Tentara, Profesi yang Rawan Bunuh Diri


Berada dalam situasi selalu waspada pada pertempuran dan kelelahan tentu menimbulkan rasa stres. Tak heran bila banyak tentara, terutama yang diterjunkan di medan perang, kemudian mengalami depresi dan dilanjutkan bunuh diri.

Tengok saja laporan dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Tahun lalu, ada 143 tentara dan 113 orang dari satuan tugas lainnya yang mengakhiri hidupnya sendiri. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Sementara itu, tahun ini sudah tercatat 100 orang tentara yang sedang bertugas dilaporkan bunuh diri.

Karena itu, kini pemerintah AS tengah melakukan penyelidikan mengenai fenomena bunuh diri di kalangan prajuritnya. Hampir setengah juta tentara mengikuti studi tersebut. Dalam studi yang akan berlangsung selama tiga tahun itu, para tentara rekrtutan baru akan diselidiki, khususnya untuk mengetahui faktor kematangan psikologinya.

“Dalam 100 tahun terakhir, angka bunuh diri di kalangan tentara meningkat dua kali lipat. Sebelum tahun 2001, hanya separuh dari populasi orang sipil. Tapi kini meningkat pesat,” kata Robert Heinssen, direktur penelitian yang diadakan oleh National Institute of Mental Health.

Selain wawancara, para tentara itu juga akan diteliti air liur dan contoh darahnya untuk mengetahui ada tidaknya faktor genetik terhadap kecenderungan bunuh diri.

Menurut Heinssen, berada dalam situasi peperangan dan stres yang tinggi hanyalah salah satu dari faktor yang kompleks yang mendorong seseorang untuk bunuh diri. Cara individu memecahkan masalah dan bagaimana mereka menghadapi stres juga ikut berkontribusi. Faktor lainnya adalah faktor genetik dan kaitan neurobiologikal.

Akumulasi dari berbagai faktor tersebut, bila tidak mendapat saluran yang tepat, sangat potensial menjadi sikap frustasi, yang memicu bunuh diri.

Hilangkan stigma

Menanggapi studi tersebut, salah seorang anggota keluarga tentara yang bunuh diri, Charles McKinney, mengatakan fenomena tentara bunuh diri akan tetap ada selama budaya militer yang menghalangi orang untuk mencari bantuan kesehatan mental tetap ada.

“Bila stigma (mengenai sakit jiwa) tetap ada dan budayanya belum berubah, semua wawancara dan penelitian itu tak akan mengubah apa-apa,” kata McKinney, yang putranya, Jeff McKinney, tewas bunuh diri saat sedang bertugas di Irak.

Sersan satu Jeff McKinney telah menjadi tentara selama 19 tahun dan tak punya riwayat kelainan jiwa. Tetapi, pada bulan Juni 2007, rangkaian bom yang diledakkan di pinggir jalan membunuh sebagian anak buahnya.

Satu bom meledak tepat di depan kendaraan yang dipakainya untuk patroli. Mengenai hal ini, sang ayah yakin hal itu menyebabkan cedera di kepalanya. “Selain mengalami post traumatic stress disorder, otaknya secara fisik terpengaruh oleh ledakan itu,” kata McKinney.

Sejak saat itu, Jeff kehilangan nafsu makannya dan tidak bisa tidur selama beberapa hari. Menurut komandannya, Jeff merasa bertanggung jawab pada kematian anak buahnya. Meski jelas depresi, ia menolak untuk menemui psikiater.

Sehari sebelum meninggal, komandannya meminta Jeff untuk tidur dan sementara waktu tidak memimpin pasukan berpatroli karena khawatir anak buahnya mulai kehilangan respek.

“Banyak tentara yang pulang perang dalam kondisi trauma dan tidak ditangani. Hal ini menimbulkan sindrom seperti kecanduan obat, alkohol, kekerasan dalam rumah tangga, serta bunuh diri. Hal ini terjadi juga pada tentara di Irak atau Afganistan. Seharusnya kita belajar dari pengalaman di Vietnam,” kata McKinney yang juga veteran perang Vietnam.

“Tentara yang bunuh diri tidak mati di medan perang, tapi mereka mati karena melawan perangnya sendiri. Saya tetap bangga pada putera saya. Ia tetaplah pahlawan bagi kami,” kata McKinney.

AN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: