Improvisasi Kader Karbitan Yang Selalu Menyesakkan Dada


“Nasehat Bersama untuk para kader dakwah”

(Khusus kader, hanya bahan bacaan, dilarang mengutip selain seijin penulis)

Ada beberapa orang yang mungkin sudah tahu apa itu karbit. Pengalaman saya, karbit adalah sebuah zat yang berisi bubuk atau seperti bebatuan untuk membuat mercon/petasan dalam bambu atau juga untuk mempercepat proses pematangan buah. Nah biasanya kalau buah dikasih karbit, dan ditutup rapat. Maka proses pematangan buah akan lebih cepat. Tetapi apakah kita tahu, kalau sebenarnya proses pematangan buah yang bersumber dari karbit itu juga mempercepat proses pembusukan buah? Dan sebuah penelitian menyatakan bahwa buah yang busuk karena diberi karbit maka buah tersebut tidak bisa dibuang sembarangan. Karena ketika dibuang sembarangan buah busuk dari karbit tersebut akan membuat mati tanaman yang lain.

Nah sekarang bayangkan saja kalau ada seorang kader yang didik seperti buah tersebut (dikarbit). Bagaimana keluarnya nanti?

Pengalaman saya (red, penulis). Banyak sekali menemui kader karbitan yang bertebaran. Dan mereka seringkali merasa paling lebih mengetahui jamaah Tarbiyah daripada Murabbinya sendiri.

Pada dasarnya seorang kader karbitan bisa dilihat dari ciri-cirinya.

Pertama. Selalu Terburu-buru/Tergesa-gesa

Menurut pengalaman penulis, kader yang selalu terburu-buru dalam mengambil sikap dan selalu menuruti kehendak pikirannya sendiri dalam memutuskan sebuah hal dalam jamaah menjadi contoh awal kader karbitan. Karena sering sekali kader yang mengajinya giat sekali, tetapi ketika seorang MR-nya (Murabbi) melakukan kesalahan kecil saja, langsung dibesar-besarkan. Dan merasa dirinya lebih benar ketimbang yang lainnya, tanpa tabayyun terlebih dahulu seringkali langsung mengecap MR-nya begini atau begitu tentang kesalahan yang dilakukan MR-nya kadang juga langsung menyerang jamaahnya. Apalagi kalau masalah partai, kader seperti ini selalu merasa lebih pintar dari dewan syuro’ DPP!

Padahal kita semua tahu bahwa Allah sangat membenci orang-orang seperti itu. Dari Sahal Ibnu Sa’ad Radliyallaahu ’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa Sallam bersabda: "Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan." Riwayat Tirmidzi. Dia berkata bahwa hadits tersebut hasan.

Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)

Dan seringnya sifat tergesa-gesa seperti ini, mereka sering terlibat “kontra” dengan sahabatnya. Sifat tabayyun yang seharusnya dipakai oleh setiap muslim, tidak mereka gunakan. Kecuali hanya prasangka dan emosinya saja yang lebih menonjol.

Kedua, Berlebih-lebihan

Beberapa kali saya bertemu kader-kader yang berlebih-lebihan dalam beribadah. Dan merasa sudah paling mengikuti sunnah atau paling mengikuti syari’at. Seringkali ketika melihat sesuatu yang padahal bisa ditolerir kecil, langsung dibesar-besarkan bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan yang melanggar syari’at. Kader seperti ini tidak pernah berfikir panjang kecuali hanya sesaat setelah apa yang dilihatnya. Bahkan ibadah yang berlebih-lebihan itu nantinya akan berguguran sendiri. Tidak konsisten seperti awal dia membuat komitmen dalam dirinya. Ini sudah sering terjadi.

Dalam ibadah Rasulullah juga melarang kita untuk berlebih-lebihan.

Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Radliyallaahu ’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa Sallam bersabda: "Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Hadits mu’allaq menurut Bukhari.

Ulama salaf pernah berkata “Setiap kali aku melihat suatu sikap berlebihan dalam satu segi maka saat itu pula aku dapati adanya suatu hak yang ditelantarkan."

Dan harus kita ingat, bahwa Rasulullah lebih menyukai amal yang sedikit tetapi dilakukan secara terus menerus. Bukan amal yang banyak tetapi tidak konsisten.

Ketiga, Suka Mengumbar Ucapan Didepan Umum

Kader seperti ini (karbitan) yang sudah merasa paling tahu syari’at. Seringkali menjustifikasi sesuatu ketika sesuatu tersebut masih berhubungan ijtihad dan khilafiyah. Maka justifikasinya lebih kearah ketidak-senangan yang mencolok. Bahkan seringkali mengumbar alasan ketidak-senangannya didepan umum. Dan mereka selalu mengatakan bahwa “Saya ini ingin menasehati”. Padahal kader-kader seperti ini tidak tahu hakekat nasehat yang sebenarnya.

“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar" (QS Al Baqarah 11-12).

“Cukuplah seseorang itu berdusta manakala ia menceritakan semua apa yang didengarnya (tanpa disaring lagi).” (HR.Muslim) dan hadits lainnya dari riwayat Abu Hurairah.

Keempat, Berdusta

Ketika sudah puncaknya, kader karbitan ini akan memulai aksinya. Agar orang lain percaya kalau dia memiliki sifat kritis dan ingin memperbaiki jamaah, lalu dia memblow-up apa yang dia inginkan tanpa dipikir panjang. Padahal apa yang dilakukan itu jauh dari kritis, tetapi lebih kepada celaan terhadap jamaah.

Sahabat Imran bin Hushain ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang-orang yang sezaman denganku (para sahabat), kemudian orang-orang yang bertemu dengan para sahabat (tabiin), kemudian orang-orang yang bertemu dengan tabiin (tabiut-tabiin). Kemudian sesudahku nanti akan datang segolongan kaum yang bersedia menjadi saksi tetapi tidak bersedia diberi kesaksian. Mereka banyak berdusta, dan tidak lagi dapat dipercaya. Mereka banyak bernadzar, dan enggan melaksanakannya. Mereka kelihatan gemuk-gemuk (karena banyak memakan barang syubhat)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, Mencari Koloni Untuk Saling Mendukung

Inilah yang sering terjadi. Para Kader Karbitan yang sudah “keluar” biasanya mereka akan mencari komonitas yang juga sedang “menasehati” jamaah yang pernah dia ikuti. Tidak terlain mereka bersatu untuk memperkuat diri saling mengisi dan kompak dalam hal berprasangka, mencela bahkan mencaci. Dan alasannya tetap sama, “Kami begini adalah untuk saling menasehati”. Padahal ketika diberikan alasan tentang cara menasehati yang baik sesuai syari’at Islam. Maka mereka tidak akan menerimanya. Bahkan cenderung mencela nasehat tersebut karena penyakit dengki tersebut kepada jamaah.

Dan sungguh, apa yang mereka katakan termasuk berita yang mereka sebarkan itu tidaklah dapat menjadi pegangan umat Islam yang lain.

"Tidak sah persaksian seorang laki-laki dan perempuan pengkhianat, persaksian orang yang menyimpan rasa dengki terhadap saudaranya, dan tidak sah pula persaksian pembantu rumah terhadap keluarga rumah tersebut." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.

Hal ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dengan bersabda

Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim)

Dan bagi mereka, cukuplah Allah yang akan berkehendak atas prasangka, celaan, cacian dan kebencian mereka yang terselubung dalam hatinya.

“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim)

Maka kita semua harus berhati-hati, jangan sampai kita menjadi seperti itu. Dan cepat-cepat membuat PPPKK (Pertolongan Pertama Pada Kader Karbitan) jika kita menemuinya. Coba untuk berdiskusi baik-baik dan diingatkan baik-baik. Karena seringkali kader karbitan ini susah untuk diingatkan, maka kita harus selalu siap untuk bermental baja dalam memberikan nasehat kepada mereka. “Janganlah memutuskan persaudaraanmu dengan meninggalkannya ketika ia melakukan dosa, karena ia bisa jadi melakukan dosa hari ini dan meninggalkan esok hari.” (Ibrahim an-Nakhawi).

“Janganlah kau menjadikan sahabatmu sebagai salah seorang kawan setan.” (HR Bukhari)

Dan jikalau memang tidak dapat dipertahankan, sebaiknya dilepas saja. Karena tidak ada manfaatnya bagi kita untuk terus mempertahankannya. Bahkan bisa jadi pagar makan tanaman. Seperti apa kata Abu Dzar al-Ghiffari “Jika sahabatmu berubah dari komitmen persahabatan, bencilah ia sebagaimana kau mencintainya”

Hal ini karena mereka telah melepaskan aturan-aturan Allah tentang hak setiap muslim.

Kader-kader karbitan pada hakekatnya adalah seorang yang berusaha mencari “kebenaran”. Maksud kebenaran itu adalah apa yang dia yakini adalah kebenaran itu sendiri. Jadi dia tidak membutuhkan kebenaran datangnya darimanapun kecuali datang dari persepsi dia sendiri. Sehingga sulit sekali meyakinkan orang-orang semacam itu karena kekeras-kepalaanya!

Kita tidak perlu memusuhi atau menjauhi kader-kader karbitan yang telah hang-out dari jamaah. Dan tidak perlu merangkulnya kembali dijamaah. Biarkan apa adanya berjalan sesuai takdir. Karena hanya Allah yang mampu mengubah hati setiap manusia. Karena jika kita tetap mempertahankan kader karbitan tersebut, yang ada hanya kobaran api yang selalu membuat gerah kader yang lain, memperkeruh suasana kader yang lain dan bahkan memprovokasi kader yang lain untuk ikut berpahaman sepertinya.

Jadi jangan heran kalau ketika kita berselancar di internet dan melihat banyak sekali tulisan-tulisan yang menyesakkan dada, dengan mengaku-ngaku kader PKS atau mantan kader PKS. Tetapi artikel dan postingannya malah mencela, membuat risih, membuat miris kader-kader yang lain. Bahkan berusaha kritis culas dengan berusaha berbohong sana sini untuk meyakinkan bahwa dia (kader karbitan) bermaksud memberitakan kebenaran.

Dalil apapun yang akan kita kemukakan tidak akan mempan, kecuali jika Allah berkehendak. Karena mereka sudah meyakini kebenaran pada dirinya. Dan kesombongannyapun akan menyala-nyala dengan mencela kader-kader yang lain. Tetapi sayangnya, mereka (kader karbitan) miskin ilmu. Kalau mereka diajak benar-benar berdiskusi mereka akan lari dengan berbagai alasan. Dan nanti mereka akan datang lagi dan memperkeruh suasana lagi! Yah, sesuatu yang dikarbit itu memang membuat cepat busuk dan membuat pohon yang lain cepat mati! Maka sisihkan jauh-jauh hasil dari karbitan.

Laksanakan urusan-urusanmu dengan dirahasiakan. Sesungguhnya banyak orang menaruh dengki kepada orang yang memperoleh kenikmatan. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)(Abu Jaisy)

Iklan

10 Tanggapan

  1. Subhanallah. Mantap. Syukron Ustad, ini yang ana cari. Ana boleh copas buat buletin yah?

    Jawab Abu Jaisy:
    Afwan. Semoga bermanfaat akh!

  2. Jawab Abu Jaisy
    Maaf Mas RADIT ATAU NYAMAR JADI ABU AISHA ATAU RUYATNA. PENIPU DILARANG BERKOMENTAR DISINI! LIHAT TULISAN DI KIRI ATAS!

  3. Izin ngelink ya mas

    Jawab Abu Jaisy:
    Tafadhal akh. Semoga bermanfaat. 🙂

  4. waaahh…. artikel yg pedas.. tapi pedasnya enak kok… bikin nambah lagi…..

    Jawab Abu Jaisy:
    😀 Pedasnya sambal, pedas tapi dicari

  5. wah asyik mas, keren nih

    Jawab Abu Jaisy:
    Semoga bermanfaat.

  6. boleh copas bos

    jawab abu Jaisy:
    Silahkan.

  7. Ad Diin adalah nasihat…

    Lihatlah kebenaran dari sifatnya agar kita tahu siapa ahlinya…

    Jawab Abu Jaisy:
    Karena saya seorang mu’min, maka menjawab sesuatu yang berkaitan dengan agama (kebenaran) harus dengan dalil. Dalam hadits yang riwayatnya cukup panjang dikatakan “…Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu…”

    “Sesungguhnya Allah menyukai dusta yang bertujuan untuk memperbaiki dan mendamaikan (merukunkan), dan Allah membenci kebenaran (kejujuran) yang mengakibatkan kerusakan. (HR. Ibnu Babawih)”

    “Kebenaran itu adalah ketika hati kita tidak bimbang/ragu-ragu dalam melaksanakannya”

  8. Hmmm… Hanya bisa tersenyum saat melihat komen2 antum yaa Akhiy,,, 🙂

    Jawab Abu Jaisy:
    Alhamdulillah, kalau itu bisa membuat antum senang saya juga ikut senang 🙂

  9. […] untuk berfikir syar’i? “Hakekat Nasehat” Dan kenapa saya menuliskan hal ini —:> Improvisasi Kader Karbitan Yang Selalu Menyesakkan Dada karena tidak sedikitnya orang-orang seperti saya (Abu Jaisy) yang ketika itu baru seumur jagung […]

  10. askm…..afwan ustadz izin ngelink. buat taujih bg diri sendiri n temen2…..syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: