Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 2]


Ilmuwan badan antariksa Jerman menjelaskan proses kehancuran Matahari. Menurutnya, inilah  pemusnah kehidupan di Bumi.

Oleh: Syaefudin*

Al Qur’an memaparkan secara rinci di banyak ayatnya mengenai peristiwa di awal hari kiamat, yakni kehancuran dunia. Di antaranya adalah dalam surat At Takwir:

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan… (QS. At Takwir, 81:1-6)

Di situ jelas bahwa rentetan proses kehancuran dunia di antaranya ditandai dengan matahari yang tidak lagi berada dalam keadaan wajar, tatanan bintang gemintang di ruang angkasa yang mengalami perubahan dahsyat  hingga digambarkan sebagai “berjatuhan”. Tidak hanya itu, makhluk hidup di muka bumi tidak bisa lagi hidup dengan baik, dan dikisahkan di ayat tersebut keadaan mengenaskan dari unta, serta dikumpulkannya binatang liar, yang biasanya hidup damai, tentram dan berkembang biak secara wajar di alam bebas. Ditambah lagi gunung yang luluh lantak, serta lautan, cadangan air yang begitu melimpah di muka bumi, yang mengalami pemanasan di hari itu. 

Sudah pasti gambaran mutlak pasti dan jauh lebih rinci tentang kaitan sebab akibat yang terjadi pada matahari, bintang, dan dampaknya terhadap bumi, gunung, lautan, dan makhluk hidup di muka bumi di masa itu hanya diketahui Allah Yang Mahatahu. Karena Dialah Pencipta seluruh alam ini, dan yang menjadikan Kiamat terjadi. Sudah pasti Dialah Yang Paling Berilmu mengenai kapan, dan bagaimana seluk beluk peristiwa mengerikan itu terjadi hingga sekecil-kecilnya.

Namun menariknya, para ilmuwan kini tidak lagi sekedar tidak menolak nasib musnahnya matahari dan bumi itu di suatu hari nanti. Mereka menerima, bahkan malah berusaha menjelaskan rincian kejadian itu, berdasarkan penelitian ilmiah mereka tentang kehancuran dunia, yang merupakan bidang penelitian modern zaman ini. Menariknya, ada kemiripan umum dari apa yang mereka kemukakan dengan paparan Allah dalam Al Qur’an itu.

Kiamat, wacana ilmiah modern

Penjelasan ilmiah gambaran terjadinya kehancuran dunia di hari akhir terus bergulir. Selain yang telah dijelaskan pada bagian pertama tulisan Menguak Misteri Kiamat 2012 ini, paparan serupa juga dilontarkan oleh Dr. Manfred Gaida ilmuwan dari Pusat Penerbangan dan Antariksa Jerman (Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt) melalui situsnya http://www.dlr.de dalam rangka peringatan Tahun Astronomi Dunia 2009. Terjadinya fenomena besar musnahnya kehidupan di bumi di masa mendatang itu dijelaskan secara ilmiah dan, berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada, diyakini disebabkan oleh kematian matahari.

Sebagaimana diketahui, matahari yang bersinar dan berfungsi dengan baik mempunyai peranan penting bagi kehidupan di muka bumi. Bintang besar dalam gugusan galaksi bima sakti ini pada proses pembentukannya sekitar 5 miliar tahun lalu terbentuk dari gas dan awan debu yang menyatu dan menjadi terpadatkan akibat gaya tarik menarik di antara mereka sendiri. Hal ini mengakibatkan inti-inti hidrogen di dalamnya mulai bergabung, melebur satu sama lain dan menghasilkan energi yang teramat besar. Proses penyatuan tersebut dikenal dengan peleburan inti (fusi inti).

Persediaan hidrogen yang melimpah membuat matahari diperkirakan akan terus bersinar sampai lima miliar tahun mendatang. Namun, kekuatan pancaran matahari, yang akan terus meningkat di masa depan, malah akan memusnahkan kehidupan di bumi. Cepat atau lambat, dua sampai tiga miliar tahun dari sekarang, lautan akan menguap, sehingga tidak lagi memungkinkan keberadaan makhluk hidup di bumi, alias kehidupan akan berakhir. 

Planet tertelan matahari 

Kurang lebih di hari ulang tahun kelahirannya yang ke 10 miliar, dengan kata lain sekitar 5 miliar tahun dari sekarang, pasokan hidrogen di dalam inti matahari akan habis digunakan. Hal ini mengakibatkan proses pembangkitan energi matahari terpindahkan dan terjadi di bagian lapisan luarnya. Peristiwa ini berdampak pada membesarnya ukuran matahari, sehingga menjadi bintang raksasa berwarna merah yang menelan planet-planet terdekatnya, yaitu Merkurius dan Venus. Sebagai Si Raksasa Merah, matahari kita di kala itu akan kehilangan massanya. 

Dengan pertambahan ukuran yang luar biasa besar itu, gaya tarik gravitasi di permukaan matahari akan mengecil dan banyak sekali materi-materi dari matahari yang terlontarkan ke ruang angkasa, tidak seperti sekarang ini yang relatif masih sedikit. Ini menjadikan massa matahari berkurang sehingga gaya tarik gravitasinya pun berkurang, alhasil planet-planet di sekelilingnya akan ditarik lebih lemah oleh matahari, tidak sekuat yang sekarang ini. Hal itu menjadikan semakin menjauhnya garis edar atau orbit planet-planet tersebut mengelilingi matahari, sedemikian hingga bumi lama kelamaan akan berpindah tempat ke garis edar planet Mars yang sekarang.

Apabila matahari dimusnahkan

Yang terjadi selanjutnya adalah helium akan terkumpul di pusat ‘Si Raksasa Merah matahari’ dan mulai melakukan reaksi peleburan inti. Reaksi tersebut menghasilkan unsur-unsur yang massanya lebih berat sehingga matahari akan mengkerut lagi dan sedikit mengempis.

Mendekati akhir dari tahapan hidup matahari sebagai Si Raksasa Merah, daerah peleburan helium juga akan bergeser ke lapisan-lapisan yang lebih luar dari matahari. Akibatnya ukuran matahari kembali membesar. Pada saat itulah peleburan inti helium terhenti, sehingga menjadikan matahari tak lagi memiliki sumber energi.

Pada suatu saat nantinya, kekuatan tekanan yang mengarah keluar dari matahari akibat tekanan radiasi akan menghilang. Akibatnya, massa matahari akan mengempis, menyusut atau melipat ke dalam. Selama pelipatan ke dalam ini, permukaan matahari akan kembali memanas sedemikian hingga matahari akan memancarkan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar. Peristiwa ini akan memanaskan materi yang sebelumnya telah dilontarkan ke luar angkasa, dan menjadikan materi tersebut berpijar. 

Kejadian tersebut memicu terbentuknya sebuah ‘kabut planet’ (planetary nebula). Di bagian pusat kabut tersebut, terdapat matahari yang kini tersisa sebagai bintang Kerdil Putih. Ukuran Si Kerdil Putih tersebut kira-kira sekecil bumi, namun bahan-bahan penyusunnya memiliki tingkat kerapatan atau kepadatan sedemikian luar biasa, sehingga digambarkan bahwa di kala itu seukuran dadu kecil dari bahan penyusun tersebut akan mempunyai berat satu ton. 

Setelah beberapa miliar tahun berikutnya, Si Kerdil Putih lambat laun akan berangsur-angsur mendingin dan berubah menjadi Si Kerdil Hitam. Berikutnya, matahari pun akhirnya musnah lenyap.

Kehancuran matahari dan bumi bukan isapan jempol

Demikianlah, ilmuwan astronomi dan fisika tingkat dunia pun sudah tidak bisa membantah, bahwa suatu ketika nanti matahari akan kehabisan energinya, menyusut dan sirna alias mati. Di masa itu matahari akan “digulung”, meminjam istilah Al Qur’an di atas. Dan proses dahsyat pada matahari tersebut berdampak pada bumi dan apa yang ada di bumi, baik benda mati maupun makhluk hidupnya yang digambarkan ayat Al Qur’an di atas sebagai kehancuran gunung, pemanasan lautan, serta ketidakwajaran dahsyat yang menimpa hewan-hewan. Itulah peristiwa di awal kiamat: tamatnya seluruh kehidupan di bumi. (bersambung) (syef/dlr/hidayatullah)

Ilustrasi: Wikimedia

Referensi:

[DLR] German Aerospace Center (2009). How long will the Sun continue to shine? Dlr.de, July 22nd, 2009. (http://www.dlr.de/en/desktopdefault.aspx/tabid-5089/8554_read-18304, terkunjungi pada 26 November 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: