Ketika Las Vegasnya Arab Saudi Jengah Dengan Kemaksiatan


Bahrain ibarat madu bagi kumbang-kumbang Saudi yang liar. Di Las Vegasnya Arab itu, mereka bisa memuaskan semua hasrat liarnya. Namun, pemerintah dan parlemen Bahrain rupanya risih wilayahnya jadi ’’kiblat dosa’’.

SURGA dunia di negeri pulau yang luasnya hanya 665 kilometer persegi -nyaris setara dengan DKI Jakarta– itu begitu mudah diakses. Hanya butuh sekitar setengah jam perjalanan darat melewati Jalan Lintas Raja Fahd dari Arab Saudi. Dari Qatar pun tinggal menyeberangi Teluk Persia saja.

Setiap akhir pekan, warga Saudi dan sekitarnya membanjiri negara kecil tersebut untuk memenuhi sejumlah bar dan hotel di Manama. Mereka menenggak minuman beralkohol dan mejeng di jalanan ibukota Bahrain, hingga menjadi pelanggan tetap pusat-pusat pemuas syahwat. Mereka memburu kepuasan yang tak difasilitasi di negeri asal mereka yang ultrakonservatif.

Ya. Memang sudah cukup lama Bahrain dikenal sebagai pulau tanpa aturan. Dengan begitu mudah bisa ditemukan kelab malam, penyanyi seksi Lebanon, minuman memabukkan, dan bebas dari aturan ketat seperti layaknya negara-negara Arab lain.

Namun, reputasi tersebut kini mendapat perlawanan dari sebagian penduduk Bahrain yang menolak minuman keras dan hal-hal berbau kemaksiatan. Mereka terus bergerak untuk memperjuangkan pembatasan konsumsi alkohol di wilayah Bahrain.

Kelompok Syiah dan Sunni yang selalu berhadapan dalam politiknya, kini mempunyai musuh bersama. Mereka bersatu untuk melindungi wilayahnya dari anjloknya nilai moral warga.

April lalu, Bahrain mulai menuju ke arah konservatif dengan menutup sejumlah bar dan hotel bintang dua. Saat ini sejumlah anggota parlemen mendesak pemerintah untuk melarang alkohol di seluruh negeri dan menutup kelab-kelab malam. ’’Semakin banyak prostitusi dan orang-orang mabuk dari luar Bahrain. Ini memperburuk wajah Bahrain,’’ tegas Adel al-Moawdah, anggota parlemen yang berjuang untuk meloloskan undang-undang antialkohol.

Minuman memabukkan dan kemaksiatan lain memang menarik perhatian sebagian besar orang datang ke Bahrain. Namun tak sedikit juga yang datang ke Bahrain semata-mata untuk mencari hiburan. Meski di banyak negara tempat hiburan dianggap biasa, namun sebagian besar negara Arab, melarang keberadaannya.

Mahmoud Jadbeer, ketua jaringan pengusaha bioskop di Bahrain, mengatakan orang berpikir bahwa warga Saudi yang datang ke negeri mereka selalu menghabiskan waktu di bar atau restoran. ’’Padahal, saya juga melihat banyak orang Saudi yang berlibur ke Bahrain bersama keluarga,’’ katanya.

Layar lebar termasuk daya pikat negeri yang merencanakan pembangunan jembatan terpanjang di dunia penghubung Qatar-Bahrain itu. Pasalnya, di Arab Saudi bioskop dilarang. Demikian pula konser musik.

Lain halnya di Bahrain. Warga Saudi bisa menikmati pergelaran budaya. Kendaraan yang diparkir di luar mal banyak yang menggunakan pelat nomer KSA, tanda untuk kendaraan kerajaan Arab Saudi. Di antara mereka dikendarai oleh kaum hawa. Padahal, di negara asalnya, wanita dilarang keluar rumah. (cak/ami)

Satu Tanggapan

  1. bgtulah dmna jgaaa selalu ada yang
    nyeleneh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: