Mungkinkah Noordin M Top “Nyengir” Ketika Melihat Polisi Menggerebek: Kuat Dugaan Jasad Teroris Bukan Noordin


Istri Tak Yakin Tewas, Polisi Diminta Jujur

JAKARTA – Teka-teki identitas pria yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung Sabtu lalu (8/8) masih ditutup rapat oleh polisi. Mabes Polri berdalih akan melakukan tes DNA secepatnya untuk menentukan kepastian jenazah itu adalah Noordin M. Top atau bukan. Sebab, menurut Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna, DNA keluarga Noordin sebenarnya pernah diambil.

Namun, mantan Kapolda Sumatera Utara itu tidak merinci tanggal pengambilan DNA penentu jenazah tersebut. "Kita berdasar fakta juridis, harus bisa dipertanggungjawabkan. Nanti jika itu benar Noordin, akan disampaikan oleh Kapolri. Kalau bukan, juga akan disampaikan," katanya kepada Jawa Pos kemarin.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos, dugaan bahwa jasad yang kini terbujur kaku di ruang pendingin RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, itu bukan Noordin semakin kuat. Bahkan, polisi diduga salah perhitungan saat menggerebek rumah Muh Djahri. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Sebelum memberondong rumah di Dusun Beji, Kedu, Temanggung, Densus 88 membuntuti Noordin dan orang dekatnya sejak dari Bekasi. Itulah yang membuat polisi memperlakukan pengepungan rumah Muh Djahri dengan sangat istimewa. Yakni, menempatkan 200 personel dan 20 sniper dengan senjata dan peralatan lengkap. ’’Kami tak mau gegabah karena Noordin selalu menggunakan bom,’’ kata sumber koran ini di kepolisian.

Namun, setelah mengepung dan mengamati rumah hingga tengah malam, polisi terkejut ketika mengetahui bahwa di dalam rumah hanya ada satu orang. ’’Padahal, bila perhitungan kami benar, seharusnya di dalam rumah ada dua orang,’’ tuturnya. Perhitungan yang dimaksudkan adalah Noordin datang ke Temanggung bersama seorang tangan kanannya yang diyakini sebagai Teddy, wali nikahnya dengan Munfiatun pada 2004. Karena itu, dalam penyerbuan kemarin, polisi menyiapkan dua keranda.

Ketika di dalam rumah hanya ada satu orang, polisi menjadi ragu-ragu. Benarkah satu orang di dalam rumah itu Noordin? Lantas, ketika jasad pria yang tewas tersebut dilihat, lemaslah sebagian besar polisi. Sebab, sangat mungkin jasad tersebut bukan jasad Noordin.

’’Kami belum tahu bagaimana dia (Noordin, Red) bisa lolos. Bisa jadi, dia tiba-tiba tak ada di rumah itu saat dikepung. Bisa jadi, dia tiba-tiba belok di jalan dan menuju entah ke mana,’’ tutur sumber tersebut. Karena itu, polisi pun semakin ketat mengawasi in/out kota-kota di Jawa Tengah.

Dari hasil analisis tim intelijen, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd juga tidak langsung percaya bahwa orang yang diberondong ratusan peluru itu adalah Noordin. Bahkan, Rudd segera menghubungi Presiden SBY untuk menanyakan langsung identitas orang yang tewas. "Masih tidak jelas siapa yang tewas dan siapa yang ditahan," kata Rudd seperti dikutip ABC.net.au, kemarin. (Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Australia sangat berkepentingan dalam kasus pengeboman JW Marriott dan Ritz-Carlton karena ada korban tewas dari negeri Kanguru itu. "Kami sedang menunggu konfirmasi lebih lanjut dari yang berwenang di Indonesia," jelas Rudd.

Kepala Centre for Violence and Terrorism Singapura Rohan Gunaratna lebih berani. Rohan sudah menyatakan jenazah tersebut bukanlah Noordin M. Top, gembong teroris yang paling dicari. "Dia (Noordin) belum tewas. Tes DNA akan membuktikan bahwa jasad yang ditemukan bukan Noordin M. Top," kata Rohan seperti dilansir Aljazeera.net.

Rohan adalah orang hebat di dunia antiterorisme. Dia membantu PBB membuat database anggota Al Qaidah, Taliban, dan komunitasnya. Dia juga ahli kontraterorisme yang menjadi instruktur di Densus 88, US NAVY SEALS, Swiss Federal Police, NYPD, dan Australian Federal Police.

Rohan juga penulis dan editor buku Inside Al Qaeda: Global Network of Terror (Columbia University Press). Buku itu menjadi best seller sekarang. "Saya benar-benar tidak yakin," katanya.

Identifikasi jenazah hingga 48 jam belum dinyatakan secara resmi itu berbeda dengan saat penggerebekan Azhari pada 9 November 2005 lalu. Saat itu Kapolri Jenderal Sutanto langsung menyatakan bahwa jasad yang dilumpuhkan di Batu, Jawa Timur, adalah Azhari sehari setelah operasi.

Sutanto saat itu yakin berdasar data sidik jari Azhari yang sudah dimiliki polisi. Data sidik jari Azhari itu diambil saat doktor bom asal Malaysia itu menjadi dosen tamu di UGM, Jogjakarta. Bahkan, Polri tak perlu cek DNA Azhari dengan keluarga.

Mengapa tidak dilakukan cek sidik jari pada jasad sekarang? Nanan tak menjawab secara pasti. "Apa pun yang dilakukan oleh tim identifikasi, tentu sudah ada prosedurnya," kata jenderal alumnus terbaik Akpol 1978 itu.

Secara terpisah Kepala Pusat Kedokteran Kesehatan Mabes Polri Brigjen Edi Saparwoko menjelaskan, proses identifikasi masih berjalan. "Kepada keluarga saya minta bersabar dulu. Ini masih on going process," katanya.

Edi menjamin identifikasi berjalan akurat. "Kita punya standar internasional," katanya. Tes DNA dilaksanakan di laboratorium canggih hasil hibah AFP Australia di Cipinang, Jakarta Timur. "Pekan depan selesai, semoga sebelum itu bisa tuntas, " tambahnya.

Bagaimana jika keluarga ingin melihat jenazah? Edi menjelaskan, harus ada izin resmi dari Densus 88 Mabes Polri. "Prosedurnya memang seperti itu. Bukan berarti polisi menghalang-halangi," katanya. Hingga kemarin baru keluarga Air Setyawan dan Eko Joko Sarjono yang sudah mengajukan surat permintaan. Jasad ketiga yang diduga Noordin tak ada yang mengklaim.

Seorang perwira pertama Mabes Polri yang terlibat dalam proses administrasi dan identifikasi jenazah menjelaskan, prosedur pengecekan jasad yang diduga Noordin sangat ketat. "Levelnya perwira menengah saja yang menangani. Kami hanya mendukung administrasinya," katanya kemarin.

Namun, dia menjamin foto yang beredar di internet yang memperlihatkan pemuda berkaus cokelat dengan kepala pecah terburai adalah palsu. "Foto itu adalah pemuda yang jatuh dari sebuah menara di Gorontalo pada 21 Juli lalu. Jadi palsu," katanya. Salah satu yang memuat foto itu adalah situs www. arrahmah.com.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi III DPR Soeripto meminta polisi segera mengumumkan siapa sebenarnya teroris yang ada di Temanggung. "Noordin atau bukan segera saja disampaikan agar tidak spekulatif," katanya. Mantan anggota Bakin itu memuji kinerja polisi dalam memberantas jaringan dan mengungkap siapa di balik pengeboman JW Marriott dan Ritz-Carlton. "Tapi, ada cacatnya, yakni tak bisa segera mengenali identitas orang yang diserbu 18 jam itu," katanya.

Mantan Kepala BIN Abdullah Mahmud Hendropriyono juga belum berani memastikan jasad itu Noordin. "Polisi harus segera melakukan pengecekan. Terus terang, saya ragu," katanya. Hendropriyono menambahkan, Noordin atau bukan jasad itu, kerja memberantas terorisme belum selesai. "Noordin itu hanya satu sel. Ibarat gurita, satu tentakelnya putus, yang lain bergerak terus," katanya.

Kabar tewasnya Noordin M. Top tak langsung ditelan mentah-mentah pihak keluarga. Istri Noordin, Arina Rahmah, disebut belum percaya seratus persen kalau mayat yang dibawa dari Temanggung adalah suaminya. Melalui pengacaranya, Arina tetap menunggu kepastian melalui tes DNA yang bakal dilakukan.

"Sejak awal kami yakin polisi pasti melakukan tes DNA sebelum memastikan siapa sosok yang ditangkap," ujar Asludin tadi malam. Dia menyatakan, kondisi Arina dan anak-anaknya baik-baik saja hingga saat ini. Mereka tetap berada di sebuah rumah dan dalanm pengawasan polisi.

Di samping itu, Asludin mengingatkan, kalaupun benar teroris yang tewas di Temanggung adalah Noordin, belum tentu yang bersangkutan adalah suami kliennya. "Masyarakat jangan buru-buru berspekulasi," ujarnya.

Sejak awal diperiksa, Arina mengaku suaminya bernama Ade Abdul Halim, dan bukan Noordin M. Top. Namun belakangan, perempuan berumur 25 tahun kelahiran Cilacap itu mengakui kalau wajah suaminya mirip dengan beberapa foto gembong teroris itu. "Intinya, kami tetap mendukung (polisi) untuk menuntaskan semuanya," jelas Asludin.

Peneliti UI Rizal Darmaputra yang beberapa kali meriset teror di Afghanistan itu menilai jenazah yang diduga Noordin di Temanggung tidak melakukan perlawanan secara gigih. "Tidak ada aksi meledakkan diri, bahkan mengaku kalau saya Noordin. Ini mirip Kapten Pierre Tendean ajudan Jenderal AH Nasution saat mengaku di peristiwa gerakan 30 S PKI," katanya.

Polisi harus mewaspadai serangan baru yang bisa terjadi. "Jaringannya masih hidup, bahkan kalau Noordin tewas pun, sel-sel baru tetap ada dan membentuk pola baru," katanya. (rdl/ano/fal/aga/iro/Mengembalikan Jati Diri Bangsa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: