Jawa Pos Ragu Kebenaran Noordin M Top: Masih Ada 19 Kali Penyebutan Kata ”Diduga”


MESKI sudah melewati editing yang sangat ketat, ternyata masih ada 19 kali penyebutan kata ’’diduga’’ dalam berita menyangkut penggerebekan teroris yang diduga (lho, ya kan) Noordin M. Top oleh Tim Densus 88 pada edisi 9 Agustus kemarin. Itu belum termasuk kata ’’mirip’’ dan ’’tampaknya’’ yang level dan maksudnya juga sama dengan kata ’’diduga’’ itu.

Padahal, koran kesayangan Anda ini sebenarnya sangat anti dengan pengulangan kata, baik dalam judul berita, caption, maupun body text. Tujuannya, selalu terjadi pengupayaan warna dan variasi bertutur dalam penyampaian berita. Tapi, memang, menyangkut pemberitaan Noordin kali ini redaksi setengah bertekuk lutut di hadapan keabsurdan antara ’’ya’’ dan ’’tidak’’. Kesangsian antara Noordin beneran dan sekian banyak logika awam yang meragukan keaslian jasadnya.

Penggunaan kata ’’diduga’’ secara berulang-ulang tentu saja sangat mengganggu kami. Meskipun, kita tahu, itu tak akan terjadi seterusnya. Sampai kapan? Sampai ada kepastian bahwa orang yang mati dalam berondongan peluru dan ledakan bom di rumah Muh. Djahri, Beji, Temanggung, itu benar-benar Noordin. Kapan kepastian itu bisa kita dapatkan? Tunggu tes DNA-nya rampung, kira-kira dua minggu lagi.(Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Waktu dua minggu itu tentu terasa amat panjang buat pembaca, terlebih-lebih kami di redaksi. Sebab, kalau dalam sehari saja harus muncul kata ’’diduga’’ 19 kali, Anda terancam disuguhi kata ’’dugaan’’ secara berulang-ulang hingga dua minggu ke depan. Tapi, apa boleh buat. Sebab, dua minggu adalah waktu tercepat untuk menyelesaikan tes yang menyangkut akurasi dan kecocokan DNA seseorang sesuai dengan prosedur keilmuan.

Sembari menunggu hasil laboratorium yang akan menjadi penentu asli tidaknya Noordin, berikut adalah pertanyaan-pertanyaan generik, mengapa kata ’’diduga’’ begitu rajin nongol dan mengganggu Anda.

Logika pasaran itu, misalnya, rumah Muh. Djahri di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, adalah rumah orang tua Tatak. Di rumah itu pula Tatak ditangkap Tim Densus 88 pada Maret 2006. Mengapa Noordin harus tinggal di tempat itu? Tidakkah Noordin tahu rumah teroris selalu dalam pengawasan intel? Orang Jawa bilang: kutuk marani sunduk. Tapi, kan Noordin orang Malaysia….

Belum ada keterangan yang cukup meyakinkan dari pihak Noordin, misalnya dari Arina Rahma, istrinya yang sekarang ditahan di Jakarta. Bukankah Arina masih bisa mengenali jenazah suaminya, meski terkoyak bom dan peluru, lewat ciri-ciri khusus? Giginya, tahi lalatnya, penyakit kulit di lengan Noordin yang, konon, sulit disembuhkan, dan lain-lain. Setelah Arina yakin bahwa jenazah itu adalah suaminya, kan bisa memberikan keterangan buat kita, baru kemudian dikuatkan dengan hasil tes DNA dua minggu lagi. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Keraguan-keraguan lain, misalnya, kok Noordin tidak mengenakan bom rompi? Kok teroris yang diduga (lagi) Noordin itu berada di rumah Muh. Djahri sendirian? Padahal, sebelumnya ada keterangan terdapat tiga orang di dalam rumah itu.

Logika-logika yang meragukan kebenaran jasad Noordin memang masih akan hangat dibicarakan masyarakat dalam dua minggu ini. Tapi, semua akan padam atau justru meledak, mari kita tunggu hasil tes DNA dua minggu lagi. (Leak Kustiya&Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Iklan

3 Tanggapan

  1. Assalamualaikum wr wb,
    hemmm aku kok ya meragukan itu noordin.
    pasalnya masak sih dia sendirian di rumah itu
    secara dia itu tokoh penting di dalam jaringan teroris.

    kemudian yang menggelitik lagi kenapa seorang noordin
    berteriak meminta tolong kepada polisi..
    hemm..seorang noordin meminta tolong??
    masak sih..
    he he hanya analisa dummy
    wassalam..

    Jawab Jaisy01:
    iya mas banyak kejanggalannya. Hehehe, pokoknya kita manut2 aja di cocoki sama media dan kepolisian 😀

  2. * gw suka posting ini, perkenalkan gw Agus Suhanto

    Jawab Jaisy01:
    Iya, sama-sama pak. Kenalkan nama saya Fajar Agustanto (sama2 Agus dan “to”nya :D)

  3. den 8″ lebay…. buang2 peluru… kaya ngga prof aj ya… padahal sdh mengerahkan sniper&robot pengintai… tapi Hargai setiap usaha…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: