Pencipta Gambar Obama Jocker Di Tangkap



Dipuji Kritikus di Washington, Dituding Rasis di Los Angeles

Firas Alkhateeb hanya bermaksud mengusir kebosanan saat menjokerkan Barack Obama. Dia bermaksud mengingatkan semua orang agar tak berekspektasi berlebihan kepada mantan senator itu.

HUDA, adik perempuan Firas Alkhateeb, langsung mencium ketidakberesan ketika pagi-pagi sekali sang kakak beserta sang ibu, Sanaa Alqudsi, menjemputnya dari rumah teman tempat dia menginap dua pekan lalu. Apalagi, ketika mereka bertiga sudah berada dalam mobil, sang kakak langsung nyengir sambil berkata, “Aku terkenal sekarang.”

Begitu mendengar perkataan Alkhateeb itu, Huda sepenuhnya yakin bahwa mahasiswa jurusan sejarah di University of Illinois, Chicago, tersebut pasti telah melakukan sebuah kebodohan. “Apa hal bodoh yang telah kau lakukan, Firas?” Tanya dia seperti diceritakan kepada Chicago Tribune.

Dalam perjalanan pulang ke apartemen mereka yang sederhana di tengah Kota Chicago, terungkap Alkhateeb memang benar-benar terkenal secara instan. Dia diperbincangkan kritikus seni di Washington Post, dianalisis para pakar politik di CNN, dibela aktivis hak asasi manusia di Fox News, dan dituding rasis oleh media terbitan Los Angeles, LA Weekly.

Semua itu disebabkan keisengan pemuda 20 tahun tersebut saat liburan musim dingin Januari lalu. Waktu itu dia merias foto Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang diambil dari cover depan majalah Time edisi Oktober 2008 sebagai tokoh penjahat musuh Batman, Joker.

Joker yang dipilih Alkhateeb adalah yang diperankan oleh mendiang Heath Ledger di film The Dark Knight. Foto Obama di-make-up, sekitar matanya diperhitam, dan bibirnya diberi lipstik merah memanjang. Persis sekali dengan Ledger yang aktingnya di film tersebut menuai banyak pujian dan berbuntut Academy Award untuk kategori peran pembantu pria terbaik.

Begitu selesai menjokerkan presiden kulit hitam pertama AS tersebut, dia langsung memasangnya di akun pribadinya di situs Flickr. Tujuh bulan lamanya si Obama-Joker berada di sana dan tak ada masalah apa-apa. Kehebohan baru muncul ketika awal bulan ini ribuan poster yang berisi gambar kreasi Alkhateeb plus tulisan “Sosialisme” di bagian bawahnya menyelimuti wilayah California Selatan, terutama Los Angeles.

Gambar itu bahkan terus berjalan jauh, dituangkan dalam kaus dan stiker yang tersebar hingga Minnesota dan Florida. Beberapa telepon umum di Hawaii, tempat kelahiran Obama, bahkan sudah berhias stiker Joker tersebut.

Alkhateeb baru tahu ketika beberapa teman mengirimi e-mail yang berisi kabar itu. Awalnya, dia tak percaya. Tapi, kemudian dia mengamati dengan cermat gambar di poster yang dikirim temannya via e-mail tersebut.

“Oh, tidak, itu gambarku,” teriaknya ketika itu. Anak muda yang kedua orang tuanya berasal dari Palestina tersebut langsung memberi tahu sang ibu. Lalu, si ibu yang mengidolakan Obama marah besar.

“Apa yang telah kau lakukan, Firas? Mengapa kau membuatnya (Obama, Red) terlihat seperti itu? Dia bukan pria jahat,” kenang ibunya saat diwawancarai Chicago Tribune di apartemennya bersamaan dengan Alkhateeb dan Huda.

Selain Obama adalah idola Sanaa, kemarahan tersebut mungkin dipicu kekhawatiran kalau gambar itu menimbulkan reaksi keras. Meski telah 15 tahun lebih tinggal di AS dan menjadi warga negeri tersebut, mereka sekeluarga tetap pendatang dari Palestina. Mereka juga baru dua tahun tinggal di Chicago, kota tempat Obama membangun karir politik.

Namun, kepada sang ibu kala itu, yang diulangi kepada Chicago Tribune, Alkhateeb menegaskan sama sekali tak bermaksud jahat. Gambar tersebut hanya dia buat untuk mengusir kebosanan saat liburan Januari lalu. Lebih penting lagi, bukan dia yang menyebarkan foto-foto itu ke jalanan.

“Aku memang tidak mencoblos pada pemilu November lalu. Tapi, aku menyukai Obama. Kalaupun aku buat, gambar tersebut lebih dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang agar tidak menaruh ekspektasi berlebihan kepada Obama,” papar Alkhateeb.

Lalu, siapa yang mencuri kemudian menyebarkan gambar itu dari akun Alkhateeb? Alkhateeb menyatakan tidak tahu. Yang pasti, karya mahasiswa yang bercita-cita jadi guru sejarah, bukannya seniman, tersebut dipuji kritikus seni terkenal Phillip Kennicot. (war/ttg)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: