Saudaraku, Apakah kita bergembira ditinggalkannya? (renungan bersama)

Hari ini aku tak tahu harus berbuat apa, kecuali hanya takbir lirih yang mengucap sedih dalam hati. Sampai detik ini, rentetan kembang api yang meledak-ledak terus bergemuruh meluapkan messiunya. Inikah yang mereka maksud kemenangan!!?

Kata orang besok hari kemenangan, tetapi benarkah kita menang? Menang dari apa?
Apakah menang dari puasa yang kita merasa berat atasnya? Ataukah senang karena keterkekangan atas bulan Ramadhan?

Kita semua tahu, bulan kemulian ini (Ramadhan) merupakan kebahagian yang ditunggu para mukmin, dan paling ditangisi saat berlalu.

Yaa Rabb, aku tahu aku tak pantas memyandang orang suci dihadapanmu. Tetapi lebih tidak pantas lagi aku bergembira ketika ditinggalkan bulan kemulian yang engkau berikan untuk menebus dosa-dosaku.

Yaa rabb, aku tahu bahwa Rasulullah senang dengan datangnya bulan syawal, tetapi aku juga tahu orang yang paling bersedih adalah Rasulullah ketika ditinggal Ramadhan.

Memang aku tak pantas untuk mengaku telah mendapatkan kemenangan, kalau hanya kemenangan itu sebatas berlalu-nya bulan kemulian-Mu. Tetapi aku juga tak pantas mengaku diri paling menang dalam ibadahku, karena pastinya engkau akan murka terhadapku. Maka aku serahkan semua apa yang aku perbuat kepada-Mu. Aku tak tahu, apakah Engkau akan menerimanya, atau Engkau akan menolaknya. Yang pasti aku menjadi manusia paling terlaknat jika Engkau tidak menerima apa yang aku persembahkan hanya untuk kepada-Mu.

Untuk saudaraku,
Maafkan atas kekhilafan yang telah saya perbuat baik tidak sadar apalagi terlebih ketika sadar.
Dan demi Allah tidak ingin hasrat ini untuk berbuat menyakiti diri saudaraku sekalian.
Di hari ini, aku bersimpuh meminta ampunan kepada Sang Pemilik Kehidupan, dan aku juga menunduk meminta permohonan maafku kepada saudara-saudaraku.
Taqaballahu minna wa minkum.
Segenap keluarga Abu Jaisy mengucapkan Minnal ‘aidzin wal fa’idzin.