Ternyata Orang Amerika Pun Resah Jika Anaknya Berpakaian Seksi


image Meski penampilan si kecil saat menggoyangkan pinggulnya seperti tarian Beyonce di televisi terlihat lucu, Anda perlu sedikit waspada. Sebab, penampilan seksi ternyata sudah mulai merasuki pikiran anak-anak. Hal ini menjadi keprihatinan  Diane E. Levin, PhD, dan Jean Kilbourne, EdD, dalam bukunya, So Sexy So Soon.

Dalam buku tersebut, dipaparkan betapa anak-anak sekarang sudah sangat cepat mengerti mengenai seksualitas. Dalam bukunya, kedua penulis ini bahkan mencantumkan bahwa anak-anak perempuan dari tingkat SD di Amerika sudah paham dan ingin berpakaian ala penari-penari seksi. Sementara anak laki-laki di usia tersebut sudah pandai berselancar di dunia maya mencari tahu tentang pornografi.

Salah satu yang paling mencolok mengapa anak-anak zaman sekarang terdorong untuk tampil seksi ketimbang pada zaman ibunya masih kecil adalah adanya perbedaan dalam masalah pakaian. Di zaman dulu, untuk berpakaian "cantik", kita bercermin pada gaya berpakaian ibu kita. Pada zaman itu, pilihan berpakaian untuk anak-anak masih sangat terbatas. Alhasil, kita cenderung mengenakan pakaian ibu yang terlalu besar, mematut diri di kaca, dan berandai-andai kapan bisa secantik ibunya.

Sementara saat ini, pakaian untuk anak perempuan sudah sangat beragam, dari yang sangat tertutup, hingga yang terbuka dan ketat. Belum lagi ketika si anak membandingkan dirinya dengan anak-anak sebayanya yang mengenakan pakaian seksi itu dan disebut cantik oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Sebagai hasilnya, anak-anak perempuan itu mendapat pesan bahwa penting untuk tidak hanya tampil cantik, tetapi juga seksi ala artis-artis di televisi. Sedikit banyak, hal-hal semacam ini akan menekan anak-anak dan merusak kepercayaan diri bahwa dirinya cantik sebagaimana adanya ia.

Anak perempuan di usia pra-remaja, yang masih mencari jati diri, selalu mendapat pesan bahwa sangat penting untuk bisa membuat anak laki-laki tertarik padanya. Ini adalah hal yang wajar terjadi untuk anak perempuan di usia akil balik, sekitar usia 12-13 tahun. Namun saat ini konsep tersebut sudah terjadi di usia yang semakin muda, yaitu sekitar usia 6-7 tahun. Tak heran jika anak-anak perempuan mulai berkompetisi untuk mendapatkan perhatian anak laki-laki dengan cara berpenampilan paling seksi. Kemudian para anak lelaki mulai belajar bagaimana cara mereka melihat anak perempuan. Ini mencetuskan sebuah lingkaran yang mengajarkan kepada anak lelaki untuk melihat anak perempuan sebagai obyek, bukan sebagai teman.

Ketika anak-anak ini beranjak dewasa, mereka akan belajar bahwa keseksian adalah hal yang penting. Tak heran jika saat ini seks di usia dini makin marak terjadi, dan memudarkan makna dari berhubungan tubuh, terpisah dari sebuah hubungan yang sakral. Ini pun akan mulai menempatkan risiko peningkatan penularan penyakit seksual, kehamilan di luar nikah, hingga pemerkosaan yang berawal dari kencan. Ketika hal ini terjadi, mereka akan kehilangan empati dan rasa cinta yang seharusnya terwujud dari sebuah hubungan pria dan wanita yang berlandaskan ketulusan, bukan karena merasa dicintai hanya jika ia terlihat seksi.

Yang bisa orangtua lakukan adalah dengan membatasi konsumsi anak terhadap media sedini mungkin. Semakin anak beranjak dewasa, ketahuilah apa yang mereka telan mentah-mentah dari media. Tanyakan mengapa mereka menyukai musik-musik yang mereka dengar, atau mengapa mereka memilih pakaian yang mereka kenakan. Dengan begini, Anda membuka dialog tentang kesukaan mereka.

Sepertinya di zaman yang serba terbuka seperti sekarang, sudah sangat penting untuk menjalin komunikasi intens dengan anak-anak, khususnya mengenai seksualitas sedini mungkin, sesuai perkembangan mereka. Jika mereka tahu bahwa mereka bisa menanyakan hal apa pun kepada orangtuanya, mereka akan lebih mendengarkan Anda, dan ini akan berpengaruh ketika mereka menginjak usia remaja. Ketika mereka bisa mempercayai dan bisa menyampaikan apa maksud mereka kepada orangtuanya tanpa merasa dihakimi atau dihukum, mereka akan melakukannya.

NAD

Editor: din

Sumber: redbook

Iklan

Satu Tanggapan

  1. malu bagian dari iman 😀

    Jawab Jaisy01:
    hehehe 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: