Fosil 700 Ribu Tahun Banteng Apa Sapi Yang Ditemukan Di Kudus?


Balai Arkeologi Yogyakarta kembali menemukan fosil Bofidae (sejenis kerbau atau banteng) di situs Patiayam, tepatnya di Pegunungan Nangka, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Penemuan itu bagian eksplorasi yang pernah dilakukan tahun sebelumnya. Fosil ini diperkirakan berusia 700 ribu tahun.

“Harapan kami hasil penelitian, memperoleh informasi keberadaan fauna pada posisi yang benar, sehingga menambah data jenis,” ujar Siswanto, Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, yang ikut terjun langsung penelitian di situs Patiayam, Jumat (29/1). Penelitian itu dilakukan sepekan, dimulai sejak Kamis (28/1).

Ketika dieksplorasi, fosil jenis bofidae terlihat bagian lengannya, berada di tebing pegunungan dengan kemiringan terjal, dan tertutup lapisan tebal. Pihak Balai Arkeologi berupaya untuk mengekskavasi jika kondisinya cukup aman.

“Sebab jika tidak diekskavasi rawan pencurian. Belum bisa diprediksi berapa jumlah dan besarnya fosil yang masih terpendam itu. Kami berharap bisa ditemukan spesifikasi satu individu,” ujar Siswanto.

Tahun sebelumnya, Balai Arkeologi juga menemukan satu individu fosil Stagodon (gajah purba). Menurut Siswanto, pihaknya menemukan fosil pada bagian tulang belikat, paha, rusuk dan tulang belakang gajah purba. Juga dua gading gajah purba masing-masing berukuran 2,77 meter, terpotong menjadi 31 bagian, dan 2,14 meter terpotong menjadi 22 bagian.

Ukuran diameter masing-masing fosil itu sekitar 15 cm. Selain itu, ditemukan juga tiga kapak batu, dan sejumlah fosil manusia. Barang purba itu ditemukan berasal dari satu individu. “Semua ditemukan dalam satu lokasi, dan jaraknya saling berdekatan,” ujar Siswanto. Karena itu Siswanto menyatakan, situs Patiayam sebagai situs istimewa dibanding beberapa situs di Jawa seperti Sangiran dan Trinil.

Seluruh fosil temuan di situs Patiayam baru teridentifikasi oleh Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta (23 April- 2 Mei 2008) sebanyak 1.234 buah, dan sisanya belum teridentifikasi sebanyak 1.149 buah. Beratnya mencapai 3.446 kg berasal dari 13 individu. Mulai dari Bofidae (banteng, kerbau), Cervidae (rusa, kijang ), Chelonidae (kura-kura), Crocodilus (buaya), Elephantidae (gajah), Felidae (macan,harimau), Rhinocerotidae (badak), dan Stegodon (gajah).

Selain itu ada Suidae (babi hutan), Testunidae, Tridacna (kerang laut), Hipopotamidae (kuda nil), manusia purba Homo Erectus, yang hidup 0,5- 1 juta tahun yang lalu dan peralatan dari batu yang pernah digunakan manusia purba.

Jenis yang terakhir itu ditemukan Dr. Yahdi Ya’im, dari Fakultas Geologi ITB Bandung pada 1979. Ia menemukan gigi geraham dan pecahan tengkorak. Tapi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus hingga kini belum memiliki tempat penyimpanan peninggalan prasejarah itu secara memadai.

Situs Patiayam sudah lama termasuk dalam peta Paleo Antropologi di Indonesia, setelah Sangiran, Trinil, Ngandong, Ngawi dan Perning. Fosil yang ditemukan di situs Patiayam lebih lengkap dan beragam.

Situs Patiayam juga masuk dalam daftar warisan dunia (World Heritage) yang dikeluarkan UNESCO. Selain binatang purba, juga manusia purba kelompok hominid atau Homo Erectus. Peneliti pertama yang masuk ke Patiayam Van Es (1931). Pada waktu itu, ia menemukan sembilan vosil verlebrata.

Lokasi situs Patiayam, terletak di Gunung Nangka, Gunung Slumprit, masuk Desa Terban, Kecamatan Jekulo, dan sebagian masuk Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati, berada 15 km timur kota Kabupaten Kudus.

Dalam master plan yang dibuat Pemkab Kudus, situs Patiayam terbagi pada tiga zona, yakni zona inti meliputi 194,8 hektare, berada di Dukuh: Ngrangkit Baru, Ngrangkit Lama, Ketileng, Kancilan, Kaligeser, Gedangan, Karangsudo dan Terban. Kemudian zona penyangga 6,5 hektare dan zona pengembangan 80,9 hektare.

Tapi, sayang, situs ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. “Akibat keterbatasan anggaran, kami kurang dapat merawat lokasi situs dengan baik,” ucap Sancaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus.

Dengan hadirnya para peneliti dari Balai Arkeologi, kata Supani, instansi menyambut baik karena untuk menyelamatkan asset daerah yakni berupa fosil. “Ini bisa untuk pengembangan wisata prasejarah,” ujar Supani.

Kawasan pegunungan Patiayam itu, memiliki bentangan lahan yang memiliki kerentanan untuk longsor karena lokasinya sangat curam, gersang dan gundul. “Patiayam punya tingkat kecuraman yang terjal, sehingga berpotensi longsor,” ucap Sami’ani Intakoris, Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas PU Kudus. Satu-satunya jalan, kata Sami’ani, untuk pelestariannya diperlukan reboisasi dengan melibatkan berbagai pihak. “Vegetasi yang ada harus diperbanyak, untuk menahan tanah, ” ucap Sami’ani. (tempo)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. semoga penemuan ini tak hanya menambah pengetahuan masa lalu untuk merajut masa depan yang lebih baik, tapi juga makin mendekatkan penemunya dan juga umat kepada pencipta segala zaman. Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: