Ilmu Dulu Baru Persatuan Islam


DR Muhammad Mu'inudinillah Basri Isu kebangkitan Islam merebak ke seluruh penjuru dunia. Berbagai gejolak menandai munculnya isu ini: Perubahan-perubahan sosio-budaya kaum muslimin sampai meletusnya revolusi di berbagai Negara muslim. Partai Islam, Ekonomi Syariah, Thibun Nabawi, pendeknya kata Syariah sering disebut. Tak lagi tabu.

Para musuh Islam menatap kaum muslimin mendongak ke kiri dan ke kanan, berharap-harap cemas. Aduhai, dari manakah gerangan  kebangkitan itu muncul? Tokoh sekaliber Ustadz Yusuf Qaradhawi, tidak cemas bila tantangan datang dari luar. Karena tantangan itu malah semakin merekatkan ukhuwah umat Islam. Insya Allah.

Benarkah kebangkitan itu bisa tumbuh sedangkan realitas terbentang; berabad abad kaum muslimin tak memiliki figur yang kokoh melindungi. Hidup di abad 21 dalam suasana tertinggal. Hampir di semua bidang, sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi dan (apalagi) militer.

Yang paling parah adalah tumbuh persengketaan dan perpecahan yang seakan-akan menjadi tradisi yang terwariskan turun-temurun. Baik dalam bidang pemikiran, metode, harakah  maupun jamaah. Persatuan Islam yang menjadi tulang punggung kebangkitan menjadi utopia belaka. Mengajak (memaksa) orang untuk masuk ke dalam sistem organisasinya sebagai satu-satunya yang paling benar dan paling besar    itulah mimpi mimpi di siang bolong tentang kebangkitan.

Ukhuwah Islamiyah, itulah yang menjadi topik perbincangan Eman Mulyatman dari SABILI dengan DR Muhammad Mu’inudinillah Basri di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, tempatnya mengajar. Berikut petikannya:

Persatuan Islam mesti terdengar klise, kita tidak boleh bosan menyuarakannya?

Kita meyakini ketika Islam mengajarkan sesuatu dan memerintahkannya, apalagi dikaitkan hal itu dengan iman. Persatuan, eksistensi dari seorang muslim dan eksistensi dari sebuah komunitas, peradaban. Mustahil itu hanya teori belaka. Apalagi hal itu pernah dan sudah diimplementasikan dan sebagai sumber potensi kaum muslimin. Kalaupun itu dianggap klise, realita di lapangan masih banyak yang bisa merasakan hal itu.

Jadi dasarnya iman?

Innamal mukminuna ikhwah, artinya kalau imannya sejati dia akan berukhuwah. Tidak ada ukhuwah, tidak ada iman. Fa’amal ladzina bi yadhot wujuhuhum fa fi rahmatillah, adapun orang yang wajah mereka berseri adalah rahmat Allah. kemudian, wa’amal ladzina wadhot wujuhuhum akafartum ba’da imanikum. Itukan kaitannya dengan masalah ukhuwah dan perpecahan.

Dalam konteks Pilkada, ternyata sekecil apapun ukhuwah akan berdampak?

Walaupun ini  (Pilkada) ada kaitan dengan substansi ukhuwah, menurut saya yang menggerakkan itu adalah iman. Maka ketika kita mendapatkan orang yang baik dan semua komunitas di masyarakat keimanannya hidup, maka dalam hatinya terpikir bukan saya atau engkau, bukan si dia atau si teman kita. Tapi mana yang paling baik. Maka dia akan terdorong oleh nilai yang dia perjuangkan.

Harus paham dulu ya sebelum ikhlas?

Ya, termasuk ilmu iman. Jadi kalau kita merunut bagaimana iman dan ukhuwah meledakan potensi yang dahsyat. Bahwa orang-orang Arab yang namanya kesukuan itu sangat dahsyat, sulit untuk disatukan. Perang Buat di Madinah. Perang ratusan tahun. Tapi bagaimana cepatnya mereka bersatu. Jadi memang paham dulu, ilmu dulu bersatu kemudian.

Menyatukan hati mereka karena semuanya iman kepada Allah SWT. Dan mereka meyakini kalau iman kepada Allah maka mereka harus menyayangi hamba-hamba Allah. Kedua, pasti punya kepeduliaan memperjuangkan syariat Allah. Inilah jalan  untuk dicintai Allah dan rasul-Nya. Dan mustahil kita memenangkan ini kecuali saya merangkul saudara saya.

Jadi sebelum melangkah ke ukhuwah politik harus ada stepnya dulu?

Ya. Kalau kita hubungkan politik dengan ukhuwah. Orang selama ini mainstreamnya mengatakan kalau tidak ada duit tidak menang, salah! Orang kalau digerojoki duit, kalau sifat dasarnya pragmatis, maka akan cari yang lebih besar. Kita lihat ketika keimanan itu kuat maka yang mendorong adalah iman seseorang, maka dia akan habis-habisan. Jadi ketika ada orang yang baik, maka akan langsung didorong. Sepertinya masyarakat sudah paham itu.

Bukankah dengan politik, dakwah lebih efektif?

Kalau dakwah yang terdepan maka politik akan berkah akan menjadi ukhuwah.

Mengapa berebut di lahan politik?

Saya meyakini itu semua karena hilangnya ukhuwah dan iman. Kalau yang namanya ikhlas, yang penting menang nilai. Saya tidak berkuasa tidak salah. Tengok betapa cepatnya pemilihan khalifah pada zaman Abu Bakar. Itu keras lho sebetulnya. Luar biasa. Kata Anshar, saya! Tapi, dengan diingatkan persatuan dan pentingnya persatuan. Selesai. Subhannalah.

Di Indonesia tercatat Masyumi sebagai pemersatu, pecah ketika berebut kursi Menteri Agama?

Selamanya begitu, kalau kita enggak ikhlas akan seperti itu. Jadi perpolitikan harus, tapi derajat implementasi ikhlas luar biasa.

Tentang prilaku politisi kita, apa catatan Anda?

Saya melihat ketika ada dua golongan tidak bersatu, ada dua kemungkinan. Keduanya tidak ikhlas atau ada satu yang tidak ikhlas. Memang syahwat kekuasaan luar biasa.

Apa kita sedang berjalan ke arah ikhlas atau sebaliknya?

Tergantung kita masing-masing lah. Dalam konteks psikologi Islam ada kaidah. Orang itu baik tua dan muda ada dua hal yang menyertainya, cinta dunia dan panjang angan-angan. Ini tidak bisa diimbangi kecuali dengan iman terhadap akhirat. Akhirat lebih baik dari dunia. Seperti diingatkan oleh Khalifah Abdul Aziz, saya memiliki jiwa yang ambisi, dan tidak akan berhenti pada satu titik, ketika saya menjadi khalifah maka saya ambisi lagi, saya jadikan kekhalifan untuk mencapai akhirat.

Selain politik apa yang bisa menyatukan?

Jadi yang menyatukan adalah kepentingan bersama. Jadi ketika kepentingan bersama itu sifatnya bisa merangkum semua. Itu bisa menyatukan. Sebetulnya kalau kita ingin berbicara tentang apa yang bisa menyatukan, banyak. Yang menyatukan adalah nilai. Karena Yahudi bersatu pun karena nilai bersama. Cuma Yahudi nilainya materialistik, sedangkan kita, karena ukhrawi. Jadi, kalau kita mengukur sejauhmana iman kita, lihat bagaimana perhatian kita pada saudara kita. Kedua, persatuan pemahaman. Maksudnya, kalau ingin menyatukan kaum muslimin, satukanlah mereka di dalam tsawabit. Jadi prinsip saya ini menjadi prinsip antum juga. Maka supaya sama, kita tidak boleh mengatakan tsawabit, qoth’i kecuali memang tidak ada perselisihan di antara kita. Sebetulnya di dalam Islam itu banyak tsawabit yang menjadi tonggak, kalau kita tidak kerjakan bersama. Tidak mungkin akan tegak Islam. Yang ini dilupakan oleh kaum muslimin.

Jadi kita tidak perlu menunggu perang dulu atau tsunami dulu?

Tidak. Kristenisasi musuh kita bersama, kenapa itu tidak kita lakukan. Narkoba, itu musuh bersama. Liberal itu musuh kita bersama. Politik Cuma bagian terkecil. Syariat Islam itu banyak hal. Bahwa kita perlu umat Islam memiliki referensi bersama. Jadi kalau kita bertanya jelas kepada siapa. Si Fulan atau Lembaga anu!

Sayangnya ada yang ketika berdakwah atau aktif di suatu lembaga, maka dia otomatis mengajak kepada lembaga itu?

Itu salah! Jadi Allah SWT berfirman, warafa’a badokum, fawko bada darajat liyata hidza badokum bado suhriyat, akan terjadi perbedaan, supaya ada sinergi.

Jadi mimpi kalau ada satu organisasi Islam.

akan terjadi perbedaan hingga yaumil qiyamah. Tapi perbedaan itu kita jadikan perbedaan yang sifatnya tanawu, perbedaan variatif. Jadi perbedaan itu macam-macam. Kalau perbedaan yang kontradiktif itu masalahnya haq dan bathil. Artinya, ada orang yang dalam kebatilan, ketika ada kebenaran, dia harus ikut. Jadi ketika ada perbedaan, disitu ada masalah haq dan bathil. Penyelesaiannya, orang tadi, harus ikut kebenaran, atau merasa sama-sama benar. Karena dalilnya bisa dipahami keduanya. Yang penting semua mengikuti kebenaran yang diyakini. Lalu kebenaran itu dalam ruh toleransi. Ini yang namanya fiqhul ikhtilaf, kalau itu kita bangun nikmat sekali. Seperti Imam Syafii, dia berdebat luar biasa tapi begitu selesai merangkul lawan debatnya. Dan niat debatnya, saya ingin kebenaran itu muncul dari lisan lawan pembicara saya.

Ada usaha mempererat ukhuwah seperti FUI di Jakarta dan Cirebon di Bandung ada FUUI. Bagaimana di Solo?

Ada Forum Ukhuwah Jamaah Masajid, (FUJAMAS) alhamdulillah forum ini diterima oleh semua jamaah Islam di Solo.

Ini gambaran apa?

Ini adalah pembagian kerja, alhamdulillah hati mereka satu, kecuali syahwat yang akan memecah mereka. Jadi ketika ada orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan untuk kepentingan pribadi, maka disitulah rusaknya. Tapi, alhamdulillah sampai sekarang kita semua sepakat untuk tegas dengan orang-orang yang menggunakan untuk kepentingan pribadi.

Tentu tidak boleh berhenti?

Saya melihat forum seperti ini bagus sekali, pertama serius, adanya perhatian yang tinggi, seluruh jamaah. Kedua, pertemuaan yang intens membicarakan tentang tsawabit, bagaimana bekerjasama dalam hal yang sifatnya tsawabit, hingga sampai pada bentuk teknis. Lalu harus ada yang memberikan contoh. Yakni contoh dalam ketawaduan. Contoh dalam keikhlasan. Silakan Anda yang memimpin  yang penting lembaga itu jalan dengan baik.

Bagaimana dengan sosok pemersatu?

Itu harus, seperti Rasulullah saw. Kalau bukan karena fikrah yang diikuti oleh semua dan adanya figur Rasulullah saw, mungkin habis. Beberapa kasus saling mengatakan munafik. Rasulullah bisa menenangkan. Jadi memang harus ada rujukan bersama dan figur pemersatu.

Di lapangan ada masalah seperti; HTI, khilafah solusi, PKS lewat demokrasi dan salafi sebaliknya?

Itu kembali kepada apakah itu tsawabit atau muthaghoyyirat.

Adanya harakah yang ditimpukin karena membid’ahkan, di tingkat lapangan?

Iya mestinya tidak seperti itu. Silakan Anda membid’ahkan kalau ini tidak bida’ah kenapa Anda sampai ribut? Iya kan, Kedua apakah dakwah itu perlu dibid’ahkan-bida’ahkan, yang penting jelaskan ini tidak baik, tidak perlu sampai pada penyerangan-penyerangan itu.

Adanya perebutan takmir masjid?

Itulah yang para dai harus tahu, qasbul qulub, ala qasbin masholih, sunnah harus dengan sunnah. Apakah harus frontal, apakah ada pendekatan sebelumnya. Karena kalau orang itu diejek padahal dia belum paham. Seseorang itu akan menjadi musuh atas sesuatu yang belum dia ketahui. Ya wajar seseorang menyerang kita, karena dia tidak tahu. Harus ada tahapan dakwah dan pendekatan personal. Tapi, kalau tahapan itu belum dilalui, terjadi permusuhan, itu kesalahan kita.

Ada buku berbalas buku?

Polemik itu biasa, tapi dengan jiwa ukhuwah. Ulama itu saling mengeritik. Tapi kalau mau jujur, apa ada keinginan untuk mendudukan kebenaran dan tidak mau memojokkan orang.

Mengapa timbul merasa paling benar paling besar?

Itu yang menyebabkan perpecahan. Orang takwa itu yang paling menyadari bahwa dirinya banyak dosa. Banyak kesalahan. Belum tentu apa yang saya yakini benar, kecuali dalilnya sudah qoth’i. Kalau sudah qoth’i saya pasti ketemu dengan saudara saya. Kenapa saya harus merasa lebih baik. Tidaklah seseorang tawadhu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.

Anda dekat dengan PBB dan PAN?

Saya berkomunikasi dengan harakah-harakah dan terus terang hati saya untuk semuanya. Siapa pun yang menginginkan kebaikan yang saya punyai, akan saya berikan pada mereka.(sabili)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: