Dewan Pers Anggap Media Banyak Langgar Kode Etik pada Peristiwa Bom Kuningan

Dalam melaksanakan peliputan peristiwa bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Kuningan pekan lalu, media massa, terutama media elektronik banyak melakukan pelanggaran kode etik jurnalistik.

Demikian disampaikan oleh anggota Dewan Pers Divisi Pengaduan Abdullah Alammudi dalam jumpa pers di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Jakarta, Jumat (24/7).

Beberapa pelanggaran yang dilakukan terutama pada penayangan gambar-gambar yang mengerikan, yang bisa mengganggu kondisi psikologi anak-anak yang mengikuti laporan perkembangan peristiwa bom Kuningan ini.

"Media elektronik menampilkan, bahkan men-zoom wajah berdarah-darah para korban. Itu melanggar kode etik," ujarnya.

Gambaran yang mengerikan tersebut bisa menimbulkan dampak traumatik yang berefek jangka panjang. "Di mana rasa nurani ketika menampilkan itu. Gambar-gambar itu seharusnya bisa diganti dengan sketsa kasar," urainya. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa) Baca lebih lanjut

Hamas Nikahkan 382 Pasangan

DAMASKUS – Mengusung agenda pembebasan Palestina tidak membuat Harakat al-Muqawamat al-Islamiyyah alias Hamas melulu berurusan dengan senjata dan perang. Jumat lalu (24/7) organisasi Islam garis keras yang berkuasa di Jalur Gaza itu justru sibuk menjadi sponsor pernikahan masal di kamp pengungsi Palestina di Al-Yarmouk, Syria.

Sebanyak 382 pasangan Palestina mengikat janji suci di kamp pengungsi di dekat ibu kota Syria, Damaskus, tersebut. Warna hijau yang selama ini melambangkan perjuangan Hamas mendominasi lokasi pernikahan. Dalam perhelatan akbar itu, tidak kurang dari 10.000 undangan hadir. Mereka dijamu oleh Hamas sebagai penyelenggara acara. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

"Hamas ikut memikirkan kebutuhan rakyat Palestina. Kami merasakan adanya keinginan yang sangat kuat untuk menikah di antara mereka. Tapi, mahalnya biaya pernikahan menghalangi niat suci itu," papar Talal Nassar, pimpinan humas Hamas di Syria, seperti dilansir Associated Press kemarin (25/7). Alasan tersebut, lanjut dia, menggugah Hamas untuk menyelenggarakan nikah masal gratis bagi warga.(Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Sebelumnya, Hamas pernah menyelenggarakan acara serupa di Syria. Tapi, skala nikah masal kali ini jauh lebih besar. Baik dari jumlah pasangan yang dinikahkan maupun kemewahan pesta. Nassar mengatakan, kamp pengungsi menjadi sasaran utama Hamas karena mereka yang menghuni kawasan tersebut biasanya sangat miskin dan tidak punya pekerjaan tetap. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Setelah dinikahkan atas biaya Hamas, para pengantin Palestina itu mendapatkan sangu pernikahan USD 2.100 (sekitar Rp 20,9 juta). (hep/ttg)

Facebook Hapus Seluruh Member dari Facebook Milik Ismail Haniyah

Terbukti memang Facebook anti yang berbau Islam dan Jihad. Setelah banyak keluhan dari para penggunanya yang menjadikan Facebook sebagai washilah (sarana) untuk berdakwah, account keanggotaan mereka banyak yang di blok, dan user name mereka dihapus, sekarang Facebook perdana menteri dari gerakan Hamas Ismail Haniyah yang dibikin oleh para penggemarnya – telah ikut menjadi korban dengan dihapusnya seluruh member yang ada di Facebook Ismail Haniyah tersebut oleh pihak administrasi Facebook.

Semua halaman para penggemar Ismail Haniyah telah dihapus dan pihak Facebook sama sekali tidak memberitahukan alasan penghapusan tersebut, kata administator dari Facebook Ismail Haniyah.

Administator memberi peringatan hal yang serupa bisa saja terjadi terhadap Facebook yang dibuat oleh para pengagum pimpinan Hamas lainnya seperti pimpinan biro politik Hamas – Khalid Misyal yang memiliki member sebanyak 17.000 member. Sedangkan Facebook Ismail Haniyah memiliki lebih dari 10.000 member.

Para aktivis Islam telah meluncurkan sebuah kampanye untuk menyerukan kembalinya halaman member dari Facebook Ismail Haniyah dan menolak setiap tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pihak Facebook terhadap setiap halaman member Facebook yang terkait dengan pimpinan perlawanan Palestina Hamas ini, kata sebuah laporan dari media Al-Hayat yang berbasis di London pada Ahad kemarin.(fq/aby/eramuslim)