Ishlahnya Seorang Saudara (Akhi Ruyatna)


img

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa Sallam bersabda: "Suatu sedekah tidak akan mengurangi harta, Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan, dan seseorang tidak merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat orang tersebut." Riwayat Muslim.

Ada salah dalam bertutur namun tak lekat tanpa maaf yang terhatur
Saling memuji dalam kemuliaan
Memberikan semangat keimanan
Saudaraku, mari kita berjuang bersama!!!

Sungguh tidak pernah ada kenistaan dalam orang yang memintaa maaf atas kesalahannya, dan sungguh wajib hukumnya seorang muslim memaafkan saudaranya. Karena inilah Islam, yang memberikan Tarbiyah keimanan. Yang memberikan tangisan rindu ketaqwaan.

Saudaraku Akhi Ruyatna. Tak ada dendam yang tersimpan dalam hati ini kecuali rasa saling rindu untuk mempupuk kesadaran dalam taqwa, insya Allah engkau lebih mulia daripada orang-orang yang bersembunyi dalam kedustaannya terus menerus.

Ana menganggap antum tidak mempunyai kesalahan dengan ana, karena sesungguhnya antum sudah ana maafkan jauh sebelum apa yang antum lakukan. Ingatkah sahabat-sahabat Rasulullah yang selalu memaafkan saudaranya sebelum saudaranya berbuat salah? Itulah hal yang wajib kita ikuti. Namun bukan berarti harus diam tanpa mengingatkan saudara kita untuk kembali kejalan yang benar. Pada dasarnya sifat khusnudzhan itulah yang dibangun dalam persaudaraan. Dan sifat menyayangi itulah yang membuat kita selalu saling mengingatkan menuju sabilillah.

Semoga pertikaian kita ini bisa memberikan ibrah yang terbaik untuk saudara-saudara kita yang lainnya. Dan terhindar dari hal yang lebih besar lagi, hingga tidak pernah ada lagi hal yang seperti ini. Amien.

Barakallah yaa akhi Ruyatna
Uhibukka fillah yaa akhi

Abu Jaisy (Fajar Agustanto)

(Berikut ini link permintaan maaf Akhi Ruyatna —-> Sebuah Risalah Ishlah)

4 Tanggapan

  1. […] PDRTJS_settings_250513_post_1131 = { "id" : "250513", "unique_id" : "wp-post-1131", "title" : "SMS+Dari+Orang+Yang+Dulu+Mengaku+Kader+PKS+Dan+Tim+Sukses+Caleg+PKS", "item_id" : "_post_1131", "permalink" : "http%3A%2F%2Fsuara01.wordpress.com%2F2009%2F10%2F23%2Fsms-dari-orang-yang-dulu-mengaku-kader-pks-dan-tim-sukses-caleg-pks%2F" } ATAS PERMINTAAN MAAF DAN ISHLAH AKHI RUYATNA MAKA DENGAN INI PERSENGKETAAN INI INSYA ALLAH TELAH BERAKHIR DENGAN PERDAMAIAN SEMOGA TIDAK ADA KASUS-KASUS YANG LAIN SEPERTI INI link= Ishlahnya Seorang Saudara (Akhi Ruyatna) […]

  2. alhamdulillaaaaah… semoga makin erat ukhuwah islamiyahnya….

    Jawab Abu Jaisy:
    Amien. 🙂

  3. Nah, gitu dong. Akur kan enak dilihatnya. Pokoknya yang salah mengakui kesalahannya, yang benar tidak congkak dengan kebenerannya.

    Salut buat al akh berdua.

    Jawab Abu Jaisy:
    Iya… Syukron 🙂

  4. Ane juga pernah buka blog salah seorang Ikhwan Salafy Jihady, dan di sana ada Ikhwan PKS yang juga banyak komentar mirip Al Akh Ruyatna di sini…

    Jadi, ana fikir bukan pada kelompoknya, tapi kepada individunya…

    Afwan akhuna Abu Jaisy, pada saat antum berkata jangan asal tuduh kafir, pada saat yang sama antum menuduh Ikhwan Salafy Jihady sebagai Khawarij. Ana harap antum bisa membedakan antara khawarij dengan Salafy Jihady.

    Aqidah Ikhwah Salafy Jihady adalah sebagaimana yang tercantum dalam Aqidah Al Qaeda, tulisan Aqidatuna Abu Muhammad Al Maqdisi atau tulisan inilah Aqidah Kami Syaikh Abu Basheer….

    Tafadhal, adakah yang salah..???

    Jika ada, ana harap tidak dengan cara-cara yang penuh emosi, karena justru antum pun seringkali terlihat penuh emosi…

    KENALI KEBENARAN DARI SIFATNYA, MAKA ENGKAU AKAN TAHU SIAPA AHLINYA. 🙂

    Wallahu a’lam…

    Jawab Abu Jaisy:
    Benarkah dia ikhwan PKS? Darimana antum tahu kalau yang berkomentar itu Ikhwan PKS? Sedangkan saya jelas menunjukkan buktinya bahwa Akhi Ruyatna dulu adalah Ikhwan PKS (Wallahu’alam sekarang). Jadi tidak asal nuduh tanpa bukti, itu namanya bathil! Kalau ada orang dengan nick “Ikhwan PKS” lalu apakah kita percaya kalau dia orang PKS? Aneh! 😀

    “Jawaban selanjutnya ada di komentar antum yang lain”

    Rasulullah saja pernah marah karena mendapat pertanyaan yang diulang-ulang. Apalagi saya seorang yang dha’if dan penuh kekhilafan. Pasti akan marah juga kalau melihat pertanyaan yang diulang-ulang tanpa melihat jawaban dari komentar yang lainnya. Namun perlu diketahui bahwa setiap saya menjawab pertanyaan adalah sesuai dengan “sifat” kalimat si penanya. Jika bertanya sudah dengan “marah” tentu saya juga akan lebih marah karena menjawab pertanyaan marah yang diulang terus-menerus!

    “Kebenaran itu adalah ketika hati kita tidak bimbang/ragu-ragu dalam melaksanakannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: