Mengupil Dan Memakannya, Dapat Memperkuat Pertahanan Tubuh


Meski sudah dinamai ilmiah “Rhinotillexomania”, ilmuwan mengaku kebiasaan mengorek lubang hidung masih misteri.

Oleh: Catur Sriherwanto

Manusia boleh bangga dengan pencapaian teknologi luar angkasanya, kecanggihan piranti superkomputernya serta kemajuan di aneka bidang lainnya. Namun, ini semua tidak sepatutnya membuat manusia lupa diri dan sombong. Sebab masih banyak hal pada dirinya sendiri yang sampai sekarang belum diketahuinya, hatta hal-hal yang nampaknya sepele sekali pun.

Manusia ternyata sampai sekarang belum mampu mengungkap, mengapa ia memiliki kebiasaan mengupil alias memasukkan jari ke lubang hidung untuk mengambil sesuatu dari dalamnya. Mengupil adalah salah satu hal yang diakui majalah ilmiah New Scientist baru-baru ini (Agustus 2009) sebagai bidang penelitian yang belum terpecahkan ilmu pengetahuan.

Meneliti dan memahami tubuhnya sendiri dengan nurani yang jujur akan sampai pada kesimpulan bahwa tak peduli seberapa hebat pencapaian ilmu manusia, ilmu dan kekuasaan Allahlah yang Mahahebat. Ilmu manusia dibandingkan ilmu sang Pencipta tak akan melebihi sebutir kecil kotoran hidungnya sendiri di hamparan seluruh butiran pasir dan debu yang memenuhi jagat raya. Allah menyeru manusia agar memperhatikan apa yang ada di bumi dan pada dirinya sendiri, bahkan kalau perlu mengkaji “upil, ingus kering, atau kebiasaan mengupilnya” agar mampu mengungkap tanda-tanda kekuasaan Allah yang Mahadahsyat itu sebagaimana firman-Nya:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS. Adz Dzaariyaat, 51:21)

Penelitian tentang mengupil

Benarkah tidak ada yang istimewa dari upil atau kebiasaan mengupil? Tidak mungkin, ciptaan Allah, meski hanya sebentuk upil kecil, pastilah ada karena fungsi penting; dan ingus kering itu pastilah diciptakan dengan segenap kehebatan yang ada. Tidak percaya? Simak tulisan ini…

“Sepuluh misteri tentang diri Anda”, demikian tulis Emma Young di majalah New Scientist keluaran tahun 2009 baru-baru ini. Dari sepuluh rahasia ilmiah yang belum terpecahkan ilmuwan di seluruh dunia itu, salah satunya adalah kebiasaan mengupil, mengorek kotoran di lubang hidung alias “nose-picking”.

Dua ilmuwan asal Institut Kesehatan Mental dan Ilmu Saraf (National Institute of Mental Health and Neurosciences), di Bangalore, India, Chittaranjan Andrade dan B.S. Srihari telah menerbitkan jurnal ilmiah hasil penelitiannya seputar kebiasaan mengupil. Kajian ilmiah yang melibatkan 200 orang remaja dari 4 sekolah di wilayah perkotaan di Bangalore ini menyimpulkan bahwa hampir keseluruhan mereka memiliki kebiasaan mengupil sebanyak rata-rata empat kali sehari. Sekitar 60 remaja mengupil lebih dari 20 kali sehari. Namun hanya 9 orang, atau 4,5% yang mengaku bahwa mereka memakan kotoran hidungnya sendiri.

Hasil penelitian itu, yang termasuk bidang yang masih jarang digeluti ilmuwan, terbit di Journal of Clinical Psychiatry, (vol 62, p 426, Juni 2001). Tulisan ilmiah itu berkesimpulan bahwa mengupil, yang bernama ilmiah rhinotillexomania, adalah hal yang umum dilakukan remaja, dan seringkali terkait dengan kebiasaan lain. Sang ilmuwan tersebut juga menyimpulkan bahwa kebiasaan mengupil mungkin layak dikaji lebih dalam mengenai kaitannya dengan penyakit. Atas karyanya, kedua ilmuwan India tersebut dianugerahi penghargaan berupa Ig Nobel prize.

Jarangnya penelitian di bidang mengupil masih memunculkan tanda tanya besar, mengapa sebagian orang mesti memakan ingus kering hidungnya sendiri itu. Chittaranjan Andrade berpendapat bahwa tidak ada kandungan gizi yang penting di dalam ingus hidung. Namun ada kemungkinan bahwa memakan sampah lubang hidung dapat membantu reaksi kekebalan tubuh yang sehat. Sebab, para peneliti yang menekuni hipotesa ilmu kesehatan telah mendapatkan banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan bahwa orang yang tubuhnya jarang terkena atau kemasukan unsur-unsur atau zat-zat penyebab penyakit bakal menjadikan orang tersebut semakin rentan terkena penyakit alergi.

Belum banyak rahasia ilmiah yang dapat diungkap mengenai bidang ini karena jarangnya penelitian dan karya ilmiah terkait yang telah terbit. Pada tahun 1966 pernah pula terbit hasil penelitian ilmiah oleh Sidney Tarachow dari State University of New York yang menemukan bahwa orang yang memakan kotoran hidung mereka mendapatinya “lezat”. (bersambung) (cs/newscientist/hidayatullah)

foto ilustrasi: http://www.newscientist.com

Referensi:
1). Young E (2009) 10 Mysteries of you: Nose-picking. New Scientist, 5 Aug 2009. (http://www.newscientist.com/article/mg20327201.600-10-mysteries-of-you-nosepicking.html terkunjungi pada 23 Nov 2009)
2). Andrade C & Srihari BS (2001) A preliminary survey of rhinotillexomania in an adolescent sample. J Clin Psychiatry. 2001 Jun;62(6):426-31.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. tapi kan jorok….
    *ga kuat mbayangin*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: