Indonesia Rumah Kedua Bagi Muslim Thailand


image Bagi sebagian penduduk Muslim di Thailand bagian Selatan, Indonesia sudah menjadi rumah kedua. Tidak sedikit dari mereka yang menimba ilmu dan rutin berbisnis di tanah air.

Warga di Provinsi Pattani bernama Osman, misalnya. Dia dengan bangga memamerkan cincinnya begitu melihat wartawan Indonesia "Anda orang Indonesia? Baju Batik Anda bagus. Beli di Tanah Abang ya? Saya beli cincin ini di Jatinegara," kata Osman yang bercakap-cakap dengan bahasa Melayu.

Bersama dengan istri dan seorang anaknya yang masih bayi, pria berusia 30 tahun itu memeriksakan kesehatan mereka di Pusat Pemberdayaan Masyarakat di Kamp Militer Sirindhorn, Provinsi Pattani, Selasa 20 Juli 2010.  

https://suara01.wordpress.com/2010/04/09/cara-cepat-dan-mudah-mendapatkan-uang-27-dalam-sehari/

Osman mengaku kadang kala datang ke Jakarta untuk membeli kain, yang dijualnya di Distrik Yarang, Pattani. "Semua (kain) di sana (Jakarta) lengkap. Saya juga senang melancong ke Jatinegara dan beli cincin ini," kata Osman sambil memperlihatkan cincin batu akik berwarna hijau.

Saat bertolak dari Provinsi Pattani ke Narathiwat, kami menemukan beberapa warga yang mengaku rutin ke Indonesia maupun yang pernah menimba ilmu selama beberapa tahun di tanah air. Seorang guru bernama Anita Weadereh mengaku tidak akan lupa dengan Indonesia.

Pasalnya, di negeri itulah dia bertemu dengan sesama Muslim Thailand yang akhirnya menjadi suaminya. "Saya menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sedangkan suami, Solahuddin, belajar di IAIN Sunan Kalijaga," kata Anita dengan bahasa Indonesia yang masih lancar.

Anita, yang pernah tinggal selama tiga setengah tahun di Yogyakarta (1999-2003), tidak menyangka bisa mendapat jodoh di luar negaranya, walau kampung halaman mereka berdekatan. "Saya dari provinsi Yala, sedangkan suami asal Narathiwat.

"Setelah menikah saya ikut suami ke sini," kata Anita, yang menjadi guru di Sekolah Islam Attarkiah di Distrik Amphur Muang, Narathiwat. Suaminya pun mengajar di sekolah yang sama.

Perempuan berusia 35 tahun itu mengungkapkan bahwa sekolah tempat dia dan suami mengajar saat ini memiliki sepuluh guru yang pernah menimba ilmu di Indonesia. "Jadi bagaimana kami bisa lupa dengan Indonesia. Bagi saya, itu menjadi rumah kedua. Saya ingin sekali berkunjung kembali," kata Anita, yang kini dikaruniai dua anak.

Bagi Pengurus Majelis Agama Islam Narathiwat, Abdul Rahman Bulajama, kedekatan emosionil penduduk di Thailand bagian selatan dengan Indonesia tidaklah mengherankan. "Sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia merupakan tempat yang cocok bagi kami untuk belajar. Lagipula akar bahasa kami dengan orang Indonesia pun sama, yaitu bahasa Melayu," kata Bulajama.

Pada kartu namanya sebagai pengurus Majelis Agama Islam Narathiwat, Bulajama pun mencetak kalimat "Alumni University Islam Yogya (UII) Indonesia" di bagian bawah namanya. Bulajama rupanya bangga dengan almamater tempat dia mendapat gelar sarjana pada 1983.

"Indonesia memiliki banyak universitas yang bagus. Kini makin bertambah jumlah pelajar dari sini ke sana. Saran saya kepada mereka, belajarlah ilmu-ilmu umum [ekonomi, hukum] dan tidak hanya melulu ilmu agama," kata Bulajama. (hs)

https://suara01.wordpress.com/2010/03/30/cara-mudah-mendapatkan-dollar-dari-internet-untuk-pemula-tidak-perlu-blog/

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Alhamdulillah….kita tunjukkan umat Islam di Indonesia penuh toleransi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: