10 Alasan Kenapa Saya Keluar Dari PKS (Tanya –Jawab)


Sangat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mantan kader PKS yang “out” dari kepartaian, namun dari beberapa pertemuan dan rangkaian analisa sendiri, saya menyimpulkan beberapa pertanyaan yang sering dijadikan sebagai “senjata” bagi mereka yang katanya lebih “bersih” ketika sudah keluar dari PKS. Inilah beberapa pertanyaan tersebut:

1. Saya keluar dari PKS karena PKS sudah tidak Islami lagi, mereka sudah berubah haluan dari Islam ke Nasionalis!

Jawaban:

PKS tidak keluar dari garis koridor Islami, karena PKS tetap berazas-kan Islam. Semua umat Islam juga boleh Nasionalis kepada daerah ataupun negaranya, tetapi yang tidak dibolehkan adalah ashabiyah. Nah ashabiyah itu tidak hanya kepada "nasionalis" (negara) tetapi dengan kelompok, harakah, organisasi, dll. Itu jelas haram hukumnya dimata Rasulullah. Dalam Sirrah/Tarekh sudah dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri tidak mencegah Bilal yang "nasionalis"! 😀 lalu bagaimana bisa orang berkata nasionalis itu bukan bagian dari Islam?

2. PKS sudah sudah ter-infiltrasi oleh gerakan pemahaman liberal dengan memasukkan Orang non Islam ke-PKS!
Jawaban:
PKS sudah sejak pertama kali didirikan sudah jelas-jelas sebagai partai. Dalam Undang-Undang setiap partai yang berada di Indonesia ini adalah untuk semua kalangan, agama, dsb. Jadi sudah jelas, dari berdirinya PKS dulu dan sekarang sudah sewajibnya PKS membolehkan orang non Islam masuk kedalam PKS. Nah, mungkin banyak yang belum tahu atau membaca undang-undang "keanggotaan Partai Politik bersifat terbuka untuk setiap warga negara Republik Indonesia yang telah mempunyai hak pilih" Jadi sangat salah sekali jika PKS hanya untuk orang Islam saja. Hanya mungkin PKS ingin lebih menekankan bahwa non Islam pun boleh masuk ke PKS, dengan cara-cara PKS sesuai dengan Undang-Undang RI yang "Kedaulatan Partai Politik berada di tangan anggotanya/Partai Politik bersifat mandiri dalam mengatur rumah tangga organisasinya" dengan begitu PKS bisa mengatur dimana orang non Islam bisa menduduki jabatan tertentu sesuai dengan aturan main AD-ART PKS.

3. Saya keluar dari PKS, karena PKS masuk kedalam sistem demokrasi. Bukankah Rasulullah dulu ditawarkan "dunia dan isinya" Rasulullah tidak mau? Lalu kenapa PKS mau kekuasaan?
Jawaban:
Dalam hadits yang dikatakan Rasulullah menolak dengan mengatakan hadits ini "dunia di tangan kiri, matahari di tangan kanan" seringkali dipenggal-penggal. Seringkali dijadikan argumen pembenar bahwa Rasulullah menolak kekuasaan. Orang-orang yang suka memenggal hadits ini layaknya orang-orang yang senang memenggal-menggal Al Quran lalu dijadikan hujjah. Bukankah seharusnya hujjah/argumentasi dari dalil itu harus utuh, bukan sepenggal-sepenggal.

Hal ini bisa jadi orang yang mengatakan "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat" bisa dijadikan pembenar, karena mengambil sepenggal-sepenggal ayat. Dalam hadits ketika Rasulullah ditawari kekuasaan itu adalah seperti ini:

"Wallahi, ya ‘ammu lau wadha ‘us syamsa fie yamini wal qamara fie yasari ‘ala an atruka hadzal amra maa taraktuhu hatta yazh-harahullahu au ahluka dunahu."

Artinya: "Demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di kananku dan rembulan di kiriku agar aku meninggalkan dakwah, niscaya aku tidak akan meninggalkan perkara ini (dakwah Islam) sebelum Allah memenangkannya atau semuanya akan binasa."

Nah, sudah sangat jelas sekali kalau tawaran kekuasaan yang diberikan kepada kafir Quraisy kepada Rasulullah itu adalah untuk menghambat dakwah beliau (Rasulullah). Jika memang kekuasaan itu adalah hal yang haram, tentu Rasulullah tidak akan menjadikan Islam itu jaya, menjadikah Islam sebagai agama yang menyeluruh/kaffah. Sebagaimana Islam ketika "berkuasa" atau mengatur secara islami ketika mendapatkan kekuasaan. Jadi, setiap orang yang beriman, harus berkuasa dan menjadikan kekuasaan itu adalah amanah untuk menjadikan yang lebih baik dengan cara Islami. Kalau belum berkuasa, yah jangan teriak-teriak "tegakkan syari’at Islam". Rasulullah tidak pernah meminta-minta seperti pengemmis untuk menegakkan syari’at Islam. Tetapi Rasulullah berusaha agar Islam itu dikenal dan masuk kedalam hati, sehingga orang dengan secara sukarela taat dengan syari’at Islam. Dan tentunya, tidak perlu melakukan hal yang dibenci Rasulullah (Mengemis-ngemis, TEGAKKAN SYARI’AT ISLAM…. TEGAKKAN KHILAFAH!!!)

4. Saya keluar dari PKS karena PKS mengikuti Demokrasi, bukankah Demokrasi itu haram! Saya ingin seperti PKS yang dulu, tidak ikut Demokrasi!
Jawaban:
Dari pembentukan PK sampai ke PKS, yah tetap PKS mengikuti demokrasi. Jadi tidak ada namanya PK atau PKS yang tidak mengikuti Demokrasi, kecuali masa-masa Syiri (sembunyi-sembunyi) dengan Dakwah "Tarbiyah". Dan perlu di ingat, Demokrasi itu bukan sebuah haram mutlak dalam Islam. Karena tidak ada dalil yang mutlak terhadap pengharaman demokrasi kecuali hanya ijtihad dari ulama yang mengharamkannya. Saya menghormati orang yang mengharamkan ijtihad ulama tentang pengharaman demokrasi, sebaliknya juga hormati orang-orang yang berdakwah melalui demokrasi. Kalau mau berbeda it’s ok. Asal tidak perlu merasa paling benar. Bisa dilihat disini —> https://suara01.wordpress.com/2010/04/07/kumpulan-tanya-jawab-masalah-demokrasi-haram-atau-tidak/

5. Kader-kader PKS sudah banyak yang menyimpang, Dewan PKS juga tidak sedikit yang melakukan kesalahan. Ini jelas PKS sudah mulai tidak Islami lagi!
Jawaban:
Kader PKS tidak sedikit memang yang menyimpang, tetapi yang masih benar dan baik juga tidak sedikit dan sangat banyak sekali. Dewan PKS memang ada yang melakukan penyimpangan, tetapi dewan PKS yang lain masih banyak yang baik dan benar dalam tugasnya.

Ini juga sama halnya di partai dan organisasi Islam yang lainnya. Setiap orang/kader pasti ada yang melakukan kesalahan. Hal ini jelas, maindstream kita sebagai manusia dalam berfikir harus dirubah. Bahwa setiap orang/organisasi/partai Islam merupakan bukan kumpulan malaikat. Mereka itu ada yang munafiq, ada yang buruk perangainya, tetapi tidak sedikit yang baik dan sangat banyak sekali yang shaleh. Jadi berfikirlah mereka itu kumpulan manusia yang akan selalu bisa melakukan sebuah kesalahan. Tidaklah kesalahan satu-dua orang bisa memberikan justifikasi kepada semua orang. Bisa jadi nanti kalau ada orang Islam mencuri didaerah orang kafir, orang kafir boleh mengatakan "kader-kader Islam itu suka mencuri". Tidak begitu bukan!!!

6. Saya keluar dari PKS, karena ada anggota dewannya yang non Islam
Jawaban:
Alhamdulillah, dengan adanya dewan non Islam, PKS sudah menerapkan syari’at Islam! Bukankah ketika Rasulullah berkuasa tetap saja masih ada "wakil" dari setiap bani israel/ setiap yahudi mempunyai bani/suku sendiri dan mereka memiliki pemimpin/wakil dari mereka sendiri dari setiap pertemuan. Jadi bagi orang Islam, silahkan memilih wakil yang Islam. Ketika terjadi pemilu sudah pasti hanya 3-4 orang saja yang non Islam dari no urut 1-10. Jadi setiap bani/suku itu mempunyai wakil untuk dijadikan pemimpin mereka. Bukankah yang tahu persoalan sebuah masalah adalah bani/suku itu sendiri, jadi harus ada yang menyampaikannya kepada pemimpin yang tertinggi (khalifah) dari setiap wakil dari pemimpin bani/suku tersebut. Lalu apa yang harus dijadikan titik point kesalahan PKS atas masuknya dewan non Islam?

7. PKS sudah terlihat pragmatis, ingin selalu berkuasa. Dan terlihat oportunis, maka saya keluar dari PKS!
Jawaban:
Sikap Pragmatis ingin berkuasa. Ini lebih cenderung untuk mengimplementasikan graind deseign agenda PKS kedalam negara, yang nantinya bisa di-implementasikan kepada masyarakat. Nah kalau oportunis (paham yg semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dr kesempatan yg ada tanpa berpegang pd prinsip tertentu) jika PKS oportunis, tentu PKS tidak akan lagi memperjuangkan hak-hak masyarakat. Toh, selama ini PKS masih berada pada jalur yang ditetapkan. Ketika seseorang sudah masuk keranah politik praktis, maka dunianya akan dipenuhi dengan berbagai inovasi cepat, dengan tentu ijtihad yang cepat. Ijtihad politik PKS ini tentu kadang terlihat baik dan tak jarang mengecewakan (apalagi bagi yang sudah apatis terhadap PKS). Yang penting kita harus menyadari, berjuang pada ranah politik itu tidak semudah mengucapkan "anda salah dan saya yang benar".

8. PKS itu sudah kayak paling benar kalau di kritik tidak mau, makanya saya keluar dari PKS!
Jawaban:
Harus dilihat, kiritikan itu harus tepat waktu dan tempat saat menyampaikannya. Jangan sampai kritikan yang kita lontarkan malah bersifat celaan, pembunuhan karakter, mencari-cari kesalahan, dll. Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang malas untuk ditanggapinya apalagi tidak sesuai dengan adab dalam Islam. Dan kritikan itu sifatnya membangun, ada masalah yang disoalkannya dan ada solusi yang dipecahkannya, nah itu namanya kritikan. Yah, kalau mau menasehati/mengkritik, lihat adabnya dulu —> http://suara01.blogspot.com/2008/04/hakekat-nasehat.html

Seorang yang baik, yang memang berniat baik tentu jiwanya akan baik pula. Dan ketika kritikan/nasehatnya tidak diterima tentu dia akan selalu berfikiran baik dan itulah ciri-ciri mu’min yang hanif. Selalu berkhusnudzan terhadap setiap yang mereka dapatkan termasuk penolakan terhadap kritikan/nasehat yang dia lontarkan.
Saya sendiri orang yang kritis dalam masalah syari’at, tetapi ternyata murabbi saya lebih mengerti syari’at. Bahkan kadang kami beradu hujjah tentang dalil yang bertentangan dan menyetujuinya. Tentu saya melakukan itu bukan dengan sok, tetapi sebagai mad’u yang memang membutuhkan ilmu. Nah, berapa banyak mad’u yang bertanya tetapi hakekatnya mendebat dan merasa dirinya lebih pintar dari Murabbinya?

"Ketahuilah, bahwa ketika engkau menasehati dengan benar dan baik. Maka Allah sendiri yang akan mengetahui seberapa besar keikhlasanmu terhadap apa yang engkau nasehatkan. Tetapi ketika engkau mempublikasikan aib orang lain, maupun organisasi lain. Maka sesungguhnya engkau telah menjerumuskan dirimu sendiri."

9. Jika ada berita tidak enak di PKS, maka disebut fitnah. Ini yang tidak saya suka dari PKS. Makanya saya keluar!
Jawaban:
Tentu pernyataan seperti ini juga termasuk fitnah! Kalau ada berita tidak enak tentu kita harus meminta tabayyun dan meminta copyan beritanya darimana. Jangan hanya "Kata Orang" tetapi nggak ada buktinya.

10. Sebagai kader, saya sering bertanya gencar sekali terhadap sebuah kejelekan yang dilakukan pemimpin/qiyadah PKS. Tetapi saya disebut barisan sakit hati. Makanya saya keluar dari PKS
Jawaban:
Yah tentu dong. Sudah tahu bahwa itu aib, kok ditanya terus-menerus. Padahal hakekatnya sudah tahu. Bukankah dalam Sirrah Nabawiyah bahwa Rasulullah juga pernah marah terhadap orang karena bertanya terus menerus terhadap permasalahan yang hakekatnya dia sudah mengetahuinya sendiri! Lah, kalau bukan BSH (Barisan Sakit Hati) lalu apa namanya? 😀
Dan bukankah orang-orang yang selalu bertanya dan bertanya itu layaknya seorang Yahudi!!! Sudah dijawab oleh Nabi Musa, tetapi terus bertanya sampai akhirnya menyulitkan diri mereka sendiri. Makanya ber-khusnudzhan-lah. Insya Allah pasti hati plong, tidak ada pikiran buruku apapun yang nangkring dan syetan-pun susah membisikkan keburukan. Nah kalau pikirannya selalu buruk, tentu syetan gampang menghembuskannya!

Itulah 10 tanya-jawab yang biasanya saya temui para "mantan" kader PKS. Saya tidak ingin menjustifikasi semua, tetapi yang saya ketahui, orang yang keluar dari PKS pasti mempunyai sebuah masalah di internal PKS. Untuk pemecahannya, orang-orang seperti ini lari dari PKS agar terhindar dari masalah. Jadi banyak sekali orang yang keluar dari PKS itu orang-orang yang bermasalah dan sukanya mencari-cari masalah. Orang seperti ini susah cocok dengan jama’ah manapun kecuali merubah perilaku yang senang mencari masalah. Karena di PKS, tidak ada orang yang senangnya "mukhtalifun" (senang berselisih). Kader PKS, lebih senang bekerja dalam mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya daripada harus menjadi orang yang "mukhtalifun".

Silahkan, bertanya atau ada yang ingin menjawab?

Iklan

14 Tanggapan

  1. […] This post was mentioned on Twitter by suara, suara. suara said: 10 Alasan Kenapa Saya Keluar Dari PKS (Tanya –Jawab): Sangat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mantan kader PKS … http://bit.ly/9LuTsP […]

  2. akhi ana copy paste..boleh..? sangat bermanfaat…

    Jawab Abu Jaisy:
    Tafadhal, semoga bermanfaat

  3. Menarik mengomnetari Jawaban no 7 Tentang pragmatisme.

    (Yang penting kita harus menyadari, berjuang pada ranah politik itu tidak semudah mengucapkan “anda salah dan saya yang benar”).

    Saya sangat setuju bahwa memang di dunia politik harus begitu. PKS sebagaimana partai-partai lain seharusnya memang menempatkan diri dalam posisi win-win seperti itu kalau tidak mau tergilas oleh “kejamnya” politik.

    Tapi kritik saya pribadi. Politik sepertinya memang berseberangan dengan dakwah. Melihat realitas yang ada, dimana dakwah itu merangkul, sedangkan politik itu memukul. Dakwah itu mengajak, sedangkan politik itu (menurut saya / subjektif) adalah mengejek. Hal ini saya tangkap ketika pilpress tahun lalu. Ketika PKS dengan ijtihad politiknya yang cepat, berubah dari mencerca Budiono (wapres saat ini) – yang “direpresentasikan” oleh Ust Fachri hamzah di televisi yang begitu menggebu-gebu menyudutkan pak Budiono dengan menyebutnya sebagai antek neo liberalisme. Sehingga membuat mahasisiwa KAMMI di bebrapa daerah melakukan aksi demo menolak pemimpin dari neo liberlisme, yang kemudian nampak sangat terpukul (sekali lagi ini subjektifitas pandangan mata saya) ketika akhirnya DPP memutuskan setuju atas pencalonan Budiono.

    Ketika debat capres terjadi, saya masih ingat sekali ketika pak Tifatul ditanya mengenai bagaimana performance Yusuf Kalaa ketika debat, beliau menyatakan : “Yusuf kalla cukup menarik, tapi kurang cerdas”.

    Nah, sebetulnya dari perietiwa semacam itulah barangkali kekcewaan umat yang merindukan politik yang santun itu mulai memudar. Dalam tataran Fiqih Siyasah, ijtihad yang dilakukan oleh PKS itu tentu syah-syah saja. Dan toh edianggap wajar bila psy war semacam itu dilakukan di dunia politik di negeri ini. Tapi kalau boleh saya berandai-andai. Seandainya, Ust Fachri dan Pak tifatul berdiri sebagai juru dakwah yang bukan politisi, elok-kah segala statemen beliau sebagaimana yang saya ungkapakan diatas?? Bukankah letak kesombongan itu ketika menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah??

    Ya, saya mengerti. Bahwa apa yang dilakukan beliau berdua bisa dikatakan kekhilafan sebagai manusia. Dan sama sekali bukan dan tidak akan pernah diakui sebagai representasi sikap resmi PKS sebagai partai dakwah. Tapi sedikit mengingatkan tentang Ijtihad siyasi yang saya anggap sedikit “Ganjil” di pilwali Surabaya. Dimana ketika ada kadernya, Ibu Yulyani yang punya elektibalitas tinggi, bahkan sudah sudah dilamar sebagai bebrapa partai besar -meskipun cuma sebagai cawali- akan tetapi DPD PKS surabaya justru memlih bergabung dengan calon lain yang non muslim dengan tingkat elektibiltas rendah menutut survey, dan meninggalkan kader terbaiknya di surabaya. Bagaimana menjelaskan ini kepada pendukung dan konstituen PKS di daerah dengan Ijtiad ganjil semacam ini?? (sekali lagi, ini sebuah pertanyaan dan bukanlah hujatan, sebagai langkah tabyyun saya yang boleh dibilang sedang “futur” dari garis perjuangan PKS, dan sedang “muyul” kepada tarbiyah murni yang memang “tidak berani” berpolitik).

    Kita boleh saja beralasan. Biarlah Allah yang tahu niat dari semua langkah ijtihad PKS yang sudah dilakukan. Tapi perli diingat. Politik itu sama sekali bukan untuk Allah. Politik itu untuk manusia. Artinya, yang melihat, menilai, dan akhirnya memilih adalah manusia. Jadi tentu wajar, kalau yang dilihat oleh manusia seperti saya adalah yang dzahir saja. dan kebetulan menurut saya kok berbeda dengan ketika dulu saya alami saat Partai keadilan berdiri. Begitu santun, hangat, semangat tapi tidak ambisisus, dan justru lebih merangkul kepada semua kalangan. Meskipun tidak pernah diikrarkan sebagai partai terbuka. karena masyarakat memang butuh alternatif. Masyarakat sudah sangat jenuh dengan pilihan partai politik yang ada. yang mengaku terbuka, untuk semua golongan, dan bagi siapa saja. Tapi dilapangan tetap saja ekslusive dan justru fanatik. Bahkan rekan saya pun pernah “mufaraqah” dengan orang tuanya hanya gara-gara lelaki saleh yang hendak di jodohkan dengannya, dan dia-pun sebenranya cenderung kepadanya, dia tolak, dengan alasan Dewan Pembina Partai tidak menyetujui pernikahan itu karena sang akhwat adalah seorang kader inti. Masya Allah…

    Ah,semoga ini memang hanya sekedar kesalah fahaman saya dalam mengakap semua Ijtiad siyasah yang saya lihat dari teman2 PKS. Karena Insya Allah saya akan tetap memegang prinsip ketika dulu saya di pesantren :

    -BERDIRI DIATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN
    -POLITIK TERTINGGI ADALAH PENDIDIKAN, KARENA POLITIKUS ADALAH ORANG YANG INGIN MERUBAH NEGERI DALAM SATU MALAM ….

    wallahu a’lam…

    Jawab Abu Jaisy:
    Yups. 😀
    Jawabannya kembali ke point 7 lagi “Ketika seseorang sudah masuk keranah politik praktis, maka dunianya akan dipenuhi dengan berbagai inovasi cepat, dengan tentu ijtihad yang cepat. Ijtihad politik PKS ini tentu kadang terlihat baik dan tak jarang mengecewakan (apalagi bagi yang sudah apatis terhadap PKS). Yang penting kita harus menyadari, berjuang pada ranah politik itu tidak semudah mengucapkan “anda salah dan saya yang benar“.

    Terima kasih atas kunjungannya 🙂

  4. tema yang menarik. mengingatkan saya pada statemen seorang kawan. apabila ada kader yang ingin mundur dari pks silakan saja.

    masih banyak agenda yang harus dikerjakan. langkah ini harus tetap maju ke depan. tidak boleh stagnan hanya mengurusi hal-hal seperti itu. menghabiskan energi.

    jadi, bila ada yang memang sudah yakin ingin keluar silakan keluar dengan baik-baik dan jangan terus ngerecokin kerja orang lain. hehehe.

    Jawab Abu Jaisy:
    layaknya Benalu yah Bu 😀

  5. Tak pernah merasa rugi menapak jalan ini, Allahu Akbar !!

  6. ASSALAAM..Saya adalah satu dari sekian banyak kader yg menginginkan kemurnian tetap ada di PKS, yakni KAFILAH DAKWAH.Sedangkan sifat sbg kafilah politik adalah sebagai sekunder saja.Artinya dakwah tetap menjadi prioritas sikap, cari fikir dan cara berinteraksi dengan target dakwah. Khususnya orang2 politik itu sendiri.

    Mengikuti berbagai perkembangan yg ada, sy menilai PKS sekarang sudah mulai membalikkan status di atas, malah lebih memprioritaskan diri sebagai partai politik baru setelah itu partai dakwah. terutama terlihat tajam sekali perbedaannya setelah kematian hamba Allah KH. Rahmat ‘Abdullah.Maka dari itu saya lebih suka membagi PKS dam dua fase yakni fase sewaktu Ust. Rahmat masih hidup dengan fase sesudah kematiannya.

    Diceritakan bahwa sebelum kematiannya, Ust. Rahmat pernah bilkang ke Ust. Hilmi bahwa beliau tidak betah di parlemen dan lebih memilih dakwah di kalangan masyarakat secara langsung. Apakah ini sinyalemen bahwa beliau sudah mulai muak dan merasa terusik nuraninya dengan perubahan sikap PKS saat itu? Bisa jadi. Terlebih saat ini ikhwah sekalian telah merasakan perbedaan yg sangat besar setelah masa itu. Sudah terlalu banyak syubhat2 yg tercipta. Ironisnya itu diciptakan oleh kader2 intinya sendiri. Bukan fitnahan dari org lain.

    Sungguh benarlah Mbak Nadia di atas ketika beliau mengatakan bahwa politik bukan untuk Allah tapi untuk manusia dalam artian politik itu berinti pada urusan dukung mendukung, menarik simpati, dan menggerakkan pilihan massa untuk satu tujuan politik meski ujungnya tetaplah keridhoan dan kemurkaan Allah yg menjadi rambu.

    Jawab Abu Jaisy:
    jawabannya ada di no 7
    🙂

  7. Dulu, sewaktu saya masih aktif tarbiyah dengan murabbi saya yg hanya berjarak satu murabbi ke ust. Anis Matta (ust. Anis->murabbinya murabbi saya->murabbi saya->saya) saya ingat sekali berbagai prinsip2 maupun semboyan yg dipegang erat saat itu. Saat di mana misi PKS menjadi penyebar dakwah di ranah gersang parlemen begitu kuat mengazzam di seluruh sanubari kadernya baik ditingkat atas maupun di tingkat grass root.

    Di antara prinsip2 itu adalah:
    – Tarbiyah/pendidikan adalah prioritas dan tools utama dalam upaya menyongsong kebangkitan Islam.

    Sekarang kita lihat dan rasakan di mana2 liqoan menjadi dangkal dan tidak bermutu isinya sebagain besar adalah pembicaraan2 politik bukan membahas keimanan dan Islam.Sekalipun disinggung itu untuk membenarkan manuver politik yg sedang menghangat. Kuantitas tarbiyah kini bukan lagi urusan yg urgent apalagi kualitasnya, jgn ditanya. Sekarang yg lebih diurusi adalah urusan2 kepartaian dan politik sehingga pudarlah urusan2 dakwah Ilallah-nya. Tak heran begitu banyak kini penyimpangan dan kenakalan2 yg terjadi nyaris tak jauh beda dengan partai politik yg lain.

    Jawab Abu Jaisy:
    Kalau di halaqoh saya, hanya ketika akan pilkada atau isu-isu pemilu baru membahas tentang politik. Toh alhamdulillah, selama ini halaqah saya masih berjalan dengan sesuai harapan saya. Jadi ada baiknya kita tidak men-generalisir semuanya, walaupun memang kebanyakan. Tetapi tidak semuanya seperti itu! 🙂

    Sekolah2 Islam terpadu yg dahulu dirintis oleh para kader bermetamorfosis menjadi lembaga bisnis tak kental lagi idealisme dakwahnya juga nyaris tak jauh beda dengan sekolah2 Islam Muhammadiyah yang serupa dengan sekolah umum non Islamic Value Basic. Menteri pendidikan pun tak menarik bagi kader ditingkat atas padahal itu posisi penentu arah anak bangsa.

    Terbukti, prinsip mulia ini sudah mulai ditinggalkan.

    Jawab Abu Jaisy:
    SDIT di daerah saya tidak seperti itu kok! Bahkan bagi kader yang tidak mampu membayar, ada beberapa hal yang dibebaskan, walaupun tentu dengan syarat-syarat tertentu yang insya Allah malah bisa menjadikan lebih baik bagi anak dan orang tuanya. Mahal atau tidak itu relatif, bagi beberapa kader bahkan menganggap biaya SDIT masih terlalu murah dari sekolah-sekolah yang lainnya. Waluaupun ada beberapa yang memang keberatan dengan biaya tersebut. Tetapi besarnya pengeluaran insya Allah sesuai dengan output dan input siswa-siswanya. Yah, minimal mana ada anak SD yang demo gara-gara disuruh nyontek saat UAN oleh penjaga dari guru SD lain. Dan itu ada di SDIT daerah saya! Jadi tidak semuanya.

    -Partai adalah kendaraan dakwah. Jika suatu saat partai tidak lagi menguntungkan dakwah maka wajib ditinggalkan.

    Saya membahasakannya sebagai partai adalah tunggangan dakwah bukan dakwah adalah tunggangan partai. Namun yg terjadi kini nampaknya sudah mulai bertolak belakang, Saya teringat akan pernyataan mengecewakan dari kader top level yg berinisial “Zul” yang mengatakan bahwa isu memperjuangkan syariat Islam sudah tidak relevan lagi. Bah, kader macam apa itu. Saya mensinyalir tujuannya untuk kepentingan partai dia mengatakan seperti itu. Dan kalau kita bahas berbagai fenomena serupa baik di tingkat grass root maupun top level, semakin mengukuhkan bahwa prinsip tadi sudah mulai dijungkirbalikkan. Terlebih jika saya teringat pada masa saya berjibaku dengan kegiatan DPC dan DPRa pada fase setelah Ust. Rahmat tiada, terlalu banyak yg bertentangan dengan semangat dakwah tapi malah bersisian dengan semangat partai duniawi semata.

    Jawab Abu Jaisy:
    Saya sendiri tidak senang jika kita hanya sekedar meng-isu-kan Syari’at Islam. Isu syari’at Islam itu bagi saya juga usang, syari’at Islam bukanlah seharusnya dijadikan isu, tetapi membumikan syari’at Islam adalah hal yang patut kita perjuangkan. Tidak perlu berteriak-teriak syari’at Islam, tetapi jiwanya kosong dari syari’at itu sendiri. Memperjuangkan syari’at islam itu bukan hanya di-isukan, tetapi lebih luasnya diaplikasikan dengan subtstansi yang jelas. Sehingga orang tahu manfaat syari’at islam. Isu syari’at Islam itu malah menggembosi sebuah pergerakan manakalah pergerakan tersebut belum memiliki keberhasilan dalam mengemban dakwahnya. Orang itu masih awam dengan syari’at Islam, maka dari itu perkenalkan dengan “wajah” yang lain, walaupun bukan harus berlabel kata “syari’at islam”. Yang penting substansinya jelas, apa yang dimaksud dan apa yang akan dilaksanakan. Jadi bukan hanya ISU!

    -Nahnu du’at qobla kulli syai (kami adalah da’i sebelum yg lainnya.)

    Sifat kader yg seperti ini sudah mulai langka. Posisinya terdesak oleh kader yg tak peduli dengan prinsip ini. Terutama terlihat dengan bergabungnya org2 yg minim pemahaman dan komitmen keIslamannya pada posisi2 penting dan menentukan. Silahkan Ikhwah sekalian lihat di sekeliling dan ke atas banyakkah org2 yang saya maksud?

    Jawab Abu Jaisy:
    Setiap orang bisa keluar dan masuk dalam gerbong lokomotif partai ini (PKS). Dan tidak sedikit orang (ustad) yang keluar dari PKS malah membentuk partai baru atau bahkan ikut partai sekuler yang lain! (Fakta). Jadi jangan sampai dianggap sebagai pahlawan, ketika orang keluar dari PKS. Bagi saya, ustad-ustad yang keluar dari PKS adalah seorang yang tetap saya anggap ustad. Hanya pola pemikirannya mungkin tidak sama dengan ustad yang lain. So, kenapa saya harus menjustifikasi salah dan benar kepada mereka.

    Al Akhir, tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekkan PKS tetapi hanya sekedar peneguh kenyataan yg zhohir terlihat sekaligus sebagai oto kritk bagi para kader yg tengah terbuai. Saya sendiri masih aktif di tarbiyah dan memakai teknik dakwah tarbiyah dalam dakwah saya namun sudah ogah mengurusi urusan partai. Saya merasa jangkauan dakwah saya malah lebih luas dan luwes saat saya berdakwah tanpa embel2 partai. Justru malah bisa menyentuh seluruh kalangan dan lebih mudah untuk bersikap tanpa pamrih.

    Jawab Abu Jaisy:
    Setiap orang bebas memilih cara dakwahnya masing-masing, asal kita tidak menghakimi caranya sendiri yang lebih benar dari yang lain. Bukankah Tarbiyah itu adalah sebuah lokomotif yang diisi dengan berbagai orang dan berbagai karakter!? Tentu lokomotif Tarbiyah ini bukanlah mencetak para robot-robot yang semuanya berfikiran sama. Tetapi, “kekayaan” Tarbiyah ini adalah ketika memiliki berbagai pontensi SDM yang disatu-sisinya bisa saling mendukung dan tidak menjadi qadi’ dari yang lainnya.

    Dengan kondisi compang-camping seperti ini, PKS akan terpuruk dan mati kecuali Allah berkehendak lain.

    Maka sekarang wajib kita serukan ishlah (reformasi) yg mendasar dan berfikir kembali tentang siapa kita karena saya yakin Ikhwah2 PKS adalah sejatinya org2 yg hanif/lurus hatinya. Saling mengingatkanlah karena Yahudi menjadi sesat karena budaya saling mengingatkan dan menasehati tidak ada diantara mereka.

    REFORMASI ATAU MATI!

    “BIR RUH BID DAM NAFDIKA YAA ISLAM!!”
    (Dengan jiwa, dengan darah kami mendukungmu wahai Islam!!”)

    Jawab Abu Jaisy:
    Hanya Allah-lah harapan kita, Dzat segala penentu keputusan, Dzat penentu kemenangan, tidaklah layak ciptaan-Nya menjadi hakim atas keputusan yang seharusnya diambil oleh-Nya!
    Mari kita saling mengingatkan dengan sesuai adab-adab mengingatkan syari’at Islam yang benar.

  8. like this…

    banyak orang yang hanya bisa mencerca dan menghina tanpa mencari tahu dasarnya, apalagi mengklarifikasinya, padahal dirinya pun belum berbuat apa2 untuk kemajuan dakwah dan kepentingan umat..wallahua’lam

    semangat terus menebar kebaikan dan berbuat sesuatu untuk dakwah dan umat, biarlah Allah saja yang menilai pekerjaan kita itu!!!

    pandangan manusia itu terbatas, terbatas oleh kemampuannya, dan terkadang tertutup oleh ke-egoisannya…

    bukankah memang ada sebagian dari golongan manusia yg seperti itu (menghina, mencerca, menjatuhkan, dsb)…

    • Setuju akh ….

  9. Ternyata sejak dulu saya tdk cocok dg politik sekalipun saya berusaha, krn tdk lepas dari: 1. memuji/mengatakan diri/partainya baik(terkadang menyebutkan kebaikan2), 2. Setelah mengatakan kamilah yg baik, “maka pilihlah kami” 3.Akan terjadi mengejek kelompok/partai lain tanpa alasan yang jelas dipermukaan.
    Kemudian mungkinkah ummat bisa bersatu dibawah partai politik? Kl semakin pecah belah mungkin.
    Lalu ada alasan banyak manfaat dg berpartai,..banyak manfaat kl banyak mudharat juga tdk boleh dilakukan..

    Jawab Abu Jaisy:
    Setiap orang berbeda pemahaman tentang apa yang dilakukannya. Berjalan diatas partai dan menjadikannya sebagai kebaikan utama, maka hal itu salah. Mengatakan diri merasa lebih baik, itu salah. Mengejek partai lain dan merasa lebih baik dari yang lain, itu salah.

    Maka dari itu, apapun kegiatan. Kebaikan yang paling utama adalam “MENJAGA NIAT” hanya kepada Allah. Bukan untuk partai atau seseorang. Selalu memperbaiki ruhiyah dengan men-Tazkiyatun Nafs setiap saat sehingga tidak merasa lebih beriman dari orang lain, dan saya teringat ucapan Ustad Anis Matta “setiap partai mempunyai kebaikan satu sama lainnya, maka mari kita kumpulkan kebaikan-kebaikan itu untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik lagi”

    Yah, saya hanya bisa berkata. MARI MENJAGA NIAT, NIAT SELAIN ALLAH, MAKA MEREKA AKAN MUDAH BERGUGURAN!

    Terima kasih telah berkunjung.

  10. Sebagian besar isi hati saya sebenarnya telah dilontarkan oleh akh Abu Shofi diatas. Saya juga mengalami kondisi serupa, dan demikian juga dengan beberapa (bahkan sebagian besar) kader yang saya kenal. Demi Alloh SWT yang jiwa saya ada dalam genggamannya, saya bukan sedang berbasa-basi atau sok pintar ataupun cari muka. Kondisi halaqoh di rentang bawah / jauh dari sumbu kekuasaan benar-benar miris, memperihatinkan dan ini bukan sekedar isapan jempol. Demi Alloh ini bukan isapan jempol.

    Kalau pendapat saya pribadi, untuk di parlemen, sebenarnya orang-orang PKS memang yang terbaik jika dibandingkan dengan partai-partai lain. Mereka santun dan cara berfikirnya ilmiah dan kritis. Tapi apa yang salah dalam diri PKS, menurut saya, bukanlah orang-orangnya, tapi arah kebijakannya.

    Saya tidak pernah ragu kalau di PKS ada sistem yang teramat baik untuk menjaga agar wakilnya di parlemen tidak terjerumus dalam lingkaran thaghut. Saya juga tidak ragu kalau saat ini kader PKS di parlemen insya Alloh adalah yang terbersih dibanding partai yang lain.

    Tapi yang salah dalam diri PKS saat ini, menurut saya yang bodoh ini, adalah arah kebijakannya. Mereka meninggalkan arah utama dalam membangun ummat, yakni melalui pendidikan, halaqoh. Ya, halaqoh memang masih ada, tapi ia hanya tinggal rutinitas kosong tanpa ghiroh. Lalu dijawab, tapi kan tidak semuanya? Lalu saya jawab, memang tidak semuanya, tapi sebagian besar, kalau bukan disebut sebagian besar dan hampir semuanya. Lalu politik, apakah tujuan PKS berpolitik? yang pernah saya dengar, dengan berpolitik dan meraih kekuasaan maka akan terbuka akses yang begitu banyak untuk membangun ummat. Atau dengan kata lain ia hanya alat bantu membangun ummat. Tapi jalur utama pembangunan ummat itu adalah pendidikan, halaqoh.

    Lalu apa saran saya pada PKS? Mari kita kembali pada fokus dan jalan utama kita. Buat kebijakan yang arahnya adalah membangun halaqoh, menggairahkan halaqoh, membumikan halaqoh!!!! Gunakan segala sumber daya yang telah kita peroleh kearah tersebut. Uang, kekuasaan dan segala akses yang kita punya. Saya menawarkan semboyan baru untuk PKS di masa depan, yakni: MEMBUMIKAN HALAQOH!!! Biar semua orang tahu bahwa ini jalan dakwah kita yang utama, ini yang akan benar-benar membawa perubahan, ini jalan dakwah kita, ini jalan juang kita…..

    Semoga Alloh SWT memberikan kekuatan dan kesabaran sehingga kita tetap teguh di jalan-Nya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Syukron, telah memberikan nasehat.
    Yah, dalam sebuah kitab yang biasa kita semua baca, Tazkiyatun Nafs. Mungkin hal ini yang harus jadi koreksi pribadi-pribadi kita semua. Halaqah dengan liqo-liqo’ kecil itu bukan utama dalam mendapatkan ilmu. Saya teringat salah satu murabbi saya dahulu “Kita bisa mengambil ilmu dari manapun, dan menghadiri kajian apapun dan dimanapun, yang terpenting ilmu itu luas. Jangan diperkecil oleh halaqah kita dan liqo’ seperti ini” Jadi pada dasarnya, kitalah yang dituntut sendiri untuk mencari ilmu, bukan dari murabbi-murabbi kita. Ada salah satu seorang ikhwah teman liqo’ saya yang beliau lulusan Sudan, dan telah meraih S2-nya di Arab Saudi. Tentu jika dipikir ilmu beliau lebih dari ilmu Murabbi kami. Tetapi tindak-tanduknya sangat tawadhu’, menghargai apa yang selalu telah diputuskan jamaah. Beliau bukan jadi apa-apa dipartai, kecuali hanya sekedar pengajar dari sebuah Ma’had di Jawa Timur. Inilah mungkin perbedaan dengan orang yang berilmu dengan kita-kita yang masih suka ber-mukhtalifun (berselisih).

    Akhi, keputusan jamaah itu keputusan orang-orang berilmu yang disitu insya Allah bukan orang-orang yang berkumpul dan asal-asalan ketika memutuskan sesuatu. Beliau-beliau ini memikirkan dengan perhitungan yang cermat, hati-hati dan sangat detail apa yang akan diputuskan nantinya. Jadi, tidaklah kita yang mungkin baru berhalaqah 11 tahun atau lebih sedikit sudah merasa paling tahu dari para pengambil keputusan dijama’ah ini (dewan Syuro’). Mengingat kita juga baru membaca sedikit buku bacaan harakah dan minim pengertian syari’at. Sebaiknya mari kita menamatkan dulu Tazkiyatun Nafs sebelum menghakimi para orang-orang berilmu di jamaah ini.

    Tentang Thaghut, insya Allah akan ada kirim ke2 tentang postingan “Dialog Syabab Hizbut Tahrir dengan Anggota PKS” Disitu insya Allah ada tema Thaghut. Afwan, untuk sekarang belum bisa saya publikasi karena masih dalam proses dialog. Kalau saya tidak membumikan Halaqah. Tetapi Membumikan syari’at 😀

    Barakallahu…

  11. Assalammu’alaikum.saya cma menyampaikan,da satu blog milik ibnu abdul muis(ihwan.salafi.wordpress.com),isinya menurut saya jauh dari da’wah y santun.mgkn akhi bs menegurnya agr bs lbh sopan(sesama kader mgkn lbh didgr drpd saya y awam)

    Jawab Abu Jaisy:
    Insya Allah beliau (Akhi Ibnu Abdul Muis) adalah saudara saya yang insya Allah sudah saya kenal sejak lama. Dan selama ini belum pernah saya melihat postingan yang tidak santun diblog beliau. Bisa diberitahu apa yang antum maksud tidak santun terhadap beliau? Biar saya tabayyun kepada beliaunya.

    • terus maju dan berjuang……kami siap menemani dikala suka dan duka……semoga hati-hati kami terhimun dalam cinta padaMU

  12. subhanallah, ini brmanfaat bgt tuk ane pribadi dn sudh smesti’y ni menjdi solusi tuk saudra kta yg mungkn saat ni mengalami hal tsb. sukrn!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: