janganlah saling dengki mendengki, Janganlah saling jauh menjauhi, dan Janganlah saling mengumbar emosi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari)”

    Hehehe, kok akhirnya jadi perang dalil. 😀
    Nah ini nanti dalil bisa dijadikan alat politik! Hehehee, masya Allah, Astaghfirllah.

    Pada saat deklarasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu.

    Firman Allah, “Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’d: 36-37).

    Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh (meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam penampilan.

    Jawab Abu Jaisy:
    Kalau mau jujur, mana ada format setiap Capres dalam deklarasi dilakukan secara islami? Tidak ada!
    Semua juga tasyabuh, ikhtilath dan ghurur.
    Jika anda menggunakan ayat diatas untuk menyerang SBY, jelas sekali terasa dipaksakan 🙂
    Jika masalah tasyabuh, ini konteksnya luas sekali. Ada orang Islam yang lain juga menyatakan mengikuti Demokrasi juga tasyabuh. 😀
    JK saat deklarsi didepan patung juga tasyabuh dengan orang-orang musyrik. Hehehe, maaf. Masya Allah saya kok jadi geli sendiri.
    Tidak perlu lah menjatuhkan orang dengan ayat-ayat yang dipaksakan, karena ini nanti malah balik menyerang capres yang anda unggulkan. Karena dengan menggunakan ayat-ayat tersebut, anda juga terkesan mengikuti hawa nafsu.

    Bisa saja saya juga menggunakan dalil seperti ini:
    “Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Nasai mengetengahkan sebuah riwayat, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Mereka itulah orang-orang yang apabila ada orang shalih meninggal di antara mereka, lalu mereka dirikan masjid di atas kuburnya, dan di dalamnya didirikan patung orang shalih tersebut. Dan, mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah pada hari kiamat nanti.”

    Karena JK-Win deklarasinya didepan patung, maka tasyabuh dengan orang-orang musyrik. Hehehee
    nahkan malah jadi lucu 😀

    Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo’a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya

    Jawab Abu Jaisy:
    Amien. Semoga kita semua juga dilindungi Allah atas sikap yang ghurur dan ghuluw dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Tentunya dengan selalu belajar menimba Islam dan menjadikan Islam sebagai pegangan hidup, dan bukan senjata untuk menjustifikasi lawan politik. Amien.

    Dalam rangka “tak kenal maka tak sayang” dan sekaligus bertujuan agar tidak terjadi salah memilih pemimpin negeri. Alih-alih mengharapkan / memaksakan untuk 1 kali putaran untuk menghemat “uang rakyat” sebesar 4 trilyun, namun sebuah kekeliruan bisa berakibat kerugian “uang rakyat” ratusan trilyun rupiah dalam 5 tahun kedepan. Menurut saya kampanye ini , benar-benar “membodohkan” rakyat. Sayangnya pemimpin membiarkan itu terus berlangsung.
    Untuk mengenalkan sosok sesungguhnya pa JK dan menangkal pencitraan yang salah yang dilakukan beberapa pihak, maka saya muat tulisan di blog saya mutiarazuhud.wordpress.com.
    Selamat mengetahui kebenaran.

    Jawab Abu Jaisy:
    Dari survey, bahwa warga DKI lebih memilih Pemilu 1 putaran. Ini beritanya —-:> Suaranews.com
    Maaf, jangan sampai kita mendahului takdir bisa berdosa. Dengan menganggap 5 tahun kedepan Indonesia rugi ratusan trilyun. Kenapa kita tidak menyelamatkan uang negara yang saat ini sudah kita ketahui? Kenapa harus menyelamatkan uang ratusan trilyun yang kita sendiri tidak ketahui akan kebenaran tersebut.
    Ini kontras dengan pendapat anda diatas yang menyatakan tidak boleh menghambur-hamburkan uang, boros, dll. 🙂 Hal yang paling membodohkan rakyat adalah ketika kita mencekoki mereka dengan kata “pembodohan” Akhirnya bodoh beneran 😀
    Yah, bagi saya sih ini sebuah tantangan untuk setiap Capres. Belum-belum sudah takut! Ini jelas tidak sesuai dengan akhlaq seorang beriman yang selalu berani menghadapi segala macam cobaan, apalagi tantangan dari “rival”nya. 🙂
    Dari 5 tahun, orang sudah kenal siapa SBY dan siapa JK. Jadi kenapa harus “takut”. Harus optimis dong kalau sudah terjun jadi capres. “POKOKNYA BISA MENANG DENGAN CARA HALAL DAN ELEGAN” Nah itulah prinsipnya 😀
    Iya terima kasih informasinya. Insya Allah akan banyak orang yang akan membanding-bandingkan mau pilih yang mana Capresnya, ketika banyak hal yang bisa dijadikan pembanding satu sama lainnya.
    Terima kasih atas kunjungannya.

  11. satu hal yang perlu diketahui oleh para aktifis PKS adalah masalah kemajemukan dan kebersamaan dalam Shalat, didaerah saya mengenal dengan 23 rakaat begitupun ketika saya masih kuliah dijakarta dimana yang 23 rakaat diprioritaskan dan yang melaksanakan 11 rakaat tetep bisa berjamaah walau witirnya dilaksanakan dirumah

    tapi dikomplek saya terbalik yang utama adalah 11 rakaat jadinya yang 23 rakaat mau tidak mau ketika setelah lewat 8 rakaat sepertinya terjadi shalat masing-masing

    Seharusnya kita utamain kebersamaan yang utama artinya akan terasa indah Shalat dilihat jika pada kasus pertama

    tulisan saya ini hanya untuk mengetuk hati para atktifis dakwah yang dulu sempet saya berharap INILAH PARTAI YANG KITA TUNGGU DENGAN KEBERSIHAN HATI DAN SANTUN tapi maaf seiring perjalanan rasanya udah hilang, saya jujur lebih sreg ketika masih jamannya PK

    semoga ini bisa menjadi pembelajaran kedepannya

    Islam adalah segalanya mas….salam hangat selalu

    Jawab Abu Jaisy:
    Shalat tarawih itu terserah mau berapa saja, mau 11, mau 23 yah terserah. Tidak ada larangan dalam hal ini. Mana yang diprioritaskan, 11 apa 23? Jika main prioritas, maka kita melihat bagaimana situasi jamaah dan imamnya. Ketika jamaah dan imamnya memang sepakat 23, yah silahkan berarti itulah yang diprioritaskan. Nah ketika ada jamaah dan imam yang sepakat dengan 11, yah itulah yang diprioritaskan. Tidak ada dalil yang menyatakan prioritas jumlah shalat tarawih.

    Jika masalah kebersamaaan. Wah, bingung juga. Karena setiap orang mempunyai pedoman mereka sendiri-sendiri. Nah ini jelas tidak bisa dipaksakan. Seperti halnya saya, kadang mengikuti shalat tarawih 11 rakaat, kadang juga mengikuti yang 23 rakaat. Yah fine-fine aja, kan itu sunnah. Kenapa kita harus mengagung-ngagungkan sunnah sedangkan wajibnya kita lupakan? Yah yang terpenting shalat wajibnya berjamaah teruslah, istilah kasarnya kayak gitu mas hehehe.

    Kalau seandainya di perumahan mas memang maunya 23 rakaat, yah langsung bilang aja ke Imamnya. Atas rekomendasi dari para jamaah. Hal-hal “grundel” seperti ini sering terjadi ketika tidak saling memahami dan saling berbicara dengan baik-baik. PKS tidak melegitimasi bahwa shalat 11 itu yang paling prioritas, juga tidak 23 rakaat. Yang terpenting mengerjakannya.

    Insya Allah, semoga para aktivis dakwah (bukan hanya di PKS), terketuk hatinya untuk tidak memaksakan fiqh sebuah madhzab. Doakan kam iterus untuk selalu bersih dan santun. Mas, sejujurnya kami memang merindukan hal-hal seperti dulu. Kenangan-kenangan bagaimana tidak mengikuti politik, bagaimana kita hanya memikirkan satu objek saja yaitu dakwah tanpa politik. Tetapi kami harus terpaksa terjun juga, karena ini adalah bentuk pelatihan dakwah kami. Karena Islam adalah syumul, dan mutakamil. Maka kami tidak ingin berikhtilat hingga menjauh dari perjuangan yang lainnya.

    Mari kita berjuang bersama-sama mas. Walaupun berbeda organisasi, partai politik atau pilihan capres. Yang terpenting kita umat Islam yang satu, yang dapat saling mengerti setiap perbedaan tanpa harus bersu’udhon kepada yang lainnya.

    Salam kenal juga 🙂

  12. kasian rakyat mas, pks itu kan partai dakwah, kalian lebih bijak bersikap netra saja, jng menjelek2 kan org apalagi sesama muslim, ingat perkataan kalian akan dipertanggung jawabkan dia akhir nanti. oh ya maaf ya kalian orang2 pks kan taat2, ibadahnya bagus, ilmunya luas. sehingga apapun sanggahan orang akan kalian bals dengan mengeluarkan ayat2 ataupun dalil2 quran. emang pintar2 kalian, mudah2 Allah selalu melindungi kalian (amien), hebat ya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Yups, kasihan rakyat, termasuk kami juga rakyat loh mas. Ketika bersikap netral, dengan tidak memilih satu dengan yang lainnya, apakah ada jaminan hal itu menjadi netral? Tidak mas. Isu politik terus bergulir, ikut atau tidak ikut memilih PKS tetaplah ancaman bagi setiap partai-partai yang ada. Disitu sudah dijelaskan, bagaimana PKS diibaratkan “musu” dalam selimut. Pernyataan JK pada suatu kali di konfrensi Golkar yang menyatakan pada intinya “PKS adalah ancaman bagi kita, bagi kita uang 1 milyard bukan apa-apa, tetapi ketika PKS mempunya uang 1 milyard maka PKS dapat merebut semua konstituen Golkar” Juga PDI-P yang dikomandoi oleh suami bu Mega sendiri menyatakan bahwa Teroris di Indonesia itu adalah PKS. Dan selama ini hanya Demokrat yang belum memberikan statement bahwa PKS adalah ancaman (walaupun di internal Demokrat sendiri menganggap seperti itu).

    Bukan hanya kami mas yang akan mempertanggung-jawabkan perkataan dan perbuatan. Tetapi seluruh manusia akan mempertanggung-jawabkan apa yang mereka lakukan. Kami hanya ingin bersikap sebagai seorang muslim, yaitu dengan berusaha sebaik mungkin berjuang untuk menegakkan Islam.
    Demi Allah, kami tidak pernah merasa sudah paling taat dalam beribadah, apalagi menganggap ilmu kami sudah luas. Kami hanya ingin berbuat yang lebih baik untuk umat. Berbuat untuk menjadi umat-umat yang mampu memberikan kontribusi yang nyata untuk Islam. Tidakkah seorang muslim itu harus berpegang teguh dengan dalil Al Quran dan Sunnah? Pasti bukan! Bukan berarti kami menyanggah untuk dianggap pintar, tetapi hal itu adalah tujuan partai dakwah itu sendiri. Bagaiman tidak ketika PKS disebut partai dakwah tetapi tidak mempunyai dalil dalam Al Quran ataupun Sunnah dalam apa yang ditujunya? Jelas, seharusnya seperti inilah semua partai Islam. Mempunyai dasar yang kuat atas apa yang mereka kerjakan. Sehingga dengan jelas berarti sebagai partai Islam, bukan hanya partai berbasis Islam.

    Amien. Terima kasih mas atas do’anya. Semoga mas juga diberkahi Allah atas apa yang mas lakukan. Amien.
    Maaf, kami bukan orang hebat. Tetapi kami berusaha untuk memberikan yang terbaik, walaupun kadang yang terbaik itu juga harus menjadi pro dan kontra.
    Barakallah.

  13. Janji JK bagi Rakyat Indonesia

    Kompas hari ini 1 Juli 2009 hal 33,
    “Muhammad Jusuf Kalla, Sudah Kaya, Cari Apa Lagi”

    Jawaban beliau,
    “Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apapun kekayaan dari negeri ini. Bersama pa’ Wiranto, saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi.”

    Sungguh sebuah “kontrak politik” yang jauh bernilai dibanding “kontrak politik” capres lainnya, dan yang itupun baru sebatas kepada partai politik pendukung saja, kepentingan elite petinggi partai.

    Alhamdulillah, sungguh rakyat Indonesia cukup dengan memegang perkataan/ janji beliau ini, sudah bisa yakin untuk memilih JK. Karena pa JK, Insyaalllah satu kata dengan perbuatan.

    Kapan lagi kita bisa bebas dan merdeka, dari penjajahan ekonomi secara tidak langsung dari kaum kapitalis dan pihak asing ?

    Jangan mau kita diadu domba oleh pihak asing ataupun pihak-pihak yang
    menginginkan negeri ini bangkrut.

    Marilah kita bangkit dan bersatu padu bersama pemimpin yang mau memuliakan rakyatnya.
    Amin

    salam

    zon

  14. sby memilih boediono adalah salah satu bukti kalo sby itu tidak peduli kepada partai-partai islam, apalagi sekarang demokrat memiliki suara yang besar. kalo bicara tentang golkar apakah pks lupa kalo di pilkada2 pks juga berkoalisi dengan golkar, pdip bahkan pds. bicara selalu tentang kemaslahatan, maksudnya kemaslahatan atau kekuasaan yaaa???? semakin hari semakin plin-plan, ngomong2 nanti dapat jatah kursi menteri berapa yaaa??? bagaimana tuh tentang dakwah??? apa bisa gituh mendakwahi sby dan boediono??? apakah nanti setelah berkuasa pks akan nyuruh boediono naik haji??? lucu…!!!! atas nama islam tapi yang dikejar kekuasaan

    Jawab Abu Jaisy:
    Sabar… Innallaha ma’a shabirin. 🙂
    Waah, kayaknya kecewa banget yah. Orang yang berbicara tentang kemaslahatan memang tidak make emosi-emosian, jadi susah dilihat kebenarannya sama yang bertemperamen seperti anda. Alhamdulillah, dapat jatah kursi lebih banyak dari partai yang lain Insya Allah. Semoga dengan jatah kursi yang lebih baik bisa mengoptimalkan kinerja kader-kader PKS. Alhamdulillah, kader PKS yang jadi menteri sudah memberikan hasil yang nyata. Jadi, jelas sekali dalam Islam kita disuruh menyerahkan kepada ahlinya. Kalau tentang dakwah yang lanjut terus, kita berpolitik-kan juga termasuk sarana dakwah. Nah kalau masalah kajian Islam, yah jangan sampai mempertanyakan lagi berapa besar kajian2 keislaman yang di isi oleh kader-kader PKS. Nahkan semua tetap jalan. Lah, mendakwahi SBY kan sudah dari dulu, alhamdulillah yang dulu Palestina nggak pernah diurusin sama Indonesia, sekarang sudah dapat proporsi. Nah itukan atas desakan PKS, wah kayaknya mas ini terlalu emosi sehingga tidak dapat berfikir jernih. Untuk Boediono, insya Allah siap didakwahi. Nah Pak Tifatul sendiri mengajak untuk Umrah dengan Pak Boediono. Masya Allah, masalah agama kok dianggap lucu. Apakah karena anda terlalu emosi sehingga orang yang melihat anda menjadi tertawa? Sehingga lucu 😀
    Yah, umat Islam kok nggak mau berkuasa? Ini kok aneh sekali! Justru orang Islam yang kuat Imannya yang harus mempunyai kekuasaan, sehingga memberikan maslahat atas apa yang diamanahkannya. Yah, coba baca sirrah nabawiyah/ sejarah Rasulullah. Insya Allah anda nggak akan terlihat lucu lagi. 😀

  15. Alhamdulillah, saya benar memilih PKS. Sudah jelas-jelas JK orangnya berwatak keras, kok yah ada yang bela. Lihat saja iklannya, kalau ngomong bilang “saya marahi” emangnya negara ini bisa maju kalau dimarahi apa? Aneh.

    Katanya “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”, benar artikel diatas. Coba sekarang mana suara JK tentang Lapindo? Nggak ada!

    Jadi lebih baik saya sarankan untuk diganti saja menjadi:

    “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK MATI”

    Semoga orang-orang yang bela JK sadar, akan kemunafikannya. Amien

  16. GOBLOK YANG BELA JUSUF KALLA SAMA WIRANTO
    DIBAYaR BERAPA MEREKA!

    KATANYA ISLAM, EMANG ISLAM YANG MANA?

    LIHAT SAJA IKLANNYA JK BANYAK DEDENGKOT CSIS, APA MEREKA-MEREKA SUDAH BUTA APA! INGAT CSIS SAAT ORDE BARU NGGAK? JANGAN-JANGAN ORANG SUDAH DIBUNGKAM DENGAN UANG.

    DASAR GOBLOK

    Jawab Abu Jaisy:
    Wuih, sabar-sabar. Masya Allah. Redamlah hati, kuatkanlah iman, mudahkan tuturkata yang menyejukkan. Jangan kita umar emosi yang tidak seharusnya. Kita semua muslim, mari bergandengan tangan untuk membangun bersama negeri kita ini.

    • Data ini, sesuai laporan Rev John Barr, dari Persatuan Gereja Australia dan
      sumber George Aditjondro di Maluku dan Australia.

      Mantan dosen Universitas Satya Wacana ini mengungkapkan, pembakaran
      Universitas Pattimura beberapa waktu lalu, merupakan bentuk baru dari invasi
      10.000 Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang dikirim berperang ke
      Maluku, yang diberangkatkan dari Surabaya, lewat dukungan Pangdam
      V/Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi dan Kapolda Jatim (Inspektur Jenderal)
      Polisi Da’i Bachtiar, yang disebut masih loyal kepada Wiranto.

      Menurut dugaan, langkah ini ditempuh Wiranto dan pendukungnya, untuk
      membebaskan saudara-saudara mereka yang beragama Islam di Maluku, dari
      pembersihan etnis agama, oleh kelompok Kristen Maluku.

      Walaupun Presiden Gus Dur mengumumkan darurat sipil diberlakukan pada 27
      Juni lalu, tetapi pembunuhan-pembunuhan terus berlangsung. Sehingga, George
      menyarankan, agar Australia sebagai tetangga yang baik, memberikan bantuan
      kepada rakyat Maluku yang masih tersisa, agar terhindar dari pembasmian
      berikutnya.

      Sebenarnya, kata George, rencana yang disusun pengikut Soeharto untuk
      membuat konflik di Maluku, pada awalnya bertujuan menciptakan instabilitas
      keamanan, sekaligus menjegal Megawati sebagai kandidat terkuat menggantikan
      Habibie, yang didukung Soeharto.

      Kedua, tentunya menciptakan kerusuhan sosial di beberapa wilayah, yang
      tujuannya menghidupkan kembali beberapa Kodam (Komando Daerah Militer), yang
      dulu pernah dihapuskan mantan Panglima ABRI (sekarang TNI–Red) Jenderal
      (Purn) Benny Moerdani

  17. Apa benar Islam bisa lebih baik lewat PKS???? penerapan syariat Islam di Aceh dan Bulukumba apakah atas jasa PKS? Kabupaten-kabupaten di Jawa Barat menerapkan perda-perda bernuansa Islami juga bukan atas berkat kerja PKS kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Golkar. PKS berhasil dibeberapa provinsi jadi gubernur apakah kita liat ada penerapan syariat Islam disana? yang berhasil dalam pembangunan daerah seperti Alex Nurdin dan Fadel Muhammad juga bukan dari PKS mereka adalah orang Golkar, satu lagi sejak kapan Rasulullah sholallahu alaihi wassalam berpartai? Islam bukanlah partai Islam, tidak ada tuh yang namanya partai Islam, kepartaian dan demokrasi adalah produk sekular Barat, makanya kalo mau ikut pesta demokrasi mendingan jadi orang sekular aja, mengatasnamakan agama juga cuma jualan agama kok demi kursi, ga ada maslahat apa2 buat umat. Kalo ngomong orde baru ngapain tuh iklan PKS menjadikan Soeharto pahlawan? ga malu yaa membuang idealisme untuk meraih kepentingan politik pragmatis

    Jawab Abu Jaisy:
    Apakah saya menyatakan bahwa Islam lebih baik lewat PKS? Tidak bukan! Hanya saya menyarankan agar orang seperti anda untuk menjaga nafsu emosi anda. Akankah Islam akan lebih baik dengan orang-orang yang selalu membawa emosi seperti anda? Tentu sangat tidak bukan. Karena dalam sirrah nabawiyah, jelas Islam ditegakkan dengan kesabaran dan kerja yang keras, tetapi bukan dengan emosi.

    Penerapan Perda Syari’at Islam diberbagai daerah bukan dari Golkar saja, tetapi dari seluruh elemen partai Islam. Logikanya begini, Apakah ketika Golkar berkuasa saat Orde Baru menegakkan Syari’at Islam? Tidak! Bahkan mereka sangat anti sekali terhadap Islam. Ingatlah, lobi-lobi itulah yang diperlukan. Contohnya di berbagai daerah. PKS hanya mempunyai sedikit wakil Rakyat, tetapi mampu melobi untuk dapat memberikan kemaslahatan dalam Islam. Nah selama tahun 1999-2004 adakah nuansa Islam? Tidak, tetapi ketika 2004-2009 saja nuansa itu begitu “eksotis”, karena kader PKS sudah mempunyai pemerataan Wakil Rakyat di seluruh daerah. Ini jelas bukti loh, lihat saja para JIL (Jaringan Islam Liberal) yang membeberkan buku mereka dengan “katanya” hasil dari penelitian. Jangan menutup mata dengan hal ini, apalagi menjadi buta. Jangan!

    Hehehe, Kalau perkataan anda “Sejak Kapan Rasulullah Berpartai?” sama halnya dengan pertanyaan “Sejak Kapan Rasulullah naik mobil?” Hehehe. Hizby jelas sekali diajurkan oleh Rasulullah. Tetapi Hizby yang bagaimana? Yaitu Hizbullah atau Partai Allah, nah Hizbullah itu yah partai Islam. coba deh belajar lagi. Hehehe… maaf bukan bermaksud menertawakan anda. Tetapi kok anda terkesan lugu sekali dengan ilmu pengetahuan anda 😀

    Kalau masalah soeharto dijadikan pahlawan, tidak hanya PKS yang menyetujui. Beberapa partai lain juga ikut menyetujui, seperti PKB dan GOLKAR. Nahkan, sekali lagi PKS yang “mendahului”. Bukan semangat Orde Baru-nya yang ingin diambil oleh PKS, tetapi semangat bagaimana Soeharto mampu berhasil dari segi yang lain. Jadi PKS tidak ingin menjadi orang yang selalu mengedepankan Emosi (mungkin seperti anda), tetapi PKS ingin mengedepankan sikap yang proporsional. Bagaimana melihat orang itu bukan hanya dosanya, tetapi amalannya. Toh jelas dalam Islam kita juga “dilarang” menyebutkan kejelekan orang yang sudah mati. Seharusnya, kita bukan membenci orangnya, tetapi kita membenci kelakuan atau sistemnya. Kalau orang yang berkelakuan jahat lalu berubah dan sadar akhirnya berkelakuan baik, apa kita harus membencinya terus? Tidak bukan!

    Nah inilah, kedepankan sikap yang tawazun, hingga mampu bersikap proporsional dalam bertindak dan akhirnya bukan menjadi orang-orang yang dholim dihadapan Allah.

  18. Siap Untuk jadi Saksi.. Allahu Akbar!!!

  19. Kalau zaman orde baru mana mungkin ada orang yang berani macam2, anda juga ga berani ‘kan mendirikan PKS?

    Jawab Abu Jaisy:
    Nah, itulah dijaman Orde Baru nggak ada yang macam-macam. Karena orang-orang Golkarnya juga nggak berani, tetapi sukanya ABS (Asal Bapak Senang). Saat itu memang belum berdiri PKS. Tetapi kader PKS sudah banyak yang ditangkapi Soeharto! Anda pasti nggak tahu itu.

    Siapa yang berani menentang Soeharto pada saat itu?

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, yang menentang Soeharto itu kader-kader PKS. Hehehe, please deh! Kok lucu anda ini. Apakah anda tidak tahu bagaimana lautan Jilbab Putih menguasai gedung MPR saat itu. Baru setelah itu mahasiswa lainnya yang menduduki. Itu semua kader-kader PKS, sedangkan kader Golkar Dan PDI nggak ada! Hehehe. Anda ini ngawur. Please eh! Nggak tahu sejarah yah pastinya.

    Setelah era reformasi segera dibeberapa daerah terbit perda2 syariah tanpa campur tangan PKS samasekali. Jangan lupa setelah reformasi masih Golkar kok yang berkuasa, tapi buktinya perda2 Syariah itu muncul juga. Sesungguhnya yang anti terhadap Syariah Islam adalah Soeharto sedangkan orang-orang Golkar tidak seluruhnya anti. Coba saya nanya situ apakah Demokrat tidak anti Syariat Islam?

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, sekarang gini aja. Coba sebutkan data-data yang valid bahwa merekalah yang mengusung syari’at Islam. Jangan hanya daerah ini, daerah itu. Sekarang kenapa bukan tahun 1999-2004 perda Syari’ah itu ada? Kenapa baru 2004-2009 baru muncul? Padahal partai terbesar saat 1999-2004 adalah Golkar dan PDIP. Perda syari’at tidak muncul setelah reformasi, tetapi jauh melampau reformasi itu sendiri. Anda tahu kapan sih reformasi indonesia itu? Kalau anda bertanya kepada saya Demokrat tidak anti syari’at itu salah alamat bung. Yah anda tanya sendiri kepada kader Demokrat. Aya-aya wae! Hehehehe 😀

    Bahkan dibeberapa kabupaten di Jawa Barat yang menyokong perda syariah adalah orang2 Golkar dan PDI (saya bicara Golkar dan PDI bukan berarti saya pendukung mereka, saya cuma menyampaikan fakta yang terjadi disejumlah daerah di Jawa Barat bahwa ternyata orang Golkar itu ga seanti yang anda kira). Sekarang PKS berkuasa dibeberapa provinsi tapi ga ada tuh penerapan syariat islam? Kalau gitu tujuan PKS apa yaa?

    Jawab Abu Jaisy:
    Fakta? Mana buktinya? Hehehe, aneh2 aja orang ini. Kalau pake fakta itu ada bukti otentik valid. Sekarang saya tanya mana fakta yang mendukung statement anda ini. Insya Allah saya siap datang untuk mengambilnya! Anda ini bingung yah dengan jawaban saya. Saya sudah jelas menyatakan “LOBI-LOBI” kader PKS di Parlemen itulah yang memberikan perda bernuansa Islam atau anda sebut Perda Syari’at.
    Sekarang saya tanya, syari’at Islam itu seperti apa sih? Hingga anda menganggap PKS tidak menerapkannya! Silahkan dijawab. (Kalau tidak dijawab, berarti selanjutnya komentar anda tidak saya Approve).

    Proporsional anda yakin? Bukan kepentingan politik pragmatis? Katanya PKS anti Golkar dan orde baru, nyatanya sepakat mengusung Soeharto jadi pahlawan padahal Soeharto lah sosok dibalik penentangan terhadap penerapan Syariat Islam. Pemerintahan SBY-JK aja anda berkoalisi sama Golkar hehehe lucu yaaa . Anda itu logikanya muter2. Sampai hari ini SBY juga ga mau pindah partai ‘kan ke PKS, apa tuh sebabnya? Kalo memang yang dimaksud Hizbullah itu PKS, kami yang diluar PKS apa dong? SBY juga diluar PKS bung?

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe, anda mengagung-agungkan Golkar dan PDIP menegakkan perda syari’at, tetapi anda sendiri melanggar syari’at dengan bersu’udhon kepada umat Islam. Hehehee, aneh neh orang! PDIP Walk out dari Sidang UU APP ini apa bukan bentuk penolakan syari’at Islam. Ah, dasar loe bung hehehe.
    Lah, kan sudah saya bilang. PKS mengusung Soeharto jadi pahlawan itu karena jelas telah memberikan kontribusi, walaupun tentunya ada hal yang negatif dari beliau. Sekarang dari Presiden Indonesia yang menegakkan Syari’at ISlam itu presiden siapa? Nggak ada bung. Berkoalisi itu hal yang sah-sah saja. Tetapi ketika ada partai opportunis yang menyatakan Jusuf Kalla keluar dari Golkar saat menjadi Cawapres SBY, tiba-tiba memboyong keluarga besar Golkar untuk mendukung Jusuf Kalla jadi Cawapres SBY saat sudah ketahuan akan menang. Lah ini anda sebut apa? Hehehe, ini bukan pragmatis lagi, tapi opportunis! Heehehe. Loh SBY nggak mau pindah partai yah terserah SBY, hehehe, emang apa hubungannya. Aya-aya wae neh orang. Hehehe

    Hehehe, siapa yang bilang PKS itu merupakan satu-satunya Hizbullah? Wah, kacau ini kalau sama anak kecil!

    Sekarang. Gini aja Bung, jawab sesuai dengan pertanyaannya. Jangan muter-muter nggak jelas ok!

    INILOH SAYA KASIH BUKTI, KALAU GOLKAR JUGA NOLAK SYARIAT ISLAM.

    Sebanyak 56 anggota DPR mengirimkan surat kepada Ketua DPR untuk segera
    menyurati Presiden agar memperbaiki dan mencabut semua peraturan daerah
    kabupaten/kota bernuansa syariat Islam. Pembentukan dan pemberlakuan perda itu
    dinilai bertentangan dengan konstitusi dan Pancasila.

    Usul tersebut disampaikan perwakilan pengusul kepada Wakil Ketua DPR Soetardjo
    Soerjogoeritno, Selasa (13/6/06) siang. Yang menyampaikan usul itu antara lain
    Constant Ponggawa (Fraksi Partai Damai Sejahtera, DKI Jakarta II) dan Nusron
    Wahid (Fraksi Partai Golkar, Jawa Tengah II). Adapun ke-56 penandatangan usul
    itu antara lain berasal dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, Fraksi Partai
    Golkar, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Demokrat,
    Fraksi Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (Kompas,
    14/6/06).

    DAN INI JAWABAN PKS
    PKS Tolak Perncabutan Perda Bernuansa Islam

    Jakarta, 14 Juni 2006 17:00

    Ketua Fraksi PKS DPR Mahfudz Sidik menyatakan, tidak ada dasar bagi
    pemerintah untuk mencabut Perda-Perda yang bernuansa Islam, apalagi
    sejumlah aturan tersebut yang dikeluarkan beberapa Pemda tidak
    bertetangan dengan konstitusi.

    “Secara normatif, Perda-perda itu mengacu pada UU No 32/2004 tentang
    Otonomi Daerah (Otda). Sepanjang itu menjadi kesepakatan Pemda, DPRD
    dan masyarakat setempat tidak masalah,” katanya di Gedung DPR/MPR
    Jakarta, Rabu.

    Ia menambahkan, mereka yang menolak kehadiran Perda-perda bernuansa
    keislaman itu lebih dilatarbelakangi kekhawatiran dan kecemasan. “Itu
    kecemasan mereka yang berlebihan, bukannya mereka tidak paham,” katanya.

    Ia mengungkapkan, bagi masayarakat setempat Perda-perda tersebut
    justru memdorong kehidupan mereka lebih baik. Karena itu, pemerintah
    pusat tidak perlu merespon pihak-pihak yang menolak Perda tersebut.
    “Perda-perda itu tak ada alasan untuk dipersoalkan,” katanya.

    Selain itu, katanya, terhadap Perda-perda tersebut masyarakat setempat
    juga tidak mempersoalkan. Jadi aneh bila penolakan itu justru datang
    dari pihak luar. Karena itu, pihaknya akan tetap mendukung Perda-perda
    tersebut.

    Menurut dia, sebuah produk UU bisa dibatalkan bila masyarakat setempat
    menolak dan bertentangan dengan konstitusi. “Tapi, Perda-perda ini
    tidak ada yang bertentangan dengan UU kita,” katanya.

    Mendagri M. Ma`ruf di Gedung DPR/MPR Jakarta mengaku sudah mengirim
    surat kepada para Gubernur untuk menginventarisasi Peraturan Daerah
    (Perda) yang diterbitkan.

    Menurut dia, Perda-perda tersebut akan di evaluasi dan diteliti mana
    yang berpegang pada konsensus nasional yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI
    dan Bhineka Tunggal Ika. “Kita evaluasi dengan sistem berjenjang,”
    tegasnnya.

    Ia menambahkan, hasil evaluasi selanjutnya akan dibahas dengan
    Gubernur. “Kita tetap berpatokan. Perda yang bertentangan dengan
    Undang-undang di atasnya dan melanggar kepentingan umum, kita
    batalkan,” katanya. [TMA, Ant]

  20. wah, blogger omong kosong ini memang lawan yg sepadan utk DOS di pkswatch…,,, mampir sekali2 bos ke pkswatch.. jangan jago kandang,,,
    notes saya: banyak orang2 copo macam dirimu yg hanya berani berlindung di balik layar monitor, kalo gentle kita debat langsung face to face,,,
    mana facebook-mu?

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehehe
    Kenapa bukan si Dos yang harus kesini?
    Saya tidak pernah mampir ke Blognya si Dos? Wah, pasti anda orang baru yah di internet? Hehehe, kalau masih baru mending di lihat semua artikel2 yang ada disini dan yang ada di si Dos. Jadi biar tidak timbul fitnah seperti anda menfitnah saya “banyak orang2 copo macam dirimu yg hanya berani berlindung di balik layar monitor“. Berhati-hatilah atas segala lisanmu yang menyakiti setiap muslim, karena setiap muslim bisa menuntutnya kelak di akhirat!
    Kalau sudah di dunia maya itu tidak ada istilah kandang2an mas/mbak. Kalau sudah publish semua sudah tahu, dan bisa dikomentarin. Kenapa anda emosi sekali? Hehehe
    Jidal itu dengan akhsan, lah kalau jidal sudah emosi kayak anda gini yah, please deh.
    Ok, silahkan anda datang di facebook.com/fajar212000
    Saya tunggu yah pendekar Jidal. 😀

    BTW, kenapa harus di facebook? Kenapa tidak disini saja? Kalau di Facebook kan hanya untuk orang2 “khusus” yang mempunyai account bisa melihatnya. Nah disini seluruh orang bisa melihat dan ikut berkomentar. Jadi sebaiknya disini saja yah! Biar semua melihat dan mampu menelaah dari apa yang ingin anda tanyakan kepada saya.

    • Ehh … bukannya kalo lewat facebook itu juga bukan face to face … tapi face to monitor yah … ??? … 😀

      @Abu Jaisy … saya dukung anda deh …

      Jawab Abu Jaisy:
      Waduh, ampuunnn jangan dukung saya, bukan saya nyang jadi Capres. Hihihihihiii…. 😀

  21. Assalamu’alaikum … sorry baru mampir lagi …

    Tadinya saya juga gregetan waktu PKS tetap berkoalisi sama Demokrat … karena kelihatannya Demokrat kurang menghargai mitra koalisinya … Tapi … ketika Pak Tif bilang bahwa Pak SBY sendiri sudah menandatangani kontrak politik dengan PKS … dan melihat kenyataan bahwa ternyata Pak Boediono juga mampu menangkis tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya dengan relatif bagus … saya mantap dukung SBY deh … Trus wawancara Metro TV dengan Sri Mulyani baru-baru ini … menurut saya bagus tuh … Apalagi setelah membaca tulisan anda … 😀

    Jawab Abu Jaisy:
    Waalaikumsalam, tararengkyu bro dah meluangkan waktu mampir dimari 🙂

    • Mampir di blog saya dongpak … Saya baru nulis tentang kasus Ahmadiyah nih … pengen tau pendapat bapak … 😀

      http://ganryukg.wordpress.com/2009/07/03/ada-apa-sebenarnya-dibalik-kasus-ahmadiyah/

  22. saya baru saja membuka blog ini, tetapi sekarang mata anda terbuka, bahwa pks pun di pansus, mulai terbelalalak matanya, bahwa sby telah memakai cadar diwajahnya…
    secara kecendrungan sudah jelas, bahwa pks sadar bahwa figur yang didukungnya, ternyata ada udang dibalik batu..

    heran sekali orang orang pks yang mengaku cerdas, ternyata bodoh dan idiot karena salah berpihak kepada yang salah..

    subhanallah,,,, untung sebelumnya ada jk, kalau tidak kemana ekonomi kita berjalan? sekarang tidak tampak pergerakan ekonominya..

  23. Nyasar kemari, padahal mau ke blog orang.

    Btw. Saya kecewa pks. Sekarang terbukti banyak kasus. Boediono kasus (tapi didiamkan), Tif juga ga mumpuni sebagai menkom (bukankah harus memasukkan orang sesuai kapasitasnya, bukan jatah politik), kader pks juga ada yang korupsi, dan sby kebanyakan curhat dan gak punya sikap tegas terhadap malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: